1 Komentar

LAWAN Penjajahan atas Situs Eyang Prabu Siliwangi di Bukit Badigul Rancamaya oleh PT Suryamas Tbk.

Badigul, Bukit Keramat yang Memakan Korban 114 Orang

Kiageng Selo menambahkan 29 foto dan sebuah video.

7 Mei pukul 20:52 ·

 Napak Tilas dan Ziarah Karuhun Sunda Eyang Prabu Siliwangi ke Situs Sejarah Bukit Badigul Rancamaya siang ieu kahalang tembok dan pagar arogransi Komplek Perumahan dan Lapangan Golf Rancamaya yg dikuasai PT Suryamas tbk. NYUHUNKEUN PITULUNG GUSTI SANG HYANG TUNGGAL SANG HYANG NU MAHA KAWASA. Baraya Ki Sunda Pakuan Pajajaran tos lami dizalimi ku arajeuna.
Foto Kiageng Selo.

Foto Teteh Sukabumi.

Manajemen Perumahan Rancamaya Larang Warga Kunjungi Situ Badigul

SENIN, 8 MEI 2017 | 13:49

Hallobogor.com, Bogor – Ratusan warga berjalan kaki dalam rangka napak tilas untuk menuju Situ Badigul di dalam area perumahan elite Rancamaya, Kota Bogor, Minggu (7/5/2017). Mereka bermaksud berdoa di Situ Badigul memperingati kelahiran Prabu Siliwangi.

Namun baru saja sampai di depan Kantor Kelurahan Kertamaya, Kecamatan Bogor Selatan, iring-iringan warga yang berpakaian serba hitam ala adat Sunda itu dihadang pihak Manajemen Perumahan Rancamaya. Pihak manajemen melarang mereka masuk ke area perumahan.

“Jika ingin berdoa silakan di lapangan depan kantor Kelurahan Kertamaya. Kami hanya menjalankan perintah. Atasan kami tidak mengizinkan acara di lokasi (Situ Badigul, red), yang ada di area Perumahan Rancamaya,” kata Sopian, mewakili Manajemen Rancamaya.

Perdebatan pun tak bisa dihindarkan. Warga tetap memaksa masuk. Guna mengindari hal tidak diinginkan, akhirnya peserta dan pihak Manajemen Rancamaya dimediasi Kapolsek dan Danramil Bogor Selatan di Aula Kantor Kelurahan Kertamaya.

Koordinator acara, Wahyu Affandi Suradinata, mengatakan bahwa niat dan tujuan napak tilas hanya ingin berdoa dan melihat petilasan leluhur di Situ Badigul. “Masak begitu saja tidak boleh. Kami tidak akan merusak atau mengotori atau bahkan mengganggu warga Perumahan Rancamaya,” ujarnya.

Suasana sempat memanas saat peserta yang lain ikut protes kebijakan Manajemen Rancamaya. “Kami datang dengan baik-baik. Kami tidak akan mengganggu siapapun yang ada di dalam perumahan. Jangan paksa kami untuk berbuat tidak baik. Situ Badigul ini adalah situ leluhur kami. Tolong pihak Rancamaya bisa memahami. Kalau kami berdoa di sini (di luar Situ Badigul, red) lalu apa esensi dari doa dan perjalanan kami hari ini,” teriak yang lainnya.

Setelah lama berdebat, akhirnya perwakilan Manajemen Perumahan Rancamaya mengizinkan peserta napak tilas masuk ke Situ Badigul melalui area Perumahan Rancamaya. Warga pun melanjutkan perjalanan sekitar 1 kilometer.

Namun lagi-lagi sesampainya di dalam area perumahan, peserta kembali menemui kekecewaan. Mereka tetap dilarang masuk ke lokasi Situ Badigul. Mereka hanya diperbolehkan melakukan acara di depan pintu gerbang.

Kapolsek Bogor Timur, AKP Irwandj, mengatakan, kegiatan ini belum memiliki izin sehingga akhirnya warga tidak boleh masuk. “Mereka belum mengajukan izin untuk acara ini, makanya tidak boleh masuk. Untuk acaranya sendiri sebetulnya bagus. Mengangkat budaya. Tapi izinnya yang belum ada,” ungkapnya.

Sementara itu, Cecep, anggota Baraya Kujang Padjajaran yang menjadi inisiator acara ini, mengaku sudah mengajukan izin ke pihak berwenang. “Sudah sejak dua bulan lalu kami buat izin tapi tidak ada tanggapan. Begitu pula dengan pihak kepolisian. Saya tidak tahu ada apa ini. Begitu susahnya kami mengunjungi peninggalan leluhur kami di wilayah kami sendiri,” tegasnya. (wan)

Foto Kiageng Selo.

Foto Kiageng Selo.

Foto Kiageng Selo.

Foto Kiageng Selo.

Achun Marciano, Prof Dr, Syarif Bastaman, Ahmad Yanuana Samantho, M.Ud,MA

PRABU SILIWANGI

 PRABU JAYADEWATA (1482 – 1521)
( PRABU SILIWANGI )

Jayadewata secara resmi diangkat sebagai raja
Kerajaan Pajajaran yang bertahta di Pakuan saat berusia
81 tahun. Saat pengangkatannya, dilakukan 2 kali
penobatan. Dari penobatannya pertama sebagai
penguasa Galuh beliau diberi gelar Ratu Purana Prebu
Guru Dewapranata. Sedangkan untuk penobatannya sebagai penguasa Sunda-Galuh, beliau diberi gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri SangRatu Dewata .

Dari beberapa kali pernikahannya, Sri Baduga Maharaja dikabarkan memiliki 13 orang anak yang rata-
rata menjadi raja / penguasa yang menyebar ke seluruhTatar Pasundan.
Karena sepak terjang Jayadewata saat menjadi Prabu Anom maupun setelah menjadi Raja Pajajaran
begitu hebat dan dikagumi oleh seluruh rakyatnya serta dianggap sebagai raja di tatar Sunda yang terbesar setelah era kekuasaan kakeknya (Prabu Niskala Wastukancana), maka banyak para pujangga Sunda menceritakan tokoh ini ke dalam bentuk sastra (sepertidalam Kropak 630 sebagai lakon pantun). Melalui bahasa pujangga-pujangga tersebut Jayadewata digelari Prabu Siliwangi (berasal dari kata “silih” yang berarti menggantikan dan “wangi” yang diambil dari gelar kakeknya yaitu Prabu Wangi / Prabu Anggalarang / Prabu Niskala Wastukancana). Jadi, penggunaan gelar Prabu Siliwangi ini sebenarnya bukan merupakan gelar resmi, dan sang raja pun tidak pernah menggunakan gelar ini untuk menunjukkan jati dirinya (seperti yang tertulis pada prasasti-prasasti). Pemakaian sebutan
Prabu Siliwangi lebih bersifat kesusastraan, dan kebiasaan dari rakyat di zaman itu yang merasa tabu
(tidak boleh) untuk menyebut secara langsung nama atau gelar sesungguhnya dari sang raja yang berkuasa dalam percakapan mereka sehari-hari.
Wangsakerta (ahli sejarah dari Cirebon sekaligus penganggung jawab dari penyusunan Sejarah Nusantara) mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, seperti tulisannya :
“Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira”
(Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya). Jayadewata merupakan Prabu Siliwangi yang
sangat terkenal atau yang selama ini sering diceritakan kemahsyurannya didalam cerita-cerita sejarah Pajajaran dan masyarakat Sunda.
Di saat kekuasaanya, Pajajaran mengalami masa kejayaannya ( kretayuga ), dimana sosial ekonomi
rakyatnya cukup sejahtera serta Pakuan yang menjadi ibukota kerajaan mencapai puncak perkembangannya.
Sang Maharaja memperkuat sistem pertahanan Pakuan secara spektakuler yaitu dengan cara
memperkokoh parit yang mengelilingi kerajaannya sepanjang 3 kilometer di tebing Cisadane (parit tersebut pertama kali dibuat oleh Rakeyan Banga). Sedangkan bekas tanah galian dari proyek itu kemudian dijadikan benteng yang memanjang di bagian dalam, sehingga jika musuh menyerang dari luar akan terhambat oleh parit kemudian benteng tanah.
Kemudian Sang Maharaja membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, yaitu bukit
Badigul di daerah Rancamaya (Bogor). Tempat tersebut dijadikan sebagai tempat upacara keagamaan dan menyemayamkan abu jenazah dari raja-raja tertentu.

Beliau juga memperkeras jalan dengan batu-batuan tertentu dari keraton hingga gerbang Pakuan,
kemudian dilanjutkan lagi hingga ke Rancamaya (kurang lebih 7 km). Gerbang Istana depan dinamakan Lawang Saketeng, sedangkan gerbang istana belakang dinamakan Lawang Gintung.
Untuk pelestarian lingkungan alam, Sang Maharaja membuat semacam hutan lindung yang berfungsi sebagai reservoir alami. Hutan tersebut ditanami pohon samida, pohon tersebut kemungkinan
hanya boleh ditebang jika kayunya diperlukan untuk kepentingan upacara kremasi.
Karya besar dari Sri Baduga Maharaja yaitu pembangunan telaga besar yang bernama Sang Hyang
Talaga Rena Mahawijaya di hulu sungai Ciliwung (Rancamaya, Bogor). Telaga tersebut berfungsi sebagai
tempat pariwisata dan penyuburan tanah.

Karya-karya lainnya dari Sri Baduga Maharaja antara lain membuat jalan ke Wanagiri, membuat
“kaputren” (tempat isteri-isteri-nya), “kesatrian” (asrama prajurit), satuan-satuan tempat
(pageralaran), tempat-tempat hiburan, memperkuat angkatan perang, serta menyusun Undang-Undang
Kerajaan Pajajaran. Undang-undang yang disebut Sanghiyang Siksakandang Karesian ini dirumuskan
berdasarkan sistem pemerintahan Sri Baduga Maharaja yang sangat adil, Undang-Undang ini disusun pada tahun 1518.

Sri Baduga Maharaja memiliki ahli syair yang bernama Buyut Nyai Dawit , sedangkan ahli pemerintahan
dipegang oleh Adipati Pangeran Papak. Kebijakan yang paling menarik di saat kekuasaan dari Sri Baduga Maharaja adalah dengan membuat penetapan batas-batas kabuyutan (daerah yang dianggap suci dan dijadikan pusat pendidikan) yang dinyatakan sebagai “lurah kwikuan” atau disebut juga desa perdikan (desa bebas pajak) di daerah Sunda Sembawa, Gunung Samaya, dan Jayagiri. Tindakan ini
diambil karena Sri Baduga Maharaja merasa harus menjalankan amanat dari kakeknya (Prabu Anggalarang /Prabu Niskala Wastukancana). Bahkan amanat tersebut diabadikan dalam prasasti yang terbuat dari tembaga sebanyak 5 keping. Prasasti tersebut kemudian ditemukan di Kabantenan. (isi dari prasasti itu lihat Kerajaan Sunda sub- Prabu Anggalarang).
Penduduk di lurah kawikuan tersebut dibebaskan dari 4 macam pajak, yaitu “dasa” (pajak tenaga
perorangan), “calagra” (pajak tenaga kolektif / kerja bakti), “kapas timbang” (kapas 10 pikul) dan “pare
dongdang” (padi 1 gotongan). Selain di 3 buah desa kawikuan, Sri Baduga Maharaja juga memerintahkan kepada para petugas muara agar dilarang untuk memungut bea. Raja ini menganggap, tidak perlu memungut pajak pada mereka yang selalu berbakti dan membaktikan diri kepada ajaran-ajaran dan yang terus mengamalkan peraturan dewa.

Dalam hal memperkuat angkatan perang, Prabu Siliwangi ini membentuk satuan tentara dengan tugas
yang jelas. Misalnya Bhayangkara (prajurit keamanan), Pamarang (prajurit yang ahli memainkan pedang) dan Pamanah (prajurit ahli memanah). Dan terakhir Pasukan Elite Pengawal Raja, Puragabaya. Dengan pembagian tugas tersebut menjadikan Pajajaran memiliki armada perang yang tangguh.
Sedangkan untuk pertahananan di dalam kerajaan, Sri Baduga Maharaja selalu menekankan
kepada rakyatnya agar berpedoman setia kepada kebiasaan dan keaslian leluhur, jika hal itu dilaksanakan dengan baik, maka beliau meyakini bahwa Pajajaran tidak akan kedatangan musuh. Beliau sangat menganjurkan kepada semua pendeta dan pengiringnya untuk menggairahkan kegiatan agama yang menjadi penuntun kehidupan rakyat.
Kemahsyuran Pelabuhan Muara Jati sebagai pelabuhan internasional makin berkembang saat Raden
Walangsungsang (anaknya dari Subang Larang), menetap di Cirebon dan mendirikan Pakuwuan Cirebon
Larang di Cirebon pesisir. Langkah yang dilakukan Raden Walangsungsang dalam mengelola Pelabuhan
Muara Jati waktu itu (tugas warisan dari Ki Gedeng Tapa yang telah wafat) di antaranya adalah membentuk satuan penjaga keamanan untuk mengamankan Pelabuhan Muara Jati yang semakin ramai.
Setelah daerah itu semakin maju, akhirnya Raden Walangsungsang diangkat sebagai raja daerah Kerajaan Cirebon Larang oleh Sri Baduga Maharaja.
Sebagai kerajaan yang memperoleh pendapatan dari hasil niaga, Pajajaran saat itu merasa cemas
dengan hubungan harmonis antara Cirebon Larang (yang dipimpin oleh anaknya yang bernama Raden
Walangsungsang) dan Demak. Pada saat itu, armada Laut Demak sering berada di pelabuhan Muara Jati. Sri Baduga Maharaja khawatir apabila kehadiran armada Demak dapat mengganggu jalannya perniagaan
Pajajaran.
Sekitar abad ke-15 di Nusantara, Pajajaran dan Demak termasuk kerajaan yang memiliki jalur
perdagangan sangat ramai. Demak yang terkenal kuat dalam angkatan lautnya, saat itu tengah mengalami beberapa kekalahan dari Portugis yang telah menguasai selat Malaka. Berita
kekalahan ini membuat Sri Baduga Maharaja merasa perlu mengadakan hubungan kerjasama dengan
Portugis. Seperti yang kita tahu, Pajajaran merupakan penguasa di Selat Sunda dan Portugis berkuasa di Selat Malaka. Sebagai penguasa di 2 selat yang menjadi jalan masuk perniagaan dan bangsa asing ke Nusantara, tentunya keputusan Sri Baduga Maharaja ini sangat cemerlang. Kerjasama antara Pajajaran dan Portugis sangat tepat dilakukan untuk menguasai jalur niaga di Nusantara.

Kerjasama ini dilakukan bukan maksud menggalang kekuatan untuk menyerang Demak,
melainkan hanya upaya antisipasi apabila Demak membantu Cirebon melakukan serangan dalam upaya
pembebasan diri dari Pajajaran. Rupanya, Sri Baduga Maharaja sudah dapat mencium gelagat dari Raden Walangsungsang dalam upaya memerdekakan diri.
Untuk memuluskan rencananya, maka Sri Baduga Maharaja mengutus Surawisesa (putera mahkota
Pajajaran) untuk mengadakan kerjasama dengan Alfonso d’ Albuquerque (Laksamana Bunker Portugis di Malaka).
Pada tahun 1512, Surawisesa mengunjungi Malaka dan akhirnya perjanjian bilateral resmi antara
Pajajaran – Portugis, dengan hasil kesepakatan adalah Portugis berjanji untuk membantu Kerajaan Pajajaran bila diserang oleh pasukan Demak dan Cirebon, serta ingin menjalin hubungan dagang.
Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1513, Pajajaran didatangi oleh duta-duta dari Portugis dengan
menumpang 4 buah kapal. Salah seorang dari rombongan Portugis tersebut bernama Tome Pires yang
bertindak sebagai juru catat perjalanan. Tome Pires sendiri mencatat mengenai kekuasaan dari Sri Baduga Maharaja adalah “the kingdom of Sunda is justtly governed” (Kerajaan Sunda / Pajajaran diperintah dengan adil). Kerjasama kali itu baru merupakan tahap penjajakan.

Kebijakan-kebijakan dari Prabu Siliwangi itulah yang menunjukan kemakmuran, kebesaran, dan kejayaan Pajajaran pada masa kekuasaannya. Raja ini menerapkan motto hidup “silih asah, silih asih, silih asuh“ . Dengan kebijakan dan strategi-strategi itu pula, kita dapat mengakui bahwa Prabu Siliwangi ini adalah seorang raja yang mampu memimpin kerajaan dan juga seorang yang ahli strategi perang, sehingga saat itu Pajajaran tidak dapat disusupi oleh musuh. Karena itulah, orang pada zaman itu seakan teringat kembali kepada kebesaran mendiang kakek buyutnya (Prabu Maharaja
Lingga Buana) .
Dalam Carita Parahyangan, pemerintahan Sri Baduga dilukiskan demikian :
Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja loba di sanghiyang siksa”
(Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatangan musuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin. Bahagia sejahtera di utara, selatan, barat dan timur. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah tangga orang banyak yang serakah akan ajaran agama).
Namun kebesaran yang dimiliki Pajajaran saat itu tidak serta merta membuat sang raja merasa tenang,
hal ini dikarenakan pada saat itu banyak Rakyat Pajajaran yang beralih ke agama Islam dengan
meninggalkan agama lama. Mereka oleh sang Maharaja disebut “loba” (serakah) karena merasa tidak puas dengan agama yang ada, lalu mencari yang baru.
Meskipun merasa kesal, tetapi Sri Baduga Maharaja hanya bisa menyindir tanpa melakukan tindakan “fisik” atau mengeluarkan perintah larangan, karena beliau menyadari bahwa memilih agama merupakan hak bagi setiap rakyatnya. Dengan demikian beliau tetap memperlakukan adil bagi rakyatnya yang telah memeluk agama Islam.
Untuk lebih mempererat kerjasama dengan Portugis, pada tahun 1521 Sri Baduga Maharaja kembali
menugaskan Surawisesa untuk menemui Portugis di Malaka. Penugasan ini dilakukan beberapa bulan
sebelum sang Maharaja wafat.
Sri Baduga Maharaja wafat pada tanggal 31 Desember 1521 dalam usia yang sangat sepuh yaitu 120
tahun. Kekuasaan Kerajaan Pajajaran diserahkan pada puteranya yang bernama Surawisesa (anak dari Kentring Manik Mayang Sunda).
Ketika sudah dikubur selama 12 tahun, makam Sri Baduga Maharaja digali kembali atas perintah dari
Surawisesa. Kemudian kerangkanya diangkat untuk dikremasi. Setelah itu, abu jenazahnya tadi kemudiann ditaburkan di Rancamaya, Bogor ( kini sudah dijadikan lapangan golf serta perumahan mewah).
Selain di Rancamaya, sisa abu jenazahnya itu kemudian dibagikan kepada raja-raja daerah (bawahan Pajajaran) untuk dipusarakan di tempat kabuyutan daerah itu.
Karena itulah, maka tidak perlu heran apabila di beberapa tempat banyak yang mengklaim sebagai
tempat dari makam Prabu Siliwangi.

Foto Kiageng Selo.

Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.
Foto Kiageng Selo.

Home » kisah »

Badigul, Bukit Keramat yang Memakan Korban 114 Orang

Badigul, Bukit Keramat yang Memakan Korban 114 Orang Media Metafisika Add Comment kisah Friday, November 22, 2013 Mediametafisika.com – Badigul, Bukit Keramat yang Memakan Korban 114 Orang – Badigul, begitu orang menyebut bukit kecil di kota Bogor bagian Selatan ini. Selintas tak ada yang nampak istimewa pada segundukan tanah di atas lahan seluas 5000 meter persegi itu. Hanya rumput halus lapangan golf yang mengelilinginya. Di sisi barat berdiri sebuah bangunan sport center milik perumahan elite Rancamaya. Di sisi lain nampak sebuah gedung megah pusat penelitian dan pengembangan agama Budha. Bukit itu sendiri kini telah menjadi miliki perumahan Rancamaya. Namun 20 tahun lalu, sebelum Badigul digusur pengembang Rancamaya, bukit ini adalah sebuah tempat yang amat dikeramatkan masyarakat Sunda.

Betapa tidak, Badigul diyakini sebagai tempat mandapa Prabu Siliwangi. Di bukit ini sang Prabu sering semedi hingga kemudian ngahiyang menghadap Sang Pencipta.

Dulu orang berbondong-bondong berziarah pada leluhur mereka di bukit Badigul yang luasnya masih 5 hektar. Saat itu masih terdapat beberapa alat gamelan sunda yang memiliki kekuatan magis, namun kini menghilang entah ke mana. Buldoser dan 2 becko tak sanggup menggeser batu menhir di bukit Badigul. Malah tiga sopir alat-alat berat itu sekarat tanpa sebab. Korban-korban lain pun berjatuhan….

“Dulu bukit itu masih tinggi. Badigul dikelilingi sebuah telaga yang bernama Renawijaya. Jika orang ingin ke puncak bukit, mereka harus menyeberangi telaga dan mengambil air wudlu di sana,” tutur Ki Cheppy Rancamaya, 53 tahun, saat Kami ditemui di rumahnya. Berkisah tentang Badigul, Ki Cheppy, spiritualis dan budayawan ini, merasa miris mengingat masa lalunya. Ia adalah orang yang mati-matian mempertahankan tempat keramat itu. Namun kekuatan rezim Orde Baru dan pengaruh uang dari pengusaha membuatnya harus mengakui kekalahan. Badigul digusur, ia diculik Kopassus dan dipenjarakan tanpa pengadilan.

Setahun lebih Ki Cheppy harus meringkuk di penjara Paledang, Januari 1992-1993. Tak cukup sampai di situ, setelah keluar Ki Cheppy kembali melakukan perlawanan terhadap penguasa. Tapi akhirnya ia pun harus kembali meringkuk di tahanan untuk ke dua kalinya. Sebuah pengalaman mistik pun dialami Cheppy saat ia menghuni Blok B 8 Rutan Paledang, Bogor. Saat itu ia dipanggil sipir, katanya ada keluarganya yang hendak menjenguknya. Cheppy pun keluar dari ruang tahannya. Namun belum genap 10 langkah ia meninggalkan ruang tahanan itu, tiba-tiba terdengar bunyi menggelegar dari ruang tahannya. Sebuah petir yang menghebohkan seisi napi Paledang menjebolkan tembok kamar tahanan Cheppy yang tebalnya 75 cm.

“Saat itu memang hujan rintik-rintik. Petir itu membuat lubang berdiameter 50 cm pada dinding penjara. Jika saya ada di dalam tentu saya sudah mati. Belakangan saya baru tahu kalau petir itu adalah santet kiriman anak buah Cecep Adireja,” tutur Cheppy. Keberanian Cheppy untuk mempertahankan Badigul memang bukan tanpa alasan. Ia yakin seyakin-yakinnya, Badigul adalah tempat keramat peninggalan leluhur Pakuan Pajajaran. K

eyakinan Cheppy itu juga diperkuat oleh keyakinan banyak masyarakat di sana. Budayawan-budayawan Sunda pun telah menetapkan situs Badigul sebagai Cagar Budaya yang patut dilestarikan. Bahkan Solihin GP, tokoh masyarakat Sunda yang kala itu menjabat Sesdalopbang pun melarang penggusuran keramat Badigul dengan mengeluarkan nota pribadinya kepada Walikota Bogor. “Siapapun yang merusak tempat keramat akan kena supata (karma-Red.),” tutur Cheppy.

Cerita-cerita mistik dan supata yang dilontarkan Cheppy memang terbukti. Seratus orang buruh bangunan telah mati menjadi tumbal saat bukit Badigul dibuldoser. Namun ambisi pengusaha real estate untuk meratakan bukit Badigul tidak pernah luntur. Bukit itu tetap diratakan untuk perumahan dan lapangan golf hingga ketinggiannya berkurang 6 meteran. Saat puncak badigul telah tercukur 6 meter itu muncul sebuah batu menhir sebesar mobil sedan. Anehnya batu sebesar itu sama sekali tak goyang saat dibuldoser.

Penasaran dengan itu, pihak perumahan mendatangkan dua becko untuk menarik batu keramat itu. Tapi dua becko itu pun tak sanggup menggoyangkan batu itu. Bahkan satu becko malah patah saat menariknya. Secara logika batu itu seharusnya dapat digusur oleh buldoser. Saat itulah kesadaran para buruh tentang kekuatan mistik bukit Badigul mulai terbuka. “Tapi mereka terlambat, 3 orang supir alat berat itu pun mati,” tutur Cheppy.

Mengingat keanehan-keanehan yang terjadi, akhirnya pihak perumahan sepakat untuk tidak memindahkan batu itu. Batu itu tetap di tempatnya kemudian dibenamkan dan kembali timbun dengan tanah. Jadilah bukit Badigul kini sebagai lapangan golf dengan sport center dan pusat penelitian agama Budha di sebelahnya.

Memang ironis, hanya untuk membuat sebuah lapangan golf dan pusat kebugaran, pihak pengembang harus menghancurkan cagar budaya. Mereka juga harus bertentangan dengan kepercayaan masyarakat sekitar yang meyakini kekeramatkan Badigul. Alhasil mereka harus menumbalkan 114 orang buruh untuk mencukur 6 meter bukit Badigul.

“Kita berurusan dengan makhluk di dunia lain. Tapi mereka juga punya tempat dan habitat di bumi ini. Jika mereka diganggu, mereka pun bisa mengganggu kita,” jelas Cheppy. Tentang kekeramatan bukit Badigul, mungkin hanya Cheppy yang pernah menyibak tabir mistiknya. Ia adalah penduduk asli Rancamaya, Bogor Selatan. Ia adalah orang yang paling rajin bermunajat di sana. Ia sering melakukan kontak batin dengan penguasa gaib bukit Badigul. Bahkan ia juga pernah melakukan meditasi dan puasa selama 100 hari di bukit itu.

Dikisahkan Cheppy, suatu malam ia tengah melakukan meditasi di puncak Badigul. Menjelang tengah malam, ia melihat seekor anjing hitam yang diapit dua ekor anjing kecil berbulu putih di kiri kanannya. Dalam hati, Cheppy yakin itu bukan binatang sungguhan. Sebab tak mungkin binatang-binatang itu tiba-tiba muncul di hadapannya tanpa diketahui dari mana datangnya. Tidak mungkin pula anjing itu bisa ke puncak Badigul, sebab harus menyeberangi telaga Renawijaya. Binatang-binatang yang tampak gagah itu memandang heran ke arah Cheppy. Tapi sedikit pun Cheppy tak bergeming dari tempatnya duduk. Cheppy tetap konsentrasi dengan meditasinya. Sesaat ia melihat ajing berbulu hitam itu menengadahkan kepalanya pada Cheppy. Tapi ia tak mengerti apa maksudnya. Dan dalam ketidak mengertian itu, sekedipan mata saja anjing-anjing aneh itu hilang dari pandangan Cheppy.

Malam yang lainnya, Cheppy juga pernah menemukan fenomena mistik yang sulit diterima akal sehatnya. Malam itu, Cheppy sengaja datang ke Badigul untuk melanjutkan meditasinya. Dari rumah, ia membawa segala perlengkapan sajen yang diperlukan di keramat Badigul. Cheppy berharap malam itu ia akan mendapatkan sesuatu yang selama ini ia cita-citakan. Lepas Maghrib Cheppy duduk tepekur menghadap Kiblat.

Tepat tengah malam, ketika Cheppy tengah khusuk meditasi sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba ia melihat sepertinya matahari terbit dari balik gunung Salak. Sinarnya terlihat benderang menerangi seantero alam. Gunung Salak terlihat jelas, pohon besar hingga rumput kecil dan perumahan penduduk di kaki gunung itu terlihat jelas. Sesaat Cheppy tak yakin, ia sadar bahwa gunung salak itu berada di sebelah barat. Mana mungkin matahari terbit dari arah barat. Ia lalu mengusap-usap matanya. Dan seketika itu pula bumi kembali gelap gulita. Tak nampak lagi matahari yang benderang di balik gunung salak itu. Yang tertinggal hanya kedipan-kedipan kecil dari lampu yang terpasang di rumah-rumah penduduk.

“Itu benar-benar aneh dan saya mengalaminya sendiri. Kekuatan mistik Badigul memang nyata,” jelas Cheppy. Kisah lain yang lebih unik juga diceritakan Cheppy. Malam itu ia tengah wirid di Badigul. Karena penat, ia celentang merebahkan dirinya di tengah padang rumput puncak Badigul. Tapi sesaat kemudian ia tersentak kaget. Dari atas langit ia melihat seperti seberkas sinar keperakan jatuh menimpa dadanya. Seketika ia memegangi dadanya yang terasa sesak. Dan mendadak, tangannya menyentuh benda pipih yang dingin. Ia pun langsung menggenggamnya. Kini di tangannya tergenggam sebilah kujang — sebuah pusaka Pajajaran yang keampuhannya tak perlu diragukan lagi. Dan tatkala Kami mencoba, ternyata, kujang itu memiliki daya kekebalan bagi siapa pun yang memegangnya.

Masih seputar fenomena mistik Badigul, Cheppy menceritakan suatu hari di tahun 1994 warga Bogor dihebohkan oleh penemuan telapak kaki raksasa di Batutulis dan Rancamaya. Berita yang menghebohkan itu pun diliput oleh media-media cetak dan elektronik di Jabotabek. Di Jalan Batutulis terdapat sebuah telapak kaki kiri sepanjang 1 meter. Jelas sekali telapak kaki itu bukan rekayasa manusia.

Sementara di Rancamaya juga terdapat sebuah telapak kaki kanan yang panjangnya sama dengan yang ditemukan di Batutulis. Lalu orang berimajinasi, kalau kaki itu adalah milik gaib Prabu Siliwangi. Sang Prabu sengaja mendatangi Batutulis kemudian loncat ke Rancamaya hanya dengan sekali langkah saja. Tak cuma itu, ternyata di sekitar puncak Badigul terdapat empat telapak kaki yang panjang dan besarnya sama. “Sang Prabu ke Batutulis lalu ke Rancamaya dan mengelilingi puncak Badigul,” begitu jelas Ki Cheppy ketika ditanyai wartawan saat itu.

Kekeramatan bukit Badigul memang meyakinkan. Tak seorang warga Rancamaya pun yang dihubungi Kami meragukan keangkerannya.  Sejak batu keramat itu tak sanggup dibuldoser, tak seorang buruh pun yang mau melanjutkan pekerjaan di sana. Mereka takut terkena kutuk atau supata Eyang Prabu Siliwangi. “Kami tidak mau mati jadi tumbal,” tutur Ujang warga Rancamaya yang waktu itu ikut melakukan pembabatan lahan di Badigul. Ketakutan Ujang memang beralasan. Ia menceritakn beberapa orang rekannya yang mati akibat ikut meratakan tanah di bukit Badigul. Waktu itu, Herman dan beberapa teman Ujang diperintahkan untuk mengeruk tanah di puncak Badigul. Lewat tengah hari setelah mereka istirahat pekerjaan itu dilanjutkan. Namun alangkah terkejutnya Herman dan kawan-kawannya. Mereka melihat seekor ular hitam di atas tanah merah bukit Badigul. Tanpa pikir panjang ular itu mereka pukul ramai-ramai dengan batang kayu dan batu. “Esok harinya, Herman dan dua orang temannya itu dikabarkan sakit meriang lalu sore harinya mati semua,” kisah Ujang pada Misteri.

Tentang Supata yang didawuhkan Prabu Siliwangi itu ternyata tidak hanya menimpa kuli bangunan atau buruh pekerja perumahan Rancamaya. Tapi juga menimpa seluruh penggede-penggede Perumahan elit itu. Cecep Adireja misalnya, tuan tanah yang menguasai pembebasan lahan untuk perumahan itu akhirnya mati mengenaskan. Tuan tanah yang disebut-sebut pemilik Hotel Salak, Bogor, ini meninggal setelah mengalami sakit berkepanjangan yang tak jelas sebab musababnya. Begitu pun dengan kakak dan adik Cecep, mereka mati setelah mengalami sakit yang tak sanggup diobati dokter. “Tidak hanya keluarga Cecep, supata itu juga diterima Kapolsek Ciawi dan lurah Rancamaya waktu itu. Mereka juga mati setelah mengalami sakit parah yang tak jelas penyakitnya,” jelas Cheppy.

Source: http://www.mediametafisika.com/2013/11/badigul-bukit-keramat-yang-memakan.html
Disalin dari WWW.MEDIAMETAFISIKA.COM | kontent ini memiliki hak cipta.

1 Komentar

Buku (Pdf) KERAJAAN PAKUAN PAJAJARAN BOGOR Dalam Pusaran Sejarah Dunia. Gratis. (infaq fi sabilillah sukarela semampunya)

Mangga nu kersa maos Download di handap ieu:

Buku Pakuan Pajajaran Dalam Pusaran Sejarah Dunia

Tinggalkan komentar

Islam dan Demokrasi Indonesia Setelah Pilkada DKI

30 April 2017

Zainal Abidin Bagir | CRCS | Perspektif

Aksi Bela Islam 212. Foto: ZAB.

Siapa atau apakah yang menang dalam Pilkada DKI Jakarta yang baru usai? Perdebatan tentang berbagai alasan pro-Anies dan anti-Ahok sudah berlangsung selama beberapa bulan. Setelah Pilkada, berdasarkan hasil exit poll beberapa lembaga, kesimpulannya sulit dibantah: Faktor agama memainkan peran utama bagi kekalahan Ahok-Djarot. (Lihat grafik exit poll SMRC dan 3 lembaga lain di Tempo di bawah; dan dari Indikator Politik) Yang lebih impresif adalah kenyataan bahwa Ahok kalah meskipun, seperti ditunjukkan LSI dan Median, tingkat kepuasan warga Jakarta atas kepemimpinannya sangat tinggi!

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

Inilah 10 Kesesatan Hizbut Tahrir Alias HTI

Inilah 10 Kesesatan Hizbut Tahrir Alias HTI

#BubarkanHTI

Bagi sebagian umat Islam, retorika Hizbut Tahrir tentang mengembalikan kejayaan Islam melalui sistem kepemimpinan Khilafah mungkin terkesan menarik. Namun kalau dipelajari, sistem pemerintahan yang ditawarkan sebenarnya mengandung banyak persoalan serius.

Berikut sejumlah cacat pikir sistem Khilafah yang ditawarkan HT.

Pertama, HT memutlakkan konsep Khilafah sebagai satu-satunya model pemerintahan dalam Islam. Dalam konsep ini, HT tidak percaya bahwa Indonesia boleh berdiri independen sebagai sebuah negara bangsa. HT percaya bahwa kaum muslim Indonesia harus tunduk pada pemerintahan Khilafah dunia Islam di bawah seorang Khalifah yang mungkin saja berada di negara lain (misalnya di Arab Saudi atau di Iraq atau di tempat lain). Pemimpin pemerintahan di Indonesia harus tunduk pada Khalifah itu.

Continue Reading »

1 Komentar

WALI SONGO

Foto WALI SONGO.
WALI SONGOSukai Halaman

Islam Kejawaan
(Taddaburan/maiyahan)

Alhamdulillah, akhir-akhir ini orang merasakan manfaatnya Nahdlatul Ulama (NU). Dulu, orang yang paling bahagia, paling sering merasakan berkahnya NU adalah keluarga orang yang sudah meninggal : setiap hari dikirimi doa dan tumpeng.

Hari ini begitu dunia dilanda kekacauan, ketika Dunia Islam galau: di Afganistan perang sesama Islam, di Suriah perang sesama Islam, di Irak, perang sesama Islam. Semua ingin tahu, ketika semua sudah jebol, kok ada yang masih utuh: Islam di Indonesia.

Akhirnya semua ingin kesini, seperti apa Islam di Indonesia kok masih utuh. Akhirnya semua sepakat: utuhnya Islam di Indonesia itu karena memiliki jamiyyah NU. Akhirnya semua pingin tahu NU itu seperti apa.

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

Histori of Sri Vijaya-Malayu: Melayu dan Iskandar Dzulkarnain AS

Xeno 101

Halaman Disukai · 16 April

Foto Xeno 101.
 Asal-usul Kerajaan Melayu (terkait dengan Zulkarnain AS???)
Sri Vijaya-Malayu1300
Singapore and Sumatran KingdomsThe early chapters of the Sejarah Melayu (Malay Annals)[1] sound as though they preserve traditions of Malay history that were established in the pre-Islamic period. The ideology and symbolism, which underlie them, no doubt prevailed in Singapore during the 14th century. The Malay Annals begins with the story of a king named Raja Shulan who was a descendant of Iskander Zulkarnain (a figure in Persian mythology distantly inspired by Alexander the Great) and his son, Raja Culan, who set out to conquer China. The Chinese, hearing of his plan, deployed a leaky old ship manned by elderly toothless and hairless men to intercept him at Temasik. There they met Raja Chulan, who inquired of them how far away China was. The Chinese told him that they had left home when they were young men, and the voyage was so long that they had become aged. Raja Chulan then gave up his designs on China. Raja Chulan is clearly modelled on Rajaraja Chola, ruler of a south Indian kingdom, who attacked Srivijaya in 1025. This episode indicates that the attack was still remembered when the story became embedded in the annals.

Raja Chulan had a love affair with a fairy princess who lived beneath the sea (another common motif in ancient Southeast Asian myths). She bore him three princes who later appeared, as if by magic, on the summit of a hill called Seguntang Mahameru near Palembang, Sumatra. The Raja of Palembang, Demang Lebar Daun (“Chief Broad Leaf”), abdicated so that one of the three princes, Sang Nila Utama, whom the signs indicate was divinely inspired, could become king. Upon his coronation, Sang Nila Utama changed his Malay name to Sri Tri Buana, which is in Sanskrit. Demang Lebar Daun promised that the Malays would be perpetually loyal to Sri Tri Buana’s descendants, and in return Sri Tri Buana promised that the rulers would never oppress their subjects by shaming them.

Sri Tri Buana in Sanskrit means “Lord of the Three Worlds”, an allusion to the belief that the universe was divided into a heaven of gods, a world of humans, and an underworld of demons. Some early Southeast Asian kings used this phrase as a title. A Buddhist text written around 1345 was dedicated to the explication of a doctrine of the “Lord of the Three Worlds”. According to this doctrine, all living things can be ranked on the basis of merit, thereby justifying hereditary social stratification.[2] The concept of the “Three Worlds” was also popular in 14th-century Java. Queen Tribhuwanottunggadewi (“Goddess of the Three Worlds”), who reigned in Java from 1328 to 1350, was a devout Buddhist. During her reign, Majapahit incorporated Temasik as a vassal. The Malay Annals and other stories of archetypal heroes stress subjects’s obligation to be absolutely loyal to their rulers, and the rulers’ duty to never shame their subjects.

The choice of Singapore as a new site for a capital would have been dictated by several factors. One of the important factors would have been the topographical advantage of Singapore, which was similar to that of Seguntang in Palembang: a hill overlooking an estuary. Thus Singapore may have been chosen as Palembang’s successor because of the presence of the hill now called Fort Canning. Many brick ruins existed on the hill when the British arrived in 1819; this mirrored the situation in Palembang, where numerous ruins of brick sanctuaries and religious statues were discovered on Seguntang Hill.

It is ironic that the kingdom of Malayu is completely omitted from the Malay Annals. A kingdom by this name already existed by the early seventh century when it sent a mission to Tang China. The eminent historian O. W. Wolters[3]believed that the narratives on Singapore mentioned in the Malay Annals were fabricated in order to conceal a period in history beginning in the late 11th century when Palembang’s role as a centre for Malay political and economic might was usurped by Malayu in Jambi. The archaeological remains unearthed in Singapore since 1984 show this to be untrue. The omission of Malayu and Jambi from the Malay Annals, however, must be attributed in some fashion to the identification of Malacca’s rulers with Palembang rather than Jambi.

The fall of Singapura can be seen as a cautionary tale based on the original oath of mutual obligations between ruler and subject. Like Paduka Sri Maharaja, who unjustly sentenced a boy to death, Iskandar Shah violated his ancestors’s oath: he unjustly shamed one of his wives by exposing her in the market. She was the daughter of a high official, Sang Rajuna Tapa, who took revenge by stealthily opening the city gate so that Batara Majapahit of Java could conquer the city. Iskandar Shah broke Sri Tri Buana’s covenant never to shame his subjects; the fall of Singapura was the direct result of the violation of this ancient agreement. In 15th-century Malacca, public shaming was a form of formal punishment equivalent to execution:

“Punishments for transgressing royal privilege were death, confiscation of the offending item, and public humiliation . . . closely tied to the Malay idea of aib (shame or disgrace). The tearing of garments and bedding and the smearing of the face in the case of misdemeanours towards the Bendahara were publicly executed, with the Kanun condoning mob participation in meting out punishment, no doubt to increase the offender’s sense of humiliation.”[4]

According to a 16th-century author, people in the Philippines could be enslaved for murder or debt, but also “for insulting any woman of rank, or taking away her robe in public and leaving her naked, or causing her to flee or defend herself so that it falls off, which is considered a great offence”.[5]

References
1. Sejarah Melayu, or, Malay Annals. (1970). (C. C. Brown, Trans.). Kuala Lumpur: Oxford University Press. Call no.: RSING 959.503 SEJ.
2. Lithai, P. (1982). The three worlds according to King Ruang: A Thai Buddhist cosmology (F. E. Reynolds, & M. Reynolds, Trans.). Berkeley: Center for South and Southeast Asian Studies, Berkeley Buddhist Series no. 4.
3. Wolters, O. W. (1970). The fall of Srivijaya in Malay history. Kuala Lumpur: Oxford University Press. Call no.: RSING 959.5 WOL.
4. Khasnor Johan. (1999). The Undang-Undang Melaka: Reflections on Malay society in fifteenth-century Malacca. Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society, 72(2), 131–150. Call no.: RSING 959.5 JMBRAS.
5. Junker, L. L. (1999). Raiding, trading and feasting: The political economy of Philippine chiefdoms (p. 133). Honolulu: University of Hawaii Press. Call no.: RSEA 306.09599 JUN.

 

The information in this article is valid as at 2014 and correct as far as we are able to ascertain from our sources. It is not intended to be an exhaustive or complete history of the subject. Please contact the Library for further reading materials on the topic.

Next EventPrev Event
Tinggalkan komentar

Evolusi Lambang negara RI: Garuda Pancasila

Copas dari Kang Yeddi Aprian Syakh Al-Athas

Foto Yeddi Aprian Syakh Al-Athas.
Foto Yeddi Aprian Syakh Al-Athas.
Foto Yeddi Aprian Syakh Al-Athas.
Yeddi Aprian Syakh Al-Athas menambahkan 3 foto baru.

GARUDA / GAR-HUDA / GAL-HUDA / GALLUS-HUDA = AYAM JANTAN RAKSASA YANG MEMBERI PETUNJUK
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Originally Written by:
Yeddi Aprian Syakh Al-Athas

Bismillahir rahmaanir rahiim,

Sampurasun…

Kita kembali pada Kajian ARKEO-LINGUISTIK tentang asal muasal nama “GARUDA” dalam Mitologi Nuh-Sayna-Tha-Ra (Nusantara).

GARUDA Batara Wishnu, Burung HUDHUD Nabi Sulaiman, AYAM JANTAN Raja Solomon, dan Burung PHOENIX dalam Mitologi Yunani kesemuanya merujuk kepada sosok yang sama yang disebut dalam banyak nama.

Dalam Kitab Al-Quran Umat Islam, Burung Hud-Hud ditulis sebagai “HUDHUDA”.

“Dan dia (Sulaiman) memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat HUDHUDA, apakah dia (HUDHUDA) termasuk sesuatu yang GHAIB? Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar akan menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang jelas”. Maka tidak lama kemudian datanglah HUDHUDA lalu ia berkata: “Aku mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya, dan kubawa kepadamu dari SABA suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar”. (QS. An-Naml 27: 20-23)

Sedangkan dalam Kitab Targum II Ester Umat Yahudi yang ditulis pada abad ke-2 SM Burung Hud-Hud disebut sebagai “AYAM JANTAN”.

Continue Reading »

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.