Tinggalkan komentar

Kajian Post Kolonial ke 4 Nusantara Center Depok: Peradaban Atlantis Nusantara

POSTKOLONIAL STUDIES#
PERADABAN ATLANTIS NUSANTARA
Yudhie Haryono

19 November pukul 16:32 ·Bersama Ahmad Yanuana Samantho kita telah menelusuri satu per satu tema purba nusantara. Mengapa tema ini dikaji via studi postkolonial? Sebab, Nusantara adalah negeri terakhir yang dihuni mahluk purba sekaligus negeri pertama yang dihuni manusia pertama pasca monyet-monyet tua.

Tentu hipotesa ini melawan teorama kolonial yang menempatkan indonesia sebagai tempat berak modernitas yang tak punya masa lalu. Tentu juga agar tak punya masa depan. So, ini jenis pengetahuan “subversif.” Hanya orang jenius yang sanggup merumuskan hipotesa subversif guna meruntuhkan dominasi kolonial.

 

https://https://www.youtube.com/watch?v=knqIOfVMA10www.youtube.com/watch?v=COrSeW9vZqk&feature=youtu.be

 

https://www.youtube.com/watch?v=NsnIZAen7ZU

Apa ringkasannya? Mengkreasi masa depan. Begitulan intisari diskusi di Nusantara Centre yang dihadiri tuan guru Yanuana Samantho dkk. Dengan tajuk menemukenali peradaban atlantis, kami bersepakat untuk kerja keras dan kerja cerdas dalam rangka merealisasikan kejayaan masa lalu bukan hanya untuk dikenang, atau dibanggakan, tetapi harus menjadi “energi-penggerak” untuk mengambil tanggung jawab dan tugas demi kejayaan Indonesia dan keberlanjutan peradaban nusantara beserta seluruh spesies yang ada di semesta.

INI merupakan kerja masa lalu yang menghidupi masa depan; masa purba yang menerangi masa kini. Tentu berbeda dengan diskursus fundamentalisme agama yang mengaborsi masa depan dengan masa lalu. Juga berbeda dengan diskursus fundamentalisme pasar yang mengkoloni masa kini dengan masa depan.

APA itu diskursus atlantis? Kita membaca di berbagai jurnal bahwa Atlantis telah menjadi topik perdebatan panas selama lebih dari 2.500 tahun di antara kalangan filsuf, aktor, sutradara, ilmuwan, sejarawan, dan arkeolog.

Atlantis dijelaskan sebagai kerajaan kuat dan sangat maju yang tenggelam dan tidak pernah terlihat atau terdengar lagi. Menurut filsuf Plato itu terjadi sekitar 9600 SM. “Melalui gempa bumi dan banjir yang hebat, kemalangan mereka ditakdir ditelan bumi dan pulau Atlantis menghilang ke kedalaman laut,” tulis Plato.

Tulisan-tulisan pertama tentang Atlantis berasal dari buku “dialog” terkenal yang ditulis oleh Plato pada abad keempat SM. Menurut Plato, cerita Atlantis ditanggungkan kepadanya oleh kakeknya, yang telah mendengar cerita kuno tentang Atlantis dari seorang negarawan Athena bernama Solon yang belajar tentang keberadaan Atlantis dari seorang pendeta Mesir yang mengklaim bahwa Atlantis ada sembilan ribu tahun yang lalu sebelum hari itu.

KINI, melalui berbagai riset mendalam via disiplin ilmu yang sangat luas, beberapa ilmuwan yakin bahwa atlantis purba ada di Indonesia. Tuan guru Ahmad Yanuana Samantho adalah salah satu yang sudah menyelidikinya. Beberapa buku, riset lapangan dan rangkaian forum telah dilakukan.

Semua menuju pada satu simpulan, di sini mula peradaban di mulai. Di sini ajaran dan ujaran perennial mula-mula dibumikan. So, yang lain hanya part of us dan karbon kopi.(*)

 

60 BUKTI BAHWA ATLANTIS ADA DI INDONESIA
60 EVIDENCE THAT ATLANTIS IS IN INDONESIA

Bahasa Indonesia
1. Pada suatu tempat yang jauh di “Samudera Atlantik” (pemahaman Yunani kuno) 06:51
2. Jalan menuju pulau-pulau lain 09:08
3. Dapat mencapai benua di seberangnya yang meliputi samudera yang sebenarnya 09:08
4. Lebih besar dari gabungan “Libya” dan “Asia” (Asia Kecil) (pemahaman Yunani kuno) 09:08
5. Bentang daratan seluruh negeri, di wilayah pada sisi samudera, adalah menjulang tinggi dan terjal. 09:08
6. Beriklim dua musim – “panas” (kemarau) dan “dingin” (hujan) 10:39
7. Berlimpah air berkat curah hujan yang tinggi 10:39
8. Iklim dengan suhu udara yang amat nyaman 10:39
9. Tanahnya subur, terbaik untuk kayu-kayuan, pertanian dan peternakan 11:15
10. Berlimpah makanan untuk setiap satwa, liar maupun jinak, untuk mempertahankan peradaban dan menciptakan angkatan perang (sekitar 20 juta orang) 11:15
11. Keragaman flora dan fauna yang sangat luas 11:15
12. Gajah, kuda, “banteng” dan lumba-lumba 12:43
13. “Buah” yang berkulit keras, menghasilkan air yang dapat diminum, daging dan minyak urap 14:53
14. Hasil bumi yang dibusukkan dengan dipelihara, untuk cuci mulut setelah makan malam 15:58
15. Akar-akaran, daun-daunan, kayu-kayuan dan esens disuling dari “buah” dan bunga 17:06
16. Hasil bumi yang dibudidayakan, dikeringkan, untuk makanan dan lainnya, digunakan sebagai makanan pokok – nama umumnya “butiran curah” 17:37
17. Sejenis kastanye, yang memberikan kesenangan dan hiburan 18:02
18. Semua hasil bumi itu menakjubkan dan dalam kelimpahan tak terbatas 18:02
19. Emas 18:20
20. Perak 18:20
21. Timah 18:20
22. “Kuningan”/”perunggu” (tembaga, timah dan seng) 18:20
23. “Orichalcum”, mineral lebih berharga dari apa pun kecuali emas, gemerlap, berwarna merah 18:20
24. “Orichalcum” digali dari bumi di banyak bagian daratan 18:20
25. Di dekat dan di sekitar kota terdapat dataran yang rata. 19:56
26. Datarannya halus dan tidak bergelombang. 19:56
27. Datarannya dikelilingi oleh pegunungan yang menurun menuju laut. 19:56
28. Datarannya mengarah ke selatan, terlindung dari utara. 19:56
29. Datarannya dikelilingi oleh sederetan pegunungan besar dan kecil yang indah, dengan desa-desa dan rakyat yang makmur, sungai, rawa dan padang rumput. 19:56
30. Pada datarannya terdapat berbagai macam kayu – berlimpah untuk setiap macam karya. 19:56
31. Bentuk umum datarannya adalah persegi panjang dan lonjong. 19:56
32. Datarannya membentang dalam arah
memanjang 3.000 stadium (± 555 km), melintang 2.000 stadium (± 370 km). 19:56
33. Saluran keliling adalah luar biasa besarnya, tak diduga bahwa itu buatan. 22:15
34. Saluran keliling dalamnya 100 kaki (± 30 m), lebarnya 1 stadium (± 185 m), panjangnya 10.000 stadium (± 1.850 km). 22:15
35. Saluran keliling memperoleh aliran dari pegunungan. 22:15
36. Saluran pedalaman adalah lurus, lebarnya sekitar 100 kaki (30 m), intervalnya sekitar 100 stadium (18,5 km) dan bermuara kedalam saluran keliling. 22:15
37. Terusan digali dari saluran pedalaman yang satu ke yang lain. 24:49
38. Saluran pedalaman dan terusan digunakan untuk mengangkut kayu dan hasil bumi menggunakan kapal. 25:22
39. Saluran irigasi menyadap dari saluran yang lain. 25:58
40. Saluran irigasi mengairi lahan di “musim panas” (musim kemarau) sementara di “musim dingin” (musim hujan) mendapatkan air dari hujan, menghasilkan dua kali panen dalam setahun. 25:58
41. Pulau kotanya ada di laut yang dikelilingi oleh benua tak terbatas, yang lainnya adalah samudera yang nyata. 27:17
43. Kota itu terdapat didepan sebuah selat. 27:17
44. Ada beberapa pulau di laut itu.
44. Di dan di sekitar kota terdapat dataran dan semua saluran bertemu di kota dan bermuara ke laut. 27:56
45. Sebuah bukit kecil (pulau pusat) dan sebuah dataran rata yang luas di dekat laut dapat dicapai dengan kapal dan perahu dari laut. 27:56
46. Laut di ibukota Atlantis “sekarang” (waktu Solon) tidak dapat dilewati dan ditembus karena adanya “beting tanah liat” (terumbu karang), akibat “penurunan” pulau (kenaikan permukaan laut). 30:18
47. Bekas kotanya sekarang berada dibawah laut. 30:18
48. Kotanya berada di seberang tugu batas, orang Yunani (kuno) menyebutnya “Tugu Herakles”. 32:35
49. Mata air panas dan dingin 35:02
50. Batu-batu berwarna putih, hitam dan merah 35:02
51. Batuan dilubangi untuk atap galangan ganda 35:02
52. “Poseidon” (dewa laut atau air, penata hukum pertama, berkendaraan makhluk laut, dewa tertinggi di masa awal) 36:30
53. “Herakles” (anak dewa tertinggi Zeus, kelahirannya tidak senonoh, memiliki selera yang tak terpuaskan, sangat kasar, brutal dan keras) 40:23
54. Pengorbanan “banteng” 44:12
55. Candi atau piramida 45:35
56. Kegiatan maritim 48:59
57. Peradaban maju pada zamannya 50:17
58. Hancur 9.000 tahun sebelum Solon (sekitar 11.600 tahun lalu) 52:44
59. Gempa dan “banjir” dari laut (tsunami) 53:46
60. Tenggelam tanpa henti (kenaikan permukaan laut pasca-glasial) 55:12

English
1. At a distant point in the “Atlantic Ocean” (ancient Greek understanding) 06:51
2. The way to other islands 09:08
3. Might pass to opposite continent encompasses true ocean 09:08
4. Larger than “Libya” and “Asia” (Asia Minor) combined (ancient Greek understanding) 09:08
5. The landscape of the whole country, at the region on the side of the ocean, was very lofty and precipitous. 09:08
6. Two-season climate – “summer” (dry) and “winter” (wet) 10:39
7. Abundant of water benefit of the annual rainfall 10:39
8. Excellently attempered climate 10:39
9. Fertile, best soil for carpenter, agriculture and farming 11:15
10. Abundant of food supply for every animal, wild or tame, to sustain a civilization and to create an army (about 20 million people) 11:15
11. Vast diversity of flora and fauna 11:15
12. Elephant, horse, “bull” and dolphin 12:43
13. “Fruits” having a hard rind, affording drinks and meats and ointments 14:53
14. Land products which spoil with keeping, consoled after dinner 15:58
15. Roots, herbage, woods and essences distilled from “fruit” and flower 17:06
16. Cultivated land product, dried, for nourishment and any other, used for food – common name ‘pulse’ 17:37
17. “Chestnuts and the like, which furnish pleasure and amusement 18:02
8. All of them were wondrous and in infinite abundance. 18:02
19. Gold 18:20
20. Silver 18:20
21. Tin 18:20
22. “Brass”/“bronze” (copper, tin and zinc) 18:20
23. “Orichalcum”, more precious mineral than anything except gold, flashing, red color 18:20
24. “Orichalcum” was dug out of the earth in many parts of the land. 18:20
25. Immediately about and surrounding the city was a level plain. 19:56
26. The plain was smooth and even. 19:56
27. The plain was surrounded by mountains which descended towards the sea. 19:56
28. The plain looked towards the south, sheltered from the north. 19:56
29. The mountains surrounding the plain celebrated their number, size and beauty, with many wealthy villages of country folk, rivers, lakes and meadows. 19:56
30. Plenty of wood of various sorts on the plain – abundant for each and every kind of work. 19:56
31. The general shape of the plain was rectangular and oblong. 21:33
32. The plain was extending in one direction 3,000 stadia (± 555 km), across the center inland 2,000 stadia (± 370 km). 21:33
33. The perimeter ditch was incredible in size, unexpected that they were artificial. 22:15
34. The perimeter ditch was 100 ft (± 30 m) deep, 1 stadium (± 185 m) wide, 10,000 stadia (± 1,850 km) long. 22:15
35. The perimeter ditch received streams from the mountains. 22:15
36. The inland canals were straight, about 100 ft (± 30 m) wide, 100 stadia (± 18.5 km) intervals and let off into the perimeter ditch. 22:15
37. Transverse passages were cut from one inland canal into another. 24:49
38. The inland canals and transverse passages were means for transporting wood and products in ships. 25:22
39. Irrigation streams were tapping from the canals. 25:58
40. The irrigation streams supplied water to the land in “summer” (dry) but rainfall in the “winter” (rainy) yielding two crops in a year. 25:58
41. The island city was in a sea surrounded by a boundless continent, the other is a real ocean. 27:17
42. The city was in front of a strait. 27:17
43. There were some islands in the sea. 27:17
44. Immediately about and surrounding the city was a level plain and all the canals met at the city and drained into the sea. 27:56
45. A small hill (the central island) and a vast level plain near the sea were accessible by ships, vessels and boats from the sea. 27:56
46. The sea at the Atlantis city “is now” (Solon’s time) impassable and impenetrable because of a “reef of clay/mud” (coral reef), caused by “subsidence” of the island (sea level rise). 30:18
47. The ruin of the city is now under the sea. 30:18
48. The city was beyond bordering monuments, the (ancient) Greek called them “the Monuments of Heracles”. 32:35
49. Hot and cold springs 35:02
50. White, black and red stones 35:02
51. Hollowed out rock for roofs of double docks 35:02
52. “Poseidon” (sea or water god, law founder, driving sea creatures, supreme god in earlier time) 36:30
53. “Heracles” (son of the supreme god, outrageous birth, has insatiable appetites and being very rude, brutal and violent) 40:23
54. “Bull” sacrifices 44:12
55. Temple or pyramid 45:35
56. Maritime activities 48:59
57. Advanced civilization in the era 50:17
58. Destructed 9,000 years before Solon (about 11,600 years ago) 52:44
59. Earthquakes and “floods” from the sea (tsunami) 53:46
60. Sunken ceaselessly (post-glacial sea level rise) 55:12

SuperTunjukkan lebih banyak tanggapan

Komentari

Komentar
Ahmad Yanuana Samantho
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan

 · Balas · 9 jam

Kelola

Ahmad Yanuana Samantho
Ahmad Yanuana Samantho Yanuana Samantho membagikan kiriman ke linimasa Anda.
19 November pukul 16:56 · Lihat Lainnya
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan

 · Balas · 

1

 · 8 jam

Kelola

Ahmad Yanuana Samantho
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan

 · Balas · Hapus Pratinjau · 8 jam

Kelola

Iklan
3 Komentar

DESAIN DEMOKRASI EKONOMI-POLITIK PANCASILA

Yudhie Haryono's Blog

Yudhie Haryono
Direktur Eksekutif Nusantara Centre

Demokrasi ekonomi-politik sesungguhnya menjadi tujuan pembangunan Indonesia. Yaitu membangun masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Dengan demikian, seluruh pembangunan ekonomi-politik kita pun haruslah berlandaskan Pancasila. Pemikiran dan tindakan yang ingin kita bangun harus berdasar, bertujuan, dan berpedoman dalam penyelenggaraannya sebagai manifestasi ekonomi-politik Pancasila. Dalam arti singkat, ekonomi-politik Pancasila adalah ilmu dan cara berekonomi-politik menurut sila-sila dalam Pancasila; yaitu ilmu ekonomi-politik dan praktik berekonomi-politik yang berketuhanan yang maha esa, berperikemanusiaan yang adil dan beradab, mementingkan persatuan Indonesia, menggunakan asas musyawarah, dan berujung pada berkeadilan sosial bagi semua masyarakat. 

Lihat pos aslinya 1.764 kata lagi

Tinggalkan komentar

PRAMOEDYA ANANTA TOER MENGGAMBAR INDONESIA

Tokoh Pejuang Indonesia Anti Kolonialisme dan Imperialisme

Yudhie Haryono's Blog

M. Yudhie Haryono
Direktur Eksekutif Nusantara Centre


pramoedyaPramPram1Pram_dan_Cinaanak semua bangsabumi-manusia1

Bagi saya, Pramoedya adalah salah satu dari tiga penggambar besar bangsa kita. Jika Nurcholish Madjid adalah penggambar paling fasih tentang ”Islam dan Indonesia,” lalu HAMKA adalah penggambar setia tentang ”ummat dan sikap,” maka Pram adalah penggambar idealis tentang ”rakyat dan nasibnya.”
Cara Pram menggambar Indonesia sangat detail. Walau orang kampung, dia berpikir dan bertindak dunia. Lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925—wafat di Jakarta, 30 April 2006 pada umur 81 tahun, Pram secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang paling produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Berasal dari keluarga yang punya ”sikap” dan pengabdian pada idealisme, Pram adalah pewaris dan penanda keluarga besarnya. Buktinya adalah, ia menghasilkan lebih dari 50 karya yang diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing dan beberapa kali mendapat nominasi Nobel Sastra. Satu momen yang tak dipunyai sastrawan lainnya di Indonesia.
Bukti lainnya, ketika Pramoedya Ananta Toer…

Lihat pos aslinya 1.945 kata lagi

Tinggalkan komentar

NURCHOLISH MADJID PELETAK NEO-MODERNISME ISLAM INDONESIA

Inilah guru kami semua

Yudhie Haryono's Blog

M. Yudhie Haryono
Direktur Eksekutif Nusantara Centre

Nurcholish M

Melalui bukunya Gagasan Islam Liberal, Greg Barton [1999] menulis bahwa Cak Nur adalah hanif yang berpaham kebangsaan. Dengan paham ini, Cak Nur adalah muslim yang telah mensintesakan keislaman-kemodernan dan keindonesiaan. Sintesa itulah yang menyebabkan Cak Nur mendapat julukan “guru bangsa.”

Lihat pos aslinya 1.019 kata lagi

Tinggalkan komentar

WARISAN KEARIFAN DAN  KETELADANAN PRABU SILIWANGI

 

 Oleh Ahmad Yanuana Samantho

(Penulis beberapa buku sejarah dan Buku Kerajaan Pakuan Pajajaran di Tengah Pusaran Sejarah Dunia, Sekretaris 2 Sunda Ormas Langgeng Wisesa/SLW)

 

Kepopuleran Prabu Siliwangi di kalangan masyarakat Sunda dan Nusantara sangatlah tinggi, sehingga kadang melampaui dimensi sejarah dan menembus batas mitologis dan legendaris. Namun demikian, bagi sebagian generasi muda –yang sudah banyak terpapar dan terimbas teknologi informasi modernisme global-  legenda sejarah Prabu Siliwangi itu belumlah terlalu menyebar merata, Padahal warisannya sangat berharga bagi masa depan mereka, dan kita semua.

Tulisan ringkas ini mencoba mengais kembali apa yang masih tersisa dan selayaknya dilestarikan dari kearifan budaya dan karakter adab leluhur Sunda tersebut, yang tentunya tidak hanya akan bermanfaat bagi orang Sunda saja, tetapi juga bagi bangsa kita Indonesia dan bahkan bagi kemanusiaan sedunia, saat ini.

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

Peringatan Suro dalam Tradisi Jawa & Sunda

Peringatan Asyuro di Semarang Lancar, Polisi Banjir Apresiasi
Senin, 2 Oktober 2017 | 23:14

Foto sebagian peserta acara Asyuro di Semarang.

Foto sebagian peserta acara Asyuro di Semarang.

Berita Terkait

SEMARANG– Puluhan tokoh lintas agama dan organisasi yang tergabung dalam Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Kota Semarang memberikan apresiasi kepada Polrestabes Kota Semarang dan Polda Jawa Tengah yang berhasil melindungi acara peringatan Asyuro yang diselenggarakan masyarakat muslim Syiah Jawa Tengah di Gedung UTC Jalan Kelud Semarang, Minggu (1/10/17).

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

Ada 11 fase kehidupan manusia dalam falsafah Jawa

WIS TEKAN NGENDHI URIPMU
Ada 11 fase kehidupan manusia dalam falsafah Jawa sbb :

1. Maskumambang

Simbol fase ruh/kandungan di mana kita masih “mengapung” atau “kumambang” di alam ruh dan kemudian di dalam kandungan yang gelap.

2. Mijil

Mijil artinya keluar. Ini adalah fase bayi, dimana kita mulai mengenal kehidupan dunia. Kita belajar bertahan di alam baru.

3. Sinom

Sinom adalah masa muda, masa dimana kita tumbuh berkembang mengenal hal2 baru.

4. Kinanthi

Ini adalah masa pencarian jati diri, pencarian cita2 dan makna diri.

5. Asmaradhana

Fase paling dinamik dan ber-api2 dalam pencarian cinta dan teman hidup.

6. Gambuh

Fase dimulainya kehidupan keluarga dengan ikatan pernikahan suci (gambuh). Menyatukan visi dan cinta kasih

7. Dhandang Gula

Ini adalah fase puncak kesuksesan secara fisik dan materi (dhandang = bejana). Namun selain kenikmatan gula (manisnya) hidup, semestinya diimbangi pula dengan kenikmatan rohani dan spiritual.

8. Durma

Fase dimana kehidupan harus lebih banyak didermakan untuk orang lain, bukan mencari kenikmatan hidup lagi (gula). Ini adalah fase bertindak sosial. *Dan berkumpul dengan teman2 seperjuangan, bersosialisasi.

9. Pangkur

Ini adalah fase uzlah (pangkur-menghindar), fase menyepi, fase kontemplasi, mendekatkan diri kepada Gusti Allah. Menjauhkan diri dari gemerlapnya hidup.

10. Megatruh

Ini fase penutup kehidupan dunia, dimana Ruh (Roh) meninggalkan badan (megat: memisahkan). Fase awal dari perjalanan menuju keabadian.

11. Pucung

Fase kembali kepada Allah, Sang Murbeng Dumadi, Sangkan Paraning Dumadi. Diawali menjadi pocung (jenazah), ditanya seperti lagu pocung yang berisi pertanyaan. Fase menuju kebahagiaan sejati, bertemu dengan yang Mahasuci.

Panjenengan di tahap mana?
semoga bermanfaat…sekedar mengingat kan kembali..

Wong jowo ojo ilang jowone

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.