Tinggalkan komentar

Kajian Manuskrip Nusantara Pamong Budaya Bogor

Kajian Manuskrip Nusantara yg diselenggarakan oleh Pamong Budaya Bogor (PBB) kerjasama dengan Dewan Adat-Budaya dan Adab (Peradaban) Nusantara (DABAN) serta Bayt al-Hikmah Institute

“Local Wisdom Tidak Begitu Bermanfaat Tanpa Local Genius”, (Dr. Drs. Undang Ahmad Darsa, M.Hum.) 

Ritual doa pembuka Kajian Manuskrip Nusantara yg diselenggarakan oleh Pamong Budaya Bogor (PBB) bekerjasama dengan Dewan Adat-Budaya dan Adab (Peradaban) Nusantara serta Bayt al-Hikmah Institute Bogor, Sabtu 4 Mei 2019, di Hotel Salak Heritage, Kota Bogor

 

 

IMG_4729

IMG_4731

 

Dr. Drs. Undang Ahmad Darsa, M.Hum.,

“Local Wisdom Tidak Begitu Bermanfaat Tanpa Local Genius”

[Unpad.ac.id, 13/06/2016] Jati diri kesundaan sebaiknya bukan hanya tersaji dalam bentuk tampilan fisik berupa pakaian tradisional, atau simbol budaya lahiriah lainnya. Beragam nilai hidup yang telah diwariskan nenek moyang justru menjadi substansi jati diri Sunda serta menjadi pedoman bagi masyarakat Sunda.

Dr. Drs. Undang Ahmad Darsa, M.Hum (Foto oleh: Tedi Yusup)*

“Jauh lebih penting adalah substansi kesundaan. Seperti silih asah, silih asih, silih asuh. Itulah yang mencetak cara berpikir kita,” kata Dosen Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unpad, Dr. Drs. Undang Ahmad Darsa, M.Hum.

Nilai-nilai itu di antaranya tersirat dalam naskah-naskah Sunda kuno. Dr. Undang menjelaskan, melalui filologi, dipelajari perkembangan kebudayaan suatu masyarakat melalui konsep-konsep pemikirannya yang di antaranya tertuang dalam tradisi tulis, khususnya naskah.

“Jadi, mempelajari naskah itu bukan hanya menyalin, mengedisi, lalu disajikan untuk bacaan baru, tetapi jauh lebih dari itu,” tutur Kepala Program Studi Sastra Sunda FIB Unpad ini.

Menurut Dr. Undang, tidak semua unsur atau produk budaya memiliki kearifan lokal. Dengan mendalami naskah kuno, dapat dipelajari kearifan-kearifan lokal yang selama ini telah terendap. Lebih dari itu, sebaiknya yang diangkat adalah local genius yang terkandungnya.

“Jadi, local wisdom mungkin tidak akan begitu bermanfaat kalau penyangga-penyangganya tidak memiliki local genius yang kuat. Local genius inilah yang mesti dicetak melalui sekolah dan perguruan tinggi untuk menykapi serta mengimplementasikan tata nilai,” paparnya.

Dr. Undang pun menyebut naskah-naskah kuno itu sebagai “produk kaum intelektual yang lahir lewat lembaga formal pendidikan pada tiap-tiap masanya”. Pria kelahiran Tasikmalaya 19 Oktober 1962 ini meyakini, penulis naskah bukanlah orang yang sembarangan. Mereka adalah orang-orang cerdas.

“Ada naskah, pasti ada yang menulis. Pertanyaan saya, di mana pabrik-pabrik orang cerdas itu? Ternyata, adalah ‘mandala’ sebagai lembaga formal pendidikan pada zaman sistem kerajaan, dan  pesantren merupakan lembaga formal pendidikan pada zaman sistem kesultanan,” kata Dr. Undang.

Ia pun tergelitik untuk menelusuri, di mana Raja-raja Sunda zaman dahulu menempuh  pendidikan formalnya. Dr. Undang meyakini, para Raja Sunda merupakan orang-orang berpendidikan. Menurutnya, saat ini belum banyak peneliti  yang mendalami mengenai hal ini.

“Pada zaman sistem pemerintahan kerajaan, lembaga formal pendidikan atau pabrik orang-orang cerdas itu salah satunya adalah mandala. Dengan kata lain, salah satu pengertian mandala adalah  lembaga formal pendidikan di Sunda pada masa sistem kerajaan. Dalam kronik lontar Sunda Kuno (abad XV-XVI Masehi) tercatat ada 73 mandala di Tatar Sunda, dari Ujung Kulon sampai batas Timur Kerajaan Sunda, Cipamali,” ungkapnya.

Istilah belajar pendalaman ilmu itu pun disebut dengan “tapa”.  Berbeda dengan pengertian “tapa” saat ini, yang bahkan banyak masyarakat mengaitkannya ke hal-hal bernuansa magis, “tapa” di sini berarti menuntut ilmu. Dr. Undang menjelaskan, bahwa kegiatan tapa dilakukan di sebuah lembaga pendidikan, yakni di mandala.

“Kalau begitu, tempat bertapa itu mandala, tempat tolabul ilmu itu pesantren, dan Unpad ini pada dasarnya tiada lain adalah tempat bertapa alias tempat tolabul ilmu” imbuhnya.

Berbagai penelitian terkait naskah-naskah Sunda kuno sudah dilakukan Dr. Undang sejak ia menempuh Pendidikan Sarjana di  Jurusan Sastra Daerah (Sunda) Fakultas Sastra Unpad. Ia pun kemudian melanjutkan pendidikan Magister dan Doktornya  di Program Pascasarjana Unpad, dengan mendalami ilmu Filologi.

Dr. Undang memang tertarik untuk mendalami Ilmu Kesundaan. Bukan hanya mengenai bahasa, tetapi mengenai cara hidup orang Sunda sejak dulu, seperti bagaimana mereka mengatur sistem  tata kelola pemerintahannya, bagaimana tata cara bersinergi dengan lingkungannya, bagaimana perkembangan kuliner dan teknik busananya, bagaimana mereka menjalani kehidupan keagamaan sehari-hari, dan sebagainya.

Saat ini, Dr. Undang pun ingin mewujudkan cita-citanya, yakni membangun  laboratorium naskah kuno Sunda dalam bentuk digital. Laboratorium naskah digital ini diharapkan dapat turut membantu para peneliti lain dalam mempelajari naskah kuno Sunda tanpa harus mengunjungi langsung lokasi ditemukannya naskah. Digitalisasi ini juga diperlukan untuk menjaga agar naskah-naskah ini dapat terpelihara dengan baik dan tidak cepat rusak.

Menurutnya, Unpad merupakan salah satu perguruan tinggi penyelamat naskah-naskah Sunda. Naskah-naskah Sunda ini merupakan salah satu tangible cultural heritage  atau warisan budaya kebendaan yang bersifat kongkrit (material culture) dan sekaligus mengandung teks yang dapat dikategorikan sebagai salah satu intangible cultural heritageatau warisan budaya nonkebendaan yang bersifat abstrak (immaterial culture).

“Itulah kewajiban kami di Prodi Sastra Sunda, untuk mendata, menginventasisasi, mencatat, mendigitalisasi, dan mengkaji sekaligus mengungkap kandungan naskah, juga mencetak kader-kader muda yang concern terhadap itu,” tuturnya.*

Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh

Naskah Kuno di Masa Kini:

Transformasi, Tantangan dan Keniscayaan

Oleh:

Ilham Nurwansah, M.Pd.[1]

PENDAHULUAN

Naskah Sunda adalah naskah yang disusun dan ditulis di wilayah Sunda (kini Jawa Barat dan Banten) dan naskah-naskah yang berisi cerita atau uraian yang bertalian dengan wilayah dan orang Sunda sebagai inti dan pokok naskah (Ekadjati, 1988:4). Di sisi lain, Kalsum (2006) mengemukakan bahwa untuk membuat batasan secara tepat tentang istilah naskah Sunda ini sangat sulit karena di dalamnya terkandung indikator meliputi etnis, bahasa dan wilayah.

Pada tahun 2010 Aditia Gunawan & Holil Munawar menggagas untuk menyebut sebuah kelompok Naskah Sunda yang lebih spesifik, yaitu Naskah Sunda Kuna. Naskah yang dikategorikan sebagai Naskah Sunda Kuna (NSK) berdasarkan pada pertimbangan berikut:

  • Aksara yang dimaksud adalah aksara Sunda kuna yang memiliki karakter yang mandiri, yang bisa dibedakan dengan jenis-jenis aksara dari daerah lain;
  • Bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda kuna yang dapat dibedakan dengan bahasa Sunda modern;
  • Media yang dipilih adalah lontar, nipah, bambu, dan daluang;
  • Kolofon yang mencantumkan tempat penulisan naskah;
  • Asal naskah, yang memberikan informasi diperolehnya naskah tersebut menjadi koleksi BGKW dan kemudian PNRI

Naskah-naskah tersebut ada yang telah menjadi koleksi lembaga pemerintah (PNRI, dari koleksi Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschapen [BGKW], Museum Jawa Barat), namun diperkirakan masih banyak terdapat naskah yang dimiliki secara personal di masyarakat umum. Tentunya naskah-naskah yang berada di masyarakat sangat rentan mengalami kerusakan karena tidak dirawat, maupun hilang. Meskipun pada beberapa orang/kelompok masyarakat masih melakukan upaya perawatan dan penyimpanan naskah dengan baik. Oleh karena itu, selain upaya penelitian yang telah dan sedang dilakukan terhadap naskah yang telah “terselamatkan”, juga diperlukan upaya penyelamatan naskah-naskah yang masih banyak tersebar di kalangan masyarakat secara luas.

Naskah-naskah Sunda kuna yang terdapat di masyarakat contohnya naskah berbahan bilah bambu di Mande-Cianjur, dan naskah lontar di daerah Cijenuk dan Antapani-Bandung. Naskah Sunda beraksara pegon (Arab-Sunda) diperkirakan masih banyak terdapat di pesantren-pesantren di Jawa barat, mengingat jumlah pesantren dengan tradisi menulis dengan aksara pegon masih banyak tersebar di Jawa Barat. Naskah-naskah pegon tersebut biasanya berisi tentang wawacan (puisi naratif), sejarah islami, maupun ajaran fiqih dan keislaman lainnya.

 

Isi Teks Naskah Sunda

Isi teks naskah di Museum Nasional (kini menjadi koleksi Perpustakaan Nasional RI) – Jakarta dan Negeri Belanda dikelompokkan ke dalam 12 jenis, yaitu: (1) agama, (2) uraian tentang kebahasaan, (3) hukum/aturan, (4) kemasyarakatan, (5) mitologi, (6) pendidikan, (7) pengetahuan, (8) primbon, (9) sastra, (10) sastra sejarah, (11) sejarah, (12) seni (Ekadjati, 1988:34-151).

Isi teks naskah Jawa Barat yang berada di 5 lembaga yaitu: EFEO (Ecole Francaise d’ Extreme-Orient) di Bandung, Keraton-keraton di Cirebon, Universitas Padjadjaran di Bandung, Museum Jawa Barat di Bandung, Museum Geusan Ulun di Sumedang, dikelompokkan ke dalam 6 jenis, meliputi: (1) sejarah; mencakup naskah-naskah dalam kategori sejarah Jawa Barat, sejarah Jawa (Tengah dan Timur), dan Mitologi, (2) Islam; mencakup naskah-naskah Al-Qur’an, cerita Islam, fikih, tasawuf, manakib, tauhid, adab, dan doa, (3) sastra, (4) adat-istiadat, (5) primbon dan mujarobat, (6) lain-lain (Ekadjati & Undang A. Darsa 1999).

 

TRANSFORMASI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi V versi daring, transformasi bermakna ‘perubahan rupa (bentuk, sifat, fungsi, dan sebagainya)’. Kita memaklumi bahwa sebuah naskah yang berisi teks adalah sebuah benda yang memiliki bentuk dan bahan yang beragam. Misalnya saja naskah yang berbahan lontar berbentuk persegi Panjang dengan sisi lebar yang lebih kecil, atau berupa bilahan bambu, begitu juga dengan lembaran-lembaran kertas atau daluang yang dijilid menjadi buku. Semuanya itu adalah bentuk “natural” dari naskah. Apa yang kita bisa lakukan terhadap wujud fisik naskah tersebut? Bukankah kebanyakan hanya disimpan sebagai koleksi, atau untuk pajangan dalam sebuah kegiatan pameran?

Dari aspek fisik, saya kira tidak begitu banyak yang dapat dilakukan. Selain kedua hal yang saya sebutkan di atas, naskah sebagai sesuatu yang memiliki sifat bendawi tentu harus dijaga dan dipelihara agar kondisinya tetap baik. Penyimpanan dan perawatan dilakukan dengan cukup baik oleh Perpustakaan Nasional RI, tetapi bagaimana dengan naskah milik perorangan? Inilah yang menjadi pekerjaan rumah dari semua pihak yang memiliki kepedulian terhadap warisan leluhur. Diperlukan sebuah upaya penerangan dalam arti pemberian wawasan kepada para pemilik naskah di daerah terhadap pentingnya pemeliharaan naskah kuno.

Digitalisasi dan bentuk alih media lainnya merupakah sebuah upaya pencegahan untuk menyelamatkan kandungan teks dalam naskah. Usia naskah yang semakin tua pada akhirnya akan mengantarkan naskah pada kondisi kerusakan yang semakin parah. Sampai kapan naskah-naskah yang ada saat ini akan bertahan? 100 tahun lagi, atau 500 tahun lagi? Kerusakan dan kehancuran fisik adalah sebuah keniscayaan, sebaik apa pun upaya penyimpanan yang dilakukan. Artinya, perawatan dan penyimpanan yang baik adalah upaya memperlambat kerusakan yang terjadi pada naskah. Tetapi bukan sebuah kepastian bahwa naskah itu akan tetap dalam kondisi yang sama, malah selalu dalam kondisi yang semakin menurun dari waktu ke waktu. Pemeliharaan secara intensif sebaiknya dilakukan oleh lembaga dan orang yang berkompeten dalam bidang preservasi naskah, sehingga tujuan dari upaya itu pun dapat tercapai dengan baik. Wujud naskah tetap harus dipertahankan sebagai bukti otentik bahwa tradisi literasi kita pada masa lalu memang pernah ada dan merupakan sebuah karya yang adiluhung.

Selain pemeliharaan fisik, upaya lain yang dapat dilakukan untuk melestarikan kandungan teks dari naskah kuno adalah transformasi. Bukan bentuk naskahnya yang diubah, tetapi maksudnya lebih luas, yaitu mengubah bentuk teks dari hanya sebuah tulisan yang ‘mati’ menjadi sebuah wujud lain yang lebih hidup dan mudah diminati oleh masyarakat luas pada masa kini.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu cepat saat ini menuntut perpindahan informasi yang instan. Sebuah pesan dapat pindah dari satu titik ke belahan penjuru dunia lain dalam hitungan lebih dari perseratus detik. Kebanyakan orang memiliki kecenderungan untuk mengakses informasi dari gawai (gadget) yang semakin mudah dan murah untuk dimiliki. Berita dalam sebuah kanal berita daring (online) cenderung lebih diminati untuk dibaca bila dibandingkan dengan surat kabar cetak. Alasannya sederhana: cepat dan aktual. Sebuah berita kejadian banjir di Bandung, misalnya, dapat disiarkan langsung sesaat itu juga dari tempat kejadian. Informasi demikian kini dapat diakses dari genggaman tangan!

Dengan kondisi kemajuan teknologi demikian, merupakan sebuah peluang yang dapat digarap untuk mengalihbentukkan kandungan teks dari naskah kuno sehingga dapat dengan mudah diakses dan dinikmati. Bentuk-bentuk baru yang dapat digarap antara lain info grafis, komik, animasi, dan audio. Penyebaran kandungan isi dapat dilakukan dengan mudah melalui kanal media sosial, blog, maupun situs berbagi video seperti YouTube.

Pembacaan naskah secara langsung masih tetap dapat dilakukan ke perpustakaan atau Lembaga lain yang menyimpan koleksi naskah. Namun tampaknya tidak menjadi tren pada masa sekarang. Generasi muda, atau yang lebih akrab disebut ‘generasi milenial’ akan mencari informasi awal melalui internet, terutama menggunakan mesin pencari Google. Dengan pola kebiasaan demikian, apakah “naskah kuno” dapat menjadi tren dalam pencarian Google, sehingga muncul pada setiap halaman pertama? Ini yang sedang saya upayakan melalui publikasi ulasan-ulasan naskah Sunda kuna dalam website Kairaga.com. Sedikit-demi sedikit, wawasan masyarakat umum terhadap kandungan naskah Sunda kuno diharapkan akan semakin baik dengan penyebarluasan informasi melalui kanal website.

Pembuatan animasi yang berisi audio-visual adalah salah satu cara jitu yang dapat dilakukan untuk menyampaikan kandungan teks kuno. Misalnya kisah perjalanan Bujangga Manik akan lebih menarik dan diminati oleh masyarakat luas. Apalagi visualnya dibuat sedemikian baik seperti adaptasi dongeng-dongeng legenda dan fiksi popular dunia, misalnya Aladdin, Braveheart, Lord of The Ring, Harry Potter, Marvels, dsb. Siapa yang akan memalingkan muka dengan garapan yang begitu apik? Bayangkan jika film-film demikian diangkat dari kekayaan teks yang terdapat dalam naskah-naskah Nusantara. Sungguh sangat membanggakan, tentunya!

Penerbitan alih aksara, suntingan teks dan terjemahan naskah-naskah kuno koleksi Perpustakaan Nasional RI harus disambut dengan baik. Pasalnya, upaya tersebut telah berhasil menyediakan bahan yang segar untuk menggarap transformasi teks ke dalam bentuk yang lebih kekinian. Kita sudah disediakan bahan yang telah dikerjakan secara filologis sehingga kandungan teksnya dalam diolah kemudian oleh para praktisi dalam bidang multimedia. Satu, hingga tiga langkah awal yang paling sulit telah terlewati, sehingga upaya transformasi akan lebih mudah dilakukan. Jika menggunakan bahan “mentah” langsung dari naskah kuno, tentu akan memakan waktu yang lebih lama dalam proses penggarapannya. Penerbitan dan penyebaran secara gratis oleh Perpustakaan Nasional di antaranya juga mencakup naskah-naskah Sunda kuno seperti wawacan, babad dan beberapa naskah Sunda kuno.

Di bawah ini saya akan ulas beberapa naskah Sunda kuna yang telah diteliti beberapa dekade terakhir. Kiranya bahan-bahan ini dapat ditransformasikan ke dalam bentuk lain yang lebih menarik dalam konteks kekinian di kemudian hari. Naskah-naskah ini cukup popular di kalangan masyarakat Sunda karena kandungan isinya yang kaya.

 

Sanghyang Siksa Kandang Karesian

Sanghyang Siksa Kandang Karesian adalah teks Sunda kuna berbentuk prosa didaktis yang membahas bagian aturan atau ajaran tentang hidup arif berdasarkan darma. Isinya bersifat ensiklopedis yang memberikan gambaran tentang pedoman moral umum untuk kehidupan bermasyarakat pada masa itu, termasuk berbagai ilmu yang harus dikuasai sebagai bekal kehidupan praktis sehari-hari. Penuturannya berpijak pada kehidupan di dunia dalam negara.

Teks ini terdapat pada dua naskah Sunda kuna koleksi Perpusnas RI yang pada mulanya merupakan koleksi BGKW. Naskah pertama yaitu kropak no. 630, berbahasa Sunda kuna, ditulis menggunakan aksara Buda/Gunung dengan tinta hitam pada lempiran daun gebang, berasal dari koleksi pemberian Raden Saleh. Naskah ini ditulis pada tahun 1440 Saka (1518 Masehi), sehingga dianggap sebagai naskah Sunda kuna tertua yang mencantumkan angka tahun. Naskah ini diperkirakan ditulis dalam masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja penguasa Pakuan Pajajaran (1482-1521 M). Naskah kedua yaitu kropak no. 624, menggunakan bahasa dan aksara Sunda kuna dengan cara ditoreh dengan péso pangot pada lempiran lontar, tanpa tahun penulisan, ditulis di Nusakrata, diperoleh dari pemberian Bupati Bandung Wiranatakusumah IV (1846-1847).

Sanghyang Siksa Kandang Karesian dimaksudkan untuk diajarkan oleh sang budiman kepada mereka yang mencari kebahagiaan. Isi ajaran yang tersurat di dalamnya sebagian besar ditujukan kepada kelompok yang bukan resi, terutama dalam hal pelaksanaan tugas rakyat (hulun) bagi kepentingan raja.

Di dalamnya termuat ungkapan dan keterangan tentang sepuluh kesejahteraan (dasakreta), sepuluh pengabdian (dasa prebakti), sepuluh alat indra (panca indriya), sebutan kerabat dalam keluarga, penjelasan tentang lima kenyataan yang sedang berlangsung (panca tatagata) yaitu lima tulisan (panca aksara), lima pelingdung (panca byapara), lima orang putera Sang Kandiawan (panca putra), lima resi murid Siwa (panca kusika), dan pembagian lima arah mata angin beserta warna dan dewa yang menempatinya (sanghyang wuku lima), larangan dan anjuran dalam berbagai aspek kehidupan manusia,  berbagai judul cerita pantun, judul kawih, permainan, motif ukiran, senjata, makanan, formasi perang, motif kain, mantra, pertanda alam, ajaran, cara mengukur tanah, pelabuhan, harga, sandi, bahasa, pekerjaan, dan keahlian. Termuat pula ungkapan berbagai perbuatan baik dan buruk manusia, tanah-tanah kotor, sifat-sifat kearifan, keutamaan, etika, ungkapan trigeuing, tritangtu dan triwarga dengan disertai penjelasannya.

 

Amanat Galunggung

Amanat Galunggung adalah naskah kuno yang berasal dari kabuyutan Ciburuy, Garut Selatan. Isinya berupa nasehat-nasehat tentang ajaran hidup yang disampaikan oleh Rakeyan Darmasiksa kepada putranya, Sang Lumahing Taman, beserta cucu, cicit, dan turunannya, umumnya kepada masyarakat luas. Nasehat-nasehat itu merupakan pemikiran filosofis yang berhubungan dengan etika yang sebaiknya dipegang teguh dan dilaksanakan, terutama oleh pemimpin negara dan pemimpin masyarakat.

Teksnya berbentuk prosa, ditulis dengan aksara dan bahasa Sunda kuno pada enam lembar gebang (13 halaman). Naskah ini pertama kali diumumkan dalam TBG tahun 1867 oleh K.F. Holle terhadap koleksi BGKW berupa tiga naskah Sunda kuna pemberian Raden Saleh dengan sebutan MSA (Manuschrift A) di samping dua naskah lainnya (MSB dan MSC). Naskah ini telah dibahas oleh K.F. Holle, C.M. Pleyte, dan R. Ng. Poerbatjaraka. Hasil kerja ketiga peneliti tersebut dipublikasikan oleh C.M. Pleyte dalam TBG jilid 56 tahun 1917. Saat ini naskah tersimpan dalam koleksi naskah Perpustakaan Nasional RI dengan kode kropak 632. Judul Amanat Galunggung diberikan kemudian oleh Saleh Danasasmita mengingat Rakeyan Darmasiksa pernah berkedudukan di Saunggalah yang masuk ke dalam wilayah Galunggung. Pemberian judul tersebut juga sesuai dengan keseluruhan isi naskah.

Norma-norma dan nilai-nilai kepemimpinan yang dipandang baik dan berlaku pada masa itu tertuang dalam Amanat Galunggung. Beberapa poin penting dari amanat ini di antaranya jika ingin unggul berperang, hendaknya jangan bentrok karena berselisih maksud, jangan saling berkeras, hendaknya rukun dalam tingkah laku dan tujuan. Tanah kabuyutan harus dipertahankan dari kemungkinan direbut oleh orang asing. Siapa saja yang mempertahankan Galunggung sebagai tempat sakral, maka dia akan mendapatkan kesaktian, unggul dalam berperang, mendapatkan kejayaan dan mendapatkan kemakmuran untuk diwariskan kepada keturunannya. Harga diri putra raja tidak lebih tinggi daripada kulit musang di tempat sampah, bila ia tidak mampu untuk mempertahankan wilayah tanah airnya. Jagalah diri sendiri agar tetap ditaati orang banyak, agar aman tenteram seluruh negeri, raja tenteram bertahta. Kita hendaknya mencontoh padi, makin berisi makin merunduk. Begitu pula kita perlu meniru air sungai yang terus mengikuti alurnya, senang kelokan, tidak mudah terpengaruh, jangan mempedulikan hal-hal yang akan. Janganlah melupakan bakti kepada para leluhur yang telah mempertahankan tanah air.

 

Bujangga Manik

Bujangga Manik adalah naskah kuno yang mengisahkan perjalanan tokoh Prabu Jaya Pakuan yang disebut Bujangga Manik atau Ameng Layaran mengelilingi pulau Jawa dan Bali. Ia adalah putra mahkota yang lebih memilih hidup sebagai rahib pengelana daripada menjadi penguasa.

Sejak tahun 1627 atau 1629 naskah ini menjadi koleksi Perpustakaan Bodleian Universitas Oxford dengan kode inventaris MS Jav. b. 3 (R), diperoleh dari perantau Inggris Richard James, yang kemudian diserahkan oleh Andrews James (kakak Richard) kepada pihak perpustakaan. Pada tahun 1950 barulah terungkap bahwa naskah ini berasal dari Jawa Barat. Teksnya ditulis pada 29 lembar daun lontar (beberapa lembar lainnya hilang) dengan aksara dan bahasa Sunda kuno, berbentuk puisi naratif delapan suku kata pada setiap kalimatnya, dengan panjang 1.641 bait. Naskah ini diperkirakan ditulis sekitar awal abad ke-16, pada jaman pra-Islam, sebelum runtuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511). Isinya ditulis berdasarkan kenyataan pada masa itu dan dapat dibuktikan oleh rincian data topografis dalam kisah perjalanan itu, sehingga naskah ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Walau demikian, teksnya dianggap cerita karena tokoh utama pergi menuju kayangan setelah kematiannya.

Bujangga Manik dikisahkan melakukan dua kali perjalanan mengelilingi Pulau Jawa dan Bali. Pertama, ia berangkat dari keraton Pakuan, Bogor ke arah timur melintasi Cipamali, perbatasan wilayah Sunda dengan Jawa. Ia terus berjalan hingga sampai ke berbagai tempat di Jawa bagian Timur. Ketika ia sampai di Pemalang, ia rindu kepada ibunya, lalu pulang ke Pakuan dengan menumpang kapal yang berasal dari Malaka. Setengah bulan ia berlayar, lalu sampai di pelabuhan Kalapa, hingga akhirnya ia dapat bertemu kembali dengan ibunya. Dari perjalanan itulah ia mendapat julukan Ameng Layaran.

Kedua, Bujangga Manik kembali pergi untuk berjalan mengembara ke wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga menyeberang ke pulau Bali dengan menumpang sebuah kapal. Ia kemudian kembali pulang ke Jawa Barat dan memencilkan diri di sebuah pertapaan di sekitar Gunung Patuha. Di sanalah ia mencapai moksa hingga akhir hayatnya. Motivasi perjalanan kedua ini diperkuat dengan dorongan untuk menolak lamaran dari seorang perempuan cantik bernama Ajung Larang Sakean Kilat Bancana.

Dalam naskah disebutkan lebih dari 450 nama tempat, gunung dan sungai. Sebagian di antaranya masih dikenali dan digunakan hingga saat ini. Nama-nama itu meliputi wilayah di Pulau Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Semenanjung Malaya, Cina, hingga Mekah dan Madinah.

 

Kawih Pangeuyeukan

Kawih Pangeuyeukan adalah teks Sunda kuna yang berisi deskripsi lengkap tentang tradisi menenun bagi perempuan. Teks menyebutkan berbagai jenis peralatan dan bahan untuk menenun beserta dewi-dewi (pohaci) yang bersemayam di dalamnya.

Kawih Pangeuyeukan merupakan salah satu dari lima teks yang terdapat pada sebuah naskah koleksi Perpustakaan nomor inventaris L 407 dalam kabinet nomor 86. Naskah menggunakan media tulis daun lontar berukuran 19,5 x 2,5 cm, sebanyak 31 lempir (hanya 56 halaman yang ditulisi) dengan penutup kotak kayu. Asal mula naskah merupakan pemberian dari Bupati Galuh, R.A.A Kusumahdiningrat (1839) kepada Batavia Genootschap pada tahun 1866. Teksnya berbentuk puisi delapan suku kata dengan menggunakan aksara dan bahasa Sunda kuna. Kawih Pangeuyeukan secara harfiah berarti ‘nyanyian dalam hal bertenun’. Judul tersebut diberikan kemudian oleh peneliti naskah berdasarkan kalimat ‘pikawiheun bwat ngeuyeuk’ yang terdapat di dalam kisah. Secara tersirat teks ini ditujukan sebagai nasihat kepada perempuan.

Dikisahkan tokoh Deuwi Rasa Teuing Sakean Adi Larangan yang terbangun dari tidurnya karena mimpi saat dinihari, kemudian ia menangis tersedu-sedu sambil memangku alat tenun. Ia memangku kain tenun Cina dengan deskripsi motif yang sangat terperinci. Raden Jaya Keling, suaminya, bertanya kenapa ia sampai demikian sedih. Ia ternyata meminta untuk diajari menenun seperti para dewi yang dilihatnya dalam mimpi. Raden Jaya Keling telah menguasai berbagai ilmu keagamaan hasil dari membaca pustaka dan bertanya kepada guriang di berbagai tempat, lalu ia mengisahkan sebuah cerita dari permulaan dunia ketika masih kosong.

Dewi-dewi (déwata) yang dipimpin oleh Aci Déwata di kahiyangan sedang berdiskusi untuk turun dari kahiyangan dan mengisi kekosongan dunia. Disebutkan tak kurang dari 20 nama dewi (aksari, sri, batari, deuwi) yang ikut dalam pertemuan. Para dewi turun ke dunia dan bersemayam pada anasir-anasir perempuan. Terdapat sekitar 120 nama dewi yang disebutkan bersemayam pada sekitar 85 hal yang terdiri dari bahan (kapas, kapuk, benang berbagai warna dan jenis, kain sutra berbagai warna, lungsir ), alat tenun (kedalan, pamulu, jujutan, hindesan, peteng, kincir, ceuli lambing, kisi, hasiwung, kantéh, layeutan, lawayan, sikat, undar-andir, ulakan, pihanéan, sawung, badawa, galegeran, sumbi luput, hapit, pareredan, pangulas, sumbi, piseureungan, lorogan, tenunan, caor, tingkes kedalan, dodogong towaan, limbuhan, jingjingan, karap, ken, pakan, proses menenun (dijemur, dipeteng, digiling, dibentangkan, disikat, direntang, ngaliyar, meubeur, menyongket memintal), serta pada diri penenun baik jiwa maupun raga (telapak kaki, air susu, hati, ujung rambut, raunan, anak mata, bibir mata, dan mantungan).

 

 

TANTANGAN

Tantangan nyata terhadap proses transformasi adalah kurangnya minat dari para praktisi media untuk menggarap bahan yang berasal dari sumber naskah kuno. Mengapa demikian? Apakah tidak menguntungkan? Saya kira keuntungannya sangat potensial, bahkan bisa jadi berganda. Dengan membuat sebuah transformasi teks naskah ke dalam bentuk multimedia tentu informasi akan lebih mudah disampaikan dan diminati oleh masyarakat. Kreativitas akan terpacu untuk mencari bentuk-bentuk baru dengan tetap berpijak pada nilai-nilai universal yang terkandung dalam naskah kuno.

Penyampaian “amanat” dari Galunggung dalam naskah Sunda kuno, misalnya, niscaya akan lebih mudah dicerna jika divisualisasikan secara baik dalam bentuk animasi, daripada harus membaca hasil penelitian yang berbentuk naratif. Apalagi jika harus membaca naskah aslinya. Ini adalah menurut cara pandang orang awam. Lain halnya jika seorang peneliti yang memerlukan sumber otentik, tentu ia akan mencari informasi langsung dari naskah kuno.

Keuntungan kedua adalah memberikan alternatif tontonan untuk konsumsi generasi belakangan dalam derasnya arus budaya pop yang kurang relevan dengan kebudayaan lokal. Ketiga, jika dikelola dengan baik dan sungguh-sungguh, hasil karya transformasi naskah kuno itu bukan tidak mungkin dilirik produser atau pemodal untuk diadaptasi menjadi sebuah karya yang lebih besar. Paling tidak, pengelolaan kanal website, atau YouTube yang baik untuk konten transformasi naskah kuno juga berpotensi untuk menghasilkan keuntungan finansial.

Kuncinya adalah: Mau atau Tidak?

Para filolog yang telah bersusah payah menghadirkan kembali teks kuno dari bahan yang berusia ratusan tahun itu harus kita lanjutkan perjuangannya. Artinya kekayaan nilai-nilai dalam teks kuno itu harus tetap kita jaga, dengan cara dan media yang sesuai dengan zaman sekarang. Dengan demikian kearifan lokal dari para karuhun diharapkan akan tetap terjaga dalam wujud lain, walaupun naskahnya hancur dimakan oleh waktu.

 

PENUTUP

Naskah kuno sebagai benda warisan dari karuhun tetap harus disimpan dan dipelihara. Tapi kemudian kita harus berpikir dan bertindak, bagaimana caranya agar kandungan naskah tetap terjaga walaupun fisiknya hancur di kemudian hari. Transformasi karya adalah salah satu upaya pelestarian nilai-nilai kearifan lokal yang diharapkan akan lebih mudah diterima oleh kecenderungan masyarakat pada masa kini yang serba instan.

Keterlibatan dari semua pihak yang memiliki kepentingan dan minat terhadap pelestarian kekayaan warisan leluhur adalah sebuah keharusan, agar pewarisan kembali kepada generasi berikutnya dapat terus berlangsung. Akankah dua atau tiga generasi setelah kita di masa depan masih membicarakan kisah perjalanan Bujangga Manik, atau Sewaka Darma? Ataukah akan lebih tertarik untuk mengikuti kisah perjuangan para Avengers? Di masa sekarang transformasi naskah kuno adalah sebuah keniscayaan dan sebuah gerakan yang secepatnya harus dimulai, agar penerus kita kelak tidak tergerus oleh terjangan arus budaya luar.

 

 

 

 

 

DAFTAR BACAAN

Atja & Saleh Danasasmita. (1981). Amanat Galunggung. Bandung: Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.

Chambert-Loir, Henri & Oman Fathurahman. (1999). Khazanah Naskah: panduan koleksi naskah-naskah Indonesia sedunia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Danasasmita dkk., Saleh. (1987). Sewaka Darma, Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Amanat Galunggung: Transkripsi dan Terjemahan. Bandung: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi).

Darsa, Undang A. & Edi S. Ekadjati. (2004). Gambaran Kosmologi Sunda (Kropak 420), Silsilah Prabu Siliwangi, Matera Ajicarka, Mantera Darmapamulih, Ajaran Islam (Kropak 421), Jatiraga (Kropak 422). Bandung: Kiblat Buku Utama.  

Ekadjati, Edi. S. (2005). Kebudayaan Sunda Zaman Pajajaran. Bandung: Pusat Studi Sunda & Pustaka Jaya.

Gunawan, Aditia. (2017). “Wastra dalam Sastra Sunda Kuna” dalam Prosiding Seminar Internasional Pernaskahan Nusantara 2017. Solo: Perpustakaan Nasional RI, Manassa Pusat dan Universitas Negersi Sebelas Maret.

  1. Noorduyn (alihbahasa oleh Iskandarwassid). (1984). Perjalanan Bujangga Manik Menyusuri Tanah Jawa: data topografis dari sumber Sunda Kuno. KITLV & LIPI, Jakarta

Kurnia, Atep. “Di Balik ‘Bujangga Manik’” Kompas, Sabtu, 23 Agustus 2008.

Kurnia, Atep. “Kembalinya ‘Bujangga Manik’” Kompas.com, 18 Juni 2012. [online] diakses 22 Januari 2018.

  1. C. Ricklefs, P. Voorhoeve, Annabel Teh Gallop. (20140. Indonesian Manuscripts in Great Britain: A Catalogue of Manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections (New Editions with Addenda et Corrigenda). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Noorduyn, A & A. Teeuw (2009). Tiga Pesona Sunda Kuna. Jakarta: Pustaka Jaya.

Rosidi dkk., Ajip. (2000). Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya. Jakarta: Pustaka Jaya.

Ruhimat, Mamat dkk. (2014). Kawih Pangeuyeukan: tenun dalam puisi Sunda kuna dan teks-teks lainnya. Jakarta: Kerjasama Perpustakaan Nasional RI dengan Pusat Studi Sunda.

Sasmita, Mamat. 2015. “Ragam Hias dina Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian” dalam Manglé No. 2514, 2515, 2516 dan 2517, Februari-Maret.

 

[1] Editor buku, anggota Manassa Jawa Barat, peneliti di Pusat Studi Sunda, Bandung. Dapat dihubungi melalui email ilhamnurwansah@gmail.com, ponsel 085720091015

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: