2 Komentar

Proposal Program Pembangunan National Character Buliding dan Revitalisasi Falsafah Ideologi Pancasila dan Asas Kebangsaan Bhineka Tunggal Ika

Bismillahi al-Rahman al-Rahim, Atas Berkah Rahmat Karunia Allah Tuhan YME:

 

Draft Seminat/Simposium/MMBI   Kementrian Pertahanan RI:

 

BUDAYA dan ADAB BHINEKA TUNGGAL IKA

sebagai Basis Pertahanan Ideologis Peradaban NKRI

 

Oleh: Ahmad Y. Samantho Sukarya, S.IP, MA, M.Ud

untuk Yayasan Bersama Indonesia

Sebagaimana keprihatinan yang kita pahami bersama, dinamika kondisi  Ipoleksosbud-Hankamnas Indonesia  beberapa tahun belakang ini semakin memanas dan akan segera mulai memasuki  tahap kritikalnya, bila tak segera diantisipasi secara  tepat oleh seluruh pemangku kepentingan kebangsaan dan kenegaraan kita.

Setelah 72 tahun “merdeka secara formal” dari penjajahan kolonialisme dan imperialisme asing atas negeri ini, kita rasakan sebagian putra bangsa Indonesia ternyata masih  belum sepenuhnya 100 % merdeka dari efek penjajahan berbagai falsafah-ideologi asing, serta dominasi mindset (paradigma) mental dan praksis ipoleksosbud hankamnas yang tidak sesuai dengan cita-cita proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 sebagaimana yang tercantum dalam naskah suci Pembukaan Undang-undang Dasar 1945.

Sebagian besar rakyat kita dan elite politik-ekonomi, intelektual dan budaya putra bangsa kita, selama periode panjang puluhan tahun pasca Proklamasi Kemerdekan RI sampai kini, masih kerap tercerai berai dan semakin teracak-acak, oleh berbagai konflik kepentingan global dan falsafah ideologis asing yang menjadi perpanjangan atau ekses dari perang dingin pasca kemenangan pihak Barat Liberal-Kapitalis pada Perang Dunia ke II, dan hegemoni neo/paska kolonialisme berlabel kemasan agamis (SARA) Berbagai problem kritis dan eksesnya masih membelengu alam pikir dan kebatinan mayoritas bangsa kita. Peran Fundamental Falsafah Ideologi Pancasila dan Asas Bhineka Tunggal Ika pun kini menghadapi ancaman serius.

Kondisi ini kalau ditinjau dari sudut pandang analisis pertahanan Negara, adalah merupakan manifestasi dari “Skema Perang Moderen (nir-milter”)” atau “Proxy War”, yang digelar olegpihak asing di Indonesia saat ini.

Perang modern adalah bentuk perang yang dilakukan secara non-militer dari negara maju asing untuk menghancurkan suatu Negara tertentu melalui bidang “Ipoleksosbudhankamnas”. Perang modern juga merupakan bentuk kontrol dari negara-negara koalisi global yang dimotori oleh Amerika Serikat (USA) terhadap negara lain yang dianggapnya tidak dapat lagi mengakomodasi kepentingan atau merugikan negara koalisi tersebut dan membahayakan negaranya. Kasus divestasi saham Freeport Indonesia adalah  salah satu penyebanya.

 

Tahapan Perang Moderen (Proxy War), menurut Rindam V Brawijaya:

  1. Infiltrasi (Penjajahan) Paradigma, melalui:
    1. Intelejen
    2. Militer
    3. Pendidikan
    4. Ekonomi
    5. Politik
    6. Sosial Budaya (isu Kutur dan Agama)
    7. Bantuan Asing (Hutang, dll)
    8. Kerjasama di semua bidang
    9. Media dan teknologi informasi

 

  1. Tujuannya adalah: menghancurkan dan melemahkan serta mengusasai kekuatan negara melalui; Intelejen, TNI, Ekonomi, Politik, Budaya, Ideologi. Di mana keenam point tersebut adalah pilar strategis (kekauatan inti) negara. Bila musuh berhasil menguasasi keseluruhannya, maka bisa dipastikan negara dalam control musuh.
  2. Musuh sudah dan akan terus mengadu domba kita dengan cara:
    1. menimbulkan kekacauan dan kekerasan,
    2. menimbulkan konflik horizontal, antara lain yang bernuasan SARA,
    3. menimbulkan dan membantu gerakan separatism (pemberontakan),
    4. memicu dan menimbulan perang saudara.
  3. Musuh mengubah paradigm dan cara berfikir kita terhadap Wasasan Kebangsaan dan Wasasan Nusantara untuk memperlemah persatuan bangsa agar lebih mudah dikuasai dan dijajah (devide et Impera).
  4. Lemahnya persatuan nasional, akan memudahkan Indonesia (NKRI) dikuasai musuh tanpa kekerasan (perang militer / “Hard Power”), tetapi dengan “Soft Power”, sehingga segala Sumber Daya Manusaia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia berada di bawah kekuasaan dan kendali musuh, seperti yang telah terjadi di Uni Soviet yang terpecah belah akibat serangan nirmilter AS, dan Negara Negara Timur Tengah yang rusuh berperang satu sama lain sampai saat ini (misalnya konflik perang Syiria, Arab Saudi vs Yaman, Arab Saudi vs Qatar, Palestima vs Israel,dll.)
  5. Pada puncaknya, bila dengan Proxy War ini NKRI belum juga bisa ditaklukkan pihak musuh, maka mereka akan melakukan invasi, di mana kekuasan militer musuh telah disiapkan bila NKRI bersikeras dan sulit untuk ditaklukkan secara nirmiliter seperti kasus kejadian di Irak, Afghanistan, dll. Buktinya wilayah Indonesia kini sudah dikepung oleh 15 pangkalan induk militer USA di sekitar wilayah Indonesia.

 

 

Mempertimbangkan latar problem kritis di atas, maka sudah saatnya kini kaum intelektual, para rohaniawan-ulama, dan para budayawan-negarawan bersatu padu bersama Kementrian Pertahanan Republik Indoensia untuk menyelaraskan kesadaran dan pola pikir dan pola tindak untuk segera -secara revolusioner-restoratif, (karena terbukti dengan gerakan reformasi saja sangatlah tidak mencukupi) –  melakukan Gerakan Penyadaran Kembali Wawasan Nusantara, Sprit Kebangsaan dan Revolusi Mental, sebagaimana yang sudah menjadi kebutuhan bangsa dan telah dicanangkan oleh Bapak Presiden Joko Widodo sejak awal masa baktinya.

Kebijakan itu harus ditindaklanjuti  pemerintah dengan merencanakan dengan berbagai program kerja Pembangunan Karakter Bangsa berdasarkan orisinalitas Budaya-Peradaban Bangsa Nusantara/Indonesia berdasarkan Asas Filosofis-Idelogis Konstitusional Panca Sila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika NKRI, secara Komprehensif-Holistik-Integral. Program pembangunan tersebut harus dilakukan secara terencana, konseptual ilmiah sekaligus dengan berlandaskan pada warisan nilai-nilai tradisi suci asli adat-budaya-adab bangsa Indonesia di Nusantara Ibu Pertiwi, yang sudah terasimilasi dan terakulturasi secara harmonis dengan berbagai kearifan dunia dan pokok kebijaksanaan agama-agama besar selama berpuluh abad dan ribuan tahun lamanya.

Maka realisasi Visi dan Missi di atas harus didukung dan dilaksanakan secara nyata dengan program kerja pembangunan, yang terorganisir dan terkelola manajemen operasionalnya oleh sejumlah besar (massal) SDM yang rapih, kualified, fit and proper, efektif-effisien dan integratif.  Pemerintah perlu segera membina atau mewujudkan semacam forum bersama (plus teamwork-nya), misalnya dalam Bentuk DEWAN ADAT-BUDAYA NUSANTARA (yang akan mempersatukan, mengkonsolidasi serta mensinergikan berbagai potensi SDM dan program kerja para Intelektual, Rohaniawan-Ulama, Negarawan dan Budayawan, sebagai wadah “Ka-Resi-an dan Ke-Rama-an” yang akan mendampingi para Prabu (Kerprabon/Karatuan atau Eksekutif-legislatif dan yudikatif).

Berbagai Program Pembangunan Karakter Bangsa dan Budaya-Peradaban Bangsa tersebut harus dilakukan secara terencana, konseptual komprehensif-holistik- ilmiah sekaligus berdasarkan pada tradisi suci adat-budaya-adab bangsa Indonesia di wilayah Ibu Pertiwi, yang sudah terasimilasi dan terakulturasi dengan berbagai kearifan dan kebijakasaan perennial agama-agama besar dunia, berdasarkan Asas Filosofis-Idelogis Konstitusional, Panca Sila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika, NKRI, mengingat tantangan dan ancaman yang begitu Gawat Darurat (Krisis yg angat Kritis).

 

Apa yang harus Kita Lakukan ?

  1. Mensosialisasikan ide gagasan dan membentuk dan mengorganisasikan kelembagaan Dewan Adat-Budaya dan Adab Republik Indonesia.
  2. Melakukan pengkajian, penelitian, invertarisasi nilai, sejarah dan ajaran, kompilasi dan analisis filosofis-ideologis untuk memperkuat dan revitalisasi Falsafah ideologi Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika dan Realisasi Amanat Pancasila dan UUD 1945.
  3. Menjalankan berbagai program Pendidikan dan Pelatihan dalam kerangka Pembudayaan/Pemberadaban Bangsa dalam berbagai tingkatan level strata sosial-budaya, (misalnya: TOT untuk Kader birokrat pemerintahan, para politisi, para pelaku ekonomi, para pendidik dan aktif is kebudayaan, kaum intelektual, gerakan pemuda, kewanitaan, pimpinan LSM serta Tokoh Masyarakat,  untuk dapat menularkannya kepada semua WNI sebagai basis Bela Negara dan pelaku Revolusi Mental bangsa).
  4. Menyelenggarakan berbagai event ilmiah penunjang (seminar, lokakarya, konferensi) dan Gelaran Kebudayaan, serta produksi media kreatif untuk mendukung Visi-Missi dan Program di atas.
  5. Melakukan konsolidasi dan membangun jaringan kerjasama antar berbagai potensi kelembaga dan tokoh kebangsaan dan keumatan.

 

Pada Tahapan awal sebagai starting point langkah-langkah stretegis di atas, maka kita perlu segera membuat seminar nasional atau workshop/symposium, untuk menyelaraskan visi dan visi serta concern bersama terhadap problematika di atas.

Tema Utama:

Merumuskan Strategi Kebudayaan, Revitalisasi Wawasan Nusantara, Spirit Kebangsaan dan Revolusi Mental untuk Ketahanan dan Pertahanan Bangsa dan NKRI, melalui Penguatan Karakter dan Mental Ideologi Pancasila-Bhineka Tungkal Ika.”

Alternatif Bentuk Kegiatan:

Seminar/Simposium/Workshop (Gotra Sawala)/Musyawarah Mufakat Budaya :

Target Peserta Aktif:

  1. Para Intelektual, Akademisi dan Pemikir Kebangsaan
  2. Para Budayawan dan Seniman
  3. Para Rohaniawan, Pandita dan Ulama
  4. Para Tokoh Pemangku Adat dan Budayawa Etnis Nusantara
  5. Para Pendidik (Guru dan kepala sekolah, osen dan Rektor PT)
  6. Para pimpinan aparat Pemerintahan Sipil dan Militer serta Polri. Pusat dan Daerah
  7. Para Tokoh Pengusaha/Bisnis (Pelaku Ekonomi).
  8. Para Tokoh Penentu Kebijakan dan Pemangku Media Massa dan Pers serta Pegiat Media Sosial, dll

 

Target Output (Hasil) Kegiatan:

  1. Konsensus Nasional dalam bentuk Deklarasi “Sumpah Kebangsaan Indonesia”
  2. Kertas kerja ( Naskah Akademik)
  3. Rumusan Strategi Kebudayaan sesuai Tema Utama
  4. Usulan Program Kerja untuk Kementrian Pertahanan RI, dan untuk lintas Depatemen/Kementrian (seperti dengan UKP PIP), Kemendikbud, Kemenko….., dll.
  5. Pencanangan dan Pembentukan Dewan Adat-Budaya dan Peradaban Indonesia (Nusantara)

 

Hari dan Tanggal Pelaksanaan:

27-28-29 Oktober 2017 atau 10-12 November 2017

Tempat (Venue):

Museum Nasional, (atau tempat lain) dengan Pembukaan di Istana Negara,

 

Nara Sumber dan Jadwal Seminar/Simposium:

… Terlampir … (tergantung kepastian kesepakatan bentuk kegiatannya)

 

 

Usulan Pembicara/Nara Sumber Utama (Pemrasaran);

  1. Said Agil Sirodj, (Ketua PB NU) atau KH. Mustofa Bisri atau KH. Makmun Zubair. dengan alternatif subtema: “Islam Nusantara Damai-Sejahtera Rahmatan Lil ‘Alamin.
  2. Romo Prof.Dr. Frans Magnis Suseno (atau Romo Benny Susetyo): “Menyemai dan Menyadari Kasih Tuhan untuk Semua Putra Bangsa”
  3. Dr. Ahmad Syaffi Maarif, dengan subtema: “Revitalisasi Wawasan Nusantara dan Spirit Kebangsaan Kita”
  4. Radhar Panca Dahana, denga Subtema; “Mengukuhkan Strategi Kebudayan Kita (Indonesia).”
  5. Ahmad Yanuana Samantho, S.IP, MA, M,Ud dengan subtema: “Wawasan Perennial Nusantara sebagai Paradigma Kesadaran Pancasila dan Bhineka Tungal Ika”.
  6. Yudhi Latief: “Peran dan Fungsi Sinergis UKP-PIP bersama Kemenhan RI dan Kemendikbud dalam Program Penguatan Mental Ideologi Pancasila”.
  7. Farid Hilmar: “Peran dan Fungsi Sinergis Dirjen Kebudayaan, bersama Kemenhan RI dan UKP-PIP”

 

Iklan

2 comments on “Proposal Program Pembangunan National Character Buliding dan Revitalisasi Falsafah Ideologi Pancasila dan Asas Kebangsaan Bhineka Tunggal Ika

  1. menurut saya konsep pluralis itu salah, saya percaya bahwa kebenaran itu hanya ada satu, dari awal sampai akhir dunia, dari nabi adam sampai umat nabi Muhammad SAW, dari awal penciptaan itu Islam, konsep ketauhidan bertahap melalui para nabi, begitupun dengan kitab kitab yg dimana mengajarkan ketauhidan hanya kepada Allah, tetepi pada prakteknya banyak yg menyimpang, dan hanya Al Qur’an yg dijaga ke otentikannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Berbagi Ide, Saling Cinta

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: