Tinggalkan komentar

Makna Hyang menurut Sunda Wiwitan

Menurut Sunda Wiwitan, Apa Balik Ka Hyang Itu?

Hasil gambar untuk sunda wiwitan
Keyakian urang Sunda buhun sampai saat ini masih hangat dan menarik untuk diperbincangkan, adakalanya disebut agama Budha, atau agama Hindu, animisme, bahkan ada yang menyebut agama islam Wiwitan. Sedangkan para filolog, seperti Ekadjati (2005), Atja dan Saleh Danasismita (1987) menyebutnya ajaran Jati Sunda atau Sunda Wiwitan. Istilah aga ma Jati Sunda ditemukan didalam naskah Carita Parahiyang an. Naskah tersebut diperkirakan dibuat pada tahun 1580 masehi, menurut CM. Pleyte 1500 AD. Istilah Jati atau Wiwitan memiliki makna yang sama, yakni mula; pertama; asli, dengan demikian pengertian agama Jati Sunda atau Sunda Wiwitan bermakna agama (urang Sunda) asli atau tulen. (Ekadjati: 2005, hal. 181).

Continue Reading »

Iklan
Tinggalkan komentar

Filologi: Pengungkap Kearifan Lokal dalam Tradisi Naskah

FILOLOGI SEBAGAI SALAH SATU BIDANG ILMU
YANG MENGUNGKAP KEARIFAN LOKAL
MELALUI TRADISI NASKAH (MANUSKRIP)

Disajikan pada acara Kajian Manuskrip Nusantara
Diselenggarakan oleh Pamong Budaya Bogor bekerjasama dengan
Dewan Adat Budaya dan Adab Nusantara dan Bayt al-Hikmah Institute

Sabtu, 4 Mei 2019 di Hotel Salak Heritage Bogor

Oleh
Dr. Undang Ahmad Darsa

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS ILMU BUDAYA
BANDUNG-JATINAGOR
2019
UADarsa.FIBU.2019

FILOLOGI SEBAGAI SALAH SATU BIDANG ILMU
YANG MENGUNGKAP KEARIFAN LOKAL
MELALUI TRADISI NASKAH (MANUSKRIP)1

Oleh: Dr. Undang Ahmad Darsa2

Prolog

Kehadiran saya pada acara ini jangan dipandang sebagai seorang dosen atau peneliti, tetapi saya ini sebagai warga penggemar budaya yang sama-sama kita cintai. Atas dasar ini, kita semua dapat saling tukar pengalaman, paling
tidak pengalaman saya selama menjadi pekerja dan pelacak naskah dengan sarana filologi. Bukan masalah teoritis semata, tapi benar-benar ini adalah pengalaman yang mengkristal selama ini pada diri saya.

Di satu pihak, filologi diartikan sebagai sebuah ilmu yang mempelajari perkembangan kebudayaan suatu bangsa melalui teks-teks tertulis, khususnya yang tertuang di dalam naskah-naskah. Bagi saya, kebudayaan yang mengalir di hadapan kita sekarang ini tentu memiliki sejarah yang panjang di belakangnya. Seperti layaknya sebuah sungai, saya tak pernah tahu dengan pasti dari mana saja datangnya air yang mengalir itu: dari gunungkah, dari awankah, dari pepohonankah, atau masuk dari sungai yang lain?

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

Kajian Manuskrip Nusantara Pamong Budaya Bogor

Kajian Manuskrip Nusantara yg diselenggarakan oleh Pamong Budaya Bogor (PBB) kerjasama dengan Dewan Adat-Budaya dan Adab (Peradaban) Nusantara (DABAN) serta Bayt al-Hikmah Institute

“Local Wisdom Tidak Begitu Bermanfaat Tanpa Local Genius”, (Dr. Drs. Undang Ahmad Darsa, M.Hum.) 

Ritual doa pembuka Kajian Manuskrip Nusantara yg diselenggarakan oleh Pamong Budaya Bogor (PBB) bekerjasama dengan Dewan Adat-Budaya dan Adab (Peradaban) Nusantara serta Bayt al-Hikmah Institute Bogor, Sabtu 4 Mei 2019, di Hotel Salak Heritage, Kota Bogor

Continue Reading »

1 Komentar

Pentas Seni Jigprak kolaborasi dengan Musik Sakral Satya Dharma Pamong Budaya Bogor

Pentas Seni Jigprak kolaborasi dengan Musik Sakral Satya Dharma Pamong Budaya Bogor di Halaman Gedung Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Jum;at 26 April 2019. Direkan oleh Ki Ahmad Yanuana Samantho.

https://www.academia.edu/12363495/TOPENG_JIGPRAK_SEBAGAI_TEATER

JIGPRAK; Inspirasi Seni urang Sunda

skripINSAN–Ahad, 15 Juli 2012, adalah hari bahagia saya. Dari hari ini, dapat mengetahui kesenian urang Bogor yang berada di daerah cukup dekat dengan kota Bogor, namun suasananya masih terasa kampung, maklum berada di Bogor Selatan. Alhamdulillah, pada pukul 15.00, acara pertemuan para budayawan dan seninam di padepokan Jigprak, ialah acara rutin diadakan untuk menyambut datang bulan Ramadhan, menutup bulan Rabiul Awal, atau rewahan dalam bahasa urang Bogor. Perjalanan dari rumah, Caringin, tepat pada pukul 12.00, mengendarai angkota Cicurug-Sukasari.

Menarik perjalanan ini, sekalipun tiap hari selalu berjalan menyusuri kota Bogor, namun pada hari ini sangat inspiratif. Dinamika kehidupan masyarakat Bogor menarik untuk diamati, sehingga dapat mendatangkan ide bagi sebuah pencerahan spiritual tiap diri insan. Kedatangan saya ke padepokan Jigprak, tiadak lain, karena undangan dari kasepuhan, pimpinan kesenian Jigprak, Abah Jana, nami lengkapna Raden Nasan Sudjana.

Dalam pertemuan inilah, silaturahim dapat dikembangkan bagi pengembangan diri, dan peluang untuk memberdayakan masyarakat bisa ditemukan jalan keluarnya. Maklum, setiap langkap dan pertemuan itu harus menelorkan sebuah karya konstruktif bagi diri dan masyarakat, sehingga menoreh kebaikan.

Ada beberapa catatan saya terhadap safar (perjalanan) kali ini, yaitu di antaranya; pertama,Jigprak(artinya; jig, silahkan dan prak, mulai). Dalam pertunjukan yang kolosal (di mainkan lebih dari 30 orang pelaku seni dengan bertopeng) serta menggunakan alat musik tradisional – rebana, goong, gendang dan kecrek- topeng Jigprak ini terdiri atas tiga babak, yakni;  nyarungsa, dongeng dan pengabaran.

Kedua, Nyarungsa ini adalah permainan sarung pada usia anak, bisa dijadikan ular-ularan atau topeng-topengan. Bagi penciptanya, Rd. Nasan Sudjana, nyarungsa adalah pengejawatahan hidup bersama dalam lingkungan permukiman warga santri. Dilanjuti babak dongeng,drama kisah masa-masa lampau. Kemudian, babak pengabaran merupakan drama  penutup, pesan nya memberi nasehat bagi pemimpin juga kepada rakyat.

Ketiga, dari desa Situ Ilir, kecamatan Cibungbulang, topeng Jigprak diciptakan 30 tahun yang lalu turut  mewarnai perjalanan Kabupaten Bogor yang tahun ini bertepatan dengan hari jadi nya yang ke 529, juga sedang menggelorakan  Visit Bogor 2011 sebagai tahun kunjungan Wisata, topeng Jigprak masih terus berkarya. (abu@hmadein)

https://skripinsan.wordpress.com/2012/09/02/jigprak-inspirasi-seni-urang-sunda/

Tinggalkan komentar

Para Perintis Penyebaran Islam di Tanah Sunda

Penyebaran Islam di Tanah Sunda (2): Para Perintis

  in Islam Nusantara

“Masuknya Islam di Jawa Barat tidak bisa dilepaskan dari jasa-jasa para perintis seperti Bratalegawa, Syekh Quro, Pangeran Walangsungsang dan Syekh Nurjati. Atas Jasa dan dari keturunan merekalah Islam menyebar dari pesisir sampai pedalaman Tanah Pasundan”

—Ο—

Agama Islam baru masuk ke daerah Jawa Barat antara akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15. Beberapa tokoh perintisnya adalah Bratalegawa atau yang sering disebut ‘Haji Purwa’, Pangeran Walangsungsang atau Haji Abdullah Imam, Syekh Quro atau Syekh Hasanudin, dan Syekh Nurjati Atau Syekh Datuk Kahfi. Bratalegawa menyebarkan agama Islam secara terbatas di Galuh kemudian di Caruban bersama Pangeran Walangsungsang. Syekh Quro mendirikan pesantren di daerah Karawang pada tahun 1416 M, karena pada waktu itu Karawang menjadi daerah yang pengaruhnya agama Hindu nya cukup kuat. Syekh Nurjati mendirikan pesantren di Amparan Jati (Cirebon). Namun penyebaran agama Islam tahap awal itu masih terbatas pada lingkungan tertentu.[1]

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

Penyebaran Islam di Tanah Sunda

Penyebaran Islam di Tanah Sunda (1): Kerajaan dan Agama pra-Islam

  in Islam Nusantara

Sebelum datangnya Islam, masyarakat Sunda memang sudah menjadi masyarakat yang religius. Berbagai artefak yang ditemukan menunjukkan bahwa di tanah ini pernah hidup beberapa kepercayaan, mulai dari kepercayaan kepada roh-roh, hingga agama Hindu yang pernah menjadi agama resmi kerajaan.”

—Ο—

Bumi Jawa Barat merupakan bagian dari Sunda Island, yang luas wilayahnya hampir sepertiga dari Pulau Jawa, terjadi setelah munculnya Benua Asia. Sebutan Sunda Islands, maksudnya tentu saja adalah kepulauan Sunda. Hal tersebut masih sejalan dengan peta yang di buat Portugis dan Belanda di masa silam yang membagi Nusantara menjadi dua Gugusan kepulauan, yaitu kepulauan Sunda Besar dan Sunda Kecil.[1]

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

Poros Maritim Zaman Ratu Kalinyamat

Menengok Sejarah Poros Maritim Zaman Ratu Kalinyamat

Liputan6.com, Cilegon – Poros Maritim yang digagas oleh Presiden Jokowi, nyatanya telah dilakukan dalam sejarah kerajaan nusantara. Bahkan, tokohnya perempuan.

Dimulai dari Ratu Kalinyamat (1514-1579), Putri Sultan Trenggana dari Kerajaan Demak. Di tahun 1550 dan 1574, Ratu Kalinyamat sudah memimpin armada laut nusantara yang berkekuatan ratusan kapal dan puluhan ribu prajurit, untuk mengusir Portugis dari Malaka.

“Beliau berhasil membangun kepercayaan diri bangsa, menjadi negara maritim yang disegani pemimpin kawasan dan dunia,” kata Connie Rahakundini Bakrie, Presiden Direktur (Presdir) Institute for Maritime Studies, dalam diskusi Tol Laut dan Pahlawan Wanita Poros Maritim Dunia di atas Kapal Port Link III di Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten, Senin (08/04/2019).

Continue Reading »

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.