Tinggalkan komentar

Wali Sangha

📚 MANAKAH YANG BENAR: “WALI SANGA (WALI SONGO)” ATAUKAH “WALI SANGHA”

Oleh: Syansanata Ra
(Yeddi Aprian Syakh al-Athas)

*Tulisan ini diturunkan sebagai pengantar dari kajian tentang Kutub Selatan (Sarishma / Antartika).

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Wahai Saudaraku, sudah menjadi pengetahuan “mainstream” yg diamini oleh masyarakat umum, khususnya oleh masyarakat Tanah Jawa dimana ketika kita menyebut kata “WALI SANGA” maka tentunya akan langsung dimaknai sebagai sekumpulan waliyullah penyebar Islam di Tanah Jawa yg berjumlah 9 (sembilan) orang.

Namun tahukah Anda bahwa WALI SANGA ini ternyata tidaklah berjumlah 9 (sembilan) orang sebagaimana kita ketahui selama ini.

WALI SANGA sebenarnya merupakan sebuah Majelis Perkumpulan Para Ulama yg menyebarkan Islam di Tanah JAWI, analognya semacam Majelis Ulama Indonesia (MUI) saat ini.

Istilah WALI SANGA sendiri merupakan gabungan dari dua kata yg berbeda etimologi (asal usul bahasa), yakni kata WALI yg berasal dari Bahasa Arab WALIY (ولي) yang bentuk jamaknya adalah AULIYA (أَوْلِيَاءَ) yg bermakna WALIJAH (وَلِيجةُ) yang bermakna “orang kepercayaan, khusus dan dekat”, dan kata SANGA yg berasal dari Bahasa Pali (Prakrit) SANGHA yang bermakna “perkumpulan suci”. Sehingga secara etimologi, kata WALI SANGA yg berasal dari gabungan kata WALIY dan SANGHA bermakna “perkumpulan orang-orang yang suci”.

Pemaknaan inilah yang harus diluruskan terlebih dulu dari sebuah terminologi WALI SANGA.

Lantas apakah WALI SANGA itu terdiri dari 9 (sembilan) orang? Tentu hal ini juga keliru.

Mengapa?

Karena ketika kita merujuk kepada berbagai referensi naskah-naskah kuno tentang WALI SANGA, maka kita akan dibuat bingung olehnya.

Misalnya, dalam naskah Serat Suluk Walisana yg berbentuk Tembang Asmaradana, yg ditulis oleh Sunan Giri II, disebutkan bahwa WALISANA (sebutan untuk WALI SANGA) itu berjumlah 8 (delapan) orang, yakni diantaranya:

  1. Sunan Ampel.
  2. Sunan Gunung Jati.
  3. Sunan Ngudung.
  4. Sunan Giri di Giri Gajah.
  5. Sunan Makdum di Bonang.
  6. Sunan Alim di Majagung.
  7. Sunan Mahmud di Drajat.
  8. Sunan Kali.

Sedangkan dalam naskah Babad Tanah Djawi disebutkan bahwa WALI SANGA berjumlah 9 (sembilan) orang, yakni diantaranya:

  1. Sunan Ampel.
  2. Sunan Bonang.
  3. Sunan Giri.
  4. Sunan Gunung Jati.
  5. Sunan Kalijaga.
  6. Sunan Drajat.
  7. Sunan Udung.
  8. Sunan Muria.
  9. Syekh Maulana Maghribi.

Sementara dalam naskah Babad Tjirebon disebutkan bahwa WALI SANGA juga berjumlah 9 (sembilan) orang, namun berbeda dengan sembilan orang WALI SANGA yg disebutkan dalam Babad Tanah Djawi, yakni diantaranya:

  1. Sunan Bonang.
  2. Sunan Giri Gajah.
  3. Sunan Kudus.
  4. Sunan Kalijaga.
  5. Syekh Majagung.
  6. Syekh Maulana Maghribi.
  7. Syekh Bentong.
  8. Syekh Lemah Abang.
  9. Sunan Gunung Jati Purba.

Nah, perbedaan nama-nama anggota WALI SANGA inilah yg kemudian menimbulkan kesulitan untuk mengidentifikasi siapakah sebenarnya para ulama yg termasuk dalam perkumpulan orang suci yg bernama WALI SANGA ini sebagaimana makna aslinya yg berasal dari kata WALIY SANGHA.

KH. Agus Sunyoto dalam bukunya yg berjudul “Atlas Wali Songo” menyebutkan bahwa konsep WALI SANGA, sumber utamanya dapat dilacak pada konsep kewalian yg secara umum oleh kalangan penganut Sufisme diyakini meliputi 9 (sembilan) tingkat kewalian, yg oleh Syekh Muhyiddin Ibnu Araby dalam kitabnya yg berjudul “Futuhat al-Makkiyyah” dijabarkan sebagai berikut:

  1. Wali Quthub, yakni pemimpin para wali di alam semesta.
  2. Wali Aimmah, yakni pembantu Wali Quthub dan sekaligus menggantikannya jika wafat.
  3. Wali Autad, yakni wali penjaga empat arah penjuru mata angin.
  4. Wali Abdal, yakni wali penjaga tujuh musim.
  5. Wali Nuqaba, yakni wali penjaga hukum syari’at.
  6. Wali Nujaba, yakni wali yg hanya berjumlah tujuh orang pada setiap zaman.
  7. Wali Hawariyyun, yakni wali pembela kebenaran agama.
  8. Wali Rajabiyyun, yakni wali yg karomahnya muncul setiap Bulan Rajab.
  9. Wali Khatam, yakni wali yg mengurus wilayah kekuasaan Umat Islam.

Nah dalam upaya dakwah Islam yg disebarkan oleh WALI SANGA dengan prinsip dakwah “al-muhafazhah ‘alal qadimish shalih wal akhdu bil jadidil ashlah” (unsur-unsur budaya lokal yang beragam dan dianggap sesuai dengan sendi-sendi tauhid kemudian diserap ke dalam dakwah Islam) dan prinsip dakwah “maw’izhatul hasanah wa mujadalah billati hiya ahsan” (menyampaikan Islam dengan cara dan tutur bahasa yang baik) inilah kemudian konsep 9 (sembilan) tingkat kewalian yg sufistik dari Syekh Muhyiddin Ibnu Araby diadopsi dan diadaptasi untuk menggantikan konsep DEWATA NAWA SANGHA yg memang telah ada jauh sebelum Kerajaan Majapahit berdiri.

Konsep DEWATA NAWA SANGHA ini diabadikan dalam Rontal Bhūwanakośa yg ditulis dalam Bahasa Kawi (Bahasa Jawa Kuno) sebagai nama-nama Dewa penjaga delapan arah penjuru mata angin, yakni:

  1. Arah Timur : Dewa Iśwara.
  2. Arah Tenggara : Dewa Maheśwara.
  3. Arah Selatan : Dewa Brahmā.
  4. Arah Barat Daya : Dewa Rudra.
  5. Arah Barat : Dewa Mahādewa.
  6. Arah Barat Laut : Dewa Śangkara.
  7. Arah Utara : Dewa Wishnu.
  8. Arah Timur Laut : Dewa Śambhu.

Ditambah satu orang Dewa penjaga titik pusat, yakni:

  1. Arah Tengah : Dewa Śiwa.

Konsep DEWATA NAWA SANGHA itu sendiri sebenarnya merujuk kepada Tuhan Yang Acintya, yakni Tuhan Yang Tidak Bernama, yg kemudian dinamai dengan nama Dewa-Dewa.

Mari kita simak…

  1. Timur : Dewa Iśwara.
    Makna dari kata Iśwara adalah “Yang Berkuasa”.
  2. Tenggara : Dewa Maheśwara.
    Makna dari kata Maheśwara adalah “Yang Maha Berkuasa dari Segala Yang Berkuasa“.
  3. Selatan : Dewa Brahmā.
    Makna dari kata Brahmā adalah “Yang Menciptakan”.
  4. Barat Daya : Dewa Rudra.
    Makna dari kata Rudra adalah “Yang Menghapus Kesedihan”.
  5. Barat : Dewa Mahādewa.
    Makna dari kata Mahādewa adalah “Cahaya dari Segala Cahaya”.
  6. Barat Laut : Dewa Śangkara.
    Makna dari kata Śangkara adalah “Yang Maha Beruntung“.
  7. Utara : Dewa Wishnu.
    Makna dari kata Wishnu adalah “Yang Maha Meliputi”.
  8. Timur Laut : Dewa Śambhu.
    Makna dari kata Śambhu adalah “Yang Maha Mewujudkan Keberuntungan”.
  9. Tengah : Dewa Śiwa.
    Makna dari kata Śiwa adalah “Yang Maha Suci”.

Konsep DEWATA NAWA SANGHA ini sesuai dengan apa yg dinyatakan dalam Kitab Rêgweda,

“Sungguh Dia Bapa kami yang sesungguhnya, Pembuat kami yang sesungguhnya, Penguasa kami yang sesungguhnya. Siapa yang mengetahui semua tentang Dia? Dia yang Tunggal, Dewa yang digelari dengan NAMA-NAMA DEWA. Dia pula yang dituju oleh semua yang ada dengan penuh tanya.”
( Kitab Rêgweda:10:82 )

Dari Konsep DEWATA NAWA SANGHA inilah kemudian lahir SURYA MAJAPAHIT sebagai lambang kebesaran Kerajaan Majapahit.

Dan Konsep kosmologi DEWATA NAWA SANGHA inilah yang oleh WALI SANGA dalam upaya dakwahnya kemudian diadaptasi menjadi konsep WALI NAWA SANGHA, dimana kedudukan sembilan manusia adikodrati penjaga delapan arah mata angin plus satu titik pusat yg dikenal sebagai DEWA, kemudian digantikan oleh sembilan manusia-manusia yg dicintai Tuhan yg dikenal dengan istilah AULIYA (أَوْلِيَاءَ), bentuk jamak dari kata tunggal WALIY (ولي).

Sampai disini akhirnya kita menjadi paham bahwa ternyata konsep WALI SANGA sebenarnya merupakan adaptasi dari Konsep DEWATA NAWA SANGHA (Perkumpulan Sembilan Dewa) yg bersifat Hinduistik menjadi Konsep WALI NAWA SANGHA (Perkumpulan Sembilan Wali) yg bersifat Sufistik.

Dalam catatan sejarah, keberadaan tokoh-tokoh WALI SANGHA ini selain diposisikan sebagai WALIYULLAH yakni orang-orang yang memiliki kedekatan khusus dengan Allah, pada kenyataannya ternyata mereka juga diposisikan sebagai WALIYUL ‘AMRI, yakni orang-orang yang memegang kekuasaan atas hukum Umat Islam dan sekaligus sebagai pemimpin masyarakat yg berwenang menentukan dan memutuskan urusan masyarakat, baik dalam bidang keduniawian maupun dalam bidang keagamaan.

Dari sinilah kemudian tokoh-tokoh WALI SANGHA ini dijuluki dengan gelar SUHUNAN yg diambil dari kata SUHUN – KASUHUN – SINUHUN yg dalam Bahasa Kawi (Jawa Kuno) berarti “menjunjung” atau “menghormati” yg lazimnya dipakai sebagai gelar untuk menyebut seorang “Guru Suci” (mursyid thariqah dalam Islam) yg punya kewenangan melakukan upacara penyucian yg disebut DIKSHA dalam Agama Hindhu (sepadan dengan kata BAI’AT dalam Agama Islam). Dalam perjalanan waktu, gelar SUHUNAN ini kemudian mengalami transliterasi bahasa menjadi SUNAN.

Jika Konsep DEWATA NAWA SANGHA diadopsi menjadi SURYA MAJAPAHIT sebagai lambang kebesaran Kerajaan Majapahit yg wilayah kekuasaannya mencakup delapan penjuru mata angin dimana Pulau Jawa menjadi pancer atau titik pusatnya, maka demikian pula halnya dengan Konsep WALI NAWA SANGHA yg mengadopsi SURYA MAJAPAHIT dimana kedudukan WALI SANGHA harus mampu menjadi Pembawa Cahaya Islam yg mampu menerangi delapan penjuru mata angin Bhumi Nusantara dimana Pulau Jawa berkedudukan sebagai pancer atau titik pusat dakwahnya.

Dari awalnya Dakwah Islam hanya dilakukan oleh Syekh Jumadil Kubro (kakek Sunan Ampel), Syekh Maulana Ishaq (ayahanda Sunan Giri), dan Sunan Ampel (ayahanda Sunan Bonang) sebagai generasi pertama WALI SANGA di wilayah Nusantara yg mencakup: Malaka (Malaysia), Pasai (Aceh) dan Ampeldenta (Surabaya), lalu pada generasi WALI SANGA pasca bergabungnya Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan Sunan Giri, Dakwah Islam pun kemudian terus meluas ke segenap penjuru wilayah Nusantara yang mencakup: Aceh, Minangkabau, Palembang, Banjar (Kalimantan), Lombok (NTB), Timor (NTT), Makassar (Sulawesi), Ambon (Maluku) hingga sampai ke Fakfak (Papua).

Catatan tambahan:
Dalam Kitab “Kanzul Ulum” yg ditulis oleh Ibnu Bathuthah, yg naskah aslinya masih tersimpan di perpustakaan Istana Kesultanan Ottoman di Istanbul, Turki, disebutkan bahwa pembentukan WALI SANGA ternyata dilakukan oleh Sultan Turki yg bernama Sultan Muhammad I sebagai sebuah tim khusus yg membawa Misi Dakwah Islam di Pulau Jawa yg anggotanya berjumlah 9 (sembilan) orang, yakni diantaranya:

  1. Syekh Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki.
  2. Syekh Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand.
  3. Syekh Maulana Ahmad Jumadil Kubra, berasal dari Mesir.
  4. Syekh Maulana Muhammad Al-Maghribi, berasal dari Maroko.
  5. Syekh Maulana Malik Isra’il, berasal dari Turki.
  6. Syekh Maulana Muhammad Ali Akbar, berasal dari Iran.
  7. Syekh Maulana Hasanuddin, berasal dari Palestina.
  8. Syekh Maulana Aliyuddin, berasal dari Palestina.
  9. Syekh Subakir, berasal dari Iran.

Kesembilan Ulama yg tergabung dalam struktur WALI NAWA SANGHA inilah yg menjadi Dewan WALI SANGA Generasi KESATU, yg bertugas dalam penyebaran dakwah Islam pada periode tahun 1404-1435 Masehi.

Ketika Syekh Maulana Malik Ibrahim wafat pada tahun 1419 Masehi, maka pada tahun 1421 Masehi dikirimlah seorang Ulama pengganti yang bernama Ahmad Ali Rahmatullah, anak dari Syekh Ibrahim Asmarakandi yg menjadi menantu Sultan Campha (sekarang Thailand Selatan), yg juga masih keponakan dari Syekh Maulana Ishaq.

Karena masih kerabat istana, maka Ahmad Ali Rahmatullah yg kerap dipanggil dengan nama Raden Rahmat kemudian diberi daerah perdikan di Ampeldenta (Surabaya) oleh Raja Majapahit yang kemudian dijadikan markas untuk mendirikan pesantren. Dari sinilah kemudian Ahmad Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat dikenal dengan nama Suhunan ing Ampeldenta (Sunan Ampel).

Dengan masuknya Ahmad Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat atau Suhunan ing Ampeldenta (Sunan Ampel) ke dalam struktur WALI NAWA SANGHA, maka Prabu Kerta Wijaya yg saat itu menjadi Raja Kerajaan Majapahit diharapkan dapat masuk Islam. Dialog antara Ahmad Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat atau Suhunan ing Ampeldenta (Sunan Ampel) yang mengajak Prabu Kerta Wijaya masuk Islam ini tertulis dalam Serat Suluk Walisana, Sinom Pupuh IV, bait 9-11 dan bait 12-14.

Selanjutnya pada tahun 1435 Masehi, ada dua orang anggota Dewan WALI SANGA yang wafat, yaitu Syekh Maulana Malik Isra’il dari Turki dan Syekh Maulana Muhammad Ali Akbar dari Iran. Dengan meninggalnya kedua anggota Dewan WALI SANGA ini, maka kemudian Dewan WALI SANGA mengajukan permohonan kepada Sultan Turki yg saat itu dijabat oleh Sultan Murad II (menggantikan Sultan Muhammad I) untuk dikirimkan dua orang Ulama Pengganti yang mempunyai kemampuan agama yang lebih mendalam.

Permohonan tersebut dikabulkan dan pada tahun 1436 Masehi, dikirimlah 2 (dua) orang Ulama, yaitu :

  1. Sayyid Ja’far Shadiq, berasal dari Palestina, yg selanjutnya bermukim di Kudus dan kemudian lebih dikenal dengan nama Susuhunan ing Kudus (Sunan Kudus), bertugas menggantikan Syekh Maulana Malik Isra’il. Dalam Babad Demak disebutkan bahwa Sayyid Ja`far Shadiq adalah satu-satunya anggota WALI SANGA yang paling menguasai Ilmu Fiqih.
  2. Syarif Hidayatullah, yg juga berasal dari Palestina, yg selanjutnya bermukim di Gunung Jati, Cirebon dan kemudian lebih dikenal dengan nama Susuhunan ing Gunung Jati (Sunan Gunung Jati), bertugas menggantikan Syekh Maulana Muhammad Ali Akbar. Dalam Babad Cirebon disebutkan bahwa Syarif Hidayatullah adalah cucu Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran hasil perkawinan Nyi Rara Santang dan Sultan Syarif Abdullah Umdatuddin dari Mesir.

Dengan masuknya Sayyid Ja’far Shadiq atau Susuhunan ing Kudus (Sunan Kudus) dan Syarif Hidayatullah atau Susuhunan ing Gunung Jati (Sunan Gunung Jati), maka dapat dikatakan bahwa struktur WALI NAWA SANGHA ini kemudian menjadi Dewan WALI SANGA Generasi KEDUA, yg bertugas dalam penyebaran dakwah Islam pada periode tahun 1435-1462 Masehi.

Selanjutnya pada tahun 1462 Masehi, kembali dua orang anggota Dewan WALI SANGA wafat, yaitu Syekh Maulana Hasanuddin dan Syekh Maulana Aliyuddin, keduanya berasal dari Palestina. Kemudian, pada tahun 1463 Masehi, kembali dua orang anggota Dewan WALI SANGA lainnya wafat, yaitu Syekh Subakir, yg berasal dari Persia dan Syekh Maulana Ishaq, yg berasal dari Samarqand.

Dalam sidang Dewan WALI SANGA di Ampeldenta (Surabaya) tahun 1463 Masehi, kemudian diputuskan bahwa ada 4 (empat) orang Ulama Pengganti yang masuk dalam struktur WALI NAWA SANGHA, yaitu:

  1. Raden Makdum Ibrahim, putra Susuhunan ing Ampeldenta (Sunan Ampel), yg selanjutnya bermukim di desa Bonang, Tuban, dan kemudian lebih dikenal dengan nama Susuhunan ing Bonang (Sunan Bonang), bertugas menggantikan Syekh Maulana Hasanuddin.
  2. Raden Qasim, juga merupakan putra putra Susuhunan ing Ampeldenta (Sunan Ampel), yg selanjutnya bermukim di Lamongan, dan kemudian lebih dikenal dengan nama Susuhunan Drajat (Sunan Drajat), bertugas menggantikan Syekh Maulana Aliyuddin.
  3. Raden Paku, putra Syekh Maulana Ishaq, yg selanjutnya bermukim di Giri Kedaton, Gresik dan selanjutnya dikenal dengan nama Susuhunan ing Giri Kedaton (Sunan Giri Kedaton), bertugas menggantikan ayahnya, yakni Syekh Maulana Ishaq.
  4. Raden Mas Said, putra Adipati Tuban, yg bernama Tumenggung Wilwatikta atau Raden Sahur, yg selanjutnya bermukim di Kadilangu, Demak dan selanjutnya dikenal dengan nama Susuhunan Kalijaga (Sunan Kalijaga), bertugas menggantikan Syekh Subakir.

Dengan perubahan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa struktur WALI NAWA SANGHA ini kemudian menjadi Dewan WALI SANGA Generasi KETIGA, yg bertugas dalam penyebaran dakwah Islam pada periode tahun 1463-1465 Masehi.

Selanjutnya pada tahun 1465 Masehi, kembali dua orang anggota Dewan WALI SANGA wafat, yaitu Syekh Maulana Ahmad Jumadil Kubra, yg berasal dari Mesir dan Syekh Maulana Muhammad Al-Maghribi, yg berasal dari Maroko, disusul kemudian pada tahun 1481 Masehi, kembali satu orang anggota Dewan WALI SANGA wafat, yaitu Ahmad Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat atau Suhunan ing Ampeldenta (Sunan Ampel), dan terakhir pada tahun 1505 Masehi, kembali satu orang anggota Dewan WALI SANGA lainnya wafat, yaitu Raden Paku atau Susuhunan ing Giri Kedaton (Sunan Giri Kedaton).

Dewan WALI SANGA kemudian kembali mengadakan sidang yang juga diadakan di Ampeldenta (Surabaya) untuk memutuskan memasukkan dua orang anggota baru dan mengganti ketua Dewan WALI SANGA yang sudah berusia lanjut.

Ketua Dewan WALI SANGA yang dipilih dalam sidang tersebut adalah Raden Paku atau Susuhunan ing Giri Kedaton (Sunan Giri Kedaton), sedangkan 4 (empat) orang anggota baru yang masuk adalah:

  1. Raden Fatah, putra Raja Majapahit Prabhu Brawijaya V, yang merupakan Adipati Demak, bertugas menggantikan Syekh Maulana Ahmad Jumadil Kubra.
  2. Fathullah Khan, putra Susuhunan ing Gunung Jati (Sunan Gunung Jati), bertugas menggantikan Syekh Maulana Muhammad Al-Maghribi.
  3. Sayyid Abdul Jalil, yg kemudian setelah menjadi anggota Dewan WALI SANGA, dikenal dengan julukan Syekh Lemah Abang atau Syekh Ksiti Jenar ( Lemah = Tanah, Abang = Merah; Ksiti = Tanah, Jenar = Kuning ). Beliau mendapat gelar Syekh Lemah Abang atau Syekh Ksiti Jenar karena beliau tinggal di daerah Jawa bagian barat yang terkenal tanahnya berwarna merah kekuning-kuningan. Beliau bertugas menggantikan Ahmad Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat atau Suhunan ing Ampeldenta (Sunan Ampel).
  4. Raden Faqih, yg kemudian dikenal dengan nama Susuhunan Ampel II (Sunan Ampel II), bertugas menggantikan kakak iparnya, yakni Raden Paku atau Susuhunan ing Giri Kedaton (Sunan Giri Kedaton).

Dengan perubahan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa struktur WALI NAWA SANGHA ini kemudian menjadi Dewan WALI SANGA Generasi KEEMPAT, yg bertugas dalam penyebaran dakwah Islam pada periode tahun 1466-1513 Masehi.

Selanjutnya pada tahun 1513 Masehi, kembali satu orang anggota Dewan WALI SANGA wafat, yaitu Raden Mas Said atau Susuhunan Kalijaga (Sunan Kalijaga), dan disusul kemudian pada tahun 1517 Masehi, kembali satu orang anggota Dewan WALI SANGA lainnya wafat, yaitu Sayyid Abdul Jalil atau Syekh Lemah Abang atau Syekh Ksiti Jenar, dan disusul kemudian pada tahun 1518 Masehi, kembali satu orang anggota Dewan WALI SANGA wafat, yaitu Raden Fatah, dan terakhir pada tahun 1525 Masehi, kembali satu orang anggota Dewan WALI SANGA lainnya wafat, yaitu Raden Makdum Ibrahim atau Susuhunan ing Bonang (Sunan Bonang),

Dewan WALI SANGA kemudian kembali melakukan sidang dan memutuskan bahwa ada 4 (empat) orang Ulama Pengganti yang masuk dalam struktur WALI NAWA SANGHA, yaitu:

  1. Raden Umar Said, putra Raden Mas Said atau Susuhunan Kalijaga (Sunan Kalijaga), yg selanjutnya bermukim di Gunung Muria dan selanjutnya dikenal dengan nama Susuhunan ing Muria (Sunan Muria), bertugas menggantikan ayahnya, yakni Raden Mas Said atau Susuhunan Kalijaga (Sunan Kalijaga).
  2. Syekh Abdul Qahhar, yg selanjutnya bermukim di Sedayu dan selanjutnya dikenal dengan nama Susuhunan ing Sedayu (Sunan Sedayu), bertugas menggantikan ayahnya, yakni Sayyid Abdul Jalil atau Syekh Lemah Abang atau Syekh Ksiti Jenar.
  3. Sultan Trenggana, bertugas menggantikan ayahnya, yakni Raden Fatah.
  4. Raden Husamuddin, yg selanjutnya bermukim di Lamongan dan selanjutnya dikenal dengan nama Susuhunan ing Lamongan (Sunan Lamongan), bertugas menggantikan kakaknya, yakni Raden Makdum Ibrahim atau Susuhunan ing Bonang (Sunan Bonang).

Dengan perubahan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa struktur WALI NAWA SANGHA ini kemudian menjadi Dewan WALI SANGA Generasi KELIMA, yg bertugas dalam penyebaran dakwah Islam pada periode tahun 1514-1533 Masehi.

Selanjutnya pada tahun 1533 Masehi, kembali satu orang anggota Dewan WALI SANGA wafat, yaitu Raden Qasim atau Susuhunan Drajat (Sunan Drajat), dan disusul kemudian pada tahun 1540 Masehi, kembali satu orang anggota Dewan WALI SANGA lainnya wafat, yaitu Raden Faqih atau Susuhunan Ampel II (Sunan Ampel II), dan teeakhir pada tahun 1546 Masehi, kembali satu orang anggota Dewan WALI SANGA lainnya wafat, yaitu Sultan Trenggana.

Dewan WALI SANGA kemudian kembali melakukan sidang dan memutuskan bahwa ada 3 (tiga) orang Ulama Pengganti yang masuk dalam struktur WALI NAWA SANGHA, yaitu:

  1. Sunan Pakuan, bertugas menggantikan ayahnya, yakni Raden Qasim atau Susuhunan Drajat (Sunan Drajat).
  2. Raden Zainal Abidin, yg selanjutnya bermukim di Demak dan selanjutnya dikenal dengan nama Susuhunan ing Demak (Sunan Demak), bertugas menggantikan kakaknya, yakni Raden Faqih atau Susuhunan Ampel II (Sunan Ampel II).
  3. Sunan Prawoto, bertugas menggantikan ayahnya, yakni Sultan Trenggana.

Dengan perubahan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa struktur WALI NAWA SANGHA ini kemudian menjadi Dewan WALI SANGA Generasi KEENAM, yg bertugas dalam penyebaran dakwah Islam pada periode tahun 1534-1546 Masehi.

Selanjutnya pada tahun 1549 Masehi, kembali satu orang anggota Dewan WALI SANGA lainnya wafat, yaitu Sunan Prawoto, disusul kemudian pada tahun 1550 Masehi, kembali satu orang anggota Dewan WALI SANGA lainnya wafat, yaitu Sayyid Ja’far Shadiq atau Susuhunan ing Kudus (Sunan Kudus), dan disusul kemudian pada tahun 1551 Masehi, kembali satu orang anggota Dewan WALI SANGA lainnya wafat, yaitu Raden Umar Said atau Susuhunan ing Muria (Sunan Muria), dan disusul kemudian pada tahun 1569 Masehi, kembali satu orang anggota Dewan WALI SANGA lainnya wafat, yaitu Syarif Hidayatullah atau Susuhunan ing Gunung Jati (Sunan Gunung Jati), dan disusul kemudian pada tahun 1570 Masehi, kembali tiga orang anggota Dewan WALI SANGA lainnya wafat, yaitu Raden Zainal Abidin atau Susuhunan ing Demak (Sunan Demak), dan Raden Husamuddin atau Susuhunan ing Lamongan (Sunan Lamongan), dan Sunan Pakuan, dan disusul kemudian pada tahun 1573 Masehi, kembali satu orang anggota Dewan WALI SANGA lainnya wafat, yaitu Fathullah Khan, dan terakhir pada tahun 1582 Masehi, kembali satu orang anggota Dewan WALI SANGA lainnya wafat, yaitu Sultan Hadiwijaya atau Mas Karebet atau Jaka Tingkir.

Dewan WALI SANGA kemudian kembali melakukan sidang dan memutuskan bahwa ada 9 (sembilan) orang Ulama Pengganti yang masuk dalam struktur WALI NAWA SANGHA, yaitu:

  1. Sultan Hadiwijaya atau Mas Karebet, yg kemudian dikenal dengan nama Jaka Tingkir, bertugas menggantikan Sunan Prawoto.
  2. Sayyid Amir Hasan, bertugas menggantikan ayahnya, yakni Sayyid Ja’far Shadiq atau Susuhunan ing Kudus (Sunan Kudus).
  3. Sayyid Saleh, putera dari Sayyid Amir Hasan, yg kemudian dikenal dengan nama Panembahan Pekaos, bertugas menggantikan kakek dari pihak ibunya, yakni Raden Umar Said atau Susuhunan ing Muria (Sunan Muria).
  4. Maulana Hasanuddin, yg selanjutnya bermukim di Banten dan selanjutnya dikenal dengan nama Sultan Hasanuddin Banten, bertugas menggantikan ayahnya, yakni Syarif Hidayatullah atau Susuhunan ing Gunung Jati (Sunan Gunung Jati).
  5. Sunan Giri Prapen, putera dari Raden Paku atau Susuhunan ing Giri Kedaton (Sunan Giri Kedaton), bertugas menggantikan Raden Zainal Abidin atau Susuhunan ing Demak (Sunan Demak).
  6. Sunan Mojo Agung, bertugas menggantikan Raden Husamuddin atau Susuhunan ing Lamongan (Sunan Lamongan).
  7. Sunan Cendana, bertugas menggantikan kakeknya, yakni Sunan Pakuan.
  8. Maulana Yusuf, cucu dari Syarif Hidayatullah atau Susuhunan ing Gunung Jati (Sunan Gunung Jati), yg selanjutnya bermukim di Banten dan selanjutnya dikenal dengan nama Syekh Maulana Yusuf Banten, bertugas menggantikan pamannya, yakni Fathullah Khan.
  9. Raden Pratanu Madura, yg juga dikenal dengan nama Sayyid Yusuf Anggawi, bertugas menggantikan Sultan Hadiwijaya atau Mas Karebet atau Jaka Tingkir

Dengan perubahan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa struktur WALI NAWA SANGHA ini kemudian menjadi Dewan WALI SANGA Generasi KETUJUH, yg bertugas dalam penyebaran dakwah Islam pada periode tahun 1547-1591 Masehi.

Selanjutnya pada tahun 1599 Masehi, kembali satu orang anggota Dewan WALI SANGA lainnya wafat, yaitu Syekh Abdul Qahhar atau Susuhunan ing Sedayu (Sunan Sedayu), disusul kemudian pada tahun 1650 Masehi, kembali tiga orang anggota Dewan WALI SANGA lainnya wafat, yaitu Sunan Mojoagung, Sunan Cendana, dan Sunan Giri Prapen.

Dewan WALI SANGA kemudian kembali melakukan sidang dan memutuskan bahwa ada 4 (empat) orang Ulama Pengganti yang masuk dalam struktur WALI NAWA SANGHA, yaitu:

  1. Syekh Abdul Qadir, yg selanjutnya bermukim di Magelang dan selanjutnya dikenal dengan nama Susuhunan ing Magelang (Sunan Magelang), bertugas menggantikan Syekh Abdul Qahhar atau Susuhunan ing Sedayu (Sunan Sedayu).
  2. Syekh Samsuddin Abdullah Al-Sumatrani, bertugas menggantikan Sunan Mojo Agung.
  3. Syekh Abdul Ghaffur bin Abbas Al-Manduri, bertugas menggantikan Sunan Cendana.
  4. Baba Daud Ar-Rumi Al-Jawi, bertugas menggantikan gurunya, yakni Sunan Giri Prapen.

Dengan perubahan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa struktur WALI NAWA SANGHA ini kemudian menjadi Dewan WALI SANGA Generasi KEDELAPAN, yg bertugas dalam penyebaran dakwah Islam pada periode tahun 1592-1650 Masehi.

Selanjutnya pada tahun 1740 Masehi, kembali satu orang anggota Dewan WALI SANGA lainnya wafat, yaitu Sayyid Amir Hasan, disusul kemudian pada tahun 1749 Masehi, kembali satu orang anggota Dewan WALI SANGA lainnya wafat, yaitu Baba Daud Ar-Rumi Al-Jawi, dan disusul kemudian pada tahun 1750 Masehi, kembali tiga orang anggota Dewan WALI SANGA lainnya wafat, yaitu Syekh Abdul Qadir atau Susuhunan ing Magelang (Sunan Magelang), Syekh Maulana Hasanuddin atau Sultan Hasanuddin Banten, Syekh Maulana Yusuf Banten dan Sayyid Saleh atau Panembahan Pekaos.

Dewan WALI SANGA kemudian kembali melakukan sidang dan memutuskan bahwa ada 6 (enam) orang Ulama Pengganti yang masuk dalam struktur WALI NAWA SANGHA, yaitu:

  1. Syekh Nawawi Al-Bantani, bertugas menggantikan Sayyid Amir Hasan.
  2. Syekh Shihabuddin Al-Jawi, bertugas menggantikan Baba Daud Ar-Rumi Al-Jawi.
  3. Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, bertugas menggantikan Syekh Abdul Qadir atau Susuhunan ing Magelang (Sunan Magelang).
  4. Syekh Abdul Mufahir Muhammad Abdul Kadir, bertugas menggantikan kakek buyutnya, yakni Syekh Maulana Hasanuddin atau Sultan Hasanuddin Banten.
  5. Syekh Abdul Rauf Al-Bantani, bertugas menggantikan Syekh Maulana Yusuf Banten.
  6. Syekh Ahmad Baidhawi Azmatkhan, bertugas menggantikan ayahnya, yakni Sayyid Saleh atau Panembahan Pekaos.

Dengan perubahan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa struktur WALI NAWA SANGHA ini kemudian menjadi Dewan WALI SANGA Generasi KESEMBILAN, yg bertugas dalam penyebaran dakwah Islam pada periode tahun 1651-1750 Masehi.

Selanjutnya pada periode tahun 1751-1830 Masehi, Dewan WALI SANGA kemudian kembali melakukan sidang dan memutuskan bahwa ada 7 (tujuh) orang Ulama Pengganti yang masuk dalam struktur WALI NAWA SANGHA, yaitu:

  1. Pangeran Diponegoro, bertugas menggantikan gurunya, yakni Syekh Abdul Muhyi Pamijahan.
  2. Sentot Ali Basah Prawirodirjo, bertugas menggantikan Syekh Shihabuddin Al-Jawi.
  3. Kyai Mojo, bertugas menggantikan Raden Pratanu Madura atau Sayyid Yusuf Anggawi.
  4. Kyai Hasan Besari, bertugas menggantikan Syekh Abdul Rauf Al-Bantani.
  5. Abdul Fattah, yg juga dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa Banten, bertugas menggantikan kakeknya, yakni Syekh Abdul Mufahir Muhammad Abdul Kadir.
  6. Sayyid Abdul Wahid Azmatkhan, bertugas menggantikan Syekh Abdul Ghaffur bin Abbas Al-Manduri.
  7. Bhujuk Lek Palek, yg dikenal juga dengan nama Sayyid Abdur Rahman, bertugas menggantikan kakeknya, yakni Syekh Ahmad Baidhawi Azmatkhan.

Dengan perubahan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa struktur WALI NAWA SANGHA ini kemudian menjadi Dewan WALI SANGA Generasi KESEPULUH, yg bertugas dalam penyebaran dakwah Islam pada periode tahun 1751-1830 Masehi. Dan sejak periode tahun 1830-1900 Masehi, Dewan WALI SANGA kemudian dibekukan oleh Kolonial Belanda.

Sampai disini akhirnya kita benar-benar menjadi paham bahwa ternyata konsep WALI SANGA itu adalah adaptasi dari Konsep DEWATA NAWA SANGHA (Perkumpulan Sembilan Dewa Penjaga Delapan Penjuru Mata Angin dan Satu Titik Pusat) yg bersifat Hinduistik menjadi Konsep WALI NAWA SANGHA (Perkumpulan Sembilan Wali Yang Mencakup Wilayah Dakwah Delapan Penjuru Mata Angin Nusantara dan Satu Titik Pusat Pulau Jawa) yg bersifat Sufistik.

Demikian dan Semoga Bermanfaat.

Wallahu ta’ala ‘alamu bishshawab.

Mohon maaf atas kekhilafan dan kesalahan yang datangnya dari diri saya pribadi.

Sarwa Rahayu,
Jaya Jayanti Nusantaraku,
🙏🙏🙏

Bhumi Ma-Nuuwar al-Jawi
Senin, 9 Maret 2020 Masehi.
Itsnain, 14 Rajab 1441 Hijriah.
Senin Wage, 14 Rejeb Tahun Wawu 1953 Jawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: