PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Dalam masyarakat Sunda, kata ‘ Ramayana ’ telah disebut dalam naskah kuno Sanghiyang Siksa Kandang Karesian yang bertiti mangsa 1518 M, dalam penyebutan kisah – kisah yang beredar pada waktu itu.
Disebutnya kata ‘ Ramayana ’ pada naskah itu merupakan bukti bahwa ‘ Ramayana ’ dan sejumlah ceritera lainnya telah dikenal oleh orang Sunda pada kurun waktu tersebut
( Noorduyn, 1971 ).
Kisah Rama atau Ramayana pada tradisi tulis terdapat pada Pantun Ramayana
( selanjutnya disingkat PR ), PR merupakan sebutan dari Noorduyn, sehubungan bacaan bagian awal baik isi maupun bentuk bahasa menyerupai ceritera pantun.
Ceritera pantun adalah sastra lisan yang berkisah seputar kerajaan Galuh – Pakuan – Pajajaran tentang keluarga Prabu Siliwangi yang memiliki susunan pengisahan khusus.
Naskah PR tertulis pada lontar beraksara dan berbahasa Sunda Kuna.
Salah satu keunikan dari PR yakni nama salah satu istri Dasamuka adalah Manondari yang mirip dengan Mandudari dalam Hikayat Seri Rama yang beredar di wilayah Melayu.
Kendati tradisi kisah Rama dalam PR terhenti, dalam beberapa folklore berbagai jenis musik Sunda yang beredar masa kini, nama Banondari ( Manondari dalam PR ) dikenali cukup akrab walau hanya kenangan namanya.
Diperkirakan kisah Rama PR dikenal baik oleh masyarakat Sunda Kuno.
Namun RAA Martanagara menggubah WBR ( Wawacan Batara Rama ) 33 bersumber pada Serat Rama
( kemudian disingkat SR ) berbahasa Jawa seperti dikemukakan di dalam kolofon WBR.
Ada hal menarik yang memunculkan pertanyaan, mengapa RAA Martanagara menggubah WBR dari SR tidak dari PR yang terdapat dalam khasanah pernaskahan Sunda.
Apabila dilihat dari sudut pandang beliau sebagai pengarang dan sikap hidup RAA Martanagara yang penuh perhatian terhadap ilmu pengetahuan ( Lihat Martanagara, 1922 ) kecil kemungkinannya tidak mengetahui hal – ikhwal PR.
Di dalam kolofon WBR ( Lihat edisi WBR nomor pada XM / 35 / 3026 ) dikemukakan bahwa kisah Sri Rama sangat terkenal di Pulau Jawa.
Keterangan itu merujuk pada pengertian bahwa pengarang mengetahui banyak tentang kisah Sri Rama.
Adapun RAA Martanagara menggubah kisah ini dari SR, diperkirakan keteladanannya – lah yang ingin dikedepankan dalam gubahannya ( Lihat nomor pada XM / 36 / 3027 ).
SR sebagai sumber gubahan WBR yang asal usulnya dari KR.
( Kekawin Ramayana ) secara mentradisi menyajikan ajaran ( Lihat keterangan selanjutnya ).
KR satu – satunya kakawin yang ditemukan di Jawa Tengah, karena kemudian tradisi penggubahan kakawin berpindah ke Jawa Timur ( Pradotokusumo, 1984: 2 ). KR ditulis orang kurang lebih abad ke – 9 ( Poerbatjaraka, 1952: 2; bdk Pigeaud, 1967: 176; Ikram, 1980: 2; bdk. Pradotokusumo, 2005 ).
Pada tahun 1934 Himansu Bhusan Sarkar menunjukkan kemiripan pada sebuah pupuh tertentu antara KR dengan Ravanavadha ( kematian Rahwana ) karangan Bhatti yang ditulis pada abad ke – 6 atau ke – 7 M yang dikenal sebagai Bhatti – Kavya.
Manomohan Gosh, meneruskan penelusuran ini, menunjukkan adanya kemiripan antara 34 keduanya sebanyak delapan bait ( Poerbatjaraka, 1952: 3; bdk Noorduyn, 1971: 151; Zoetmulder, edisi terjemahan 1983: 289 ).
Walaupun KR menunjukkan ada bagian yang mirip dengan Ramayana Bhatti – Kavya, namun dengan Ramayana Walmiki memiliki kesejajaran ceritera ( lihat Stutterheim, 1989: 3-15; lihat pula Lal, 1995 ).
KR kemudian mendapat sambutan dari masa ke masa.
Pada pergantian abad ke – 18 ke abad 19, Yasadipura menggubah kembali KR ke dalam Serat Rama Jarwa ( Teuuw, 1984: 216; Sudewa, 1989: 9 –10 ).
Karena adanya tradisi penyalinan, “pada khasanah naskah Jawa terdapat sejumlah judul yang mengisahkan tokoh Rama
( Girardet., Cs, 1983; bdk Hadisutjipto, 1985; Behrend ( ed ),1990: 382 – 396; Behrend & Titik Pudjiastuti, 1997: 287 – 292 ).
Melihat rentang waktu yang sangat jauh antara penggubahan KR dengan penjarwaannya pada abad ke – 18 – 19 sangat kecil kemungkinannya, Yasadipura menggubah Serat Rama ( kemudian disingkat SR ) dari KR.
Salah satu di antara SR yang digubah pada masa ini, ditinjau dari penggunaan pupuh termasuk Jarwa Macapat, oleh RAA Martanagara dijadikan sumber penggubahan WBR.
Seperti dikemukakan Stutterheim, bahwa Ramayana di Nusantara kemudian mengalami penambahan, pengurangan, dan pengubahan.
Begitu pula kisah Rama dari KR kemudian muncul SR yang dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh, jarak waktu kurang lebih 10 abad, jarak jenis sastra, jarak bahasa, dan jarak budaya, sudah tentu mengalami penambahan, pengurangan, dan pengubahan.
Perubahan ini pula, menurut Poerbatjaraka ( 1952: 2-5 ) “ disebabkan karena penulis tidak begitu memahami lagi bahasanya, namun begitu, petransmisian alur dari kisah 35 Rama dari dalam KR ke SR tidak berubah.
” Selain itu tradisinya pun masih ada yang dipertahankan.
Kemudian dari sumber SR, digubah WBR yang jarak waktu penggubahan dan penciptaan kembali tidak begitu jauh yakni kurang lebih dua abad.
Namun tentu saja antara penciptaan dan pembacaan oleh RAA Martanagara tersebut berada dalam lingkungan yang berbeda.
RAA Martanagara ( 1845 – 1926 ), seorang menak – bangsawan ternama, keturunan Sumedang yang menjadi bupati Bandung ( 1893 – 1918 ).
Beliau seorang terpelajar pada masanya, mampu berbahasa Belanda, Melayu, dan Jawa
( Martanagara, 1921; bdk Lubis, 1990: 52 – 54 ).
Awal penulisan WBR diperkirakan ketika pengarang diangkat menjadi bupati Bandung, pengangkatannya sebagai bupati Bandung pada tanggal 29 Juni tahun 1893, adapun WBR selesai ditulis pada tanggal 4 Oktober tahun 1897.
Sebagai bupati Bandung, RAA Martanagara mendapat sebutan Dalem Panyelang ‘ Dalem Penyelang ’ karena bukan keturunan dari para bupati Bandung.
RAA Martanagara dengan para pejabat Belanda direncanakan akan dibunuh oleh kelompok lawannya yang menginginkan jabatan bupati tersebut, namun pembunuhan itu gagal ( Martanagara, 1921; bdk Lubis, 1990: 60 – 79 ).
Menjelang penulisan WBR selesai, pengarang mendapat cobaan lagi, yaitu istrinya Raden Ajeng Sangkaningrat wafat pada tanggal 5 bulan Juni tahun 1897.
Apakah pengalaman kehidupan pengarang yang cukup berat tersebut yang menggugah kesadaran hatinya untuk menggubah sebuah karya yang sarat dengan keteladanan bagi pemimpin dan peletakan pandangan hidup yang mantap bagi seluruh umat manusia, sulit dipastikan.
Dalam kolofon yang terselip di dalam 36 kisahan, ada ungkapan demikian :
” reh maksudna nyundakeun Sri Rama, pakeun ngalolongsong hate, nyegah napsu ka batur, mamrih kana ka budi manis, sabab carita Rama, eta leuwih alus, rea keur baris tuladan, lalampahan nu murka reujeung nu adil, kabeh bukti “,
jadinya ‘ maksud penggubahan kisah Sri Rama dalam bahasa Sunda, untuk meringankan beban hati, mencegah timbul nafsu amarah kepada orang lain, supaya ( nafsu yang menyimpang ) berubah menjadi budi manis, sebab kisah Rama, sangat bagus, banyak keteladanannya, perilaku murka dan benar, semua terbukti adanya pembalasannya.
’ Demikianlah ungkapan itu seolah – olah ada kaitan dengan jalan hidup pengarang.
Pada waktu WBR ditulis yaitu pada akhir abad ke-19, para bangsawan Sunda dalam keadaan sulit, keadaan ini dirasakan pula oleh pengarang ( lihat uraian selanjutnya ) dan dalam masyarakat Sunda tengah berlangsung perubahan perubahan.
“ Pada awalnya kekuasaan para bupati di wilayah Priangan lebih besar daripada kekuasaan para bupati di wilayah lainnya di Pulau Jawa.
Sejak tanggal 1 Juni tahun 1871 dikeluarkan Preanger Reorganisatie atau Peraturan Baru Tanah Priangan.
Sejak itu, kedudukan para bupati dan para pejabat pribumi di wilayah Priangan, sama seperti rekan – rekannya di wilayah lain di Pulau Jawa, dianggap sebagai pegawai pemerintah, bekerja untuk kepentingan pemerintah, dan digaji oleh pemerintah kolonial ( Ekajati, 1982: 260 – 261; bdk Martanagara, 1921: 20 -25 ).
Di lain pihak, tengah terjadi semangat revitalisasi bahasa dan kebudayaan Sunda yang sebelumnya didominasi oleh kebudayaan Jawa.
Pelopor revitalisasi tersebut adalah KF Holle ( 1822 – 1896 ) dan Raden Haji Moehamad Moesa ( 1822 – 1886 ),
( Lubis a, 2000: 114 – 120; bdk Moriyama, 2005; Ekadjati, 2004: 29 -3732 ).
Pada akhir abad ke – 19 Belanda tengah mengembangkan pendidikan formal untuk kalangan anak – anak bumiputera
( Lubis a, 2000: 49; 2002: 30 ). Pada situasi sosial politik yang cukup berarti ( significant ) itulah, WBR digubah oleh pengarangnya.
WBR tergolong wawacan mite, sifat mitis dieksplisitkan pada judul dengan disebutnya kata batara, dari segi isi sifat mitis ini sangat pekat, Sri Rama sebagai tokoh utama dan tokoh sentral adalah titisan Wisnu ( titis – an Dewa Wisnu ) yang membawa dirinya ke dalam pengembaraan yang panjang dalam rangka menghancurkan kezaliman dan kemurkaan yang ditokohi oleh Raja Dasamuka.
WBR termasuk juga ke dalam jenis wawacan wayang karena Ramayana adalah salah satu kisah besar yang sangat terkenal dalam kesenian pertunjukan wayang ( performance art ) dengan kisah besar lainnya Mahabarata terutama wayang golek.
Namun pembicaraan difokuskan pada WBR sebagai karya sastra dalam tulisan.
Sebagai kisah yang diwarnai oleh sifat mite, kisah yang berasal dari India ini sudah tentu dilatarbelakangi oleh agama atau keagamaan pra-Islam Hindu Budha.
Adapun WBR diciptakan oleh RAA Martanagara pada akhir abad ke – 19, pada waktu itu masyarakat Sunda sudah memeluk agama Islam selama kurang lebih 3 abad sejak abad ke – 16, dan bentuk wawacan itu sendiri, sebuah genre -produk sastra zaman Islam.
Kisah Rama dalam WBR ini bisa dikatakan, transmisi KR yang lahir pada abad ke – 9 dengan latar belakang agama Hindu Budha, berbahasa Jawa Kuno, yang hidup dari masa ke masa, kemudian mendapat sambutan pembaca pemeluk Islam suatu zaman.
Pengarang WBR adalah pembaca - penyambut kisah Rama yang 38 dilihat dari segi individu, memiliki bakat, pengalaman, dan pengetahuan yang berada dalam ikatan budaya ( Kultur gebundenheit ) dan jiwa zaman ( Zeitgeist ).
Identitas individual maupun kolektif berupa budaya dan jiwa zaman turut dalam rekonstruksi kisah Rama ketika proses membaca yang kemudian diwujudkan dalam bentuk teks WBR secara utuh.
Teks WBR bisa dilihat dari berbagai jalinan struktur serta jalinan berbagai ide, yang berbeda dengan sumber penggubahannya karena “ sebuah teks ( dalam hal ini kisah Rama yang menjadi sumber penggubahan WBR ) tidak dapat dipandang sebagai produk tertutup dan mandiri ” ( Cavallaro, 2001, dalam edisi terjemahan 2004: 91 ).
WBR sebagai wawacan, dibangun oleh sejumlah runtuyan pada dari jenisjenis pupuh
( untaian bait-bait dari berjenis pupuh ).
Pupuh adalah bentuk puisi yang kebahasaan dan isinya dibatasi oleh matra pupuh ( dangding ).
Adanya matra pupuh ini menimbulkan ketidakleluasaan pemilihan diksi dalam penyajian ceritera, sehingga bahasa karya -karya dalam bentuk wawacan pada umumnya terasa kaku.
Bahasa WBR tidak demikian adanya, ceritera berlangsung dengan lancar tanpa terasa pemaksaan dangding.
Kiranya kelancaran pengungkapan bahasa ini akibat pengungkapan kisah dengan bahasa yang tidak dipaksakan, yaitu dengan teknis penggalan atau enjambement, baik enjambement antarpadalisan maupun enjambement antarpada, yakni kebulatan atau kepaduan pengertian tidak dipaksakan harus dalam satu padalisan atau satu pada melainkan dipenggal, kemudian dilanjutkan ke padalisan atau pada berikutnya.
Gaya seperti ini, jarang ditemukan dalam wawacan Sunda, jadi terasa lebih indah dari bahasa wawacan pada umumnya. Inilah salah satu keunggulan WBR.
Dangding sebagai dasar 39 penggubahan wawacan, tidak hanya merupakan ikatan dari segi kebahasaan berupa guru wilangan, guru lagu, dan guru gatra, namun merupakan wahana yang mengusung perilaku dan karakter emosi.
Dengan demikian, WBR mengemas sejumlah perilaku dan sejumlah emosi tertentu.
Walaupun WBR sudah sangat jauh jaraknya dengan kakawin dilihat dari berbagai hal, jarak matra puisi, jarak waktu, jarak bahasa, jarak agama, jarak lingkungan sosial, dan jarak antar etnis, namun paparan naratif WBR masih menampakkan paparan kakawin meliputi “ lukisan ”, ajaran, dan perang.
Dengan adanya penggarapan “ lukisan ” secara meluas dan mendalam, terekam antara lain lingkungan alam, budaya, adat, keagamaan, dan seni, yang kini tersisihkan dari kehidupan.
Ajaran dalam WBR digarap secara meluas, disediakan dalam lahan yang lebar, terutama ajaran bagi penguasa / raja dan ajaran pokok bagi seluruh manusia secara umum.
Itulah sebabnya ajaran ini, meskipun tidak menjadi titik focus analisis WBR, ditambahkan secara proporsional dalam kajian interteks.
formal Perang dalam WBR merupakan titik sentral yang kait – mengait ke segala arah untuk melenyapkan tokoh antagonis yang menjadi sumber kekacauan dunia ‘ reregeding bumi ’ oleh tokoh protagonis, sehingga dengan perang, menyandangkan gelar ‘ Pemimpin Kekuatan Dunia ’ Ratu Pakuning Bumi pada dirinya.
Pada paparan lukisan, ajaran, dan perang inilah terletak salah satu artistik keindahan WBR yang membangkitkan daya estetik imaji pembaca.
Gambaran artistik fisik dunia merangsang daya estetik imajinasi atas penikmatan alam, gambaran artistik pencapaian religius dan artistik moral merangsang estetik 40 penataan hati, mendorong penghayatan diri, mengatur perilaku untuk pengejaran kebahagiaan lahir batin dalam mengarungi kehidupan.
Adanya paparan naratif WBR yang mirip dengan struktur naratif kakawin merupakan sambutan atas sebuah ciri dari karya sastra kuno yang telah menjalani perjalanan rentang waktu yang sangat jauh oleh individu pengarang yang mewakili kolektif dari hamparan sebuah zaman yang bahasa dan sarana perwujudan karyanya jauh berbeda.
Hal ini mengisaratkan bahwa sebuah karya sastra ada dalam ketegangan antara konvensi dan inovasi.
Begitu pun WBR, karya ini berdiri kokoh di atas ketegangan konvensi dan inovasi, menampakkan identitas dirinya yang khas, yang berbeda dengan kisah Rama lainnya, walaupun WBR digubah dari Serat Rama berbahasa Jawa.
Kisah Rama itu sendiri boleh statis karena sebuah mite yang validitasnya ditentukan oleh legitimasi dari sebuah konvensi budaya, namun ide – ide yang mewarnai dirinya berubah.
Jadi WBR adalah WBR, keberadaannya tidak serta merta ada, dan KR yang kuno itu ciri – cirinya tidak hilang dengan serta merta, namun melalui proses.
Demikian gambaran mula WBR, sebuah karya luhur yang menggugah manfaat dan nikmat.
Penelitian terhadap WBR yang memuat sejumlah nilai – nilai mulia dari kehidupan, yang masih sangat segar untuk konsumsi masyarakat masa kini, sangat penting dilakukan.
Seyogyanyalah potensi dari karya sastra ini turut membangun mental moral bangsa, guna menepis pengaruh luar yang menyesatkan.
Bangsa Indonesia yang tengah tertatih – tatih menyongsong masa depan yang lebih baik,tergilas keserakahan penghuni zaman yang orientasinya sekedar pencapaian urusan dunia semata yaitu meraih kenikmatan sesaat yang bersifat semu, dengan 41 memutar – mutarkan masalah, memutar – balik, atau membelokkan, serta menghalalkan segala cara.
Keadaan seperti ini tidak boleh berlangsung berkepanjangan.
Hal – hal yang menimbulkan kemudaratan harus segera dihentikan dari berbagai segi.
WBR sebagai sebuah karya sastra Nusantara, menyajikan pijakan hidup yang kokoh, mengingatkan kehakikian kehidupan, yakni pati ‘ ajal ’.
Ajal adalah sebuah lorong yang pasti dilalui oleh perjalanan manusia, siapa pun adanya baik manusia pada umumnya maupun manusia eksklusif yaitu para pemimpin ( raja ).
Adapun ajal menurut WBR, ada pati mulya, pati sinelir, mulya ning pati, pati luhung ‘ ajal mulia, ajal terpilih ’ yang dipertentangkan dengan ‘ pati murka dursila, pati hina ‘ ajal dalam kemunkaran, ajal hina.
’ Dalam karya ini manusia diingatkan, untuk menginginkan ajal mulia guna memperoleh Sawarga Mulya yang kebahagiaan dan kenikmatannya panjang, kekal, tiada akhir.
Untuk mencapai ajal mulia, harus berdiri di tempat yang benar lahir dan batin semasa menjalani kehidupan dunia, karena Penyedia lahan kembali yang bahagia dalam kehidupan kekal di Alam Kalanggengan ‘ Alam Keabadian ’ alam kelak setelah kematian adalah Yang Maha Benar.
Keteladanan, baik keteladanan tersurat maupun tersirat dalam WBR sangat berlimpah.
Nilai – nilai luhur yang terkandung di dalamnya, seyogyanya lah berada kembali dalam alam pikiran pemiliknya, mengakar pada budaya bangsa, guna menepis pengaruh yang menyesatkan.
Penggalian nilai – nilai kehidupan luhur yang terkandung di dalam WBR ini, dengan melalui pengkajian sastra.
Setiap karya sastra, termasuk juga WBR, “ pada dasarnya bersifat umum sekaligus bersifat khusus, atau lebih tepat lagi : individual dan umum ” ( Wellek & Austin Warren, 1962 dari seri terjemahan: 1989: 9 ).
WBR dilihat dari sudut pandang teks yang bersifat individual, merupakan sebuah kisah Rama yang khas, memiliki struktur naratif tersendiri, memiliki perbedaan dengan sumber penciptaannya sekecil apa pun, yang dipengaruhi oleh identitas pengarang, budaya, dan zaman yang sedang berlangsung.
Di samping WBR memiliki sifat individual, kisah Rama yang menjadi dasar penggubahan WBR berada dalam alur sejarah, dalam arti ceritera tidak berdiri sendiri.
Dengan demikian, WBR berada dalam alur sejarah yang panjang.
RAA Martanagara adalah seorang penyambut kisah Rama melalui SR berbahasa Jawa, kemudian menuliskannya kembali menjadi WBR.
Dengan kenyataan seperti dikemukakan sebelumnya, pengkajian sastra terhadap WBR yang relatif “ utuh ”, hendaknya ditinjau dari sudut WBR sebagai karya sastra yang khas, dan WBR sebagai karya sastra yang berada dalam alur sejarah. Penelitian ini meliputi kedua sudut pandang tersebut.
Penelitian WBR sebagai sebuah karya sastra berada pada aliran sejarah akan menggunakan pendekatan intertekstualitas.
Pendekatan intertekstualitas yaitu menelusuri hipogram dari sebuah karya, hipogram yaitu teks – teks yang kemudian turut dalam rekonstruksi sebuah karya.
1.2 Rumusan Masalah
Keberadaan teks WBR yang dikemukakan dalam identifikasi, memunculkan sejumlah masalah, yang perumusannya sebagai berikut.
1. Teks WBR digubah pada masa masyarakat sudah menganut agama Islam, bermula dari mite KR yang berlatar Agama Hindu – Budha.
Adakah pemelukan agama ini mempengaruhi WBR ?
2. Penulisan WBR dipengaruhi oleh teks – teks sebelum dan sezaman, bagaimana penerapan hipogram teks – teks sebelum dan sezaman tersebut dalam hal keagamaan.
3. Bagaimanakah makna WBR secara relatif ” penuh ”, yakni makna WBR hasil rekonstruksi RAA Martanagara dari SR yang berbahasa Jawa yang dipengaruhi oleh teks – teks lebih dahulu atau sezaman dalam hal keagamaan.
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengungkapkan pemikiran – pemikiran Keislaman yang tersurat di dalam WBR.
2. Mengungkapkan hipogram teks WBR dan fungsi semiotik dari hipogram tersebut keagamaan.
2. Mengungkapkan makna penuh dari WBR.
1.4 Kerangka Pemikiran
Kajian sastra terhadap teks WBR bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan dan berbagai sudut pandang.
Penelitian ini meliputi pendekatan intertekstualitas dengan pertimbangan pendekatan tersebut mampu menghasilkan kajian yang optimal dalam pemahaman karya tersebut karena mengungkapkan WBR dari sudut pandang karya sebagai individu dan alur kesejarahan.
1.5 Relevansi Penelitian
Penelitian ini memiliki kegunaan dalam pembangunan non fisik, antara lain
1) gambaran WBR secara sekilas mengedepankan kehakikian bahwa dalam kehidupan ini bukanlah kekuatan fisik semata yang menjadi tujuan, namun ada pilihan yang lebih utama yakni “ kebenaran hakiki ”,
2) WBR mengedepankan nilai – nilai kepemimpinan luhur, yang merupakan suri teladan penting bagi kehidupan masa kini yang wacana kebenarannya condong kepada kekuatan fisik dan materi.
WBR memberikan pijakan kokoh dalam menjalani kehidupan yakni segala perilaku harus dipertimbangkan dengan kehidupan di Alam Keabadian setelah ajal.
1.6 Sumber Data
Objek penelitian ini adalah WBR karya RAA Martanagara yang sudah di lakukan penelitian dan pengkajian dari segi Filologi.
II. KAJIAN PUSTAKA DAN METODE PENELITIAN
2.1. WBR sebagai Karya Sastra Wawacan
WBR merupakan karya sastra tradisional seperti halnya karya – karya sastra Sunda yang lain yang tertulis dalam naskah, karya tersebut hampir menyeluruh termasuk karya – sastra tradisional.
Setiap jenis karya sastra tradisional memiliki ciri – ciri khusus baik dilihat dari segi wadah / wahana yakni sarana perwujudan bahasanya maupun dari ide – ide yang terkandung di dalamnya.
Ciri – ciri yang termuat dalam wahana karya sastra beserta ide – ide yang terkandung di dalamnya, memunculkan genre dalam konvensi sastra masyarakatnya.
Hal yang berkaitan dengan genre / jenis sastra, Wellek & Austin Warren mengemukakan ( 1977 dalam terjemahan 1989: 298 ) sebagai berikut : “ Jenis sastra bukan hanya sekedar nama, karena konvensi sastra yang berlaku pada suatu karya membentuk ciri karya tersebut.
Jenis sastra dapat dianggap sebagai suatu perintah kelembagaan yang memaksa pengarangnya.
” Jadi pada dasarnya jenis – karya – sastra – apa – pun terdapat konvensi dalam penyajiannya, apalagi WBR karya sastra tradisional wawacan, yang memang wawacan memiliki matra yang harus dipatuhi.
2.1.1 Pendekatan Intertekstualitas
Teks WBR sebagai karya sastra dengan sarana primer bahasa, merupakan sistem tanda.
“ Konsep tanda menurut Peirce adalah sebagai berikut, tanda 46 merujuk pada sesuatu atau mewakili sesuatu, jadi tanda mempunyai sifat representatif, yaitu mewakili sesuatu.
Hasil penafsiran terhadap suatu tanda oleh si penafsir, menghasilkan tanda baru bagi penafsir, jadi sebuah tanda selain memiliki sifat representatif memiliki pula sifat interpretatif.
Hasil representasi disebut denotatum dan hasil interpretasi disebut interpretant.
Sebuah tanda adalah satu bagian dari satu keseluruhan peraturan, kesepakatan, tradisi, adat istiadat, dan disebut juga kode.
Teks sastra secara keseluruhan adalah sebuah tanda dengan semua cirinya untuk pembaca, teks itu pengganti sesuatu yang lain, suatu kenyataan yang dibayangkan ” ( Pradotokusumo, 2001: 11-13 ).
Pemikiran Peirce ini diterapkan pada mekanisme penciptaan WBR sebagai berikut.
SR berbahasa Jawa yang dijadikan sumber penulisan WBR oleh RAA Martanegara adalah sebuah tanda yang terletak di antara deno tatum dan interpretant.
Kode baru hasil dekoding RAA Martanegara dari SR, dituliskan kembali menjadi WBR melalui proses enkoding.
Dilihat dari seputar kehidupankarya sastra tersebut, pembacalah yang memiliki peranan penting dalam menerima, menginterpretasi, merekonstruksi, memberikan makna terhadap sebuah karya.
“ Pendekatan – pendekatan yang berorientasi terhadap peranan pembaca menggunakan landasan berpikir Reader Theory / Teori Pembaca ” ( Eagleton, 1985: 73 ).
Pernyataan – pernyataan berlandaskan pemikiran Reader Theory di antaranya sebagai berikut : Phenomenologist aestheticiant Ingarden mengemukakan bahwa the text as a potential structure which is ‘ concretisized ’ by the reader.
‘ teks merupakan struktur yang potensial dikonkretisasi oleh pembaca ’ ( Eagleton, 1985: 4773 ).
Iser ( dalam Eagleton, 1985: 76 ) menjelaskan tentang estetika bahwa the literary work has two poles, which we might call the artistis and the aesthetic the artistic refers to the text created by the author, and the aesthetic to the realization accomplished by the reader.
‘ karya sastra memiliki dua sisi, yang dinamakan artistik dan estetik artistik dimiliki oleh teks yang diciptakan oleh pengarang, dan estetik yakni kenyataan yang disempurnakan pembaca.
’ Sejalan dengan pemikiran itu Mukarovsky membedakan antara artefact dan aesthetic object, artefact merupakan dasar material objek estetis berupa huruf – huruf yang dicetak di halaman kertas ; objek estetis merupakan representasi artefak dalam pikiran pembaca yang disebut collective conciousness ‘ kesadaran kolektif ’ yang dalam kesadaran sekelompok manusia dapat disistematisasikan.
Dengan demikian, sebuah artefak memiliki nilai potensial.
Pembentukan objek estetik terhadap artefak terjadi dengan sarana peran aktif penerima.
Jadi pembaca juga menciptakan objek estetis ( Segers, 1978: 31 ).
Menurut Gadamer “ sebuah karya sastra tidak muncul ke dunia sebagai seberkas arti yang selesai dan terbungkus rapi. Arti tergantung pada situasi kesejarahan penafsir ( Selden, 1993: 117 ).
Menurut Karl Mannheim penafsir atau penulis berada dalam Kultur gebun denheit ( keterikatan budaya ) dan Zeitgeist
( semangat zaman ) ( Lubis b, 2000: 10 ).
Menurut Iser teks bukanlah penyajian sempurna namun terdiri dari bagian – bagian kosong.
Pembaca mengisi bagian bagian kosong yang mengandung makna ambigu dalam teks, ia mengisinya secara bebas sesuai dengan pengalamannya.
Dilihat dari segi pembaca, pemaknaan sebuah karya sastra tidak stabil secara essensial ( Eagleton, 1985: 76-81 ).
” Derrida seorang penganut sebuah aliran filsafat menampik adanya kestabilan makna.
Makna senantiasa berada dalam proses, dengan demikian tidak ada makna baku dan permanen ( Sim, 1999: V ).
Salah satu pendekatan karya sastra dengan berlandaskan Reader Theory yakni pendekatan intertekstualitas.
Pendekatan intertekstualitas adalah salah satu pilihan pendekatan dalam menguak makna dari sebuah karya sastra.
“ Intertekstualitas adalah pendekatan untuk memperoleh makna sebuah karya sastra secara penuh dalam hubungannya dengan karya yang lain yang menjadi hipogramnya ( teks terdahulu ), baik berupa teks fiksi maupun puisi ” ( Nugiyantoro, 1998: 54 ).
Kajian intertekstualitas berangkat dari asumsi bahwa kapan pun karya ditulis, ia tidak mungkin lahir dari situasi kekosongan budaya.
Unsur budaya, termasuk semua konvensi dan tradisi masyarakat, dalam wujudnya berupa teks teks kesusastraan yang ditulis sebelumnya ( Nugiyantoro, 1998: 50 ).
Kristeva mengemukakan hubungan antarteks sebagai berikut : every text take shape as a mosaic of citations, every text is the absorption and transformation of other text.
‘ setiap teks mengambil bentuk seperti mosaik cuplikan – cuplikan, setiap teks merupakan serapan dan transformasi dari teks – teks lain ’ ( Culler, 1975: 139 ).
Pemikiran Kristeva yang mendukung munculnya pemikiran intertekstualitas yakni, bahwa bahasa bisa direduksi ke dimensi – dimensi yang bisa diterima oleh kesadaran.
Kesadaran bukanlah subjek yang statis namun berada dalam bentuk imajiner ( Lechte, 1994 terjemahan 2001 : 221 ). Foucoult ( 1971 terjemahan 2003: 30 ) mengemukakan bahwa tidak ada masyarakat yang tidak memiliki narasi narasi besar ( major naratives ) yang kemudian dikatakan ulang dan beraneka ragam, formula – formula teks – teks biasa, teks -teks ritual yang diucapkan dalam keadaan tertentu ; hal – hal yang pernah dikatakan kemudian diperbincangkan kembali karena masyarakat menduga adanya sesuatu rahasia dan “ kemegahan ” tersembunyi di dalam yang dikatakan tersebut. Kenyataan tersebut memunculkan ide pemahaman terhadap karya sastra.
Menurut Culler : A work can only be read in connection with or against other texts ’ Sebuah karya hanya dapat dipahami dalam hubungan dengan teksteks lain’
( Culler, 1975: 139; bdk Riffatere, 1978; bdk Teeuw, 1984; bdk Pradotokusomo, 1991: 162 ).
Teks sastra dibaca dan harus dibaca dengan latar belakang teks – teks lain ; tidak ada sebuah teks pun yang sungguh -sungguh mandiri, dalam arti bahwa penciptaan dan pembacaannya tidak dapat dilakukan tanpa adanya teks – teks lain sebagai contoh, teladan, kerangka, tidak dalam arti bahwa teks baru hanya meneladan teks lain atau memenuhi kerangka yang telah diberikan lebih dahulu, tetapi dalam arti bahwa dalam penyimpangan dan transformasi pun model teks yang sudah ada memainkan peranan yang penting ; pemberontakan atau penyimpangan mengandaikan adanya sesuatu yang dapat diberontaki atau disimpangi ( Teeuw: 1984: 146 ).
Teks – teks sastra yang menjadi dasar penciptaan sebuah – karya – kemudian disebut hypogram ‘ hipogram ’
( Riffatere, 1978: 23 ).
Mitos pengukuhan disebut myth of freedom.
Kedua hal tersebut boleh dikatakan sebagai sesuatu yang “ wajib ” hadir dalam penulisan teks kesusastraan Adanya unsur hipogram dalam suatu karya, mungkin disadari mungkin juga tidak disadari oleh pengarang
( Nugiyantoro, 1998: 52 ).
Seperti sudah dibahas sebelumnya, unsur – unsur serapan dari hipogram yang diserap oleh teks – kemudian berbeda -beda, seperti pada penelitian terdahulu Pradoto kusumo terhadap Kakawin Gajah Mada, Kakawin Gajah Mada dibangun oleh mozaik – mozaik karya sastra terdahulu, Chamamah Suratno terhadap Hikayat Iskandar Zulkarnain menghasilkan bahwa kharisma tokoh Iskandar Zulkarnain menyebar pada sejumlah karya sastra Melayu, dan Kuntara Wirya martana terhadap Arjuna wiwaha, bahwa Arjuna wiwaha mengalami tanggapan yang berbeda dalam genre – genre yang berbeda.
Adapun WBR digubah berdasarkan SR berbahasa Jawa.
Kisah Rama sebagai mite ceriteranya tidak boleh menyimpangi dari konvensi masyarakat.
Dalam segi ceritera, WBR sama dengan kisah sumbernya, namun kemudian pengarang mengisi celah – celah yang kosong dengan konsep – konsep teosofi tasawuf ( Lihat subbab selanjutnya. ).
Konsep – konsep teosofi tasawuf Islam ini dengan nama – nama Penguasa Alam dari agama Hindu Budha / pra – Islam. Penyisipan konsep – konsep tasawuf ini sudah tentu mengubah makna ceritera.
Penelitian ini akan didasari oleh pemikiran Iser bahwa ‘ karya sastra memiliki dua sisi, yang dinamakan artistik dan estetik, artistik dimiliki oleh teks yang diciptakan oleh pengarang, dan estetik yakni kenyataan yang disempurnakan oleh pembaca.
Masalah yang diungkapkan dipusatkan pada tema, kemudian dari tema ini diungkapkan makna yang menghiasi seputar tema, bagaimana tema ini dipoles dengan konsep – konsep tasawuf seperti pernyataan Gadamer bahwa sebuah karyasastra tidak muncul ke dunia sebagai seberkas arti yang selesai dan terbungkus rapi, namun arti tergantung pada situasi kesejarahan penafsir.
Pemahaman konsep – konsep sufi akan diterangkan melalui sumber – sumber dari beberapa naskah Sunda.
Pemikiran yang mirip dengan konsep – konsep sufi yang terdapat di dalam WBR dikumpulkan lalu ditelusuri hipogramnya. Penelitian ini tidak menelusuri aliran mana hanya meliputi ciri – ciri umum.
Penerapan hipogram terhadap teks naskah WBR akan diberikan istilah dengan hasil penelitian terdahulu.
Apabila terdapat gejala baru maka akan diberi peristilahan sesuai dengan gejalanya.
Peneliti Riffatere, menghasilkan konsep bahwa hipogram dari teks – terdahulu terhadap teks yang – muncul – kemudian diterapkan dengan expansion ‘ pengluasan / pengembangan’ dan conversion ‘ pemutarbalikan ’ ( Riffatere, 1978:50-63 ). Penelitian Pradotokusumo ( 1984: 103 ) merumuskan dua gejala yakni : modification ‘ modifikasi ’ dan excerpt ‘ ekserp ’. Gambaran yang tampak jelas yang diserap ke dalam WBR dari karya – karya terdahulu adalah konsep – konsep tasawuf yang mengalami “ adaptasi ” / penyesuaian nama Penguasa Alam, yaitu penyisipan konsep tasawuf namun Dzat yang diseru tetap menurut kepercayaan lama.
2.1. 2 Tasawuf dan Teosofi Tasawuf
Kata tasawuf ditinjau secara etimologis ” berasal dari kata shuf ( wol ), orang orang sufi menutup badannya dengan kain wol asli ” ( Burckhardt,1976 edisi terjemahan 1984: 15, Kalabadzi, 1985 edisi terjemahan 1995: 1 ).
Sufi adalah orang – orang ahli / penganut tasawuf.
Pengertian sufi secara substantif adalah ” mereka yang berada di barisan ( shaf ) yang pertama di sisi Allah, dengan semata mata maksud hatinya karena Allah, dan menempatkan bisikan kalbunya di sisi Allah.
Golongan lainnya mengatakan bahwa orang – orang disebut sufi karena kedekatan sifat – sifat mereka dengan ahli suffah yaitu orang – orang muslim yang berada di masa Rasulullah saw.
Menurut Bisr ibn al – Harits, sufi adalah orang orang yang membersihkan hatinya semata – mata karena Allah.
” ( Kalabadzi, 1985 edisi terjemahan 1995: 1 ).
Pengertian tasawuf adalah perilaku aspek batin Islam atau esoterik Islam yang dibedakan dari aspek luar
( eksoterik Islam ) ( Burckhardt,1976 edisi terjemahan 1984: 15 ).
Peristilahan seputar tasawuf bermacam – macam, tumpang tindih antara pemahaman Ketuhanan dan peribadatan. Fathurahman membedakan tasawuf falsafi dan tasawuf amali ( 1999: 24 ).
Istilah tasawuf falsafi dipakai pula dengan istilah teosofi tasawuf dan tasawuf amali istilah lainnya adalah tarikat.
Pengertian kamus tentang teosofi adalah ” ajaran dan pengetahuan kebatinan ( semacam filsafat dan tasawuf ) yang sebagian besar berdasar pada ajaran – ajaran agama Buddha dan Hindu ( Poerwadarminta, 1985: 1055 ).
Istilah yang dipilih dalam penelitian ini adalah teosofi tasawuf, dengan pertimbangan karena pembahasan – pembahasan mengarah kepada Ke – Tuhan – an.
Namun istilah ini digunakan dengan melepaskan acuan ke ajaran agama Budha dan Hindu, jadi yang dimaksud teosofi tasawuf dalam pembahasan ini, murni ajaran Islam yang lepas dari ajaran Budha dan Hindu seperti tercantum dalam arti kamus tersebut.
Adapun tarikah atau tarikat adalah amalan / peribadatan yang dilakukan oleh salik ( pencari jalan ) menuju Allah.
Di dalam naskah teosofi tasawuf Sunda, dibedakan karya – karya ini dengan ajaran segi agama Islam lainnya antara lain Tauhid dan Fikih.
Di dalam naskah naskah tasawuf disebut – sebutnya segi ke – Islam – an dalam pandangan para sufi yakni sariat, hakikat, tarikat, dan marifat ( Lihat pula penjelasan selanjutnya ).
Pemikiran – pemikiran tasawuf yang disajikan di dalam WBR terjalin sangat halus ditenunkan dalam hamparan karya berlatar belakang Hindu Budha yang pekat mewarnai seluruh karya dari awal sampai akhir.
Walaupun keberadaan teosofi tasawuf di dalam WBR ini hanya berupa ulasan yang sangat tipis, namun karena pengertian tasawuf rumit, penjelasannya membutuhkan uraian cukup panjang.
Pengkajian teori tentang tasawuf, meliputi teosofi tasawuf dan tarikat, untuk memahami pemikiran tasawuf yang tersaji di dalam WBR, sehubungan konteks tasawuf di dalam WBR seolah – olah berupa pengamalan yang sudah berlangsung, sedangkan dalam karya – karya tasawuf Sunda baru berupa uraian dari ajaran, jadi tentang tarikat pun perlu dibahas.
Karya – karya naskah yang dianggap berisi tasawuf memiliki ciri – ciri pokok tasawuf.
“ Karya – karya tasawuf walau berbeda – beda namun memiliki kesamaan aspek pokok ialah ajaran kebajikan rohani. Kebajikan rohani al ihsan, menurut Nabi sebagai berikut, kamu harus mencintai Tuhan seakan – akan kamu melihatnya dan jika kamu tidak melihat – Nya maka sesungguhnya Dia melihat kamu.
Persoalan paling utama bagi manusia yakni ma’rifah atau gnosis.
Sesuai dengan intensitas dan lamanya, terdapat keadaan – keadaan yang disebut ‘ cahaya yang redup ( lawa’ih ) dan ‘ cahaya yang menyilaukan ( lawami ), dan “ penyinaran ” ( tajalli ).
Kebajikan lain dari semua adalah diri merasakan miskin ( fakir ) keikhlasan ( al – ikhlas ) atau kejujuran ( as – sidq ). Mengingat Tuhan dengan ( adzdzikr )” ( Burckhardt, 1984: 127 – 134 ).
Dzikir menurut Syekh Yusuf dalam Al – Barakāt al – Sailaniyyah ( Berkat dari Sailan ) bermacam – macam, zikir Lā Ilāha Illā Allāh zikir orang awam, Allah – Allah, zikir hati atau zikir al – khawās, Hu – Hu zikir rahasia atau zikir akhas alkhawās
( manusia paling istimewa ) ( Dalam Lubis, 1996: 30 ).
Allah memperlihatkan diri – Nya dengan bermacam – macam manifestasi sesuai dengan tempat sehingga tempat itu menjadi arsy – Nya.
Maka engkau menjadi orangmukmin yang benar, seperti yang dimaksud dalam hadis.
Hadis mengatakan bahwa : Hati seorang mukmin sebahagian dari arsy Allah ( Dalam Lubis, 1996: 31 ).
Di dalam Tahsīl al – Ināyah wa al – Hidāyah ( Memperoleh Pertolongan dan Petunjuk ) disebutkan bahwa, Allah memuliakan mereka yang memperbanyak zikir dengan bermacam – macam ilmu dan rahasia – Nya. Allah berfirman : Tanyakan kepada ahli zikir jika kamu tidak tahu ( Yusuf, dalam Lubis 1996: 44 ).
Ahli zikir yang bisa dijadikan guru disebut – sebut dalam naskah Sunda dan ahli Tarikat adalah Guru Mursid
( guru yang ahli ) ( Naskah WJU; Fathurahman, 1999: 24 ).
Zikir ini diterapkan kepada salik dengan di – bai’at. Dalam Al – Nafahāt al -Sailaniyyah ( Hembusan dari Sailan ) tentang zikir Yusuf menyampaikan : ” Siapa yang tidak mempunyai syekh ( guru ), setan menjadi syekhnya.
Sabda Nabi Muhammad saw : Syekh bagi kaumnya adalah seperti nabi ( Yusuf, dalam Lubis 1996: 38 – 39 ).
Pengertian manusia yang selalu menghadirkan Allah dengan zikir hati adalah mukmin yang benar, dan hati seorang mukmin sebahagian dari arsy Allah memiliki kesejajaran makna dengan manunggaling kaula – Gusti.
” Manunggaling kaula – Gusti memiliki pengertian, abdi / manusia – yang selalu menghubungkan batinnya dengan Allah. ” Allah memiliki sifat yang berlawanan, Allah ” al – Dzahir al – Bathin ” Dia tersembunyi ( Batin ) di dalam kenyataan – Nya, Dia nampak ( Dzahir ) di dalam ketersembunyian – Nya. Allah ” al – Qarib al – Baid ” Dia Nyata di dalam Ketidaknyataan -Nya, Dia sangat Dekat di dalam Kejauhan – Nya ” ( Kalabadzi, 1995: 15 ).
Manusia diberi rahmat – Nya untuk bisa merasakan Kehadiran – Nya, namun Allah Dzat Laisa Kamistlihi ( Tidak bisa diumpamakan oleh apa pun ) ( Naskah WBW dan WJU ).
Tujuan manusia selalu menghadirkan Allah di dalam batinnya, untuk mencapai insan kamil.
Manusia dibebani untuk menuju insan kamil, peringkat selanjutnya kamil mukamil ( manusia mencapai tarap kesempurnaan pada martabat manusia ) ( di dalam WJU ) al – khawās – ( istimewa ) peringkat selanjutnya khawāsul khawās ( paling istimewa ( dalam WJU dan istilah dari Syekh Yusuf ).
Di dalam WBR terdapat istilah Elmu Kasampurnaan, Elmu Kasampurnaan ini kiranya ada hubungan pemaknaan dengan pengertian insan kamil – kamil mukamil atau alkhawās – khawāsul – khawās.
Di dalam WBR Elmu Kasampurnaan disebut juga Elmu Rahasiah atau Elmu Agal Repit, tanda ini rupanya mengacu kepada cara guru ( syekh ) yang menerapkan ilmunya kepada salik dengan cara bai’at secara rahasia.
2.2 Metode Penelitian
Langkah pertama dalam analisis sastra adalah mencari metode pendekatan yang sesuai dengan karya sastra itu sendiri. Karya sastra merupakan gejala, sehubungan itu setiap karya memiliki sifat umum dan keunikan tersendiri.
Dalam rangka mencari metode pendekatan yang sesuai, langkah pertama memahami WBR dari berbagai segi yakni, WBR sebagai karya wawacan, posisi WBR dalam perkembangan wawacan, WBR sebagai mite, dan kekomplekan kisah Rama.
Setelah dipahami dari berbagai segi baru menetapkan kajian yang tepat untuk menganalisis WBR secara optimal. Pengkajian intertekstualitas WBR divokuskan pada ketegangan keagamaan Hindu Budha dan ke – Islam – an yang mempengaruhi pemaknaan dari karya ini.
WBR sebuah karya sastra mite, berlatar agama Hindu Budha, digubah pada zaman Islam.
Adapun peristiwa mitis di dalam WBR sebagai berikut :
1) Dasarata berselamatan karena menginginkan putra yang dititisi oleh Dewa Wisnu, dilihat dari ciri – ciri dupa, permohonannya terkabul.
2) Menurut keterangan Resi Yogistara dan Mintra, Sri Rama titisan Dewa Wisnu Dewata Mulia.
3) Deskripsi perjalanan Rama ke Mantili menunjukkan bahwa dirinya bukan orang biasa namun ditempati Wisnu Murtining Bumi.
4) Rama diramalkan, pasti memenangkan sayembara di Negeri Mantili untuk menikahi Dewi Sinta karena Dewi Sinta penjelmaan Dewi Sri istri Dewa Wisnu.
5) Rama me – ruwat – kan Resi Jamadagni / Ramabergawa / Batara Rama Parasu yang terkena kutukan sehingga bisa kembali ke Indra Buana.
6) Resi Bagawan Yogi menyerahkan pakuwon bumi ‘ pengurusan bumi ’ kepada Rama sebagai titisan Wisnu
7) Rama me – ruwat – kan raksasa berlengan panjang dan Sowari penghuni Suralaya yang mendapat kutukan sehingga dapat kembali ke Kahiyangan.
8) Ketika Sugriwa sedang bersemedi ada suara yang raganya tak kelihatan mengatakan bahwa, Sugriwa akan mendapat pertolongan dari Sri Rama titisan Dewa Wisnu putra Dasarata yang berada di Gunung Raksamuka.
9) Rama berkali – kali mengeluarkan kesaktian Wisnu ketika merasa kecewa.
10) Ketika Pasukan Pancawati dilemahkan oleh senjata Indrajit, Rama dikunjungi oleh para Dewa.
Para Dewa mengatakan jangan ada kekhawatiran karena Rama titisan Wisnu.
11) Ketika Dewi Sinta membakar diri untuk membuktikan kesucian dirinya, ia dijemput oleh Batara Brahma, Batara Brahma mengatakan bahwa Rama titisan Wisnu Mustikaningrat, dan Dewi Sinta titisan Dewi Sri istri Wisnu.
Dilihat dari sejumlah peristiwa mitis tersebut, WBR menyandang sifat mite yang pekat.
Hal ini disebabkan karena penggubahan WBR baik struktur formal maupun struktur naratifnya diusahakan oleh pengarangnya sedekat mungkin dengan sumbernya.
Namun begitu karena karya sastra ini digubah pada zaman Islam, terselip unsur – unsur pemikiran ke – Islam – an.
Pengkajian intertekstualitas dalam penelitian ini dibedakan dalam dua tahap yakni pertama penelusuran teks – teks hipogram yang diperkirakan secara langsung atau tidak langsung turut dalam rekonstruksi WBR, kedua penelusuran hipogram utama yakni SR berbahasa Jawa.
Naskah SR berbahasa Jawa yang memiliki kemiripan dengan WBR antara lain SR yang disalin oleh Soetomo WF, Mpd., dkk 1993, diterbitkan oleh Yayasan Studi Bahasa Jawa “ Kanthil.
” Urutan pupuh WBR dengan SR ini sama sampai nomor 86. Bacaan bagian awal runtuyan pupuh dari I – LXXXVI hampir merupakan terjemahan. ( Lihat lampiran )
Kajian intertekstualitas tidak berdasarkan ceritera namun dari segi bagaimana pengarang merekonstruksi SR ke dalam WBR yang dilatarbelakangi oleh Agama Hindu Budha, kemudian mengisikan celah – celah yang terbuka dengan pemikiran pemikiran tasawuf.
Kajian intertekstualitas menelusuri hipogram dari teks naskah teosofi tasawuf Sunda yang diperkirakan mempengaruhi pengarang baik langsung atau tidak langsung dalam rekonstruksi WBR.
Teks naskah teosofi tasawuf yang digunakan adalah :
Wawacan Pulan Palinb.
Wawacan Jaka Ula Jaka Ulic.
Karya Teosofi Tasawuf Haji Hasan Mustapa.
Wawacan Buwana Wisesa.
Wawacan Ganda Sari
Teks dari naskah – naskah tersebut tidak disusun berdasarkan titi mangsa penulisan sehubungan dalam khazanah pernaskahan ada tradisi transmisi, yang penelusurannya sangat sulit dilakukan.
Berdasarkan alasan tersebut pengurutan ini tidak berdasarkan kronologis namun secara acak.
Penelusuran hipogram ini hanya meliputi ketegangan keagamaan Hindu Budha dan ke – Islam – an, jadi penelusuran hipogram melalui konsep pemikiran bukan bersifat kebahasaan.
Karena yang akan ditelusuri berupa konsep, maka terlebih dahulu mengadakan pembahasan konsep yang akan diteliti berdasarkan konsep – konsep karya teosofi tasawuf yang ada pada naskah dan informasi yang diterima secara lisan. Informasi secara lisan hanya sebagai penjelasan dari teks tertulis.
Konsep teosofi tasawuf yang ditelusuri mengenai manunggaling kaula – Gusti dan kemenunggalan.
Sebenarnya kedua pokok bahasan ini satu dengan lainnya saling berkaitan.
Namun kemenunggalan di dalam WBR diungkapkan secara khusus, maka kemenunggalan ini dibahas tersendiri.
Setelah ditetapkan dua buah konsep tersebut yang akan dicari hipogramnya, kemudian bagian – bagian dari teks yang mengandung konsep tersebut dimunculkan berdasarkan urutan peristiwa di dalam teks.
Konsep tersebut ditelusuri di dalam teks hipogram.
Setelah ditelusuri, lalu diungkapkan bagaimana penerapan hipogram tersebut di dalam WBR.
Berdasarkan hipogram yang hadir di dalam WBR diungkapkan “ makna penuh ” WBR, dilengkapi dengan fungsi semiotik dari hipogram.
Teori Rifatterre mengenai pemaknaan karya sastra dijadikan pijakan dalam pemaknaan WBR.
Adapun mekanisme telaah yang dikemukakan oleh Rifatterre ( 1978 ) melalui tahapan berikut :
1) Membaca arti yang umum.
2) Mencermati unsur – unsur yang tidak gramatikal yang merintangi penafsiran mimetik dalam arti yang umum.
3) Mencari hipogram ( teks terdahulu atau sezaman ) dan menelusuri hubungan teks – teks hipogram dengan WBR.
4) Menurunkan “ matriks ” dari “ hipogram ”, yaitu, menemukan sebuah pernyataan tunggal atau sebuah kata dari teks.
III PENGKAJIAN INTERTEKSTUALITAS WBR
3.1 Tanda – Tanda Keislaman dalam WBR
Pengkajian intertekstualitas seperti sudah dikemukakan dalam Bab II hipogramnya tidak ditelusuri dari segi ceritera, sehubungan antara SR berbahasa Jawa dengan WBR, penyajian struktur formal dan ceritera hampir sama
( Lihat lampiran 8 ).
Apabila diadakan kajian intertekstualitas dari segi kisah, akan terjebak kepada kisah Sri Rama yang bersifat umum dalam arti kekhususan WBR karya RAA Martanagara tidak tertelusuri.
WBR ini sebuah pilihan kisah Rama seperti disebutkan sebelumnya hampir sama dengan sumbernya, namun demikian bagaimanapun, proses membaca dipengaruhi oleh pribadi pengarang, semangat zaman, dan ikatan budaya.
Pengarang WBR mengkonkretisasi kisah Rama, dipengaruhi oleh pemikiranpemikiran ke – Islam – an tasawuf.
Pemikiran ini sangat halus, tersisip pada hamparan kisah Rama yang berlatar – belakangkan Hindu Budha.
Unsur – unsur serapan tersebut sangat sulit ditelusuri karena halusnya penyisipan.
Namun untuk keyakinan ini, ada kata – kata kunci pada bagian awal dan bagian akhir.
Kata kunci di bagian awal adalah penggunaan lambang Islam yang sangat significant yakni adanya kata masjid dalam lukisan keindahan Istana Ayodya pada ke 30 ( Lihat di dalam bagan Intertekstualitas WBR )
Adanya kata masjid ini, tidak diketahui dengan pasti apakah unsur kesengajaan atau muncul tanpa kesadaran pengarang, tampaknya dugaan yang kedua yang lebih mendekati kebenaran karena tak ada lagi lambang Islam yang lainnya, baru pada bagian akhir ada penjelasan.
Pengarang menyatakan secara eksplisit bahwa konsep – konsep tersebut tidak diambil dari sumbernya, seperti terdapat pada bacaan pada 2881, seperti berikut :
Sang Sri Rama muruk Ilmu Dakik.
patékadan jalma jaman Buda
ti hirup tepi ka maot kasebut ilmu lembut
marawicu bangsa nu suci
nyembah ka Pangéranna Yang Batara Guru
sarupa Agama Islam nyembahna téh ka Gusti Robbul Alamin
(2874)
Tatapina teu disalin
tina tembang anu basa Jawa
lain tina sabab hésé
ngan katimbang teu perlu
mungguh jalma jaman kiwari
nu geus ganti agama
Sang Sri Rama mengajarkan Ilmu Dakik.
Keyakinan orang pada zaman Budha sejak lahir sampai wafatdisebut ilmu Gaib biksu sebangsa orang suci menyembah Tuhannya Yang Batara Guru seperti Agama Islam menyembah Gusti Robbul Alamin Namun ( keyakinan itu ) tidak disalin,
( seperti dalam sumbernya ) tembang bahasa Jawa.
Bukan karena sulit hanya tak perlu untuk orang – orang zaman sekarang yang telah berganti agama menyembah kepada Yang Agung Gusti Allah Maha Mulia dan khawatir diterima oleh orang awam akan salah penerimaan Berbagai macam wejangan dengan keteladanan,yang berguna untuk orang -orang kini,
nyembah ka Yang Agung
Gusti Allah Anu Mulya
jeung kawatir dipikir ku nu teu harti
mangkéna salah tampa ( 2875 )
Rupa – rupa piwulang jeung misil
nu berguna pikeun nu ayeuna
baris nu sepuh nu anom tapi mun kula nutur
disundakeun Ilmu Hakéki
hakékah jaman Buda
anu samar samur
siyeun mangké salah tampa
tangtu jadi nungtun cu ( w ) a kana ati
sabab sulaya paham ( 2881 )
bagi orang tua atau muda namun aku bertutur tentang ilmu itu diganti dengan Ilmu Hakikat ( karena ) hakikat zaman Budha ( aku ) tak tahu dengan jelas ( sehingga ) takut menimbulkan salah penerimaan tentu akan menuntun kepada kenistaan hati, sebab mengelirukan keyakinan
Dengan pernyataan tersebut muncul keyakinan bahwa WBR diselipi dengan konsep – konsep teosofi tasawuf.
Oleh karena itu kajian intertekstualitas terhadap WBR hanya meliputi konsep / pemikiran tersebut.
Kajian intertekstualitas mengenai konsep ini tentu ditinjau dari kebulatan isi pemikiran secara utuh, dalam arti bukan bacaan / kesamaan bahasa.
633.2 Kehidupan Keagamaan Seputar Kepengarangan
Bagaimana pun pemikiran keislaman seperti disebut sebelumnya tidak hadir dengan sendirinya namun sesuatu yang tumbuh di seputar pengarang.
Adapun perhatian dan lingkungan RAA Martanagara sebagai pengarang WBR sebagai berikut : “ Pada waktu RAA Martanagara menjadi Bupati Bandung, terdapat dua golongan elite agama Islam pertama, elite agama yang tergabung ke dalam birokrasi kolonial dalam jajaran pribumi, kedua elite agama Islam yang tidak termasuk dalam birokrasi yang biasanya mempunyai kewibawaan sosial yang sangat tinggi di kalangan rakyat.
Banyak pejabat pribumi yang bersifat acuh tak acuh terhadap agama Islam, mereka menjauhkan diri terhadap elite agama Islam di lingkungan mereka sendiri, tetapi RAA Martanagara tidak termasuk kelompok pejabat pribumi seperti itu. Hal ini erat kaitannya dengan sikap hidupnya yang agamis.
Hubungan dengan elite agama Islam yang non – birokrasi dipeliharanya dengan sangat baik, begitu pula dengan elite agama Islam yang ada dalam birokrasi yang dipimpinnya.
Adapun yang menjadi hoofd penghulu Bandung semasa ia menjadi bupati adalah Raden Haji Hasan Mustapa.
Raden Haji Hasan Mustapa seorang sufi besar yang sangat banyak karyanya, tentang teosofi tasawuf.
Hubungan antara RAA Martanagara dengan Haji Hasan Mustapa terbina baik ” ( Lubis, 2001: 74-77 ).
Di daerah Bandung dan sekitarnya banyak ditemukan karya – karya yang berisi tentang tasawuf, tidak seperti di daerah lain umpamanya Majalengka.
Salah satu aliran tasawuf adalah “ tarekat naksabandiyah, pada tahun 1886 hampir seluruh bangsawan di Priangan mengikuti tarekat tersebut ” ( Bruinessen, 1992: 23 ).
Dengan demikian tidak aneh apabila pemikiran – pemikiran tasawuf yang berkembang seputar tahun 1890 – an, mempengaruhi rekonstruksi kisah Rama di dalam WBR.
Konsep tasawuf yang diselipkan di dalam WBR memperjelas arah yang diungkapkan oleh tema tentang ajal mulia.
Istilah yang digunakan di dalam teks paling banyak yakni pati mulya, istilah lainnya pati patitis ‘ ajal tenang ? ’, pati luhung ‘ ajal mulia ’, pati sinelir ‘ ajal terpilih ’, dilawankan dengan pati buta murka, pati dursila.
Pengertian pati mulya ini berasal dari hipogram utama SR berbahasa Jawa, salah satunya terdapat di dalam pupuh VII Maskumambang nomor : 20 sebagai berikut :
” Ing tegese Yayi ing urip puniku Yen ora amrih asalamet sajroning pati yeku seta nunggang gajah “.
Jelasnya Adinda, hidup itu Apabila tidak berharap Selamat dalam ajal, Sia -sia ( ? ) Ajal mulia ( salamet sajroning pati ), di dalam SR sebagai hipogram utama sumber penggubahan WBR, tidak diintikan menjadi tema seperti di dalam WBR.
Konsep tasawuf yang tergambar di dalam WBR inilah yang akan dicari hipogramnya.
Penerjemahan hipogram dengan memindahkan makna yang mudah dipahami atau bagi karya yang menggunakan simbol kebahasaan seperti karya Haji Hasan Mustapa sekalian ditafsirkan maknanya.
Adapun konsep – konsep tasawuf ini pengertiannya agak pelik, maka sebelumnya berdasarkan naskah naskah tasawuf, akan dibahas konsep yang terkandung dalam WBR secara panjang lebar guna memberikan pengertian yang jelas.
Konsep tasawuf di dalam WBR meliputi : Manunggaling kaula – Gusti, dan Kemenunggalan.
Adapun Naskah Hipogram ( kemudian akan disingkat Hp ), yakni Wawacan Pulan Palin ( disingkat WPP ), Wawacan Jaka Ula Jaka Uli ( WJU ), Wawacan Buwana Wisésa ( WBB ), Karya Haji Hasan Mustapa ( HHM ) dan Wawacan Ganda Sari (WGS).
WPP, WJU, WBB, dan WGS adalah wawacan yang menyajikan teosofi tasawuf dengan cara dialog antara adik dan kakak, HHM berisi teosofi tasawuf dengan menggunakan pelambangan.
Agar memudahkan pengamatan antara Hp – HHM dan penerapannya di dalam WBR, Hp – HHM tidak diterjemahkan namun langsung dimaknai.
WPP, WJU, WBB, dan WGS tanda – tanda edisi ditanggalkan supaya memudahkan pembacaannya, yang dipertahankan hanya penomoran pada supaya mudah memeriksanya kembali.
Data Manunggaling Kaula – Gusti WBR sengaja dicuplik dari berbagai episode supaya memberikan pengertian yang jelas. Nomor pada dicantumkan di bagian akhir.
Setiap data diimbuhkan nomor dengan angka Romawi untuk memudahkan penunjukkan data.
Begitu pula data Hp akan diberi penomoran angka Latin.
Pemikiran teosofi tasawuf yang terkandung di dalam WBR dan Hp – nya akan dilampirkan di dalam tabel.
Di dalam tabel ini akan dilengkapi keterangan ada atau tidaknya pemikiran – pemikiran ini di dalam hipogram utama SR
3.3 Kajian Intertekstualitas WBR
3.3.1 Manunggaling kaula – Gusti dalam Teks WBR dan Teks – Teks Hipogram
3.3.1.1 Manunggaling kaula – Gusti dalam Teks WBR
Pada ini memperkenalkan nama Dasarata, Raja Ayodya yang berbudi luhur.
I
Kasampurnanning pati patitis, - Dalam menuju kesempurnaan ajal,
tatas awas tékad Anu Nyata, - penglihatannya selalu tertuju kepada Yang Maha Ada,
pernah Kamulyan Yang Manon, - di tempat ( Badan Rohani ) Kemuliaan Yang Maha Melihat,
ngadalitkeun cipta jeung ati, - menyatukan pikiran dan hati,
nunggalkeun salirana, - menunggalkan diri.
jeung Sanghiyang Guru, - dengan Sanghiyang Guru,
desek rapet rasa Tunggal, – me – nunggalkan rasa,
dalit rapih tunggalna kawula – Gusti, – menyatu dan tunggal antara abdi- dan Tuhan.
dumawa ka Kamulyan.- membagi, mengalirkan ( rasa menuju ) ke Kemuliaan,
II
Henteu pegat mumuja semédi, – Tak putus-putusnya ( ia ) memuja dan bertafakur
ngaasorkeun tingkah salirana, – merendahkan diri ( di hadapan Tuhan )
nanggalkeun ciptana baé, – mengatur cipta batinnya
tansah meleng jro kalbu, – terus – menerus hatinya menghada
pmamrih nyata Dewa nu Asih, – kepada yang Maha Ada, Dewa Pengasih.
taya rasa rumasa – ( Beliau ) tak mengakui dirinya
sampurna panemu - ( memiliki) pengetahuan kesempurnaan ( insan kamil ).
Dasarata mengadakan selamatan untuk memperoleh putra yang mulia, tampan, dan dititisi Batara Wisnu.
Dalam penyelenggaraan selamatan ini, resi mengajak raja beserta permaisuri untuk mengikuti selamatan secara khidmat seperti berikut :
III
pihaturna wiku : – kata wiku :
Mangga urang limaan sami - Marilah kita bersama-sama
manteng nyembah mumuja - khusu menyembah
sing suhud tapakur - bertafakur.
nyatakeun di jero cipta - Nyatakan di dalam batin
badan urang leungitkeun - raga kita dihilangkanngan
sing tanpa jinis - raga kita dihilangkanngan
Déwa anu nyata - hanya Dewa yang Ada
IV
Junggerengna Sangyang Utipati – Sangyang Utipati Yang Maha Ada
henteu pisah jeung rasa rumasa - tak berpisah dengan rasa.
Bacaan ini senada dengan ungkapan Dewa Rama ketika di hutan dalam melindungi para pertapa untuk melaksanakan titah ayahnya Prabu Dasarata.
Sri 67 Rama bercampur gaul dengan kehidupan para pandita yang membuatnya lupa terhadap kehidupan negara. Ungkapan Dewa Rama tersebut seperti berikut :
V
Tapi geuning ari mungguh para resi - Namun terhadap para resi
setan téh bet taak setan - setan itu
jeramun tembong mah tayoh ngacir - apabila menampakkan diri langsung lari
sabab dibawa perkosa - sebab dilayani dengan keperkasaan ( jiwa )
Badan badag dicipta pan aleungit - Badan kasar dicipta hilang
ngan Alus Nu Aya - hanya Yang Gaib, Yang Maha Ada
ciptana geus jadi hiji - batinnya menyatukan diri
tunggal jeung Hing Jagatnata - menunggal dengan Penguasa Jagat ( Jagatnata )
Lamun jalma enggeus kitu nya pamilih - Apabila manusia sudah memilih jalan itu
geus moal karasa - tak akan ada lagi
aral ria peurih nyeri keluh – kesah tekebur sakit hati
ngan wungkul nimat nu aya - hanya kenikmatan yang terasa
Deskripsi berikut, ketika Sri Rama menempuh puncak gunung Raksamuka yang sangat sulit, namun atas pertolongan Dewagung, ingat ingat ia sudah sampai di puncak.
Setelah tiba di puncak lalu ia bersemedi….
VI
Ti dinya tuluy mumuja - Kemudian dia bersemedi
ngening cipta nganyatakeun Sang Déwasih - mengheningkan cipta, hanya Dewa Pengasih Yang Ada
nyirnakeun salirana - menghilangkan kesadaran akan ragawi
Rama nyipta mati jroning hurip - Rama menghadirkan rasa kematian dalam hidup
geus teu nyipta daya jeung upaya - tak memiliki daya upaya
tumurah cara nu maot - berserah seperti raga mati
salirana menekung - duduk menunduk
Dewi Sinta memohon supaya Dasamuka dilenyapkan karena telah menyengsarakan orang sedunia, penggambarannya di dalam WBR sebagai berikut :
VII
Campleng cengeng tékadna putri Mantili - Bulat, kuat tekad Putri Mantili
ngayuh sihing Déwa - mendatangkan kasih dari Dewa
badanna dicipta leungit - badan lahir dicipta lenyap
ngan cipta Déwa Nu Nyata - yang hadir Dewa Yang Maha Ada.