Tinggalkan komentar

KH Abdullah bin Nuh

K.H. R. Abdullah Bin Noeh
Kyai-Maha-Guru-Bagi-Para-Ulama.jpg11855621_1044863955525283_5645229350234018440_n
Lahir 30 Juni1905
Bendera BelandaCianjur, Jawa Barat,Hindia Belanda
Meninggal 26 Oktober1987(umur 82)
Bendera IndonesiaBogor, Jawa Barat,Indonesia
Kewarganegaraan Indonesia
Agama Islam

KH Abdullah bin Nuh bin Idris

oleh Ahmad Y. Samantho,

(Salah seorang Murid KH Abdullah bin Nuh, 1982-1986)

             Ketika saya masih remaja, usia 16 tahun dan duduk di kelas 1 di SMAN Negeri 1 Bogor tahun 1981,  saya adalah seorang cucu yang sangat disayangi oleh nenek saya. Saya memanggil beliau Eyang Uti (Eyang Putri).  Kebetulan Eyang Uti tinggal sendiri di rumahnya di desa Cibalagung, Kec. Ciomas Bogor.

                 Telah sekian lama sejak saya masih berusia 2 tahun (1967) Eyang Kakung (Akung) wafat dan dimakamkan dekat rumahnya di Cibalagung.  Maka sejak kecil saya sering menginap di rumah Uti menemani beliau dalam waktu-waktu liburan atau senggang saya.  Oleh EYang Uti yang saya sayangi dan menyangi saya itulah saya dikenalkan dengan seorang ulama yang mengajar di dan pemimpin di Majlis Ta’lim Al-Ihya, di Batu Tapak, Ciomas Bogor.

             Saya sering diajak Uti mengaji  di majelis ta’lim tersebut mengikuti pengajian-pengajian ilmu-ilmu ke-Islaman dan tasawuf dari Mama Ajengan KH Abdullah bin Nuh. Dari  Mama Ajengan KH Abdullah bin Nuh itulah saya mendapatkan pemahaman-pemahaman  dasar  saya dalam beragama Islam.

          KH Abdullah bin Nuh, Ulama Produktif yang Mendunia Kesantunan akhlak, kelembutan tutur kata, kearifan dan keluasan wawasan ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu lainnya membuat saya mulai mencintai beliau dan mencintai apa-apa yang diajarkannya. Selama 3 tahun lebih saya mengaji kepada beliau setiap hari Ahad di Majlis Ta’lim Al-Ihya atau di  Majelis Ta’lim Al-Ghazali di  Kebon Kopi Bogor. Saya menjadi ‘santri kalong’ (santri yang tak tinggal di pondok pesantren) menjadi murid beliau dan murid dari ustadz-ustadz murid beliau lainnya.

            KH Abdullah bin Nuh tergolong pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang seangkatan dengan Mohammad Natsir ( ketua Partai Islam Masyumi) dan KH Wahid Hasyim (Ketua Nahdatul Ulama / NU) ayahanda mantan presiden RI ke-4, KH Abdurahman Wahid.  KH Abdullah bin Nuh seangkatan dengan kedua mantan tokoh partai Masyumi tersebut, walaupun usianya lebih tua setahun dari Natsir dan lebih tua 7 tahun dari  tahun dari KH Wahid Hasyim.  Kedua tokoh Masyumi dan NU itu adalah sahabatnya.  Namun sikapnya sebagai seorang ulama sufi yang sangat tawadhu (rendah hati) lebih menonjol daripada ketokohannya yang setara dengan KH. Mohammad Natsir dan KH Wahid Hasyim, sehingga beliau tak segan-segan untuk sowan bersilaturahmi dengan sahabat-sahabatnya yang lebih muda darinya.

            KH Abdullah bin Nuh dilahirkan di kota Cianjur pada tanggal 30 Juni 1906 atau 1324 Hijriah. Ayahnya Kyai Haji Raden Nuh bin Idris adalah ulama besar di Cianjur, yanag memiliki pesantren dan sekolah yang bernama “I’anatut Thalibil Muslimim”. Sejak kecil  KH Abdullah bin Nuh dididik oleh orang tuanya, antara lain di sekolahnya tersebut. Kecerdasan dan ketekunan Abdullah luar biasa, sehingga pada usia 8 tahun telah mampu berbicara bahasa Arab. Salah satu kitab rujukan tata bahasa Arab, Alfiah telah dikuasainya pada usia tersebut.

            Setelah memperoleh pendidikan dasarnya di sekolah yang didirikan ayahnya di  Cianjur, Abdullah remaja kemudian melanjutkan pelajarannya pada sebuah Madrasah Arabiyah di Semarang, Syamailul Huda. Seorang Ulama keturunan Hadramaut, Syeikh Syayid Muhammad bin Hasyiom bin Thahir al-Alawy al-Hadda al-Hadrami menjadi gurunya. Abdullah bin Nuh menjadi murid kesayangan sang gurubtersebut kerena ketekunannya dan kecerdasan otaknya.

            Pada tahun 1992, Ketika Abdullah bin Nuh berusia 17 tahun, dia diajak pindah oleh gurunya ke Surabaya. Walaupun masih muda, karena ilmunya dapat diandalkan, maka gurunyanya mengambilnya sebagai assisten dan partner dalam mendirikan sebuah sekolah agama di sana. Sekolah yang dikenal dengan nama “Hadramaut Schoool”  itu membiasakan latihan berpidato, berdiskusi dan belajar keterampilan berbahasa kepada murid-muridnya, terutama bahasa Arab dan bahasa Inggris. Namun bukab hanya 2 bahasa itu yang menjadi bidang studi di sana, juga bahasa Belanda, Perancis, Jepang dan Jerman. Di sana Abdullah bin Nuh punbekerja sebagai redaktur majalah Minggu Hadramaut, edisi bahasa Arab pada tahun 1922-1926).

            Abdullah bin Nuh menguasai 2 bahasa pertama: Arab dan Inggris. Karena kekagumangirunya, pada tahun 1926, Abdullah dikirim ke Kairo Mesir untukbelajar agama dan bahasa dengan lebih mendalam bersama 15 orang sahabatnya dari Surabaya. Di Jamiatul Azhar Mesir, Abdullah bin Nuh memperoleh kesempatan menangguk ilmu pengetahuan pada seorang Allamah Syaikh Ahmad Dirgham dan memperoleh Syahadatul ‘Alimiyah. Kepadanya diberikan hak untuk mengajarkan ilmu yang telah diraihnya di Mesir (1926-1928).

               Pada usia yang relatif muda, sekitar 22 tahun (1928) Abdullah pulang dari Mesir, kembali ke Indonesia dan memilih Kota Bogor sebagai tempat tinggal sementara. Di Bogor, selain menjar pada sejumlah Madrasah Islam, sekolah Dasar dan sekolah lanjutan di Cianjur dan Bogor, secara khusu dia [un mendidik dan membentuk kader-kader ulama. Karena kemampuannya beberapa bahasa dunia, Abdullah juga menjadi guru di MULO Bogor (kini SMAN 1 Kota Bogor) dan mendirikan koordinator sekolah skolah agama di Bogor dan Cianjur, yang dinamakan organisasi Penolong Sekolah Agama (PSA).

          Lebih kurang setahun setelah tentara Jepang masuk ke Indonesia, di bulan November 1943, Sudara Tua Dai Nippon merangkul kalangan pesantren dan para ulama untuk membentuk tentara PETA (Pembela Tanah Air). Abdullah bin Nuh pun measuk menjadi anggotanya dan sempat menduduki jabatan komandan (daidanco) pada 1943-1945, untuk wilayah Bogor, Cianjur dan Sukabumi. Keadaan saat itu sangatlah kritis, banyak para ulama dan pejuang yang ditangkapi oelh Jepang,adalah Syaikh Syayyid Muhammad bin Hasyim di Surabaya, salah seorang guru dari KH Abdullah bin NUh. Di Tasik Malaya, Jawa Barat, seorang ulama besara KH Zaenal Mustopa, juga mengalami nasib yang sama. Akhirnya para pejuang PETA pun memberontak melawan Jepang. Panggilan jihad fi sabilillah tersebut mengajaknya untuk tetap berada di medan pertempuran dengan memimpin Badan Keamanan Rakyat/Tentara Keamanan Rakyat (BKR/TKR) sekitar tahun 1945-1946 di Cianjur.

           Ketika keadaan makin gawat, setelah proklamasi kemerdekaan RI dan gerakan revolusi penrjuangan kemerdekaaan mewabah ke seluruh Nusantara, sampai-sampai ibukota RI pun dipndahkan ke Yogyakarta pada tahun 1946, Abdullah bin Nuh pun pindah ke Yogya. Sebelumnya pada saat aksi agresi militer Belanda kedua, saat itu Abdullah bin Nuh telah aktif menjadi wartawan APB (Arabian Pers Borad) dan anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat, cikal bakalnya MPR-DPR di Indonesia di Yogyakarta. Ketika dia hadir di kota Malang menghadiri sidang KNIP, saat pualnnya dengan ereta api, rombongan wartawan APB tersebut ditawan oleh Belanda di Bekasi dan diperiksa dengan teliti sampai jauh malam. Ahmad Sjahri, staf redaksi, diculik dari kantor APB siang harinya oleh poisi NICA Belanda pada tanggal 7 bualn 11, 1946. Abdurahman bin Nuh (Sudara kandung Abdullah bin Nuh, wartawan APB di Bandung ditembak mati di Cianjur sesudah diperiksa beberapa menit saja pada tahun 1948; Abdullah bin Nuh sendiri telah pula ditangkap dan dijatuhi hukuman mati, tetapi dia dapat meloloskan diri dan bersembunyi, lalu dengan nama samaran lain dia menuju Jakarta dan berlindung di rumah Muhammad Asad Shahab, pimpinan APB di jalan Kencana 30 selama 2 bulan.

           Beberapa anggota Angkatan Perang RI dan pegawai mendapat rugas dari pemerintah RI di Yogya untuk pergi memantau ke dareah-dareh pendudukan Belanda. Untuk mengelabui mata-mata pihak Belanda, maka kepada beberapa kawan dari mereka itu oleh APB diberikan kartu pers APB da menyamar sebagai wartawan.

               Hubungan APB dengan semua harian dan pers nasional Jakarta atau di daerah RI sangat erat dan baik. Dalam halmini semuanya dapat bekerja sama bahu-membahu melawanmpropaganda Belana via Pers dan kantor berita Belanda dan siaran radio Nirom-nya. Selama itu pimpinan APB, Mumahhammad Asa Shahab, berusaha mengirimkan delegasi Indonesia di Jakarta dengan memberangkatkan Abdullah bin Nuh ke Yogya dengan pesawat terbang KTN (Komisi Tiga Negara) sebagai anggota delegasi Indonesia dengan nama samaran. Abdullah bin Nuh berhasil dengan selamat tiba di Yogya. Di Yogya dia diberi tugas  memimpin siaran luar negeri berbahasa Arab.

              Bersama kawan-kawan seperjuangan lainnya, Abdullah bin NUh ikut andil dalam mendirikan Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta, Pimpinan Desk Siaran Khusus dalam bahasa Arab dipercayakan kepada Abdullah bin Nuh. Kemudian Abdullah bin Nuh lama sekali menjabat sebagai kepala seksi siaran laur negarai berbahasa Arab di RRI Pusat di jakrata, untuk menggalang dukungan internasional terhadap kemerdekaan RI yang baru saja diproklamasikan. Jasanya sangat besar sekali dalam mengumandangkan semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI melalui siaran gerbahasa Arab itu. Di Yogya, KH Abdullah bin Nuh juga ikut mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI) yang menjadi cikal bakal Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta. Tahun 1945-1950 beliau menjabat sebagai lektor Muda Luar Biasa pada UII Yogyakarta di samping sebagai Kepala Seksi Siaran Bahasa Arab pada Radio Republik Indoebsia (RRI) Yogyakarta.

            Beberapa waktu kemudian, taktakla ibukota RI kembali ke Jakarta, tahun1949, Abdullah bin Nuh pun ikut pindah ke Jakarta. Dari tahun 1950-1970 beliau menetap di Jakarta dan bekerja sebagai guru dan sering memberikan ceramah di berbagai majelis talim. Selain itu belilau juga memimpin siaran Jurnalistik-pers-radio berbahasa Arab di RRI Jakarta (1950-1964), dan aktif di Arab Pers Board bersama sahabatnya Muhammad Asad Shahab. KH Abdullah bin Nuh pun aktif sebagai dosen Bahasa Arab dan Lektor Kepala pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1960-1967) menjadi wartawan, mengelola dan memimpin Majalah Pembina, menjadi ketua Lembaga Penelitian Islam (Islaic Research Institute) dan Ketua Yayasan Ukhuwah Isalamiyah di Jakarta.

            Rupanya Kota Hujan Bogor menjadi daya tarik tersendiri baginya. tahun 1970 dia kembali menetap di Bogor. Terpanggil oleh Jihad di bidang pendidikan dan dakwah Isalmiyah, dia kembali ke dunia Pesantren. Di kota ini masyarakat Bogor menerimanya sebagai sesepuh para ulama sehingga kerap di daulat oleh umat untuk menjadi penasehat dan pembina di beberapa majelis talim. Beliau mendirikan Al-Ghazaly di Kota Paris Bogor, Majelis Al-Ihya di Batu Tapak Bogor, Majelis al Husna di layung Sari Bogor, Majelis najus Salam di Sukaraja, Kab. Bogor. Beliau tinggal di rumah kediamannya di kompleh Islamic Center Al-Ghazaly, Jl. Cempaka no.14, Kota Bogor.

              Di samping berbagai kesibukannya di dalam negeri, beliau pun menyempatkan diri untuk menghadiri erbagai pertemuan Islam internasional di beberapa negara, antara lain Aran Saudi, Yordania, Irak, Iran, Australia, Bangkok, Sinagpura, dll.

              Karya tulisnya yang terkenal luas adalah Kamus Bahasa Arab-Indonesia-Inggris. Beliau juga menulis beberapa buku ilmiah seperti: Minhajul Abidin (terjemahan dari karya Imam al Ghazaly Ihya Ullumuddin), Keutamaan keluarga Rasulullah SAW, Zakat Modern, Cinta dan Bahagia,Ana Muslim, Ranungan dll. karya tulis beliau yang belum sempat diterbitkan. Dari berbagai penelitian yang pernah beliau lakukan, beliau berencana menyusun buku dan menerbitkan buku Sejarah masuknya Islam ke Nusantara. Penulis  sempat mendapatkan copy/stensilan tulisan belai terakhir ini.

            Berbicara tentang pengalaman jurnalistiknya di Arabian Pers Board (APB), KH Abdullha bin Nuh bercerita tentang kesannya sebagai berikut: ” Sewaktu saya di Yogya (1945) maka nama APB itu sering sering saya sebut di IBC (Indonesia  Broadcasting Corporation/ RRI) untuk siaran ke luar negari yang dipimpin atas bantuan almarhum Usatadz Umar Arifin dan almarhum Ustadz Hadi Addaba dan Usatadz Muhammad bin Ahmad Assegaf. Itu berjalan kira-kira 2 tahun sampaibterjadinya penyerahankedaulatan dari Belanda kepada Indonesia (Desember 1949). Kepala siaran Bahasa Arab dipimpin oleh saya, Abdullah bin Nuh, sedangkan bahasa Inggrius oleh oleh saudara Abdul Khayyi,adapun bahasa Perancis dikepalai oleh wanita Indonesia bersuku Jawa.

             “Berita-berita APB sering saya kutip dan siarkan dalam siaran seksi bahasa Arab. Konon, suara saya sampai ke Timur tengah dan mendapat sambutan dari dunia dari dunia Arab khususnya dan Dunia Islkam pada Umumnya. Karena hebatnya RRI Siaran Bahasa Arab, sehingga Belanda pernah mengancam agar RRI menghetikan siaran anti Belandanya. Berhubung RRI tetap meyiarkannya, maka pernah RRI Yogyakarta diserang oleh pesawat tempur Belanda dan dibom, tetapi meleset, Studio RRI Yogyakarta Luput dari pemboman, sedangkan yang terkena adalah Gedung Bank Indoensia.”

           “Pada waktu Belanda menyerbu Yogyakarta, maka saya dapat peringatan, bahwa saya sedang dicari oleh Belanda dan sya dianjurkan agar mencari jalan lain. Ada seorang yang sedang berjalan bernama Abdullah Majene asal Ujung pandang ditangkap Belanda, disangkanya saya yang menyamar dengan nama lain. tapi saya sendiri berhasil lolos. Saya mula-mula ke Yogya berjalan kaki selama 50 hari, kemudia setelah dapat bekal dari pemerintah Pusat, saya kembali lagi ke Jawa barat dengan beberapa teman dan berjalan kakai selama 49 hari menuju Cianjur. Selama saya berjalan kaki dari Jawa Barat ke jawa tengah, lalu kembali ke Jawa barat, belum pernah, saya merasa lapar. Itulah sedikit kenangan dan pengalaman saya selama Revolusi fisik.” Ujat KH Abdullah bin Nuh kepada Solichin Salam, mantan wartawan APB dan Harian Berita Buana dengan disaksikan Muhammad Asad Shahab, di kediamannya di Jl. Cempaka 14 Kota nParis Bogor, pada hari Jum’at, 9 Mei 1986. “Pernah saya dikurung Belanda 3 kali, tetapi berhasil selamat. dari Cianjur ke Sukabumi, dan di sana ada seorang famili saya perwira Polisi  NICA mengatakan, sebaiknya saya ke Jakarta saja, sebab saya sedang dicari-cari Belanda. Dia menitipkan saya pada sebuah Jip militer NICA yang menjuju Jakarta, dan saya turun di Kramat jakarta, terus berjalan menuju kantor APB. Setelah saya berada 3 bulan di Jakarta, saya ditunjuk oleh pemerintah RI untuk berangkat ke Yogyakarta dengan peswat KTN (Komisi Tiga Negara) dengan nama Abdullah tanpa ‘bn Nuh’.  Saya lolos lagi dari kejaran dan incaran Tentara Belanda.” lanjutnya.

            Pada usianya yang begitu sepuh (82 tahun), menjelang wafatnya, beliau pernah berniat mengumpulkan dan mempersatukan para ulama dari berbagai penjru tanah air, seraya memperingati Maulid nabi Muhammad SAW. beberapa bulan sebelumbeliau wafat, pada sekitar bulan Juni 1987 serombongan ahasiswa-mahasiswi aktifis Mesjid Salman ITB Bandung datangbersilaturahmi kepada KH Abdullah bin Nuh di rumhanya di Islamicx Center al Ghazaly, Jl. Cempaka 14, “Kota Paris” Kota Bogor. Saya, Ahmad yanuana Samantho, yang memabawa rombongan aktifis mahasiswa Mesjid Salman ITB itu berziarah kepada beliau. walaupun sudah dalam keadaan sakit, belaiu berkenan mereima kami. kepada kami, mama Ajengan KH Abdullah bin Nuh berwasiat agar kami tekun dan giat menuntut ilmu pengetahuan dan mengusai berbagai bahasa asing, terutama Arab agar mamahi Al Qur’an, juga ilmu pengetahuandan Teknologi  agar tak dijajah lagi oleh bangsa bangsa asing.

               Beliau mengaku sudah sangat rindu ingin berjumpa dengan al-Mahdi. ketika Habib Al-Jufri Kwitang  bertanya kepada beliau, siapakan al-Mahdi itu?. (Man Huwa al-Mahdi), KH Abdullah bin Nuh menjawab: “Nabi Muhammad SAW”, Rupanya itulah isyarat bahwa beliau akan segere meningggalkan dunia yang fana ini. walau keinginannya untuk mengumpulkan para ulama se Nusantara tidak tercapai,tetapimpada hari belaiu tutup usis: 3 rabiul Awwal 1408 (26 Oktober 1987) pukul 19-15 WIB di rumah kediamannya di Jl. Cemaka 14 tak sedikt ulama-ualam terkemuka yang datang melayat beliau.

            Demikianlah sebagian pokok-pokok tugas dan peranan yang dapat dimainkan oleh para jurnalis Islam. Tugas-tugas tersebut sangat mulia, dan insya-Allah bila dijalani dengan keikhlasan kepada Allah SWT maka itu adalah termasuk jihad fi Sabilillah (perjuangan di jalan Allah). Peran dan tugas-tugas tersebut tentunya tak kalah hebatnya dengan tugas perjuangan jihad fi sabilillah di medan perang. Jurnalis Muslim sejati adalah juga seorang pejuang dan  ulama-intelektual, seorang pembaharu, pencerah pemikiran ummat.  Setara dengan para ulama, kiranya Hadits Rasulullah SAAW berikut, tentang pahala/balasan terhadap hasil karya tulis para jurnalis Islami “Di akhirat nanti, tinta para ulama (termasuk jurnalis Islami. Pen.) akan ditimbang dengan bobot yang lebih berat daripada darah para syuhada.” Wallahu ‘a’lam bi shawab. ***

Sumber:

Ahmad Yanuana Samantho,

JURNALISTIK ISLAMI, Panduan Praktis bagi Para Aktifis Islam”, penerbit Harakah, Mizan, Jakarta, 2002.

Bangsa Indonesia memiliki sejumlah tokoh atau pelaku sejarah yang memiliki peran besar dalam perjuangan dan kemerdekaan bangsa ini. Di antaranya adalah KH Abdullah bin Nuh, seorang kiai kharismatik asal Cianjur, pendiri Pesantren al-Ghozali Bogor.

Siapa sebenarnya sosok kiai pejuang satu ini? Menurut guru besar Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Susanto Zuhdi, nama KH Abdullah bin Nuh cukup dikenal luas di masyarakat Jawa Barat, terutama mereka yang berasal dari kalangan pesantren maupun kampus.

Mama, demikian panggilan hormat para santri kepada tokoh kiai pejuang yang dilahirkan di Kampung Bojong Meron, Kota Cianjur, pada 30 Juni 1905 ini. Ayahnya bernama Raden H Mohammad Nuh bin Idris dan ibunya Nyi Raden Aisyah bin Raden Sumintapura. Kakek almarhum dari pihak ibu adalah seorang wedana di Tasikmalaya.

Lebih terperinci, silsilah keturunan KH Abdullah bin Nuh adalah sebagai berikut: KH Abdullah bin Nuh putera RH Idris, putera RH. Arifin, putera RH Sholeh putra, RH Muhyiddin Natapradja, putra R Aria Wiratanudatar V (Dalem Muhyiddin), putra R Aria Wiratanudatar IV (Dalem Sabiruddin), putra R Aria Wiratanudatar III (Dalem Astramanggala), putra R Aria Wiratanudatar II (Dalem Wiramanggala), putra R AnaWiratanudatar I (Dalem Cikundul).

Di masa kanak-kanak, KH Abdullah bin Nuh dibawa bermukim di Makkah selama dua tahun. Di Tanah Suci ini ia tinggal bersama nenek dari KH Mohammad Nuh, bernama Nyi Raden Kalipah Respati, seorang janda kaya raya di Cianjur yang ingin wafat di Makkah.

Sekembali dari Makkah, KH Abdullah bin Nuh belajar di Madrasah al-I’anah Cianjur yang didirikan oleh ayahandanya. Kemudian ia meneruskan pendidikan ke tingkat menengah di Madrasah Syamailul Huda di Pekalongan, Jawa Tengah. Bakat dan kemampuannya dalam sastra Arab di pesantren ini begitu menonjol. Dalam usia 13 tahun, ia sudah mampu membuat tulisan dan syair dalam bahasa Arab. Oleh gurunya, artikel dan syair karya Abdullah dikirim ke majalah berbahasa Arab yang terbit di Surabaya.

Setamat dari Syamailul Huda, ia melanjutkan pendidikan ke Madrasah Hadramaut School di Jalan Darmo, Surabaya. Di sekolah ini, ia tidak hanya menimba ilmu agama, tetapi juga digembleng gurunya Sayyid Muhammad bin Hasyim dalam hal praktek mengajar, berpidato dan kepemimpinan. Saat menimba ilmu di sini pula, ia diberi kepercayaan untuk menjadi guru bantu.

Selama di Hadramaut School, KH Abdullah bin Nuh mengoptimalkan potensi yang ada pada dirinya, antara lain: mengajar, berdiskusi, keterampilan berbahasa dan lainnya. Di Surabaya pula Abdullah menjadi seorang redaktur majalah mingguan berbahasa Arab, Hadramaut.

Kemahirannya dalam bahasa Arab mengantarkan KH Abdullah bin Nuh dikirim ke Universitas al Azhar, Kairo, Mesir. Di sana ia masuk ke Fakultas Syariah dan mendalami fiqih Mazhab Syafii. Setelah dua tahun belajar di Al Azhar, KH Abdullah bin Nuh berhasil mendapat gelar Syahadatul ‘Alimiyyah yang memberinya hak untuk mengajar ilmu-ilmu Keislaman.

Periode tersebut berlangsung sekitar tahun 1926 dan 1928. Kepergiannya ke sana adalah atas ajakan gurunya yakni Sayyid Muhammad bin Hasyim ke Kairo untuk melanjutkan pendidikan di bidang ilmu fiqih di Universitas Al-Azhar. Selepas menyelesaikan pendidikan di Kairo, Abdullah kembali ke kampung halamannya dan mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Nyi Raden Mariyah (Nenden Mariyah binti R Uyeh Abdullah), yang terbilang masih kerabat dekatnya.

Nama KH Abdullah bin Nuh sendiri tidak dapat dipisahkan dari nama al-Ghazali. Kiai, cendekiawan, sastrawan dan sejarawan ini bukan hanya dikenal sebagai penerjemah buku-buku al-Ghazali, tetapi juga mendirikan sebuah perguruan Islam bernama “Majlis al-Ghazali” yang berlokasi di Kota Bogor.

KH Abdullah bin Nuh terkenal dengan pemikirannya yang mendalam tentang al-Ghazali. Pertama, ia mengajar rutin kitab Ihya’Ulumuddin dalam pengajian mingguan yang dihadiri banyak ustadz-ustadz di Bogor, Sukabumi, Cianjur dan sekitarnya. Kedua, sejak kecil ia mendapat pelajaran dari ayahnya Muhammad Nuh bin Idris, kitab-kitab Imam al-Ghazali, di antaranya Ihya’ Ulumuddin. Ketiga, ia menamakan pesantrennya dengan nama Pesantren al-Ghazali.

Salah seorang putra KH Abdullah bin Nuh, KH Mustofa menceritakan, ayahnya memang mendapat pendidikan agama yang serius sejak kecil. Ketika umur belia, ia telah menghafal kitab nahwu Alfiyah Ibn Malik. Ia juga pintar bergaul, santun dan ramah. Keluarganya menanamkan percakapan bahasa Arab di rumah sejak kecil, hingga ia menguasai bahasa Arab baik lisan maupun tulisan. Disamping itu, KH Abdullah bin Nuh juga menguasai bahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan Perancis secara autodidak.

Kemampuannya dalam bahasa Arab memang mengagumkan. KH Abdullah bin Nuh mampu menggubah syair-syair dalam bahasa Arab. Ia juga menulis sejumlah buku dalam bahasa Arab. Mantan Menteri Agama RI, M Maftuh Basyuni, yang pernah menjadi mahasiswanya di Jurusan Sastra Arab Universitas Indonesia, menceritakan bagaimana tingginya kemampuan bahasa Arab KH Abdullah bin Nuh.

Di awal tahun 1960-an, Maftuh Basyuni sempat membantu dosennya itu dalam menyiapkan naskah-naskah radio berbahasa Arab. Naskah yang disiapkan Maftuh selalu mendapat koreksi yang sangat teliti dari Abdullah bin Nuh. “Ia sangat membimbing dan memberi semangat dalam mengkoreksi. Padahal, banyak sekali kesalahan yang saya buat,” kata Maftuh.

Dalam konteks pergerakan kebangsaan, KH Abdullah bin Nuh juga tidak lepas dari perjuangan tersebut. Pada masa mudanya, ia juga gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan tanah air dari penjajah Belanda. Ia pernah menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA) pada tahun 1943-1945, wilayah Cianjur, Sukabumi dan Bogor.

Sejarah mencatat bahwa PETA lahir pada bulan Nopember 1943, lalu diikuti lahirnya Hizbullah beberapa minggu kemudian dimana para alim ulama kemudian masuk menjadi anggotanya. Tahun 1943 tersebut benar-benar merupakan tahun penderitaan yang amat berat khususnya bagi umat Islam dan bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Boleh dikatakan bahwa saat itu adalah salah satu ujian paling berat bagi bangsa Indonesia. Pada akhir tahun 1943 itulah KH Abdullah bin Nuh masuk PETA dengan pangkat Daidanco yang berasrama di Semplak Bogor.

Tahun 1945-1946, ia memimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada tahun 1948-1950, ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Yogyakarta.

Kiprah KH Abdullah di tingkat nasional menjadikannya sebagai tokoh yang sangat diperhitungkan. Tidak hanya oleh kawan-kawan seperjuangannya, tetapi juga oleh Belanda yang kembali masuk Indonesia, dengan membonceng NICA. Ia pun menjadi salah seorang tokoh yang hendak diciduk oleh Belanda. Ketika ibukota negara pindah ke Yogyakarta pada 4 Juni 1946, ia pun turut serta hijrah ke Yogyakarta, sekaligus menghindari upaya penangkapan oleh Belanda. Di ibukota negara yang baru ini, kiprah KH Abdullah pun terekam tidak hanya di bidang pemerintahan, tetapi juga di bidang lainnya. Ia merupakan penggagas Siaran Bahasa Arab pada RRI Yogyakarta.

Dalam masa revolusi fisik ini, ia juga tercatat menjadi salah seorang pendiri Sekolah Tinggi Islam, yang kini dikenal dengan Universitas Islam Indonesia (UII). Dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan ini, ia menikah kembali. Perempuan yang dinikahinya adalah Mursyidah binti Abdullah Suyuti, yang merupakan salah seorang murid KH Abdullah di STI.

Dari pernikahannya dengan Mursyidah, ia dikaruniai enam orang anak. Sementara dari pernikahannya dengan istri pertamanya, Nyi Raden Mariyah, ia mendapatkan lima orang anak. Masa perjuangan kemerdekaan dilalui KH Abdullah hingga 1950 di Kota Yogyakarta. Kemudian, ia dan keluarganya memutuskan untuk hijrah ke Jakarta, dan menjalani kehidupan di Ibukota ini hingga tahun 1970. Selama di Jakarta yaitu pada tahun 1950-1964, Abdullah memegang jabatan sebagai Kepala Siaran Bahasa Arab pada RRI Jakarta. Kemudian ia menjabat sebagai Lektor Kepala Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Setelah itu, ia kemudian pindah dan menetap di Bogor hingga akhir hayatnya. Kiai pejuang ini wafat pada 26 Oktober 1987, setelah kurang lebih 17 tahun bermukim di Bogor dan mengabdikan ilmu agamanya bagi masyarakat sekitar. Saat tinggal di Bogor, ia mendirikan sebuah majelis ta’lim bernama al-Ghazali. Majelis yang berkembang menjadi sebuah yayasan pendidikan ini hingga saat ini masih berdiri dengan dipimpin oleh putra bungsunya, KH Mustofa. Yayasan al-Ghazali tidak hanya menyelenggarakan kegiatan pengajian rutin, tetapi juga membuka madrasah dan sekolah Islam dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK) hingga menengah atas.

Selama masa hidupnya, KH Abdullah bin Nuh juga sering menyempatkan diri untuk menghadiri pertemuan dan seminar-seminar tentang Islam di beberapa negara, antara lain Arab Saudi, Yordania, India, Irak, Iran, Australia, Thailand, Singapura, dan Malaysia. Ia juga aktif dalam kegiatan Konferensi Islam Asia Afrika sebagai anggota panitia dan juru penerang yang terampil dan dinamis.

Selama hidupnya, tokoh NU yang telah mendunia dan memiliki persahabatan dengan raja Yordania dan para pemimpin mancanegara lainnya ini telah banyak menulis buku baik dalam Bahasa Arab, Indonesia maupun Sunda, terjemahan maupun pemikirannya. Buku terjemahannya yang paling dikenal yaitu Minhajul ‘Abidin (Menuju Mukmin Sejati) dari karya Imam al-Ghazali, sedangkan buku karangannya yang paling dikenal dan terus dipelajari oleh para santrinya di beberapa pesantren yang berada      di Bogor, Cianjur dan Sukabumi, yaitu Ana Muslim.

Dalam memahami pemikirannya, kita perlu merunut tulisan-tulisan yang telah ia terbitkan. Pada tahun 1925 ia menulis prosa yang berjudul Persaudaraan Islam (diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh istrinya, Ibu Mursyidah). Dalam tulisan ini nampak jelas keinginan KH Abdullah bin Nuh supaya kaum muslimin di dunia ini bersatu padu menjadi suatu kekuatan yang dilandasi oleh rasa persaudaraan, tanpa membedakan suku, ras dan bahasa.

Diantaranya ia menyatakan: ”Anda saudaraku, karena kita sama-sama menyembah Tuhan yang satu. Mengikuti Rasul yang satu. Menghadap kiblat yang satu. Dan terkadang kita berkumpul di sebuah padang luas, yaitu Padang Arafah. Kita sama-sama lahir dari hidayah Allah. Menyusu serta menyerap syariat Nabi Muhammad Saw. Kita sama-sama bernaung dibawah langit kemanusian yang sempurna. Dan sama-sama berpijak pada bumi kepahlawanan yang utama”.

Ia sangat merindukan kaum muslimin di dunia ini bersatu padu dan tidak mudah diadu domba oleh mereka yang ingin menghancurkan akidah Islam. Memang, kadangkala kita terlena dalam menghabiskan energi untuk berdebat tentang perbedaan ilmu. Padahal ilmu bukan untuk diperdebatkan, tapi untuk diamalkan.

Tampaknya ia sangat resah dan merasa prihatin dengan terpecah-pecahnya umat Islam di dunia ini sehingga kaum yang memusuhinya dengan mudah mengadu domba diantara kita. Setiap aliran dalam Islam dimaknai oleh pengikutnya sebagai aliran yang paling benar, sedangkan yang lainnya salah.

Sekalipun ia mantan pimpinan Daidanco yang nota bene berbasis kemiliteran, tapi ia sangat menghendaki dalam penyelesaian masalah penuh dengan kelembutan. Ia selalu lembut dalam menghadapi berbagai masalah, tetapi sangat keras kalau sudah menyangkut pelecehan akidah.

Lebih dari 20 buku telah dihasilkan oleh KH Abdullah bin Nuh dalam berbagai bahasa. Di antara karyanya yang terkenal adalah : (1) Kamus Indonesia-Inggris-Arab (bahasa Indonesia), (2) Cinta dan Bahagia (bahasa Indonesia), (3) Zakat dan Dunia Modern (bahasa Indonesia), (4) Ukhuwah Islamiyah (bahasa Indonesia), (5) Tafsir al Qur’an (bahasa Indonesia), (6) Studi Islam dan Sejarah Islam di Jawa Barat hingga Zaman Keemasan Banten (bahasa Indonesia), (7) Diwan ibn Nuh (syiir terdiri dari 118 kasidah, 2731 bait), (8) Ringkasan Minhajul Abidin (bahasa Sunda), (9) Al Alam al Islami (bahasa Arab), (10) Fi Zhilalil Ka’bah al Bait al Haram (bahasa Arab), (11) Ana Muslimun Sunniyun Syafi’iyyun (bahasa Arab), (12) Muallimul Arabiyyah (bahasa Arab), (13) Al Islam wa al Syubhat al Ashriyah (bahasa Arab), (14) Minhajul Abidin (terjemah ke bahasa Indonesia), (15) Al Munqidz min adl-Dlalal (terjemah ke bahasa Indonesia), (16) Panutan Agung (terjemah ke bahasa Sunda).

Ada sejumlah sarjana yang menulis tentang  KH Abdullah bin Nuh. Di antaranya adalah Prof Dr H Ridho Masduki yang menulis disertasi doktor tentang “Pemikiran Kalam dalam Diwan Ibn Nuh”. Drs. H. Iskandar Engku, menulis tesis master tentang “Ukhuwah Islamiyah Menurut Konsep KH Abdullah bin Nuh.” E. Hidayat, menulis skripsi untuk sarjana S-1  tentang “KH Abdullah bin Nuh, Riwayat Hidup dan Perjuangannya.” Dudi Supiandi, menulis tesis master tentang “Pemikiran KH Abdullah bin Nuh tentang Pendidikan Islam.” (Akhsan Ustadzi/Red: Mahbib)

Sumber :

Buku Sembilan Mutiara Hikmah karya Ahmad Ubaidillah  Pagentongan Bogor

K.H. R. Abdullah Bin Noeh lahir di Cianjur tanggal 30 Juni 1905 dan wafat di Bogor tanggal 26 Oktober 1987. Selain maha guru para ulama ia juga merupakan seorang sastrawan, pendidik, dan pejuang kemerdekaan 11312137_1590287161230146_406857260_nIndonesia. Sejak kedl mendapat pendidikan agama Islam yang sangat keras dari ayahnya, yakni K.H. R. Muhammad Nuh bin Muhammad Idris. Juga seorang ulama besar, pendiri Sekolah AI’ Ianah Cianjur. Dalam pengawasan ketat ayahnya ini, Abdullah kecil belajar agama dan bahasa Arab setiap hari. Sehingga dalam waktu relatif masih muda, ia sudah mampu berbicara bahasa Arab. Di samping mampu pula menalar kitab alfiah (kitab bahasa arab seribu bait) serta swakarsa belajar bahasa Belanda dan Inggris. Berbekal ilmu yang telah dikuasainya itu, Abdullah bin Nuh muda mengajar di Hadralmaut School. Sekaligus menjadi redaktur majalah Hadralmaut, sebuah mingguan berbahasa Arab yang terbit di Surabaya, Jawa Timur sejak tahun 1922 hingga tahun 1926. Setelah itu ayahnya mengirim Abdullah untuk menimba i1mu di Fakultas Syariah Universitas AI-Azhar, Kairo, Mesir. Setelah dua tahun lamanya Abdullah belajar di AI -Azhar, Kairo, Mesir, untuk kemudian kembali ke tanah air dan aktif mengajar di Cianjur serta Bogor. Hal itu dilakukannya sejak tahun 1928 hingga tahun 1943.

NASABNYA

H. R. Abdullah putra K.H. R. Nuh; putra Rd. H. Idris, putra Rd. H. Arifin, putra Rd. H. Sholeh, putra Rd. H. Muhyiddin Natapradja, putra Rd. Aria Wiratanudatar V (Dalem Muhyiddin), putra Rd. Aria Wiratanudatar IV (Dalem Sabiruddin), putra Rd. Aria Wiratanudatar III (Dalem Astramanggala), putra Rd. Aria Wiratanudatar II (Dalem Wiramanggala), putra Rd. Anawiratanudatar I (Dalem Cikundul).

CIANJUR DAN I’ANAH

Cianjur ialah sebuah kota yang sejak dahulu telah terkenal para ulama dan para pahlawannya, Para Ulama giat menyebarkan ilmunya. Tak kenal lelah dan tanpa mengharapkan upah. Para pahlawannya gigih, berani dalam melaksanakan perjuangan, tanpa pamrih gaji. Kesemuanya hanyalah mengharapkan keridhoan Allah SWT dan rahmat-Nya.

Pada tahun 1912 dikota Cianjur berdirilah sebuah Madrasah yang bernama Al-l’anah ; pendirinya ialah juragan Rd. H. Tolhah Al Kholidi, sesepuh Cianjur pada waktu itu. Dalam pembinaannya ia dibantu oleh seorang Cucunya AI-Haafidh (yang hafal AI Qur’an) As-Sufi (yang menguasai kitab Ihya ‘Ulumuddin) K.H.R. Nuh, seorang ‘Aalim besar keluaran Makkah Almukarromah, murid seorang ulama besar yang ilmunya barokah, menyebar keseluruh dunia Islam, yang bermukim di kota Makkah AI-Mukarromah, yaitu : K.H.R. Mukhtar Al-thoridi, putra Jawa (Bogor)

Nadhir (Guru kepala) nya waktu itu adalah Syekh Toyyib Almagrobi, dari Sudan. Bertindak sebagai pembantu (guru bantu) adalah Rd. H. Muhyiddin adik ipar Juragan Rd. H. Tolhah AI-Kholidi. Murid pertamanya adalah : Rd. H. M. Sholeh Almadani.

Syekh Toyyib Almagrobi mengajar di AI-I’anah hanya 2 (dua) tahun, karena ia diusir oleh.pemerintah Belanda. Maka untuk mengisi kekosongan, Nadhir AI-I’anag dipegang oleh AI Ustadz Rd. Ma’mur keluaran pesantren Kresek Garut (Gudang Alfiyah) dan lulusan Jami’atul Khoer Jakarta (Gudang Bahasa Arab). Di antara murid-muridnya ialah:

Dari AI I’anah Almubarokah inilah muncul para pahlawan dan sastrawan Muslim yang namanya tidak akan sirna, tetap tercantum dalam lembaran sejarah, di antaranya ialah Rd. Abdullah bin Nuh. Ia telah menguasai bahasa Arab sejak usia 8 (delapan) tahun (penjelasan ia sendiri sewaktu hidup kepada salah seorang muridnya).

downloadRd. Abdullah bin Nuh adalah juara Alfiah, ia sanggup menghafal Al-fiah lbnu Malik dari awal sampai akhir dan dibalik dari akhir ke awwal (demikian menurut AI-Ustadz Rd. Abubakar sesepuh Cianjur). Walhasil: kecerdasan, bakat dan watak Rd. Abdullah bin Nuh semenjak duduk di bangku Madrasah AI-I’anah sudah nampak jelas keunggulannya.

Selain belajar di AI-I’anah, Rd. Abdullah bin Nuh tidak henti-hentinya menggali dan menimba ilmu dari ayahnya. (Ia pernah berkata kepada salah seorang muridnya : “Mama mah tiasana maca Kitab lhya teh khusus ti bapa Mama” begitu dengan logat Cianjurnya). Jadi jelas, Kota Cianjur adalah Gudang Ulama, pabrik para pahlawan dan pusat para santri. Maka tidak heran kalau kota Cianjur sejak dahulu penuh dikunjungi oleh para peminat ilmu Syari’at Islam dari seluruh pelosok Jawa Barat, dari daerah Priangan Sarat sampai ke Timur seperti : Bandung, Garut, Tasikmalaya dan Ciamis.

PEKALONGAN DAN SYAMAILUL HUDA

Pekalongan sebuah kota kecil yang mungil, berhasil mencetak kader-kader Muslim yang militan dan berwatak, membina mental pemuda -pemuda Islam yang berjiwa pahlawan dan bercita-cita tinggi menuju Indonesia Merdeka dengan landasan Kalimatullahi Hiyal ‘Ulya.

Di kota Pekalongan telah berdiri sebuah madrasah Arabiyyah yang benama “Syamailul Huda” yang terletak di JI. Dahrian (sekarang JI. Semarang). Madrasah tersebut mempunyai sebuah internat (pondok pesantren) dipinggiran JI. Raya, di tengah-tengah keramaian manusia, bahkan tepat berhadap-hadapan dengan sebuah gedung bioskop. Nakhoda madrasah tersebut ialah seorang Sayyid keturunan Hadrol Maut bernama: Sayyid Muhammad bin Hasyim bin Tohir AI-‘Alawi Al-Hadromi. Ia seorang ‘Alim yang berjiwa besar, bercita¬cita tinggi, berpandangan luas. Ia tak mengenal payah dan lelah, tak ingin melihat putra-putri Islam tidak maju. Ia bersemboyan: “sekali maju tetap maju, bekerja dengan semangat, disertai ikhlas niat, pasti dapat dengan selamat “.

Di Madrasah dan internat inilah Sayyid Muhammad bin Hasyim mendidik, menerapkan ajaran Islam, menggemleng pemuda-pemuda yang berwatak, calon pahlawan/ Da’i/ Muballig dan Ulama.

Syamailul Huda dan internatnya, laksana Masjidil Harom dan Darul Arqom pada zaman Rosulullah saw. Pemuda-pemuda didikan Rosulullah saw di Darul Arqom, kadar Islamnya kuat, keyakinannya bulat, akhlaqul karimahnya mengkilat, terlihat sinarnya memancar dari pribadi-pribadi para sahabat dikala itu, mereka berpegang teguh kepada amanah Rosulullah S.A.W Hidup terpuji di mata masyarakat bangsa, mati syahid perlaya di medan laga membela agama Allah SWT.

Pada tahun 1918 putra-putra Cianjur, murid-murid pilihan dari madrasah AI-I’anah berangkat ke Pekalongan menuju Syamailul Huda. Putra-putra pilihan itu ialah

  • 1. Rd. Abdullah,[1][1]
  • 2. Rd. M.Zen,
  • 3. Rd. Taefur Yusuf ,
  • 4. Rd. Asy’ari,
  • 5. Rd. Akung,
  • 6. Rd. M. Soleh Qurowi

Ia-ia inilah yang termasuk murid-murid dakhiliyyah yang bermukim di Internat (Pondok Pesantren) Syamailul Huda bersama-¬sama dengan teman-temannya yang berjumlah sekitar 30 orang (dari Ambon, Menado, Surabaya, Singapura, dan Malaysia/ daratan Malaka). Sahabat karib Rd. Abdullah bin Nuh pada waktu itu, yang masih ada sekarang, Al Ustadz Said bin Ahmad Bahuwairits (kelahiran Ambon) yang tinggal di alamat, JI. Surabaya No. 69 Pekalongan, Jawa Tengah Ia lebih tua usianya dan Rd. Abdullah bin Nuh, ia dilahirkan di Ambon pada tahun 1904 (waktu di Syamailul Huda Rd. Abdullah bin Nuh kelas 3, AI Ustadz Said kelas 4).

Banyak sekali kata-kata mutiara yang diucapkannya. Ia memulai percakapan dengan kata-kata: “Waktu saya berziarah ke rumah Abdullah kebetulan waktu sholat Maghrib, saya tahu persis keadaan dalam rumahnya, hanya dua kamar yang sempit dan satu kamar mandi yang darurat. Padahal kalau melihat ilmunya, dan banyak murid-muridnya, dia itu orang besar, sudah tidak sesuai lagi. Tidak seperti orang-orang besar sekarang mobil-mobil banyak, gedung-gedungnya mewah, dengan rumah saya saja sudah jauh berbeda “(rumah AI Ustadz Said itu gedung dan besar sekali).

Ia (AI Ustadz Said) melanjutkan dengan ucapan ia: “Maka dari gambaran suasana rumahnya yang sangat sederhana itu, Masya Allah – Masya Allah – Masya Allah, Abdullah sedang syugul lillahi Ta’ala, dia AZ-Zaahid”

  • 1. Inilah Ulama, ini waktu, mencari seperti itu tidak ada ;
  • 2. Abdullah tetap Abdullah sebagai Kiyai ;
  • 3. Ini hidup yang benar ;
  • 4. Ini thoriq (jalan) yang benar ;
  • 5. Abdullah saudara saya

Ada beberapa Amanat-amanat ia kepada putra-putri AI-Ustadz Abdullah bin Nuh:

  • 1. Berjalanlah menurut Abdullah bin Nuh ;
  • 2. Ana ad’uu lahum (Aku berdoa untuk mereka);
  • 3. Panggillah saya ‘aamii (anggaplah orang-tuanya) ;
  • 4. Salam dari saya kepada keluarga Abdullah ;
  • 5. Dan minta foto Abdullah setetah mendekat wafat

AI Ustadz Said bin Ahmad Bahuwairits memberi julukan kepada Rd. Abdullah bin Nuh dengan julukan: Al Ustadz , AI-‘Aalim ; Al-Adiib ; Azzahid ; Al-Mutawadli ; AI-Haliim.

Madrasah Syamailul Huda ialah Samudra tempat menimba tinta mas Ilmu Ilahi. Internatnya laksana ladang tempat mendulang berlian llmu Agama Allah SWT. Maka tidak sedikit pentolan-pentolan Ulama dan pahlawan yang dihasilkan dari Madrasah tersebut. Di antaranya yang berhasil dengan gemilang dan menonjol sekali Rd. Abdullah bin Nuh, putra Cianjur, sehingga ia menjadi kesayangan gurunya. Rd. Abdullah bin Nuh sewaktu duduk di kelas 4 kelas terakhir Syamailul Huda, telah turut aktif mengaji bersama-sama dengan para guru Madrasah tersebut. Jadi Rd. Abdullah bin Nuh sudah lebih dahulu maju dari teman-teman kakak kelasnya.

SURABAYA DAN HADROL MAUT SCHOOLNYA

Kota Surabaya ialah kota yang terkenal arek-areknya pada zaman revolusi fisik dan jadi kebanggaan masyarakat Surabaya para patriotnya, dari kota 19 sampai kedesa-desa. Kira-kira pada akhir tahun 1922 AI-Ustadz Sayyid Muhammad bin Hasyim pindah ke Surabaya ; Rd. Abdullah bin Nuh dibawa dan dikembangkan bakatnya.

Di Kota Surabaya pada waktu itu ada sebuah gedung besar dan tinggi letaknya dekat jembatan besar di Jln. Darmokali (dulu Noyo Tangsi). Penulis melihat di muka gedung itu sebelah atas ada tulisan tahun 1914 waktu didirikannya. Di gedung inilah Sayyid Muhammad bin Hasyim mendirikan sekolah “Hadrolmaut School” untuk menyebar ilmunya dan melatih anak-anak didik yang dibawanya dari Pekalongan, dalam rangka mengembangkan bakat dan penampilan kemampu§n anak-anak didiknya tersebut.

Hadrolmaut Shool di Surabaya laksana Masjid Quba di Madinah sewaktu Rosulullah saw mulai menginjakkan kakinya dibumi Madinatul Munawwaroh: Tempat Rosulullah saw, mempersaudarakan ummat yang berbeda-beda bakat dan adat istiadat, tempat mempersatukan kaum Muslimin yang bermacam-macam faham dan pendapatnya, tempat Rosulullah saw mengatur siasat; bermasyarakat dan lain-lain.

Gedung “Hadrolmaut School” ialah tempat Rd. Abdullah bin Nuh dan teman-temannya dididik, dibina, digembleng cara praktek mengajar, berpidato, memimpin dan lain-lain yang dipertukan. Rd. Abdullah bin Nuh di samping diperbantukan mengajar di sekolah tersebut, ia tidak henti-hentinya menyerap dan menerima bermacam-macam ilmu Agama dan Umum, mempelajari beraneka ragam bahasa dari gurunya. Demikianlah keadaan Rd. Abdullah bin Nuh di kota Surabaya, ia berjiwa arek-arek Suroboyo yang paling lincah berjuang. Dengan ilmunya yang mendalam, jiwa yang suci dan kemauannya yang kuat, maka ia terpilih sebagai siswa yang akan dibawa ke Mesir oleh gurunya besama-sama dengan teman-temannya, sebanyak 15 orang.

Teman Rd. Abdulah bin Nuh yang bersama-sama belajar di Mesir yang masih ada di Kota Surabaya sekarang, dialah AI-Ustadz Abdul Razak AI-‘Amudi di kompleks IAIN Wonocolo. Ialah yang menyandang gelar: Syahadatul Aalimiyah dari “Jami’atul Azhar” dan Deblum Daril ‘Ulumil ‘Ulya dari Madrasah Darul ‘Ulumul ‘Ulya.

MESIR DAN AL-AZHARNYA

Bertepatan dengan didudukinya Kota Makkah AL-Mukarromah oleh kaum Wahabiyyin dan keluarnya Malik Husen meninggalkan Makkah pada tahun 1343 H (± tahun 1925 M), AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh bersama sama teman-temannya yang 15 orang itu dibawa gurunya ke Mesir untuk melanjutkan pelajarannya. Perguruan Tinggi di Mesir pada waktu itu hanya dua :

Jami’atul Azhar ( Syari’ah )

di Fakultas ini, lama belajarnya 6 tahun mendapat gelar : Syahadatul ‘Alimiyah dan kalau belajar 3 tahun mendapat gelar :Syahadatul Ahliyyah.’

Madrasah Darul’ Ulum AI-‘Ulya (AI-Adaab)

Lama belajar 4 tahun mendapat gelar: Deblum Daril ‘Ulumil ‘Ulya Syarat-syarat masuk Jami’atul Azhar di antaranya harus hafal AI-Qur’an 30 Juz. Tetapi murid-murid yang dibawa oleh AI-Ustadz Sayyid Muhammad bin Hasyim yang 15 orang itu mendapat prioritas diterima dengan hafal beberapa surat. Pengecualian ini menunjukkan kebesaran dan keberkahan murid-murid AI-Ustadz Sayyid Muhammad bin Hasyim. AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh bersama-sama dengan teman-temannya mula-mula bertempat tinggal di Syari’ul Hilmiyyah, lalu berpindah ke Syari’ul Bi’tsah Bi Midanil Abbasiyah. Pelayannya orang-orang Yaman.

Siang dan malam AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh tidak henti-hentinya belajar. Waktu adalah betul-betul berharga bagi betiau. Keluar dari Jami’atul Azhar ia pulang hanya mengganti pakaian, memakai pantalon, berdasi dan memakai torbus, terus mengikuti pengajian-pengajian di luar AI-Azhar. Mahasiswa AI-Azhar mempunyai ciri khas ialah berjubah dan bersorban dibalutkan dikepala (udeng).

AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh di Mesir sudah tidak mempelajari bahasa Arab lagi, karena ia ketika masih di Indonesia sudah benar-benar pandai dan ahli, mengusai berbagai bahasa. Ia di Mesir hanya belajar fak Fiqih (ini menurut cerita ia kepada salah seorang muridnya, katanya dalam bahasa Sunda Mama mah di Mesir teh mung diajar ilmu fiqih wungkul”. Selanjutnya ia bertanya: “Dupi salira kitab-kitab fiqih naon anu parantos diaos? Dijawab oleh muridnya dengan menyebutkan beberapa kitab Fiqih. Setelah sampai menyebut kitab Iqna, maka ia berkata: “Mama mah tamatna Iqna teh di Mesir, ari salira mah tamat Iqna teh di Indonesia.”

Dengan berkah ketekunan dan kesungguh-sungguhan, maka AI-Ustadz Abdullah bin Nuh di Mesir telah kelihatan sebagai seorang Pelajar yang paling cakap di dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. AI-Ustadz Abdur Rozzaq berpendapat: “Sebabnya Abdullah itu mempunyai kelainan daripada teman-¬temanya yang semasa, karena dia mendapatkan banyak ilmu dari hasil muthola’ah. Muthola’ah satu kitab saja sampai 10 kali. Inilah syarat muthola’ah kata AI-Ustadz Abdullah bin Nuh. Di antara kitab yang didawamkan muthola’ah ialah kitab: ARAB 2 AI-Ustadz Abdullah bin Nuh belajar di Mesir hanya selama dua tahun, dikarenakan putra gurunya yang ia temani tidak merasa betah dan gurunya pulang ke Hadrolmaut, maka AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh pun pulang ke Indonesia. Inilah riwayat hidup singkat ia masa belajar/ tholabul’ilmi atau masantren.

MADRASAH P.S.A.

Pada tahun 1927 AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh pulang dari Mesir ke Indonesia (Cianjur. Pada akhir tahun 1927 pergi ke Bogor (Ciwaringin). Ia mengajar: 1. Di Madrasah Islamiyyah yang didirikan oleh Mama Ajengan Rd. Haji Manshur.2.Para Mu’allim yang berada di sekitar Bogor dikepalai oleh Mualim H. Muhammad Arsyad Bin H. Imammudin dari bojong neros bogor. Pada awal tahun 1928 ia pindah ke Semarang tetapi tidak lama yaitu hanya 2 (dua) bulan, kemudian kembali ke Bogor. Lalu pulang lagi ke Cianjur dan ia membantu (jadi guru bantu) mengajar di AI-I’anah, waktu itu nadhirnya AI-Ustadz Rd. H.M. Sholeh AI-Madani (sekitar tahun 1930). Setelah itu ia pergi lagi ke Bogor kedua kalinya dan bertempat tinggal di Panaragan. Pekerjaan ia adalah:

  • Mengajar para kyai
  • Jadi korektor Percetakan IHTIAR (Inventaris S.I.)

Pada tahun 1934 di Bogor (di Ciwaringin) didirikan Madrasah P.S.A. (Penolong Sekolah Agama). Maksud didirkannya PSA adalah untuk mempersatukan madrasah-madrasah yang ada di sekitar Bogor yang berada di bawah asuhan Mama Ajengan Rd. H. Manshur dengan mualim H. Muhammad Arsyad bin H. Imammudin.

Susunan Pengurus P.S.A. ialah :Ketua, Mama Ajengan Rd. H. Mansur, Sekretaris M.B. Nurdin (Marah Bagindo), Inspektur K. Usman Perak. Ketua Dewan Guru/ Direktur. AI-Ustadz Rd.H.Abdullah bin Nuh, Pembantu/ Sekretaris Rd. Ali Basah beserta H. Muhammad Arsyad Selain memimpin madrasah-madrasah, juga AI-Ustadz mengajar di MULO (SLTP). Pada tahun 1939 Madrasah P.S.A, pindah ke jalan Bioskop (JI, Mayor Oking, yang sekarang dipakai Mesjid) Dari tahun 1939 s.d 1942 ia tetap bertempat tinggal di Panaragan dan setiap hari mengajar ngaji para Kyai. Walaupun AI-Ustadz Rd. H. Abdullah bin Nuh ilmunya telah begitu banyak, tetapi selama di Bogor ia masih terus menambah ilmunya dari seorang ulama (Mufti Malaya) yaitu Sayyid ‘Ali bin Thohir dan Haji Muhammad Arysad dari bojong neros.

PEJUANG KEMERDEKAAN

[2][2]

Sejarah mencatat bahwa PETA lahir pada bulan Nopember 1943, lalu diikuti lahirnya HIZBULLAH beberapa minggu kemudian di mana para alim ulama kemudian masuk menjadi anggota organisasi itu. Tahun 1943 tersebut benar benar merupakan tahun penderitaan yang amat berat khususnya bagi umat Islam dan bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Boleh dikatakan bahwa saat itu adalah salah satu ujian paling berat bagi bangsa Indonesia. Pada akhir tahun 1943 itulah AI-Ustadz Rd. H. Abdullah bin Nuh masuk PETA dengan pangkat DAIDANCO yang berasrama di Semplak Bogor.

Lalu pulang lagi ke Cianjur dan ia membantu (jadi guru bantu) mengajar di AI-I’anah, waktu itu nadhirnya AI-Ustadz Rd. H.M. Sholeh AI-Madani (sekitar tahun 1930). Setelah itu ia pergi lagi ke Bogor kedua kalinya dan bertempat tinggal di Panaragan. Pekerjaan ia adalah: 1. Mengajar para kyai. 2. Jadi korektor Percetakan IHTIAR (Inventaris S.I.)

Pemimpin-pemimpin umat ini, para alim ulama di sana-sini ditangkap oleh Dai Nippon, di antaranya Hadlorotnya Syekh Hasyim Asy’ari pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng. Ia dipenjarakan di Bubutan, Surabaya. Di Jawa Barat perlakuan serupa dilakukan terhadap KH. Zainal Mustofa, Tasikmalaya, bahkan sampai gugurnya karena di siksa Dai Nippon. Ia adalah Pemimpin Pondok Pesantren Sukamanah, Tasikmalaya. Tanggal 6 Agustus 1945 senjata dahsyat bom atom dijatuhkan Amerika Serikat di atas kota Hiroshima, disusul kemudian tanggal 9 Agustus born atom gelombang kedua dijatuhkan pula di atas Nagasaki. Sekutu mengumandangkan kemenangannya. Bangsa Indonesia saat itu sangat optimis dengan tekuk lututnya Jepang terhadap sekutu. Ternyata pada tanggal 17 Agustus 1945 beberapa hari setelah pemboman terhadap kedua kota itu kita bangsa Indonesia memperoleh hikmah, yaitu kemerdekaan yang diperoklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Apakah ini bukan rohmat dari Allah SWT?

Cobaan demi cobaan telah dan akan selalu kita hadapi. Pada tanggal 19 September 1945 di Surabaya terjadi peristiwa besar yang merupakan titik awal yang menyulut semangat kepahlawanan rakyat Surabaya. Beberapa personil Belanda yang saat itu membonceng sekutu berhasil menyamar sebagai Missi Sekutu mengibarkan bendera merah putih biru di Hotel Yamato, Tunjungan Surabaya. Kemudian personil Belanda lainnya setelah tiba di Tanjung Priok merayap keseluruh pelosok Jawa di antaranya ke Bandung, Yogya, Magelang dan Surabaya. ini merupakan tantangan berat lagi bagi bangsa Indonesia. Namun rakyat tiada mengenal mundur atau menyerah. Begitu pula AI-Ustadz Rd. H. Abdullah bin Nuh terus melanjutkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan dengan memimpin barisan Hizbutlah dan BKRI TKR di kota Cianjur bersama-sama dengan barisan lainnya hingga pertengahan tahun 1945.

Pada tanggal 21 Romadhon 1363 H/ 29 Agustus 1945 M, di Jakarta dibentuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNlP) dan sekaligus melangsungkan sidang pertamanya. Ketua KNIP ditetapkan Mr. Kasman Singodimedjo, salah seorang bakes Daidanco PETA Jakarta. Anggota KNIP di antaranya adalah AI-¬Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh. Pada tanggal 4 Juni 1946 Pemerintahan RI pindah ke Yogyakarta.[pagebreak]

YOGYAKARTA DAN P.T.I. NYA (SEKARANG UII) Yogyakarta adalah sebuah kota kecil yang mendadak menjadi ibukota Repbulik Indonesia dan pusat segala kegiatan politik. Semenjak awal 1946, situasi politik terus meningkat dan ketegangan serta pergolakan terjadi di mana-mana. Yogyakarta amat berat memikul beban nasional di atas pundaknya. Namun AI-Ustadz Rd. H. Abdullah bin Nuh adalah benar-benar seorang ulama pejuang yang pandai membagi waktu. Walaupun tugas ia sangat berat, sebagai tentara yang mewakili Jawa Barat dan anggota KNIP lainnya, namun ia masih sempat mendirikan RRI Yogyakarta siaran bahasa Arab dan kemudian mendirikan STI (Sekolah Tinggi Islam/ UII) bersama dengan KH. Abdul Kohar Muzakkir.

Yang lebih unik lagi ialah tidak melupakan tugas kekiyaian, yaitu mengajar ngaji. Hasil didikan ia waktu di Yogyakarta di antaranya adalah Ibu Mursyidah dan AI-Ustadz Basyori Alwi, yang telah berhasil membuka Pesantren yang megah di JI. Singosari No.90 dekat kota Malang, dan banyak lagi Asatidz tempaan ia.

Pada bulan Desember 1948 Yogyakarta bezet (diduduki tentara Belanda). Tentara RI mundur dari Kota Yogya dan terjadilah perang gerilya selama 6 bulan, mulai dari Desember 1948 s.d. Juni 1949. Perang gerilya ini dilakukan pula oleh para pejabat, walaupun dia itu adalah seorang Menteri. Pada bulan Juni itulah (tepatnya tanggal 5) AI-Ustadz Rd. H. Abdullah bin Nuh menikah dengan Ibu Mursyidah, salah seorang puteri didiknya yang telah disebut tadi.

Tanggal 29 Juni 1949 setelah tentara Belanda meninggalkan Yogyakarta, pasukan Republik Indonesia yang sedang bergerilya bersama rakyat masuk kembali ke Yogyakarta. Itu berarti bahwa, Yogyakarta kembali menjadi Ibukota Republik Indonesia. Sejarah pertama kali mencatat, yaitu tanggai 17 Desember 1946, Bung Karno dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat dengan mengambil tempat di Keraton Yogyakarta. Kemudian di akhir tahun 1949 Pemerintah RI pindah ke Jakarta, dan saat itu pulalah AI-Ustadz Rd. H. Abdullah bin Nuh bersama ibu Mursyidah (istrinya) hijrah ke Jakarta.

JAKARTA DAN UI-NYA

Setelah melalui liku-liku hidup dan mengarungi pasang surutnya gelombang perjuangan, keluarga AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh menetap di Jakarta selama lebih kurang 20 tahun, yaitu mulai tahun 1950 s.d. 1970, Di Jakarta inilah ia menjadikan ibu kota sebagai arena pengabdiannya kepada Allah SWT dan kepada hamba-Nya. Ia mengajar mengaji para asatidz/ Mu’allimin, memimpin Majlis-majlis Ta’lim, menjabat sebagai Kepala Seksi Bahasa Arab pada Studio RRI Pusat. Selain itu juga aktif dalam kantor berita APB (Arabian Press Board). Kemudian pernah pula menjadi Dosen UI (Universitas Indonesia) bagian Sastra Arab, pemimpin Majalah Pembina dan Ketua Lembaga Penyelidikan Islam.

Di samping itu pada tahun 1959 sebelum kepindahan ke Kota Bogor, ia telah aktif memimpin pengajian-pengajian di Bogor, yaitu :1. Majlis Ta’lim Sukaraja (AI-Ustadz Rd. Hidayat) 2. Majlis Ta’fim Babakan Sirna (AI-Ustadz Rd. Hasan) 3. Majlis Ta’lim Gang Ardio (KH. Ilyas) 4. Majlis Ta’lim Kebon Kopi (Mu’allim Hamim) Dan akhirnya pada tanggal 20 Mei 1970 Mama hijrah dari Jakarta ke Bogor.

MAMA DAN “AL-GHAZALY”

YIC “AI-Ghazaly” ialah Pusat Pendidikan Islam (Pesantren, Majlis Ta’lim, sekolah umum dan madrasah Diniyah). “AI-Ghazaly” sudah tidak asing lagi bagi Ummat Islam warga Bogor. YIC “AI-Ghazaly” memiliki empat lokasi yaitu: AG I di Kotaparis , AG II di Cimanggu (H. Firdaus), AG III di Cimanggu Perikanan dan AG IV di Cibogor. YIC “AI-Ghazaly” adalah Mazro’atul Akhiroh (ladang akherat) Mama. Tempat Mama memberikan pelajaran kepada para Ustadz dan kyai-kyai yang berada di sekitar Bogor, bahkan ada pula yang datang dari Jakarta, Cianjur, Bandung dan Sukabumi. Majlis-majlis Ta’lim yang ada dalam asuhan Mama adalah : AI-Ghazaly (Kotaparis) AI-Ihya(Batu Tapak) Al-Khaeriyah (Bojong Neros) AI-Husna (Layungsari) Nurul Imdad (Babakan Fakultas, belakang IPB) Nahjussalam (Sukaraja).

Kesemuanya itu adalah tempat pengabdian Mama setelah usianya lanjut. Bagi Mama tiada hari tanpa kuliah shubuh. Kegiatan rutin setiap minggunya adalah hari Senin s.d. Kamis di Majlis Ta’lim AI-Ihya, Jumat s.d. Ahad di AI-Ghazaly, sedangkan Ahad siang (ba’da dzuhur) di Nahjussalam Sukaraja.

Selain itu, Mama juga mengadakan pengajian khusus untuk para pemuda dan pelajar, mahasiswa/ mahasiswi. Demikian kegiatan Mama di “AI-Ghazaly” yang tidak mengenal istirahat.

MAMA DAN “NAHJUSSALAM”

Nahjus Salam ialah Pesantren idaman Mama yang belum terlaksana dengan sempurna dan tentunya.wajib kita tanjutkan sampai tuntas. Jauh sebelum merencanakan “Nahjus Salam”, Mama pernah mengutarakan keinginannya kepada salah seorang muridnya: “Mama ingin sekali punya Pesantren”. Kemudian muridnya itu bertanya: “Didaerah mana Mama ingin mendirikan Pesantren itu? Di Bogor Timur, Ciluar atau di Cianjur?” Mama menjawab: Di Sukaraja. Muridnya masih penasaran, kemudian melanjutkan pertanyaannya: “Kenapa ingin di Sukaraja?” Ia menjawab: Ingin dekat dengan makam eyang Mama (Kanjeng Dalem) Melaksanakan amanat Mama Ajengan Manshur (Bilamana Mama Ajengan Manshur wafat, harus diteruskan oleh ia). Ingin istirahat total Penulis pada waktu itu tidak memperhatikan akan arti dan kandungan obrolan Mama yang sebenarnya mendalam serta penuh dengan isyarat itu.

Maka pada hari Sabtu tanggal 1 Muharram 1404 H, bertepatan dengan tanggal 8 Oktober 1983, dimulailah pembangunan fisik Pesantren Nahjus Salam yang diprakarsai oleh para putera Almarhum Rd. H. Jamhur Ciwaringin Tanah Sewa beserta sesepuh dan warga Sukaraja AI-Ustadz Hasanuddin. Bangunan Pesantren tersebut selesai pada akhir bulan Rajab tahun itu juga. Peresmian yang langsung diisi oleh Mama dilaksanakan hari Jum’at tanggal 25 Rajab 1404 H/ 27 April 1984, dan hari Ahad tanggal 12-Sya’ban (lebih kurang 2 minggu setelah peresmian) dimulai pengajian di Nahjus Salam.

Keinginan Mama selalu terkabul, sukses dan Barokah. Maunahnya mutai nampak dan terlihat oleh khalayak ramai. Padahal menurut penulis setelah mengamati dan selalu memperhatikan gerak-geriknya, Mama memiliki keutamaan (kelebihan) ilmu, dan maunahnya telah terlihat dan terasa sejak Mama mulai menetap di Bogor. Pernah penulis alami ketika pada suatu kejadian yang membuktikan tentang itu.

Kira-kira tahun 1973 Mama bersama penulis berziarah kepada seorang kyai yang telah dianggap wali oleh para Ulama yang tahu tentang keadaan kyai itu. Ada tiga keanehan menurut penulis yang sangat mencolok pada pribadi Mama saat itu: Pertama: Bukan Mama yang masuk ke kamar Kyai yang sedang sakit berat itu, tetapi justru kyailah yang datang menemui Mama di ruang tamu. Ke dua: Mama memohon didoakan oleh Kyai itu, tetapi keadaan sebaliknya yang terjadi, yakni Kyailah yang meminta didoakan. Akhirnya Mamalah yang berdoa. Kyai bersama penulis mengamini. Ke tiga: Ketika Mama permisi, kyai itu mengantarkan sampai ke pintu gerbang pekarangan rumahnya, sedangkan Kyai itu tidak pernah melakukannya terhadap siapapun.

Dengan ketiga hal yang menurut penulis mengandung keanehan itu, membuktikan bahwa derajat Mama sudah lain dari pada yang lain. Obrolan Mama mengenai “ingin istirahat total” ini merupakan isyarat bahwa kepulangan Mama ke Rahmatullah telah mendekat. Karena hanya wafatnya hamba kekasih Allahlah yang termasuk dan boleh dikatakan “Istirahat Total”. Permohonan Mama ingin istirahat total dikabulkan oleh Allah SWT.

Pada hari senin malam selasa, jam 19.15 WIB ba’da Isya, tanggal 26 Oktober 1987 bertepatan dengan tanggal 4 Robi’ul Awwal 1408 H ia pulang ke Rahmatullah. “Innaa Lillaahi wa Inna Ilaihi Rooji’uuna”. Thoriqoh Mama ada tiga: 1. Mengajar2. Muthola’ah 3. Mengarang.

Di mana saja Mama tinggal, Mama betah, asal Mama bisa menjalankan yang tiga itu dengan tenang. Jadi jelaslah, pindahnya Mama dan satu daerah ke daerah lain adalah termasuk : yang mudah-mudahan pulangnya Mama ke Rahmatullah pun demikian adanya, hijrah kepada keridhoan Allah SWT.

AMANAHNYA

Di dalam mengarungi dunia yang penuh dengan godaan dan sarat dengan fitnah, Mama memberikan amanah kepada penulis tentang cara menghadapi manusia-manusia di abad modern ini, yaitu harus berpendirian. Khumul = Tidak ternama Malamih = Manampakkan roman muka Tawakal kepada Allah SWT. Insya Allah selamat dari godaan dan fitnah.

AHLUL BAIT MAMA / KETURUNAN

Ibu Cianjur dan putra-putrinya:

Ibu Cianjur Ny. Rd. Mariyah (Alm.) putra-putrinya adalah:

Rd. Ahmad (Tangerang)

Rd. Wasilah (Almarhumah, Jakarta)

Rd. Hj. Romlah (Kotaparis, Bogor)

Rd. Hilal (Sukaraja, Bogor)

Rd. Hamid (Australia)

Ibu Bogor dan putra-putrinya :

Ibu Bogor adalah Dra. Hj. Mursyidah (Ummul Ghazaliyyin), Putra-putrinya adalah :

Rd. Aminah (almarhumah)

Rd. Aisyah (almarhumah)

Rd. Hj. Mariyam

Rd. Zahro (almarhumah)

Rd. Zulfa

Rd. H. Toto Mustofa

Ulama Kharismatik itu telah pulang ke Rahmatullah Akan menerima keridhoan Allah Kita yang ditinggalkan Wajib melanjutkan Amanat Mama kita laksanakan Thoriqoh Mama kita jalankanMudah-mudahan riwayat hidup Mama yang ringkas ini menjadi cermin untuk kita semuanya kaum muslimin-muslimat, baik tua maupun muda.

Karya-karya tulis

Karya-karya tulis dengan bahasa Indonesia yang berbentuk buku di antaranya, yaitu:

Al-Islam

Islam dan Materialisme

Islam dan Komunisme

Islam dan Pembahasan

Keutamaan Keluarga Rosulullah

Islam dan Dunia Modern

Risalah As-Syuro

Ringkasan Sejarah Wali Songo

Riwayat Hidup Imam Ahmad Muhajir

Sejarah[3] [3] – Islam di Jawa Barat Hingga Zaman Keemasan Banten

Pembahasan Tentang Ketuhanan

Wanita Dalam Islam

Zakat dan Dunia Modern

Karya-karya tulis dengan bahasa Arab yaitu berbentuk natsar (karangan bebas) dan syi’ir (puisi)

Selain mengarang K.H.R. Abdullah bin Nuh juga menterjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dan Sunda.

Kitab-kitab yang ia terjemahkan kebanyakan karangan Imam AI-Ghazaly yang ia kagumi. Di antara terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia adalah:

  • Renungan;
  • O’Anak;
  • Pembebasan dari Kesesatan;
  • Cinta dan Bahagia;
  • Menuju Mukmin Sejati (Minhajul-Abidin, karangan terakhir imam Ghazaly.

Adapun yang ia terjemahkan ke dalam bahasa Sunda di antaranya berjudul: 1. Akhlaq; 2. Dzikir Sebagai seorang Ahli bahasa Arab, K.H.R. Abdullah bin Nuh menyempatkan diri menyusun kamus bersama sahabatnya H. Umar Bakry, di antara kamusnya adalah:

  • Kamus Arab – Indonesia;
  • Kamus Indonesia – Arab – Inggris;
  • Kamus Inggris – Arab – Indonesia;
  • Kamus Arab – Indonesia – Inggris;
  • Kamus Bahasa Asing (Eropa), berkisar hubungan: – diplomatik politik- ekonomi, dll.
Tokoh
KH Abdullah bin Nuh, Ulama Produktif yang Mendunia
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: