Tinggalkan komentar

Tasawuf Ibnu Arabi

BAB III

PEMBAHASAN

by Muhammad Abdun Naja

  • Biografi Ibnu ‘Arabi
  • Riwayat Hidup

Ibnu ‘Arabi nama lengkap Ibnu ‘Arabi adalah Abu Bakar Ibnu Ali Muhyiddin al-Hatimi al-tha’I al Andalusia. Ada pula yang menyebutkan bahwa nama aslinya ialah Muhamad Bin Ali Ahmad Bin Abdullah. sedangkan nama Abu Bakar Abnu Ali Muhyidin atau al-Hatimi hanyalah nama gelar baginya, selanjutnya, ia populer dengan nama Ibnu ‘Arabi dan ada yang menulisnya Ibnu al-Arabi[1]. Muhammad Ibn ‘Ali Muhammad Ibnu ‘Arabi At-Tai Al-Hatimi, lahir di Murcia Spanyol bagian Utara lahir pada tanggal 27 Ramadhan 560 H (17 Agustus 1165 M) pada pemerintahan Muhammad Ibn Said Ibn’ Mardanisy. Ibnu ‘Arabi berasal dari keturunan Arab berasal dari keluarga yang soleh. ayahnya, menteri utama Ibn’ Mardanisy, jelas seorang tokoh terkenal dan berpengaruh di bidang politik dan pendidikan, keluarganya juga sangat religius, karena ketiga pamannya menjadi pengikut jalan sufi yang masyhur, dan ia sendiri digelari Muhyi al-Din (penghidup agama) dan al Syaikh al-Akbar (doktor maximus) karena gagasan-gagasannya yang besar terutama dalam bidang mistik[2].

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

Kajian Sejarah Konsep Bhineka Tunggal Ika Pancasila

Power Point Presentation

Contoh Rundown Kajian Sejarah Nusantara BTI, Bisa diaplikasikan di mana saja kapan saja selayaknya.

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

Proposal Program Pembangunan National Character Buliding dan Revitalisasi Falsafah Ideologi Pancasila dan Asas Kebangsaan Bhineka Tunggal Ika

Bismillahi al-Rahman al-Rahim, Atas Berkah Rahmat Karunia Allah:

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

REVOLUSI MENTAL PANCASILA Berdasarkan WARISAN KEARIFAN PERENNIAL NUSANTARA DAN DUNIA

Sinopsis Buku

REVOLUSI MENTAL PANCASILA

 WARISAN KEARIFAN PERENNIAL NUSANTARA  DAN DUNIA

 

Karya: Ahmad Yanuana Samantho, MA, M.Ud

  

 REVOLUSI MENTAL PANCASILA

Berdasarkan WARISAN KEARIFAN PERENIAL  NUSANTARA DAN DUNIA

 

Daftar Isi

 Bab 1. KRISIS DUNIA MODERN

  • Pendahuluan: Situasi dan Kondisi Negara Bangsa NKRI saat ini,
  • Krisis Multidimensi yang Disebabkan oleh Paradigma Ontologis–Epistemologis Barat  Materialialisme-Sekuler dalam Ilmu dan Kebudayaan. (hal.4)

Bab 2. KELUAR DARI KRISIS MODERNISME

  • Saran Seyyed Hossein Nasr:Kembali Ke Ilmu Pengetahuan Suci Tradisional dan Kearifan Abadi (Perennialisme) untuk Menyelesaikan Krisis Multidimensi Manusia Modern (hal. 46)
  • Tasawuf (Irfan) Sebagai Modus Epistemologi Baru (hal. 98 )

Bab 3. KEPEMIMPINAN ILAHIAH DALAM KONSEP DEMOKRASI PANCASILA: 

  • Kajian Filsafat Islam Nusantara untuk Mengatasi Problem Utama Kebangsaan dan Kenegaraan (hal.104)
  • Reaktualisasi Panca Sila: Pidato B.J. Habibie  Tentang Reaktualisasi Panca Sila (hal. 115 )
  • Bhineka Tunggal Ika Adalah Kalimat Tauhid (hal. 120)
  • Perjalanan Hidup Manusia: Dari Tuhan Allah, Kembali Ke Allah, Falsafah Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. (hal. 122)
  • Fitrah dalam Perspektif Al-Quran (hal. 128)
  • Merenungkan Hanacaraka (hal. 143)

Bab 4. RUH KEBANGKITAN INDONESIA BARU

  • Dinamika Muslim: Menuju Renaisans Indonesia (hal. 151)
  • Tafsir Uga Wansit Siliwangi, Ramalan Jayabaya, dan Sabdo Palon Noyo Gengong atas Prediksi kebangkitan Nusantara (Indonesia Baru) (hal. 158 )
  • Ajaran Islam dan Hindu-Budha dalam Kebudayaan Sunda ? Tinjauan Kritis atas Sejarah Proses Akulturasi dan Asimilasi Kebudayaan Sunda, Islam dan Hindu-Budha. (hal 174. )
  • Peradaban Sundaland adalah Akar dari Seluruh Peradaban Dunia (hal 189 )
  • Temuan Jejak Sejarah Para Nabi Allah di Nusantara dan Agama-agama Dunia (hal 192)
  • Falsafah Ageman (Sahadat) Sunda Buhun/Sunda Wiwitan (hal. 205 )
  • SUNDA itu adalah SU-NA-DA, Distorsi Sejarah dalam Perjalanan Waktu (hal. 213)
  • Menguak Kosmologi Sunda Kuno (hal. 223)
  • Apakah Sunda Pajajaran Adalah Kerajaan Hindu? (hal.237 )
  • Indonesia/Nusantara Sumber Peradaban Vedha India? (hal. 245 )
  • Kitab-Kitab Suci Hindu Menjelaskan Kedatangan Nabi Muhammad Saw (hal. 248 )
  • Apakah Noah/Manu/Nabi Nuh: Nabinya Kaum Hindu ? (hal. 271)
  • Titik Temu Kesamaan Hindu dan Islam (hal. 288 )
  • Agama-agama Asli Nusantara yang Terpinggirkan (hal. 304 )
  • Konsep Manusia Sunda di Tatar Sunda (hal. 311).
  • Koneksi Kenabian di Nusantara: Hubungan Nusantara Kuno dengan Sejarah Para Nabi Allah Dan Agama-agama Besar Dunia serta Kearifan Tradisional-Perennial Lokal Nusantara (hal. 328)
  • Melacak Jejak Leluhur Nusantara (hal. 344)
  • Dewa Ruci: Perjalanan Sufistik Esoteris Manusia Nusantara (hal. 391)
  • Batak Parmalim, Debata Mula Jadi Na Bolon, Dalian Na Tolu (hal. 403  )
  • Kaharingan Dayak Borneo Kalimantan (hal. 418)
  • To Manurung, Ila Galigo Sulawesi (hal 422. )
  • Borobudur, Monumen Kearifan Asli Nusantara ( hal. 228 )
  • Tangga Awal Pendakian Ziarah Spiritual dari Lantai Dasar Karmawibhangga Candi/Sandi Borobudur (hal. 450 )

Referensi (hal.454)

Biografi Penulis (hal.465)

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

Antara Muslim Mukminin Vs Muslim Islamisist sok “Ngislam”

Pola pikir dan sikap tindak para ekstrimis islamist yg anti Pancasila dan anti NKRI pro “Khilafah” atau “Negara Islam Indonesia”, menurut terawangan saya adalah disebabkan oleh kesalahpahaman mereka dalam konsep teologis dan kosmologisnya.

Paradigma dan konsep Tauhid atau ketuhanan ala wahabi dan saudara-saudaranya menjadi sebab kerancuan berfikir mereka sekarang. Hal yg sama juga dulu 30 tahun yg lalu pernah saya alami ketika saya baru mengalami puber akidah yg terlambat dan salah asuhan.
Ideologi atau manhaj fikriyah ala Hizbut Tahrir atau Wahabiyin Persis, Al Irsyad, NII, DI-TII, ikhwanul muslimin dan berbagai OTB Islamist garis keras lainnya, mulai mewabah di kampus-kampus pada tahun 1980-an, sebagai kelanjutan perjuangan eks NII-DI TII dan para pejuang Masyumi tahun 1950-an yg pernah memperjuangkan Pancasila ala Piagam Jakarta, yg sila pertamanya adalah “Ketuhanan YME dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya.”

Kaum Islamist tersebut menganggap bahwa Pancasila yg kemudian berlaku secara sah de jure dan de facto, adalah belum atau tidak Islami. Sehingga perlu diganti dgn Syariat Islam, khalihah, NII-DI. Cara pandang seperti ini antara lain karena mereka memahami Islam secara banal harfiah atau letterlijk formalis fiqhiyah syar’iyah saja.

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

DIKOTOMI ILMU DALAM PERADABAN ISLAM

DIKOTOMI ILMU PENGETAHUAN: AKAR TUMBUHNYA

DIKOTOMI ILMU DALAM PERADABAN ISLAM

  1. Pengantar

Dikotomi ilmu pengetahuan dalam dunia pendidikan sudah terlanjur terjadi. Hal ini mengapresiasi para cendikiawan untuk dapat berfikir dan menggali lebih banyak tentang ilmu pengetahuan. Implikasi yang bisa muncul dari dikotomi ilmu adalah timbulnya kesenjangan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Para pendukung ilmu agama menganggap valid sumber Ilahi dalam bentuk kitab suci dan tradisi kenabian dan menolak sumber-sumber non-skriptual sebagai sumber otoritatif untuk menjelaskan kebenaran sejati. Di pihak lain, ilmuan-ilmuan sekuler hanya menganggap valid informasi yang diperoleh melalui pengamatan indrawi.

Sejarah mencatat bahwa peradaban islam pernah menjadi kiblat ilmu pengetahuan dunia sekitar abad ke-7 M. sampai abad ke-15 M. Setelah itu masa keemasan itu mulai melayu, statis, bahkan terkesan mundur hingga abad ke-21 M. ini. Ketika menjadi kiblat ilmu pengetahuan, pendidikan islam yang berkembang adalah pendidikan islam non-dikotomis yang akhirnya mampu melahirkan intelektual muslim yang memiliki karya sangat besar dan berpengaruh positif terhadap eksistensi kehidupan manusia. Cendikiawan muslim tidak hanya mempelajari ilmu pengetahuan dan filsafat dari buku Yunani, tetapi menambahkan ke dalam hasil-hasil penyelidikan yang mereka lakukan dalam lapangan ilmu pengetahuan dan hasil pemikiran mereka dalam ilmu filsafat. Dengan demikian lahirlah ahli-ahli ilmu pengetahuan diberbagai bidang termasuk ahli filsafat (filosof-filosof islam).

Dengan banyaknya ahli-ahli filsafat yang muncul pada masa keemasan islam tersebut, maka terjadilah dikotomi ilmu pengetahuan. Dan selanjutnya pada makalah ini akan dikupas sedikit maupun banyak tentang hal-hal yang terkait dengan dikotomi ilmu pengetahuan dalam peradaban islam seperti: pengertian dikotomi ilmu, akar tumbuhnya dikotomi ilmu pengetahuan dalam peradaban islam, konsep islam tentang ilmu pengetahuan, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya dikotomi ilmu, dan dampak dikotomi ilmu pengetahuan terhadap pengembangan pendidikan islam.

Continue Reading »

1 Komentar

LAWAN Penjajahan atas Situs Eyang Prabu Siliwangi di Bukit Badigul Rancamaya oleh PT Suryamas Tbk.

Badigul, Bukit Keramat yang Memakan Korban 114 Orang

Kiageng Selo menambahkan 29 foto dan sebuah video.

7 Mei pukul 20:52 ·

 Napak Tilas dan Ziarah Karuhun Sunda Eyang Prabu Siliwangi ke Situs Sejarah Bukit Badigul Rancamaya siang ieu kahalang tembok dan pagar arogransi Komplek Perumahan dan Lapangan Golf Rancamaya yg dikuasai PT Suryamas tbk. NYUHUNKEUN PITULUNG GUSTI SANG HYANG TUNGGAL SANG HYANG NU MAHA KAWASA. Baraya Ki Sunda Pakuan Pajajaran tos lami dizalimi ku arajeuna.
Foto Kiageng Selo.

Foto Teteh Sukabumi.

Manajemen Perumahan Rancamaya Larang Warga Kunjungi Situ Badigul

SENIN, 8 MEI 2017 | 13:49

Hallobogor.com, Bogor – Ratusan warga berjalan kaki dalam rangka napak tilas untuk menuju Situ Badigul di dalam area perumahan elite Rancamaya, Kota Bogor, Minggu (7/5/2017). Mereka bermaksud berdoa di Situ Badigul memperingati kelahiran Prabu Siliwangi.

Namun baru saja sampai di depan Kantor Kelurahan Kertamaya, Kecamatan Bogor Selatan, iring-iringan warga yang berpakaian serba hitam ala adat Sunda itu dihadang pihak Manajemen Perumahan Rancamaya. Pihak manajemen melarang mereka masuk ke area perumahan.

“Jika ingin berdoa silakan di lapangan depan kantor Kelurahan Kertamaya. Kami hanya menjalankan perintah. Atasan kami tidak mengizinkan acara di lokasi (Situ Badigul, red), yang ada di area Perumahan Rancamaya,” kata Sopian, mewakili Manajemen Rancamaya.

Perdebatan pun tak bisa dihindarkan. Warga tetap memaksa masuk. Guna mengindari hal tidak diinginkan, akhirnya peserta dan pihak Manajemen Rancamaya dimediasi Kapolsek dan Danramil Bogor Selatan di Aula Kantor Kelurahan Kertamaya.

Koordinator acara, Wahyu Affandi Suradinata, mengatakan bahwa niat dan tujuan napak tilas hanya ingin berdoa dan melihat petilasan leluhur di Situ Badigul. “Masak begitu saja tidak boleh. Kami tidak akan merusak atau mengotori atau bahkan mengganggu warga Perumahan Rancamaya,” ujarnya.

Suasana sempat memanas saat peserta yang lain ikut protes kebijakan Manajemen Rancamaya. “Kami datang dengan baik-baik. Kami tidak akan mengganggu siapapun yang ada di dalam perumahan. Jangan paksa kami untuk berbuat tidak baik. Situ Badigul ini adalah situ leluhur kami. Tolong pihak Rancamaya bisa memahami. Kalau kami berdoa di sini (di luar Situ Badigul, red) lalu apa esensi dari doa dan perjalanan kami hari ini,” teriak yang lainnya.

Setelah lama berdebat, akhirnya perwakilan Manajemen Perumahan Rancamaya mengizinkan peserta napak tilas masuk ke Situ Badigul melalui area Perumahan Rancamaya. Warga pun melanjutkan perjalanan sekitar 1 kilometer.

Namun lagi-lagi sesampainya di dalam area perumahan, peserta kembali menemui kekecewaan. Mereka tetap dilarang masuk ke lokasi Situ Badigul. Mereka hanya diperbolehkan melakukan acara di depan pintu gerbang.

Kapolsek Bogor Timur, AKP Irwandj, mengatakan, kegiatan ini belum memiliki izin sehingga akhirnya warga tidak boleh masuk. “Mereka belum mengajukan izin untuk acara ini, makanya tidak boleh masuk. Untuk acaranya sendiri sebetulnya bagus. Mengangkat budaya. Tapi izinnya yang belum ada,” ungkapnya.

Sementara itu, Cecep, anggota Baraya Kujang Padjajaran yang menjadi inisiator acara ini, mengaku sudah mengajukan izin ke pihak berwenang. “Sudah sejak dua bulan lalu kami buat izin tapi tidak ada tanggapan. Begitu pula dengan pihak kepolisian. Saya tidak tahu ada apa ini. Begitu susahnya kami mengunjungi peninggalan leluhur kami di wilayah kami sendiri,” tegasnya. (wan)

Foto Kiageng Selo.

Foto Kiageng Selo.

Foto Kiageng Selo.

Foto Kiageng Selo.

Achun Marciano, Prof Dr, Syarif Bastaman, Ahmad Yanuana Samantho, M.Ud,MA

PRABU SILIWANGI

 PRABU JAYADEWATA (1482 – 1521)
( PRABU SILIWANGI )

Jayadewata secara resmi diangkat sebagai raja
Kerajaan Pajajaran yang bertahta di Pakuan saat berusia
81 tahun. Saat pengangkatannya, dilakukan 2 kali
penobatan. Dari penobatannya pertama sebagai
penguasa Galuh beliau diberi gelar Ratu Purana Prebu
Guru Dewapranata. Sedangkan untuk penobatannya sebagai penguasa Sunda-Galuh, beliau diberi gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri SangRatu Dewata .

Dari beberapa kali pernikahannya, Sri Baduga Maharaja dikabarkan memiliki 13 orang anak yang rata-
rata menjadi raja / penguasa yang menyebar ke seluruhTatar Pasundan.
Karena sepak terjang Jayadewata saat menjadi Prabu Anom maupun setelah menjadi Raja Pajajaran
begitu hebat dan dikagumi oleh seluruh rakyatnya serta dianggap sebagai raja di tatar Sunda yang terbesar setelah era kekuasaan kakeknya (Prabu Niskala Wastukancana), maka banyak para pujangga Sunda menceritakan tokoh ini ke dalam bentuk sastra (sepertidalam Kropak 630 sebagai lakon pantun). Melalui bahasa pujangga-pujangga tersebut Jayadewata digelari Prabu Siliwangi (berasal dari kata “silih” yang berarti menggantikan dan “wangi” yang diambil dari gelar kakeknya yaitu Prabu Wangi / Prabu Anggalarang / Prabu Niskala Wastukancana). Jadi, penggunaan gelar Prabu Siliwangi ini sebenarnya bukan merupakan gelar resmi, dan sang raja pun tidak pernah menggunakan gelar ini untuk menunjukkan jati dirinya (seperti yang tertulis pada prasasti-prasasti). Pemakaian sebutan
Prabu Siliwangi lebih bersifat kesusastraan, dan kebiasaan dari rakyat di zaman itu yang merasa tabu
(tidak boleh) untuk menyebut secara langsung nama atau gelar sesungguhnya dari sang raja yang berkuasa dalam percakapan mereka sehari-hari.
Wangsakerta (ahli sejarah dari Cirebon sekaligus penganggung jawab dari penyusunan Sejarah Nusantara) mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, seperti tulisannya :
“Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira”
(Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya). Jayadewata merupakan Prabu Siliwangi yang
sangat terkenal atau yang selama ini sering diceritakan kemahsyurannya didalam cerita-cerita sejarah Pajajaran dan masyarakat Sunda.
Di saat kekuasaanya, Pajajaran mengalami masa kejayaannya ( kretayuga ), dimana sosial ekonomi
rakyatnya cukup sejahtera serta Pakuan yang menjadi ibukota kerajaan mencapai puncak perkembangannya.
Sang Maharaja memperkuat sistem pertahanan Pakuan secara spektakuler yaitu dengan cara
memperkokoh parit yang mengelilingi kerajaannya sepanjang 3 kilometer di tebing Cisadane (parit tersebut pertama kali dibuat oleh Rakeyan Banga). Sedangkan bekas tanah galian dari proyek itu kemudian dijadikan benteng yang memanjang di bagian dalam, sehingga jika musuh menyerang dari luar akan terhambat oleh parit kemudian benteng tanah.
Kemudian Sang Maharaja membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, yaitu bukit
Badigul di daerah Rancamaya (Bogor). Tempat tersebut dijadikan sebagai tempat upacara keagamaan dan menyemayamkan abu jenazah dari raja-raja tertentu.

Beliau juga memperkeras jalan dengan batu-batuan tertentu dari keraton hingga gerbang Pakuan,
kemudian dilanjutkan lagi hingga ke Rancamaya (kurang lebih 7 km). Gerbang Istana depan dinamakan Lawang Saketeng, sedangkan gerbang istana belakang dinamakan Lawang Gintung.
Untuk pelestarian lingkungan alam, Sang Maharaja membuat semacam hutan lindung yang berfungsi sebagai reservoir alami. Hutan tersebut ditanami pohon samida, pohon tersebut kemungkinan
hanya boleh ditebang jika kayunya diperlukan untuk kepentingan upacara kremasi.
Karya besar dari Sri Baduga Maharaja yaitu pembangunan telaga besar yang bernama Sang Hyang
Talaga Rena Mahawijaya di hulu sungai Ciliwung (Rancamaya, Bogor). Telaga tersebut berfungsi sebagai
tempat pariwisata dan penyuburan tanah.

Karya-karya lainnya dari Sri Baduga Maharaja antara lain membuat jalan ke Wanagiri, membuat
“kaputren” (tempat isteri-isteri-nya), “kesatrian” (asrama prajurit), satuan-satuan tempat
(pageralaran), tempat-tempat hiburan, memperkuat angkatan perang, serta menyusun Undang-Undang
Kerajaan Pajajaran. Undang-undang yang disebut Sanghiyang Siksakandang Karesian ini dirumuskan
berdasarkan sistem pemerintahan Sri Baduga Maharaja yang sangat adil, Undang-Undang ini disusun pada tahun 1518.

Sri Baduga Maharaja memiliki ahli syair yang bernama Buyut Nyai Dawit , sedangkan ahli pemerintahan
dipegang oleh Adipati Pangeran Papak. Kebijakan yang paling menarik di saat kekuasaan dari Sri Baduga Maharaja adalah dengan membuat penetapan batas-batas kabuyutan (daerah yang dianggap suci dan dijadikan pusat pendidikan) yang dinyatakan sebagai “lurah kwikuan” atau disebut juga desa perdikan (desa bebas pajak) di daerah Sunda Sembawa, Gunung Samaya, dan Jayagiri. Tindakan ini
diambil karena Sri Baduga Maharaja merasa harus menjalankan amanat dari kakeknya (Prabu Anggalarang /Prabu Niskala Wastukancana). Bahkan amanat tersebut diabadikan dalam prasasti yang terbuat dari tembaga sebanyak 5 keping. Prasasti tersebut kemudian ditemukan di Kabantenan. (isi dari prasasti itu lihat Kerajaan Sunda sub- Prabu Anggalarang).
Penduduk di lurah kawikuan tersebut dibebaskan dari 4 macam pajak, yaitu “dasa” (pajak tenaga
perorangan), “calagra” (pajak tenaga kolektif / kerja bakti), “kapas timbang” (kapas 10 pikul) dan “pare
dongdang” (padi 1 gotongan). Selain di 3 buah desa kawikuan, Sri Baduga Maharaja juga memerintahkan kepada para petugas muara agar dilarang untuk memungut bea. Raja ini menganggap, tidak perlu memungut pajak pada mereka yang selalu berbakti dan membaktikan diri kepada ajaran-ajaran dan yang terus mengamalkan peraturan dewa.

Dalam hal memperkuat angkatan perang, Prabu Siliwangi ini membentuk satuan tentara dengan tugas
yang jelas. Misalnya Bhayangkara (prajurit keamanan), Pamarang (prajurit yang ahli memainkan pedang) dan Pamanah (prajurit ahli memanah). Dan terakhir Pasukan Elite Pengawal Raja, Puragabaya. Dengan pembagian tugas tersebut menjadikan Pajajaran memiliki armada perang yang tangguh.
Sedangkan untuk pertahananan di dalam kerajaan, Sri Baduga Maharaja selalu menekankan
kepada rakyatnya agar berpedoman setia kepada kebiasaan dan keaslian leluhur, jika hal itu dilaksanakan dengan baik, maka beliau meyakini bahwa Pajajaran tidak akan kedatangan musuh. Beliau sangat menganjurkan kepada semua pendeta dan pengiringnya untuk menggairahkan kegiatan agama yang menjadi penuntun kehidupan rakyat.
Kemahsyuran Pelabuhan Muara Jati sebagai pelabuhan internasional makin berkembang saat Raden
Walangsungsang (anaknya dari Subang Larang), menetap di Cirebon dan mendirikan Pakuwuan Cirebon
Larang di Cirebon pesisir. Langkah yang dilakukan Raden Walangsungsang dalam mengelola Pelabuhan
Muara Jati waktu itu (tugas warisan dari Ki Gedeng Tapa yang telah wafat) di antaranya adalah membentuk satuan penjaga keamanan untuk mengamankan Pelabuhan Muara Jati yang semakin ramai.
Setelah daerah itu semakin maju, akhirnya Raden Walangsungsang diangkat sebagai raja daerah Kerajaan Cirebon Larang oleh Sri Baduga Maharaja.
Sebagai kerajaan yang memperoleh pendapatan dari hasil niaga, Pajajaran saat itu merasa cemas
dengan hubungan harmonis antara Cirebon Larang (yang dipimpin oleh anaknya yang bernama Raden
Walangsungsang) dan Demak. Pada saat itu, armada Laut Demak sering berada di pelabuhan Muara Jati. Sri Baduga Maharaja khawatir apabila kehadiran armada Demak dapat mengganggu jalannya perniagaan
Pajajaran.
Sekitar abad ke-15 di Nusantara, Pajajaran dan Demak termasuk kerajaan yang memiliki jalur
perdagangan sangat ramai. Demak yang terkenal kuat dalam angkatan lautnya, saat itu tengah mengalami beberapa kekalahan dari Portugis yang telah menguasai selat Malaka. Berita
kekalahan ini membuat Sri Baduga Maharaja merasa perlu mengadakan hubungan kerjasama dengan
Portugis. Seperti yang kita tahu, Pajajaran merupakan penguasa di Selat Sunda dan Portugis berkuasa di Selat Malaka. Sebagai penguasa di 2 selat yang menjadi jalan masuk perniagaan dan bangsa asing ke Nusantara, tentunya keputusan Sri Baduga Maharaja ini sangat cemerlang. Kerjasama antara Pajajaran dan Portugis sangat tepat dilakukan untuk menguasai jalur niaga di Nusantara.

Kerjasama ini dilakukan bukan maksud menggalang kekuatan untuk menyerang Demak,
melainkan hanya upaya antisipasi apabila Demak membantu Cirebon melakukan serangan dalam upaya
pembebasan diri dari Pajajaran. Rupanya, Sri Baduga Maharaja sudah dapat mencium gelagat dari Raden Walangsungsang dalam upaya memerdekakan diri.
Untuk memuluskan rencananya, maka Sri Baduga Maharaja mengutus Surawisesa (putera mahkota
Pajajaran) untuk mengadakan kerjasama dengan Alfonso d’ Albuquerque (Laksamana Bunker Portugis di Malaka).
Pada tahun 1512, Surawisesa mengunjungi Malaka dan akhirnya perjanjian bilateral resmi antara
Pajajaran – Portugis, dengan hasil kesepakatan adalah Portugis berjanji untuk membantu Kerajaan Pajajaran bila diserang oleh pasukan Demak dan Cirebon, serta ingin menjalin hubungan dagang.
Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1513, Pajajaran didatangi oleh duta-duta dari Portugis dengan
menumpang 4 buah kapal. Salah seorang dari rombongan Portugis tersebut bernama Tome Pires yang
bertindak sebagai juru catat perjalanan. Tome Pires sendiri mencatat mengenai kekuasaan dari Sri Baduga Maharaja adalah “the kingdom of Sunda is justtly governed” (Kerajaan Sunda / Pajajaran diperintah dengan adil). Kerjasama kali itu baru merupakan tahap penjajakan.

Kebijakan-kebijakan dari Prabu Siliwangi itulah yang menunjukan kemakmuran, kebesaran, dan kejayaan Pajajaran pada masa kekuasaannya. Raja ini menerapkan motto hidup “silih asah, silih asih, silih asuh“ . Dengan kebijakan dan strategi-strategi itu pula, kita dapat mengakui bahwa Prabu Siliwangi ini adalah seorang raja yang mampu memimpin kerajaan dan juga seorang yang ahli strategi perang, sehingga saat itu Pajajaran tidak dapat disusupi oleh musuh. Karena itulah, orang pada zaman itu seakan teringat kembali kepada kebesaran mendiang kakek buyutnya (Prabu Maharaja
Lingga Buana) .
Dalam Carita Parahyangan, pemerintahan Sri Baduga dilukiskan demikian :
Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja loba di sanghiyang siksa”
(Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatangan musuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin. Bahagia sejahtera di utara, selatan, barat dan timur. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah tangga orang banyak yang serakah akan ajaran agama).
Namun kebesaran yang dimiliki Pajajaran saat itu tidak serta merta membuat sang raja merasa tenang,
hal ini dikarenakan pada saat itu banyak Rakyat Pajajaran yang beralih ke agama Islam dengan
meninggalkan agama lama. Mereka oleh sang Maharaja disebut “loba” (serakah) karena merasa tidak puas dengan agama yang ada, lalu mencari yang baru.
Meskipun merasa kesal, tetapi Sri Baduga Maharaja hanya bisa menyindir tanpa melakukan tindakan “fisik” atau mengeluarkan perintah larangan, karena beliau menyadari bahwa memilih agama merupakan hak bagi setiap rakyatnya. Dengan demikian beliau tetap memperlakukan adil bagi rakyatnya yang telah memeluk agama Islam.
Untuk lebih mempererat kerjasama dengan Portugis, pada tahun 1521 Sri Baduga Maharaja kembali
menugaskan Surawisesa untuk menemui Portugis di Malaka. Penugasan ini dilakukan beberapa bulan
sebelum sang Maharaja wafat.
Sri Baduga Maharaja wafat pada tanggal 31 Desember 1521 dalam usia yang sangat sepuh yaitu 120
tahun. Kekuasaan Kerajaan Pajajaran diserahkan pada puteranya yang bernama Surawisesa (anak dari Kentring Manik Mayang Sunda).
Ketika sudah dikubur selama 12 tahun, makam Sri Baduga Maharaja digali kembali atas perintah dari
Surawisesa. Kemudian kerangkanya diangkat untuk dikremasi. Setelah itu, abu jenazahnya tadi kemudiann ditaburkan di Rancamaya, Bogor ( kini sudah dijadikan lapangan golf serta perumahan mewah).
Selain di Rancamaya, sisa abu jenazahnya itu kemudian dibagikan kepada raja-raja daerah (bawahan Pajajaran) untuk dipusarakan di tempat kabuyutan daerah itu.
Karena itulah, maka tidak perlu heran apabila di beberapa tempat banyak yang mengklaim sebagai
tempat dari makam Prabu Siliwangi.

Foto Kiageng Selo.

Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.

Home » kisah »

Badigul, Bukit Keramat yang Memakan Korban 114 Orang

Badigul, Bukit Keramat yang Memakan Korban 114 Orang Media Metafisika Add Comment kisah Friday, November 22, 2013 Mediametafisika.com – Badigul, Bukit Keramat yang Memakan Korban 114 Orang – Badigul, begitu orang menyebut bukit kecil di kota Bogor bagian Selatan ini. Selintas tak ada yang nampak istimewa pada segundukan tanah di atas lahan seluas 5000 meter persegi itu. Hanya rumput halus lapangan golf yang mengelilinginya. Di sisi barat berdiri sebuah bangunan sport center milik perumahan elite Rancamaya. Di sisi lain nampak sebuah gedung megah pusat penelitian dan pengembangan agama Budha. Bukit itu sendiri kini telah menjadi miliki perumahan Rancamaya. Namun 20 tahun lalu, sebelum Badigul digusur pengembang Rancamaya, bukit ini adalah sebuah tempat yang amat dikeramatkan masyarakat Sunda.

Betapa tidak, Badigul diyakini sebagai tempat mandapa Prabu Siliwangi. Di bukit ini sang Prabu sering semedi hingga kemudian ngahiyang menghadap Sang Pencipta.

Dulu orang berbondong-bondong berziarah pada leluhur mereka di bukit Badigul yang luasnya masih 5 hektar. Saat itu masih terdapat beberapa alat gamelan sunda yang memiliki kekuatan magis, namun kini menghilang entah ke mana. Buldoser dan 2 becko tak sanggup menggeser batu menhir di bukit Badigul. Malah tiga sopir alat-alat berat itu sekarat tanpa sebab. Korban-korban lain pun berjatuhan….

“Dulu bukit itu masih tinggi. Badigul dikelilingi sebuah telaga yang bernama Renawijaya. Jika orang ingin ke puncak bukit, mereka harus menyeberangi telaga dan mengambil air wudlu di sana,” tutur Ki Cheppy Rancamaya, 53 tahun, saat Kami ditemui di rumahnya. Berkisah tentang Badigul, Ki Cheppy, spiritualis dan budayawan ini, merasa miris mengingat masa lalunya. Ia adalah orang yang mati-matian mempertahankan tempat keramat itu. Namun kekuatan rezim Orde Baru dan pengaruh uang dari pengusaha membuatnya harus mengakui kekalahan. Badigul digusur, ia diculik Kopassus dan dipenjarakan tanpa pengadilan.

Setahun lebih Ki Cheppy harus meringkuk di penjara Paledang, Januari 1992-1993. Tak cukup sampai di situ, setelah keluar Ki Cheppy kembali melakukan perlawanan terhadap penguasa. Tapi akhirnya ia pun harus kembali meringkuk di tahanan untuk ke dua kalinya. Sebuah pengalaman mistik pun dialami Cheppy saat ia menghuni Blok B 8 Rutan Paledang, Bogor. Saat itu ia dipanggil sipir, katanya ada keluarganya yang hendak menjenguknya. Cheppy pun keluar dari ruang tahannya. Namun belum genap 10 langkah ia meninggalkan ruang tahanan itu, tiba-tiba terdengar bunyi menggelegar dari ruang tahannya. Sebuah petir yang menghebohkan seisi napi Paledang menjebolkan tembok kamar tahanan Cheppy yang tebalnya 75 cm.

“Saat itu memang hujan rintik-rintik. Petir itu membuat lubang berdiameter 50 cm pada dinding penjara. Jika saya ada di dalam tentu saya sudah mati. Belakangan saya baru tahu kalau petir itu adalah santet kiriman anak buah Cecep Adireja,” tutur Cheppy. Keberanian Cheppy untuk mempertahankan Badigul memang bukan tanpa alasan. Ia yakin seyakin-yakinnya, Badigul adalah tempat keramat peninggalan leluhur Pakuan Pajajaran. K

eyakinan Cheppy itu juga diperkuat oleh keyakinan banyak masyarakat di sana. Budayawan-budayawan Sunda pun telah menetapkan situs Badigul sebagai Cagar Budaya yang patut dilestarikan. Bahkan Solihin GP, tokoh masyarakat Sunda yang kala itu menjabat Sesdalopbang pun melarang penggusuran keramat Badigul dengan mengeluarkan nota pribadinya kepada Walikota Bogor. “Siapapun yang merusak tempat keramat akan kena supata (karma-Red.),” tutur Cheppy.

Cerita-cerita mistik dan supata yang dilontarkan Cheppy memang terbukti. Seratus orang buruh bangunan telah mati menjadi tumbal saat bukit Badigul dibuldoser. Namun ambisi pengusaha real estate untuk meratakan bukit Badigul tidak pernah luntur. Bukit itu tetap diratakan untuk perumahan dan lapangan golf hingga ketinggiannya berkurang 6 meteran. Saat puncak badigul telah tercukur 6 meter itu muncul sebuah batu menhir sebesar mobil sedan. Anehnya batu sebesar itu sama sekali tak goyang saat dibuldoser.

Penasaran dengan itu, pihak perumahan mendatangkan dua becko untuk menarik batu keramat itu. Tapi dua becko itu pun tak sanggup menggoyangkan batu itu. Bahkan satu becko malah patah saat menariknya. Secara logika batu itu seharusnya dapat digusur oleh buldoser. Saat itulah kesadaran para buruh tentang kekuatan mistik bukit Badigul mulai terbuka. “Tapi mereka terlambat, 3 orang supir alat berat itu pun mati,” tutur Cheppy.

Mengingat keanehan-keanehan yang terjadi, akhirnya pihak perumahan sepakat untuk tidak memindahkan batu itu. Batu itu tetap di tempatnya kemudian dibenamkan dan kembali timbun dengan tanah. Jadilah bukit Badigul kini sebagai lapangan golf dengan sport center dan pusat penelitian agama Budha di sebelahnya.

Memang ironis, hanya untuk membuat sebuah lapangan golf dan pusat kebugaran, pihak pengembang harus menghancurkan cagar budaya. Mereka juga harus bertentangan dengan kepercayaan masyarakat sekitar yang meyakini kekeramatkan Badigul. Alhasil mereka harus menumbalkan 114 orang buruh untuk mencukur 6 meter bukit Badigul.

“Kita berurusan dengan makhluk di dunia lain. Tapi mereka juga punya tempat dan habitat di bumi ini. Jika mereka diganggu, mereka pun bisa mengganggu kita,” jelas Cheppy. Tentang kekeramatan bukit Badigul, mungkin hanya Cheppy yang pernah menyibak tabir mistiknya. Ia adalah penduduk asli Rancamaya, Bogor Selatan. Ia adalah orang yang paling rajin bermunajat di sana. Ia sering melakukan kontak batin dengan penguasa gaib bukit Badigul. Bahkan ia juga pernah melakukan meditasi dan puasa selama 100 hari di bukit itu.

Dikisahkan Cheppy, suatu malam ia tengah melakukan meditasi di puncak Badigul. Menjelang tengah malam, ia melihat seekor anjing hitam yang diapit dua ekor anjing kecil berbulu putih di kiri kanannya. Dalam hati, Cheppy yakin itu bukan binatang sungguhan. Sebab tak mungkin binatang-binatang itu tiba-tiba muncul di hadapannya tanpa diketahui dari mana datangnya. Tidak mungkin pula anjing itu bisa ke puncak Badigul, sebab harus menyeberangi telaga Renawijaya. Binatang-binatang yang tampak gagah itu memandang heran ke arah Cheppy. Tapi sedikit pun Cheppy tak bergeming dari tempatnya duduk. Cheppy tetap konsentrasi dengan meditasinya. Sesaat ia melihat ajing berbulu hitam itu menengadahkan kepalanya pada Cheppy. Tapi ia tak mengerti apa maksudnya. Dan dalam ketidak mengertian itu, sekedipan mata saja anjing-anjing aneh itu hilang dari pandangan Cheppy.

Malam yang lainnya, Cheppy juga pernah menemukan fenomena mistik yang sulit diterima akal sehatnya. Malam itu, Cheppy sengaja datang ke Badigul untuk melanjutkan meditasinya. Dari rumah, ia membawa segala perlengkapan sajen yang diperlukan di keramat Badigul. Cheppy berharap malam itu ia akan mendapatkan sesuatu yang selama ini ia cita-citakan. Lepas Maghrib Cheppy duduk tepekur menghadap Kiblat.

Tepat tengah malam, ketika Cheppy tengah khusuk meditasi sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba ia melihat sepertinya matahari terbit dari balik gunung Salak. Sinarnya terlihat benderang menerangi seantero alam. Gunung Salak terlihat jelas, pohon besar hingga rumput kecil dan perumahan penduduk di kaki gunung itu terlihat jelas. Sesaat Cheppy tak yakin, ia sadar bahwa gunung salak itu berada di sebelah barat. Mana mungkin matahari terbit dari arah barat. Ia lalu mengusap-usap matanya. Dan seketika itu pula bumi kembali gelap gulita. Tak nampak lagi matahari yang benderang di balik gunung salak itu. Yang tertinggal hanya kedipan-kedipan kecil dari lampu yang terpasang di rumah-rumah penduduk.

“Itu benar-benar aneh dan saya mengalaminya sendiri. Kekuatan mistik Badigul memang nyata,” jelas Cheppy. Kisah lain yang lebih unik juga diceritakan Cheppy. Malam itu ia tengah wirid di Badigul. Karena penat, ia celentang merebahkan dirinya di tengah padang rumput puncak Badigul. Tapi sesaat kemudian ia tersentak kaget. Dari atas langit ia melihat seperti seberkas sinar keperakan jatuh menimpa dadanya. Seketika ia memegangi dadanya yang terasa sesak. Dan mendadak, tangannya menyentuh benda pipih yang dingin. Ia pun langsung menggenggamnya. Kini di tangannya tergenggam sebilah kujang — sebuah pusaka Pajajaran yang keampuhannya tak perlu diragukan lagi. Dan tatkala Kami mencoba, ternyata, kujang itu memiliki daya kekebalan bagi siapa pun yang memegangnya.

Masih seputar fenomena mistik Badigul, Cheppy menceritakan suatu hari di tahun 1994 warga Bogor dihebohkan oleh penemuan telapak kaki raksasa di Batutulis dan Rancamaya. Berita yang menghebohkan itu pun diliput oleh media-media cetak dan elektronik di Jabotabek. Di Jalan Batutulis terdapat sebuah telapak kaki kiri sepanjang 1 meter. Jelas sekali telapak kaki itu bukan rekayasa manusia.

Sementara di Rancamaya juga terdapat sebuah telapak kaki kanan yang panjangnya sama dengan yang ditemukan di Batutulis. Lalu orang berimajinasi, kalau kaki itu adalah milik gaib Prabu Siliwangi. Sang Prabu sengaja mendatangi Batutulis kemudian loncat ke Rancamaya hanya dengan sekali langkah saja. Tak cuma itu, ternyata di sekitar puncak Badigul terdapat empat telapak kaki yang panjang dan besarnya sama. “Sang Prabu ke Batutulis lalu ke Rancamaya dan mengelilingi puncak Badigul,” begitu jelas Ki Cheppy ketika ditanyai wartawan saat itu.

Kekeramatan bukit Badigul memang meyakinkan. Tak seorang warga Rancamaya pun yang dihubungi Kami meragukan keangkerannya.  Sejak batu keramat itu tak sanggup dibuldoser, tak seorang buruh pun yang mau melanjutkan pekerjaan di sana. Mereka takut terkena kutuk atau supata Eyang Prabu Siliwangi. “Kami tidak mau mati jadi tumbal,” tutur Ujang warga Rancamaya yang waktu itu ikut melakukan pembabatan lahan di Badigul. Ketakutan Ujang memang beralasan. Ia menceritakn beberapa orang rekannya yang mati akibat ikut meratakan tanah di bukit Badigul. Waktu itu, Herman dan beberapa teman Ujang diperintahkan untuk mengeruk tanah di puncak Badigul. Lewat tengah hari setelah mereka istirahat pekerjaan itu dilanjutkan. Namun alangkah terkejutnya Herman dan kawan-kawannya. Mereka melihat seekor ular hitam di atas tanah merah bukit Badigul. Tanpa pikir panjang ular itu mereka pukul ramai-ramai dengan batang kayu dan batu. “Esok harinya, Herman dan dua orang temannya itu dikabarkan sakit meriang lalu sore harinya mati semua,” kisah Ujang pada Misteri.

Tentang Supata yang didawuhkan Prabu Siliwangi itu ternyata tidak hanya menimpa kuli bangunan atau buruh pekerja perumahan Rancamaya. Tapi juga menimpa seluruh penggede-penggede Perumahan elit itu. Cecep Adireja misalnya, tuan tanah yang menguasai pembebasan lahan untuk perumahan itu akhirnya mati mengenaskan. Tuan tanah yang disebut-sebut pemilik Hotel Salak, Bogor, ini meninggal setelah mengalami sakit berkepanjangan yang tak jelas sebab musababnya. Begitu pun dengan kakak dan adik Cecep, mereka mati setelah mengalami sakit yang tak sanggup diobati dokter. “Tidak hanya keluarga Cecep, supata itu juga diterima Kapolsek Ciawi dan lurah Rancamaya waktu itu. Mereka juga mati setelah mengalami sakit parah yang tak jelas penyakitnya,” jelas Cheppy.

Source: http://www.mediametafisika.com/2013/11/badigul-bukit-keramat-yang-memakan.html
Disalin dari WWW.MEDIAMETAFISIKA.COM | kontent ini memiliki hak cipta.

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.