Tinggalkan komentar

Menimbang Kembali Konstitusi Indonesia

Menimbang Kembali Konstitusi Indonesia[1]

 Moh. Mahfud MD[2]

 

Situasi Sekarang

Sekarang ini ada ide perubahan terbatas atas UUD 1945 hasil perubahan yang kini sedang berlaku.[3] MPR sudah membentuk Tim yang dipimpin oleh Ahmad Basarah. Materinya, antara lain, mengembalikan fungsi MPR untuk membuat GBHN. Alasannya, dengan tidak ada GBHN sekarang ini pembangunan sudah tidak terkordinasi. Kebijakan Pusat dan Daerah tidak sinkron, setiap berganti pimpinan berganti pula kebijakannya. Problem ini memang sangat terasa dalam perkembangan negara kita Pasca Reformasi.

  Continue Reading »

Iklan
Tinggalkan komentar

Budayawan: Jokowi Ingin Ganti Kultur Politik Kasar

Budayawan: Jokowi Ingin Ganti Kultur Politik Kasar

Siti Yona Hukmana – 06 November 2018 13:42 wib

Budayawan Radhar Panca Dahana

Jakarta: Budayawan Radhar Panca Dahana menangkap maksud khusus Joko Widodo soal hijrah. Menurut dia, calon presiden nomor urut 01 itu ingin mengubah kultur politik Indonesia.

“Mengganti kultur berpolitik yang selama ini menurut saya mengikuti modus negara lain seperti Eropa, Jepang dan Korea yang menggunakan cara-cara kasar dan tidak senonoh,” kata Radhar di Kompleks Media Group, Kedoya,

Baca: Saatnya Hijrah Menuju Kebaikan

Politik kasar dan tidak senonoh tidak sesuai kebudayaan Indonesia. Namun, ia mengakui kebiasaan berpolitik seperti itu sudah terlanjur terjadi beberapa dekade.

“Nah, Jokowi menganjurkan supaya hijrah ke budaya kita yang sesungguhnya, yang santun beretika, penuh moralitas dan menjaga kesatuan. Jadi bukan hijrah ke mana-mana, tapi hijrah kembali ke kesejatian kita,” terang dia.

Baca: Ajakan Hijrah Jokowi Dinilai Tepat

Dunia politik Indonesia diyakini lebih baik bila kehendak Jokowi itu benar-benar terwujud. Hijrah yang menjadi buah pikir orang nomor satu di Indonesia itu akan pula mewujudkan revolusi mental.

“Itu hijrah dari kultur merugikan, dari destruktif jadi positif konstruktif dan menguntungkan,” ucap dia.

Sebelumnya, Jokowi mengajak masyarakat hijrah menjadi pribadi lebih baik. Hal itu perlu dilakukan untuk menjaga persatuan, kesatuan, dan persaudaraan antarmasyarakat.

“Saya mengajak kita semuanya mari kita bersama-sama mulai hijrah dari ujaran-ujaran kebencian ke ujaran-ujaran kebenaran,” ujar Jokowi dalam deklarasi dukungan ulama, pendekar Banten, dan Relawan Banten Bersatu di GOR Maulana Yusuf, Serang, Banten, Sabtu, 3 November 2018.

(OJE)

http://m.metrotvnews.com/pemilu/news-pemilu/lKY61exN-budayawan-jokowi-ingin-ganti-kultur-politik-kasar?fbclid=IwAR1p6VQvrKsLqBcwcdU-PTaLGVpq4uTzdJWPhC-buEkSOc1GyW9yZUHpWBU
Gambar mungkin berisi: Ahmad Yanuana Samantho, duduk dan dalam ruangan
Pagi ini Saya dapat Surat Cinta (Bhineka Tunggal Ika Tan Hanna Dharma Mangrwa) dari Panditha Ida Pedanda Gede Kekeran dari Bali, untuk Pak Jokowi, Pak Radhar Panca Dahana dan Saya Ahmad Yanuana Samantho (dan Dr. Menachem Ali). MasyaAllah:
Hasil gambar untuk menachem ali

Ustadz KH Dr. Menachem Ali, Ph.D

Om swastyastu, Assalamu ‘alaykum,, Salam sejahtera.

Ada 3 hal yang saya harus apresiasi pagi ini.

File:Ida Pedanda Gede Putra Kekeran.jpg

Ajakan Bapak Jokowi untuh “Hijrah”. 

Saya juga apresiasi tanggapan positif Sdr. Radhar Panca Dahana terhadap ajakan Bapak Jokowi tsb, yang saya tonton langsung di TV swasta tadi malam.
Sekaligus saya apresiasi juga usaha sdr. (Ahmad Yanuana Samantho dan Menachem Ali) menemukan tradisi Arya (Hindu) yang dalam hal ini diwakili ISKON, yang kitab sucinya “saling menyapa” dengan ajaran agama islam, meskipun mereka berbeda.

Bagi saya, tidak hanya sekta Vaisnawa yang mengakui Sac-cid-ananda (the absolute truth) itu, tetapi seluruh sekta dan Hindu. Keyakinan ini juga dapat ditemukan dalam kitab-kitab Upanishad diantaranya :

Ekam sat viprah bahuda vadanti.
(Reg Weda Mandala I Sukta 164, mantra 46).
Ekam eva advityam brahman (Chandogya Upanisad).
Eko Narayad na Dvityo asti kascit. (Narayana Upanishad).

Yang pada intinya mengatakan bahwa TAT (BRAHMAN/NARAYANAD/TUHAN) itu hakekatnya satu, tetapi orang-orang suci menyebutNYA dengan banyak nama.

Tuhan bersabda dalam Gita :

Ye yatha mam prapadyante
Tams tathaiva bhajamy aham
Mama vartmanuvartante 
manusyah partha sarwasah.
Bhagavadgita.IV.11.

Jalan manapun yang ditempuh oleh manusia ke arahKU,
Semua Ku terima, (sebab) dari mana pun mereka datang, semuanya menuju jalan-KU, wahai Partha.

Yo yo yam yam tanum bhaktah 
sraddhayarcitam icchati
Tasya tasya acalam sraddham 
tam eva vidadhamy aham.
Bhagavadgita. VII.21.

Apapun bentuk kepercayaan (agama) yang ingin dipeluk oleh penganut, AKU perlakukan kepercayaan mereka sama, (karena itu) agar mereka (umat beragama), tetap teguh dalam keimanannya dan sejahtera.

Petikan kitab suci Hindu diatas itulah yang mewajibkan umat Hindu untuk “saling menyapa” dengan semua umat beragama, dan bahkan kepada semua umat yang berkeyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Keharmonisan hidup manusia dengan manusia lainnya, keselarasan hidup manusia dengan alam lingkungannya, dan kebhaktiannya terhada “TAT” Sang Maha Pencipta, adalah sebagai sebuah keharusan dalam hindu.

…..”All types of religious theories and all form of religious practices find place in Hinduism. It is not easy to say definitely whether Hinduism is polytheistic, pantheistic, or theistic, magical or mystical things. Or whether it is a religion of love, or a religion of knowledge , or a religion of action, because we find elements off all of these within the compass of Hinduism “.

Itu yang saya juga telah sampaikan hal ini dalam WORLD HINDU WISDOM MEETING 2018 September yang lalu. Dan pada seminar Nasional di Institut Hindu Dharma beberapa hari lalu di Denpasar yang membahas tentang “Theologi Nusantara”. Saya telah berpesan bahwa pengakuan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sudah final. Apapun nama yang dipilih untuk merepresentasikan SANG MAHA PENGUASA itu dalam hidup beragama, kita harus tetap tolerant. Kita harus kembali kepada hakekat kehidupan yang benar, yakni damai, jujur, toleran, harmony, adil. Sebab semua teori akan tiada berarti apa-apa, jika tidak diimplementasikan untuk mencapai kebahagiaan di alam semesta ini (jagad-hita), dan tidak untuk memperoleh kedamaian, ketenangan batin kebahagiaan di dunia “sana” ( Moksartham).

Kalau Bapak Jokowi menyebutnya dengan “Hijrah“, tetapi saya menggunakan istilah yang berbeda, yakni “Move from Evil spirit to good spirit”, yang pada intinya tidaklah berbeda, yakni mengembalikan manusia ke jalan yang benar untuk tercapainya Jagadhita dan moksartha diatas.

Sdr. Radar,
Harapan Bapak untuk saling mengembangkan kesepahaman, persaudaraan, dan persamaaan diatas perbedaan (di antara tradisi Arya dan tradisi Semit) sangat luhur. Saya juga berkeliling dari satu kota ke kota yang lain di tanah air, untuk mengembangkan toleransi itu. Tidak hanya untuk Islam dan Hindu saja, tetapi untuk seluruh saudara kita di atas bumi ini.

Semoga harapan Bapak ( AY Samantho), beserta ajakan “hijrah” Bapak Presiden menjadi realita.

Inilah yang kupelajari dari sahabatku Dr Menachem Ali, Filolog universitas Airlangga:

Assalamu ‘alaykum 
Shalom ‘aleychem
Hare Krishna

Srimad-Bhagavatam Purana dan Sri Caitanya-caritamrta, merupakan kedua kitab suci utama para bhakta dari kalangan penganut agama Hindu aliran Vaisnava Benggali. Saudara-saudara kita dari kalangan Hindu aliran Vaisnava ini sangat respek terhadap ajaran Islam dan kitab suci umat Islam. Meskipun kedua agama ini berbeda, tetapi “saling menyapa” di antara teksnya. Di India (Hindustan), kitab suci Bhagavad-gita disebut dengan sebutan Pancamo-veda, sedangkan kitab suci Quran disebut dengan sebutan Artha-veda.

Dalam kitab utama Sri Caitanya-caritamrta, chapter Madhya-lila XVIII. 190 – 191 Sri Caitanya bersabda:

tomara sastre kahe sese eka-i Isvara
sarvaisvarya-purna tenho – syama kalevara
sac-cid-ananda deha, purna Brahma svarupa
sarvatma sarvajna, nitya sarvadi svarupa

“The Quran (tomara sastre) accepts the fact that ultimately there is only one God (eka-i Isvara), He is full of opulence. According to the Scripture, the Lord has a supreme, blissful, transcendental. He is the Absolute Truth, the all-pervading (sarva-atma), omniscient (sarva-jna) and eternal being (nitya). He is the origin of everything (sarva-adi), see Krisnadasa Kaviraja Gosvami. Sri Caitanya-caritamrta. Madhya-lila vol. VII (New York – Bombay: the Bhaktivedanta Book Trust, 1975), pp. 224 – 225

Ajaran Hindu sekte Vaisnawa Benggali ini kini bernama ISKCON (International Society for Krishna Consciousness). Semoga kedua komunitas penganut agama yang mewakili tradisi Arya dan tradisi Semit ini saling mengembangkan kesepahaman, persaudaraan dan persamaan di atas perbedaan.

http://m.metrotvnews.com/…/lKY61exN-budayawan-jokowi-ingin-….

https://www.facebook.com/v2.3/plugins/comments.php?app_id=520190821370747&channel=https%3A%2F%2Fstaticxx.facebook.com%2Fconnect%2Fxd_arbiter%2Fr%2F__Bz3h5RzMx.js%3Fversion%3D42%23cb%3Df11189912e83928%26domain%3Dwww.mufakatbudayaindonesia.org%26origin%3Dhttps%253A%252F%252Fwww.mufakatbudayaindonesia.org%252Ff5c3a56fc76844%26relation%3Dparent.parent&color_scheme=light&container_width=827&height=100&href=https%3A%2F%2Fwww.mufakatbudayaindonesia.org%2Fbudayawan-jokowi-ingin-ganti-kultur-politik-kasar%2F&locale=en_US&sdk=joey&skin=light&version=v2.3

Admin MBI
Admin MBI
Forum pertemuan gagasan terbuka bagi para pemikir terkemuka Indonesia. Email: info@mufakatbudaya.id
Tinggalkan komentar

Sundaland Ethnomusic Festival 2018

Sundaland Ethnomusic Festival 2018 & Diskusi Sejarah Peradaban Sundalandia Lemuria dan Atlantis Nusantara

Talataaki Production, gelar Sundaland Ethnomusic Festival 2018 di Pura Agung Jagatkarta, Ciapus, Bogor

NJI, HujanMusik!, Bogor – Bagi sebagian penikmat musik, mungkin ada yang merindukan sebuah kejutan ditengah merajanya musik folk, metal, shogaze, ataupun pop saat ini. Menjamurnya musisi-musisi yang karyanya seragam mungkin sedikit membosankan. Pun dengan panggung musik yang masih didominasi oleh suara modern. Semua itu tidak salah, memang begitu seharusnya dunia. Terdiri dari angka nol dan garis lurus, bilangan binari yang mewakili keseimbangan.

Sundaland Ethnomusic Festival rasanya bisa menjawab rasa haus akan sesuatu yang berbeda. Menjadi alternatif pilihan diantara keseragaman. Talataki, sebuah komunitas yang berazaskan nilai-nilai luhur kearifan lokal, terutama seni, menawarkan sebuah helaran berisi konser musik tradisional.

Tidak cuma itu, festival yang akan digelar pada 27 Oktober nanti ini juga akan dipadati kegiatan yang berkaitan dengan seni, budaya, dan sejarah. Diskusi tentang Atlantis, Lemuria, dan sejarah Sundaland, pameran foto, festival dongdang, dan pasar murah melengkapi hajat besar di Pura Agung Jagatkarta.

Manusia adalah mahluk yang unik, seringkali berharap mendapat kejutan dan bersorak kegirangan ketika mendapatkannya. Itulah yang terjadi pada saya saat menghadiri konferensi pers Sabtu (19/10) lalu di Kopi Kamu, sebuah kedai manis yang menawarkan kepahitan kopi sebagai jualan utama. Saya senang bukan kepalang, akan segera disuguhi helaran seni besar yang melibatkan setidaknya 60 seniman dari berbagai negara dan berdiskusi tentang seni budaya sunda yang menarik perhatian saya sejak 8 tahun kebelakang. Sungguh, kejutan yang menerbangkan harapan ke awang-awang.

Gambar mungkin berisi: 3 orang, termasuk Dhani Irwanto, orang tersenyum, orang berdiri dan luar ruangan

“Yang kita tampilkan adalah maestro. Melalui kegiatan ini sepantasnya kita memberikan kepada maestro seni klasik sunda, tempat yang selayak-layaknya,” terang Iwan Toruan, penggagas dan produser Sundaland Ethnomusic Festival 2018.

Sebuah penelitian psikologi yang dipublikasikan dalam jurnal Cognitive Psychology (2015) menjelaskan pada dasarnya kejutan memiliki tingkatan, mulai yang biasa, sedang sampai sangat mengejutkan. Meadhbh Foster dan Mark Keane dalam penelitian yang diberi judul why some surprises are more surprising than others: surprise as a metacognitive sense of explanatory difficulty tersebut menyebut terdapat empat faktor yang membuat kita terkejut, yaitu memori kita, skenario kejutan, logika rasio, dan juga kerja kognitif kita saat kejadian. Keempatnya yang membuat kejutan menjadi bertingkat.

Melihat semua atributnya, Sundaland Ethnomusic Festival akan menjadi kejutan yang berada di tingkatan menengah. Tidak biasa juga tidak sangat mengejutkan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan psikologis manusia. Seperti disebutkan diawal tulisan, sebagian penikmat musik pasti ada yang mengharapkan sesuatu yang diluar kebiasaan. Tapi pasti ada juga yang merasa bahwa keramaian dunia musik saat ini sudah cukup dan mereka tidak membutuhkan hal lain.

“Kami tetap kemas dengan tampilan populer. Kami pastikan denting Kacapi bisa dinikmati dengan layak,” jelas Reye Maulana, show director acara ini.

Rasanya memang sedikit janggal menyebut sebuah pagelaran yang sudah digembar-gemborkan sejak dua bulan lalu sebagai sebuah kejutan. Tapi beberapa orang bilang pada saya bahwa mereka terkejut, walaupun kebanyakan terkejut karena gerakan besar ini digratiskan untuk umum. Selain itu, pihak Talataki selaku penyelenggara juga mengaku tidak akan ada kejutan lain selain dari yang sudah disebutkan dalam berbagai media promo. Tapi ada juga segelintir orang yang mengharapkan kejutan dari para penampil dan suasana yang akan hadir disana. Jadi rasanya sah-sah saja mengkategorikan festival ini kedalam kejutan.

“Sajian musik spiritual dalam pengertian geografis-kultural pada 12000 tahun yang lalu. Ingatan itu dipancing dengan musik, pendekatan musikal. Jadi memori kesadaran itu kita coba hadirkan melalui musik dan diskusi kesejarahan,” tambah Ahmad Samantho, penulis buku Peradaban Atlantis Nusantara, pemandu diskusi kesejarahan.

Kini, tinggal menunggu semua kejutan itu terwujud saat Sundaland Ethnomusic Festival turun dari langit mimpi ke sebuah pura asri di kaki gunung salak.(Ahmad Samanto)

Sundaland Ethnomusic Festival 2018

Kejutan di Tengah Musik yang Berbeda

Kejutan di Tengah Musik yang Berbeda

Foto : dok. Sundaland Ethnomusic Festival 2018

Menjamurnya musisi yang karyanya seragam mungkin sedikit membosankan. Dan bagi sebagian penikmat musik, mungkin ada yang merindukan kejutan di tengah merajalelanya musik folk, metal, shogaze, ataupun pop saat ini. Dan Sundaland Ethnomusic Festival (SEF ) 2018 adalah kejutan itu.

Menjadi alternatif pilihan diantara keseragaman, SEF rasanya bisa menjawab rasa haus akan sesuatu yang berbeda. Talataaki, komunitas yang berazaskan nilai-nilai luhur kearifan lokal, terutama seni, menawarkan helaran berisi konser musik tradisional.

Tidak cuma itu, festival yang digelar pada Sabtu (27/10) tersebut dipadati kegiatan yang berkaitan dengan seni, budaya, dan sejarah. Diskusi tentang Atlantis, Lemuria, dan sejarah Sundaland, pameran foto, festival dongdang, dan pasar murah melengkapi hajat besar di Pura Agung Jagatkarta, Bogor.

“Yang kita tampilkan adalah maestro. Melalui kegiatan ini sepantasnya kita memberikan kepada maestro seni klasik sunda, tempat yang selayak-layaknya,” terang Iwan Toruan, penggagas dan produser SEF 2018.

Melihat semua atributnya, SEF akan menjadi kejutan yang berada di tingkatan menengah. Hal ini disebabkan perbedaan psikologis manusia. Sebagian penikmat musik pasti ada yang mengharapkan sesuatu di luar kebiasaan. Tapi pasti ada juga yang merasa bahwa keramaian dunia musik saat ini sudah cukup dan mereka tidak membutuhkan hal lain.

“Kami tetap kemas dengan tampilan populer. Kami pastikan denting Kacapi bisa dinikmati dengan layak,” jelas Reye Maulana, Show Director SEF.

Rasanya memang sedikit janggal menyebut pagelaran yang sudah digembar-gemborkan sejak dua bulan lalu sebagai sebuah kejutan. Selain itu, pihak Talataaki selaku penyelenggara juga mengaku tidak akan ada kejutan lain selain dari yang sudah disebutkan dalam berbagai media promo. Tapi ada juga segelintir orang yang mengharapkan kejutan dari para penampil dan suasana yang akan hadir di sana.

“Sajian musik spiritual dalam pengertian geografis-kultural pada 12.000 tahun lalu. Ingatan itu dipancing dengan musik, pendekatan musikal. Jadi memori kesadaran itu kita coba hadirkan melalui musik dan diskusi kesejarahan,” tambah Ahmad Samantho, penulis buku Peradaban Atlantis Nusantara, pemandu diskusi kesejarahan.  yeb/R-1

Tempat Tafakur Prabu Siliwangi

Lebih dari 30 seniman musik yang tergabung dalam 7 kelompok penampil memberikan hiburan musik etnik kelas wahid bagi mereka yang ingin merehatkan indra dan rasa dari musik favorit mereka selama ini.

Nada-nada yang mengalir cepat dengan indah dari alat musik Tabla dan Sitar dari India, keanggunan suara kecapi Guzheng dari Tiongkok, kecantikan suara kecapi Koto dari Jepang, serta suara mendayu-dayu kecapi suling Sunda beserta suara ritmis musik Gembyung dari Subang ditata apik oleh Rock Mountain Event Organizer dan bergulir secara harmonis dari waktu ke waktu selama helaran berlangsung.

Para maestro musik klasik Sunda, seperti Abah Surya Drajat Kusumahdiningrat dari Bandung, Aki Dadan Sukandar dan Mang Tatang Setiadi dari Cianjur, serta Mang Ayi Ruhyat dari Subang, tampil berbagi panggung dan memberikan pertunjukan musik etnik dengan kualitas tinggi.

Sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Festival yang digagas Iwan Lumban Toruan dan Zeira Soraya Indraswari dari Komunitas Talataaki ini memiliki arti penting karena menjadi sebuah kegiatan kultural yang mengadopsi nama Sundaland untuk pertama kali di dunia.

Konsep ilmiah yang sebenarnya berorientasi biogeografis ini direlasikan secara kuat dengan gagasan spekulatif milik Plato tentang keberadaan peradaban Atlantis, sebuah peradaban maju yang diduga pernah mendiami dataran tersebut, untuk menggugah kesadaran kolektif bangsa ini guna membangun kembali peradaban maju di bumi Nusantara sekarang.

Untuk itu, Komunitas Talataaki menggelar diskusi tentang Sundaland dan peradaban Atlantis, dengan memasukan pembahasan tentang peradaban Lemuria yang diklaim banyak pihak sebagai peradaban yang lebih tua dari Atlantis, untuk menegaskan upaya tersebut.

Pembicara penting dalam kajian ini, seperti Dicky Z.A, Dhani Irwanto dan Ahmad Y. Samantho, berbagi pengetahuan terbaru tentang peradaban-peradaban tersebut kepada masyarakat umum.

Kegiatan kebudayaan yang dilaksanakan di Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, Ciapus, Bogor, itu merupakan bangunan persembahyangan umat Hindu Bali yang berdiri indah di atas tanah yang memiliki makna spiritual tinggi bagi masyarakat Sunda maupun banyak kalangan lain, karena dipercaya sebagai salah satu tempat tafakur Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi semasa hidupnya.  yeb/R-1

Dijamin Tidak Membosankan

Pendiri Talataaki, Iwan Toruan menjelaskan, pertunjukan musik tradisional kecapi suling bertajuk SEF 2018 mengambil tema Rukun Sakabehna Saumat Sadunya (rukun umat seluruh dunia) atau live together in Peace and harmony.

“Rasa kebersamaan saat ini menjadi barang langka. Melalui musik, khususnya kecapi suling kami ingin hadirkan kembali rasa persatuan itu,” papar Iwan.

Suling dan kecapi sendiri merupakan alat musik tradisional Sunda yang merakyat dan saat ini sudah jarang dipertontonkan secara langsung atau sangat jarang orang memainkannya. Melalui festival ini, khususnya generasi muda saat ini minimal menyukai, dan diharapkan setelah suka lalu mencintai dan ikut melestarikannya ke depan.

Sementara itu, pengarah acara SEF 2018, Kang Yana menjelaskan, kemasan acara dibuat se-modern mungkin.

“Pun seni tradisional, kami yakinkan sungguhan acara tidak akan membosankan, cukup nyaman dan menarik,” katanya.

Pertunjukan menyuguhkan 30 musisi etnik dari berbagai daerah hingga luar negeri. Seperi Aki Dadan maestro kecapi suling. Ki Gola dengan Karinding, Mang Ayi Ruhiyat dengan Kecapi Pantun. Jakarta Kota Club mewakili Kebudayaan Jepang. India Jawaharlal, dan Guzheng, Tiongkok.

Tidak hanya pertunjukan musik, lanjut Yana, dihadirkan juga diskusi terkait Sundaland dan Lemura-Atlantis. Hal menarik dalam diskusi ini, membedah terkait tenggelamnya peradaban Atlantis di Laut Jawa.

SEF 2018 juga menghadirkan pameran sekitar 100 benda pusaka Sunda, kerajinan bambu, alat musik, hingga makanan tradisional.

“Acara ini gratis, siapa saja boleh datang. Estimasi kami, sekitar 1.500 orang yang hadir. Diharapkan ajang ini juga menjadikan Bogor sebagai tuan rumah untuk wisatawan internasional,” pungkas Yana.   yeb/R-1 

http://www.koran-jakarta.com/kejutan-di-tengah-musik-yang-berbeda/

 

 

 

 

http://lensacelebrity.com/talataki-production-adakan-festival-musik-etnik-di-pura-agun

g-jagatkarta-bogor/

Suara Sunda dari Taman Salaka

 

Poster SundaLand Ethnomusic Festival 2018Gambar mungkin berisi: 28 orang, termasuk Dhani Irwanto dan Ahmad Yanuana Samantho, orang tersenyum, orang berdiri

Bagi seorang Aki Dadan, Kacapi tak sekedar alat musik, melainkan refleksi cerminan diri dan keluhuran pikiran. Guratan diwajahnya menyibak perjalanan hidup yang sarat pengalaman. Ragam kesenian yang sejiwa dengan nilai-nilai kehidupan dituturkannya dengan lugas dan lancar. Tak ada keraguan, keyakinan jalan kesenian yang dipilihnya menjadikannya satu dari sedikit pelaku Kacapi sunda yang tetap aktif.

Baginya Kacapi adalah musik yang sesungguhnya. Mengalir dalam darahnya, meresap dalam sanubarinya.

Kesadaran musik tradisi yang menyuburkan bakat luar biasa untuk seorang Aki Dadan. Dijalani dengan cinta yang mendalam, diperjuangkan dengan kerja keras. Sebuah pengorbanan dan dedikasi panjang hingga bertahan 50 tahun lamanya. Sematan gelar maestro sangat layak ditempatkan untuknya.

Suatu kehormatan bagi saya, mendapat kesempatan menyaksikan aksi sang maestro secara langsung bakal terjadi dalam waktu dekat ini. Aki Dadan akan “naik gunung” memainkan Kacapi-nya.

https://www.youtube.com/watch?v=SJfCEF6j85I

Sekumpulan individu pelestari bebunyian tradisi bernama Talataaki akan menghadirkannya pada acara Sunda Land Ethnomusic Festival 2018. Sebuah gelaran untuk memperkenalkan keindahan seni Kacapi suling sunda klasik sebagai warisan dunia yang sangat berharga.

Tema perdamaian menjadi misi utama kehadiran Aki Dadan dan musisi lainnya di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta, Ciapus – Bogor, 27 Oktober 2018.

Selain Aki Dadan, beberapa musisi tamu dipastikan akan tampil menguatkan nilai perdamaian yang menjadi tujuan festival ini dilangsungkan. Yaitu : Ustadz Shabbir Hasan Warsi, pelaku Tabla dan Sitar dari Pusat Kebudayaan India Jawaharlal Nehru di Jakarta. Penampilan ustadz Sahabbir merepresentasikan kebudayaan India.

Eni Agustien, pendiri Sekolah Musik Miladomus Jakarta, akan memainkan alat musik kecapi Guzheng dari Cina. Sementara Jakarta Koto Club, akan memainkan kecapi tradisional Jepang, mewakili kebudayaan Jepang.

Dari Jawa Barat Mang Ayi Ruhiyat akan memainkan seni Gembyung Subang dan Seni Beluk. Sedangkan Abah S. Dradjat Kusumahdiningrat dari Bandung juga tampil memainkan kecapi pantun Sunda klasik. Terakhir dari Bogor ada Ki Gola & Svara Jiva Nusantara yang akan memainkan karinding.

Sunda Land Ethnomusic Festival bakal digelar di Bogor, Sabtu, 27 Oktober 2018. Foto : Alphons Louis Marie Antonie Hubert Hustinx/fotomuseum – Talataaki.

Aki Dadan sendiri akan tampil bersama Mang Tatang Setiadi, dan Perceka Art Center Cianjur, memainkan kecapi pantun Sunda klasik Cianjuran.

Talataaki, sebuah organisasi nirlaba yang didirikan di Jakarta oleh Iwan Toruan dan Zeira Soraya, menjadi aktor terjadinya festival ini. Pun demikian dengan sederet agenda lain yang mendukung festival.

“Ini didedikasikan untuk tidak hanya memperkenalkan keindahan musik kecapi suling Sunda klasik kepada dunia, namun juga untuk menyebarluaskan pesan Rukun Sakabehna Saumat Saduniya. Arti dari pesan tersebut adalah seluruh umat manusia harus hidup rukun”, tulis Iwan tentang misi Talataaki.

Tak cukup menghelat pertunjukan musik, Sunda Land Ethnomusic Festival 2018 memiliki materi diskusi untuk mencerahkan kita tentang apa dan bagaimana sunda.

Sundaland dan peradaban Lemuria-Atlantis menjadi materi menarik untuk disimak bersama pembicara Dicky Zainal Arifin/Pembina Lanterha The Lemurian Meditation dan Dhani Irwanto, penulis buku Atlantis The Lost City Is In Java Sea. Diskusi akan dipandu Ahmad Samantho/Penulis buku Peradaban Atlantis Nusantara. Terselip juga pameran foto perdamaian.

Pengunjung yang hadir pada hajatan yang digelar Talataaki Production ini juga bakal disuguhkan bazaar produk kerajinan UMKM dari Bogor dan sekitarnya.

Ah…saya perlu mencatat baik-baik tanggal perhelatannya, pergelaran model begini tak banyak dihelat. Suatu kemewahan bisa menikmati kidung adilihung langsung dari sisi taman salaka-nya.

Rahayu!

Anggitane, cyclist, citizen journalist dan pemulung sampah Ciliwung di Bogor. Menulis musik aktif untuk hujanmusik.id.

(Visited 35 times, 1 visits today)

Panggung Layak untuk Seni Sunda Klasik

 

Iwan Toruan (tengah), Ahmad Samntho dan Ry Maulana (berkacamata) saat memberikan keterangan terkait acara Festival Kecapi Suling 2018

Untuk sejenak, Iwan Toruan nyaris tak bisa meneruskan kata-kata. Keheningan sesaat melanda saat ditanya kenapa memilih Kacapi Suling sebagai repertoar utama Sunda Land Ethnomusic Festival 2018 yang digagasnya. Pandangannya lebih sering tengadah keatas dibanding menatap mata jurnalis yang menitip tanya kepadanya. Perjalanan selama 4 tahun menelisik jejak maestro Kacapi Suling di Jawa Barat, bisa jadi temuan intuitif yang melatar belakangi Iwan bersama Zeira Soraya Indraswari mempersiapkan Sunda Land Etnomusic Festival setahun yang lalu. Festival yang akan dihadiri 1000 lebih penonton.

Sejurus kemudian barulah Iwan berbagi kegundahan atas seni sunda klasik yang melegenda itu.“Kami berkeliling kampung-kampung sekeliling Gunung Salak mencari pemain musik Kacapi Suling. Mencari mereka yang mungkin ada di Kampung-kampung, yang umurnya sudah sepuh dan piawai. Kami panggungkan pada saat bulan purnama, depan 10 – 20 orang. Ternyata sulit mendapatkan pemain kecapi suling yang baik”, ungkapnya.

Bagi Iwan kenyataan seni sunda klasik pada hari ini, tak seindah alunan suaranya yang begitu mendayu-dayu. Sebegitu klasiknya hingga sepi peminat dari tahun ke tahun. Setali tiga uang dengan jalan hidup senimannya sendiri. Banyak yang memilih bertahan hidup dengan menjadi pengiring jenis musik modern lain. Kenyataan yang kian hari kian mengaduk-aduk benak. Kenyataan bagaimana seni sunda klasik mempertahankan keberadaannya diantara K-Pop dan budaya internasional lainnya.

Bersama Talataaki, Iwan dan beberapa individu pelestari nilai-nilai luhur kearifan lokal, utamanya seni. Menghadirkan sebuah helaran konser musik sunda klasik Sundalan Ethnomusic Festival 2018 di Pura Agung Jagatkarta, Ciapus, Bogor-Jawa Barat, 27 Oktober 2018.

“Musik sunda itu sifatnya lokalan, kami terpikir untuk tahun ini memanggungkan maestro – maestro saja. Kami kategorikan sebagai maestro karena memang pengalamannya panjang, hidupnya sepenuhnya untuk seni. Itu kami bawa ke pentas kami”, terang Iwan, penggagas dan produser Sundaland Ethnomusic Festival 2018.

Sebuah tontonan alternatif yang sangat layak disimak ditengah ramai-ramainya musik folk, metal, shogaze, hingga pop sekalipun. Tontonan yang mengandung kecerdasan tingkat tinggi, tercipta dari hasil proses ‘rasa’ yang cukup dalam dan hinggap melalui perenungan-perenungan tertentu.

Kemewahan bagi generasi kekinian yang bisa menyaksikan helaran yang menampilkan total 60 seniman sunda. Pertunjukan anti mainstream jika meminjam logika penentang arus utama. Sebuah nilai seni berbalut intelektual, berbeda dan tidak mengikuti selera pasar.

“Kami sajikan musik alternatif untuk anak-anak milenial sekarang. Jangan sampai anak-anak itu belum pernah dengar musik kecapi suling. Sayang kalau hilang begitu saja”, tambah Iwan.

Kata kunci panggung yang layak, sepertinya sudah jarang menyambangi dunia pelaku seni tradisi. Reye Maulana, show director yang berpengalaman mengelola panggung Noah hingga JKT48 menyaksikan betul sisi miris ini. Panggung yang layak adalah ruang yang nyaris tak pernah mereka sentuh. Panggung Sunda Land Ethnomusic Festival akan menjadi pembeda perlakuan itu.

“Saya tidak bilang ini bagus, hebat atau spektakuler. Hanya menemempatkan mereka pada ruang dan waktu yang teoat. Kita kasih pertunjukan yang benar. Bagus atau tidak itu terserah penonton yang menilai,” terang Yana, sapaan akrab Reye Maulana

Konser akan tetap dikemas dengan tampilan populer. Meski demikian, Yana berani memastikan bahwa denting Kacapi bisa dinikmati dengan layak.

***

Sebagai alat musik, suling mendapat tempat yang cukup penting dalam banyak kebudayaan dunia. Beberapa penyair bahkan melukiskan vibrasinya tidak akan berhenti hingga akhir zaman.

Pun demikian halnya kacapi. Kotak resonansi yang mengiringi aluan suling dalam pertunjukan seni Kacapi Suling.

Melalui nada yang dijalarkan, Ahmad Sumantho, seorang penulis buku Peradaban Atlantis Nusantara, menilai ada rangkaian-rangkaian sejarah akumulatif, saling terhubung dan bersambung, bak menyusun puzzle-puzzle. Itulah alasan yang menurutnya menjadi latar belakang Talataaki kembali ke akar musik tradisional klasik, suling dan kacapi. Rentetan yang membawa Indonesia menjadi pusat perhatian dunia.

Cukup beralasan, menilik bahwa Sunda Land Ethnomusic Festival 2018 juga menghadirkan materi diskusi untuk mencerahkan apa dan bagaimana sunda bersama Dicky Zainal Arifin/Pembina Lanterha The Lemurian Meditation dan Dhani Irwanto, penulis buku Atlantis The Lost City Is In Java Sea.

“Sajian musik spiritual dalam pengertian geografis-kultural pada 12000 tahun yang lalu. Ingatan itu dipancing dengan musik, pendekatan musikal. Jadi memori kesadaran itu kita coba hadirkan melalui musik dan diskusi kesejarahan,” tambah Ahmad Samantho, penulis buku Peradaban Atlantis Nusantara, pemandu diskusi kesejarahan.

Melengkapi khasanah sunda dalam pengertian geografis dan kultural, Talataaki juga mengundang musisi dari India, Jepang dan orang Indonesia keturunan Tionghoa yang sudah tampil dibanyak negara memainkan alat musik Guzheng. Ia sudah diakui dibanyak negara sebagai musisi Guzheng yang piawai.

Musisi internasional ini akan tampil membawakan  2 repertoar, 1 dari negara masing-masing, 1 lagi lagu wajib Indonesia, ada manuk dadali, ada tanah airku, dan ada Indonesia Pusaka. Tentunya dengan alat musik mereka masing-masing.

Semoga repertoar yang mereka tampilkan menjadi doa perdamaian umat manusia.

Terbersit sebuah niat yang kuat, Talataaki akan memanggungkan semua alat musik tradisional kedepannya. Bisa jadi tahun depan ada seni-seni sunda klasik lain yang orang sudah jarang dengar.

Semoga

Anggitane, cyclist, citizen journalist dan pemulung sampah Ciliwung di Bogor. Menulis musik aktif untuk hujanmusik.id.  

https://seluang.id/2018/10/24/panggung-layak-untuk-seni-sunda-klasik/

Tinggalkan komentar

Aku Bermedia Aku Ada

by Radhar Panca Dahana

MI/TiyokSEBENARNYA ada yang ironis bahkan tragis, di balik penyebarluasan berita-berita peristiwa tragis yang terjadi di sekitar kita oleh media personal, via media sosial, misalnya. Eksploitasi berita dan gambar yang tidak empatik. Menampilkan secara banal dan vulgar kesedihan, korban, situasi pilu, hingga tubuh-tubuh yang menggiriskan, seperti perluasan gambar dari peristiwa jatuhnya pesawat JT 610 Lion Air kemarin. Tidak hanya melukiskan merosotnya keadaban publik, tetapi juga lebih dalam dari itu.

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

Permufakatan Yogyakarta  Agamawan dan Budayawan

Permufakatan Yogyakarta  Agamawan dan Budayawan

Meskipun terakui kenyataan mutakhir kehidupan berbangsa dan bernegara
di Indonesia mengalami guncangan akibat perkembangan tak terduga di
tingkat global sehingga menciptakan banyak perubahan – yang bahkan
fundamental di tingkat lokal atau sampai pada soal eksistensial atau
kejelasan jati diri –, kita sebagai pemilik sah keberadaan serta kedaulatan
Indonesia tetaplah optimistis mampu menjawab secara adekuat semua
persoalan dan tantangan yang muncul sebagai akibat di atas. Kita pun
percaya, melalui pendidikan yang disempurnakan secara berkelanjutan, kita
akan meraih masa depan yang cerah melalui generasi-generasi baru yang
(harus) menjadi bonus demografi yang tercerahkan.

WhatsApp Image 2018-11-03 at 12.13.41 PMHal tersebut tidak akan dapat tercapai bila kita bersama, baik sebagai
individu, bangsa, maupun negara, tidak melakukan koreksi – besar dan kecil
– dan tidak menciptakan perubahan yang signifikan di semua
level/dimensinya: cara berfikir, merasa, bersikap atau bertindak, baik dalam
dimensi akal, fisikal, mental hingga spiritual.

Kami bermufakat perubahan tersebut antara lain harus terjadi pada:

Continue Reading »

1 Komentar

Arkeolog dan ahli naskah tanggapi klaim Majapahit sebagai kerajaan Islam

Arkeolog dan ahli naskah tanggapi klaim Majapahit sebagai kerajaan Islam

Sebuah hasil kajian yang menyimpulkan Kerajaan Majapahit merupakan Kesultanan Islam dipertanyakan oleh arkeolog senior dan ahli naskah kuno, karena dianggap tidak berdasarkan bukti-bukti yang kuat.

majapahitHak atas fotoKEMDIKBUD.GO.ID
Image captionSalah-satu situs peninggalan bersejarah di kawasan Trowulan, Jawa Timur, yang diyakini dulunya merupakan bagian Kerajaan Majapahit.

Mereka kemudian mengusulkan agar kajian itu dibahas bersama para ahli di bidangnya sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya.

Hasil kajian sebenarnya sudah dibukukan dengan judul Majapahit, Kerajaan Islam: Fakta Mengejutkan, pada 2010 lalu namun belakangan kembali menjadi sorotan di media sosial setelah seseorang mengutip keterangan dari buku tersebut.

Continue Reading »

1 Komentar

DIBOHONGI HTI PAKAI BENDERA TAUHID

Hubbul Wathon Minal ImanDisukai

DIBOHONGI HTI PAKAI BENDERA TAUHID

Oleh : Ayik Heriansyah (Mantan Ketua HTI Babel 2014)

Gambar mungkin berisi: 1 orang, teks dan dekatJangan heran jika HTI menghalalkan segala cara dalam perjuangannya. Syahwat politik mereka di atas rata-rata. Tidak aneh jika HTI membohongi umat pakai bendera tauhid karena mereka sendiri membohongi pengikutnya pakai Sirah Nabawiyah dan Bisyarah Nubuwwah.

Sudah jadi rahasia umum, Liwa Rayah merupakan ikon HTI. Bendera hitam putih ini terlihat mencolok di setiap acara dan aksi PA 212. Gejala ini tidak lebih sebagai cara HTI menunjukkan eksistensi dirinya di tengah umat pasca dibubarkan pemerintah. Di PA 212 sendiri peran serta HTI terbilang minor sebab HTI punya agenda politik sendiri yang berbeda dengan agenda ormas dan tokoh-tokoh Islam yang ada di PA 212. keberadaan HTI di PA 212 sebenarnya tidak memberi kontribusi politik yang signifikan pada aliansi tersebut. Karena bagi HTI, pemimpin muslim atau kafir, selama dalam sistem demokrasi, haram hukumnya untuk dipilih apalagi diperjuangkan. Aliansi PA 212 yang begitu longgar, celah bagi HTI untuk melakukan infiltrasi opini serta numpang eksis.

Continue Reading »

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Berbagi Ide, Saling Cinta

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.