Tinggalkan komentar

Renungan untuk Pembangunan Strategi Kebudayaan

INDONESIA 2015-2045;

Renungan untuk Pembangunan Strategi Kebudayaan

 

Azyumardi Azra, CBE*

 

Abstract

Indonesia in under President Joko Widodo and Vice President M. Jusuf Kalla faces not only economic challenge, but also political, social, cultural and religious challenges.  In these last contexts, Indonesia has been very fortunate to be a Unitary Republic (NKRI) with the National Constitution of 1945, Pancasila, and Bhinneka Tunggal Ika—the last two are the constitutional basis of a multicultural Indonesia. These basic principles, however, need to be revitalized in order for Indonesia to be able to progress and, more importantly, remain integrated towards 2045, when the nation-state will celebrate its centeninal.

           Membayangkan Indonesia sepanjang 2015-2045 di bawah kepemimpinan Presiden Joko ‘Jokowi’ Widodo dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, satu abad/milenium Indonesia pada 2045, yang merupakan masa yang tidak terlalu jauh dan juga tak terlalu panjang, hampir bisa dipastikan mengandung lebih banyak kontinuitas. Pada saat yang sama, berbagai bentuk perubahan juga berlangsung, meski boleh jadi tidak terlalu bersifat transformatif revolusioner.

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

Siapa di Balik Perubahan Kota Suci Mekkah

Siapa di Balik Perubahan Kota Suci MekkahTRIBUNJOGA.COM - Ribuan jamaah saling berdesakan naik turun bukit sambil melempar batu ke dinding simbol melawan terhadap setan. Simbol Jamaah Haji melakukan langkah sama seperti apa yang dilakukan Ibrahim kepada setan.

Jelang ibadah haji selesai, jamaah mengemasi barang-barangnya setelah ibadah lempar jumroh, ribuan orang jumlahnya, di jembatan Jamarat, bertemulah gelombang yang sudah menyelesaikan ibadah dengan yang akan melaksanakan ibadah.

Mereka bertemu hingga terjadilah tragedi, beberapa jamaah tersandung bawaan dan terinjak-injak oleh himpitan orang-orang di belakang mereka. Kerumunan ribuan orang panik, hingga 90 menit kemudian, setidaknya 345 orang terbaring mati atau sekarat dan lebih dari 1.000 lainnya luka-luka.

Pada tragedi 12 Januari 2006, 76 peziarah tewas ketika asrama mereka runtuh, kejadian itu dua tahun setelah kasus 250 meninggal dengan kejadian yang hampir sama.
Tak mudah menemui peristiwa itu bagi Kerajaan Saudi yang telah menguasai Mekah sejak 1924.

istPengamanan Jamaah Haji adalah bagian dari janji Kerajaan Saudi dengan Umat Islam di seluruh dunia, khususnya ketika mereka menjalankan ibadah di Madinah hingga Mekah.

Arab Saudi adalah rumah spiritual bagi dunia 1,6 miliar Muslim dan setiap tahun sebanyak 3 juta orang tiba untuk melakukan haji.

14 abad berlalu sejak Nabi Muhammad wafat pada tahun 632, haji telah menjadi salah satu tempat ziarah tahunan terbesar di dunia hingga dipermudah pada 1950-an, ketika perjalanan udara lewat udara mulai memudahkan orang untuk menjangkau Mekah.

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

Membaca Perilaku Geopolitik di Jalur Sutera (11)

Epicentrum Perubahan Geopolitik  
Abad ke 20 lalu disebut Era Atlantik. Artinya ialah, bahwa ilmu pengetahuan, peradaban, kemakmuran, atau segala sesuatu yang membuat ‘terang benderang’ dunia — khususnya faktor HEGEMONI itu berasal, berpihak dan ada di Barat, yang dalam hal ini adalah negara-negara di seputaran Benua/Lautan Atlantik. Hegemoni dalam arti mikro terlihat viakecanggihan militer serta nilai mata uang pada sebuah kawasan tertentu, atau bahkan daya tukarnya di dunia. Namun kendati abad lalu disebut ‘matahari terbit dari Barat’ (Era Barat), tetapi TITIK PUSAT (epicentrum)-nya justru ada di Kawasan Heartland atau Jantung Dunia, ataupunWorld Island (Timur/Asia Tengah) —meminjam istilah Mackinder— selaku kawasan utama penyuplai atas moncernya hegemoni Barat di panggung politik global. Artinya, tanpa eksploitasi dan kolonialisme Barat di Jantung Dunia, hegemoninya niscaya meredup. Makanya GFI, Jakarta, kerap menyatakan bahwa geopolitical shift (pergeseran geopolitik) sesungguhnya bukan berpindah dari Atlantik ke Asia Pasifik, tetapi gerak bandulnya kuat bergoyang dari Jalur Sutera dalam hal ini adalah Heartland, menuju ke Laut Cina sebagai ‘titik besar’ arah pergeseran dimaksud. Bukankah Laut Cina itu sendiri merupakan lintasan Garis Hidup Imperialisme (Jalur Sutera) sebagaimana isyarat BK di KAA, Bandung? Sebagaimana diulas pada prolog tulisan ini, perairan nusantara termasuk lintasan ataupun penggalan dari Jalur Sutera yang diperebutkan para adidaya dunia. Mencermati lebih dalam geopolitical shift abad ke 21 dari Atlantik menuju ke Asia Pasifik, bahwa epicentrum dimaksud tentunya akan berubah pula. Memang titik (pergeseran) makronya kuat diduga ada di Laut Cina, tetapi epicentrumnya di sebelah mana? Sebagai pembanding di Era Atlantik lalu, meski warna hegemoni ada di Atlantik/Barat, namun titiknya malah diHeartland (Timur/Asia Tengah), jantungnya dunia. Asumsi (sementara) GFI, Jakarta, epicentrum  di Era Asia Pasifik kemungkinan ada dan berada di Indonesia. Continue Reading »
Tinggalkan komentar

Wahabi Berdasarkan Al Qur’an dan Hadits

Wahabi Berdasarkan Al Qur’an dan Hadits


Banyak orang2 awam tertarik mengikuti Salafi karena dianggap aliran ini memurnikan ajaran Islam dari Takhayul, Bid’ah, dan Khurafat yang dulu disingkat dgn TBC. Ulama Salafi menamakan aliran mereka berubah2. Dulu sekali Muwahhidun, kemudian jadi Salafi, lalu Ahlus Sunnah, dan juga Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Ini sama dengan nama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang asli. Ulama Aswaja yang asli, Sufi, dan Syi’ah menamakan kelompok Salafi ini sebagai Wahabi. Nama ini sesuai dengan pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahhab An Najdi at Tamimi, seorang Bani Tamim yang lahir di Najd tahun 1703 dan meninggal tahun 1792.

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

Garut Kota Illuminati

Garut Kota Illuminati.

2 Komentar

Bertemu Walisongo di Candi Prambanan dan Borobudur

Tulisan sangat menarik,silahkan dibaca dan dishare

'Bertemu Walisongo di Candi Prambanan dan Borobudur*) Jika memakai ilmu perbandingan, bisa dibilang Candi Prambanan dan Candi Borobudur sebanding dengan Masjidil Haram. Hal itulah yang membuat saya makin kagum pada Walisongo. Maksudnya begini, kalau ada "Masjidil Haram", berarti logikanya ada puluhan "masjid agung" kan? Kalau ada tempat ibadah Hindu-Buddha selevel "Masjidil Haram", berarti bukan tidak mungkin Indonesia zaman dahulu sudah dipenuhi ribuan "mushola" umat Hindu-Buddha. Orang tidak mungkin bisa membuat sesuatu berskala besar tanpa bisa membuat sesuatu yang berskala kecil-kecil dulu. Tentu kita jadi bisa membayangkan kalau umat beragama Hindu dan Buddha zaman dahulu adalah golongan mayoritas. Kalau umat beragama Hindu dan Buddha zaman dahulu sangat mendominasi, bagaimana bisa Walisongo membalik kondisi tersebut? *** Kalau Anda belajar sejarah, Anda pasti makin heran dengan Walisongo. Silakan Anda baca dengan teliti isi buku Atlas Walisongo karya sejarawan Agus Sunyoto. Menurut catatan Dinasti Tang China, pada waktu itu (abad ke-6 M), jumlah orang Islam di nusantara (Indonesia) hanya kisaran ribuan orang. Dengan klasifikasi yang beragama Islam hanya orang Arab, Persia, dan China. Para penduduk pribumi tidak ada yang mau memeluk agama Islam. Bukti sejarah kedua, catatan Marco Polo singgah ke Indonesia pada tahun 1200-an M. Dalam catatannya, komposisi umat beragama di nusantara masih sama persis dengan catatan Dinasti Tang; penduduk lokal nusantara tetap tidak ada yang memeluk agama Islam. Bukti sejarah ketiga, dalam catatan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1433 M, tetap tercatat hanya orang asing yang memeluk agama Islam. Jadi, kalau kita kalkulasi ketiga catatan tersebut, sudah lebih dari 8 abad agama Islam tidak diterima penduduk pribumi. Agama Islam hanya dipeluk oleh orang asing. Selang beberapa tahun setelah kedatangan Laksamana Cheng Ho, rombongan Sunan Ampel datang dari daerah Champa (Vietnam). Beberapa dekade sejak hari kedatangan Sunan Ampel, terutamanya setelah dua anaknya tumbuh dewasa (Sunan Bonang dan Sunan Drajat) dan beberapa muridnya juga sudah tumbuh dewasa (misalnya Sunan Giri), maka dibentuklah suatu dewan yang bernama Walisongo. Misi utamanya adalah mengenalkan agama Islam ke penduduk pribumi. Anehnya, sekali lagi anehnya, pada dua catatan para penjelajah dari Benua Eropa yang ditulis pada tahun 1515 M dan 1522 M, disebutkan bahwa bangsa nusantara adalah sebuah bangsa yang mayoritas memeluk agama Islam. Para sejarawan dunia hingga kini masih bingung, kenapa dalam tempo tak sampai 50 tahun, Walisongo berhasil mengislamkan banyak sekali manusia nusantara. Harap diingat zaman dahulu belum ada pesawat terbang dan telepon genggam. Jalanan kala itu pun tidak ada yang diaspal, apalagi ada motor atau mobil. Dari segi ruang maupun dari segi waktu, derajat kesukarannya luar biasa berat. Tantangan dakwah Walisongo luar biasa berat. Para sejarawan dunia angkat tangan saat disuruh menerangkan bagaimana bisa Walisongo melakukan mission impossible: Membalikkan keadaan dalam waktu kurang dari 50 tahun, padahal sudah terbukti 800 tahun lebih bangsa nusantara selalu menolak agama Islam. Para sejarawan dunia akhirnya bersepakat bahwa cara pendekatan dakwah melalui kebudayaanlah yang membuat Walisongo sukses besar. Menurut saya pribadi, jawaban para sejarawan dunia memang betul, tapi masih kurang lengkap. Menurut saya pribadi, yang tentu masih bisa salah, pendekatan dakwah dengan kebudayaan cuma "bungkusnya", yang benar-benar bikin beda adalah "isi" dakwah Walisongo. *** Walisongo menyebarkan agama Islam meniru persis "bungkus" dan "isi" yang dahulu dilakukan Rasulullah SAW. Benar-benar menjiplak mutlak metode dakwahnya kanjeng nabi. Pasalnya, kondisinya hampir serupa, Walisongo kala itu ibaratnya "satu-satunya". Dahulu Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya orang yang berada di jalan yang benar. Istrinya sendiri, sahabat Abu Bakar r.a., sahabat Umar r.a., sahabat Utsman r.a., calon mantunya Ali r.a., dan semua orang di muka Bumi waktu itu tersesat semua. Kanjeng nabi benar-benar the only one yang tidak sesat. Tetapi, berkat ruh dakwah yang penuh kasih sayang, banyak orang akhirnya mau mengikuti agama baru yang dibawa kanjeng nabi. Dengan dilandasi perasaan yang tulus, Nabi Muhammad SAW amat sangat sabar menerangi orang-orang yang tersesat. Meski kepala beliau dilumuri kotoran, meski wajah beliau diludahi, bahkan berkali-kali hendak dibunuh, kanjeng nabi selalu tersenyum memaafkan. Walisongo pun mencontoh akhlak kanjeng nabi sama persis. Walisongo berdakwah dengan penuh kasih sayang. Pernah suatu hari ada penduduk desa bertanya hukumnya menaruh sesajen di suatu sudut rumah. Tanpa terkesan menggurui dan menunjukkan kesalahan, sunan tersebut berkata, "Boleh, malah sebaiknya jumlahnya 20 piring, tapi dimakan bersama para tetangga terdekat ya." Pernah juga ada murid salah satu anggota Walisongo yang ragu pada konsep tauhid bertanya, "Tuhan kok jumlahnya satu? Apa nanti tidak kerepotan dan ada yang terlewat tidak diurus?" Sunan yang ditanyai hal tersebut hanya tersenyum sejuk mendengarnya. Justru beliau minta ditemani murid tersebut menonton pagelaran wayang kulit. Singkat cerita, sunan tersebut berkata pada muridnya, "Bagus ya cerita wayangnya..." Si murid pun menjawab penuh semangat tentang keseruan lakon wayang malam itu. "Oh iya, bagaimana menurutmu kalau dalangnya ada dua atau empat orang?" tanya sunan tersebut. Si murid langsung menjawab, "Justru lakon wayangnya bisa bubar. Dalang satu ambil wayang ini, dalang lain ambil wayang yang lain, bisa-bisa tabrakan." Sang guru hanya tersenyum dan mengangguk-angguk mendengar jawaban polos tersebut. Seketika itu pula si murid beristighfar dan mengaku sudah paham konsep tauhid. Begitulah "isi" dakwah Walisongo; menjaga perasaan orang lain. Pernah suatu hari ada salah satu anggota lain dari Walisongo mengumpulkan masyarakat. Sunan tersebut dengan sangat bijaksana menghimbau para muridnya untuk tidak menyembelih hewan sapi saat Idul Adha. Walaupun syariat Islam jelas menghalalkan, menjaga perasaan orang lain lebih diutamakan.  Di atas ilmu fikih, masih ada ilmu ushul fikih, dan di atasnya lagi masih ada ilmu tasawuf. Maksudnya, menghargai perasaan orang lain lebih diutamakan, daripada sekadar halal-haram. Kebaikan lebih utama daripada kebenaran. Dengan bercanda, beliau berkomentar bahwa daging kerbau dan sapi sama saja, makan daging kerbau saja juga enak. Tidak perlu cari gara-gara dan cari benarnya sendiri, jika ada barang halal lain tapi lebih kecil mudharatnya.  Kemudian, ketika berbicara di depan khalayak umum, beliau menyampaikan bahwa agama Islam juga memuliakan hewan sapi. Sunan tersebut kemudian memberikan bukti bahwa kitab suci umat Islam ada yang namanya Surat Al-Baqarah (Sapi Betina).  Dengan nuansa kekeluargaan, sunan tersebut memetikkan beberapa ilmu hikmah dari surat tersebut, untuk dijadikan pegangan hidup siapapun yang mendengarnya. Perlu diketahui, prilaku Walisongo seperti Nabi Muhammad SAW zaman dahulu, Walisongo tidak hanya menjadi guru orang-orang yang beragama Islam. Walisongo berakhlak baik pada siapa saja dan apapun agamanya. Justru karena kelembutan dakwah sunan tersebut, masyarakat yang saat itu belum masuk Islam, justru gotong-royong membantu para murid beliau melaksanakan ibadah qurban. *** Kalau Anda sekalian amati, betapa gaya berdakwah para anggota Walisongo sangat mirip gaya dakwah kanjeng nabi. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana bisa? Hal tersebut bisa terjadi karena ada manual book cara berdakwah, yaitu Surat An-Nahl ayat ke-125. Ud'u ilaa sabiili Rabbika bilhikmati walmau'izhatil hasanati wajaadilhum billatii hiya ahsan. Inna Rabbaka Huwa a'lamu biman dhalla 'an sabiilihi wa Huwa a'alamu bilmuhtadiin. Terjemahannya kira-kira; Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui mereka yang mendapat petunjuk. Menurut ulama Ahlussunnah wal Jama'ah, tafsir ayat dakwah tersebut adalah seperti berikut: Potongan kalimat awal, ud'u ilaa sabiili Rabbika, yang terjemahannya adalah "Ajaklah ke jalan Tuhanmu", tidak memiliki objek. Hal tersebut karena Gusti Allah berfirman menggunakan pola kalimat sastra. Siapa yang diajak? Tentunya orang-orang yang belum di jalan Tuhan. Misalnya, ajaklah ke Jakarta, ya berarti yang diajak adalah orang-orang yang belum di Jakarta. Dakwah artinya adalah "mengajak", bukan perintah. Jadi cara berdakwah yang betul adalah dengan hikmah dan nasehat yang baik. Apabila harus berdebat, pendakwah harus menggunakan cara membantah yang lebih baik. Sifat "lebih baik" di sini bisa diartikan lebih sopan, lebih lembut, dan dengan kasih sayang. Sekali lagi, apabila harus berdebat, harap diperhatikan. Para pendakwah justru seharusnya menghindari perdebatan. Bukannya tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ada ustadz yang mengajak debat para pendeta, biksu, orang atheis, dan sebagainya. Berdakwah tidak boleh berlandaskan hawa nafsu. Harus ditikari ilmu, diselimuti rasa kasih sayang, dan berangkat niat yang tulus. Apalagi ayat dakwah ditutup dengan kalimat penegasan bahwa hanya Tuhan yang mengetahui kebenaran sejati. Hanya Allah SWT yang tahu hambaNya yang masih tersesat dan hambaNya yang sudah mendapat petunjuk.  Firman dari Allah SWT tersebut sudah merupakan warning untuk para pendakwah jangan pernah merasa sudah suci, apalagi menganggap objek dakwah sebagai orang-orang yang tersesat. Anggaplah objek dakwah sebagai sesama manusia yang sama-sama berusaha menuju jalanNya. Ayat dakwah itulah yang dipegang Nabi Muhammad SAW dan para pewarisnya saat berdakwah. Maka dari itu, kita jangan kagetan seperti para sejarawan dunia, karena kesuksesan dakwah Walisongo sebenarnya bukanlah hal yang aneh. *** Kanjeng nabi saja bisa mengubah Jazirah Arab hanya dalam waktu 23 tahun, apalagi Walisongo yang “hanya” ditugaskan Allah SWT untuk mengislamkan sebuah bangsa. Dakwah bisa sukses pada dasarnya dikarenakan dua faktor saja. Pertama, karena niat yang tulus. Walisongo menyayangi bangsa Indonesia, maka dari itu bangsa nusantara dirayu-rayu dengan penuh kelembutan untuk mau masuk agama Islam. Bila ada kalangan yang menolak, tetap sangat disayangi. Sekalipun orang tersebut enggan masuk agama Islam, tapi bila ada yang sedang sakit, ia tetap dijenguk dan dicarikan obat. Kalau orang tersebut sedang membangun rumah, maka Walisongo mengerahkan para santrinya untuk menyumbang tenaga. Bahkan, kepada pihak-pihak yang tidak hanya menolak agama Islam, tapi juga mencela sekalipun, Walisongo tetap bersikap ramah. Kedua, karena “satu kata satu perbuatan”. Walisongo membawa ajaran agama Islam ke nusantara, tentu kesembilan alim ulama tersebut harus menjadi pihak pertama yang mempraktekkan. Agama Islam adalah agama anugerah untuk umat manusia, maka para wali tersebut selalu berusaha praktek menjadi anugerah bagi umat manusia di sekitarnya. Semuanya dimanusiakan, karena Walisongo mempraktekkan inti ajaran agama Islam; rahmatan lil ‘alamin. Islam tidak mengenal konsep rahmatan lil muslimin. Begitulah... Jadi, saya sangat senang kalau bisa berwisata ke Candi Prambanan atau Candi Borobudur, karena di kedua tempat tersebut saya jadi bisa bertemu Walisongo. Pertemuan secara batin. Tulisan ini bukan untuk menjawab orang-orang yang sering meremehkan Walisongo. Tulisan ini hanyalah tulisan rindu seseorang yang penuh dosa. Di tengah ketidakberdayaan menatap gaya dakwah yang terlalu mudah memvonis orang lain masuk neraka, saya seringkali jadi merindukan Walisongo. *) Tulisan asli oleh @[100000282510053:2048:Doni Febriando], dari buku "Kembali Menjadi Manusia" yang bisa didapatkan di jaringan toko buku GRAMEDIA atau TOGAMAS. Foto adalah ilustrasi. Yang ingin membagikan sudah saya izinkan sejak saya belum meposting tulisan ini.'
Sofian J. Anom bersama Mohamad Guntur Romli dan 47 lainnyaBertemu Walisongo di Candi Prambanan dan Borobudur*)

borobudurJika memakai ilmu perbandingan, bisa dibilang Candi Prambanan dan Candi Borobudur sebanding dengan Masjidil Haram. Hal itulah yang membuat saya makin kagum pada Walisongo.

Maksudnya begini, kalau ada “Masjidil Haram”, berarti logikanya ada puluhan “masjid agung” kan? Kalau ada tempat ibadah Hindu-Buddha selevel “Masjidil Haram”, berarti bukan tidak mungkin Indonesia zaman dahulu sudah dipenuhi ribuan “mushola” umat Hindu-Buddha.

Orang tidak mungkin bisa membuat sesuatu berskala besar tanpa bisa membuat sesuatu yang berskala kecil-kecil dulu.

Tentu kita jadi bisa membayangkan kalau umat beragama Hindu dan Buddha zaman dahulu adalah golongan mayoritas. Kalau umat beragama Hindu dan Buddha zaman dahulu sangat mendominasi, bagaimana bisa Walisongo membalik kondisi tersebut?

Continue Reading »

1 Komentar

Pak Mul, is The Great Inspirator for Me

Pak Mul, is The Great Inspirator for Me

By Ahmad Yanuana Samantho

 

  activities-of-icas-jkt-in-early-years-16.jpg Kemajuan pendidikan dan perkembangan ilmu pengetahuan, falsafah dan hikmah ilaihiyah (Irfan) yang menopang terbinanya cikal-bakal sebuah peradaban yang maju, tak bisa lepas dari peran para guru dan dosen serta para mualim (penyebar ilmu) di masyarakat. Inilah yang saya alami dan rasakan dalam hubungan pribadi saya dengan para guru dan dosen saya yang sangat berjasa dalam karier kehidupan pribadi saya maupun teman-teman saya di Indonesia.

Salah satu tokoh yang menurut saya adalah “The Great Inspirator and Intelectual Motivator” adalah Prof.Dr. Mulyadhi Kartanegara, yang kami lebih akrab memanggilnya “Pak Mul”. Mungkin juga banyak teman-teman sekelas saya di Program Magister Filsafat Islam dan Islamic Mysticisms (Tasawuf-Irfan) ICAS-Universitas Paramadina angkatan pertama 2003 yang merasakan hal yang sama.  Begitu juga teman-teman dan adik kelas kami yang lainnya sejak angkatan 2004 sampai 2013 di Program Magister Filsafat Islam dan Mysticism ICAS-Universitas Paramadina, atau para mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UGM, serta universitas lainnya, bahkan forum-forum majlis Ta’lim seperti Jamaah Kajian Islam Yayasan Paramadina, dll, di mana Pak Mul telah berkiprah.

Continue Reading »

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.426 pengikut lainnya.