Tinggalkan komentar

Peradaban Syiah di Cirebon

Peradaban Syiah di Cirebon
-dok NMN SIMBOL “Macan Ali” ditafsirkan sebagai peradaban mazhab Syiah di Cirebon.
Oleh: Nurdin M Noer*
sedeng//īra sunan khalijaga kawitan nira manganut hanapi\ tumuluy şyiah ri huwus şira syéh lemahabang angemasşi//sisya nira sunan khalijaga akwéh īng jawa wétan\ mwang jawa kulwan pirang siki pantaran nira ya ta kyagheng pamanahhan kya gheng séla yata ki juru martani ngaran nira wanéh\ pangéran trenggono\ sutawijaya\\
(Sedangkan //Sunan Khalijaga pada mulanya menganut Hanapi, kemudian Syiah setelah Syeh Lemahabang meninggal dunia.//Murid Sunan Khalijaga banyak di Jawa Timur, dan Jawa Barat//beberapa orang, di antaranya yaitu Ky Agheng Pamanahhan, Ky Agheng Sela yaitu//Ki Juru Martani namanya yang lain, Pangeran Trenggono, Sutawijaya.///)
– dari Kitab Negara Kertabhumi tulisan Pangeran Wangsakerta (1670).
“MACAN Siliwangi” bukan hanya jadi simbol perlawanan terhadap penjajah di masa lalu, tetapi lebih dari itu telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan budaya masyarakat setempat. “Macan Siliwangi” adalah simbol kekuatan rakyat, dalam bentuknya yang verbal dipakai secara resmi pada jajaran militer di Jawa Barat. Dari sisi ini dipastikan ada saling keterkaitan budaya antara “Macan Ali” dan “Macan Siliwangi”.
Pada jajaran Kepolisian Langlangbuana Jabar, simbol macan dalam warna hitam pun telah menjadi lambang resmi. Macan adalah kekuatan. Bukan cuma fisik, tetapi juga pikiran. Sebuah universitas di Cirebon, Unswagati, logo yang dipakai pun berupa “Macan Ali” dalam bentuk kaligrafi dua kalimat syahadat.
“Macan Ali” memang pernah menjadi lambang kebesaran dan kejayaan masa lalu bagi Nagari Caruban. Suatu kerajaan yang dibangun Syekh Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal sebagai Sunan Gunungjati pada awal abad 15. Hingga kini masih menyisakan warisan tiga keraton yang masih utuh, yakni Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan.
Dalam Kitab Negarakretabhumi (1670) disebutkan, Sunan Kalijaga merupakan salah seorang tokoh penganut Syiah yang bisa berjalan beriringan dengan Sunan Gunung Jati dengan para sunan lainnya dalam menyebarkan agama Islam. Tak ada konflik antarkeduanya. Sedangkan penganut Syiah sebelumnya Syekh Lemahabang (Siti Jenar) harus dihukum mati, karena ia bersama pengikutnya hendak melakukan kudeta terhadap Sultan Demak. Ia ditangkap di daerah Cirebon Girang, lalu diadili di Masjid Agung Sang Ciptarasa dan diputus bersalah oleh majelis hakim dan dihukum mati melalui eksekusi Sunan Giri di alun-alun Kasepuhan.
Sunan Kalijaga memiliki pengaruh besar dalam penyebaran agama Islam. Sunan Kalijaga lah yang menggagas peringatan maulid di keraton-keraton Jawa, terutama Cirebon dan Mataram (Islam). Simbol “Macan Ali” merupakan karakter dari tradisi Syiah yang pernah berkembang di Cirebon. Namanya “Macan Ali” dengan simbol dua pedang yang bersilang yang menunjukkan karakter sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib, seorang ahlul bait yang dianggap sebagai leluhur Syiah. Tradisi-tradisi lainnya yang berkaitan dengan mazhab Syiah di antaranya peringatan maulid, khaul dan 1 Asyura yang masih dilakukan dan dihormati masyarakat Cirebon. Wallahualam . []
*penulis adalah pemerhati kebudayaan lokal.
Sumber:
Tinggalkan komentar

HERMENEUTIK MODERN, DARI SAKUTARO KE KUNTOWIJOYO

7614602830_ff56dc0c6a_c

Oleh Abdul Hadi W.M.

Apabila kita berbicara tentang teori sastra, khususnya pada masa sekarang ini, selalu yang muncul dalam kepala kita ialah teori yang muncul dan hanya berkembang di Barat. Seakan-akan hanya teori para pakar Barat sajalah yang relevan dan tepat guna dalam menyusun berbagai bentuk kritik sastra dan memahami gejala-gejala sastra. Sering kita lupa bahwa tidak semua teori dari Barat itu siap pakai dan bisa bekerja dengan baik dalam menghadapi gejala-gejala sastra yang timbul di Asia, atau di Indonesia pada khususnya. Hal ini disebabkan karena kita kurang menyadari bahwa di belakang teori itu ialah pemikiran dan pandangan hidup yang tengah berkembang di Barat, yang berbeda dengan pemikiran dan pandangan hidup yang tengah berkembang di negeri kita.

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

Ternyata DN Aidit ‘PKI’ Berfaham Wahabi

Posted by: Tags: , ,, , , Reply

Dn-Aidit-sejarah

JAKARTA, Voa-islamnews.com – Kalian tahu DN. Aidit, ketua PKI yang mengkhianati Tan Malaka? Ideologi komunisme yang diusung Tan Malaka tidak sama dengan ideologi komunisme yang dibawa oleh DN. Aidit. Ketika Tan Malaka tewas terbunuh oleh pengkhianatan yang dilakukan pengikutnya sendiri, lalu DN. Aidit menggantikan kepemimpinan PKI.

Mengapa PKI pada masa itu sampai berlaku sadis, kejam, membunuh para ulama, dan menghalalkan segala cara sejak DN. Aidit memimpin? Jawabannya karena DN. Aidit adalah keturunan Arab non-Sayyid yang keluarganya berfaham Wahabi! Sejarah mencatat ideologi pemahaman Wahabi telah menorehkan sejarah berdarah, mereka membunuh para ulama yang tidak mendukung mereka, kejam, sadis dan menghalalkan segala cara. Makanya tak usah heran sejak DN. Aidit meraih tampuk kepemimpinan PKI berubah tindakannya seperti gerakan Wahabi, sebab pemimpinnya sendiri seorang berfaham Wahabi. Apa jadinya bila PKI sekarang ini tak lagi memakai “I” tapi malah memakai “S”?

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

Menguak Sejarah Nyai Subang Larang

Musthari Ari | Aug 24, 2014

KOTASUBANG.com, Binong – Mei tahun 2011 hutan jati di desa Naggerang, Kecamatan Binong tiba-tiba ramai dikunjungi banyak orang termasuk para sejarawan dan budayawan Jawa Barat. Pasalnya, di daerah ini ditemukan berbagai peninggalan benda bersejarah yang diduga milik Nyai Subang Larang.

Benda-benda bersejarah itu banyak ditemukan di hutan jati yang disebut Muara Jati dan Teluk Agung yang juga dikenal dengan sebutan Astana Panjang. Tak ada warga yang tahu sejarah daerah itu disebut Astana Panjang, yang pasti sejak tahun 80-an warga sekitar sudah sering menemukan benda-benda kuno di sini.

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

Siapa yang Sah Mewakili Teknokrat?

[Catatan untuk Goenawan Mohamad]

Berbagi di Facebook
Tweet di Twitter

shutterstock_317915966_mediumPada 25 September 1971, ketika majalah Tempo baru terbit pada tahun pertama, dan usia rezim Soeharto masih seumur jagung, jurnalis dan sastrawan muda Goenawan Mohamad (GM) dalam artikelnya berjudul “Dari Kisah ‘The Mafia Berkeley’” memberikan pembelaan terhadap para teknokrat Orde Baru yang digugat oleh David Ransom dalam karyanya “The Berkeley Mafia and the Indonesian Massacre” sebagai aktor-aktor yang bersama dengan para jenderal bertanggung jawab atas jatuhnya pemerintahan Presiden Soekarno dan kembalinya Indonesia ke dalam pelukan imperialisme.

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

 KEJAYAAN PAKUAN PAJAJARAN MENURUT NASKAH KUNO DAN TULISAN ORANG PORTUGIS.

oleh: Taufik Hassunna (Aktifis LSM Masyarakat Cinta Bogor)

Dayeuh Pakuan (Kota Bogor sekarang) pernah mengalami masa jaya ketika menjadi purasaba (ibu kota) kerajaan Pajajaran dengan rajanya yang terkenal Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) dari tahun 1482-1521 Masehi, peristiwa penobatan Sri Baduga pada tanggal 3 Juni 1482 sekarang diperingati sebagai Hari Jadi Bogor.

Pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja, terjadi hubungan internasional yang pertama dengan bangsa Eropa, bilateral dengan Portugis pada tahun 1513, sedangkan negara-negara lainnya yang sempat jadi sahabat dalam perdagangan diantaranya : Cina, Keling, Parsi, Mesir, Madinah, Campa, Pahang, Kelantan, Jawa dan beberapa puluh negara yang ada di Nusantara lainnya. Untuk kepentingan ini, menurut naskah kuno Kropak 630 Sanghyang Siksakandang Karesian, telah disiapkan “Jurubasa Darmamurcaya” atau maksudnya Juru Penerang Bahasa yang tentu saja termasuk “Ahli Bahasa” dan “Penterjemah Bahasa” di dalamnya.

Walaupun saat itu oleh masyarakat dikenal sebagai “Kerajaan Pajajaran”, tapi ketika saling tukar menukar utusan, Sri Baduga Maharaja secara resmi menyebut negaranya “Kerajaan Sunda”

Continue Reading »

1 Komentar

RIP Wijaya Herlambang: Membongkar Dusta Agen Kebudayaan

 Posted On 5 Dec, 2015 – By – With 1 Comment

Wafat: Jumat, 4 Desember 2015

OLEH Ubaidilah Muchtar

Peristiwa terbunuhnya 7 jenderal pada 30 September 1965 masih belum menemukan jawabnya yang pasti. Siapa pelakunya? Namun bagi pendukung Suharto dan Orde Baru gampang saja: PKI satu-satunya yang harus bertanggung jawab. Tidak demikian dengan para peneliti, akademisi, dan aktivis. Jawabannya tidak sesederhana menjentikkan telunjuk ke arah PKI.

Continue Reading »

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Freedom, ...our responsibility.

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 616 pengikut lainnya