5 Komentar

Tabuik Pariaman, Asyuro ala Minang & Bengkulu

Pesta Tabuik Pariaman 2008

HENDRA AGUSTA, WARTAWAN ANTARA Minggu, 13 Januari 2008

INILAH.COM, Padang – Warga Kota Pariaman memiliki tradisi unik untuk memeriahkan tahun baru Islam, namanya “Tabuik”. Tradisi yang telah terpelihara sejak tahun 1829 itu, berlangsung dari tanggal 1 hingga 10 Muharam.

tabuik2.jpgPesta Tabuik menyuguhkan atraksi budaya bernuansa Islami yang melegenda. Pada 2008 ini, Pesta Tabuik digelar dari tanggal 10-20 Januari (1-10 Muharram 1429H).

Pembukaan Pesta Tabuik ini ditandai Pawai Taaruf ribuan pelajar MDA, TPA, TPSA dan masyarakat mengintari kota. Setelah pawai Taaruf, pesta pun dimulai. Selama waktu itu, dibuat dua buah “Tabuik”, yang akan diarak pada 10 Muharram.

Selama sepuluh hari ini, digelar pula berbagai penampilan seni budaya anak Nagari Pariaman, yakni Rabab Pariaman, Gandang Tassa, Randai, Lomba Baju Kuruang, Puisi dan Tari Minang.

Selain itu digelar bazar dan pameran aneka produk usaha kecil dan menengah serta komoditi ekspor dari Pariaman. Ratusan ribu pengunjung berdatangan selama pesta “Tabuik”, baik wisatawan nusantara dan mancanegara.

“Tabuik” adalah keranda bertingkat tiga terbuat dari kayu, rotan dan bambu dengan tinggi mencapai 15 meter dan berat sekitar 500 kilogram.

Bagian bawah Tabuik berbentuk badan seekor kuda besar bersayap lebar dan berkepala “wanita” cantik berambut panjang.

Kuda gemuk itu dibuat dari rotan dan bambu dengan dilapisi kain beludru halus warna hitam dan pada empat kakinya terdapat gambar kalajengking menghadap ke atas.

tabuik.jpgKuda tersebut merupakan simbol Bouraq, kendaraan yang memiliki kemampuan terbang secepat kilat.

Bagian tengah Tabuik berbentuk gapura petak yang ukurannya makin ke atas makin besar. Pada gapura itu ditempelkan motif ukiran khas Minangkabau.

Di bagian bawah dan atas gapura ditancapkan “bungo salapan” (delapan bunga) berbentuk payung dengan dasar kertas warna bermotif ukiran atau batik.

Puncak Tabuik dihiasi payung besar yang dibalut kain beludru dan kertas hias yang juga bermotif ukiran. Di atas payung ditancapkan patung burung merpati putih.

Kaki Tabuik terdiri dari empat kayu balok bersilang dengan panjang sekitar 20 meter. Balok-balok itu digunakan untuk menggotong dan “menghoyak” Tabuik yang dilakukan oleh 100 orang dewasa.

Tabuik dibuat oleh dua kelompok masyarakat Pariaman, yakni kelompok Pasar dan kelompok Subarang. Tabuik dibuat secara bersama-sama, melibatkan para ahli budaya dan sejarah serta tokoh masyarakat sejak 1-9 Muharam dengan biaya puluhan juta rupiah.

Sejarah “Pesta Tabuik”

Dalam sejarah Pariaman, Tabuik pertama kali diperkenalkan anggota pasukan Islam “Thamil” yang menjadi bagian pasukan Inggris pimpinan Jendral Thomas Stamfort Raffles.

pestatabuikdipariaman2pg5.jpgSaat itu Inggris menjajah Provinsi Bengkulu pada 1826. Pasukan Thamil, yang kebayakan muslim setiap tahun menggelar pesta Tabuik, yang di Bengkulu bernama “Tabot”.

Setelah perjanjian London 17 Maret 1829, Inggris harus meninggalkan Bengkulu dan menerima daerah jajahan Belanda di Singapura.

Sebaliknya Belanda berhak atas daerah-daerah jajahan Inggris di Indonesia termasuk Bengkulu dan wilayah Sumatera lainnya.

Serdadu Inggris “angkat kaki” dari Bengkulu, namun pasukan “Thamil” memilih bertahan dan melarikan diri ke Pariaman, Sumatera Barat yang saat itu terkenal sebagai daerah pelabuhan yang ramai di pesisir barat pulau Sumatera.

Karena pasukan Thamil mayoritas muslim, mereka dapat diterima masyarakat Pariaman yang saat itu juga tengah dimasuki ajaran Islam.

Terjadilah pembauran dan persatuan termasuk dalam bidang sosial-budaya.

Salah satu pembauran budaya ditunjukkan lewat Pesta Tabuik. Bahkan Tabuik akhirnya menjadi tradisi yang tidak terpisahkan dari kehidupan warga Pariaman.

Makna pesta Tabuik dimaksudkan untuk memperingati kematian dua cucu Nabi Muhammad SAW, yakni Hasan dan Husain yang memimpin pasukan kaum muslim saat bertempur melawan kaum Bani Umayah dalam perang Karbala di Mekkah.

Dalam pertempuran, Husain wafat secara tidak wajar. Sebagian muslim percaya jenazah Husain diusung ke langit menggunakan “Bouraq” dengan peti jenazah yang disebut Tabot.

Kendaraan Bouraq yang disimbolkan dengan wujud kuda gemuk berkepala wanita cantik menjadi bagian utama bangunan Tabuik.

Tahapan pembuatan “Tabuik”

Tahapan pembuatan Tabuik dimulai 1 Muharram didahului acara pembukaan di lapangan Merdeka Pariaman yang dihadiri ribuan warga dan para pejabat Pariaman dan Sumbar.

Selanjutnya dilaksanakan tradisi “maambiak tanah” (mengambil tanah) dilakukan dua kelompok Tabuik Pasar dan kelompok Subarang.

Masing-masing kelompok mengambil tanah pada pada tempat berbeda dan berlawanan arah. Kelompok Tabuik Pasar mengambil tanah di Desa Pauh sedangkan Kelompok Tabuik Subarang di Desa Gelombang.

Prosesi mengambil tanah dipercayakan kepada tokoh berjubah putih, yang melambangkan kejujuran Husain. Tanah diambil dan dimasukan ke dalam “daraga”, kotak yang menyimbolkan kuburan Husain.

Tanah itu lalu diarak ke rumah Tabuik Pasar dan rumah Tabuik Subarang diiringi alunan “gandang tasa” yang bertalu-talu.

Dalam perjalanan ke rumah Tabuik kedua kelompok Tabuik berpapasan dan saat bertemu masing-masing kelompok berselisih dan bertempur, yang menggambarkan perang Karbala.

Menyertai acara pembukaan pada hari pertama juga digelar Festival Anak Nagari (permainan tradisional Pariaman/Sumbar), festival Tabuik Lenong dan diakhir pawai Muharam mengelilingi Kota Pariaman. Malam harinya digelar hiburan musik gambus di Lapangan Merdeka yang dihadiri ribuan penonton.

Di hari kedua, pembuatan Tabuik dimulai dengan pembuatan kerangka dasar Tabuik dari bahan kayu, bambu, dan rotan. Malam harinya, digelar kesenian tradisional “Randai”.

Hari ketiga pengerjaan kerangka dasar Tabuik dilanjutkan, sedangkan di lapangan digelar kesenian organ tunggal menampilkan penyanyi-penyanyi lokal.

Tanggal 4 Muharram selain melanjutkan pembuatan kerangka dasar Tabuik juga mulai dipersiapkan pembuatan kerangka Bouraq dan malam harinya warga Pariaman dihibur dengan film layar tancap di lapangan Merdeka. [I2

About these ads

5 comments on “Tabuik Pariaman, Asyuro ala Minang & Bengkulu

  1. Saya punya catatan tentang Tabut di Pariaman. Bisa diklik di http://yudihelfi.blogspot.com

  2. wel wel wel wel wel wel wel wel wel wel wel wel wel wel wel wel wel wel

  3. asal usul ,web site, keturunan Melayu berasal dari Minangkabau? kajian DNA
    sifat asal melayu ialah sifat islam ,yaitu tidak berpuak puak ,sekiranya kita sudah menjadi ber puak puak ,pengertianya kita semakin jauh dari orang melayu ,tuhan sudah menjadikan menghantar para nabi dan rasul juga dihantar sekali raja pemimpin manusia dari belahan dari nabi dan rasul untuk di ikuti ,baik dari para nabi dan rasul atau raja yang di ikuti semuanya karena allah serta untuk mendapat keredaan allah jua .cuba fikirkan apa yang boleh menyatukan umat.

    sumber rujukan rasmi kajian DNA itu : https://yentown.us/wp-content/uploads/137/1.pdf
    penerangan lengkap kajian DNA itu : http://humpopgenfudan.cn/p/A/A1.pdf

  4. yang ikut sekali bersama raja manusia ,raja harimau ,raja gajah, raja buaya ,raja kambing,dan raja kucing,serta raja ular,raja anjing dari rupa bentuk manusia yang sifatnya sama dengan hewan tersebut,turun dari kapal dipuncak gunung kerinci di pulau perca/pulau emas/pulau sumatra ,raja minang kabau ini,yang jadi raja di asia timur sebagai orang islam dari keluarga junjungan besar nabi muhammad s a w ,imam para nabi penghulu para rasul seluruh alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.977 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: