Rindu Mekkah, rindu Ka’bah, adalah rindu rumah bagi jiwa. Umat Islam setidaknya punya waktu lima kali sehari buat berjumpa Allah, di mana pun mereka berada. Tapi, selalu tersisa tanya: kapankah kita bisa menjumpai Allah di rumah-Nya?

by EmHa Ainun Nadjib
Makhluk dari mana Israel ini, adigang adigung adiguna, boleh melakukan apa saja, pembunuhan massal, penggusuran besar-besaran, pemberangusan dan pemusnahan atas umat manusia dan nilai-nilai kemanusiaan, kapan saja dia mau, tanpa sanksi yang memadai dari pihak manapun di muka bumi.
Gerakan Renaissance Jawa 1
[lanj Post Ramalan Sabda Palon & Darmogandul]
wirajhana eka
Sun, 25 Jan 2009 08:10:45 -0800
GERAKAN RENAISSANCE JAWA Disampaikan pada Sarasehan Budaya Sabtu 3 September 2005 Di PPPG Kesenian Yogyakarta Oleh : KI SONDONG MANDALI HONG WILAHENG, SEKARING BAWANA LANGGENG Demikian juga selain mengenai masalah kibijaksanaan, tahu sebelum mendapatkan pengajaran serta mengenai segala hal tentang ilmu kesaktian, bisa menghilang serta tampak seperti yang aku ceritakan kepadamu tadi. Sebab di hamparan bentangan bumi dan dibawah langit yang mendapatkan ijin untuk memperlihatkan kebijaksanaan, kesaktian yang luar biasa, hanyalah Engkau beserta sanak keluargamu. read more...
by Chen Chen Muthari
“Men have gone past;
aren’t you going on?”
- puisi Moghul –
Di jalan raya itu – sebatang jalan yang menghubungkan Pasongsongan dengan kota-kota dan desa-desa di pesisir utara Madura – konon seorang pemuda Muslim keturunan peranakan Tionghoa telah mempersembahkan nyawanya demi membela tanah air. Namanya diabadikan di jalan itu. Abu Bakar Sidik. Dia adalah pahlawan. Itu sudah jelas. Namun, namanya tidak dikenal kecuali di daerah itu sendiri. Di sudut-sudut desa dan sudut-sudut kota lain, putra dari Madura, Trunojoyo, lebih dikenal sebagai. Bahkan, Trunojoyo menjadi nama jalan di kota-kota besar di Indonesia.
read more…
| Kita terpana dengan ulah Anggodo mengobok-obok institusi kejaksaan, kepolisian hingga mengkriminalkan KPK. Bayangkan bagaimana Anggodo lainnya (yang lebih kakap mengobok-obok negeri ini). Belum lagi bila pemainnya adalah ‘kaum modal’ multinasional dan transnasional seperti yang dibeberkan oleh Jonhns Perkins dalam ‘Confession of an Economic Hit Man’. Perkinsi menyebutkan “senjata mereka adalah laporan-laporan keuangan yang penuh tipu muslihat, pemilihan umum yang curang, hadiah (payoffs), pemerasan, seks, dan pembunuhan”.
Inilah momentumnya, cicak-cicak bersatulah berjuang sampai titik terjauh yang bisa kita lakukan. Melampui Buaya Lawan Godzilla Kasihan Indonesia, Kasihan Rakyat Indonesia? Tidak. KAMI ADA ! KAMI TIDAK TAKUT! INDONESIA BERANI LAWAN KORUPSI. INDONESIA BERANI LAWAN PENINDASAN DAN PENGHISAPAN. Dalam bukunya yang laris manis ‘Confession of an Economic Hit Man’, John Perkins (2004)menyebut korporatokrasi. Sebutan ini merujuk kepadasebuah kekaisaran global (global empire) yang memilikitiga pilar, korporasi, perbankan, dan pemerintah. Katanya, korporatokrasi bukan sebuah konspirasi, tetapi pilar-pilarnya menjunjung nilai dan tujuan bersama. Salah satufungsi utama dari korporatokrasi adalah melanggengkan, memperluas dan memperkuat sistem secara terus-menerus. Nilai dan tujuan bersama, serta system yang dimaksud tak lain adalah sistem kapitalis. Buku itu sendiri lebih bertutur tentang an Economic Hit Man (EHMs). Kalau menerjemahkannya secara bebas berarti para pembunuh professional ekonomi. Dalam logat (slang) bahasa Inggris, hit man berarti seseorang yang disewa oleh sebuah sindikat kriminal sebagai pembunuh profesional. Dengan EHMs Perkins (2004:ix) maksudkan adalah para professional bergaji sangat tinggi, yang menipu seluruh negeri dengan trilyunan dollar. Mereka menyalurkan uang dari World Bank, USAID, dan organisasi keuangan internasional yang lain ke dalam brankas korporasikorporasi raksasa dan saku segelintir keluarga-keluarga kaya yang mengontrol sumber daya alam di planet ini. Senjata mereka adalah laporan-laporan keuangan yang penuh tipu muslihat, pemilihan umum yang curang, hadiah (payoffs), pemerasan, seks, dan pembunuhan.
Untuk unduh e-book silah kunjung http://lenteradiata sbukit.blogspot. com/2009/ 11/e-book- tanah-air- korporatokrasi. html |

lebih Lanjut, Klik Link di bawah ini:
Testimoni Penonton Film Emak Ingin Naik Haji:
http://www.facebook.com/video/video.php?v=1292105022397&ref=nf
http://www.youtube.com/watch?v=P92AWJVNADw&feature=related
Menonton dan Menangisi Indonesia: Film “Emak Ingin Naik Haji” yang Sederhana Namun Sangat Menyentuh
Oleh Hernowo
Sebelum pemutaran film secara khusus dimulai, tiga orang yang punya peran besar dalam melahirkan film Emak Ingin Naik Haji pun angkat bicara. Tiga orang itu adalah Putut Widjanarko, Asma Nadia, dan Aditya Gumay. Adtya adalah sutradara film Emak. Dia bercerita secara menarik tentang munculnya ide pembuatan film ini.
Pada 2007, Aditya membaca sebuah cerita pendek di majalah Noor. Cerpen itu merupakan karya Asma Nadia yang berjudul “Emak Ingin Naik Haji”. Membaca cerpen tersebut, Aditya pun tergerak untuk memfilmkannya. Namun, dia tidak tahu alamat dan nomor kontak Asma Nadia. Akhirnya, Aditya mendapatkannya setelah bertamu ke Mizan Productions yang waktu itu sedang sukses dengan film Laskar Pelangi.
Aditya menggarap film Emak dengan penuh perasaan. Adegan-adegan yang diflmkan begitu sederhana, tidak berlebihan, dan—katakanlah—apa adanya. Saya mendapat kesan, itulah Indonesia—katakanlah Indonesia sehari-hari. Mudah sekali saya menikmati film ini ketika saya mendapatkan kesempatan menonton film ini, secara khusus, pada Kamis, 5 November 2009, di FX Plaza, Senayan, Jakarta.
Saya tidak terbiasa menangis ketika menonton film. Entah kenapa, di dalam menonton film ini, saya tidak dapat membendung tetesan air mata saya berkali-kali. Cengeng? Saya tidak tahu. Film Emak serasa dekat dengan diri saya yang orang Indonesia. Film tersebut seperti menghadirkan keadaan di Indonesia yang sering saya dengar tetapi masih sulit saya visualisasikan. Saya hanya mendengar.
Berkat film Emak, saya bisa merasakan betapa masih banyak orang miskin yang tidak mampu makan daging ayam. (Dalam film Emak, gambaran ini ditampilkan dalam adegan seorang anak yang makan daging bangkai burung.) Saya juga bisa merasakan betapa tak sedikit pegawai PNS yang terbelit dengan utang sehingga tidak mampu membiayai anggota keluarganya yang tiba-tiba sakit parah. (Dalam film Emak, gambaran ini diwakili oleh seorang ibu yang harus pontang-panting pinjam sana dan pinjam sini dengan berurai air mata—kadang air matanya berupa “air mata buaya”.)
Saya juga bisa merasakan sekali betapa ada orang-orang baik yang akhirnya mengambil jalan pintas menjadi maling gara-gara kepepet dan tertekan. (Dalam film Emak, adegan ini digambarkan sedikit menegangkan dan cukup menggugah karena mengaitkan dengan Kitab Suci Al-Quran.) Dan, tentu, masih banyak yang saya rasakan, misalnya jurang kaya-miskin yang luar biasa lebarnya, serta bagaimana lotere atau judi senantiasa menyengsarakan rakyat kecil.
Yang sangat mengagetkan saya, ending dari film ini sungguh memberikan kejutan. Ternyata tak semua orang kaya itu tidak punya nurani. Film Emak bagaikan sebuah cermin yang dapat kita gunakan untuk mengaca dan memperbaiki diri….[]
TASAWUF PRAKTIS LUKMANUL HAKIM
Abdul Hadi W. M.
Khazanah intelektual sufi Melayu sangat kaya. Pemikiran dan gagasan guru-guru tasawuf itu tidak sedikit di antaranya ditulis dalam bentuk karya sastra, seperti syair, alegori, kisah-kisah mengandung nasehat dan bahkan cerita berbingkai. Salah satu sastra berbentuk nasehat yang terkenal ialah yang disebut secara umum sebagai Naseh Lukmanul Hakim. Naskah aslinya teks ini ditulis dalam huruf Arab Melayu atau Jawi, yaitu huruf Arab Parsi yang disesuaikan dengan abad Melayu. Berikut ini petikan dari bagian yang relevan dari teks abad ke-17 M. Isinya termasuk ke dalam tasawuf praktis.
read more…
Penyebaran Islam di Nusantara
Sumber: benmashoor.wordpress.com
Pemusnahan peran Arab, khususnya kaum sayid Alawiyin dalam penyebaran Islam di Indonesia merupakan agenda utama pemerintah kolonial Hindia Belanda. Dengan berbagai cara mereka mencoba untuk menghilangkan peran sayid Alawiyin membumikan Islam di Nusantara.
KARYA FARIDUDDIN `ATTAR (1)
Abdul Hadi W. M.
Salah satu karya sufi yang dianggap masterpiece ialah Mantiq al-Tayr (Parlemen Burung). Sebagai sebuah alegori pengarangnya memaparkan maqam-maqam (tanjakan-tanjakan rohani) dan ahwal (keadaan-keadaan jiwa) yang dialami seorang penempuh jalan kerohanian (ahli suluk) dalam mencapai kebenaran tertinggi. Jalan kerohanian sufi sering disebut sebagai Jalan Cinta dan Makrifat, karena tidaklah heran jika tema sentral sastra sufi adalah cinta (mahabbah atau `isyq).














http://indonesian.irib.ir/






Dr. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc
Ir. Armahedi Mahzar, M.Si:
Almarhum Dr. Kuntowijoyo, MA






