Tinggalkan komentar

RP Soeroso, Banteng Muda Musuh Belanda

  • RP Soeroso, Banteng Muda Musuh Belanda

    September 6, 2019 by

    BEBERAPA waktu lalu jagat media sosial sempat dihebohkan dengan perlakuan brutal sekelompok vandalis  di Cianjur, Jawa Barat, yang menghancurkan tiga Tugu Penjelas Nama Jalan (TPNJ). Salah satu TPNJ itu menginformasikan riwayat seorang pejuang kemerdekaan bernama Soeroso. Siapakah dia? Dalam blog pribadinya, Ahmad Samantho menyebut Soeroso sebagai salah satu kakeknya. Menurut penulis sejarah asal Bogor itu, Soeroso memiliki nama… Baca selengkapnya

  • BUDAYAWAN YANG TAK BERADAB

    November 7, 2019 by

    Originally posted on Blog Sastra F. Rahardi:
    Kompas, Sabtu, 1 April 2006 Oleh F. Rahardi Seperti sudah menjadi tradisi, pada tiap pergantian personil anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), selalu ada ribut-ribut. Termasuk yang terjadi akhir-akhir ini. Budayawan yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna sebagai manusia yang berakal budi, telah menjadi  pendemo yang tidak…

  • Kembalikan Tradisi Masyarakat Sriwijaya untuk Alam

    November 7, 2019 by

    oleh Taufik Wijaya [Palembang] di 7 November 2019 Selama puluhan abad masyarakat di Nusantara hidup sejahtera karena memiliki hubungan harmonis dengan alam. Di masa Kedatuan Sriwijaya hubungan ini melahirakn sejumlah tradisi, seperti sedekah sungai, sedekah laut, dan sedekah bumi. Sebagian besar tradisi ini mulai hilang atau berkurang sejalan dengan tradisi ekstratif yang dibawa bangsa penjajah Eropa, yang… Baca selengkapnya

  • Kaleidoskop Bhumi Jawa

    Oktober 20, 2019 by

    3 jam · ‎Subhan Mustaghfirin‎ keNUHSANTARA HISTORICAL DISCOVERY3 jam ======= Kaleidoskop Bhumi Jawa =======(Sejak Zaman Purba sampai Zaman Modern) Diambil dari kompilasi babad, kidung, naskah, prasasti, wiki & buku sejarah. 10.000 SM – Kebudayaan Gunung Padang muncul di Cianjur.9500 SM – Kebudayaan Goa Pawon muncul di Bandung.7500 SM – Kebudayaan Pangguyangan muncul di Sukabumi.4000 SM – Tahap kedua… Baca selengkapnya

  • Tasjim’ Versi Muslim non-Asy’ariyah Dan Hindu Hare

    Oktober 18, 2019 by

    Tasjim’ Versi Muslim non-Asy’ariyah Dan Hindu Hare Krishna Oleh: Menachem Ali, Dosen Philology Universitas Airlangga Kaum Hindu Hare Krishna (ISKCON) juga mengenal nama الله (ALLAH) sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sebagaimana penjelasan AC. Bhaktivedanta Swami Prabhupada dalam uraiannya mengenai ayat suci Weda. Ayat suci yang termaktub dalam kitab Bhagavad-gita X.7 menyebutkan demikian:… Baca selengkapnya

  • KONVERSI IDEOLOGI MUHAMMADIYAH KE GERAKAN FRONT PEMBELA ISLAM (FPI)

    Oktober 16, 2019 by

    KONVERSI IDEOLOGI MUHAMMADIYAH KE GERAKAN FRONT PEMBELA ISLAM (FPI) BY Sholihul Huda1 1)Religious Studies Department, Faculty of Islamic Studies, Muhammadiyah Surabaya University. sholikhsby@gmail.com https://www.academia.edu/34950395/KONVERSI_IDEOLOGI_MUHAMMADIYAH_KE_GERAKAN_FRONT_PEMBELA_ISLAM_FPI?auto=download Abstraksi Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang ingin memotret fenomena terkait proses, faktor, bentuk dan dampak konversi ideologi dikalangan aktifis Muhammadiyah ke FPI di daerah Paciran Lamongan. FPI merupakan salah satu… Baca selengkapnya

  • Awal Mula Para Raja Nusantara

    Oktober 14, 2019 by

    KISAH AWAL MULA DAN SILSILAH LELUHUR PARA RAJA NUSANTARA Marilah kita lanjutkan cerita tentang leluhur bangsa Nusantara yang telah saya jelaskan dalam Kisah Zaman Awal Peradaban Bangsa Bumi. Dalam kisah sebelumnya telah dijelaskan bahwa zaman Dwapara Yuga (diperkirakan terjadi pada tahun 8.984 SM), ditandai dengan kelahiran Sang Avatar Sri Krishna. Pada zaman itu, dikisahkan terdapat sebuah bangsa besar bernama bangsa… Baca selengkapnya

  • 5 Nilai Moral Islam / 10 Perintah Tuhan

    September 18, 2019 by

    Lima Nilai Moral Islam dikenal pula sebagai Pancasila atau Sepuluh Perintah Tuhan versi Islam. Perintah-perintah ini tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-An’aam 6:150-153 di mana Allah menyebutnya sebagai Jalan yang Lurus (Shirathal Mustaqim ): Tauhid (Nilai Pembebasan)   1. Katakanlah: “Bawalah ke mari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwasanya Allah telah mengharamkan yang kamu haramkan ini.” Jika… Baca selengkapnya

  • Ironi, Tidak Ada Kajian Khusus Kerajaan Sriwijaya dan Kejayaan Maritim

    September 4, 2019 by

    oleh Taufik Wijaya [Palembang] di 4 September 2019 Tidak adanya studi khusus mengenai Kerajaan Sriwijaya, termasuk kerajaan lain di Nusantara, di perguruan tinggi maupun sekolah di Indonesia adalah ironi. Mengingat, peradaban besar dan kejayaan maritim dilahirkan Sriwijaya. Di Indonesia saat ini, minim generasi muda yang menekuni studi Kerajaan Sriwijaya. Pemerintah diharapkan melahirkan kebijakan agar sejarah… Baca selengkapnya

  • Kapamimpinan Sunda ?

    Agustus 29, 2019 by

     Nyungsi Pamendak: Kapamingpinan Sunda. ku : Roza Rahmadjasa Mintaredja Meureun, nu sabenerna mah lain Kapamingpinan Numutkeun Budaya Sunda, tapi Kapamingpinan Numutkeun Manusa anu dianggap Apal kana Budaya Sunda. Ari sababna? Lantaran budaya Sunda mah moal bisaeun cumarita ihwal kapamingpinan, budaya Sunda mah hiji sistem ajen/nilai, lain manusa. Kahiji eta; atuh kadua, sabenerna teu wasa kuring… Baca selengkapnya

  • Misteri Pulau Agyre yang Hilang ternyata Salaka Nagara

    Agustus 29, 2019 by

    MISTERI PULAU AGYRE YANG HILANG TERNYATA SALAKA NAGARA Oleh Yuddy Aditiawan pada Sabtu, 06 Juli 2013 pukul 16.34 Penulis: Iwan Taufik Sejarah Indonesia mempunyai banyak sisi yang belum di eksplorasi, termasuk penelusuran berbagai kerajaan yang pernah ada di nusantara.Selama ini, proses mencari jejak kerajaan-kerajaan di nusantara banyakmenghasilkan informasi baik yang lama maupun yang baru; bahkan tidakjarang menimbulkan pertanyaan… Baca selengkapnya

  • Kontroversi Uga Wangsit Siliwangi: Kebangkitan Nusantara (“Pajajaran Anyar”) ?

    Agustus 27, 2019 by

    Manakah Naskah Uga Wangsit Siliwangi yang sebenarnya? Belum diketemukan atau tidak ada? Karena Redaksi kalimat dalam naskah Uga Wangsit Siliwangi yang populer dan termasuk yg jadi rujukan video ini, adalah menggunakan bahasa Sunda kontemporer (masa kini) bukan bahasa Sunda Kuno zamannya Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja Di Pakuan Pajajaran), anak-cucu dan buyutnya sampai ke Raga… Baca selengkapnya

  • Popol Vuh

    Agustus 22, 2019 by

    POPOL VUH by Habib Hussein Mitos-mitos tertulis suku Maya paling tua berasal dari abad ke-16 yang ditemukan dalam dokumen-dokumen sejarah dari Dataran Tinggi Guatemala. Dokumen paling penting adalah Popol Vuh yang memuat kisah penciptaan Quichean serta beberapa kisah petualangan dari pahlawan kembar, Hunahpu dan Xbalanque. Popol Vuh adalah naratif mitos-sejarah yang berasal dari kerajaan K’iche’… Baca selengkapnya

  • Zaman Disrupsi ke -15: Peradaban

    Agustus 21, 2019 by

    ZAMAN DISRUPSI KE-15 PERADABAN (2) Achmad Chodjim Kita pun harus berani mengakui dengan jujur bahwa kekuatan bangsa ini terwujud karena bisa membangun kehidupan bersama dalam aneka macam perbedaan yang dapat disebut juga diversity ini homogenity. Harus ada komitmen untuk tidak mengusik keyakinan orang atau komunitas lain. Dengan demikian, kita tidak perlu heran jika suku bangsa… Baca selengkapnya

  • Nusantara Tak Pernah Dikalahkan & Dijajah ?

    Agustus 21, 2019 by

    Nusantara Tidak Pernah Dikalahkan ? _by Agus Budiyono, Alumni Massachusetts Institute of Technology_ _disampaikan dalam Seminar Nasional “Literasi Sains untuk Membumikan Nilai-nilai Pancasila” Solo, 19 Agustus 2019_ Saya menghabiskan sebagian besar usia dewasa saya di luar nusantara. Saya pernah tinggal di _Amerika (Cambridge, Boston, Nashua, Columbus),Eropa (Assen),Australia (Melbourne) dan Timur Jauh (Seoul)._ Kemanapun saya pergi… Baca selengkapnya

  • Hindustan sebenarnya adalah Kawasan Asia Tenggara yang Pusatnya di Muara Takus Kampar Riau

    Agustus 21, 2019 by

    HINDUSTAN SEBENARNYA ADALAH KAWASAN ASIA TENGGARA YANG PUSATNYA DI MUARA TAKUS KAMPAR Ronni Astar al-Kampari ———————————————- Tampaknya hanya dengan raja-raja Masa kekaisaran Wijayanagara pada tahun 1352 M kata “Hindu” digunakan dengan bangga oleh Bukkal yang menggambarkan dirinya sebagai “Hinduraya suratrana”. Sedangkan teks-teks Sansekerta utama, dan bahkan ritual-ritual yang telah dilakukan di kuil-kuil dari ribuan tahun… Baca selengkapnya

  • Eksotisme Tanah Sunda

    Agustus 21, 2019 by

    Menguak Eksotisme Tanah Sunda 3 April 2013   09:40 Diperbarui: 24 Juni 2015   15:49  177  0 1 Dimuat di Majalah Pendidikan Online Indonesia, Rabu/3 April 2013 http://mjeducation.co/menguak-eksotisme-tanah-sunda/ Judul: The Wisdom of Sundaland Penulis: Anand Krishna Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Cetakan: 1/2012 Tebal: ix + 200 halaman ISBN: 978-979-22-8657-1 Harga: Rp60.000 Dalam tradisi masyarakat Maluku ada istilah pela dan gandong. Pelamengacu pada persahabatan berdasarkan… Baca selengkapnya

  • India (Bharatavarsa dari Dinasti Candra (Klan Melayu)

    Agustus 21, 2019 by

    Indra Zoneaydi Piliang INDIA (BHARATAVARSA) DARI DINASTI CANDRA (KLAN MELAYU) ——————————————— Gurudev dalam “Geographical Span of Ancient India – Jambudveepe Bharathavarshe Bharathakhande” menjelaskan bahwa Bharatawarsha adalah istilah dengan jangkauan yang lebih luas, yang digunakan untuk menyebut India Raya(termasuk kawasan yang mendapat pengaruh Asia Selatan, yaitu sebagian Asia Barat dan Asia Tenggara). . Susastra Hindu seperti… Baca selengkapnya

  • Kampar, Tanah Al Hind di Equator, Pusat Peradaban Timur

    Agustus 21, 2019 by

    KAMPAR TANAH AL HIND EQUATOR, PUSAT KOTA PERADABAN TIMUR —————————————————— by Indra Zoeniyadi Piliang Tak diragukan lagi bahwa Solon mengunjungi Mesir. Alasan kepergiannya dari Athena, selama 10 tahun, dijelaskan lengkap oleh Plutarch. Dia menetap, kata Plutarch. “Di pantai Canopian, dekat muara Nil yang dalam.” Di sana dia bertentangan pada poin filsafat dan sejarah dengan sebagian… Baca selengkapnya

  • Mesjid-mesjid lama di Indonesia

    Agustus 21, 2019 by

    Masjid-Masjid Lama Indonesia BY SEKTI · 17 MARCH 2012 Secara tipikal, masjid-masjid lama Indonesia beratap tumpang, puncak limas bujursangkar (piramidal) dengan jumlah ganjil, dan berdenah bujursangkar. Perbedaan yang ada lebih kepada proporsi dan ornamentasi. Berikut adalah foto lama beberapa masjid lama Indonesia koleksi Tropenmuseum.      

View all posts

BEBERAPA waktu lalu jagat media sosial sempat dihebohkan dengan perlakuan brutal sekelompok vandalis  di Cianjur, Jawa Barat, yang menghancurkan tiga Tugu Penjelas Nama Jalan (TPNJ). Salah satu TPNJ itu menginformasikan riwayat seorang pejuang kemerdekaan bernama Soeroso. Siapakah dia?

Dalam blog pribadinya, Ahmad Samantho menyebut Soeroso sebagai salah satu kakeknya. Menurut penulis sejarah asal Bogor itu, Soeroso memiliki nama lengkap Raden Soeroso dan merupakan putra dari Raden Soemarsono yang pernah tinggal di wilayah Cibalagung (masuk dalam wilayah Ciomas, Kota Bogor).

“Ketika masih kecil, saya sering melihat lukisan pinsil Kakek Soeroso dipajang di rumah Eyang Uti (nenek Samantho) dan di rumah Mbah Buyut Soemarsono,” ungkap Samantho.

Keterangan Ahmad Samantho ditegaskan oleh Sukarna (98). Kepada saya, eks pejuang kemerdekaan di Bogor itu berkisah bahwa Soeroso masih terhitung pimpinannya di BBRI (Barisan Banteng Republik Indonesia) cabang Bogor. Ketika sedang hebat-hebatnya perlawanan para pejuang Indonesia terhadap pasukan Inggris pada awal 1946, secara sukarela Soeroso bersama 10 anak buahnya hijrah ke Cianjur.

BACA JUGA: Di Bawah Simbol Banteng

“Karena saat itu konvoi tentara Inggris sering melewati Cianjur, Pak Soeroso memutuskan untuk “menunggu” mereka di sana,” ujar Sukarna.

Di kota penghasil beras itu, Soeroso lantas membangun basis perlawanan. Selain melatih para pemuda setempat, dia pun terlibat aktif dalam pengadaan senjata untuk melawan musuh. Dalam sebuah dokumen berjudul “Beberapa Catatan Tentang Sejarah Perjuangan Rakyat Cianjur dalam Merebut dan Mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1942—1949” yang disusun oleh Tim Sejarah Dewan Harian Cabang Angkatan 1945 Kabupaten Cianjur, dikisahkan Soeroso pernah menyumbang 10 senjata bekas tentara KNIL kepada para pejuang yang beroperasi di Cipanas.

Dalam buku  Pertempuran Konvoy Sukabumi-Cianjur 1945-1946, Letnan Kolonel (Purn) Eddie Soekardi (Komandan Resimen ke-13 TRI Komandemen Jawa Barat) menyebut nama Soeroso sebagai pimpinan gerilyawan kota yang aksi-aksinya sangat impresif. Dalam suatu aksi penghadangan di pusat kota Cianjur pada Maret 1946, Soeroso dan anak buahnya berhasil mengganggu pergerakan Bataliyon 3/3 Gurkha Rifles (suatu kesatuan elit militer Inggris dari Divis ke-23 British India Army) dari Bandung ke Sukabumi. 

Bersama gerilyawan-gerilyawan lain dari  Yon 3 Resimen III TRI, Lasykar Hizbullah dan Sabilillah, Lasykar BBRI pimpinan Soeroso (lebih dikenal sebagai Pasukan Banteng Soeroso) melakukan penyerangan lewat aksi hit and run terhadap Yon 3/3 Gurkha Rifles yang diperkuat oleh tank Sherman, panser wagon, brencarrier dan truk-truk berisi pasukan. Kendati hanya menggunakan molotov cocktail (bom sederhana yang terbuat dari botol yang diisi bensin dan disertai sumbu) dan beberapa pucuk senjata saja, mereka melakukan serangan terstruktur khas tentara Jepang dari sudut-sudut pertokoan dan lorong-lorong rumah yang berderet sepanjang pusat kota Cianjur.   

“Bagi para serdadu Gurkha Rifles, situasi itu cukup membingungkan. Mereka hanya bisa bertahan dan membalas  serangan tersebut sekenanya dari balik kendaran-kendaraan tempur mereka… ” kata Eddie Soekardi.

BACA JUGA: Neraka Pasukan Gurkha

Ketidakberdayaan salah satu satuan elit militer Inggris dalam Perang Dunia II sempat dicatat oleh sumber Inggris sendiri. Dalam The Fighting Cock: The Story of The 23rd Indian Division, Kolonel A.J.F Doulton memuji pergerakan taktis gerilyawan Indonesia yang  sempat membuat para serdadu Gurkha  panik dan terpukul.

“Ini menjadi suatu bukti, orang-orang Indonesia mengalami kemajuan dan semakin militan…” tulis Doulton.

Tetapi karena kurang lengkapnya persenjataan para pejuang Indonesia, Cianjur pada akhirnya jatuh juga ke tangan tentara Inggris. Sebagai markas, para prajurit Inggris memilih bekas gedung Pabrik Es (sekarang menjadi Gedung Gelanggang Muda Cianjur). Pasukan Banteng Soeroso sendiri kemudian menyingkir ke arah Pasar Suuk (sekarang Jalan Barisan Banteng) dan mendirikan markas di sebuah rumah yang ditinggal pemiliknya (sebuah keluarga Belanda).

Zoehdi (95) masih ingat bagaimana Soeroso kerap melatih anak buahnya berbaris di sekitaran Pasar Suuk. Bunyi aba-abanya yang khas dan terdengar tegas, seolah menembus rimbunan pohon-pohon mahoni yang saat itu banyak tumbuh di sana.

“Saya mengenang Pak Soeroso itu sebagai pemuda pemberani, badannya kekar dan sorot matanya tajam menantang, mirip seekor banteng muda”ungkap eks anggota milisi Angkatan Pemoeda Indonesia (disingkat API, sebuah milisi perjuangan rakyat Indonesia yang didirikan pada akhir 1945) tersebut.

Keberanian Soeroso memang sangat populer di kalangan para pejuang Cianjur saat itu. Dikisahkan oleh Zoehdi, Soeroso pernah nekad mengejar sebuah pesawat tempur Inggris hanya menggunakan sepeda motor dan sebuah stengun.

Akhir 1946, tentara Inggris mulai meninggalkan Indonesia. Sebagai penggantinya maka tentara Belanda mulai bermunculan dan menjadi penguasa sebenarnya. Situasi tersebut jelas membuat para pejuang Indonesia semakin menguatkan perlawanannya. Mereka tak mau Belanda menjajah lagi untuk kedua kalinya. Di Cianjur, nyaris setiap hari hidup tentara pendudukan tak pernah tenang. Selalu saja ada dari mereka yang terbunuh atau hilang diculik gerilyawan Republik. Salah satunya adalah Pasukan Banteng Soeroso.

Dengan modal senjata seadanya, hampir tiap malam, mereka melakukan aksi teror terhadap asrama militer Belanda yang berada di wilayah Kampung Tangsi (sekarang menjadi  Gang Pangrango) dan induk pasukan  mereka yang bermarkas di Joglo (sekarang menjadi gedung Komando Distrik Militer 0608 Cianjur, Toserba Slamet, gedung Markas Corps Polisi Militer). Merasa terganggu dengan serangan-serangan Banteng Soeroso ini, maka militer Belanda kemudian melancarkan suatu operasi intelijen untuk menjebak pimpinan milisi Republik itu.

BACA JUGA: Tokoh di Balik Takluknya Tentara Inggris di Sukabumi

Maka disebarlah telik sandi ke pinggiran kota dan pelosok desa. Setelah semua informasi terkumpul, intelijen militer Belanda lantas membuat  skenario penangkapan. Singkat cerita, “diutuslah” oleh militer Belanda seseorang (yang berpura-pura sebagai pejuang) ke markas Banteng Soeroso. Dengan dalih membahas strategi perjuangan selanjutnya, sang telik sandi itu mengundang Soeroso  untuk menemui sekumpulan gerilyawan kota di sebuah warung makan yang masuk dalam wilayah Satoe Doeit (sekarang Jalan Soeroso atau Ampera). Tanpa kecurigaan, Soeroso menyanggupi undangan tersebut dan datang ke Satoe Doeit, bersama dua ajudannya, Sjamsoe dan Slamet.

Menurut kesaksian Sjamsoe, sekira jam 19.00 mereka tiba di warung makan itu dan langsung  memesan makanan. Saat santap malam itulah, satu peleton tentara Belanda mengepung tempat tersebut. Soeroso yang sadar dirinya masuk dalam jebakan lantas melakukan perlawanan. Pertempuran tidak seimbang pun berlangsung cukup seru.

“Kami bertiga bertarung habis-habisan, kami masing-masing hanya menggunakan sepucuk pistol,” kenang Sjamsoe.

Sayang, saat hendak meloloskan diri ke luar warung makan, sebutir peluru  menghantam tepat dada Soeroso. Dia pun terjungkal. Diikuti Slamet yang juga tertembak dan bermandikan darah. Lantas bagaimana nasibnya Sjamsoe,? Begitu terjungkal karena hantaman peluru, beberapa warga setempat langsung membawanya ke seorang dokter bernama Ojo. Kendati mengalami luka berat, Sjamsoe nyawanya masih bisa diselamatkan dan bisa melanjutkan hidupnya hingga awal tahun 2000. https://historia.id/militer/articles/soeroso-banteng-muda-musuh-belanda-6lj4E?fbclid=IwAR0tU7TK6XCbmdhuLTBY4ywb-cuj4jfwL1jjD8uuPs7__GFI2XqygbADIj0

Tinggalkan komentar

BUDAYAWAN YANG TAK BERADAB

Blog Sastra F. Rahardi

Kompas, Sabtu, 1 April 2006

Oleh F. Rahardi

Seperti sudah menjadi tradisi, pada tiap pergantian personil anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), selalu ada ribut-ribut. Termasuk yang terjadi akhir-akhir ini. Budayawan yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna sebagai manusia yang berakal budi, telah menjadi  pendemo yang tidak mengenal adab.

DKJ adalah lembaga yang diharapkan bisa representatif mewakili seni dan seniman DKI Jakarta. Karena Jakarta ibukota negara, DKJ juga sering dianggap representatif mewakili seni dan seniman Indonesia. Secara struktural, DKJ berada di bawah Akademi Jakarta (AJ), yang merupakan pembantu Gubernur DKI Jakarta. Kantor AJ dan DKJ ada di Taman Ismail Marzuki (TIM). Tetapi TIM dikelola oleh lembaga tersendiri. Masih ada pula Yayasan Kesenian Jakarta (YKJ), yang diharapkan bisa membantu mencari dana bagi kegiatan kesenian di TIM, tetapi tidak jalan. Hingga anggaran TIM, AJ dan DKJ, tetap  berasal dari Pemprov. DKI.

Komplek TIM, terletak di jalan Cikini Raya Jakarta. Dulunya Komplek…

Lihat pos aslinya 846 kata lagi

Tinggalkan komentar

Kembalikan Tradisi Masyarakat Sriwijaya untuk Alam

oleh Taufik Wijaya [Palembang] di 7 November 2019

  • Selama puluhan abad masyarakat di Nusantara hidup sejahtera karena memiliki hubungan harmonis dengan alam. Di masa Kedatuan Sriwijaya hubungan ini melahirakn sejumlah tradisi, seperti sedekah sungai, sedekah laut, dan sedekah bumi.
  • Sebagian besar tradisi ini mulai hilang atau berkurang sejalan dengan tradisi ekstratif yang dibawa bangsa penjajah Eropa, yang akhirnya merusak alam di Nusantara [Indonesia] yang hingga kini berdampak negatif pada masyarakat Indonesia.
  • Hubungan harmonis antara manusia dan alam melahirkan karakter bangsa Indonesia yang terbuka, egaliter, pemberani, berkerjasama dan berketuhanan. Karakter yang mampu melahirkan manusia di masa lalu.
  • Hubungan harmonis manusia dengan alam merupakan karakter manusia unggul Indonesia, yang artinya bukan sebatas menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi seperti bangsa-bangsa lain.

Selama puluhan abad, masyarakat di Nusantara [Indonesia] mampu menjaga alamnya dari berbagai kerusakan. Kehidupan mereka pun harmonis dengan alam.

Misalnya di masa Kedatuan Sriwijaya, hubungan harmonis dengan alam ini melahirkan berbagai tradisi, seperti sedekah sungai, laut dan bumi. Pijakan masyarakat Kedatuan Sriwijaya tercermin dalam Prasasti Talang Tuwo yang dibuat dua tahun setelah kerajaan tersebut berdiri 684 Masehi.

Namun, kolonialisme yang mengusung ekonomi ekstraktif, membuat alam yang sebelumnya terjaga menjadi rusak, yang berdampak sebagian besar masyarakatnya hingga saat ini hidup tidak sejahtera. Apa yang harus dilakukan?

“Kita harus mengembalikan dan melestarikan tradisi-tradisi yang tumbuh di masyarakat yang hidup selama Kedatuan Sriwijaya. Jika tradisi-tradisi ini dihidupkan dan dilestarikan, saya percaya akan mengembalikan kearifan manusia terhadap alam, termasuk pula melestarikannya,” kata Dr. Husni Thamrin, budayawan Palembang, usai mengunjungi makam tua di Upang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, yang diperkirakan makam Sri Idrawarman, salah satu raja Kedatuan Sriwijaya, pekan terakhir Oktober 2019.

Baca: Tidak Lagi Terbakar, Dua Desa Ini Kembangkan Wisata Sejarah dan Ekowisata

Seorang warga Desa Upang Ceria menunjukan udang satang yang didapanya di Sungai Demang Lebar Daun, anak Sungai Musi, yang akan dijadikan lokasi wisata sejarah dan ekowisata. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

Masyarakat Upang saat ini masih menjaga tradisi sedekah sungai, yang merupakan tradisi turunan dari masyarakat Kedatuan Sriwijaya.

Setelah runtuhnya Kedatuan Sriwijaya, di masa Kerajaan Majapahit dan sejumlah Kesultanan, tradisi ini masih bertahan, dan alam pun tetap terjaga. “Baru setelah datangnya bangsa Eropa yang menjalankan ekonomi ekstraktif, alam mulai rusak, yang terus dirasakan hingga saat ini. Kerusakan bentang alam ini pun memberi dampak signifikan terhadap karakter suku bangsa di Nusantara.”

Di masa Kedatuan Sriwijaya, pada masyarakat pesisir atau lahan basah, tumbuh dan berkembang tradisi seperti sedekah sungai dan laut, sementara di wilayah daratan tradisi seperti sedekah atau ruwatan bumi. “Tradisi ini masih kita temukan pada masyarakat di Nusantara, misalnya pada komunitas adat.”

Tradisi-tradisi tersebut selain bertujuan membentuk karakter manusia setempat, juga sebagai “pertahanan” terhadap berbagai upaya dari luar yang berkeinginan merusak alam.

Baca juga: Jika Kerajaan Sriwijaya Fiktif, Bagaimana Kedaulatan Maritim Indonesia?

Anak-anak Desa Gelebak Dalam bermain di sawah. Dulunya desa ini bernama Sri Kuto Payung Priyayi, satu-satunya permukiman kaum ningrat di luar Palembang. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

Terbuka, egaliter dan berketuhanan

Tradisi sedekah laut dan sungai, misalnya, melahirkan karakter manusia yang terbuka, egaliter, pemberani, berkerja sama dan berketuhanan.

Terbuka karena sungai atau laut dipahami sebagai penghubung bukan pembatas. Ketika manusia berlayar atau berperahu ke sungai atau laut, dia akan terhubung dengan belahan dunia lain.

“Seseorang yang berperahu di Sungai Musi akhirnya dapat melaju hingga ke Singapura, Malaka, Ternate, Buton atau pesisir Papua. Dia pun berhubungan dengan manusia lain, terbuka agar dapat membaur. Daratan atau pulau dipahami sebagai bagian laut atau sungai. Ini berbeda dengan manusia di darat, yang melihat sungai atau laut sebagai batas. Mereka cenderung tertutup,” kata Ketua Yayasan Alam Melayu Sriwijaya [Sriwijaya], sebuah lembaga yang fokus pada pelestarian ritus atau tradisi peninggalan masyarakat Kedatuan Sriwijaya.

Sungai dan laut juga memberi pemahaman bagi manusia jika ada manusia yang hidup di belahan bumi lain, juga memahami begitu banyak makhluk hidup di Bumi ini. Semua makhluk hidup memiliki akses dan peranan terhadap alam, sehingga posisinya sejajar.

Mengarungi sungai dan laut juga membutuhkan keberanian luar biasa. “Nyawa taruhannya.”

Sama seperti beragam jenis ikan, manusia juga membutuhkan kerja sama saat berada di perahu atau kapal. “Lihatlah nelayan, mereka selalu kerja sama saat melaut.”

Karena bahaya di laut, kesadaran spiritual manusia meningkat. Kecemasan akan mati akibat badai atau digulung ombak, membuat manusia terhubung kepada Tuhan, mereka berharap diberi perlindungan atau pertolongan.

Lima karakter manusia itu yang membangun masyarakat di Nusantara pada masa Kedatuan Sriwijaya, sebagai manusia unggul. “Bukan menguasai atau mengalahkan orang lain dan alam, unggul karena bermanfaat bagi manusia dan alam,” jelasnya.

Perahu ketek masih menjadi angkutan utama di Sungai Musi untuk jakur Palembang Ilir dan Palembang Ulu. Foto: Ikral Sawabi/Mongabay Indonesia

Pemajuan kebudayaan

Upaya penjagaan lingkungan hidup melalui penghidupan dan pelestarian berbagai tradisi terkait alam, dapat dilakukan melalui skema pemajuan kebudayaan Indonesia.

“Sederhananya, bukan hanya urusan aktivis lingkungan, Menteri LHK [Lingkungan Hidup dan Kehutanan], Perkebunan, Pertanahan, Energi, tetapi juga seniman, tokoh agama, guru, tokoh adat, dan lainnya. Semuanya bagian penting atau aktor utama dalam upaya pemajuan kebudayaan,” kata Conie Sema, seniman Palembang.

Langkah ini, lanjut Conie, sesuai salah satu poin Strategi Kebudayaan Indonesia yang dihasilkan dari Kongres Kebudayaan 2018 lalu, yakni “memajukan kebudayaan yang melindungi keanekaragaman hayati dan memperkuat ekosistem.”

Isinya, pertama, meningkatkan pelindungan dan pengembangan cagar budaya untuk membentuk tata ruang yang berkeadilan dan ramah terhadap lingkungan hidup. Kedua, melindungi dan mengembangkan nilai-nilai budaya bahari dan local genius agar dapat dimanfaatkan dalam pembangunan nasional.

Ketiga, meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang pengetahuan tradisional yang relevan dengan antisipasi bencana.

Rumah-rumah panggung yang masih bertahan di tepi Sungai Musi, tepatnya di Kampung 14 Ulu, Palembang, Sumatera Selatan. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

Manusia unggul

Selama tiga hari, sejumlah pemikir dan budayawan dari sejumlah wilayah di Indonesia melakukan Mufakat Budaya Indonesia 2019, di Hotel Century Jakarta, 29-31 Oktober 2019.

Salah satu isu yang dibahas adalah mengenai manusia unggul, respon dari pernyataan Presiden Joko Widodo [Jokowi] tentang pembangunan manusia unggul Indonesia ke depan.

Dikritisi, jika perwujudan manusia unggul hanya berdasarkan kepemilikan atau penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak sesuai dengan karakter manusia unggul bangsa Indonesia. “Manusia unggul Indonesia adalah yang memiliki manfaat bagi sesame, bukan yang mengalahkan. Artinya, bukan hanya terkait ilmu pengetahuan dan teknologi, juga mental dan moral.”

Jadi, melahirkan manusia unggul di Indonesia bukan hanya melalui “sekolah”, juga menghidupkan kembali sistem peradatan. Antara lain dengan melakukan transmisi pengetahuan lokal, termasuk terkait alam atau lingkungan hidup.

Dua anak terlihat menjaring ikan di Sungai Belido, Kabupaten Muara Enin, Sumatera Selatan. Foto: Ikral /Mongabay Indonesia

Minimnya manusia unggul Indonesia saat ini, penyebab atau kondisi aktualnya karena masyarakat secara sistematis direndahkan kemanusiaannya. Sebagian besar manusia Indonesia double standard, friksi mental yang menyebabkan skizofrenia mental-kultural, serta perubahan bentang alam mengubah kenyataan budaya setempat.

“Mufakat ini melahirkan rekomendasi terkait manusia unggul tersebut,” kata Radhar Panca Dahana, budayawan yang menjadi penggagas dan penyelenggara Mufakat Budaya Indonesia 2019.

Pertama, menghidupkan kembali sistem peradatan dalam mengelola kehidupan manusia, antara lain dengan melakukan transmisi pengetahuan lokal. Kedua, kebijakan dan anggaran secara khusus ditujukan dan dialokasikan pada penguatan kerja-kerja peradatan atau budaya lokal.

Ketiga, meningkatkan anggaran kebudayaan 20% dari 20 persen dana pendidikan nasional dalam APBN. Keempat, mengorientasikan Pancasila sebagai standar norma dan moral bagi manusia dan kehidupan yang berorientasi pada perilaku luhur dan memiliki manfaat pada masyarakat.

Kelima, keunggulan manusia Indonesia mesti ditunjukkan atau direpresentasikan dalam pemilihan dan keteladanan para pemimpinnya. Sumber: https://www.mongabay.co.id/2019/11/07/kembalikan-tradisi-masyarakat-sriwijaya-untuk-lestarikan-alam/

Tinggalkan komentar

Kaleidoskop Bhumi Jawa


3 jam
 · Subhan Mustaghfirin‎ keNUHSANTARA HISTORICAL DISCOVERY3 jam

======= Kaleidoskop Bhumi Jawa =======
(Sejak Zaman Purba sampai Zaman Modern)

Diambil dari kompilasi babad, kidung, naskah, prasasti, wiki & buku sejarah.

10.000 SM – Kebudayaan Gunung Padang muncul di Cianjur.
9500 SM – Kebudayaan Goa Pawon muncul di Bandung.
7500 SM – Kebudayaan Pangguyangan muncul di Sukabumi.
4000 SM – Tahap kedua Kebudayaan Gunung Padang.
3000 SM – Kebudayaan Cibedug muncul di Lebak.
2000 SM – Tahap ketiga kebudayaan Gunung Padang.
1000 SM – Kebudayaan Cipari muncul di Kuningan.
800 SM – Kebudayaan Pasir Angin muncul di Bogor.
500 SM – Cipari ditinggalkan.

Keterangan foto tidak tersedia.


400 SM – Gunung Padang ditinggalkan. Kebudayaan Buni muncul di Bekasi. Pasir Angin kemungkinan berkembang menjadi peradaban kuno Caringin Kurung.
100 M – Buni berkembang menjadi peradaban Sagara Pasir. Peradaban Teluk Lada muncul di Pandeglang.
130 M – Dewawarman, seorang perantau dari Pallawa mendirikan kerajaan Salakanagara di Teluk Lada.
132 M – Berita Cina menyebutkan tentang keberadaan Salakanagara.
150 M – Ptolemeus dari Yunani menyebutkan negeri Argyre dalam salah satu peta dunianya, yang kemungkinan merujuk pada Salakanagara.
300 M – Serangkaian peradaban awal tumbuh di timur Salakanagara.
358 M – Jayasinghawarman dari Shalankayana mendirikan kerajaan Tarumanagara di Bekasi.
362 M – Salakanagara menjadi bawahan Tarumanagara.
363 M – Santanu dari Gangga mendirikan kerajaan Indraprahasta di Cirebon.

Keterangan foto tidak tersedia.


395 M – Purnawarman naik tahta menjadi raja Tarumanagara.
397 M – Ibukota Tarumanagara dipindahkan ke Sundapura.
399 M – Indraprahasta menjadi bawahan Tarumanagara.
417 M – Prasasti Tugu tentang penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi dan kekeringan pada musim kemarau.
434 M – Raja Purnawarman wafat. Wisnuwarman naik tahta menggantikan ayahnya.
437 M – Pemberontakan Cakrawarman.456 M – Aji Saka, diperkirakan seorang perantau dari negeri Indo-Skithia (kerajaan Saka), tiba di Rembang dan mendirikan peradaban kuno Medang Kamulan. Ini menandai dimulainya peradaban di Bumi Jawa.
528 M – Tarumanagara mengirimkan utusan pertamanya ke negeri Cina (Dinasti Sui).
535 M – Suryawarman menaiki tahta Tarumanagara. Ia meninggalkan Sundapura dan mendirikan ibukota baru di timur. Sundapura lalu berkembang menjadi kerajaan bawahan bernama Sunda Sembawa.
536 M – Manikmaya mendirikan kerajaan Kendan di Nagreg, tanah yang dihadiahkan oleh Maharaja Tarumanagara kepadanya.
612 M – Wretikandayun, keturunan Manikmaya mendirikan kerajaan Galuh.628 M – Linggawarman menaiki tahta Tarumanagara. Ia menikahkan kedua putrinya masing” kepada Tarusbawa (penguasa Sunda) dan Dapunta Hyang (penguasa Sriwijaya).
632 M – Kerajaan Kalingga muncul di Jawa Timur (Jeling) sebelum pundah ke Jepara, diperkirakan didirikan oleh seorang perantau bernama Bhanu dari Kalinga di India timur.
648 M – Kartikeyasinga menjadi raja Kalingga.
664 M – Seorang biksu Tang bernama Huining mengunjungi kerajaan Kalingga untuk menemui resi Jhanabhadra.
669 M – Tarumanagara runtuh dan terpecah menjadi dua, Sunda dan Galuh.671 M – Prabu Wiragati mendirikan kerajaan Saunggalah di Kuningan sebagai bawahan Galuh.
674 M – Maharani Shima naik tahta di Kerajaan Kalingga.
686 M – Sriwijaya menaklukkan pesisir Tatar Sunda. Tarusbawa mundur ke selatan dan memindahkan ibukota kerajaan ke pedalaman Pakuan Pajajaran (Bogor), sementara kota pelabuhan di Banten dan Jakarta diduduki oleh Sriwijaya.
695 M – Ratu Shima membagi kerajaannya menjadi dua: Kalingga Utara (Mataram) dan Kalingga Selatan (Sambara).
702 M – Mandiminyak menaiki tahta Galuh.
709 M – Sena (Bratasena) menaiki tahta Galuh.
716 M – Kudeta di Galuh. Purbasora menggulingkan raja Sena dari tahtanya. Sena lolos dan meminta perlindungan kepada Tarusbawa di Pakuan.
721 M – Sanjaya, putra Sena dan cucu Shima menyerbu Galuh untuk membalaskan dendam ayahnya. Indraprahasta menjadi daerah pertama yang ia taklukkan.
722 M – Sanjaya menaklukkan Saunggalah (Kuningan).
723 M – Sanjaya menyerbu istana Galuh, menewaskan Purbasora. Ia kemudian menobatkan dirinya menjadi raja Galuh. Pada tahun yang sama, Tarusbawa menikahkan putrinya dengan Sanjaya. Sanjaya otomatis menjadi penguasa Sunda dan Galuh sekaligus, menyatukan kedua negeri tersebut.
732 M – Ratu Shima wafat. Sanjaya mendirikan kerajaan Mataram (Medang i Bhumi Mataram). Ia menunjuk Tamperan sebagai penguasa Sunda-Galuh, dan Demunawan sebagai penguasa Saunggalah.
739 M – Galuh memerdekakan diri dari Sunda setelah petang saudara Manarah (Ciung Wanara) menjadi penguasa Galuh dengan gelar Prabu Jayaprakosa sementara putra Tamperan, Arya Bangah menjadi raja Sunda. Keduanya kemudian menjadi bawahan Sriwijaya.
752 M – Sriwijaya menaklukkan Kalingga.
759 M – Arya Bangah memerdekakan Sunda dari kekuasaan Galuh.
760 M – Panangkaran naik tahta menggantikan Sanjaya di Mataram. Gajayana mendirikan kerajaan Kanjuruhan di Jawa Timur.
770 M – Dinasti Sailendra berkuasa di Mataram.
775 M – Dharanindra menaiki tahta Mataram. Sailendra menjadi penguasa di Sriwijaya. Candi Borobudur mulai dibangun.
778 M – Pembangunan Candi Kalasan dan Candi Sari.
782 M – Prasasti Kelurak tentang sebuah bangunan suci (Candi Sewu) untuk arca Manjusri atas perintah Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadhananjaya yang terletak di Kompleks Percandian Prambanan.
787 M – Sailendra menyerang Champa di Vietnam Selatan dan Chenla di Kamboja
789 M – Gajayana wafat. Kanjuruhan bersatu dengan Mataram.
792 M – Samaratungga menaiki tahta Mataram. Kompleks percandian Candi Sewu selesai dibangun.
798 M – Prabu Jayaprakosa (Ciung Wanara) wafat.
802 M – Penguasa Kamboja Jayawarman II memerdekakan diri dari kekuasaan Wangsa Sailendra dan mendirikan kerajaan Khmer.
819 M – Rakyan Wuwus naik tahta di Sunda bergelar Prabu Gajah Kulon. Ia menyatukan kembali kerajaan Sunda dan Galuh dalam satu pemerintahan.
825 M – Candi Borobudur selesai dibangun.
847 M – Wangsa Sailendra terusir dari Jawa. Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya menaiki tahta Mataram. Candi Prambanan dibangun.
856 M – Balaputradewa, seorang pangeran Sailendra dari Jawa menjadi Maharaja Sriwijaya. Dyah Lokapala (Kayuwangi) menaiki tahta Mataram.880 M – Peristiwa Wuatan Tija yaitu Rakai Kayuwangi menganugerahi para pemuka desa Wuatan Tija karena telah berjasa menolong putranya yang bernama Dyah Bhumijaya yang diculik oleh Rakryan Landhayan (ayah Dyah Wawa). Para pemuka desa Wuatan Tija dan diantarkan kepada Maharaja Rakai Kayuwangi.
882 M – Gunung Merapi meletus.
899 M – Dyah Balitung menaiki tahta Mataram.
900 M – Mataram menjalin hubungan persahabatan dengan kerajaan-kerajaan Hindu di Filipina. Kebudayaan maju muncul di Blambangan.
905 M – Mataram pada zaman Dyah Balitung menaklukkan Bali.
924 M – Dyah Wawa naik tahta di Mataram.
927 M – Sriwijaya memulai invasi terhadap Mataram, Dyah Wawa terbunuh dan Mpu Sendok eksodus ke Jawa Timur.
929 M – Perang Sriwijaya-Mataram usai. Sisa prajurit Mataram pimpinan Mpu Sindok dibantu oleh rakyat Nganjuk berhasil mengalahkan pasukan Sriwijaya di desa Anjuk Ladang. Mpu Sindok mendirikan kerajaan Medang dan dinasti Isyana yang berpusat di Jawa Timur.
937 M – Prasasti Anjuk Ladang. Mpu Sindok mendirikan tugu di Nganjuk sebagai ungkapan kemenangan melawan pasukan Sriwijaya.
960 M – Gunung Merapi meletus.
985 M – Dharmawangsa Teguh menaiki tahta Medang.
986 M – Ketut Wijaya, seorang pangeran Mataram mendirikan kerajaan Wengker.
988 M – Medang menyerang kota Palembang di Sriwijaya.
990 M – Medang kembali menyerang Palembang dan berhasil mendudukinya.992 M – Pasukan Sriwijaya merebut kembali kota Palembang.
996 M – Epos Mahabharata diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa Kuno untuk pertama kalinya.
997 M – Prasasti Hujung Langit. Medang menduduki Lampung.
1016 M – Peristiwa Mahapralaya. Serangan Raja Wurawari dari negeri Lwaram (Ngloram) yang menewaskan Raja Dharmawangsa dan sebagian besar bangsawan Medang. Kerajaan Medang otomatis musnah.
1019 M – Airlangga mendirikan istana Watan Mas.
1025 M – Invasi Kerajaan Chola terhadap Sriwijaya. Airlangga mulai memperluas wilayah kekuasaan negerinya.
1028 M – Rajendra Chola menunjuk Sri Dewa sebagai raja baru Sriwijaya dibawah Dinasti Chola.
1030 M – Airlangga menaklukkan Hasin, Wuratan, dan Lewa. Sri Jayabupati menaiki tahta Sunda. Ia memerdekakan kerajaannya dari jajahan Sriwijaya.
1031 M – Airlangga menaklukkan Wengker. Lewa memberontak, namun berhasil ditumpas.
1032 M – Ratu Tulodong penguasa Lodoyong menyerang Airlangga dan menghancurkan istana Watan Mas. Airlangga berhasil lolos dan membangun ibukota baru di Kahuripan. Ia kemudian menundukkan Lwaram, membalaskan dendam Dharmawangsa.
1035 M – Mpu Kanwa menggubah naskah Arjunawiwaha. Pemberontakan raja Wengker.
1036 M – Airlangga membangun Asrama Sri Wijaya.
1037 M – Pemberontakan Wengker berhasil ditumpas. Airlangga berhasil menaklukkan seluruh Bumi Jawa.
1042 M – Airlangga memindahkan ibukota ke Dahanapura (Daha). Ia kemudian membagi Kahuripan masing-masing kepada kedua putranya: Samarawijaya di Panjalu dan Garasakan di Janggala. Airlangga kemudian pergi menyepi. Lodoyong menjadi negara yang merdeka kembali.
1044 M – Perang saudara antara Janggala dan Panjalu.
1049 M – Airlangga wafat dalam pertapaannya.
1052 M – Panjalu menjadi bawahan Janggala.
1066 M – Sriwijaya merdeka dari Chola.1088 M – Sriwijaya menjadi bawahan kerajaan Melayu Dharmasraya (Mauli).1100 M – Janggala menaklukkan Madura.
1104 M – Panjalu merdeka dari Janggala.1116 M – Lodoyong menjadi bawahan Panjalu.
1135 M – Sri Jayabaya naik tahta di Panjalu. Ia berhasil menaklukkan Janggala. Panjalu berganti nama menjadi Kediri.
1157 M – Kakimpoi Bharatayudha ditulis, sebagai kiasan kemenangan Kediri atas Janggala.
1159 M – Prabu Jayabaya wafat. Terjadi perebutan tahta antara kedua putranya. Janggala mengambil kesempatan ini untuk memerdekakan diri.
1175 M – Darmasiksa naik tahta di Sunda. Putranya, Jayadarma menikah dengan putri Mahesa Cempaka yang bernama Dewi Naramurti, adik Dyah Lembu Tal. Kelak keduanya memiliki putra bernama Wijaya, seorang tokoh besar dalam beberapa dekade ke depan.
1183 M – Dinasti Mauli berkuasa sepenuhnya di Sumatra, mengakhiri dominasi Sriwijaya.
1185 M – Janggala dan Kediri kembali bersatu, melalui jalur pernikahan.1190 M – Kertajaya naik tahta di Kediri.
1193 M – Pasukan Janggala menyerbu Kediri dan berhasil menduduki kota dan istana Daha. Kertajaya terpaksa mengungsi dari istananya.
1194 M – Kertajaya memimpin pasukan Kediri menggempur dan menaklukkan Janggala.
1205 M – Ken Arok menjadi penguasa Tumapel dan memerdekakan diri dari kekuasaan Kediri.
1221 M – Pertempuran Ganter. Prabu Kertajaya tewas di tangan Ken Arok.1222 M – Kediri menjadi bawahan Tumapel. Ken Arok menjadi penguasa tertinggi di Bumi Jawa.
1227 M – Ken Arok tewas diracun oleh Anusapati, yang kemudian menggantikannya sebagai raja Tumapel.1248 M – Wisnuwardhana menjadi raja Tumapel.
1250 M – Kediri disatukan kembali dengan Tumapel.
1252 M – Erupsi gunung Merapi.
1254 M – Tumapel berganti nama menjadi Singhasari.
1255 M – Prasasti Mula Malurung piagam pengesahan atas desa Mula dan Malurung sebagai anugerah untuk tokoh bernama Pranaraja. Prasasti ini diterbitkan Kertanagara tahun 1255 sebagai raja muda di Kadiri, atas perintah ayahnya, Wisnuwardhana raja Singhasari.
1257 M – Erupsi dahsyat gunung Samalas di pulau Lombok.
1258 M – Perubahan iklim akibat erupsi gunung Samalas. Sebagian besar Bumi mengalami musim dingin berkepanjangan. Gerhana Bulan total terjadi pada bulan Mei.
1263 M – Iklim Bumi kembali normal.
1268 M – Kertanegara menaiki tahta Singhasari.
1275 M – Singhasari memulai ekspedisi penaklukkan Tanah Melayu. Armada besar pimpinan Kebo Anabrang berangkat ke Sumatra.
1284 M – Pasukan Singhasari pimpinan Raden Wijaya menundukkan Bali.
1286 M – Penaklukkan Melayu selesai. Kertanegara menghadiahkan arca Amoghapasa kepada penguasa Dharmasraya.
1289 M – Dinasti Yuan mengirim utusan yang meminta agar Singhasari tunduk pada kekuasaan Mongol. Kertanegara dengan tegas menolak dan memotong telinga sang utusan.
1292 M – Pemberontakan Jayakatwang. Kertanegara tewas di tangan Jayakatwang (adipati Kediri). Raden Wijaya bersedia tunduk lalu mendirikan desa Majapahit sebagai bawahan Kediri. Di tahun yang sama, pasukan Mongol mendarat di pesisir utara Jawa Timur dan menduduki kota-kota pelabuhan dari Tuban hingga Ujung Galuh (Surabaya).
1293 M – Aliansi Mongol-Majapahit menghancurkan Kota Daha. Jayakatwang ditangkap dan menjadi tawanan Mongol. Wijaya kemudian mengusir pasukan Mongol saat mereka lengah dan mendirikan kerajaan Majapahit. Dalam perjalanan kembali ke Khanbaliq, pasukan Mongol membunuh Jayakatwang yang menjadi tawanan mereka.
1295 M – Ranggalawe, salah satu pendiri Majapahit yang menjabat sebagai adipati Tuban tewas dalam suatu konspirasi oleh Halayudha, seorang licik yang berambisi menjadi mahapatih Majapahit. Ia tewas di tangan Kebo Anabrang (mantan panglima ekspedisi Pamalayu), yang langsung dibunuh saat itu juga oleh Lembu Sora, paman Ranggalawe. Arya Wiraraja, penguasa Lumajang dan ayah Ranggalawe memerdekakan negerinya dari Majapahit.
1300 M – Lembu Sora tewas di tangan mahapatih Nambi setelah keduanya diadu domba oleh Halayudha.1309 M – Wijaya wafat. Sahabatnya, Nambi mengundurkan diri dari jabatan mahapatih Majapahit dan menjadi raja di Lumajang. Tahta diserahkan kepada Jayanagara, putra Raden Wijaya dengan Dara Petak, seorang putri Dharmasraya.
1313 M – Gajah Mada menjadi kepala pasukan khusus Bhayangkara.
1316 M – Nambi, salah satu pendiri Majapahit tewas akibat difitnah oleh Halayudha dan Jayanagara. Lumajang dianeksasi oleh Majapahit. Halayudha diangkat sebagai mahapatih baru.
1319 M – Pemberontakan Dharmaputra Winehsuka pimpinan Ra Kuti. Trowulan berhasil diduduki, namun berhasil direbut kembali oleh pasukan Bhayangkara pimpinan Gajah Mada yang kemudian menumpas para Dharmaputra. Jabatannya dinaikkan menjadi patih. Halayudha dihukum mati setelah segala fitnah yang ia perbuat di masa lalu terbongkar.
1321 M – Odorico da Pordenone dari Venesia mengunjungi Majapahit.
1325 M – Majapahit mengirim Adityawarman sebagai duta besar ke Khanbaliq untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Dinasti Yuan.
1328 M – Jayanagara dibunuh oleh Ra Tanca, anggota Dharmaputra terakhir yang masih hidup. Tanca kemudian langsung dibunuh oleh Gajah Mada saat itu juga. Tahta Majapahit diserahkan kepada Tribhuwanatunggadewi.
1329 M – Pemberontakan Keta.
1331 M – Pemberontakan Sadeng.
1332 M – Adityawarman kembali pergi ke Khanbaliq sebagai duta besar Majapahit.
1334 M – Hayam Wuruk lahir.
1336 M – Ratu Tribhuwana mengangkat Gajah Mada sebagai mahapatih, yang kemudian mengucapkan Sumpah Palapa.1337 M – Wang Dayuan, seorang pengelana Yuan-Mongol mengunjungi Majapahit dan melaporkan tentang adanya sisa-sisa pasukan Mongol yang menetap dan membentuk komunitas Muslim Hui di lembah Gelam, Sidoarjo.1339 M – Majapahit menaklukkan negeri-negeri di Sumatra dan Malaya. Adityawarman diangkat sebagai gubernur Sumatra.
1343 M – Gajah Mada dan Adityawarman memimpin pasukan Majapahit menaklukkan Bali dan Lombok.1350 M – Hayam Wuruk menaiki tahta Majapahit. Majapahit menguasai Bawean.
1357 M – Insiden Bubat. Raja Sunda tewas dalam suatu kesalahpahaman oleh Gajah Mada. Hayam Wuruk yang kecewa kemudian mencabut jabatan sang mahapatih lewat sidang Sapta Prabu dan mengasingkannya ke Madakaripura. Majapahit menaklukkan Sumbawa.
1359 M – Gajah Mada diangkat kembali sebagai mahapatih, namun memerintah dari Madakaripura. Hayam Wuruk mengunjungi Malang.
1364 M – Gajah Mada wafat.
1365 M – Puncak kejayaan Majapahit di bawah pimpinan Prabu Hayam Wuruk. Kakimpoi Nagarakretagama selesai ditulis oleh Mpu Prapanca, yang menuliskan daftar wilayah kekuasaan Majapahit serta negara-negara sahabatnya.
1371 M – Prabu Niskala Wastukancana naik tahta di Sunda.
1376 M – Wijayarajasa mendirikan keraton Majapahit Timur (Blambangan), namun masih sebagai bawahan Majapahit pusat. Adityawarman wafat.1377 M – Pemberontakan negeri-negeri di Sumatra: Pagaruyung, Palembang, dan Dharmasraya. Berhasil ditumpas oleh Majapahit, namun berakibat lepasnya Pagaruyung.
1382 M – Prabu Niskala Wastukancana membagi Tatar Sunda kepada kedua putranya. Sunda pun kembali terpecah menjadi Sunda dan Galuh.
1389 M – Hayam Wuruk wafat. Wikramawardhana naik tahta menggantikannya.
1398 M – Majapahit menaklukkan Tumasik.
1404 M – Perang Paregreg, perang sipil Majapahit dimulai. Wirabhumi memerdekakan Majapahit Timur dari keraton Majapahit Barat pimpinan Wikramawardhana. Sunan Gresik memprakarsai pendirian Walisongo, sebuah majelis dakwah Islam.
1405 M – Ekspedisi laut Dinasti Ming pimpinan Laksamana Cheng Ho mengunjungi kedua keraton Majapahit.1406 M – Keraton Majapahit Timur diserbu dan diduduki. Seluruh penghuni keraton termasuk sejumlah besar utusan Tionghoa anggota ekspedisi Dinasti Ming tewas dalam serangan itu. Wirabhumi sendiri berhasil lolos namun kemudian dikejar dan dibunuh oleh Raden Gajah.
1408 M – Armada Cheng Ho kembali mengunjungi Majapahit, kali ini untuk menagih hutang atas terbunuhnya utusan Ming saat Perang Paregreg.
1419 M – Sunan Gresik wafat.
1427 M – Wikramawardhana wafat. Suhita naik tahta sebagai ratu Majapahit.
1430 M – Pangeran Walangsungsang alias Cakrabuana, putra sulung Siliwangi mendirikan kesultanan Cirebon sebagai bawahan Galuh.
1442 M – Raden Paku alias Sunan Giri lahir.
1448 M – Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati lahir.
1450 M – Raden Said alias Sunan Kalijaga lahir.
1475 M – Raden Patah mendirikan kesultanan Demak sebagai bawahan Majapahit.
1477 M – Semarang menjadi bawahan Demak.
1478 M – Kudeta di Trowulan. Prabu Suraprabhawa tewas terbunuh dalam serangan yang dilancarkan oleh Girindrawardhana dan ketiga saudaranya.
1479 M – Sunan Gunung Jati menggantikan kedudukan Cakrabuana sebagai penguasa Cirebon.
1482 M – Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi naik tahta di Sunda. Ia kembali menyatukan Sunda dan Galuh ke dalam satu pemerintahan, serta merebut Lampung dari Majapahit. Kerajaan Sunda kemudian berganti nama menjadi Pajajaran. Di tahun yang sama, Sunan Gunung Jati memproklamasikan kemerdekaan Cirebon dari Pajajaran.1487 M – Sunan Giri mendirikan pesantren Giri Kedaton di Gresik, yang berkembang menjadi pusat pendidikan Islam dan negara-kota pelabuhan yang kaya.
1506 M – Sunan Giri wafat.
1511 M – Demak melancarkan ekspansi ke wilayah sekitarnya. Sedayu, Tegal, dan Kudus berturut-turut jatuh ke dalam kekuasaannya. Di Malaya, Portugis menguasai Malaka. Kesultanan Malaka runtuh dan Portugis resmi menjadi pengendali Selat Malaka.
1512 M – Di Sumatra, Portugis menguasai Pasai.
1513 M – Tome Pires, seorang pengelana Portugis mengunjungi pulau Jawa dan mencatatkan perjalanannya tersebut di dalam bukunya, Suma Oriental. Panglima Demak, Pati Unus mengirim ekspedisi militer ke Malaka, namun menemui kegagalan. Majapahit beraliansi dengan Klungkung dari Bali untuk menyerbu Demak, namun dapat dipukul mundur.
1515 M – Cirebon menjadi bawahan Demak.
1517 M – Majapahit menjalin hubungan diplomatik dengan Portugis.
1518 M – Raden Patah wafat. Pati Unus naik tahta sebagai sultan Demak menggantikannya. Ia kemudian memimpin penaklukkan Demak atas Jepara.
1521 M – Demak kembali menyerbu Malaka, namun kembali menemui kegagalan dan Pati Unus gugur. Trenggana naik tahta sebagai Sultan Demak menggantikan kakaknya. Pada tahun yang sama, Prabu Siliwangi mengirim utusan ke Malaka Portugis lewat putranya Surawisesa untuk menjalin hubungan persahabatan. Tak lama kemudian, sang Prabu wafat. Tahta Pajajaran diserahkan kepada Surawisesa.
1522 M – Perjanjian Sunda Kalapa antara Pajajaran-Portugis. Surawisesa memperbolehkan Portugis membangun benteng di Sunda Kalapa dengan jaminan kerajaannya diberi bantuan militer. Sunan Drajat wafat.
1525 M – Sunan Bonang wafat.
1526 M – Kesultanan Cirebon dan Demak beraliansi untuk menggempur kerajaan Pajajaran. Sunan Gunung Jati mendirikan kesultanan Banten sebagai bawahan Cirebon.
1527 M – Demak menyerbu kota Tuban dan Daha, pertahanan terakhir kerajaan Majapahit pimpinan Girindrawardhana. Sang Prabu berhasil meloloskan diri ke Panarukan dan menjadi raja Blambangan. Demak juga menyerbu dan menduduki pesisir utara Pajajaran, termasuk Sunda Kalapa yang kemudian diganti namanya menjadi Jayakarta oleh Fatahillah, panglima militer Demak. Ratna Kencana, putri Sultan Trenggana mendirikan kerajaan Kalinyamat sebagai bawahan Demak.
1528 M – Perang Palimanan antara Cirebon dengan Galuh, kerajaan bawahan Pajajaran. Rajagaluh dianeksasi oleh Cirebon. Demak menundukkan Wirosari dan Wirasaba. Blambangan pimpinan Girindrawardhana mengirimkan utusan (Patih Udhara) ke Malaka Portugis.1529 M – Pangeran Cakrabuana (Cirebon) wafat. Demak menundukkan kadipaten Purbaya dan Gegelang di Madiun.
1530 M – Demak menundukkan Medangkungan di Blora dan Jogorogo di Ngawi. Perang Palimanan berakhir dengan kekalahan Galuh dan dianeksasinya wilayah itu ke dalam kekuasaan Cirebon.
1531 M – Demak menundukkan Surabaya. Perjanjian damai antara Pajajaran dengan aliansi Cirebon-Demak.
1533 M – Prasasti Batutulis pada masa Raja Surawisesa untuk memperingati jasa-jasa raja pendahulunya, Prabu Siliwangi atau Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja.
1535 M – Ratu Dewata menaiki tahta Pajajaran. Seorang raja yang menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk bertapa dan menyepi.
1536 M – Toyib (Pangeran Hadirin) seorang ulama Aceh tiba di Jepara untuk menyebarkan Islam. Ia kemudian menikah dengan Ratu Kalinyamat dan diberi gelar Sultan Hadlirin.
1541 M – Demak berturut-turut menundukkan Lamongan dan Blitar.
1543 M – Ratu Sakti naik tahta di Pajajaran menggantikan Ratu Dewata. Berbanding terbalik dengan ayahnya, Sakti adalah seorang raja yang lalim dan kejam.
1545 M – Sultan Trenggana menyerbu Blambangan dan berhasil merebut Pasuruan. Trenggana juga menaklukkan kerajaan Sengguruh di Malang.
1546 M – Trenggana wafat dalam pertempuran melawan Blambangan di Panarukan. Sunan Prawoto naik tahta sebagai sultan Demak menggantikannya. Kalinyamat melepaskan diri dari Demak setelah Sultan Hadirin tewas terbunuh dalam suatu konspirasi oleh Prawoto dan Arya Penangsang. Ratna Kencana kembali menjadi Ratu Kalinyamat.
1548 M – Sunan Prapen ditunjuk menjadi pemimpin Giri Kedaton.
1549 M – Prawoto tewas di tangan Arya Penangsang, yang kemudian menggantikannya sebagai sultan Demak. Jaka Tingkir mendirikan Pajang dan bergelar Hadiwijaya. Sunan Kudus mendirikan Masjid Menara Kudus.1550 M – Sunan Kudus wafat. Ratu Kalinyamat bekerjasama dengan kesultanan Johor menggempur Malaka Portugis. Meski sempat menduduki sebagian besar kota Malaka, namun aliansi Johor-Kalinyamat ini akhirnya dapat dipukul mundur oleh pasukan Portugis.
1552 M – Sunan Gunung Jati mengangkat putranya, Maulana Hasanuddin menjadi sultan Banten. Banten pun merdeka dari Cirebon, lalu menundukkan Lampung.
1554 M – Arya Penangsang tewas di tangan Sutawijaya, putra Ki Ageng Pemanahan yang memimpin pasukan pemberontak suruhan Hadiwijaya dari Pajang. Kesultanan Demak pun resmi runtuh. Pajang muncul sebagai penguasa baru di Jawa. Demak, Jepara, dan Jipang menjadi bawahan Pajang.
1556 M – Hadiwijaya menghadiahkan tanah Mataram kepada Ki Ageng Pemanahan atas jasanya mengalahkan Arya Penangsang. Sunan Kalijaga wafat.1560 M – Portugis mendirikan pos dagang di Panarukan.
1567 M – Prabu Suryakancana naik tahta sebagai raja terakhir Pajajaran.1568 M – Sunan Prapen mengadakan pertemuan antara Hadiwijaya dengan para penguasa di Jawa Timur pimpinan Panji Wiryakrama dari Surabaya. Seluruh Jawa Timur kecuali Blambangan dan Madura pun resmi bersatu dengan Pajang. Sunan Gunung Jati wafat. Fatahillah diangkat sebagai sultan Cirebon menggantikannya.
1570 M – Fatahillah wafat. Maulana Hasanuddin wafat. Maulana Yusuf diangkat menjadi Sultan Banten menggantikan ayahnya.
1574 M – Ratu Kalinyamat kembali mengirim armada perang untuk menyerbu Malaka Portugis. Kali ini bekerjasama dengan Aceh. Meski sempat membuat Portugis kewalahan, serangan ini juga gagal merebut Malaka.1575 M – Ki Ageng Pemanahan wafat. Sutawijaya menggantikan ayahnya sebagai penguasa Mataram.
1576 M – Kesultanan Banten melancarkan agresi besar-besaran terhadap Pajajaran. Kota Pakuan dikuasai oleh pasukan Banten. Prabu Suryakancana dan keluarganya meloloskan diri ke pedalaman Pandeglang.
1579 M – Kerajaan Pajajaran runtuh setelah Pandeglang dikuasai sepenuhnya oleh kesultanan Banten. Prabu Suryakancana wafat dalam pertempuran. Banten pun menjadi penguasa tertinggi di Tatar Sunda. Prabu Geusan Ulun naik tahta di kerajaan Sumedang Larang dan memerdekakannya dari Cirebon. Ratu Kalinyamat wafat. Pangeran Arya Jepara, keponakan sang ratu sekaligus putra sultan Banten, diangkat sebagai penguasa Kalinyamat. Ia berhasil menanamkan kekuasaaan di pulau Bawean.
1582 M – Sultan Hadiwijaya wafat. Daerah-daerah bawahan di Jawa Timur pimpinan Surabaya melepaskan diri dari kekuasaan Pajang.
1583 M – Arya Pangiri naik tahta sebagai sultan Pajang setelah menyingkirkan Pangeran Benawa.
1586 M – Benawa bersekutu dengan Sutawijaya untuk menggempur Pajang. Arya Pangiri dilengserkan dan Benawa menjadi sultan Pajang. Sutawijaya kemudian menyerbu Madiun untuk menundukkan Purbaya.
1587 M – Erupsi gunung Merapi.
1588 M – Sutawijaya memerdekakan Mataram dari Pajang. Ia menjadi penguasa bergelar Panembahan Senopati. Benawa wafat. Pajang pun bersatu dengan Mataram. Senopati kemudian menyerbu Surabaya yang tak ingin tunduk, sebelum didamaikan oleh Sunan Prapen.
1590 M – Perang Mataram-Purbaya berakhir dengan takluknya Purbaya. Mataram juga menaklukkan Madiun, kemudian menyerbu Jepara namun berhasil dipukul mundur oleh pasukan Kalinyamat.
1591 M – Perebutan tahta di Kediri.
1596 M – Bangsa Belanda untuk pertama kalinya tiba di Jawa. Mereka mendarat di Banten, namun masih sebatas berdagang. Benteng Kuta Raja Cirebon dibangun sebagai simbol persahabatan antara Cirebon dengan Mataram.
1599 M – Peristiwa Bedhahe Kalinyamat. Mataram melancarkan invasi besar-besaran terhadap Jepara dan berhasil menguasainya. Kerajaan Kalinyamat pun runtuh.
1600 M – Pemberontakan Pati pimpinan Adipati Pragola. Berhasil ditumpas oleh putra mahkota Mataram, Raden Mas Jolang.
1601 M – Panembahan Senopati wafat. Raden Mas Jolang naik tahta di Mataram menggantikan ayahnya dan bergelar Panembahan Hanyakrawati. Selat Muria diperkirakan lenyap akibat pendangkalan berkepanjangan. Pulau Muria pun bersatu dengan Jawa.
1602 M – Pemberontakan Demak pimpinan Pangeran Puger. Perang sipil Mataram-Demak dimulai. Belanda resmi membentuk VOC, sebuah kongsi dagang internasional. VOC kemudian mendirikan pos dagang pertamanya di Gresik dan Jaratan.
1603 M – VOC mendirikan pos dagang di Banten.
1605 M – Pangeran Puger ditangkap dan dibuang ke Kudus. Demak kembali menjadi bagian dari Mataram.
1607 M – Pemberontakan Ponorogo pimpinan Jayaraga, adik Hanyakrawati. Berhasil dipadamkan dan Jayaraga dibuang ke Nusakambangan.
1610 M – Mataram menyerbu Surabaya, namun mengalami kegagalan.
1611 M – VOC mendirikan pos dagang di Jayakarta.
1613 M – Mataram kembali menyerbu Surabaya, namun kembali gagal. Pos-pos VOC di Gresik dan Jaratan ikut terbakar. Sebagai permintaan maaf, Sultan Hanyakrawati mengizinkan VOC mendirikan pos dagang baru di Jepara. Hanyakrawati kemudian wafat dalam kecelakaan saat berburu kijang di hutan Krapyak. Raden Mas Rangsang naik tahta dan bergelar Panembahan Hanyakrakusuma.
1614 M – Mataram menaklukkan Malang dan Lumajang. VOC mengirim duta besar pertamanya ke Mataram untuk menjalin kerja sama namun ditolak oleh Hanyakrakusuma.
1615 M – Patih Mataram, Ki Juru Martani wafat. Kedudukannya digantikan oleh Tumenggung Singaranu. Mataram menaklukkan Wirasaba. Surabaya membalas dengan mengirim pasukan ke Wirasaba.
1616 M – Pasukan Mataram mengalahkan pasukan Surabaya di desa Siwalan. Mataram kemudian lanjut menaklukkan Lasem.
1617 M – Pemberontakan Pajang pimpinan Ki Tambakbaya. Berhasil dipadamkan dan Tambakbaya melarikan diri ke Surabaya. Mataram menaklukkan Pasuruan. Cirebon menjadi bawahan Mataram.
1618 M – Mataram menaklukkan Galuh.1619 M – VOC menaklukkan kota Jayakarta dan mengganti namanya menjadi Batavia. Markas VOC yang semula di Ambon pun dipindah ke Batavia. Jan Pieterszoon Coen ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal VOC. Pendudukan Belanda di pulau Jawa pun dimulai. Mataram menaklukkan Tuban.1620 M – Invasi Mataram ke Surabaya dimulai. Pasukan Mataram membendung Sungai Mas untuk menghentikan suplai air. Mataram juga menggempur dan menaklukkan kerajaan Sumedang Larang.
1621 M – Mataram mulai menjalin hubungan diplomatik dengan VOC.
1622 M – Mataram menaklukkan kerajaan Sukadana di Kalimantan Barat.1624 M – Mataram menaklukkan Madura. Hanyakrakusuma mendapatkan gelar baru, Sultan Agung.
1625 M – Surabaya dilanda bencana kelaparan akibat suplai pangan terputus oleh invasi Mataram. Jayalengkara akhirnya menyerah dan bersedia menjadikan Surabaya sebagai bagian dari Mataram.
1627 M – Pemberontakan Pati pimpinan Adipati Pragola, sepupu Sultan Agung. Berhasil ditumpas.
1628 M – Invasi Mataram ke Batavia dimulai. Pasukan Mataram berhasil menduduki sebuah benteng VOC, namun kemudian terpukul mundur akibat kekurangan perbekalan.
1629 M – Mataram kembali menyerbu Batavia, namun kembali mengalami kekalahan. Walaupun begitu, pasukan Mataram berhasil membendung dan mengotori Sungai Ciliwung yang mengakibatkan wabah kolera melanda Batavia. Gubernur Jenderal VOC pertama, JP Coen tewas menjadi korban wabah tersebut.
1630 M – Sultan Agung mengirim utusan ke Gresik agar Giri Kedaton bersedia menjadi bawahan Mataram, namun ditolak oleh Sunan Kawis Guwa, penguasanya saat itu. Akibatnya, Mataram menyerbu Giri Kedaton. Pertempuran besar terjadi hingga enam tahun berikutnya.
1631 M – Pemberontakan Sumedang.1632 M – Cirebon yang setia pada Mataram berhasil memadamkan pemberontakan Sumedang.
1633 M – Mataram menyerang Blambangan. Sultan Agung menciptakan Tahun Jawa dan memberlakukannya pada negerinya.
1636 M – Perang Mataram-Giri Kedaton berakhir. Giri Kedaton takluk dan dianeksasi oleh Mataram. Di tahun yang sama, Mataram menundukkan kesultanan Palembang di Sumatra Selatan. Mataram akhirnya juga dapat menaklukkan Blambangan setelah berperang 3 tahun lamanya.
1641 M – Sultan Agung menggubah Serat Nitipraja.
1645 M – Sultan Agung wafat. Sebelumnya, ia memerintahkan pembangunan Imogiri sebagai pusat pemakaman keluarga bangsawan kesultanan Mataram. Raden Mas Sayidin naik tahta menggantikan ayahnya dan bergelar Sultan Amangkurat I.
1646 M – Mataram kembali menjalin hubungan dengan VOC.
1647 M – Ibukota Mataram dipindah ke Plered.1649 M – Sultan Cirebon, Panembahan Girilaya diundang oleh Amangkurat I untuk mengunjungi Mataram. Sesampainya di sana, ia dan kedua putranya justru dilarang kembali ke Cirebon dan dipaksa untuk tinggal di Mataram. Pangeran Wangsakerta diangkat sebagai wali sultan karena ayahnya tak kunjung kembali.
1651 M – Sultan Ageng Tirtayasa naik tahta di Banten.
1652 M – Mataram menyerahkan wilayah Bekasi kepada VOC. Prabu Tawang Alun naik tahta Blambangan di Macan Putih.
1659 M – VOC menduduki Palembang. Kekuasaan Mataram di Sumatra pun lenyap. Blambangan bekerja sama dengan Bali untuk melepaskan diri dari Mataram. Pertempuran terjadi dan berakhir dengan dikuasainya ibukota Blambangan oleh pasukan Mataram. Sang Prabu Tawang Alun dan pengikutnya mundur ke Bali.
1661 M – Putra mahkota Mataram, Raden Mas Rahmat melancarkan aksi kudeta setelah terlibat perselisihan dengan sang ayah, namun mengalami kegagalan.
1674 M – Trunojoyo, seorang bangsawan Madura memerdekakan wilayah tersebut dari kekuasaan Mataram.
1676 M – Laskar Madura pimpinan Trunojoyo berturut-turut menduduki Lasem, Rembang, Demak, Semarang, dan Pekalongan. Prabu Tawang Alun memerdekakan Blambangan dari jajahan Mataram.
1677 M – Trunojoyo berturut-turut menduduki Tegal, Cirebon, dan Banyumas, hingga akhirnya berhasil menguasai dan menjarah ibukota Mataram. Amangkurat pun terpaksa meninggalkan keraton dan kemudian wafat dalam pelariannya di Tegalwangi. Mas Rahmat naik tahta sebagai sultan Mataram bergelar Amangkurat II. Ia mengadakan perjanjian dengan VOC di Jepara untuk mengalahkan Trunojoyo. Pangeran Wangsakerta mengadakan seminar sejarah Gotrasawala di Cirebon dengan para sejarawan dari beberapa negara di Nusantara saat itu. Cirebon kehilangan wilayah Rangkas Sumedang (Karawang-Purwakarta-Subang) yang direbut oleh Belanda.
1679 M – Pemberontakan Trunojoyo berhasil ditumpas oleh pasukan aliansi VOC-Mataram yang dibantu oleh armada Bugis pimpinan Arung Palakka. Ibukota Mataram berhasil direbut kembali. Namun sebagai imbalannya, Mataram harus menyerahkan pesisir utara Jawa kepada VOC. VOC pun mulai terlibat dalam suksesi pemerintahan di Mataram dan juga Madura. Sultan Ageng Tirtayasa membagi Cirebon menjadi dua untuk menghindari perpecahan keluarga, yaitu keraton Kasepuhan dan keraton Kanoman.
1680 M – Puncak kejayaan kesultanan Banten di bawah pimpinan Sultan Ageng Tirtayasa. Trunojoyo dihukum mati oleh Amangkurat II. VOC menyerbu dan menghancurkan Giri Kedaton, sekutu terakhir yang loyal terhadap Trunojoyo. Ibukota Mataram dipindah ke Kartasura.
1681 M – Cornelis Speelman ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal VOC. VOC mengadakan perjanjian monopoli dagang dengan Cirebon.
1682 M – Kapitan Francois Tack memimpin pasukan VOC melancarkan ekspedisi pelayaran ke Banten. VOC berhasil merebut dan memonopoli perdagangan lada di Banten dan mengusir bangsa Eropa lain yang telah lama berdagang di sana.
1683 M – Pasukan VOC menyerbu Banten dan berhasil menduduki istana Surosowan. Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap. Banten kemudian menjadi bawahan VOC.
1684 M – Speelman wafat di Batavia.1686 M – Kapitan Francois Tack tewas di tangan Untung Surapati, seorang buronan VOC setelah berduel dengannya di Kartasura. Amangkurat II kemudian merestui Surapati untuk merebut Pasuruan. Setelah berhasil, ia pun diangkat menjadi bupati Pasuruan bergelar Tumenggung Wiranegara.
1691 M – Prabu Tawang Alun wafat. VOC melaporkan pemandangan mencengangkan saat prosesi pembakaran jenazah sang Prabu, di mana sebanyak 271 dari total 400 istri Tawang Alun ikut membakar diri ke dalam kobaran api.
1697 M – Kerajaan Buleleng dari Bali menyerang dan berhasil menaklukkan Blambangan.
1698 M – Pangeran Wangsakerta dan para sejarawan di seminar Gotrasawala merampungkan penyusunan naskah Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara dan beberapa karya sejarah lainnya.
1703 M – Amangkurat II wafat. Perebutan tahta antara Amangkurat III dengan Pangeran Puger.
1704 M – Perang Tahta Mataram Pertama dimulai. VOC mengangkat Pangeran Puger sebagai Sultan Mataram bergelar Pakubuwono I, sementara Amangkurat III diusir.
1705 M – Bersama Surapati, Amangkurat III mendirikan pemerintahan pengasingan di Pasuruan. VOC merebut Priangan Timur dan Cirebon.
1706 M – Pasuruan diserbu oleh VOC dan sekutunya. Surapati tewas setelah bentengnya diduduki oleh VOC. Amangkurat III melarikan diri.
1708 M – Amangkurat III ditangkap dan dibuang ke Sri Lanka oleh VOC.
1719 M – Perang Tahta Mataram Kedua dimulai. Pakubuwono I wafat dan digantikan oleh Amangkurat IV.
1740 M – Peristiwa Geger Pecinan. Tentara VOC melancarkan genosida terhadap etnis Tionghoa di Batavia. Tak kurang dari 10.000 orang yang tewas dalam pembantaian massal ini. Sisanya melarikan diri ke timur menyusuri pesisir utara Jawa. Dalam perjalanan, mereka menyerang sebuah pos VOC di Tangerang.
1741 M – Pelarian Tionghoa dari Batavia bekerja sama dengan prajurit Mataram menyerang dan menduduki pos-pos VOC berturut-turut di Lasem, Rembang, Juwana, Jepara, dan Semarang.
1743 M – VOC menduduki pulau Bawean.
1746 M – Mataram mengadakan perjanjian dengan VOC, hasilnya Pakubuwono II bersedia menyerahkan kembali Madura dan pesisir utara Jawa yang sebelumnya dikuasai aliansi Mataram-Tionghoa kepada VOC. Pangeran Mangkubumi melancarkan pemberontakan menuntut tahta Mataram. Perang Tahta Mataram Ketiga dimulai.
1749 M – VOC melantik Raden Mas Suryadi sebagai sultan Mataram bergelar Pakubuwono III. Patih Mataram, Raden Mas Said memberontak, ikut menuntut tahta Mataram.
1750 M – Raden Panji Margono bekerjasama dengan laskar Tionghoa dan laskar santri melancarkan pemberontakan terhadap VOC di Lasem. Dapat dipadamkan oleh VOC.
1754 M – Gubernur VOC atas wilayah Jawa Utara Hartingh mengadakan pertemuan tertutup dengan Pangeran Mangkubumi mengenai pembagian Mataram.
1755 M – Perjanjian Giyanti, mengakhiri Perang Tahta Mataram. Mataram secara resmi dibagi menjadi dua pemerintahan: Yogyakarta dan Surakarta. Mangkubumi diangkat sebagai penguasa Yogyakarta bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I, sementara Pakubuwono III menjadi penguasa Surakarta. Kedua negeri pecahan ini pun menjadi bawahan VOC.1757 M – Perjanjian Salatiga. Raden Mas Said yang terdesak akhirnya menyerahkan diri. Ia kemudian diangkat sebagai penguasa di Mangkunegaran bergelar Mangkunegara I.
1767 M – VOC menyerbu Blambangan dan berhasil menduduki ibukotanya.
1771 M – Perang Puputan Bayu. Rakyat, prajurit, dan bangsawan Blambangan melakukan bela pati mempertahankan tanah air mereka dari rongrongan VOC. Diperkirakan lebih dari separuh populasi Blambangan musnah dalam pertempuran ini.
1772 M – Blambangan sepenuhnya ditaklukkan oleh VOC.
1788 M – Pakubuwono III wafat dan digantikan putranya yang bergelar Pakubuwono IV.
1800 M – VOC secara resmi dibubarkan. Belanda dikuasai oleh Kekaisaran Prancis pimpinan Napoleon Bonaparte. Koloni-koloni Belanda di luar Eropa pun secara tidak langsung jatuh ke tangan Prancis.
1806 M – Kekaisaran Inggris menyerbu Hindia Belanda. Pertempuran besar terjadi di Laut Jawa antara armada Inggris melawan koalisi Belanda-Prancis.1807 M – Pemerintah Belanda dibawah Prancis mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
1808 M – Daendels tiba di Hindia Belanda. Ia mendirikan pemerintahan langsung di Lampung, kemudian memulai pembangunan Jalan Raya Pos Jawa dari Anyer-Panarukan, yang kini menjadi Jalur Pantura. Keputusan ditentang oleh Sultan Banten. Akibatnya, Daendels menyerbu Banten dan menghancurkan istana Surosowan. Sang Sultan kemudian diasingkan. Kesultanan Kacirebonan dibentuk sebagai pecahan dari Kanoman.1809 M – Kesultanan Kasepuhan dan Kanoman (termasuk Kacirebonan) menjadi bawahan Belanda.
1810 M – Pemberontakan para bangsawan Yogyakarta pimpinan Raden Rangga melawan Belanda. Daendels bersama ribuan prajurit berangkat ke Yogyakarta, memaksa Hamengkubuwono II untuk mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaannya kepada Raden Mas Surojo, yang bergelar Hamengkubuwono III. Daendels mengibarkan bendera Prancis di Batavia.
1811 M – Daendels ditarik kembali ke Eropa untuk membantu Napoleon dalam ekspedisinya ke Moskow. Jan Willem Janssens diangkat sebagai Gubernur Jenderal yang baru. Inggris menyerbu Jawa dan berhasil menduduki Batavia. Janssens menyerah dan menandatangani Kapitulasi Tuntang di Salatiga dimana ia bersedia menyerahkan seluruh jajahan Hindia Belanda kepada Inggris. Thomas Stamford Raffles menjadi Gubernur Jenderal di Jawa. Pendudukan Inggris di Jawa pun resmi dimulai. Hamengkubuwono II kembali merebut gelarnya sebagai Sultan di Yogyakarta.1812 M – Peristiwa Geger Spehi. Bekerjasama dengan Mangkunegaran, Raffles memimpin pasukan Inggris menyerbu dan menduduki keraton Yogyakarta. Hamengkubuwono II dilengserkan dan diasingkan ke Padang. Tahta Yogyakarta kembali diserahkan kepada Hamengkubuwono III. Natakusuma mendirikan Dinasti Pakualam.
1813 M – Kesultanan Banten dihapuskan oleh Raffles. Ia kemudian mendirikan pemerintahan langsung di sana.
1814 M – Ekspedisi Inggris melaporkan penemuan Candi Borobudur, Prambanan, dan reruntuhan kota Trowulan ke Eropa untuk pertama kalinya. Hamengkubuwono IV naik tahta menjadi Sultan Yogyakarta di usia 13 tahun. Pangeran Diponegoro ditunjuk sebagai wali sang Sultan yang tak lain adalah adiknya sendiri.
1815 M – Erupsi dahsyat Gunung Tambora di Sumbawa. Perang Napoleon berakhir. Inggris bersedia mengembalikan Hindia Belanda kepada pemerintah Belanda sebagai bagian dari persetujuan yang mengakhiri Perang Napoleon. Raffles menghapuskan kesultanan Kasepuhan dan Kanoman (termasuk Kacirebonan).
1816 M – Perubahan iklim akibat erupsi gunung Tambora. Sebagian besar Bumi mengalami musim dingin berkepanjangan. Penyerahan kekuasaan dari Inggris kepada Belanda. Belanda secara resmi kembali menjadi penguasa di Hindia Belanda. Raffles meninggalkan Jawa dan pindah ke Bengkulu.
1817 M – Raffles menyelesaikan penulisan buku ‘History of Java’, yang berisi tentang rangkuman penelitian kesejarahannya tentang Jawa.
1818 M – Belanda mengakhiri perdagangan budak di Jawa.
1824 M – Traktat London, pembagian wilayah kolonialisme antara Belanda dan Inggris di Nusantara.
1825 M – Pangeran Diponegoro dan pengikutnya di Kesultanan Yogyakarta menyatakan perang terhadap pemerintah Hindia Belanda.
1826 M – Perang gerilya merebak di seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur, sebagai akibat dari menyebarnya gerakan anti-Belanda yang dipelopori oleh Diponegoro. Du Bus diangkat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, menggantikan Van der Capellen. Belanda membebaskan Hamengkubuwono II dari pembuangan dan mengangkatnya kembali menjadi Sultan Yogyakarta. Pasukan Belanda memukul mundur Diponegoro dan pengikutnya di Gowok. Raffles wafat.1827 M – Puncak Perang Diponegoro.1828 M – Kyai Maja, seorang abdi setia dan penasihat pribadi Diponegoro, ditangkap oleh Belanda di akhir sebuah pertempuran.
1829 M – Pangeran Mangkubumi dan Senapati Sentot Alibasyah, pendukung dan pengawal setia Diponegoro, menyerahkan diri kepada Belanda.
1830 M – Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda setelah tertipu bujukan untuk mengadakan diplomasi di Magelang. Ia dibuang ke Manado, lalu ke Makassar. Perang Diponegoro pun berakhir. Diperkirakan separuh lebih populasi Yogyakarta lenyap akibat perang ini. Wilayah kekuasaan Yogyakarta dan Surakarta menjadi semakin sempit. Johannes van den Bosch diangkat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Ia mulai menerapkan sistem tanam paksa terhadap rakyat, lalu mendirikan KNIL sebagai kesatuan tentara resmi Hindia Belanda.
1846 M – Belanda menundukkan Buleleng di Bali, namun kembali lepas setelah pasukan KNIL mundur kembali ke Jawa.
1849 M – Belanda kembali menyerbu Bali, menghancurkan Buleleng serta menundukkan Jembrana dan Karangasem.
1855 M – Pangeran Diponegoro wafat dalam pembuangannya di Makassar.
1883 M – Erupsi dahsyat Gunung Krakatau di Selat Sunda.
1900 M – Belanda menundukkan Gianyar di Bali.
1901 M – Sukarno lahir.
1902 M – Mohammad Hatta lahir.
1905 M – Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam yang kelak berganti nama menjadi Sarekat Islam (SI).
1906 M – Belanda berturut-turut menundukkan Badung dan Tabanan di Bali.
1907 M – Belanda menundukkan Bangli di Bali.
1908 M – Era Kebangkitan Nasional dimulai dengan didirikannya organisasi Budi Utomo. Belanda menundukkan Klungkung di Bali. Seluruh pulau Bali pun sepenuhnya jatuh ke tangan Belanda.
1912 M – HOS Cokroaminoto menjadi pimpinan Sarekat Islam. Ia berhasil membujuk pemerintah Hindia Belanda untuk mengesahkan dan mengakui keberadaan SI.
1914 M – Perang Dunia I dimulai. Henk Sneevliet mendirikan ISDV yang kelak menjadi cikal bakal PKI.
1918 M – Perang Dunia I berakhir.
1921 M – Sarekat Islam terpecah menjadi dua, SI Putih berhaluan kanan dan SI Merah yang berhaluan kiri.
1926 M – Pemberontakan PKI di Banten, Batavia, dan Bandung. Berhasil dipadamkan oleh pasukan KNIL.
1928 M – Ikrar Sumpah Pemuda.
1939 M – Perang Dunia II dimulai.
1940 M – Pusat pemerintahan Belanda di Eropa jatuh ke tangan Jerman Nazi. Hindia Belanda mengumumkan keadaan siaga.
1941 M – Kekaisaran Jepang memulai penaklukkan Asia Timur Raya.
1942 M – Pasukan Jepang menyerbu dan menguasai seluruh Jawa dalam tempo yang singkat. Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Pulau Jawa pun resmi menjadi bagian dari Kekaisaran Jepang. Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo dan laskar Hizbullah memimpin gerakan Negara Islam di Tasikmalaya.
1943 M – Pemerintah Jepang membentuk PUTERA dan menunjuk Sukarno sebagai ketuanya. Jepang kemudian juga mendirikan PETA. Di antara anggotanya adalah Sudirman dan Suharto.
1944 M – Pasukan Sekutu menyerbu Surabaya.
1945 M – Sukarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, setelah serangkaian peristiwa besar yang mengakhiri pendudukan Jepang di Hindia Belanda. Pasukan Sekutu bersama Van Mook dan perwira NICA mendarat di Jakarta. Serangkaian perang besar berkobar di Semarang, Ambarawa, dan Surabaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
1946 M – Ibukota RI dipindah ke Yogyakarta setelah kondisi keamanan di Jakarta makin memburuk. Peristiwa Bandung Lautan Api. Konferensi Malino. Perjanjian Linggajati. Puputan Margarana. Belanda atas nama Gubernur Jenderal Van Mook mendirikan Negara Indonesia Timur lewat Konferensi Denpasar.
1947 M – Agresi militer Belanda I terhadap Jawa dan Sumatra. Suria Kartalegawa mendirikan negara Pasundan di bawah pengaruh Belanda.
1948 M – Pemberontakan PKI di Madiun pimpinan Musso. Berhasil ditumpas oleh TRI. Belanda mendirikan negara Madura dan negara Jawa Timur. Agresi militer Belanda II terhadap Jawa dan Sumatra. KNIL berhasil menduduki kota Yogyakarta dan menangkap para pemimpin RI.
1949 M – Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia dalam bentuk negara Serikat setelah konferensi di Den Haag, serta serangkaian serangan umum di Yogyakarta dan Surakarta. SM Kartosuwiryo mendeklarasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII alias DI/TII) di Jawa Barat.
1950 M – Republik Indonesia Serikat resmi dibubarkan. Amir Fatah menyatakan sebagian Jawa Tengah sebagai bagian dari DI/TII.
1954 M – Amir Fatah menyerahkan diri. Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah pun berakhir.
1955 M – Pemilihan Umum diadakan untuk pertama kali.
1960 M – Penembakan di Istana Presiden oleh seorang Letnan AU yang telah dipengaruhi Permesta.
1961 M – Operasi Trikora dimulai setelah dikumandangkan oleh Sukarno di Alun-alun Utara Yogyakarta untuk merebut Papua Barat dari Belanda.
1962 M – Kartosuwiryo ditangkap dan dihukum mati, mengakhiri pemberontakan DI/TII di Jawa Barat.
1963 M – Konfrontasi Indonesia-Malaysia dimulai. Papua Barat berintegrasi dengan RI.
1965 M – Tragedi nasional G30S di Jakarta dan Yogyakarta, menyebabkan terbunuhnya 9 orang petinggi TNI-AD.
1966 M – Pembantaian massal terhadap ribuan tertuduh komunis di seluruh Indonesia oleh Suharto dan TNI-AD. Diperkirakan 70 ribu-1 juta orang tewas dalam genosida ini. Penyerahan Supersemar dari Sukarnokepada Suharto. Konfrontasi Indonesia-Malaysia resmi berakhir. Kedua negara mulai memperbaiki hubungan. Indonesia kembali menjadi anggota PBB.
1967 M – Sukarno menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada Suharto.
1968 M – Era Orde Baru resmi dimulai dengan dilantiknya Suharto sebagai Presiden RI kedua.
1970 M – Sukarno wafat di usia 69 tahun. Pemerintah menetapkan masa berkabung selama 7 hari.
1982 M – Petrus, serangkaian operasi rahasia oleh pemerintahan Suharto berupa penangkapan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap mengganggu keamanan di pulau Jawa. Berlangsung hingga 2 tahun berikutnya.1984 M – Kerusuhan Tanjung Priok di Jakarta.
1996 M – Peristiwa 27 Juli alias Kudatuli di Jakarta.
1997 M – Krisis finansial melanda Asia, melumpuhkan perekonomian dan keuangan di sebagian besar Asia Timur. Indonesia menjadi salah satu negara yang mengalami pukulan berat, bersama dengan Thailand dan Korea Selatan.
1998 M – Suharto resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden setelah serangkaian kerusuhan di Jawa. Bacharuddin Jusuf Habibie dilantik sebagai Presiden RI ketiga. Orde Baru pun berakhir dan Era Reformasi resmi dimulai.
1999 M – Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dilantik menjadi Presiden RI keempat menggantikan Habibie.
2001 M – Megawati Sukarnoputri dilantik sebagai Presiden RI kelima menggantikan Gus Dur.
2004 M – Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla menjadi pasangan pemimpin RI pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat.
2008 M – Suharto wafat di usia 86 tahun.
2009 M – SBY kembali memenangi Pilpres dan menjadi Presiden RI bersama Budiono sebagai Wapres yang baru. Gus Dur wafat di usia 69 tahun.
2010 M – Erupsi Gunung Merapi.
2014 M – Joko Widodo dan Jusuf Kalla dilantik sebagai Presiden dan Wapres Indonesia menggantikan SBY-Budiono. Erupsi Gunung Kelud di Jawa Timur.
2019 M – Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2019-2024.

Diambil dari Ahmad Yanuana Samantho

SUMBER:
https://m.kaskus.co.id/thread/58a98d1f56e6afb25e8b4567…3Dikdik Adinusa, Dewi dan 1 lainnya2 Komentar1 Kali dibagikanSukaKomentariBagikan

Komentar
Tinggalkan komentar

Tasjim’ Versi Muslim non-Asy’ariyah Dan Hindu Hare

Tasjim’ Versi Muslim non-Asy’ariyah Dan Hindu Hare Krishna

Oleh: Menachem Ali, Dosen Philology Universitas Airlangga

Kaum Hindu Hare Krishna (ISKCON) juga mengenal nama الله (ALLAH) sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sebagaimana penjelasan AC. Bhaktivedanta Swami Prabhupada dalam uraiannya mengenai ayat suci Weda. Ayat suci yang termaktub dalam kitab Bhagavad-gita X.7 menyebutkan demikian:

etam vibhutim yogam ca
mama yo vetti tattvatah
so ‘vikalpena yogena
yujyate natra samsayah

من يقر بان هذا المجد هو مجدي
وهذه القوة هي قوتي في الحقيقه
يكرس نفسه في خدمتي
هذا مما لا شك فيه

(“Orang yang sungguh yakin tentang kemulian-Ku dan kekuatan batin-Ku ini menekuni bhakti yang murni dan tidak dicampur dengan hal-hal lain, kenyataan ini tidak dapat diragukan”).

ان ذروة الكمال الروحي تتمثل بمعرفة الاله الشخصي الاسمي. وما لم ترسخ قناعة الفرد في مختلف غني ومقدرات المولى، لا يمكن له ان ينشغل في الخدمة المكرسة. يعلم البشر غالب ان الله كبير. لكنهم لا يعلمون بالتفصيل كم كبير هو الله.


(“Puncak tertinggi kesempurnaan rohani adalah pengetahuan tentang Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Kalau seseorang belum yakin dengan mantap tentang berbagai kehebatan Tuhan Yang Maha Esa, ia belum dapat menekuni bhakti. Pada umumnya orang mengetahui bahwa sesungguhnya ALLAH Mahabesar, tetapi mereka belum mengetahui secara terperinci bagaimana ALLAH sebagai Dia Yang Mahabesar”). Lihat AC. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. Bhagavad-gita bil Lughah al-‘Arabiyyah (Tel-Aviv: Dar Bhaktivedanta, 1972), hlm. 497

Srila Prabupada berkata: كم كبير هو الله (kam kabir huwa ALLAH), lit. “bagaimana Dia ALLAH sebagai Yang Mahabesar.” Oleh karena itu, pengagungan nama ALLAH sebagai الاسم (Al-Ism), lit. “Sang Nama” bukanlah hak eksklusif hanya bagi umat Islam saja. Kaum Sikh, Yahudi dan Kristen juga menggunakan nama sakral tersebut sebagai “proper name” (nama diri-Nya). Namun, mereka menggunakan nama itu sesuai dengan kaidah gramatika bahasa Arab yang benar.

Komunitas Hindu Hare Krishna (ISKCON) memiliki kesamaan pandangan dengan komunitas Muslim Salaf(i), terutama berkaitan dengan konsep “tajsim.” Menurut aqidah komunitas Hindu (ISCKON), Sri Krishna adalah sumber dari asul-usul penciptaan Brahma, Wishnu, dan Siwa. Hal ini sebagaimana teks berbahasa Sanskrit yang termaktub dalam kitab suci Bhagavad-gita X.8 Sri Krishna bersabda:

aham sarvasya prabhavo
mattah sarvam pravartate
iti matva bhajante mam
budha bhava-samanvitah

“Aku adalah sumber segala dunia spiritual dan dunia material. Segala sesuatu berasal dari-Ku. Orang bijak yang mengetahui hal ini tekun dalam bhakti kepada-Ku dan memuja-Ku dengan segenap hatinya.”

Dalam kitab suci Weda, khususnya kitab Brahma Purana I.1.4 terdapat nas yang berbunyi demikian.

vande krishnam gunatitam param brahma acyutam yatah
avirbabhruvah prakriti brahma vishnu shivadayah

(“Hamba menyampaikan sembah sujud pada Sri Krishna, yg berada diluar pengaruh 3 sifat alam (sattvam, rajas, tamas). Sri Acyuta (Krishna) adalah Brahman Yang Paling Utama, dari Dialah muncul Brahma, Vishnu dan Siwa dan seluruh dunia”).

Selain itu, kitab suci Atharva-veda, khususnya bagian “Krisnopanishad” juga menyatakan hal yang sama, sebagaimana teks berbahasa Sanskrit yang berbunyi demikian.

om krishno vai sac-cid-ananda-ghanah
krishna adi purushah
krishnah purushottamah
krishno ha u karmadi mulam
krishnah saha sarvai-karyah
krishna kasham krid-adisha mukha-prabhu-pujyah
krishno nadis-tasmin-ajandantar bahye
yam-mangalam tal-labhate kriti

(”Warna Sri Krishna bagai awan menjelang hujan, karena itu Krishna diumpamakan bagai awan rohani yg penuh kekekalan, pengetahuan dan kebahagiaan. Dia adalah Kepribadian awal, dan Dia adalah asal mula dari segala aktivitas dan hanya Dia sebagai penguasa segala sesuatu. Sri Krishna adalah Tuhan sesembahan semua dewa yang terbaik. Dia adalah pengendali Brahma, Vishnu dan Siwa. Krishna tiada berawal. Kemujuran apa pun yang ada di dalam dan di luar alam semesta ini, hanya didapatkan pada Krishna sendiri”).

Bahkan, disebutkan pula dalam kitab Sruti-Weda, khususnya kitab Gopaltapani Upanisad 1.3 disebutkan nas demikian.

Krishno vai paramam daivatam

(“Sri Krishna adalah wujud Tuhan Yang Maha Esa”).

Dalam pengajaran teologis komunitas Hindu Hare Krishna (ISKCON), Sang Maha Pencipta itu sebenarnya wujudnya personal (Arabic: “tajsim”), bukan impersonal. Itulah sebabnya Dia dikenal sebagai “Narayana.” Konsep ini sebenarnya sepadan dengan aqidah kaum Muslim Salaf (i) yang juga mengajarkan bahwa ALLAH itu sebenarnya personal tetapi tidak seperti makhluk-Nya. Perbedaannya, kaum Hindu Hare Krishna membenarkan membuat “pratima” Sang Maha Pencipta, sedangkan kaum Muslim Salaf(i) tidak membenarkan membuat gambar atau patung Sang Maha Pencipta.

AC. Bhaktivedanta Swami Prabhupada menjelaskan mengenai hakekat Sri Krishna sebagaimana yang dijelaskan dalam komentar kitab Sri Isopanishad:

اما فراها برانا فتقول: نراينا هو الله، الشخص الامثل، ومنه اتى براهما ذو الرؤوس الاربعة؛ وكذلك منه صدر بالتالى ردرا العالم بكل شىء.

“Juga dinyatakan dalam kitab Varaha Purana: Narayana Dialah ALLAH. Brahma yang berkepala 4 terwujud dari Narayana. Begitu pula Rudra, yang kemudian mengetahui segala sesuatu.” Lihat. AC. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. Sri Isophanishad bil Lughah al-‘Arabiyyah (Tel-Aviv: Dar Bhaktivedanta, 1972), hlm. 69

AC. Bhaktivedanta Swami Prabupada menjelaskan bahwa sebutan “Narayana” itu merujuk kepada wujud Krishna berlengan 4 yang berkuasa di planet-planet Vaikuntha. Lihat Bhagavad-gita Menurut Aslinya (Jakarta: Hanuman Sakti, 2000), hlm. 870. Itulah sebabnya Sri Krishna disapa sebagai “Narayan” karena Sri Krishna dinyatakan sebagai TUHAN yang berwujud yang memiliki 4 lengan, Tuhan berwujud (personal) ini tidak sama wujud hakikinya dengan tangan/lengan manusia atau pun tangan semua ciptaan-Nya.

Jangan bertanya mengenai كيفية (kaifiyah) tentang Dia. Komunitas Hindu (ISCKON) ini sangat tidak membenarkan adanya ta’wil (baca: anti-ta’wil) terhadap nas kitab suci, dan memahami nas apa adanya tanpa ta’wil. Bila Anda memahami TUHAN sebagai Tuhan yang tidak berwujud (impersonal), maka semestinya Anda tidak memahami Tuhan yang sebenarnya.

sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/pziwdu385/tasjim-versi-muslim-nonasyariyah-dan-hindu-hare-krishna?fbclid=IwAR0lZ3N_LCC_O5Ik_CjseSwKGVQP23KOW5Bk-WOuq2X5NhlGCufIWIg5i38

1 Komentar

KONVERSI IDEOLOGI MUHAMMADIYAH KE GERAKAN FRONT PEMBELA ISLAM (FPI)

KONVERSI IDEOLOGI MUHAMMADIYAH KE GERAKAN FRONT PEMBELA ISLAM (FPI)

BY Sholihul Huda1

1)Religious Studies Department, Faculty of Islamic Studies, Muhammadiyah Surabaya University. sholikhsby@gmail.com

https://www.academia.edu/34950395/KONVERSI_IDEOLOGI_MUHAMMADIYAH_KE_GERAKAN_FRONT_PEMBELA_ISLAM_FPI?auto=download

Abstraksi Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang ingin memotret fenomena terkait proses, faktor, bentuk dan dampak konversi ideologi dikalangan aktifis Muhammadiyah ke FPI di daerah Paciran Lamongan. FPI merupakan salah satu pewujudan dari gerakan Islam Transnasional di Indonesia dengan mengusung ideologi keagamaan radikal, yang sangat berbeda dengan ideologi keagamaan yang dipraktekan oleh Muhammadiyah yaitu moderasi Islam.

FPI memiliki model dakwah amar ma’ruf nahi mungkar yang diaplikasikan secara fisikal-ekstrim dengan cara memaksa, intimidasi dengan swipping kepada kelompok yang dianggap melakukan maksiat. Model dakwah FPI ini disambut dan didukung oleh sebagian aktifis Muhammadiyah di Paciran Lamongan, padahal secara ideologi dan strategi dakwah kedua kelompok ini berbeda. Dan menariknya Muhammadiayah di Pantura secara ideologi dan jaringan dakwahnya sangat kuat dibanding dengan daerah-daerah lain di Jawa Timur tetapi mengapa sebagian aktifisnya muda konversi ideologi. Fenomena ini tentu sedikit banyak akan menganggu konsolidasi Muhammadiyah dan citra Islam di Indonesia. Jenis penelitian adalah kualitatif-fenomenologis, informan penelitian adalah aktifis Muhammadiyah yang aktif di FPI, teknik pengumpulan data wawancara, SGD dan telaah kepustakaan, analisa data menggunakan multidisiplin keilmuan (politik, ideologi, sosiologi, dll).

Hasil penelitian proses konversi terjadi melalui jalur kultural, dalam bentuk infiltrasi pemikiran (Ghazwul Fikri), dengan faktor kondisi obyektif masyarkat yang maksit dan kekecewaan terhadap elit Muhamamdiyah, berdampak pada radikalisasi, erosi ideologi dan arabisme tradisi keagamaan dikalangan Muhamamdiyah.

Keyword: Muhammadiyah, FPI, Pantura Lamongan, Konversi Ideologi

A. Pendahuluan

Fenomena kebangkitan Islam dewasa ini menjadi fokus kajian yang cukup menarik di kalangan Sarjana Muslim Indonesia. Kebangkitan Islam adalah formulasi dari gejalagejala keagamaan (religiusitas) yang ditandai oleh menguatnya kecenderungan orang Islam untuk kembali kepada ajaran Islam secara formal dalam semua aspek kehidupan.2 Sampai saat ini belum ada kesepakatan di antara pemikir Islam tentang satu istilah untuk menggambarkan fenomena kebangkitan Islam.

Namun, ada sebagian pemikir Islam mencoba mendiskripsikan kebangkitan Islam dengan istilah revivalisme Islam3 , fundamentalisme Islam, radikalisisme Islam, Islamisme, puritanisme Islam dan ekstremisme Islam. 4 Meskipun fundamentalisme Islam memiliki 1 Prodi Studi Agama-Agama FAI Universtas Muhammadiyah Surabaya 2 Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal (Jakarta: Erlangga, 2002), x 3

Revivalisme Islam gerakan yang ingin mengembalikan Islam kepada keadaan awal asli dan murni. Karakter umum gerakan revivalisme Islam adalah seputar hijrah dan jihad, sementara karakter khusus adalah a) kembali ke Islam yang murni sebagai sebuah agama tauhid, b) anjuran membuka ijtihad dan melarang taklid buta, c) keharusan hijrah meninggalkan daerah yang di kuasai orang kafir, d) kepercayaan yang kuat terhadap seorang pemimpin tunggal sebagai sang pembaharu atau Imam Mahdi yang di tunggu-tunggu. Youssef M. Choueiri, Islam Garis Keras:

Melacak akar Gerakan Fundamentalisme (terj), Humaidi Syuhud (Yogyakarta: Qonun, 2003), 20 4Ekstremisme Islam, digunakan oleh Abid Al-Jabiri untuk menggambarkan kelompok Islam ekstrem yang biasanya menggerakkan permusuhan kepada gerakan Islam “tengah/moderat”. Lihat Muhammad Abid al-Jabiri, Agama, Negara, dan Penerapan Syariah (Yogyakarta: Pustaka, 2001), 139.

Sementara Said Al Asymawi menggunakan istilah Ekstrem untuk menggambarkan suatu kelompok untuk merebut kekuasaan dengan menunggangi isu-isu agama. Di sebutkan bahwa faktor paling menonjol dari kemunculan ekstremisme Islam konotasi baru di Dunia Barat yang berarti terorrisme (radikalisme). Walaupun mempunyai sebutan beragam istilah kebangkitan Islam pada dasarnya bertemu satu titik, yaitu semangat transnasionalisme Islam.

Sebuah ide tentang kesatuan Islam secara internasional melalui penerapan sistem syariat Islam dan negara Islam (Dawlah Islamiyah) dengan kepemimpinan Khilafah. 5 Hrair Dekmejian menggunakan terma revivalisme Islam untuk menunjuk fenomena munculnya gerakan keagamaan Islam kontemporer di Timur Tengah. Menurutnya kebangkitan Islam menggambarkan tingginya kesadaran Islam di kalangan umat Islam dan rangkaian kesatuan yang dinamis antara spiritualisme pasif-apolitis dengan militansi dan konversi. 6 Oliver Roy menggunakan terma Islamisme dan NeoFundamentalisme untuk menyebut gerakan Islam yang berorientasi pada pemberlakuan Syariat Islam seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir.7

Sementara John L Esposito memberikan pengertian fundamentalisme dicirikan pada sifat kembali kepada kepercayaan fundamental agama. Mereka mendasarkan aktifitasnya pada penafsiran Literalistik dalam memahami al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.8 Kebangkitan Islam terjadi di seluruh Dunia Islam terutama di Timur Tengah. Kebangkitan Islam dipresentasikan dengan munculnya beberapa organisasi Islam seperti Neo-Ikhwanul Muslimin di Mesir, Jama’at al-Islami di Pakistan, HAMAS di Palestina, Hizbullah di Lebanon. Di Indonesia kebangkitan Islam dipresentasikan oleh kemunculan Ormas keagamaan seperti Ikhwanul Muslimin-Tarbiyah, Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Jama’ah Anshoru atTauhid (JAT) dan Lasykar Jihad.

Kelompok Islam di atas cenderung menampilkan ideologi dakwah radikal-fundamental dan mengusung tema ideologi Islam dalam setiap aksi dengan suatu tujuan menawarkan Islam sebagai ideologi alternatif.9 Kelompok Islam baru ini sering disebut oleh sebagian pemikir Islam dengan gerakan Islam radikal. Geneologi ideologi gerakan radikal dapat dilacak dari pemahaman literal-tekstual terhadap tradisi kaum Salaf. Tradisi kaum Salaf oleh kelompok ini dijadikan pijakan ideal dalam berfikir maupun bertindak baik dalam kehidupan keagamaan maupun interaksi sosial mua’malah. Mereka memahami bahwa tradisi kaum Salaf merupakan tradisi paling sesuai dengan yang diharapkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam mengatur kehidupan.10 Salafiyah atau salafisme adalah suatu paham yang berkembang pada akhir abad ke-19 oleh para reformis Muslim seperti Muhammad ‘Abduh (w.1905M), Jamal al-Din alAfghani (w.1935 M) bahkan dikaitkan dengan Ibn Taymiyyah dan muridnya Ibn Qayyim al-Jawziyyah. Istilah salaf berati pendahulu dan dalam konteks Islam pendahulu itu merujuk pada periode Nabi Muhammad SAW, Sahabat, Tabi’in dan Tabi’in-Tabi’at. Salafi adalah pengikut kaum salaf, memiliki arti yang fleksibel dan lentur serta memiliki daya tarik natural hal itu dilambangkan autentisitas dan keabsahan. Ideologi Salafi sering adalah krisis kepercayaan kepada lembaga-lembaga Negara, lembaga agama, dan lembaga politik. Lihat, Muhammad Said Al-Symawi, Al-Islam Al-Siyasi (Kairo: Sina li al-Nasyr, 1987), 66 5Deni Al As’ary, Selamatkan Muhammadiyah:Agenda Mendesak (Yogyakarta: Kibar Press,2009), 21 6Shireen T Hunter, Politik Kebangkitan Islam Keragaman dan Kesatuan (terj), Ajat Sudrajat (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001),3 7 Oliver Roy, The Failure of Political Islam (London: I.B Tauris&Co.Ltd, 1994), 2-4 8 John L Esposito, The Islamic Threat Myth or Reality (Oxford: Oxford University Press, 1992),7-8 9 Jajang Jahroni, Gerakan Salafi Radikal di Indonesia (Jakarta: Rajawali Press, 2004), 19

10Geneologi ideologi dakwah radikal yang dijadikan pijakan oleh beberapa kelompok Gerakan Islam radikal di Indonesia ternyata terkait kuat dengan gerakan atau ideologi salafi yang tumbuh subur di Timur Tengah terutama Saudi Arabia. Lihat, Jajang Jahroni, Gerakan Salafi Radikal di Indonesia (Jakarta: Rajawali Press,2004) dimanfaatkan oleh setiap gerakan yang ingin mengklaim bahwa gerakan itu berakar pada autentisitas Islam yang bersumber dari Nabi Muhammad dan para Sahabatnya.11 Ideologi salafisme menyeruh untuk kembali pada konsep yang sangat dasar dan fundamental di dalam Islam. Kehidupan umat Islam seharusnya mengikuti semua preseden Nabi dan para sahabatnya yang mendapatkan petunjuk dan generasi awal saleh (al-salaf al-shalih). Salafisme menegaskan bahwa dalam menghadapi semua persoalan umat Islam seharusnya kembali pada sumber tekstual asli yaitu al-Qur’an dan Sunnah Nabi (ar-ruju’ ila al-Qur’an wa as-sunnah). Umat Islam harus menginterpretasikan sumbersumber asli itu berdasarkan kebutuhan dan tuntutan modern tanpa harus mutlak pada produk penafsiran generasi muslim awal. Salafisme tidak tertarik pada sejarah, dengan menekankan asumsi “zaman keemasan” di dalam Islam mengidealisasi zaman Nabi dan Sahabatnya dan menolak atau tidak tertarik pada warisan sejarah Islam yang lebih besar.12 Pendapat di atas diperkuat oleh Jajang Rohani bahwa, kemunculan kelompok Islam radikal di dunia Sunni sekarang ini berkaitan dengan reformulasi ideologi salaf. Sebuah paham yang mengajarkan umat Islam agar mencotoh prilaku Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Ideologi salaf yang pada awalnya menekankan pada pemurnian aqidah (tanzih) mengalami metamorfosis pada abad ke-20. Salafisme tidak hanya gerakan purifikasi keagamaan semata tetapi menjadi ideologi perlawanan terhadap berbagai paham yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama.13 Geneologi radikal juga berasal dari ideologi wahhabi. 14 Sebagaimana pandangan Khaled Abou El Fadl bahwa kaum Wahhabi jelas-jelas mempengaruhi setiap gerakan puritan-radikal di dunia Islam di era kontemporer. Setiap gerakan Islam yang di labeli radikal seperti al-Qaedah, Ikhwanul Muslimin sangat kuat di pengaruhi oleh ideologi Wahhabi. 15 Ideologi salafi dan wahhabi secara metodologis memiliki kemiripan, kecuali Wahhabi kurang toleran terhadap keragaman dan perbedaan pendapat. Sementara salafisme tidak serta merta anti intelektualisme seperti wahhabisme yang cenderung tidak tertarik pada sejarah.16 Dari pemetaan tersebut kedua ideologi mempunyai sepirit yang sama yaitu ingin mengembalikan ajaran Islam secara murni dan sesuai dengan zaman Nabi dan sahabat dengan pemahaman yang literal-tekstual serta kurang dapat menerima kelompok di luarnya. 11Pada awalnya istilah salafi di pakai oleh kaum reformis liberal namun pada awal abad ke-20 kaum Wahhabi menyebut diri mereka kaum Salafi. Akan tetapi hingga tahun 1970-an istilah itu tidak terkait dengan keyakinan Wahhabi. Lebih jelas lihat, Khaled Abou El Fadl, Selamatkan Islam dari Muslim Puritan (terj), Helmi Musthofa (Jakarta: Serambi, 2006), 93 12Ibid, 94-95 13Ibid, 252 14Dasar ideologi Wahhabi dibangun oleh Muhammad ibn Abd Wahhab (w.1206). gagasan utama adalah bahwa umat Islam telah melakukan kesalahan dan menyimpang dari jalan Islam yang lurus dan hanya dengan kembali ke satu-satunya agama yang benar mereka akan di terima dan mendapat ridha dari Allah. Dengan semangat puritan kaum wahhabi ingin membersihkan segala bentuk tambahan, tafsir, tasawuf, syiah yang di nilai bid’ah. Wahhabisme menolak intelektualisme, mistisisme, dan sektarianisme di dalam Islam dengan memandang semua itu sebagi inovasi yang menyimpang karena ada pengaruh dari luar. Wahhabi tidak memberi jalan tengah bagi umat hanya ada dua menjadi orang Islam yang benar atau kaffir. Wahhabi juga sangat fanatik dan benci dengan kelompok non muslim dengan menegaskan bahwa muslim seharusnya tidak mengikuti kebiasaan non muslim. Wahhabi mendukung sistem keyakinan tertutup, lengkap dan memenuhi kebutuhan sehingga tidak ada alasan untuk terlibat kecuali mendominasi. Baca, Khaled, Selamatkan Islam, 93 15Ibid., 61 16Ibid., 94 Gerakan Islam radikal juga menjadikan terma jihad sebagai salah satu landasan perjuangan. Konsep jihad mengalami pergeseran makna. 17 Konsep jihad cenderung ditafsiri secara literal dan sempit, jihad yang semula dipahami sebagai upaya sungguhsungguh untuk menggerakan segala tenaga, pikiran, harta untuk kemajuan Islam melalui dakwah, ternyata bergeser ke makna artifisial dan fisikal (baca: Perang). Pergeseran makna jihad ini terjadi terutama para pengikuti Wahhabi yang identitik dengan neofundamentalisme atau neo-salafi. Wahhabi awal memaknai jihad adalah perjuangan menegakkan monotiisme, tetapi belakang bergesar pada gerakan perlawanan global tanpa kompromi dengan siapa saja yang secara ideologi berbeda yang ada adalah perang melawan Yahudi, Kristen dan Barat secara global, sehingga sering berbenturan dengan kelompok non Islam bahkan dengan sesama kelompok Islam sendiri.18 Konsepsi jihad seperti ini tampak terus berkembang di Indonesia. Jihad identitik dengan jalan kekerasan, teror, bom di tempat umum. Konsep ini dikritik oleh Fazlur Rahmansebagai bentuk ”salafi sempit” bukan salafi yang mengambil semangat Ibnu Taymiyyah yang menyatakan perbuatan manusia tidak yang bersifat zahiri, tampak sebagai kebaikan (jihad) tetapi ada perbuatan yang bersifat batiniah, inilah sesungguhnya menjadi bagian terpenting dalam iman pada Tuhan.19 Kemunculan gerakan Islam radikal merupakan hal wajar akibat dari eskalasi dunia global yang tidak ada sekat tradisi, teritorial dalam akses informasi dan wacana (ideologi). Ian Adams berpandangan kemunculam gerakan Islam radikal merupakan hal wajar karena radikalisme dapat di temukan dalam berbagai macam lingkungan dan tampil dalam berbagai bentuk yang beragam termasuk wajah agama (kelompok Islam).20 Dakwah gerakan Islam radikal walaupun di Indonesia, namun secara geneologis gerakan ini memiliki akar paham keislaman (ideologi) dari Timur Tengah. Senada pendapat Akh Muzakki, kemunculan gerakan Islam radikal atau dikenal dengan Islam Transnasional tidak lebih dari representasi total Islam Timur Tengah.21 Pandangan ini diperkuat oleh Haidar Nashir bahwa kemunculan Islam Transnasional atau Islam yang mengusung gagasan syariat Islam merupakan bentuk reproduksi gagasan dan ideologis Islam salafiyah Timur Tengah di Indonesia.22 Gerakan Islam transnasional yang tumbuh di Indonesia berbeda dengan gerakan Islam yang terlebih dahulu eksis di Indonesia. Gerakan Islam awal seperti NU, Muhammadiyah dianggap mewakili gerakan Islam moderat. 23 Gerakan Islam moderat adalah gerakan Islam yang menjunjung tinggi tasammuh, tawazun, tawasuth, menghargai perbedaan (toleran), menjunjung perdamaian, santun dan terbuka dalam berdakwah di masyarakat,24 salah satunya adalah gerakan Muhammadiyah. 17Natana J Delong-Bas, Wahhabi Islam: From Revival and Reform Global Jihad (London: Oxford University Press, tt), 278 18Zuly Qadir “Gerakan salafi Radikal dalam Konteks Islam Indonesia”, Jurnal Islamica, Vol.3, No.1, September 2008, 2. 19Fazlur Rahman, Gelombang Perubahan dalam Islam: Studi Fundamentalisme Islam (ter), penerjemah Aam Fahmia (Jakarta: Rajawali Press, 2001), 163 20Ian Adams, Ideologi Politik (Yogyakrta: Qalam, 2004), 426 21Ach. Muzakki, “Importasi dan Lokalisasi Ideologi Islam: Ekspansi Gerakan Islam Pinggiran Pasca Soeharto”, Juranal MAARIF, Vol. 2, No.4, Juni 2007 22Haidar Nashir,Gerakan Islam Syariat, Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia (Jakarta:PSAP, 2007),8 23 Menurut Prof. Azumardi Azra, kedua organisasi ini adalah produk asli Indonesia (made in Indonesia) yang memiliki paham keIslaman moderat (Washatiyah) dan memiliki jaringan dan anggota terbanyak di Indonesia. Dan secara komitemen ideologi NU-Muhammadiyah adalah memperjuangkan nilai-nilai Islam bukan formalisasi Islam dalam entuk Negara maupun penerapan Syariat Islam sebagai hokum positif, Azumardi Azra, ISIS Mengancam Kita”, Forum Indonesia Lawyers Club (ILC) TV One, ( 24 Maret 2015) 24Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU (Solo, Jatayu, 1985) Muhammadiyah telah meneguhkan diri sebagai gerakan Islam yang menampilkan paham agama (ideologi) yang rahmatalil’alamin.25 Muhammadiyah sampai saat ini tetap konsisten sebagai gerakan Islam moderat dengan mengusung gerakan pembaharuan (tajdid) dan pemurnian (tanzih). Ideologi Muhammadiyah menasbihkan gerakan yang anti kekerasan, anti pemaksaan dan berorientasi pada humanisme. Orientasi dakwah yang humanis dan menghargai tradisi lokal di atas sering disebut dengan dakwah kultural.26 Ajaran dan spirit jiwa perjuangan Kyai Ahmad Dahlan merupakan basis Ideologi Muhammadiyah. Ajaran dan jiwa perjuangan Kyai Ahmad Dahlan telah mengispirasi aktifis Muhammadiyah dalam bergerak mengembangankan Islam di Indonesia. Prinsip dasar dari ajaran Kyai Ahmad Dahlan adalah memadukan kesalehan individual dan kesalehan sosial yang berpegang kepada al-Qur’an dan al-Hadits. 27 Bercita-cita mewujudkan masyarakat yang utama, dan sebenar-benarnya yang di ridhoi Allah SWT.28 Ideologi Muhammadiyah terbentuk melalui proses sejarah panjang dan dipengaruhi oleh situasi lingkungan sekitar (baca: Kauman Yogyakarta). Sebagaimana pendapat Louis Althusser, bahwa proses terbentuknya ideologi di antaranya karena faktor historis. 29 Artinya ideologi terbentuk tidak di ruang hampa tetapi melalui proses dinamika persoalan di masyarakat yang terkonsepsikan dan mengkristal menjadi sebuah prinsip-prinsip kehidupan. Begitu juga ideologi Muhammadiyah dibentuk sebagai respon terhadap perkembangan sejarah. Ia dirumuskan dan dikembangkan tidak dalam ruang hampa tetapi diruang realitas masyarakat (baca:Kauman Yogyakarta) yang dinamis. Ideologi Muhammadiyah memiliki karakter yang menjadi sistem paham, visi, misi dan strategi perjuangan yang khas yang membedakan dengan ideologi gerakan Islam yang lain. Artinya yang membedakan gerakan Muhammadiyah dengan gerakan Islam lain adalah karena orientasi ideologi dan strategi dakwahnya. Dewasa ini ada fenomena menarik dikalangan aktifis Muhammadiyah yaitu fenomena konversi ideologi. Fenomena dimana ada sebagian aktifis Muhammadiyah terlibat aktif maupun simpatisan pada gerakan-gerakan Islam radikal (baca: FPI).30 Padahal antara gerakan Muhammadiyah dengan gerakan Islam radikal (FPI) mempunyai ideologi berbeda atau mungkin berbenturan. Fakta di atas tentu menarik untuk dipahami, sebab Muhammadiyah sebagai organisasi sosial-keagamaan mapan (esthaiblised) baik secara ideologi maupun jarigan dakwah, bahkan merupakan salah satu penyanggah kehidupan 25Haedar Nashir, Kristalisasi Ideologi Muhammadiyah dan Komitmen BerMuhammmadiyah (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2007), 31 26Konstruksi dakwah kultural muncul di sebabkan gerakan Muhammadiyah selama ini di cap gerakan anti tradisi lokal yang akrab dengan kehidupan masyarakat desa dan rakyat kebayakan, hal itu menjadikan gerakan ini terasing dari kehidupan rakyat kecil pedesaan. Fakta ini mendorong beberapa elite Pimpinan Muhammadiyah mengembangkan gagasan yang disebut dakwah kultural yang disusun tahun 2002. Tujuan dakwah kultural adalah bagaimana melakukan dakwah dengan memperhatikan kondisi obyektif masyarakat yang hendak di rubah. Lihat Abdul Munir Mulkhan, Islam Murni dalam Masyarakat Petani (Bentang: Yogyakarta, 2000). Adapun konsep dakwah kultural secara lengkap, lihat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dakwah Kultural Muhammadiyah, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2005) 27Prinsip dan ajaran-ajaran Kiyai Ahmad Dahlan dalam memahami kehidupan yang kemudian di jadikan landasan dalam menggerakan Muhammadiyah, semuanya di landaskan pada prinsip-prinsip Al Qur’an dan Hadits yang kemudian di jadikan landasan Ideologi Muhammadiyah. Lihat KRH. Hadjid, Pelajaran KH. Ahmad Dahlan: 7 falsafah Ajaran dan 17 Kelompok Ayat Al Qur’an (Yogyakarta: LPI PP Muhammadiyah, 2008) 28Haedar Nashir, Kristalisasi Ideologi, 4 29Syamsul Arifin, Ideologi Praksis Gerakan Sosial kaum fundamentalisme (Malang: UMM Press, 2005), 45 30 Gerakan FPI merupakan salah satu gerakan salafi radikal di Indonesia yang berideologi radikal-fundamental dalam memahami ajaran Islam. Ideologi radikal bersumber dari ideologi-ideologi radikal Timur Tengah sehingga FPI termasuk jaring Islam trnsnasional. Jajang Jahroni, Gerakan Salafi Radikal di Indonesia (Jakarta: Rajawali Press,2004) sosial keagamaan di Indonesia, tetapi mengapa para aktifisnya mudah terpengaruh bahkan berlahan meninggalkan Muhammadiyah migrasi ke gerakan lain (baca:FPI).31 Maka pada kajian ini, penulis mencoba memotret fenomena konversi ideologi yang terjadi dikalangan aktifis Muhammadiyah di wilayah Pantura Paciran Lamongan (selanjutnya disebut Pantura Lamongan). Fenomena ini tentu sedikit banyak berpengaruh terhadap dinamika kehidupan keberagamaan di Indonesia yang sebelumnya dikenal dengan keberagamaan yang inklusif, toleran, demokratis dan damai penuh rahmatalil’alamin. B. Konversi Ideologi Muhammadiyah: Sebuah Potret Fenomena konversi ideologi dikalangan aktifis Muhammadiyah dipengaruhi oleh dinamika sosio-ideologis yang terjadi di sekitarnya. Proses konversi ideologi dikalangan aktifis Muhammadiyah Pantura Lamongan tidak dapat dipastikan kapan persis terjadinya, tetapi yang jelas proses tersebut melalui tranformasi lama dan lewat saluran media yang beragam. Proses konversi ideologi tersebut dipengaruhi tidak hanya satu faktor tetapi banyak faktor yang saling berkaitan. Faktor tersebut dapat dipetakan pada dua aspek yaitu aspek sosiologis dan aspek ideologis. Aspek sosiologis dipengaruhi dari kondisi eksternal dikalangan aktifis Muhammadiyah yang resah melihat keadaan sosio-kultur masyarakat Pantura Lamongan yang semakin jauh dari nilai-nilai ajaran Islam. Pertama tradisi kemaksiatan semakin merajalela, orang sudah tidak malu lagi melakukan kemaksiatan (pacaran, minumminuman keras, pesta ganja, perzinahan) padahal sebelumnya masyarakat Pantura Lamongan dikenal sebagai masyarakat religius yang kuat dan taat.32 Kondisi ini diperparah dengan sikap aparat keamanan yang seharusnya bertugas membrantas kejahatan malah menjadi bagian dari proses kemaksiatan dengan menjadi backing. Kondisi ini menjadikan krisis kepercayaan terhadap aparatur negara, sehingga prilaku kemaksiatan di masyarakat semakin tidak terkendali karena tidak ada yang ditakuti. Melihat kemungkaran sosial tersebut, sebagian aktifis Muhamamdiyah merasa resah dan ingin bergerak melakukan perlawanan terhadap situasi tersebut. Sementara gerakan Islam (Baca: Muhammadiyah) di Pantura Lamongan tidak merespon secara langsung, sehingga terkesan membiarkan tradisi kemaksiatan tersebut. Kondisi kegagapan Muhammadiyah tidak merespon secara jelas dan tegas terhadap kondisi sosial tersebut menjadikan para aktifis Muhammadiyah mencari altrenatif gerakan. Maka bertemulah dengan gerakan Front Pembela Islam (FPI) yang mengusung strategi dakwah ”konkrit” membrantas kemaksiatan.33 Model gerakan yang dikembangkan oleh FPI seolah mejawab keresahan dan kegelisahan yang dirasakan oleh aktifis Muhammadyah. Proses inilah kemungkinan kuat menjadi pendorong proses sosiologis dari proses transformasi konversi ideologi ditubuh Muhammadiyah. Kedua, pengaruh perkembangan industialiasi di wilayah pamtura. Salah satu dampak dari perkembangan industrialisasi adalah adanya pergeseran tradisi masyarakat Pantura dari kultur tradisional (nelayan) ke kultur industrial (buruh). Proses tersebut hingga saat ini sedang berjalan, tampak dari pembangunan infrastruktur dan derasnya investasi yang masuk di kawasan Pantura Lamongan. Seperti pembangunan Industri pariwisata (Wisata Bahari Lamongan/WBL), Maharani Zoo Goa, industri perhotelan dan 31 Miftachul Huda, Ikhwanul Muhammadiyah (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah dan Kibar Press, 2007), 4 32 Di Pantura Pesantren tumbuh berkembang banyak sekali baik dari kalangan NU misalnya (Pondok Sunan Drajat, Ponpes Tarbiyah At Thulab, Pondok Mazr’atul Ulum dan sebaginya), kalangan Muhammadiyah (Pesentren Karangasem Muhammadiyah, Pesantren Modern Muhammadiyah), lihat Ma’in Abd Sumaji, Mengembalikan Gerakan, 56. 33 Al Zastrow, Ng. Gerakan Islam Simbolik Politik Kepentingan FPI. Yogyakarta: LKiS, 2006 restoran (Lamongan Resort Beach), industri pangkalan minyak Lamongan Integrated Shorebase (LIS). Industrialisasi tersebut membawa dampak serius bagi masyarakat Pantura Lamongan terutama terhadap tradisi prilaku sosio-keagamaan. Diantaranya adalah longgarnya ikatan solidaritas keagamaan, yaitu sikap apatis terhadap persoalan kemaksiatan, slogan yang berkembangan di masyarakat adalah ”yang penting bukan saya yang melakukan”. Prinsip dan prilaku tersebut menjadikan proses kemaksiatan semakin masif dan dianggap wajar. Selain itu juga berdampak pada pergeseran karakter masyarakat Pantura menjadi individualistik dan orientasi hidup materialistik (baca: konsumtif dan hedonis). Selain dampak negatif, ada juga dampak positif dari pembangunan industrialisasi, salah satunya adalah masyarakat Pantura mulai ”melak” terbuka terhadap informasi. Artinya kesadaran akan pentingnya informasi dari dunia luar pada masyarakat Pantura Lamongan sangat tinggi, sehingga arus transformasi informasi termasuk ideologi keagamaan dari luar (baca: ideologi Islam Timur Tengah), tidak dapat terhindari masuk ke Pantura Lamongan. Ideologi Islam radikal (baca:FPI) memberikan nuansa gerakan keagamaan baru dikalangan masyarakat Pantura Lamongan. Sehingga kajian-kajian ideologi Islam radikal semakin tumbuh dan mendapat sambutan secara hangat. Fenomena terjadi disebabkan ada semacam kejenuhan terhadap gerakan-gerakan Islam yang sudah ada sebelumnya (baca: Muhammadiyah-NU). Ketiga, bertemunya karakter masyarakat Pantura yang keras dengan karakter gerakan FPI yang radikal. Masyarakat Pantura Lamongan di dominasi bekerja sebagai Nelayan, mereka bergelut dengan laut yang tidak pasti karena tergantung alam, sehingga pendapatannya tidak bisa dikontrol. Nelayan menghadapi sumberdaya alam (SDA) yang bersifat open acces dan beresiko tinggi. Hal tersebut menyebabkan masyarakat pesisirpantura memiliki karakter yang tegas, keras dan terbuka.34 Sebelum gerakan Islam radikal (Baca:FPI) masuk, karakter keras tersalurkan dalam wadah sosial kelompok-kelompok ”Geng” anak muda Pantura. Diantaranya adalah Geng KREATOR, RIBEN, EXSODUS dan sebagainya. Sebagian besar anggotanya adalah anak-anak Muhammadiyah. Aktivitas kelompok ”Geng” ini lebih cenderung kepada tindakan kemaksiatan dan menganggu ketentraman masyarakat, seperti berkelahi antar ”Geng” pada saat ada acara di Tanjung Kodok atau di sekitar Pantura, minum-minuman keras, pesta ganja dan sebagainya. 35 Di pihak lain karakter gerakan Islam radikal (baca:FPI) menawarkan konstruk ideologi radikal-keras.36 Dua karakter yang sama keras memudahkan proses transformasi ideologi radikal FPI masuk dengan muda dikalangan masyarakat Pantura (Baca: Muhammadiyah). Imege keras yang terbangun di masyarakat menemukan saluran yang lebih agamis lewat FPI, maksudnya aksi-aksi kekerasan yang dilakukan minimal ada landasan ajaran Islam dan mendapatkan legitimasi agama lewat menjadi aktifis FPI.37 Kedua, aspek ideologis adalah aspek yang dipengaruhi dari kritik kondisi internal Muhammadiyah. Sebagian aktifis Muhammadiyah resah dan jenuh melihat gerakan Muhammadiyah yang dianggap gagap dan kurang peka terhadap kemungkaran sosial di wilayah sekitar (Pantura). Ideologi amar ma’ruf nahi mungkar Muhammadiyah dianggap masih sebatas retorika belum diwujudkan secara total, sehingga Muhammadiyah dianggap 34 Nur Syam, Islam Pesisir, 241. 35 Yoyon Suudi, Wawancara, Paciran, 3 Agustus 2010, Yoyon adalaah salah satu aktifis FPI (Wakil Komandan LPI FPI Paciran) 36 Andri, Rosadi, Hitam-Putih FPI (Mengungkap Rahasia-rahasia Mencengangkan Ormas Keagamaan Paling Kontroversial. Jakarta: Nun Publisher, 2008 37 Hal itu terbukti perkembangan dan basis masa terbesar FPI di Lamongan di daerah pesisir Paciran dan tidak berkembang di luar daerah Paciran. tidak mempunyai formulasi gerakan yang jelas dalam merespon kemaksiatan dan sikap yang tegas terhadap kemungkaran sosial yang terjadi di masyarakat bahkan cenderung membiarkan. Muhammadiyah seakan hanya sibuk dan puas mengurusi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) saja.38 Aktifis Muhammadiyah di FPI menganggap ideologi amar ma’ruf nahi mungkar Muhammadiyah baru teraplikasi pada ideologi amar ma’ruf (mengajak kebaikan) dengan terwujudnya gerakan amal sholeh yang kemudian menjadi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Seperti amal di bidang pendidikan (Sekolah dan PTM), amal kesehatan (Rumah Sakit), amal sosial (Panti Asuhan), amal ekonomi (Bank Persyarikatan, BMT). Sementra ideologi nahi mungkar seakan terlupakan dan tidak memiliki formulasi yang jelas dan tegas, sehingga terkesan gerakan Muhammadiyah tidak respon dan gagap terhadapi persoalan kemaksiatan di masyarakat.39 Kegagapan dan ketidak jelasan formulasi dari aktualisasi ideologi nahi mungkar dalam merespon aksi kemaksiatan menjadikan sebagian aktifis Muhammadiyah mencari formulasi sendiri di luar ideologi Muhammadiyah. Situasi ini kemudian menjadikan ideologi FPI yang mengusung ideologi amar ma’ruf nahi mungkar dengan startegi dakwah anti kemaksiatan dengan mudah masuk dan merembas dikalangan aktifis Muhammadiyah di Lamongan. Proses tersebut menjadikan aktifis Muhammadiyah meresa lebih nyaman aktif di gerakan FPI daripada di Muhammadiyah.40 Transformasi ini pada awalnya dianggap biasa-biasa saja, tidak ada kecurigaan ataupun kekhawatiran akan terjadi konflik sosial dan ideologi. Awalnya kedua kelompok Muhammadiyah dan FPI berjalan harmonis saling menghormati, menghargai dengan strategi dakwah masing-masing. Kedua gerakan tersebut dapat berjalan sinergi dan saling mendukung dalam pemberantasan kemungkaran sosial di masyarakat terutama di wilayah Pantura. Karena pada awalnya ide pembentukan FPI dipahami oleh para aktifis Muhammadiyah bahwa FPI merupakan alat untuk pembrantasan kemungkaran sosial yang Muhammadiyah belum memiliki formulasi jelas dan tegas seperti strategi FPI sehingga keberdaan FPI banyak di dukung oleh aktifis dan tokoh-tokoh Muhammadiyah di Lamongan.41 Namun perkembangan selanjutnya, terjadi ketegangan baik secara organisasi maupun individu (sesama aktifis). Hal itu disebabkan, watak dan karakter ideologi gerakan FPI semakin menunjukan watak aslinya berwatak radikal-eksterim. Hal ini tentu itu berbeda dengan ideologi dan strategi dakwah yang dilakukan oleh Muhammadiyah selama ini dengan cara santun-damai.42 Akumulasi gesekan tersebut menyebabkan terjadi polarisasi pandangan dan sikap aktifis Muhammadiyah terhadap FPI. Beberapa bentuk polarisasi pandangan para aktifis Muhammadiyah ke FPI. Pertama: aktifis Muhammadiyah aktif di FPI melihat Muhammadiyah terbagi ke dalam dua kelompok pandangan: Pertama, Positif-akomodatif melihat Muhammadiyah. Pandangan dan sikap kelompok ini cenderung ”menduakan” Muhammadiyah, maksudnya mereka secara ideologi dan organisasi masih aktif di Muhammadiyah tetapi mereka juga aktif (bahkan menjadi pengurus) di FPI. Kelompok ini berpandangan bahwa keberdaan FPI dan Muhammadiyah merupakan: a) Pelangkap gerakan Muhammadiyah terutama dalam mengaplikasikan ideologi nahi mungkar yang di nilai kurang jelas dan tegas selama ini. b) FPI tidak ingin merusak citra Muhammadiyah maksudnya selama ini dakwah Muhammadiyah terkenal dengan cara-cara santun, maka yang cara keras biar menggunakan 38Khanif, Wawancara Paciran, (3 Agustus 2010) 39ibid 40Burhan, wawancara, Paciran, 3 Juli 2010. (Burhan adalah Ketua Pemuda Muhammadiyah Dengok Paciran) 41 Ibid 42 Ibid nama FPI. c) Ideologi FPI dan Muhammadiyah terdapat kesamaan dan perbedaan, persamaannya adalah sama-sama mengusung ideologi amar ma’ruf nahi mungkar adapun perbedaanya adalah terletak pada strategi dakwah dilapangan, Muhammadiyah lebih santun dengan cara amar ma’ruf (hikmah) sedangkan FPI lebih keras nahi mungkar. FPI lahir tidak mereduksi gerakan Muhammadiyah menjelek-jelekakan Muhammadiyah tetapi masing-masimg memiliki jalan dakwahnya sendiri.43 Kelompok ini cenderung memahami bahwa, gerakan FPI dengan strategi dakwah secara keras-radikal merupakan reaksi dari aksi kemaksiatan yang merajalela di masyarakat Pantura Lamongan. Artinya semakin banyak aksi kemaksiatan dan sulit diperingatkan maka FPI akan merespon semakin keras. Sikap ini merupakan pemahaman dari makna dakwah amar ma’ruf nahi mungkar. Mereka memahami gerakan FPI merupakan ”Jihad Baru”, artinya munculnya FPI dipahami sebagai alternatif gerakan baru di saat gerakan Islam yang dominan (NU-Muhamamdiyah) kurang begitu serius dan memperhatikan masalah kemaksiatan. Kedua, Negatif-disintegratif melihat Muhammadiyah. Sikap negatif-disintegratif merupakan kelompok yang berpandangan negatif terhadap ideologi dan pola dakwah Muhammadiyah. Mereka tidak puas dan jenuh melihat gerakan Muhammadiyah yang di anggap tidak peka terhadap kemaksiatan. Secara organisasi dan ideologi mereka tegas memisahkan diri dari gerakan Muhammadiyah dan pindah ke gerakan FPI. Mereka memandang ideologi Muhamamdiyah dianggap tidak relevan lagi dalam menyikapi persoalan masyarakat terutama masalah kemaksiatan. Mereka mengkritik Muhammadiyah dari sudut negatif padahal sebelumnya mereka adalah bagian dari Muhammadiyah. Pandangan mereka terhadap ideologi dan strategi dakwah Muhammadiyah dianggap tidak jelas dan tegas dalam membrantas kemaksiatan. Muhammadiyah dianggap terlalu akomodatif dengan Pemerintah dan terkesan tidak peduli terhadap aksi kemaksiatan. Padahal pemerintah dianggap bagian dari penyokong kemaksiatan.44 Mereka menganggap konsep amar ma’ruf nahi mungkar di Muhammadiyah hanya separuh tidak utuh. Konsep amar ma’ruf dan nahi mungkar harus di pisah, artinya amar ma’ruf adalah mengajak kepada kebaikan dan berbuat baik, sedangkan nahi mungkar melarang secara tegas terhadap aksi kemaksiatan. Sementara di Muhammadiyah bentuknya belum jelas dan tegas saat ini, padahal dulu jelas dan tegas dalam aplikasi ideologi nahi mungkar adalah melawan Takhayul, Bid’ah, Churafat (TBC). Kedua aktifis Muhammadiyah tidak ikut FPI melihat FPI terbagi ke dalam dua bentuk pandangan: Pertama, Reaksioner-posistif melihat FPI, kelompok ini kebayakan dari kalangan intelektual. Mereka dapat memilih dan memilah aktifitas gerakan FPI dan tidak menggeneralkan semua aksi kekerasan FPI murni kesalahan dan arogansi FPI. Mereka memahami bahwa kemungkaran sosial di wilayah Lamongan sudah memprihatinkan sehingga butuh gerakan seperti yang dilakukan FPI walaupun tidak semuanya di sepakati. Kedua, Reaksioner-negatif melihat FPI. pandangan ini sebagian besar dari kalangan masyarakat awam yang cenderung negatif melihat gerakan yang di lakukan oleh FPI. Mereka beranganggapan gerakan FPI itu arogan, keras, tidak kasihan dan merusak citra Muhammadiyah.45 Konversi ideologi Muhammadiyah tidak hanya lewat satu jalur tetapi tersebar luas dari berbagai jalur. Pemataan ini hanya sebagaian jalur yang dapat teramati: a) jalur 43 Khanif, Wawancara, (Paciran 3 Juli 2010) 44Zainal Anshori, Wawancara, (Paciran 3 Juli 2010) 45Anggapan merusak citra Muhammadiyah disebabkan orang awam tahunya aktifis FPI itu ya orang-orang Muhammadiyah padahal Muhammadiyah selama ini dikenal santun dan lembut dalam berdakwah, Burhan, wawancara, Paciran, 4 Agustus 2010 pengajian berupa majelis ta’lim (halaqa) dan tabliqh akbar. Melalui jalur ini proses penyebaran ideologi FPI ke Muhammadiyah sangat efektif, sebab jalur ini indoktrinasi dan infiltrasi ideologi FPI sangat leluasa masuk tanpa disandari aktifis Muhammadiyah. Damapk dari proses ini adalah adanya pergeesran kerangka berfikir yang berbeda dengan Muhammadiyah. b) Jalur olahraga pencak silat. Lewat jalur ini sangat masif dan effektif dalam penggalangan massa, sebab kebanyakan kader dan simpatisan FPI merupakan anggota yang ikut latihan olahraga pecak silat. Adapun tradisi di olahraga pencak silat posisi pelatih (Guru) sangat disegani dan dihormati bahkan di takuti. Sehingga terkadang setiap perintah dan prilaku para pelatih (Guru) harus di ikuti. c) Jalur jaringan alumni pesantren. Jalur ini sangat effektif di sebabkan pengurus Muhammadiyah dan pengurus FPI alumni Pesantren sama. Sehingga ada semacam ikatan emosional di antara mereka untuk saling membantu atau mendukung antar sesama alumni. d) Jalur organisasi PelajarMahasiswa. Jalur ini juga effektif disebabkan para pengurus dan aktifis Muhammaadiyah dan FPI berasal dari organisasi pelajar-Mahasiswa yang sama, sehingga ada semacam ikatan emosional organisasi diantara mereka untuk saling membantu atau mendukung antara sesama alumni. Media yang digunakan dalam proses pembentukan konversi ideologi Muhammadiyah adalah beragam, di antaranya adalah: 1) melalui media pamflet, brosur, selebaran, surat himbuan yang berisi tentang informasi kegiatan dakwah, opini dan sikap politik terhadap aksi-aksi kemaksiatan. 2) media majalah dan buletin merupakan media informasi yang di kirim dari FPI Pusat berisi informasi kegiatan FPI secara nasional, penyebaran dan indoktrinasi ideologi FPI. 3) media buku-buku yang berisi tentang ideologi ahlu sunnah wal jama’ah versi FPI. Tulisan tokoh-tokoh salafi seperti buku Dialog FPI: Amar Maruf Nahi Mungkar ditulis oleh Habib Rizieq.46 4) media aksi sweeping merupakan media yang paling di kenal dan seolah sudah menjadi brand image FPI artinya ”FPI ya Sweeping”.47 Aksi sweeping ini menjadi media yang paling di sukai, karena kebanyakan dari simpatisan FPI adalah anak-anak muda. Sehingga bisa jadi aksi sweeping di jadikan dalih berlindung, bahwa aksi kekarasan yang dilakukan merupakan dalam rangka membela ajaran agama. C. Konversi Ideologi Muhammadiyah: Dampak Keberagamaan di Indonesia Fenomena konversi ideologi aktifis Muhammadiyah di Pantura Lamongan merupakan sebuah potret pergulatan perebutan pengaruh ideologi dan sosio-kultur dikalangan organisasi sosial keagamaan di masyarakat. Proses konversi ideologi di sadari maupun tidak, cenderung menimbulkan pergeseran baik secara ideologi maupun tradisi sosial keagamaan aktifis Muhammadiyah. Gejela pergeseran ideologi tersebut memang tidak tampak begitu mencolak dipermukaan karena memang proses ini berjalan pelan, samar tapi pasti. Proses konversi ideologi di Muhammadiyah merupakan dampak dari proses infiltrasi yang dilakukan oleh kelompok radikal (baca:FPI) ke Muhammadiyah. Proses tersebut bertujuan perebutan hegemoni ideologi dan kuasa sosial yang selama ini di miliki Muhammadiyah. Proses konversi ideologi bertujuan untuk mengembangkan ideologi radikal ke Muhammadiyah dan masyarakat Islam. Hal itu tampak dari startegi dakwah yang dilakukan kelompok radikal Islam dengan masuk ke basis Muhammadiyah lewat pengajian, pendidikan, sebaran informasi (majalah, buletin). Strategi dakwah kelompok Islam radikal (baca: FPI) melalui media seberan pengetahuan (pengajian, informasi) bertujuan untuk melakukan proses indoktrinasi ideologi dikalangan Muhammadiyah agar 46 Muhammad Rizieq Syihab, Dialog FPI: Amar Maruf Nahi Mungkar, h, 1 47Andri Rosadi, Hitam-Putih FPI (Mengungkap Rahasia-rahasia Mencengangkan Ormas Keagamaan Paling Kontroversial. Jakarta: Nun Publisher, 2008 terpengaruh baik secara ideologis maupun prilaku sosial keagamaanya. Sebagaimana pandangan Gramsci, bahwa ideologi merupakan alat untuk melakukan dominasi dan hegemoni antara kelompok (baca: Muhammadiyah dengan FPI).48 Walaupun perebutan tersebut sangat samar dan tanpa kekerasan namun efeknya sangat terasa di kalangan aktifis Muhammadiyah. Perebutan hegemoni-dominasi ideologi yang dilakukan oleh kelompok FPI bertujuan untuk mendapatkan pengaruh kekuasaan dalam arti luas tidak harus politik kekuasaan. Salah satu dari efek prsoses konversi ideologi adalah terjadi proses pergeseran pola pikir (paradigma) dan basis massa di kalangan Muhammadiyah. Pengaruh yang paling besar adalah lewat kuasa pengetahuan (ideologisasi) terhadap aktifis Muhammadiyah, dengan tujuan terjadinya perubahan dan terpengaruh ikut FPI. Sebagaimana pandangan Micheal Foucault, bahwa pengetahuan (wacana) selalu berbanding lurus (berelasi) dengan kekuasaan. Artinya kuasa pengetahuan merupakan alat yang paling efektif untuk mendominasi kelompok lain. 49 Konversi ideologi merupakan sebuah protet perebutan dominasi-hegemoni antara Muhammadiyah dengan FPI. Perebutan dominasi tersebut dapat dipetakan ke dalam dua aspek: Pertama, perebutan pengaruh ideologi merupakan proses perebutan dominasi kebenaran ajaran-ajaran keagamaan (FPI) yang dianggap lebih benar daripada ajaran keagamaan Muhammadiyah. Sehingga harapan dari proses perebuatan tersebut ideologi FPI dapat masuk dan menggantikan ideologi Muhammadiyah dikalangan aktifis Muhammadiyah yang selama ini sudah di yakini kebenarannya. Efek dari proses perebutan ideologi adalah terjadi gejala konversi ideologi aktifis Muhammadiyah. Gejala ini sudah tampak dengan bergesernya paradigma aktifis Muhammadiyah lebih radikal-formal dalam memahami ajaran Islam dengan konteks sosial. Gejala radikalisai ideologi inilah yang diharapakan oleh kelompok radikal (FPI) terhadap aktifis Muhammadiyah agar kepentingan-kepentingan politik FPI mudah masuk dan tercapai tanpa harus berbenturan atau berhadapan secara face to face dengan Muhammadiyah. Kedua, perebutan pengaruh sosio-kultur merupakan proses perebutan dominasi tradisi sosial keagamaan antara tradisi sosial keagamaan FPI dengan Muhammadiyah. FPI menganggap tradisi sosial keagamaannya (manhaj dakwah) lebih baik dan sesuai dengan tradisi salafus as-salih daripada tradisi sosial keagamaan Muhammadiyah yang dianggap kurang mengikuti tradisi salafus as-salih. Efek dari proses ini adalah pembangkangan aktifis Muhammadiyah terhadap aturan, intruksi organisasi persyarikatan Muhammadiyah, mereka lebih patuh dan suka mengikuti tradisi sosial keagamaan FPI.50 Pembangkangan tradisi sosial-keagamaan diharapkan oleh kelompok radikal (FPI) supaya kepentingan politiknya lebih muda masuk dan minimal dapat menguasai dakwah Muhammadiyah di Pantura Lamongan dan di Indonesia pada umumnya. Muhammadiyah sebagai organisasi sosial-keagamaan yang bersifat terbuka, menjadikan peluang terjadinya proses infiltrasi dan hegemoni sosio-ideologis lebih muda dalam tubuh Muhammadiyah. Fenomena tersebut terpotret pada gejala konversi ideologi di kalangan aktifis Muhammadiyah ke gerakan FPI. Dimana secara sosio-ideologis proses konversi ideologi Muhammadiyah akan berdampak pada gerakan Muhammadiyah. Sebab 48 Ken Budha Kusumandaru,. Karl Marx, Revolusi dan Sosialisme. Yogyakarta: Resit Book, 2003 49 Michel Foucault, Power/Knowledge: Selected Interview with Michel Foucault” (ed. By Colin Gordon), Pantheon: New York, 1980 50Tradisi sosial-keagamaan (manhaj dakwah) FPI yang saat ini digandrungi kativis Muhammadiyah adalah sweeping anti kemaksiatan yang cenderung keras dan kasar. Padahal model dakawah semacam ini tidak dikenal di Muhammadiyah, sebab dakwah Muhammadiyah lebih menekankan pada proses penyadaran. Lihat Haedar Nashir, Kristalisasi Ideologi dan Komitmen BerMuhammadiyah, 19. proses tersebut secara berlahan namun pasti akan merubah karakter ideologi dan manhaj dakwah Muhammadiyah. Proses konversi ideologi di kalangan aktifis Muhammadiyah mempunyai dua dampak yaitu dampak ideologis dan sosiologis: Pertama, dampak ideologis merupakan proses perubahan paradigma, pola pikir, cara pandang aktifis Muhammadiyah terhadap sistem dan karakter ideologi Muhammadiyah yang selama ini diyakininya. Dampak ideologis dari proses konversi ideologi tersebut sangat berbahaya bagi kelangsungan gerakan Muhammadiyah yang selama ini di kenal memiliki ideologi dakwah yang santun, moderat dan toleran berubah menjad karakter ideologi dakwah yang keras, radikal dan intoleran. Dampak ideologis dari proses konversi ideologi berakibat pada penggerusan (erosi) ideologi Muhammadiyah. Proses erosi ideologi tersebut akan berdampak pada melemahnya komitemen bermuhammadiyah dan melemahnya militansi bermuhammadiyah. Menurut Haedar Nashir, bahwa kelahiran Muhammadiyah memiliki kertakitan dan persentuhan erat dengan ideologi, yaitu ide-ide dan cita-cita tentang masyarakat Islam oleh KH. Achmad Dahlan yang kemudian pada giliranya membentuk alam pikiran dan cara pandang (world view) Muhammadiyah.51 Cita-cita ini yang akan tergerus diganti dengan cita-cita ideologi yang lain (FPI). Kedua, dampak sosiologis merupakan proses perubahan pola prilaku, interaksi sosial-keagamaan aktifis Muhammadiyah yang aktif di FPI terhadap sistem dan tradisi sosial-keagamaan Muhammadiyah. Dampak sosiologis dari proses konversi ideologi sangat berbahaya bagi kelangsungan gerakan Muhammadiyah yang selama ini dikenal memiliki sistem dan tradisi sosial-keagamaan yang mapan dan baik. Dan memiliki kaderkader dakwah yang militin dalam memperjuangankan Muhammadiyah di masyarakat. Dampak sosiologis dari proses konversi ideologi tersebut dapat di gambarkan sebagai berikut: a) mengganggu program kerja dakwah Muhammadiyah, b) mengganggu sistem kerja organisasi Muhammadiyah terutama pada sistem kerja Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), c) mencederai tradisi sosial-keagamaan persyarikatan Muhammadiyah yang sudah mempunyai tradisi sendiri. Selain berdampak pada internal gerakan Muhammadiyah, fenomena konversi ideologi dikalangan aktifis Muhammadiyah juga berdampak terhadap wajah geraka Islam di Indonesia. Implikasi tersebut berlahan tapi pasti akan merubah wajah gerakan dakwah Muhammadiyah yang dikenal sebagai organisasi Islam yang moderat, toleran, santun dan cinta damai berubah wajah menjadi gerakan yang keras, radikal, fundamental, dan intoleran.52 Wajah dakwah sebuah organisasi adalah tergantung dari paradigma (ideologi) para pengurusnya. Artinya paradigma-ideologi seseorang akan mempengaruhi prilaku sosial yang ditampilkan, apabila paradigma-ideologi keagamaan yang dipahami cenderung tekstual, formalitas, radikal dan fundamental maka tampilan dari prilaku sosial keagamaanya juga seperti itu kaku, keras, radikal dan intoleran dan begitu juga sebaliknya. Apabila ideologi keagamaan toleran, moderat, cinta damai maka prilaku sosial-keagamaan yang ditampilkan juga toleran, santun, moderat dan cinta damai. Perebuhan wajah dakwah Muhammadiyah pada gilirannya akan mempengaruhi wajah gerakan Islam di Indonesia. Implikasi tersebut sangat mungkin terjadi sebab Muhammadiyah dan NU merupakan salah satu presentasi atau (barometer) gerakan Islam di Indonesia. Artinya wajah gerakan Islam di Indonesia tergantung dari wajah gerakan dari organisasi-organsasi Islam besar yang ada di Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah. 51Haedar Nashir, Kristalisasi Ideologi, 19. 52Untuk lebih jelas tentang ideologi Muhammadiyah, baca Haedar Nashir, Kristalisasi Ideologi, 7, Deni Al As’ari, Selamatkan Muhammadiyah, 9. Gerakan Islam Indonesia lebih dikenal sangat moderat, santun, toleran dan menghargai tradisi lokal berubah wajah menjadi gerakan Islam Indonesia yang radikal, keras, fundamental dan anti tradisi lokal (arabisme). D. Kesimpulan Berdasarkan potret di atas maka diperlukan refleksi gerakan untuk membentengi ideologi Muhammadiayah dari rongrongan ideologi gerakan radikal Islam. Refleksi tersebut harus berorientasi masa depan dan berangkat dari permasalahan yang terjadi dan tantangan problematika dunia global-kontemporer umat Muslim. Kedepan Muhammadiyah harus melakukan: Pertama, Resoliditasi gerakan yaitu “merapatkan-melurusakan” shoff warga Muhammadiyah yang sering “renggang-berbelok”. Seiring berkembang dan besarnya organisasi Muhammadiyah maka sering terjadi konflik kepentingan untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan (jabatan Kepala Sekolah, Rektor, Direktur RSM, Pergantian Ketua Persyarikatan, dll), baik secara samar mapun terbuka. Konflik tersebut cenderung melemahkan ideologi dan militansi ber-Muhammadiyah. Ketika asyik berkonflik menjadikan kita kurang waspada terhadap infiltrasi atau transformasi ideologi lain ke Muhammadiyah. Situasi ini yang mendorong percepatan proses konversi ideologi di Muhammadiyah, maka kedapan saya kira perlu resoliditasi gerakan di internal Muhammadiyah. Kedua, Rekontekstualisasi gerakan, yaitu melakukan progresifitas gerakan Muhammadiyah dengan melakukan rekonstruksi paradigma dan metodologi gerakan Muhammadiyah dalam menghadapi problematika dunia kontemporer-global. Perkembangan pemikiran dan gerakan di Dunia Muslim kontemporer memberikan pengaruh luar biasa bagi perkembangan gerakan Islam di Indonesia (Baca:termasuk Muhammadiyah). Sementara kita masih menggunakan paradigma dan metodologi lama dalam melihat realitas problematika masyarakat Muslim, sehingga tidak heran kita terkesan gagap menghadapinya. Transnasionalisasi ideologi Islam merupakan salah satu wacana yang menjadi pusat perhatian dunia Muslim kontemporer. Wacana ini mendorong Pan-Islamisme ideologi gerakan Umat Islam pada satu ideologi politik “Dawlah Islamiyah” dengan system Khilafah Islamiyah. Namun terkadang metode yang digunakan dengan cara-cara radikal dan kekerasan. Wacana inipun tak lepas telah merasuki ke tubuh Muhammadiyah, maka kedepan perlu kiranya dilakukan untuk rekontekstualiasi gerakan Muhammadiyah agar warga Muhammadiyah tidak merasa terasing dan gagap dengan dunia luar. Ketiga, Pribumisasi gerakan adalah mengembalikan posisi awal Muhammadiyah yang lebih peka, peduli, dan welas asih terhadap probelematika para warganya, terutama pada kalangan anak muda dan kelompok termarginalkan. Muhammadiyah terkesan kurang memperhatikan kebutahan dan persoalan yang dihadapi para anak muda. Mereka merasa sudah tidak nyaman beraktivitas di Muhammadiyah. Anak muda ini merasa para elite-elite Muhammadiyah lebih sibuk mengurus Amal Usaha daripada merawat “ngaramut” para jama’ahnya, sehingga, mereka mencari gerakan alternative. Hal itu dilakukan oleh mereka, karena bagi mereka merasa “teropeni” dan diperhatikan kebuthan dan persoalanya oleh gerakan alternative. Selain itu, stigma ideolog “welas asih” Muhammadiyah yang dulu menjadi modal gerakan untuk mengembangkan dakwah Muhammadiyah hingga bertahan diusianya yang ke 100 tahun, mulai bergeser. Muhammadiyah saat ini terkesan “elitis-biokratis” dan cenderung “pragmatis-materialistik” dalam memahami Amal Usaha Muhammadiyah (Rumah Sakit, Sekolahan, Perguruan Tinggi), sehingga kelempok Marginal atau “Mustdha’afin” semakin menjauh karena tidak mampu menggapainya “melangit”. Padahal mereka inilah awal dari sasaran dakwah Muhammadiyah, yang menjadikan Muhammadiyah bisa berjaya hingga saat ini. Maka ke dapan saya kira perlu ada pribumisasi gerakan Muhammadiyah dengan tetap memegang teguh teologi al-Ma’un. Daftar Pustaka Abou El Fadl, Khaled. Selamatkan Islam dari Muslim Puritan (terj), penerjemah Helmi Musthofa (Jakarta: Serambi, 2006) Adams, Ian. Ideologi Politik. Yogyakarta: Qalam, 2004 Al As’ary, Deni. Selamatkan Muhammadiyah: Agenda Mendesak. Yogyakarta: Kibar Press,2009 Al-Jabiri, Muhammad Abid. Agama, Negara dan Penerapan Syariah. Yogyakarta:Pustaka, 2001 Al-Symawi, Muhammad Said, Al-Islam Al-Siyasi, Kairo: Sina li al-Nasyr, 1987 Al Zastrow, Ng. Gerakan Islam Simbolik Politik Kepentingan FPI. Yogyakarta: LKiS, 2006 Anam, Choirul. Pertumbuhan dan Perkembangan NU. Solo: Jatayu, 1985 Arifin, Syamsul, Ideologi Praksis Gerakan Sosial kaum fundamentalisme, Malang: UMM Press, 2005 Budha Kusumandaru, Ken. Karl Marx, Revolusi dan Sosialisme. Yogyakarta: Resit Book, 2003 Choueiri, Youssef M (terj). Islam Garis Keras: Melajak akar gerakan Fundamentalsime. Yogyakarta: Qonun Press, 2003 Delong-Bas, Natana J, Wahhabi Islam: From Revival and Reform Global Jihad, London: Oxford University Press, tt Esposito, John L, The Islamic Threat Myth or Reality, Oxford: Oxford University Press, 1992 Fealy, Greg. Jejak Khalifah: pengaruh Radikalisme Timur Tengah di Indonesia Bandung: Mizan, 2005 Hadjid, KRH., Pelajaran KH. Ahmad Dahlan: 7 falsafah Ajaran dan 17 Kelompok Ayat Al Qur’an, Yogyakarta: LPI PP Muhammadiyah, 2008 Huda, Miftachul, Ikhwanul Muhammadiyah, Yogyakarta: Suara Muhammadiyah dan Kibar Press, 2007 Hunter, Shireen T, Politik Kebangkitan Islam Keragaman dan Kesatuan (terj), Ajat Sudrajat, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001 Jahroni, Jajang, Gerakan Salafi Radikal di Indonesia, Jakarta: Rajawali Press, 2004 Mulkhan, Abdul Munir, Islam Murni dalam Masyarakat Petani Bentang: Yogyakarta, 2000). Nashir, Haidar, Gerakan Islam Syariat, Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia, Jakarta: PSAP, 2007 ____________,Kristalisasi Ideologi Muhammadiyah dan Komitmen BerMuhammmadiyah, Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2007 Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dakwah Kultural Muhammadiyah, Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2005 Rahman, Fazlur, Gelombang Perubahan dalam Islam: Studi Fundamentalisme Islam (ter), Aam Fahmia, Jakarta: Rajawali Press, 2001 Rahmat, Imdadun. Arus Baru Islam Radika: Transmisi Revivalisme Islam Timur Tengah ke Indonesia, Jakarta: Erlangga, 2005 Rizieq Syihab, Muhammad. Dialog FPI: Amar Maruf Nahi Mungkar. Jakarta: Pustaka Ibnu Sida, 2004 Roy, Oliver, The Failure of Political Islam, London: I.B Tauris&Co.Ltd, 1994 Rosadi, Andri. Hitam-Putih FPI (Mengungkap Rahasia-rahasia Mencengangkan Ormas Keagamaan Paling Kontroversial. Jakarta: Nun Publisher, 2008 Sumaji, Ma’in Abd. Mengembalikan Gerakan: Sejarah IMM Lamongan 1985-2006. Lamongan: IMM Cabang Lamogan, 2006 Syam, Nur. Islam Pesisir. Yogyakarta: LKiS, 2004 Syuhadi, Fathurrohim. “Laporan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Muhammadiyah Kabupaten Lamongan. Lamongan: Naskah, 2004 ___________________. Mengenang Perjuangan: Sejarah Muhammadiyah Lamongan. Surabaya: Java Pustaka, 2006 Jurnal Ach. Muzakki, “Importasi dan Lokalisasi Ideologi Islam: Ekspansi Gerakan Islam Pinggiran Pasca Soeharto”, Jurnal MAARIF, Vol. 2, No.4, Juni 2007 Zuly Qadir “Gerakan salafi Radikal dalam Konteks Islam Indonesia”, Jurnal Islamica, Vol.3, No.1, September 2008, 2.

6 Komentar

Awal Mula Para Raja Nusantara

KISAH AWAL MULA DAN SILSILAH LELUHUR PARA RAJA NUSANTARA

Marilah kita lanjutkan cerita tentang leluhur bangsa Nusantara yang telah saya jelaskan dalam Kisah Zaman Awal Peradaban Bangsa Bumi. Dalam kisah sebelumnya telah dijelaskan bahwa zaman Dwapara Yuga (diperkirakan terjadi pada tahun 8.984 SM), ditandai dengan kelahiran Sang Avatar Sri Krishna. Pada zaman itu, dikisahkan terdapat sebuah bangsa besar bernama bangsa Bharatadengan kerajaannya bernama Hastina (diceritakan dalam kitab Mahabharata). Wilayah kerajaan Hastina diperkirakan mencakup wilayah India sebagai pusat kerajaannya, dan membentang luas hingga ke wilayah Nusantara (sekarang).

Dalam perkembangannya, kerajaan Hastina ini terpecah menjadi dua, akibat pertikaian antara para Kurawa dan para Pandawa yang masih bersaudara. Pihak Pandawa yang seharusnya menjadi pewaris tahta kerajaan Hastina, diperdaya oleh pihak Kurawa (dengan akal licik Patih Sengkuni), sehingga mereka hanya mendapatkan hak kekuasaan atas tanah yang sebagian besar wilayahnya merupakan hutan belantara (dikenal sebagai hutan Kandawa). Nah, tanah hutan belantara yang diserahkan kepada pihak Pandawa inilah yang selanjutnya dibangun oleh pihak Pandawa menjadi sebuah kerajaan besar, makmur dan berperadaban tinggi bernama Indraprasta, dimana wilayahnya berlokasi di Nusantara (sekarang). Diduga kerajaan Hastina dan Indraprasta inilah yang oleh Plato disebut sebagainegara Atlantis sebagaimana yang dijelaskan pada catatannya sebagai berikut:

“Negeri Atlantis dikelilingi oleh pegunungan, dan lebih tinggi dari permukaan laut. Mengandung gunung berapi, dan sering terkena gempa dan banjir. Gunungnya mengandung emas, perak, tembaga, dan timah, dan gabungan alami dari emas dan tembaga yang disebut orichalcum”.

Namun sayangnya kerajaan Hastina dan Indraprasta yang makmur dan beperadaban tinggi tidak berlangsung lama karena terjadi perang Bharata Yudha, antara pihak Pandawa (kerajaan Indraprasta) dan pihak Kurawa (kerajaan Hastina) yang melibatkan senjata berteknologi tinggi (senjata sejenis nuklir). Paska Perang Baharata Yudha, baik kerajaan Hastina maupun Indraprasta kedua-duanya mengalami kerusakan yang parah akibat penggunaan senjata pemusnah massal, dan paparan debu radio aktif yang telah membinasakan sebagian penduduknya dalam area yang luas.

Paska Perang Bharata Yudha,  kerajaan Hastina dan Indraprasta selanjutnya disatukan di bawah kekuasaan Pandawa sebagai pihak pemenang, dengan pusat kerajaannya di Indraprasta (Nusantara). Pandawa bersama sesepuh bangsa Bharata juga memutuskan untuk menghancurkan segala jenis senjata pemusnah massal dan tidak lagi mengembangkan iptek, karena menyadari akibatnya yang berujung pada peperangan. 

Paska perang Bharata Yudha, dikisahkan Prabu Yudistira (Pandawa) tidak lama memerintah di kerajaan Hastina dan Indraprasta, karena mereka memutuskan untuk mundur (mandeg pandito), dan menyerahkan tahta kerajaan kepada Parikesit (cucu Arjuna). Setelah Prabu Parikesit, kerajaan Hastina dan Indraprasta masih berlangsung selama 3 (tiga) generasi lagi, yakni: Prabu Yudayana, Prabu Yudayaka, dan Prabu Gendrayana sebagai raja terakhir (diperkirakan terjadi sekitar 8.900-8.800 SM). 

Pada masa pemerintahan Prabu Gendrayana inilah terjadi peristiwa gempa bumi dan letusan gunung berapi yang dahsyat, sehingga mengakibatkan tsunami dan banjir besar yang menenggelamkan pusat kerajaannya di Indraprasta (Nusantara). (diperkirakan terjadi sekitar 8.800 SM). Peristiwa banjir besar ini diperkirakan dipicu juga oleh terjadinya pemanasan global dampak Perang Bharata Yudha, yang menyebabkan pencairan es di Kutub Utara dan Selatan, atau disebut oleh para ilmuwan sebagai periode akhir zaman Es, dan mengakibatkan kenaikan muka air laut setinggi lebih dari 100 m. Pusat kerajaan Indraprasta (Atlantis) diperkirakan berlokasi di sekitar Laut Jawa dan selat Karimata, dan sebagian lagi berpendapat berlokasi di Selatan Pulau Bali.

Dalam catatannya Plato mengisahkan “Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam”.

Dalam peristiwa ini, pusat peradaban bangsa Atlantis di Nusantara, berikut bangunan-bangunan berteknologi tinggi tenggelam ke bawah permukaan air laut. Sedangkan bangunan berteknologi tinggi lainnya yang tersisa pada wilayah daratan, sejalan dengan waktu, dan akibat bencana letusan gunung berapi yang kerapkali terjadi di wilayah Nusantara, menjadi ikut terkubur di bawah permukaan tanah. Dalam hal ini, Bangunan situs Gunung Padang, di Cianjur diduga merupakan salah satu bangunan yang tersisa dari peradaban Atlantis (Bangunan ini  diperkirakan berusia 10.000 tahun).

Sebagian besar penduduk kerajaan Atlantis (di Nusantara) mengungsi/eksodus dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Penduduk Atlantis yang eksodus ini selanjutnya menjadi cikal bakal dari perkembangan budaya dan iptek yang ada di wilayah Mesopotamia/Sumeria (5.500-2.500 SM), Mesir Kuno (3.150 SM), India Kuno (2.800-1.800 SM), yang oleh sebagian para ilmuwan sebagai kebudayaan tertua di dunia. Adapun sisa-sisa penduduk Atlantis yang masih bertahan di wilayah Nusantara, menyebar menuju wilayah daratan (pulau-pulau) yang tidak tenggelam, dan saat ini dikenal sebagai Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dll.

Kisah selanjutnya, yang mungkin masih menjadi tanda tanya dari pembaca adalahperihal awal dari munculnya kembali kerajaan di Nusantara.

Berdasarkan beberapa narasumber menyatakan bahwa sejak periode 8.800 SM hingga sekitar 5.000 SM, belum ada sebuah kerajaan yang muncul di wilayah Nusantara.Periode selama sekitar 3.800 tahun ini disebutkan sebagai masa perenungan dari sisa-sisa bangsa Atlantis di Nusantara. Mereka bepegang teguh untuk tidak lagi mengembangkan iptek dan berpedoman hidup untuk selaras dengan alam, atau dalam istilah sekarang dikenal sebagai “Back to nature”serta berfokus pada pendekatan diri kepada Tuhan YME (spiritual).

Kemudian pada periode tahun 5.000 SM, dikisahkan muncul kembali raja pertama di Nusantara bernama Sang Hyang Watu Gunung Ratu Agung Manik Maya, dengan pusat kerajaannya di daerah yang saat ini disebut dengan Parahyangan. Adapun arti kata Parahyangan sendiri terdapat beberapa penafsiran, pertama yaitu Pa = tempat; Ra = Cahaya (Sinar); Hyang = Tuhan; kedua yaitu Pa berasal dari singkatan nama Parikesit cucu dari Arjuna; RaHyang = Raja pandita (raja yang juga merupakan Guru Spiritual).Disebutkan bahwa Sang Hyang Watu Gunung Ratu Agung Manik Maya adalah turunan ke-55 dari Prabu Gendrayana (buyut dari Prabu Parikesit).

Sang Hyang Watu Gunung Ratu Agung Manik Maya selanjutnya berputra Maha Ratu Resi Prabu Sindhu LaHyang. Prabu Sindhu inilah yang menyebarkan ajaran SUNDAYANA (ajaran dari Sang Avatar Sri Krishna) hingga menjadi agama utama di seluruh kerajaan Nusantara. Beberapa narasumber menyatakan bahwa Prabu Sindhu disamping sebagai raja, beliau juga seorang Guru Spiritual (Ratu Pandita), dan ada juga yang menyebutkan bahwa beliau adalah nabi yang diutus Tuhan YME. Ajaran Prabu Sindhu (SUNDAYANA) hingga saat ini sebagian masih melekat pada ajaran/agama asli leluhur Nusantara (sebelum kedatangan agama Hindu dari India), antara lain: ajaran Sunda Wiwitan, Kejawen, Hindu Bali, serta beberapa aliran kepercayaan yang ada di Pulau Jawa, Bali, dan wilayah lainnya di Nusantara.

Tidak hanya di Nusantara, Prabu Sindhu juga menyebarkan ajaran SUNDAYANA hingga ke negeri Jepang, dan ajarannya diberi nama Sinto, kemudian juga ke India dengan nama ajaran Shindu dan kemudian berganti nama menjadi Hindu. Dengan demikian terdapat kekeliruan sejarah yang selama ini diajarkan di sekolah, bahwa sesungguhnya asal dari agama Hindu bukan dari India, melainkan dari negeri kita ini (Nusantara). Oleh karena itulah, agama Hindu yang ada di Indonesia (misal Hindu Bali) tidak sama dengan agama Hindu yang ada di India. Demikian juga apa yang disebut sebagai agama Hindu yang banyak dianut masyarakat pada zaman kerajaan-kerajaan Nusantara dulu tidak sama dengan agama Hindu yang ada di India.

Demikianlah kisah kerajaan di Nusantara pada tahun 5.000 SM hingga awal zaman Kaliyuga (224 SM). Sebagian berpendapat, bahwa bentuk kerajaan pada masa itu tidak sama dengan bentuk kerajaan secara umum. Karena kerajaan di Nusantara pada masa itu mirip sebagai padepokan atau pusat kegiatan pendidikan spiritual yang mendunia. Sebagai kerajaan yang dihormati oleh seluruh bangsa-bangsa dan raja-raja di seluruh dunia. Bahkan dikisahkan, bahwa semua raja di seluruh dunia perlu mendapat restu dan dilantik oleh raja Nusantara yang disebut sebagai Ratu Pandita. Dan ada yang menyebutkan bahwa tempat pelantikan para raja di seluruh dunia ini, berlokasi di situs Gunung Padang, Cianjur (saat ini)?

Selanjutnya pada awal zaman Kaliyuga, periode awal tahun Masehi dikisahkan lagi bahwa wilayah Nusantara dipimpin oleh seorang raja agung nan bijaksana bernama Prabu Angling Darma, yang dikenal juga oleh masyarakat Jawa Barat sebagai Aki Tirem Luhur Mulya. Beberapa narasumber kami menyatakan bahwa Prabu Angling Darma ini adalah turunan ke-70 dari Prabu Sindhu LaHyang. Dengan demikian, bila silsilahnya ditelusuri lebih jauh akan sampai ke Prabu Gendrayana (buyut Prabu Parikesit).

Hal yang unik adalah perihal makam Prabu Angling Darma yang diakui berada di 4 (empat) lokasi, yaitu: di Cihunjuran (Banten), Sumedang (Jawa Barat), Pati (Jawa Tengah), Bojonegara (Jawa Timur). Bila kita mengacu pada kisah sebelumnya, bahwa pusat kerajaan Nusantara yang dipimpin oleh Prabu Sindhu berlokasi di daerah Parahyangan, maka silakan pembaca memperkirakan sendiri dimana lokasi sebenarnya dari makam Prabu Angling Darma!!!. Terdapatnya pengakuan dan cerita masyarakat di Pulau Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa) tentang Prabu Angling Darma, menunjukkan bahwa sesungguhnya wilayah kekuasaan Prabu Angling Darma atau Aki Tirem paling tidak meliputi wilayah seluruh Pulau Jawa, bahkan mungkin meliputi seluruh wilayah Nusantara, karena beliau adalah generasi penerus dari Prabu Sindhu yang merupakan Ratu Pandita yang dihormati oleh para raja di seluruh dunia. 

Sebagai generasi penerus Prabu Sindhu, diperkirakan Prabu Angling Darma juga merupakan seorang Ratu Pandita (raja sekaligus pimpinan spiritual), sehingga bentuk kerajaannya tidak sama dengan kerajaan secara umum, namun lebih mirip sebagai padepokan atau pusat kegiatan pendidikan spiritual. Oleh karena itulah, dalam Naskah Wangsakerta, Aki Tirem atau Prabu Angling Darma tidak disebut sebagai raja, namun disebut sebagai Penghulu.  

Pada masa pemerintahan Prabu Angling Darma inilah dimulai berdirinya kerajaan pertama di Nusantara (dalam arti bentuk kerajaan secara umum) bernama Salakanagara. Dalam Naskah Wangsakerta, disebutkan bahwa Salakanagara merupakaan kerajaan tertua di Nusantara, yang berdiri tahun 130/131 M dengan raja pertamanya bernama Dewawarman I, dan pusat kerajaannya (ibu kota) di Rajatapura yang terletak di pesisir Barat Pandeglang (saat ini). Dikisahkan bahwa Dewawarman adalah duta keliling, pedagang sekaligus perantau dari Pallawa, Bharata (India) yang akhirnya menetap karena menikah dengan puteri penghulu setempat bernama Aki Tirem Luhur Mulia atau yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Angling Dharma dalam nama Hindu dan Wali Jangkung dalam nama Islam.

Kerajaan Salakanagara disebutkan dalam catatan Cina sebagai kerajaan Koying yang ditulis oleh K’ang-tai dan Wan-chen dari wangsa Wu (222-208) tentang adanya negeri Koying. Tentang negeri ini juga dimuat dalam ensiklopedi T’ung-tien yang ditulis oleh Tu-yu (375-812) dan disalin oleh Ma-tu-an-lin dalam ensiklopedi Wen-hsien-t’ung-k’ao. Diterangkan bahwa di kerajaan Koying terdapat gunung api dan kedudukannya 5.000 li di timur Chu-po. Di utara Koying ada gunung api dan di sebelah selatannya ada sebuah teluk bernama Wen. Dalam teluk itu ada pulau bernama P’u-lei atau Pulau. 

Gambaran tentang kerajaan Koying ini dalam catatan Cina sama dengan kondisi ibukota kerajaan Salakanagara, yaitu Rajataputra. Penamaan Koying dalam catatan Cina diduga merupakan singkatan dari Ka dan Yin. Ka = gunung Karang (di daerah Pandeglang); Yin = sebelah selatan lereng gunung. Contoh: Huayin, artinya di sebelah utara/selatan gunung Hua. Dan memang Rajataputra ibukota Salakanagara terletak pada lereng selatan gunung Karang (di daerah Pandeglang dan merupakan gunung berapi). Baca perihal penggunaan nama Yin pada suatu tempat di https://id.wikipedia.org/wiki/Yin_dan_Yang.

Hal yang masih menjadi pertanyaan adalah siapakah sebenarnya Dewawarman I yang disebutkan dalam Naskah Wangsakerta?Beberapa narasumber kami menyatakan bahwa beliau tidak lain adalah Aji Saka yang juga dikenal dan banyak diceritakan oleh masyarakat baik di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, maupun Jawa Timur. Adapun yang masih rancu dalam sejarah adalah perihal silsilah Prabu Angling Darma yang disebutkan sebagai putra dari Prabu Jayabaya (Kerajaan Kediri). Bagaimana mungkin Prabu Jayabaya yang lahir tahun 1.135 M wafat tahun 1.179 M, melahirkan anak yang lahir pada periode sekitar awal tahun masehi ? 

Bagaimanapun perihal silsilah Prabu Jayabaya yang menyebutkan beliau adalah keturunan Prabu Gendrayana (buyut Prabu Parikesit) mungkin ada benarnya. Karena sesungguhnya semua raja di Nusantara, termasuk Prabu Jayabaya adalah keturunan dari Dewi Pwahacaci Larasati (putri Prabu Angling Darma), keturunan dari Prabu Sindhu La Hyang, dan keturunan dari  Prabu Gendrayana (buyut Prabu Parikesit), dan juga keturunan dari Aji Saka (Dewawarman I) atau menantu Prabu Angling Darma yang menjadi raja pertama kerajaan Salakanagara. 

Hal yang selanjutnya mungkin menjadi pertanyaan pembaca adalah siapakah sesungguhnya Aji Saka? Mengapa Prabu Angling Darma yang sudah memiliki kekuasaaan luas di pulau Jawa bersedia menikahkan putrinya Dewi Pwahaci Larasati kepada seorang pendatang yang hanya seorang pedagang/perantau dari negeri Pallawa, dan menjadikannya raja Salakanagara?

Beberapa narasumber kami menyatakan, bahwa ini disebabkan oleh masih adanya kekerabatan (tali persaudaraan) antara Aji Saka dengan Prabu Angling Darma. Bila dirunut jauh silsilah dari Aji Saka sesungguhnya adalah turunan dari Nabi Ishak a.s. bin Nabi Ibrahim a.s. Lihat juga https://kanzunqalam.com/2011/05/09/legenda-ajisaka-mengungkap-zuriat-nabi-ishaq-di-nusantara/

Saka sering disebutkan juga sebaga bangsa Scythian atau Sacae, yang merupakan keturunan dari 10 suku Israel yang hilang. Sebagaimana sumber yang dikutip sebagai berikut:

“Nama Abraham dan Ishak akan terus disebut dimanapun mereka bermukim, Brahman dan Saka misalnya. Hal Ini juga tercantum dalam Injil Perjanjian Lama, bahwa keturunan Abraham akan terindikasi dari keturunan (=nama) Ishak (Kejadian 21:12) …..nama nenek dan bapaku, Abraham dan Ishak, termasyhur oleh karena mereka dan sehingga mereka bertambah-tambah menjadi jumlah yang besar di bumi. (Kejadian 48:16)”.

Demikianlah, sesungguhnya Aji Saka adalah turunan langsung dari Nabi Ishak a.s. bin Nabi Ibrahim a.s. yang menetap di negara Pallawa (Bharata) India.

Pertanyaan selanjutnya, lantas apa hubungan tali persaudaraan Prabu Angling Darma dengan Aji Saka?

Masih berdasarkan narasumber yang sama menyatakan, bahwa paska tengelamnya pusat Kerajaan Hastina dan Idraprasta (di Nusantara), salah seorang putera dari Prabu Gendrayana ada yang ikut mengungsi (eksodus) ke wilayah Mesopotamia/ Summeria dan menjadi leluhur dari Nabi Ibrahim a.s. Hal ini adalah sesuai dengan catatan saya tentang Sejarah Agama (Bagian-2) yang menyatakan bahwa kebudayaan Sumeria yang merupakan evolusi dari kebudayaan Samarra berasal dari Nusantara (penduduk Nusantara/ Atlantis yang eksodus). Hal ini diperkuat dengan adanya beberapa temuan dan hasil penelitian yang ada.

Dalam catatan saya tentang Sejarah Agama (bagian-2) juga disebutkan bahwa leluhur Nabi Ibrahim a.s di wilayah Mesopotamia/Summeria pada awalnya beragama SUNDAYANA, yang merupakan ajaran monotheisme (percaya pada Tuhan YME) dan disebarkan oleh para murid Prabu Sindhu. Bukti peninggalan ajaran SUNDAYANA di Timur Tengah dapat dijumpai hingga saat ini dalam bentuk Kuil dan bangunan-bangunan suci yang bercirikan simbol Matahari dan Bulan (Surya dan Chandra). Namun seiring dengan perjalanan waktu (dari periode zaman Prabu Sindhu sekitar tahun 5.000 SM hingga tahun kelahiran Nabi Ibrahim a.s yaitu sekitar tahun 1.997 SM) atau dalam rentang waktu sekitar 3.000 tahun, agama SUNDAYANA ini telah banyak menyimpang. Masyarakat Mesopotamia/ Summeria pada zaman Nabi Ibrahim a.s. percaya kepada banyak Dewa, dan menyembah berhala seperti dijelaskan dalam kitab suci Al Qur’an.

Hingga akhirnya Tuhan YME mengutus Rasul-Nya Nabi Ibrahim a.s. untuk mengembalikan ajaran yang lurus dan bersumber langsung dari Tuhan YME. Kisah tentang Nabi Ibrahim a.s dapat dibaca dalam Kitab Suci Al Qur’an dan Kitab Injil (Perjanjian Lama). Selanjutnya, dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim a.s berputra Nabi Ishak a.s. dan Nabi Ismail a.s. Nabi Ishak a.s. berputra Nabi Yakub a.s., dan Nabi Yakub a.s berputra 12 (dua belas) orang, salah satunya adalah Nabi Yusuf a.s.

Dari putra Nabi Yakub a.s ini selanjutnya menurunkan bangsa/bani Israel dan membentuk negara Israel, yang pada awalnya terdiri dari 12 (dua belas) suku, sesuai jumlah putra dari Nabi Yakub a.s. Seiring dengan perjalanan waktu, selanjutnya negara Israel ini pecah menjadi 2 (dua) bagian, yaitu negara Israel Utara (keturunan dari 10 suku bani Israel, termasuk turunan dari Nabi Yusuf a.s.), dan negara Israel Selatan (keturunan dari 2 suku bani Israel, yakni Yehuda dan Benyamin, dan dikenal juga sebagai orang Yahudi).

Negara Israel Utara selanjutnya diserbu oleh kerajaan Asyur, sebagian penduduknya diangkut sebagai tawanan, dan sebagian lagi mengungsi menyebar ke wilayah negara di sekitarnya. 10 suku yang berasal dari negara Israel Utara inilah selanjutnya yang disebut sebagai suku Israel yang hilang, karena keberadaanya sudah sulit diketahui lagi. Adapun kerajaan Israel Selatan juga hancur diserbu oleh kerajaan Babel. Semua penduduknya ditawan, namun mereka masih tetap bersatu sehingga keberadaannya mudah dilacak/ diketahui, dan saat ini dikenal sebagai orang Yahudi.

Adapun Aji Saka yang dikisahkan merupakan seorang pedagang/perantau dari Pallawa (India) adalah keturunan dari 10 suku bangsa Israel yang eksodus dan kemudian menetap di daerah Pallawa (India). Dengan demikian, bila dirunut silsilahnya Aji Saka adalah keturunan dari Nabi Ibrahim a.s. dan bila dirunut lebih jauh lagi, akan berujung pada Prabu Gendrayana (buyut Prabu Parikesit). Artinya, memang masih ada tali persaudaraan antara Aji Saka (Prabu Dewawarman I) dengan Prabu Angling Darma atau Aki Tirem, karena keduanya adalah turunan dari Prabu Gendrayana.

Hal inilah yang membuat Prabu Angling Darma yang merupakan penguasa kerajaan Nusantara ketika itu, mempercayai Aji Saka untuk menikahi putrinya Dewi Pwahaci Larasati, dan menjadikannya raja di Nusantara, yang kerajaannya diberi nama Salakanagara. Adapun penamaan Salakanagara sendiri sebenarnya merupakan singkatan dari nama Prabu Sindhu LaHyang yang merupakan leluhur dari Prabu Angling Darma, dan Saka (zuriyat/keturunan Nabi Ishak a.s).

Dari semua penjelasan di atas maka dapat disimpulkan, bahwa Aji Saka atau Dewawarman I yang disebutkan dalam naskah Wangsakerta sebagai raja pertama kerajaan Salakanagara, serta Prabu Angling Darma atau Aki Tirem adalah leluhur dari semua raja di Nusantara. Aji Saka lah yang menurunkan para raja dinasti Warman (Purnawarman di kerajaan Tarumanagara dan Mulawarman di kerajaan Kutai), dan selanjutnya menurunkan para raja di Nusantara (termasuk raja Sriwijaya dan Majapahit). Secara lengkap kisah para raja sejak Dinasti Warman hingga periode Mataram Islam dapat dibaca dalam buku sejarah, atau dalam catatan saya berjudul “Sejarah dan Silsilah Kemaharajaan Sunda Nusantara”.

Demikianlah, kisah awal mula dan silsilah dari leluhur para raja di Nusantara. Semoga kisah ini dapat bermanfaat bagi seluruh masyarakat Nusantara untuk lebih mengenal jatidiri bangsa ini yang merupakan bangsa yang besar. Karena dari negara kita inilah semua peradaban dunia bermula, termasuk para Nabi dan Rasul bila dirunut silsilahnya akan kembali ke tanah leluhurnya, yakni di bumi Nusantara ini.

Marilah kita sama-sama untuk mengembalikan kejayaan bangsa kita. Janganlah kita menjadi bangsa yang bodoh (belegug) yang mudah dipengaruhi oleh doktrin-doktrin agama yang memecah belah kerukunan bangsa. Ingatlah, bahwa pada dasarnya semua agama adalah satu !!!, karena bersumber pada Tuhan yang satu. Adapun yang membuat adanya perbedaan, adalah karena faktor manusianya yang salah mengartikan dan memahami ajaran agama yang disampaikan oleh para Nabi/Rasul Allah, dan para Avatar.

Sebagai acuan bagi para pembaca, bahwa untuk membedakan atau mengenal ajaran mana yang sesungguhnya bersumber dari Tuhan YME, hanya satu kuncinya, yaitu pastilah ajaran tersebut memiliki prinsip dasar Kasih Sayang !!!. Oleh karena itulah, dalam setiap surah dalam kitab suci Al Qur’an selalu diawali dengan kalimat “Bismillahirrohmanirrohim”, yang artinya “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”. Dengan demikian, bila ada pimpinan agama/ulama/pendeta yang menganjurkan kebencian atau permusuhan, dapat dipastikan itu adalah doktrin, dan bukan merupakan ajaran sesunguhnya yang bersumber dari Tuhan YME.

Pada masa lalu, doktrin ini sengaja dimasukkan oleh para pimpinan agama atau para penguasa, yang disebut sebagai ayat-ayat atau hadis-hadis palsu. Mereka juga, mencampur adukkan antara ayat satu dengan ayat lainnya sehingga penafsirannya mennjadi berbeda dengan makna awalnya, bahkan menjadi membingungkan bagi para pembacanya. Mereka sengaja memasukan doktrin tersebut, agar umatnya merasa bahwa ada ancaman terhadap agama mereka, atau dalam istilah politik dikenal sebagai menciptakan “musuh bersama”. Pada gilirannya doktrin ini menjadi alat para penguasa atau pimpinan agama untuk mengumpulkan dana/sumbangan dari masyarakat (umat beragama) yang digunakan untuk melanggengkan kekuasaanya, dan bahkan digunakan untuk membiayai peperangan dalam rangka memperluas wilayah kekuasaannya.

Bila kita mau berfikir jernih, marilah kita renungkan beberapa pertanyaan berikut:

Apakah mungkin ada ancaman terhadap agama yang sesungguhnya bersumber dari Tuhan YME dan mengajarkan tentang Kasih Sayang???

Apakah benar Tuhan Yang Maha Maha Besar dan Maha Maha Kuasa perlu dibela??? Sementara kita ini hanya sebutir debu yang tidak berarti di hadapan-Nya.

Apakah para Waliyullah di Nusantara zaman dahulu menyebarkan agama Islam melalui peperangan. Jelas tidak!!! Mereka berdakwah dengan mengajarkan perilaku ahlak mulia yang berlandaskan Kasih Sayang.

Bila anda seorang beragama Kristen, kemudian anda diancam akan dipukuli agar berpindah agama menjadi Islam. Apakah anda bersedia pindah agama??? Bila anda merasa tidak takut, jelas akan mengatakan tidak,. Sedangkan bila anda merasa takut disakiti, mungkin saja anda mengatakan bersedia. Namun bersedia sebatas hanya di mulut saja, sedangkan di hati jelas mengatakan tidak. Karena agama adalah masalah keyakinan yang adanya di hati. Dan tidak ada yang dapat menyentuh hati kita, melainkan hanya melalui Kasih Sayang, yang sumbernya berasal dari Tuhan YME sendiri.

Sebagai penutup, marilah kita dengarkan dan saksikan video berikut, agar dapat lebih merasakan kebesaran bangsa Nusantara kita yang tercinta.

http://faktasejarahprabsindhu.blogspot.com/2018/03/kisah-awal-mula-dan-silsilah-leluhur.html

Tinggalkan komentar

5 Nilai Moral Islam / 10 Perintah Tuhan

Lima Nilai Moral Islam dikenal pula sebagai Pancasila atau Sepuluh Perintah Tuhan versi Islam. Perintah-perintah ini tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-An’aam 6:150-153 di mana Allah menyebutnya sebagai Jalan yang Lurus (Shirathal Mustaqim ):

Tauhid (Nilai Pembebasan)

  1. Katakanlah: “Bawalah ke mari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwasanya Allah telah mengharamkan yang kamu haramkan ini.” Jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut (pula) menjadi saksi bersama mereka; dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka mempersekutukan Tuhan mereka. Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia,

Nikah (Nilai Keluarga)

  2. berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan
  3. janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan
  4. janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji (homoseks, seks bebas dan incest), baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan

Hayat (Nilai Kemanusiaan)

  5. janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).

Adil (Nilai Keadilan)

  6. Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.
  7. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya.
  8. Dan apabila kamu bersaksi, maka hendaklah kamu berlaku adil kendati pun dia adalah kerabat (mu), dan

Amanah (Nilai Kejujuran)

  9. penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat,
  10. dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.

Janji Allah termasuk yang disebutkan dalam QS Al-Qur’an surat 36:60 dan 9:111.

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.