69 Komentar

About Bayt al-Hikmah Institute

PROFIL

BAT AL-HIKMAH  INSTITUTE,

Pusat Kajian dan Pengembangan Filsafat Islam, Tasawuf, Sains dan Peradaban

(Research and Development Center for Islamic Philosophy, Islamic Mysticism, Science & Civilization)

 Ahmad Samantho, Aos dan Nasiruddin di Haram Ma’sumeh,  Qom Iran

LATARBELAKANG PEMIKIRAN

1.Runtuhnya Tradisi Filsafat dalam Islam

Dengan mengutip pemikiran Prof. Dr. Mulyadi Kartanegara, runtuhnya Tradisi Filsafat Islam menjadi keprihatinan bersama yang melatarbelakangi pendirian Bayt Al-Hikmah:

Satu masa dalam hidupnya, Abu Hamid al-Ghazali (w. 505/1111) merasa perlu untuk menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama (naqli) karena adanya ancaman yang membahayakan ilmu-ilmu tersebut dari ilmu-ilmu rasional (‘aqli). Sebenarnya gerakan anti ilmu-ilmu rasional telah dimulai kira-kira dua abad sebelum al-Ghazali oleh Abu Hasan al-Asy’ari (w. 324/935) terhadap aliran teologis rasional Mu’tazilah. Meskipun gerakan tersebut telah berhasil menggoyah kedudukan Mu’tazilah sebagai mazhab resmi kekhalifaan saat itu, namun rupanya belum berhasil meredam gerakan rasional filosofis, terbukti dengan munculnya dua filosof yang lebih besar daripada yang sudah ada, al-Farabi (w.339/950) yang dikenal sebagai “al-Mu’allim al-Tsani,” dan Ibn Sina (w. 430/ 1038), “Syaikh al-Rais,” yang menandai puncak perkembangan filsafat Neoplatonik Muslim atau dikenal juga sebagai “peripatetik.”

Sebagai pengikut, bahkan salah seorang tokoh utama Asy’ariyah, tentu saja al-Ghazali merasa terpanggil untuk meneruskan perjuangan pendiri mazhabnya dalam menghadapi atau melawan dominasi ilmu-ilmu rasional. Hanya saja tantangan yang dihadapi al-Ghazali jauh lebih berat, karena yang ia hadapi bukan hanya sekedar sebuah sistem teologis yang didasarkan pada metode dialektis (jadali), melainkan sebuah sistem filsafat yang lebih solid karena didasarkan pada metode demonstrati (burhan).

Meskipun begitu, dengan kejeniusan dan kesungguhan serta cara yang sangat metodik, al-Ghazali berhasil menjawab tantangan itu dengan baik. Kecermatan metodologisnya terlihat misalnya dalam ungkapannya: “Janganlah anda mengeritik sesuatu (dalam hal ini filsafat) sebelum menguasai betul hal tersebut, bahkan kalau bisa anda mengungguli ahli-ahlinya.” Selama kurang lebih dua tahun, al-Ghazali mengabdikan dirinya untuk mempelajari filsafat secara sistematik, dengan tujuan untuk mengkritiknya. Ternyata ia betul-betul menguasainya. Hasil penelitiannya itu ia abadikan dalam karyanya, Maqasid al-Falsifah. Setelah ia menganggap dirinya menguasai filsafat, barulah ia melancarkan kritiknya yang tajam dan jitu terhadap ajaran-ajaran para filosof dalam karyanya yang lebih dikenal Tahafut al-Falasifah.

Kritiknya terhadap filsafat ternyata sangat efektif. Peringatannya kepada kaum Muslimin agar berhati-hati terhadap beberapa ajaran (proposisi) para filosof dan pengkafirannya terhadap mereka dan pengikut-pengikut mereka yang percaya pada keabadian alam, ketidak-tahuan Tuhan pada juz’iyyat dan penolakan mereka terhadap kebangkitan jasmani, ternyata sangat sangat efektif dalam membangkitkan antipati umat bahkan permusuhan terhadap filsafat dan ilmu-imu rasional lainnya yang terkait, seperti fisika, psikologi, matematika, astronomi dan sebagainya. Dikatakan efektif karena setelah serangan itu filsafat tidak pernah dilihat, terutama di dunia Sunni, kecuali dengan rasa curiga. Bahkan di beberapa tempat pengkajian filsafat secara resmi dilarang, dan banyak karya-karya utama filosofis dibakar dan dihancurkan. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa kritik al-Ghazali terhadap filsafat memang sangat efektif dan “telak,” sehingga di belahan dunia Sunni –di mana pengaruh al-Ghazali adalah terbesar– filsafat tidak pernah bisa bangkit hingga saat ini.

Dengan demikian, usaha al-Ghazali dalam menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama –setelah mengeritik filsafat– sangat berhasil. Dengan usahanya itu ia mampu mengangkat derajat ilmu-ilmu agama ke jenjang yang sangat tinggi, bahkan barangkali tertinggi. Di dunia Sunni ia sangat dikagumi dan mendapat gelar “hujjat al-Islam” karena keberhasilannya itu. Akibatnya, kini “titik tekan” ilmu telah bergulir dari ilmu-ilmu rasional ke ilmu-ilmu agama. Sehubungan dengan itu, ia menegaskan bahwa mempelajari ilmu-ilmu agama adalah fardlu ain, sedangkan ilmu-ilmu rasional, fardlu kifayah, artinya tidak wajib bagi setiap Muslim. Tapi sayang, keberhasilan al-Ghazali dalam mengangkat derajat ilmu-ilmu agama ini harus ditebus dengan harga mahal, yaitu sirnanya disiplin ilmu filsafat dan cabang-cabangnya, dan kemudian dengan melemahnya tradisi keilmuan rasional yang menyertainya.

2. Tantangan-tantangan Filosofis Kontemporer

Dibanding dengan tantangan filosofis yang dihadapi al-Ghazali sekitar seribu tahun yang lalu, tantangan-tantangan filosofis yang dihadapi kaum muslimin saat ini jauh lebih serius dan radikal, karena sementara tantangan yang dihadapi al-Ghazali muncul dari para filosof yang masih percaya teguh pada yang ghaib (realitas-realitas metafisik), tantangan-tantangan filosofis yang dihadapi kaum intelektual Muslim saat ini muncul dari para filosof dan ilmuwan yang telah kehilangan kepercayaannya pada hal-hal yang bersifat metafisik. Tidak cukup dengan itu, mereka juga menyebarluaskan pandangan-pandangan anti-metafisik mereka dengan cara menyerang fondasi-fondasi metafisik yang dikatakannya sebagai ilusi dan tak bermakna. Karena itu tantangan itu jauh lebih serius dan radikal. Mereka bukan lagi memberikan tafsir yang tidak ortodoks terhadap realitas metafisik, tetapi menafikannya dengan menyerang status ontologis dari dunia metafisik itu sendiri.

Tantangan filosofis yang paling berbahaya terhadap dunia metafisik adalah yang ditimbulkan oleh “positivisme.” Menurut pandangan positivis, satu-satunya wujud yang real adalah yang positif yakni yang bisa diobservasi melalui indera. Segala wujud yang berada di balik dunia fisik (metafisik) hanyalah hasil spekulasi pikiran manusia yang tidak memiliki realitas ontologis di luar kesadaran manusia. Konsep-konsep agama mengenai Tuhan, hari akhir, malaikat dan wujud-wujud ghaib lainnya dianggap tak lain daripada kreasi manusia ketika mereka berada pada awal tahap perkembangannya. Pada tahap berikutnya, manusia memperbaiki konsep-konsep keagamaan dengan mengembangkan sistem-sistem filosofis yang rasional. Namun pendirian yang terakhirpun, menurut mereka, masih berdasar pada ilusi karena percaya pada dunia metafisik. Tahap akhir yang paling sempurna dalam perkembangan manusia tercapai pada tahap positif di mana manusia menemukan bahwa satu-satunya realitas yang sejati adalah dunia fisik yang bisa diverifikasi secara positif-obyektif. Yang mereka hasilkan bukanlah sistem kepercayaan religius, atau sistem filosofis rasional, melainkan ilmupengetahuan (sains) yang didasarkan pada observasi inderawi.

Pengaruh positivisme semakin besar –dan karenanya semakin berbahaya sebagai tantangan filosofis, teologis-religius bagi kita– karena mendapat dukungan yang luas dari para ilmuwan di berbagai bidang ilmu, seperti astronomi, biologi, psikologi dan bahkan sosiologi. Pengaruh ini terlihat misalnya dari keengganan banyak ilmuwan Barat untuk memandang entitas-entitas metafisik, seperti Tuhan atau malaikat, sebagai sebab dan sumber bagi alam semesta. Dalam pandangan mereka Tuhan telah berhenti menjadi apapun. Ia telah menjadi pencipta, pemelihara dan pengatur alam semesta. Mereka lebih suka melihat alam semesta sebagai mesin raksasa yang berjalan menurut hukum alam (the law of nature), dan menjelaskan fenomina alam sesuai dengan hukum tersebut daripada menganggap alam sebagai hasil ciptaan Tuhan.

Pandangan-pandangan naturalis positivis seperti ini dapat dengan mudah kita temukan dalam karya-karya atau ungkapan-ungkapan ilmuwan-ilmuwan Barat yang besar dan berpengaruh seperti Pierre de Laplace, Darwin, Freud, dan Emile Durkheim. Meskipun tidak semua ilmuwan sependapat dengan pandangan mereka, tetapi pengaruh mereka dalam dunia ilmu (sains) masih sangat besar dan menentukan, mereka masih sering dianggap sebagai “Nabi-Nabi” ilmu pengetahuan. Sehingga pandangan-pandangan mereka masih sangat berarti sebagai tantangan terhadap sistem kepercayaan Islam. Pierre de Laplace (w. 1827), seorang astronomer dan matematikus Perancis, yang dikenal sebagai penemu (bersama Kant) teori “Big Bang,” tidak merasa perlu untuk menyinggungsepatahpun kata Tuhan, ketika ia menjelaskan teori penciptaan alam semesta dalam bukunya The Celestial Mechanisme. Alasannya adalah karena bagi dia Tuhan adalah hipotesa yang tidak diperlukan dalam penjelasan astronomisnya, atau dalam ungkapannya sendiri: “Je nai pas besoin de cet hypothesie.”

Demikian juga Charles Darwin (w. 1882), seorang naturalis Inggris yang terkenal dengan teori evolusinya, tidak lagi menganggap bahwa makhluk-makhluk biologis yang ada di alam semsta ini sebagai ciptaan Tuhan yang bijak, melainkan semata-mata sebagai hasil mekanisme hukum seleksi alamiah (natural selection). Dalam otobiografinya, Darwin mengatakan: “Dulu orang boleh mengatakan bahwa bukti terkuat adanya Tuhan Sang Pencipta adalah keteraturan dan harmoni pada alam. Tetapi setelah hukum seleksi alamiah ditemukan kita tidak bisa lagi mengatakan bahwa engsel kerang yang indah, misalnya, harus merupakan ciptaan agen dari luar dirinya (Tuhan), seperti halnya kita mengatakan bahwa engsel pintu mestilah merupakan ciptaan seorang Tuhan.”

Pengaruh pandangan positivisme ini juga sangat kentara dalam pandangan Sigmun Freud (w. 1939), seorang dokter dan perintis psikoanalisa. Dalam bukunya The Future of an Illution, Freud memandang agama sebagai ilusi. Eric Fromm, menjelaskan bahwa “Bagi Freud agama berasal dari ketidakberdayaan manusia dalam menghadapi daya-daya dari alam luar dan daya imaginatif dari dalam dirinya. Agama muncul pada tahap awal perkembangan manusia ketika ia belum lagi menggunakan akalnya untuk menghadapi daya-daya eksternal dan internal ini dan harus menekan atau mengendalikan mereka dengan bantuan dari kekuatan lain yang efektif. Jadi, alih-alih menanggulangi daya-daya tadi dengan akal, ia mengatasinya dengan “counter affects,” yakni dengan daya-daya emosional yang fungsinya adalah untuk menekan dan mengandalikan apa yang tidak sanggup ia hadapi secara rasional.” Nah, kalau agama dipandang sebagai ilusi, maka sudah barang tentu kepercayaan-kepercayaan agama terhadap yang ghaib (realitas-realitas metafisik), seperti Tuhan, malaikat, ruh dan hari akhir, dengan sendirinya juga ilusi. Hal seperti itu jugalah yang menjadi pandangan Emile Durkheim (w. 1917), seorang fiolosof dan sosiolog Perancis. Dalam karya-karyanya ia memandang agama sebagai proyeksi nilai-nilai sosial, sedangkan Tuhan tidak lain daripada Masyarakat (Society) itu sendiri, dan bukan sebuah entitas metafisika yang personal, seperti yang kita yakini.

Serangan terhadap metafisika juga akan berdampak pada sistem epistimilogi Islam, terutama dalam kaitannya dengan sumber ilmu pengetahuan. Dengan ditolaknya dunia metafisik, maka satu-satunya sumber dari ilmu pengatahuan bagi kaum positivis adalah pengalaman, atau dengan kata lain indera. Mereka tidak percaya pada sumber lain, yang menempati posisi penting dalam epistemologi Islam, yaitu akal, intuisi dan wahyu. Laplace pernah mengatakan: “I mistrust anything but the direct result of observation and calculation.” Jadi dengan begitu mereka tidak mempercayai wahyu dan juga “pengalaman mistik” sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan. Padahal dalam tradisi epistimologi Islam, ketiga sumber ilmu pengetahuan tersebut yang oleh Mulla Shadra (w. 1050/1640), seorang filosof besar Muslim abad ketujuh belas, disebut masing-masing sebagai “burhan, irfan dan Qur’an,” diakui sebagai sumber-sumber ilmu yang sah sebagaimana hanya indera.

Kaum positivis, karena itu, hanya mengakui indera (melalui observasi) sebagai satu-satunya sumber ilmu yang sah dan dapat dipercaya. Sumber-sumber ilmu pengetahuanyang lain, seperti wahyu dan intuisi, tidak dapat dipercaya karena tidak berpijak pada realitas tapi pada ilusi manusia. Alasan mereka mengatakan begitu adalah karena wahyu dan pengalaman mistik selalu mengandaikan adanya hubungan yang erat dengan dunia metafisik, sehingga validitasnya tergantung pada status eksisitensi (ontologis) dunia metafisik itu sendiri. Sekali eksistensi dunia metafisk ditolak, maka validitas sumber-sumber ilmu yang bergantung padanya akan tertolak dengan sendirinya. Karena wahyu dan pengalaman mistik memang begitu sifatnya, maka validitas mereka hanya bisa dipertahankan apabila kita mengafirmasi status ontologis realitas-realitas metafisik tersebut. Sekali realitas-realitas itu ditolak keberadaannya, maka kemungkinan wahyu danpengalaman mistik yang disandarkan padanya dengan sendirinya tertolak dan tidak punya pijakan logisnya. Padahal kita tahu apa yang akan terjadi kalau wahyu (dalam hal ini al-Qur’an) ditolak sebagai sumber ilmu yang sah, maka seluruh sistem kepercayaan, teologis, dan mistiko-filosofis Islam akan runtuh. Inilah menurut saya tantangan filosofis kontemporer yang amat serius dari pemikiran positivis Barat terhadap sistem epistimologi Islam, terhadap mana kita sebagai kaum intelektual Muslim “wajib” memberikan respons filosofis yang sebanding, bahkan lebih baik dan meyakinkan daripada argumen-argumen mereka.

Tantangan lain yang terkait dengan serangan kaum positivis terhadap metafisika berdampak pula pada bangunan etika Islam, baik yang religius maupun filosofis, tentu saja disandarkan sampai taraf tertentu pada perintah-perintah Tuhan. Namun, ketika eksisitensi Tuhan sendiri sebagai salah satu entitas metafisik ditolak,maka etika Islam akan kehilangan dasar pijakannya. Freud pernah mengatakan “Jika validitas norma-norma etika bersandar pada perintah-perintah Tuhan, maka masa depan etika akan berdiri atau jatuh bersama-sama dengan kepercayaan pada Tuhan. Dan karena Freud menganggap bahwa kepercayaan agama sedang memudar, maka ia terdesak untuk berpendapat bahwa mempertahankan hubungan agama dengan etika akan membawa kehancuran pada nilai-niali moral itu sendiri.

Karena itu, satu-satunya sistem etika yang mereka akui adalah sistem etika humanis yang bersandar semata-mata pada ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan manusia belaka, bukan pada sumber-sumber lain yang transenden. Bagi mereka, apa yang disebut wahyu tidak lain daripada hasil pemikiran manusia (dalam hal ini Nabi) belaka, dan bukan sebagai pancaran dari alam ilahi yang mereka tolak eksistensinya. Akibatnya, nilai-nilai apapun yang terdapat dalam wahyu tersebut dipandang tidak mutlak dan tidak bisa berlaku sepanjang masa, sebagaimana yang diyakini para pemeluknya. Wahyu bagi mereka tidak ubahnya seperti pemikiran manusia lainnya dan karena itu bersifat relatif dan tunduk pada perubahan ruang dan waktu, dan karena itu bisa diubah atau diganti apabila tuntutan zaman menghendakinya. Inilah pandangan kaum positivis tentang nilai-nilai etis skriptual, yang seperti halnya karya-karya filsafat biasa, rentan terhadap perubahandan bahkan koreksi total.

Kritik yang sama juga mereka arahkan pada pengalaman mistik dan validitasnya sebagai bias etika. Kaum positivis sering menganggap pengalaman mistik sebagai halusinasi seseorang. Bahkan hal tersebut juga mereka alamatkan bagi validitas pengalaman intelektual yang mendukung realitas-realitas metafisik. Dan semua ini mereka lakukan karena mereka telah kehilangan kepercayaan pada alam metafisik. Bagi mereka satu-satunya basis yang dapat dipercaya untuk etika adalah ilmu pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman yang cermat terhadap alam. Freud menginginkan supaya etika tidak didasarkaaan pada kepercayaan agama yang bersifat “illusory,” tetapi pendayagunaan akal pikiran manusia.

Inilah di antara tantangan-tantangan filosofis yang dihadapi kaum intelektual Muslim dewasa ini, suatu tantangan yang –kalau kita renungkan–jauh lebih radikal dan serius dibanding dengan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh kaum intelektual muslim pada masa al-Ghazali. Karena demikian sifat dasar tantangan tersebut, maka kewajiban kita selaku kaum cendikiawan untuk berusaha menjawab tantangan-tantangan tersebut dengan baik, yang antara lain bisa dibantu dengan menghidupkan kembali ilmu-ilmu rasional yang telah menghias khazanah klasik Muslim sekian lama tetapi yang kini telah diabaikan bagai benda-benda yang tak berguna.

3. Reformasi, Mau Kemana?

Gerakan Reformasi di Indonesia, yang genap sudah berjalan 8 tahun, bagi sebagian orang, dianggap masih terseok-seok di pinggir jalan sejarah Indonesia kontemporer. Alih-alih berhasil mewujudkan tujuan-tujuan mulianya, gerakan tersebut mulai kehilangan arah dan meninggalkan tumpukan krisis yang tak terpecahkan dan ditemukan penyelesaiannya secara efektif.

Reformasi memang sedikit ‘berhasil’ dalam membuka keran kebebasan (‘liberalisasi’) dalam bidang ‘politik formal’, informasi dan budaya. Namun di balik kebebasan itu malah lahir berbagai kekacauan dan manipulasi suara rakyat, kemiskinan baru yang makin meluas dan kebingungan rakyat serta desentralisasi hegemoni kapitalis, penindasan-penindasan dan kezaliman baru atas nama demokrasi, otonomi daerah dan liberalisasi ekonomi.

Sudah mulai banyak orang kecewa dan tak percaya bahwa gerakan reformasi akan berhasil membawa perubahan sosial-politik-ekonomi & budaya yang signifikan dan bermakna bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia. Akhirnya, melihat proses pemilu legislatif dan pemilihan presiden 2004, dan konflik-konflik akibat kekerasan aparat polisi dan oknum militer dan pihak asing yang doyan mengadudomba dan menumpahkan darah rakyat, mulai ada tokoh-tokoh intelektual dan mantan para aktifis reformasi yang mulai melirik atau memprediksi kemungkinan terjadinya revolusi sosial di Indonesia.

Kemungkinan terjadi revolusi sosial itu pun, sekiranya itu adalah keharusan sejarah, masih dalam tanda tanya besar? Apakah revolusi hanya akan “memakan anaknya sendiri”, dan menghasilkan chaos yang lebih dahsyat tanpa hasil yang baik? Ataukah akan menghasilkan perbaikan total dan menyeluruh atas segala krisis bangsa dan negara ini?

Reformasi atau revolusi? Keduanya tak akan berarti apa-apa dan membawa kebaikan pada kemanusiaan, tanpa didasari dan digerakkan oleh perubahan pemikiran filsafat & ideologi (pandangan dunia) yang benar. Pemikiran yang dengan serius mengkaji apa saja akar penyebab utama dari segala krisis yang ada, dan menawarkan solusi yang tepat (efektif) dan efisien.

Krisis multidimensional di negeri ini adalah sebuah realitas. Salah satu akar penyebabnya adalah ketidakmampuan kita untuk menangkap substansi suatu persoalan. Betapa banyak perdebatan ilmiah, ekonomi, politik dan budaya, hanya mampu mengupas kulit-kulit permukaan persoalan. Pembahasan dan diskusi yang terjadi seringkali bersifat ‘banal’ (superfisial), atomistik, terpilah-pilah (parsial) dan terlalu menyederhanakan masalah (simplisistik). Perbincangan mengenai demokrasi, hak asasi manusia, keadilan sosial-ekonomi, globalisasi dan budaya tidak jarang malah menjadi kontra-produktif karena tidak tergalinya dan terpecahkannya muatan-muatan filosofis yang menjadi asumsi dasar dan pengerak isu-isu tersebut.

 4. Krisis Eksitensial, Sumber Krisis Multidimensional

Enam abad sudah manusia mencanangkan kedaulatan dirinya. Dengan berpangkal pada rasionalitasnya, manusia (di Barat) mencari jati dirinya melalui gerakan renaisans, antroposentrisme filsafat/pemikiran modern, reformasi dan pencerahan (enlightmen/ Aufklarung). Dengan semboyan Sapere Aude (beranilah befikir sendiri !) manusia berkehendak otonom dan bebas dari segala belenggu otoritas dan tradisi (agama & budaya). Zaman Aufklarung abad ke-8 M merupakan puncak optimisme kekuatan rasionalisme sebagai pengganti iman dan pembawa obor kesejahteraan umat manusia.

Manusia moderen memberontak terhadap cara berfikir metafisis atau teologis. Langit suci dikoyakkan oleh intepretasi prematur kosmologi Copernican. Pengetahuan suci transendental didesakralisasi oleh rasionalisme dan empirisme. Pesona alam semesta dimusnahkan oleh ‘cogito’ Descartes dan mekanika Newtonian. Agama dan gereja bersama kaum pendetanya dikepinggirkan. Nilai-nilai moral tradisional dicampakkan. Norma-norma agama ditunding sebagai belenggu kebebasan dan otonomi subjek.

Sejalan dengan perkembangan kesadaran modernitas tadi, sekularisasi seakan menjadi tuntutan sejarah, dan kesadaran manusia modern. Sekularisasi adalah suatu proses di mana manusia berpaling dari “dunia sana” (world beyond) dan hanya memusatkan perhatiannya pada “di sini dan saat sekarang ini”[1]. Dengan sekularisasi ini, manusia merasa bebas dari kontrol dan komitmen nilai-nilai agama. Kesadaran sekular ini dimanifestasikan dalam pemisahan agama dari dimensi kehidupan, terutama dalam bidang sains, sosial, ekonomi dan politik. Agama hanya dipandang sebagai fenomena kebudayaan dan peninggalan sejarah manusia. Agama hanya menjadi subjek antropologi dan sejarah belaka.

Pendulum peradaban manusia yang mengarah kepada pemberontakan manusia modern terhadap agama terus melaju. Setelah agama, teologi dan metafisika berhasil disingkirkan dari wacana keilmuan dan kehidupan sosial dan kemanusian dengan menjadikannya hanya sebagai urusanindividu belaka, pemberontakan diarahkan langsung kepada jantung keyakinan agama, yaitu Tuhan. Feuerbach menyebutkan bahwa apa yang disebut Tuhan itu tidak lain adalah manusia ideal yang merupakan proyeksi dari nilai-nilai harapan manusia itu sendiri, seperti pengetahuan, kekuasaan, kemuliaan. Karena itu, Feurbach mengusulkan untuk menghapuskan teologi dan menggantinya dengan antropologi. Karl Marx menyebutkan Tuhan sebagai tokoh/konsep rekaan kaum kapitalistik-borjuis untuk membius kaum proletar. Lalu Nietzsche mendeklarasikan kematian Tuhan sebagai puncak pembebasan kemandirian manusia.

Namun, tak cukup sampai sampai di situ perlawanan dan pelecehan sekularisme-ateisme terhadap agama. Kaum positifis menvonis agama sebagai sekumpulan ilusi-khayalan tak bermakna apapun, karena tak dapat diverifikasi secara logis dan ilmiah. Freud bahkan menyebutkan kesadaran beragama adalah produk atau sublimasi dari dorongan-dorongan libido seksual yang tak tersalurkan; bahwa orang-orang yang beragama adalah orang-orang yang mengindap penyakit mental.

Jarum sejarah terus bergerak. Abad ke-20 adalah masa menuai badai. Psikoanalisa Freud ternyata tidak saja melecehkan agama. Di luar dugaan dan harapan manusia modern, psikoanalisa menjatuhkan wibawa rasionalitas dan kesadaran otonomi subjek yang dibanggakan selama ini. Freud yang sangat terpengaruh oleh Darwinisme mengumumkan hasil risetnya, bahwa sebagian besar perilaku manusia didorong oleh libido biologis semata, insting-insting hewaniyah di bawah sadar; bahwa kesadaran dan rasio manusia hanyalah berperan sedikit bagaikan puncak gunung es dalam lautan es yang merupakan alam bawah sadar manusia. Darwinisme dan Freudisme telah mengguncang rukun iman manusia modern terhadap kehebatan rasio.

Abad ke-20 & 21 adalah abad menuai badai. Kaum Kiri Baru (New Left) yang dirintis oleh tokoh-tokoh Mazhab Frankfurt melengkapi kejatuhan rasionalitas modernisme. Melalui analisis filosofis-sosiologis dan psikoanalisis, mereka membeberkan perilaku irrasionalitas masyarakat modern seperti sifat serakah, konsumerisme, tirani, hegemoni, fasisme, tribalisme. Horkheimer menyebutkan bahwa kebebasan individu dewasa ini adalah semu, sebab kebebasan itu hanya dibayangkan sedangkan kenyataannya individu diperbudak secara tidak sadar oleh masyarakat yang digerakan oleh kekuatan pasar dan kapital. Individu dan masyarakat modern kapitalis-konsumeristik digerakkan oleh apa yang disebut sebagai “kekuatan impersonal” seperti dunia iklan (advertising) dan hiburan (entertainment), dan pasar raya (mall), dan pasar modal. Siang-malam “kekuatan impersonal” itu memukau dan menjanjikan segala harapan. Orang modern terkesima dengan slogan-slogan iklan dan hiburan itu, dan bersedia menyerahkan diri diperbudak oleh “kekuatan-kekuatan impersonal” tersebut. Manusia modern telah menjadi robot-robot dan sekrup-sekrup kecil mesin sosial yang tak mampu lagi berfikir jernih memilih apa yang sebenarnya baik bagi dirinya, berdasarkan kesadaran fitrahnya.

Walhasil, proyek pembebasan manusia yang dicanangkan oleh renaisans, reformasi, dan Aufklarung telah gagal, karena manusia moderen telah dibelenggu oleh mitos-mitos baru, berhala-berhala baru, ilusi-ilusi baru, tahayul-tahayul baru dan tuhan-tuhan baru.

Abad ke-20 dan ke-21 adalah abad menuai badai. Perkembangan muthakhir ilmu pengetahuan pun, di luar dugaan dan harapan manusia modern, telah menggerogoti keyakinan manusia modern terhadap paham positivisme-ilmiah yang selama ini seolah menjadi rukun iman kedua mereka. Munculnya fisika modern dengan tercetusnya Teori Relatifitas Einstein dan Mekanika Quantum telah merubuhkan mekanika klasik Newtonian dan paradigma mekanistik-positifisme yang telah tiga abad dianut oleh manusia modern.[2] Alam semesta ternyata menyimpan misteri yang tak habis-habisnya dikaji. Muncul kesadaran pada manusia modern, terutama kaum akademisi dan terpelajar, bahwa mereka belum mengetahui apa-apa tentang seluruh alam semesta dan realitas; bahwa ternyata manusia dan alam semesta saling berhubungan secara mendalam. Kesadaran ini bagi kalangan terpelajar, memusnahkan hasrat manusia modern untuk dapat menundukan dan mengekploitasi alam, di samping juga secara bersamaan alam pun telah memberontak terhadap eksploitasi sewenang-wenang manusia, dalam bentuk polusi udara, air dan tanah, memanasnya iklim dan cuaca global, menipisnya lapisan ozon. Pada tataran teoritis, yaitu epistemology dan kosmologi, kesadaran ini mengguncang keyakinan manusia modern terhadap sains. Akibatnya berkembanglah gerakan skeptisisme dan nihilisme yang tak lagi mempunyai apresiasi terhadap sains dan juga bahkan, terhadap seluruh pengetahuan manusia. Generasi sophisme modern telah lahir kembali. Manusia telah mundur 2500 tahun kembali kepada sophisme Yunani klasik.

Abad ke-20-21 adalah abad menuai badai. Sains dan teknologi yang dijadikan tumpuan manusia modern untuk menggapai kebahagiaan ternyata berbalik mengancam eksistensi manusia itu sendiri. Telah dua kali perang dunia besar terjadi dengan memakan korban ratusan juta manusia oleh senjata hasil rekayasa teknologi. Berbagai senjata canggih, mulai dari senjata kimia sampai bom nuklir, dibuat untuk membunuh banyak manusia, atau setidaknya dipakai untuk mengancam dan menggertak negara-negara lain, sebagaimana yang dipraktekkan oleh USA & Israel terhadap negara-negara yang yang tidak mau tunduk kepada Amerika & Israel yang pongah itu. Manusia modern menyaksikan bahwa perkembangan sains dan teknologi ternyata tidak berkorelasi positif terhadap kesejahteraan umat manusia. Sekjen PBB Kofi Annan dalam peringatan hari PBB 24 Oktober 1999 lalu menyebutkan bahwa abad ke-20 sebagai abad yang paling kelam dan terkejam sepanjang sejarah umat manusia, abad yang paling sumpek dengan kisah penderitaan manusia. Kaum pemikir dan intelektual bijaksanawan mencemaskan bakal munculnya berbagai bencana kemanusiaan dan bencana alam pada abad ke-21 mendatang. Oleh karena itu, Anthony Giddens menyebutkan masa sekarang dicirikan dengan manufactured uncertainity, yaitu masa yang diliputi ketidakpastian dan mengarah kepadahigh consequence risk.[3]

Kisah penderitaan manusia menemukan jati dirinya, belumlah berakhir. Krisis modernisme tidak berhenti pada krisis irasionalitas dan moralitas, krisis epistemologis, krisis ekologis dan krisis kekerasan saja.

Namun krisis modernisme, yang juga melanda Indonesia, tidak berhenti hanya pada krisis epistemologis dan metodologis yang demikian itu. Yang lebih akut, justru terjadi pada tingkat ontologis berkenaan dengan krisis eksistensial manusia yang menyangkut hakikat, tujuan dan makna kehidupannya. Manusia modern telah terjerumus dalam krisis eksistensial, kehampaan spiritual, krisis makna dan legitimasi missi hidupnya, serta kehilangan visi dan terasing dari alam semesta, Tuhan dan dirinya sendiri. Albert Camus menggambarkan bagaimana setiap upaya manusia mencari hakikat jati dirinya selalu menemui kegagalan, sehingga sampai sedemikiandisimpulkan bahwakehidupan ituabsurd, tidak mempunyai makna. Menjalani kehidupan adalah bagaikan orang yang berjuang mendaki puncak gunung tanpa harapan akanpernah sampai ke tempat tujuan.Sehingga Camus mempertanyakan kenapa manusia yang tidak tahu dan tak punya tujuan hidupnya masih mau hidup di dunia yang tak bermakna ini. Kenapa manusia tidak lebih baik bunuh diri saja?

Abad ke-20-21 adalah abad menuai badai. Setelah 6 abad manusia mencangkan kedaulatan dirinya dan mendeklarasikan kematian Tuhan, keadaan kini berbalik. Jarum sejarah telah mengguncang sendi-sendi keyakinan manusia modern; rukun iman mereka tumbang. Rasionalitas, otonomi subjek, antroposentrisme, positivisme, sains dan teknologi, kini siap-siap menjadi puing-puing fosil peradaban. Energi telah sirna. Semangat telah pupus. Senja peradaban manusia modern telah membayang di pelupuk mata. Manusia modern telah mati.

Manusia telah mati? Sebagian di antara mereka lalu mewujudkan penampakan dirinya dalam perilaku sebagai Cheerful Robot, yaitu manusia yang berusaha melarikan diri dari kegelisahan jiwa dan kecemasan eksistensial mereka dengan menceburkan diri dalam hiburan, kenikmatan sensual (terutama seksual), konsumsi produk-produk mewah, pelesir ke tempat-tempat menyenangkan, dan sibuk beratraksi dengan berbagai permainan. Semuanya dilakukan dengan tidak sadar, dan sepenuhnya tunduk kepada rekayasa psikologis dari para kapitalis-imperialis ‘pedagang kesenangan’[4]. Sebagian lagi berperilaku bak Zombie, mayat hidup yang bergentayangan di jalan-jalan mencari mangsa; berdarah dingin tanpa emosi, bertindak anarkis-destruktif. Sebagian lagi, terutama pada kalangan terpelajar, kecemasan eksistensial diatasi dengan mencampakkan eksistensi mereka sendiri, yakni dengan mengambil sikap apatis, serba skeptis, nihilistic, dan jika perlu, bunuh diri.

Jalaluddin Rakhmat menulis, ”Ketika mereka mencampakkan Tuhan, mereka bukan hanya terasing dari Tuhan. Mereka terlempar ke dunia tanpa mengetahui ke mana mereka harus pergi. Mereka kehilangan arah.”[5] Walhasil proyek kedaulatan manusia yang telah dicanangkan oleh renaisans dan Aufklarung (reformasi) telah gagal, karena manusia modern telah dibelenggu oleh mitos-mitos baru, berhala-berhala baru, ilusi-ilusi baru, tahyul-tahyul baru, dan tuhan-tuhan baru! Manusia telah terbelenggu oleh petualangan liarnya sendiri, hingga tersesat dan tercampak dari dirinya sendiri, terasing dari alam semesta dan dari Tuhannya yang Sejati.

5. Perlunya Merakit Peradaban Baru

Filsafat, lewat metode berpikirnya yang ketat, mengajar orang untuk meneliti, mendiskusikan dan menguji kesahihan dan akuntabilitas setiap pemikiran dan gagasan. Pendeknya, menjadikan kesemuanya itu bisa dipertanggungjawabkan secara intelektual dan ilmiah.

Sebagaimana Syed Hossein Nasr katakan, krisis-krisis eksistensial ini bermula pada pemberontakan manusia modern kepada Tuhan. Krisis eksitensial ini merupakan manifestasi dari krisis spiritual manusia modern.Ketika manusia meninggalkan Tuhan demi mengukuhkan eksistensi dirinya, manusia telah bergerak dari dari pusat eksistensinya sendiri menuju wilayah pinggiran eksistensi. Kehidupan manusia modern, kata Nasr, telah terperangkap dalam pinggiran eksistensi mereka yang semakin lama semakin jauh meninggalkan pusat eksistensinya. Mereka kehilangan harapan kebahagian masa depan seperti yang dijanjikan oleh gerakan renaisance, enlightment era, sekularisme-materialisme sains dan teknologi. Oleh karena itu, kecemasan eksistensial yang menghantui manusia modern adalah merupakan konsekuensi logis alamiah dari modus eksistensi mereka yang mencampakkan kehidupan spiritual dan Tuhan mereka. Krisis ini bermula ketika manusia modern memberontak terhadap Allah Tuhan Yang Maha Pencipta.

Allah sendiri telah berfirman: “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS Al-Hasyr: 19). Jika kita merujuk kepada sabda Nabi SAWW: “Barangsiapa yang mengenal dirinya, akan mengenali Tuhannya.”Dan sabda Imam Ali KW: “Pokok pangkal agama adalah mengenal Tuhan.”, maka pengenalan jati diri manusia juga menjadi pokok ajaran agama.

Sayangnya, di satu sisi, sebagian generasi muda Muslim di kampus-kampus universitas umum maupun kampus agama Islam semacam UIN atau IAIN-IAIN yang awalnya berlatar pendidikan pesantren tradisional, malah mengalami gegar budaya dan intelektual, sehingga ramai-ramai berpaling pada pesona artifisial filsafat Barat (modernisme & postmodernisme) yang sekular-atheis, liberalis dan materialis. Di sinilah letak tantangan dan peran alternatif filsafat Islam yang dapat mendekonstruksi pandangan dunia (worldview) modernisme dan postmo yang masih memberhalakan materialisme, Darwinisme, atheisme dan sekuralisme tersebut. Munculnya fenomena kontrovesial gerakan “Islam Liberal” versus gerakan fundamentalisme “Islam Literal” niscaya dapat diatasi dan didamaikan dengan pendekatan Filsafat Islam.

Di sisi lain, keprihatinan kita terhadap kondisi psikososial umat Islam kontemporer adalah lambannya kelompok ini tampil kepermukaan dari ‘masa usia balitanya’ dalam banyak hal. Justru di banyak kampus perguruan tinggi ilmu umum (natural & social sciences) telah menjamur gerakan salafi militan literalis, yang mempromosikan pemahaman keberagamaan yang skriptualis (textual/harfiah) fiqhiyah dan superfisial, dengan semangat fundamentalisme radikal yang mudah terpesona oleh retorika dan orasi emosional tanpa penalaran dan pada saat sama gamang menghadapi realitas zaman yang menuntut kemampuan memahami orang lain tanpa hanyut kedalamnya. Mereka biasanya mengambil mengambil jalan pintas yang mudah, yakni dengan menutup diri (eksklusif) terhadap ideologi, ajaran dan ilmu pengetahuan asing, dengan cap stigmatis sebagai ajaran aliran sesat, bid’ah dan berbahaya, sambil menafikan potensi kreatifitas manusia atas nama tuhan yang mereka tafsirkan sendiri. Padahal keadaan zaman yang semakin plural dan kompleks seperti saat ini, kita dituntut untuk memiliki kemampuan apropriasi yang sebaik-baiknya. Inilah peran yang dapat dimainkan oleh Fislasat Islam, yaitu membuka wawasan berpikir umat secara holistik agar sadar terhadap fenomena dan perkembangan wacana keagamaan dan sains kontemporer, yang membutuhkan keterbukaan, pluralitas dan inklusifitas.

Sejarah memberi pelajaran banyak kepada kita, bahwa pemahaman agama yang dikhotomis, yakni mengagungkan Tuhan dengan melecehkan potensi kreatif dan otonomi yang telah Tuhan berikan kepada manusia, pada gilirannya akan melahirkan pemberontakan manusia kepada agama, dan bahkan juga, kepada Tuhan. Kisah kelam ini akan menjadi amunisi kaum sekuler untuk meminggirkan agama hanya menjadi persoalan individual dan domestik belaka. Mereka khawatir, jika agama memasuki wilayah persoalan publik, sebagaimana dituntut oleh sebagian kalangan umat beragama, maka agama dapat dengan mudahdiperalat untuk kepentingan kelompok tertentu untuk menindas kelompok lain; bahwa agama hanya menjadi topeng dari kepentingan sesaat suatu kelompok, Kekhawatiran ini adalah wajar adanya. Namun sempatkah kekhawatiran ini dikritisi? Benarkah kehawatiran ini muncul dari kesadaran yang ingin menjada kesucian agama? Ataukahjustru juga karena memiliki kepentingan yang sama, yakni ingin mendominasi persoalan publik dengan paradigma anti agama? Ataukah karena masih terpendamnya di alam bawah sadar mereka pekikan Nietzsche, suara Satre, hujatan Marx dan Freud terhadap agama, sehingga secara diam-diam pembela sekularisme ini memanifestasikan ateisme-terselubungnya itu dalam bentuk penolakan keterlibatan nilai-nilai agama dalam persoalan publik. Sebagaimana sering digaungkan oleh beberapa tokoh politik di Indonesia, jangan bawa-bawa agama dalam politik!

Murtadha Muthahhari, salah seorang filosof Muslim kontemporer, telah membuktikan bagaimana Filsafat Islam dapat menjadi pisau bedah dan obat terapi efektif untuk segala permasalahan yang ditemui pada masanya. Begitu juga rangkaian para filosof Islam lainnya, sejak Ibn Sina, Ibn Rusyd, Al-Farabi, Nasirudin Tusi, Sukhrawardidan berpuncak pada kesempurnaan filsafat Islam (al Hikmah al Muta’aliyah) pada Mulla Sadra dan generasi filosof sesudahnya (sepertiThabatabai, Imam Khomeini, Muthahhari, Taqi Misbah Yazdi, Hairi Yazdi, dll).

Maka, gerakan panjang untuk merintis dan merakit peradaban baru mestilah segera dimulai melalui pencerahan pemikiran dan pensucian hati. Upaya ini sangatlah niscaya dilakukan di Indonesia melalui pendekatan Filsafat Islam (yang mensinergikan pencerahan akal, pensucian hati dan spiritualitas agama) yang antara lain telah dirinstisoleh Islamic College for Advanced Studies (ICAS)-Paramadina Jakarta, CIPSI (Center for Islamic Philosophy, Science and Information) Jakarta, dan Pusat Kajian Filsafat Tasawuf & Tauhid (PUSKAFITT) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan bekerja sama dengan para tokoh intelektual Islam dan lembaga-lembaga akademik maupun oramas seperti IJABI, Muhammadiyah dan NU yang mempunyai visi dan missi sama.

5. Menghidupkan Kembali Ilmu-Ilmu Rasional

Tentu saja kritik atau tantangan filosofis yang begitu serius dan berbahaya terhadap bangunan metafisik, epistimologis dan etis Islam ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, tanpa respon dan bahkan kritikyang dapat dipertanggungjawabkan secara filosofis, karena kritik terhadap sebuah ide atau pendirian akan dianggap benar selama tidak ada yang membantahnya. Mungkin saja banyak orang (khususnya kaum intelektual) yang diam-diam telah termakan oleh tesis-tesis yang dikemukakan oleh ilmuwan-ilmuwan terkenal seperti yang telah disinggung di atas (Darwin, Freud, dan Durkheim) berkenaan dengan realitas-realitas metafisik, mengingat mereka telah dipandang oleh para pengikutnya sebagai “nabi-nabi” modern di bidangnya masing-masing. Kalau ini benar, maka bisa dibayangkan dampaknya bagi kepercayaan kita pada hal-hal metafisik. Oleh karena itu, adalah kewajiban moral kita sebagai kaum cendikiawan Muslim untuk sedapat mungkin memberikan jawaban-jawaban yang setimpal atau kritik logis terhadap pendirian filosofis mereka, agar dengan demikian keyakinan kita pada yang ghaib dapat terpelihara dengan baik dalam hati kita, di bawah naungan benteng filosofis yang tangguh dan tahan serangan.

Namun kitapun segera menyadari bahwa tugas ini maha berat, jauh lebih berat daripada yang dihadapi misalnya oleh al-Ghazali, apalagi al-Asy’ari. Karena yang kita hadapi, seperti telah disinggung di atas, adalah tantangan-tantangan filisofis yang berasal dari kaum positivis yang tidak percaya pada ajaran-ajaran agama, maka mereka hanya bisa dihadapi secara filosofis juga, yakni, berdasarkan kekuatan nalar rasional dan logik, bukan kekuatan religius dogmatik. Seperti halnya al-Ghazali telah menggunakan argumen filosofis ketika menjawab tantangan filosofis, maka kitapun harus menggunakan argumen-argumen filosofis untuk menjawab tantangan-tantangan yang kita bicarakan. Tetapi untuk dapat merumuskan jawaban-jawaban filosofis berdasarkan argumen-argumen rasional, mau tidak mau kita harus memperkuat bidang kajian filsafat kita, dengan misalnya mengkaji secara intensif karya-karya agung para filosofis Muslim, baik yang berkenaan dengan doktrin maupun metodologi. Namun hal tersebut mustahil kita capai kecuali dengan menghidupkan kembali ilmu-ilmu rasional yang telah berabad-abad dikembangkan oleh para filosof Muslim, tetapi yang di sebagian dunia Islam telah diabaikan kira-kira satu millenium, setelah serangan al-Ghazali terhadap mereka. Namun sebelum kita melanjutkan pemerian kita mengenai tujuan dan sasaran yang hendak kita capai dalam upaya revitalisasi ilmu-ilmu rasional ini, barangkali ada baiknya kita mencoba terlebih dahulu untuk menaksir “potensi” revitalisasi ini untuk menjawab tantangan-tantangan filosofis kontemporer. Dan ini tidak boleh hanya berdasarkan perhitungan hipotesis, melainkan harus bersandar pada data historis yang nyata. Oleh karena itu, saya ingin mengangkat kasus dunia Syiah, untuk mengambil pelajaran yang sangat berharga dari apa yang dilakukan saudara-saudara kita sesama Muslim yang dibesarkan dalam tradisi Syiah, yang senantiasa memelihara tradisi keilmuan rasional Islam bahkan hingga detik ini.

Kasus Dunia Syiah –yang merupakan minoritas dari umat Islam– dalam perkembangan ilmu-ilmu rasional ini cukup berbeda dengan kasus dunia Sunni. Di dunia Syiah tradisi keilmuan rasional-filosofis tidak pernah betul-betul mati. Bahkan dari abad ke abad tradisi tersebut senantiasa dijaga dan dikembangkan sehingga mampu melahirkan beberapa filosof terkemuka hampir di setiap abad. Tidak sampai satu abad setelah serangan al-Ghazali terhadap filsafat, tradisi dan sistem filsafat Ibn sina telah dihidupkan kembali dan dikembangkan dengan modifikasi illuminatif oleh Syihab al-Din Suhrawardi al-Maqtul (w. 587/1191) yang dikenal dengan “Syaikh al-Isyraq.” Demikian juga serangan terhadaap filsafat Ibn Sina oleh Fakh al-Din al-Razi (w. 606/1209) dijawab oleh Nasir al-Din Thusi (w. 673/1274), seorang fiolsof dan astronom Syiah yang terkenal. Dalam kapasitasnya sebagai direktur observatori Maraghah, Thusi mengembangkan tradisi filsafat Ibn Sina dengan gigih dan konservatif. Sedangkan tradisi-tradisi illuminasionis dipertahankan dan dikembangkan dengan warna Peripatetik oleh Qutb al-Din Syirazi (w. 701/1311), murid dan rekan kerja Thusi di observasinya, yang juga seorang astronom-filosof Syiah yang cukup terkemuka pada masanya.

Demikian juga pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan Shafawi, pada abad keenam belas dan tujuh belas, tradisi filsafat dan ilmu-ilmu rasional–yang pada saat itu telah diperkaya oleh tradisi illuminasionis yang diprakarsai Suhrawardi dan tradisi mistiko-filosofis yang berasal dari Ibn al-’Arabi (w. 638/1240)–terus dilestarikan dan dikembangkan dalam apa yang kemudian dikenal dengan “mazhab Isfahan” (The School of Isfahan) yang dipimpin oleh Muhammad Baqir Astarabadi atau lebih dikenal dengan sebutan Mir Damad (w. 1042/1632), yaitu salah seorang guru yang berpengaruh dari Mulla Shadra.

Tentu saja perkembangan ilmu-ilmu filsafat mencapai puncaknya dalam karya-karya agung Shadr al-Din Syirazi (Mulla Shadra) yang telah berhasil mensintesakan berbagai tradisi filsafat bahkan tradisi mistik–Ibn al-’Arabi dan juga Rumi (w. 672/1273)–yang berbeda-beda ke dalam sebuah sistem filosofis yang solid yang dikenal sebagai “teosofi transenden” (al-hikmah al-muta’aliyah). Ajaran filsafat Mulla Shadra kemudian dikembangkan oleh kedua muridnya, Mulla ‘Abd al-Razzaq Lahiji (w. 1072/1661) dan Mulla Faidl Kasyani (w. 1091/1680) dalam karya-karya mereka yang agung. Hasil dari semaian mereka muncullah filosof-filosof besar lainnya, seperti Syaikh Ahmad Ahsha’i (w. 1241/1826) dan Mulla Hadi Sabzawari (w. 1295/1878) yang keduanya hidup pada masa Qajar. Bahkan, sampai abad kedua puluh inipun dunia Syiah masih melahirkan filosof-filosof yang disegani dunia, seperti Murtadha Muthahhari (w. 1400/1979), Sayyid Muhammad Thabathaba’i (w. 1402/1981), Sayyid Jalal al-Din Asytiyani dan Mahdi Ha’iri Yazdi, yang keduanya masih hidup sampai detik ini. Dan tentu saja kita tidak boleh mengabaikan tokoh lain yang lebih akrab dengan kita seperti Shadr al-Baqir dan SayyedHossein Nasr, yang telah banyak kita kenal lewat tulisan-tulisan mereka.

Yang menarik dan lebih relevan dengan persoalan kita kali ini adalah bahwa di tangan para filosof yang telah disebutkan di atas inilah tradisi filsafat dan ilmu-ilmu rasional dipelihara, diolah dan dikembangkan secara sistematik sehingga mencapai tingkat kecanggihan yang tinggi. Konservasi dan pengembangan tradisi filosofis dan ilmiah inilah yang memungkinkan para filosof Syiah untuk membangun sistem-sistem filosofis yang besar, kokoh dan independen dan juga menyusun metodologi filosofis yang cocok dengan semangat pencaharian filosofos (philoso- phical inquiries) dan sesuai dengan perkembangan zaman. Sistem-sistem filosofis yang mereka bangun ini pada gilirannya memungkinkan mereka untuk mengadakan respon, dialog dan bahkan koreksi yang konstruktif dengan rekan filosofisnya dari dunia Barat. Oleh karena itu, tidak heran kalau seorang Thabathaba’i misalnya telah berhasil dengan baik dalam memberikan dialog atau lebih tepat kritik yang jitu terhadap Marxisme yang pernah dikembangkan di Iran oleh Partai Tudeh dan sangat berpengaruh terhadap kaum intelektual muda Iran. Dalam bukunya Osul-e Falsafeh va Ravesh-e Realim atau Prinsip Filsafat dan Metode Realistik, Thabathaba’i (dibantu dan dipopulerkan olah Murtadha Muthahhari) telah melakukan kritik yang sistematik dalam 14 risalah filosofis terhadap Marxisme, sehingga mampu memperkuat revolusi Iran dari dimensi filosofisnya. Demikian juga Mahdi Ha’iri Yazdi, murid dari Asytiyani dan Imam Khomeini, dan kini seorang professor filsafat di Universitas Teheran, telah mempersembahkan eksposisi filosofis–terutama dari sudut epistimologi–yang kemungkinan “pengalaman mistik” secara filosofis dalam sebuah kayanya yang penting, The Principles of Epistimology in Islamic Philosophy: Knowledge by Presence. Di sini ia menjelaskan dengan fasih dan dengan terminologi modern bahwa pengalaman mistik merupakan pengalaman obyektif dan bisa dijelaskan secara logis, dan bukan seperti yang sering dianggap oleh sementara ilmuwan sekuler sebagai “halusinasi.”

Cukuplah kiranya dua contoh di atas menjadi illustrasi kepada kita bahwa tradisi rasional dan filosofis Islam, kalau terus menerus dipertahankan dan dikembangkan akan sangat potensial untuk mampu menjawab tantangan-tantangan filosofis kontemporer yang muncul dari berbagai sistem filosofis dan ilmiah yang bersumber pada ajaran positivisme, materialisme, sekularisme dan atheisme.

Setelah kita mengetahui tantangan-tantangan filosofis yang kita hadapi saat ini dan urgensi untuk menjawabnya secara memadai, dan setelah menganalisa potensi dan aktualitas dari konservasi dan pengembangan tradisi rasional-filosofis dalam memberikan jawaban-jawaban yang diharapkan, dengan mengetengahkan kasus para filosof Muslim Syiah, maka saatnya kini bagi kita untuk merumuskan tujuan ideal dan sasaran-sasaran tertentu yang hendak kita capai dalam upaya kita menghidupkan kembali ilmu-ilmu rasional.

Adapun tujuan tersebut dapat kiranya dirumuskan sebagai berikut: Revitalisasi ilmu-ilmu rasional kita usahakan untuk mengenal lebih dekat doktrin dan metode penelitian para filosof Muslim. Dari segi metodologi kita ingin mengetahui misalnya berbagai jenis metode ilmiah dan logis yang mereka gunakan (misalnya retorik, puitis, dialektik, dan demonstratif) serta tingkat validitasnya. Selain itu kita juga ingin mengenal lebih jauh lagi kegiatan-kegiatan ilmiah macam apa yang mereka lakukan baik di bidang ilmu-ilmu kealaman (seperti penelitian fisika dan kimia di laboratorium atau eksperimen-eksperimen di bidang optik atau astronomi dan juga instrumen-instrumen pembantu yang mereka ciptakan dan gunakan) maupun bidang-bidang spekulasi filosofis dan pengalaman mistik. Selain tentang metodologi, kita juga ingin mengenal lebih baik lagi ajaran-ajaran (doktrin) filosofis mereka baik yang berkenaan dengan aspek metafisik, epistimologis dan aksiologis termasuk di dalamnya asumsi-asumsi dasar filosofis, rancangan-rancangan metafisik, epistimologi dan etik yang didasarkan pada asumsi-asumsi tersebut dan juga proses evolusi kreatif bangunan filsafat mereka dari yang sederhana sampai yang paling canggih.

Selain itu, revitalisasi ilmu-ilmu rasional ini juga mempunyai tujuan praktis yang tidak kalah pentingnya, yaitu melindungi kepercayaan agama dengan dan dalam sebuah benteng filosofis yang dibangun di atas dasar-dasar logika yang handal. Jadi berbeda dengan tujuan tujuan al-Ghazali dalam menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama yaitu untuk menghantam ilmu-ilmu rasional, revitalisasi ilmu-ilmu rasional kali ini justru untuk menguatkan dan melindungi kepercayaan agama dari serangan-serangan filosofis dan ilmiah yang dilancarkan oleh para pendukung filsafat positif-sekuler, dan bukan untuk menggugat apalagi menyerang kepercayaan agama. Tantangan filosofis seperti ini tentunya harus dihadapi secara filosofis dengan argumen-argumen rasional yang solid dan sistematik, dan bukan dengan dogma-dogma religius.

VISI

Membangun dan menyempurnakan kualitas intelektual, spiritual dan amal shaleh (program kerja) umat Islam dalam kerangka pandangan dunia Islam demi mewujudkan peradaban Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta.

MISSI (TUJUAN)

1.Melakukan penelitian-pengembangan (merekonstruksi) Pandangan Dunia Islam melalui kajian komprehensif-integratif: Filsafat Islam dan Sains Moderen, Tasawuf (Irfan) dan Tauhid

2.Menghidupkan kembali (merevitalisasi) tradisi keilmuan rasional yang terintegrasi secara holistik dalam pandangan dunia Islam (Tauhid) berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saaw.

3.Mengiatkan penelitian dan pengembangan serta merekonstruksi sistem ilmu pengetahuan umat Islam (natural science, social science dan religious science).

4.Mensosialisasikan hasil-hasil kajian dan informasi yang dimiliki Bayt al-Hikmah kepada Umat Islam pada khususnya serta umat manusia pada umumnya, melalui berbagai media komunikasi eletronik & cetak, paket kajian, diskusi, seminar, dll.

NAMA LEMBAGA :

BAYT AL-HIKMAH,

Pusat Kajian dan Pengebangan Filsafat, Tasawuf, Sains dan Peradaban

Direktur:

Ahmad Y. Samantho

(HP 08815 339 409, 08888 450 298, e-mail: ay_samantho@yahoo.com, ahmadsamantho@gmailcom)

PROGRAM STRATEGIS

Untuk menghidupkan kembali ilmu-ilmu rasional dan merealisasi tujuan ideal yang telah dirumuskan di atas tentu diperlukan suatu upaya kolosal yang tidak mungkin dapat dicapai oleh sekelompok kecil manusia, tetapi harus digarap oleh, dan menjadi tanggung jawab moral dari kaum intelektual Muslim di manapun berada. Tetapi di lingkungan kita yang terbatas ini (ICAS Paramadina University dan UIN Syarif Hidatullah Jakarta) apa yang bisa dan perlu dilakukan, sebagai partisipasi kita dalam ikhtiar kolosal ini, adalah membentuk pusat kajian filsafat Islam yang kira-kira sejajar dengan STF Driyarkara sebagai pusat kajian filsafat Barat. Faktor yang mendukung pendirian pusat kajian dan pengembangan Filsafat Islam, Tasawuf, Sains dan Peradaban: Bayt al-Hikmah ini di antaranya adalah kenyataan bahwa gerakan pembaharuan yang dilakukan di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta oleh almarhum Prof. Dr. Harun Nasution masih lebih condong pada pembaharuan teologis, jadibelum lagi mengarah secara khusus pada aspek filosofis. Adapun kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan PPIM juga lebih mengarah pada kajian Islam kontemporer dan lebih bersifat sosio-politis ketimbang filosofis. Sementara kajian-kajian yang marak dalam pengajian-pengajian paket akhir-akhir ini lebih terfokus pada tasawuf praktis populer dan jarang yang menyentuh aspek filosofis. Sementara upaya pembaharuan pemikiran Islam moderen yang digagas almarhum Prof. .Dr. Nurcholis Madjid, Prof.Dr., Jalaluddin Rakhmat dan Dr.Haidar Bagir, Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, dll. perlu intesifikasi dan ekstensifikasi gerakan pemikiran dan pengembangannya ke dalam ranah filsafat praktis dan ideologis serta ‘Sains alternatif baru’ yang tercerahkan.

Kajian Filosofis, khususnya Filsafat Islam –yang terintegrasi dengan pendekatan Tasawuf (Irfani) dan Tauhid (Theologis)–sangatlah penting untuk mengokohkanPandangan Dunia Islam, yang pada gilirannya niscaya akan membangkitkan kembali peradaban Islam di panggung dunia kontemporer. Sehingga kehadiran Umat Islam sebagai Khalifatullah di muka bumi ini benar-benar akan menjadi Rahmat bagi seluruh alam.

Untuk mencapai sasaran-sasaran di atas, Bayt al-Hikmah telah merancang kegiatan-kegiatan utamanya yang meliputi: (1) penerjemahan karya-karya klasik & kontemporer; (2) diskusi dan penelitian tentang isu-isu Filosofis, Tasawuf dan Tauhid yang relevan; (3) penerbitan sejumlah jurnal ilmiah, dan; (4) penyelenggaraan paket-paket kajian, pelatihan, diskusi, seminar.

1. Penerjemahan Karya-Karya Klasik & Kontemporer

Penerjemahan karya-karya utama pemikir besar dunia ke dalam sebuah bahasa merupakan langkah esensial dalam pembangunan dan perkembangan ilmu pengetahuan, dan bahkan peradaban sebuah bangsa. Ini misalnya telah terbuktisecara historis dalam perkembangan ilmu dan peradaban dunia Islam setelah menerjemahkan karya-karya klasik dari pelbagai peradaban terutama Yunani; maupun bagi ilmu dan peradaban Barat yang berkembang pesat setelah penerjemahan karya-karya klasik Muslim dan Yunani ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi). Dikatakan esensial karena penerjemahan karya-karya tersebut ke dalam suatu bahasa yang kita mengerti ibarat menyediakan bahan baku bangunan yang tentunya sangat diperlukan (indispensiple) kalau kita hendak membangun sebuah rumah. Karena itu penerjemahan dari karya-karya klasik Islam diperlukan, karena bagaimana kita akan bisa membangun sebuah sistem filsafat atau ilmiah Islam yang canggih untuk menjawab tantangan zaman, kalau bahan-bahan bakunya yang utama tidak tersedia di hadapan kita. Karena itu menurut hemat kami penerjemahan karya-karya klasik ini perlu mendapatkan prioritas sebelum melakukan langkah-langkah berikutnya, yaitu membangun sebuah sistem filosofis yang kita dambakan sendiri, karena penerjemahan seperti ini masih sangat tidak memadai.

Adapun karya-karya klasik yang perlu mendapat prioritas untuk saat ini dapat kita bagi ke dalam tiga kelompok. Pertama, karya-karya utama (masterpiece) dari filosof Muslim seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, al-Ghazali, Suhrawardi, Ibn Rusyd, Quthb al-Din al-Syirazi, Nashir al-Din Thusi, Mir Damad, Mulla Shadra, Mulla Hadi Sabzawari dan sebagainya. Kedua, karya-karya tentang biografis para filosof, seperti yang ditulis oleh Ibn al-Nadim (al-Fihrist), Ibn Abi Ushaibi’ah (‘Uyun Anba fi Thabaqat al-Athibba’), Syams al-Din Syahrazuhri (Nuzhat al-Arwah wa Raudlat al-Afrah), dan lain-lain, yang secara keseluruhan bisa memuat biografi dari ribuan filosof dan ilmuwan Muslim, yang banyak di antaranya belum kita kenal. Yang ketiga, adalah beberapa monograf yang bermutu dan lengkap tentang hidup dan karya para filosof Muslim tertentu baik yang sudah dikenal, seperti Ibn Sina dan Ibn Rusyd, maupun yang belum dikenal seperti Abu Sulaiman al-Sijistani, al-’Amiri dan Quthb al-Din al-Syirazi.

Adapun langkah-langkah teknis yang kita tempuh bisa seperti berikut: pertama kita mendaftarkan karya-karya klasik yang perlu kita terjemahkan. Dari daftar tersebut kita akan periksa mana yang telah ada di tangan kita dan mana yang belum. Yang belum kita miliki akan kita usahakan mencari dan mendapatkannya, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Dari naskah yang sudah kita miliki, kita juga akan memeriksa (dengan bantuan penerbit misalnya) mana yang sudah diterjemahkan, sehingga tidak terjadi penerjemahan ulang dari karya yang sama kecuali kalau terjemahan yang ada kita pandang tidak memadai. Setelah semua bahan telah tersedia, kita kemudian akan menyeleksi karya mana yang perlu dan mungkin kita terjemahkan terlebih dahulu, berapa karya yang kita rencanakan untuk tahun pertama, dan seterusnya–yang tentu saja akan disesuaikan dengan tenaga, dana, dan fasilitas yang tersedia pada saat ini.

Untuk menerbitkannya kita bisa misalnya bekerja- sama dengan beberapa penerbit yang sudah dikenal atau diterbitkan Bayt al-Hikmah Press sendiri kalau sudah terbentuk. Selain itu, kita bisa meminta supaya penerjemahan ini dicetak dalam format yang sama (seragam) dan tahan lama (hard cover) sebagai terjemahan serial karya klasik Pusat kajian Filsafat, sehingga sangat ideal untuk koleksi pribadi maupun perpustakaan. Penerjemahan harus diusahakan sebaik mungkin dengan menyeleksi para penerjemah yang disyaratkan bukan saja mahir dalam bidang bahasa, tetapi juga menguasai atau paling tidak akrab dengan bidang filsafat. Selain itu untuk memelihara mutu penerjemahan, perlu dibentuk tim penyunting yang betul-betul kompeten dan bekerja secara serius dan kritis. Untuk itu juga dimungkinkan ada revisi terhadap terjemahan yang sudah ada.

2. Diskusi Intensif dan Penelitian Filosofis yang Relevan

Penerjemahan karya-karya klasik tersebut di atas, betapapun bermutunya, bukanlah tujuan akhir dari pusat kajian ini, tetapi sarana untuk menfasilitasi kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya, seperti diskusi-diskusi tentang perbagai isu filosofis mapun kontemporer yang relevan dengan tujuan pendirian pusat kajian ini, dan penelitian-penelitian yang serius dan kreatif yang memungkinkan terciptanya sebuah sistem filosofis yang dibutuhkan pada saat ini untuk menjawab dengan baik tantangan-tantangan real yang kita hadapi.

Diskusi-diskusi tersebut tentu saja bisa kita arahkan pada isu-isu penting di bidang filsafat baik yang klasik maupun modern. Filsafat modern dan kontemporer kita akan diskusikan bahkan kalau perlu kita teliti, terutama agar kita dapat melihat dengan jelas apa sebenarnya tantangan atau kritik yang muncul dari filsafat modern terhadap filsafat Islam baik yang berkenaan dengan metafisik, epistemologi maupun etik. Tanpa pemahaman yang benar dan mendalam terhadap tantangan dan kritik mereka, tidak mungkin kita akan bisa memberikan jawaban atau dialog yang bermakna dan efektif. Pengkajian terhadap filsafat Barat juga bisa dilakukan dengan maksud untuk mencari tahu jawaban apa yang mereka berikan terhadap tantangan filosofis yang diajukan misalnya oleh kaum materialistk, positivis, dan sekuler terhadap mereka. Dengan begitu kita bisa berharap mendapat dukungan yang berguna dalam merumuskan solusi terhadap tantangan-tantangan filosofis zaman kita.

Adapun diskusi dan penelitian terhadap isu-isu klasik dapat diarahkan pada pendalaman tema-tema filosofis tertentu di bidang metafisik, epistimologi, etis, estetis, politik dan sebagainya, yang selama ini tampaknya kurang mendapatkan perhatian seharusnya. Pendalaman-pendalaman itu misalnya bisa kita arahkan pada konsep para filosof Muslim tentang wujud, yang sangat hangat diperdebatkan oleh mereka, konsep epistimologis, terutama yang berkaitan dengan sumber dan metodologi ilmu yang akan melibatkan pembicaraan tentang metodologi-metogologi dan signifikansinya bagi pembangunan sebuah sistem filsafat, konsep etika sebagai pengobatan spiritual dan pembianaan moral masyarakat, konsep kosmologis, yang menjembatani dunia fisik dan dunia metafisik (yang oleh para filosof Muslim klasik sebenarnya telah secara sangat intensif diperdebatkan dan dikaji dan saat ini juga digandrungi oleh para ilmuwan alam kontemporer), dan konsep-konsep filosofis lainnya yang kita pandang relevan dengan tujuan pusat kajian ini. Pendalaman itu bisa kita arahkan pada metode-metode ilmiah dan filosofis yang telah mereka (para filosof Muslim) bina dan dikembangkan selama berabad-abad dan telah berhasil membangun bermacam-macam sistem filosofis dan sufistik yang canggih dan solid. Demikian juga tradisi dan etos kesarjanaan Muslim adalah hal yang menarik untuk dikaji dan diteliti lebih lanjut di pusat kajian.

Adapun partisipasi dari kegiatan ini bisa terdiri dari “inner circle” yang akan anggota-anggotanya ditentukan berikutnya, para sarjana yang bersimpati dan punya komitmen terhadap cita-cita pusat kajian ini, dan juga mahasiswa pascasarjana, dari berbagai perguruan tinggi dan universitas, yang punya minat khusus untuk meneliti aspek-aspek filosofis penting yang selama ini terabaikan. Atau mereka yang tertarik secara khusus pada penelitian terhadap tokoh-tokoh filsafat yang belum banayak dikenal, yang disenut sebagai the Minor Philosopher, atau karya-karya filosofis mereka yang masih langka, dan karya-karya ilmiah lainnya.

3. Penerbitan Jurnal Ilmiah dan Buku-buku

Kehadiran sebuah jurnal dalam suatu lembaga ilmiah saperti pusat kajian ini sangatlan diperlukah. Jurnal inilah yang akan merekam perkembangan pemikiran lembaga tersebut, aspirasi, konsep dan aktivitas-aktivitasnya. Perkembangan pemikiran bisa direkam di dalamnya dalam bentuk artikel-artikel pilihan, resume dari penelitian dan riset yang dilakukan pusat kajian, hasil-hasil seminar dan diskusi intensif yang dilakukan inner circle, ataupun tulisan-tulisan terpilih dari paket-paket kajian yang akan melibatkan audiensi dana narasumber yang lebih luas. Termasuk juga di dalamnya resensi atau analisis kritis terhadap karya yang dikaji atau diterjemahkan. Aspirasi dan konsep-konsep anggota atau pihak terkait bisa tercermin dalam jurnal tersebut dalam arikel-artikel lepas yang inspirasional baik yang ditulis oleh sarjana-sarjana dalam maupun luar negeri yang kita pandang sangat bagus dan membangkitkan minat pembicaraan intelektual yang lebih intensif. Kegiatan-kegiatan ilmiah dapat direkam baik dalam laporan khusus tentang kegiatan-kegiatan akademis atau rekreasional yang dilakukan lembaga itu, maupun dalam tema-tema tertentu dan topik-topik yang dipilih untuk jurnal tersebut.

Karena itu Bayt al-Hikmah bermaksud untuk menerbitkan sebuah jurnal ilmiah dengan nama ”Theosophy.” Namun ini dipilih sesuai dengan fokus jurnal ini –yang juga pada gilirannya merupakan refleksi dari fokus pusat kajian itu sendiri– yaitu filsafat, khususnya filsafat Islam. Jadi jurnal ini akan berbeda dengan jurnal-jurnal lain yang semakin marak akhir-akhir ini, karena fokusnya pada filsafat Islam dan Irfan/Tasawuff. Sumber-sumber tulisan yang akan dimuat dalam jurnal ini akan fleksibel: bisa artikel lepas, artikel terjemahan, artikel hasil-hasil diskusi, penelitian dan seminar yang akan diselenggarakan pusat kajian. Bisa juga sumbangan dari tulisan sarjana-sarjana dalam dan luar negeri yang kita pandang punya relevansi yang jelas dengan misi dan visi pusat kajian. Jurnal ini akan dengan gembira memuat resensi buku-buku terbaru dalam dunia filsafat yang sangat perlu diketahui dan diikuti perkembangannya; seperti juga laporan-laporan mutakhir perkembangan filsafat baik di dunia Islam maupun Barat yang relevan. Selain itu jurnal ini akan tertarik tulisan-tulisan ilmiah yang menelusuri perkembangan metafisis di dunia Barat, baik di bidang sains maupun filsafat sendiri, dan pelbagai tulisan yang bermanfaat bagi perkembangan pusat kajian ini.

4. Penyelenggaraan Paket-paket Kajian, Pelatihan, Diskusi dan Seminar.

Kegiatan-kegiatan ilmiah yang sejauh ini kita bicarakan mungkin akan bersifat terbatas karena di-share oleh kelompok kecil yang terlibat langsung dalam kegiatan pusat kajian. Tetapi manakala dipandang perlu untuk mengkomunikasikan hasil-hasil temuan dan eksplorasi ilmiah filosofis kepada kalangan yang lebih luas, maka pusat kajian akan menyelenggarakan paket-paket kajian dengan mengambil tema-tema khusus dalam bidang metafisika, epistimologi, etika, politik, dan sebagainya atau kalau mungkin kajian-kajiaan tokoh dan topik topik ilmiah lainnya.

Untuk itu pusat kajian akan membuat panitia khusus sebagai penyelenggara paket-paket kajian secara profesional dengan tema-tema tertentu yang akan diputuskan terlebih dahulu oleh rapat pusat kajian. Dalam penyelenggaraan program tersebut pusat kajian akan menggalang kerjasama dengan pelbagai instansi yang berminat baik instansi akademik, lembaga-lembaga pemerintahan dan pendidikan, ataupun kelompok-kelompok studi dan media massa yang merasa yakin akan mendapat keuntungan dari kerjasama tersebut.

Adapun nara sumber akan kami seleksi dari sarjana-sarjana yang betul-betul menguasai bidangnya. Kalau perlu kita akan mencoba datangkan pakar-pakar dari luar negeri baik dari Timur Tengah maupun Barat, baik Muslim maupun non-Muslim. Sedangkan peserta program paket kajian ini terbuka bagi siapa saja yang merasa akan mendapatkan manfaat dari kegiatan tersebut di atas, terutama dalam menghadap pelbagai tantangan zaman yang semakin tidak menentu. Jadi, tujuan program paket kajian filsafat ini tidak lain daripada mempopulerkan diskursus filsafat kepada yang lebih luas dan beragam agar dengan demikian pusat kajian dapat memberikan sumbangan pikiran yang konstruktif dan bermanfaat bagi bangsa dan negara tercinta .


[1] Harvey Cox, The Secular City, 1966, hal.2

[2] (David Bohm, The Wholeness and The Implicate Order, New York, 1980).

[3] A. Giddens, Beyond Left and Right, Cambridge, 1994.

[4] Ashley Montagu dan Floyd Matson, The Dehumanization of Man, New York, 1983).

[5] Jalaluddin Rakhmat, Makna Kejatuhan Manusia di Bumi, dalam Religius Islam, Jakarta, 1996

Direktur  : Ahmad Y. Samantho

 HP 0852 2825 0133

e-mail: ay_samantho@yahoo.com,

ahmadsamantho@gmail.com,

ahmad_samantho@icas-indonesia.org

Blogs Address:

http://www.ahmadsamantho.wordpress.com

Supporting Blogs:

http://www.bayt-al-hikmah.blogspot.com

Http://www.ahmadysamantho.wordpress.com

http://www.acrossindonesia.wordpress.com

http://www.icasjakarta.wordpress.com

DONATION  For Developing Bayt al-Hikmah Institute, Please send to:

Rek. BCA Cabang Bogor,

an. Ahmad Yanuana Samantho, No. 0952493785

Salam, Inilah Website Bayt al-Hikmah Samantho.

Inilah rumah kita untuk menampung hikmah yang kudapat selama perjalanan intelektual dan ruhaniku. Mudah-mudahan bisa sharing dengan teman-teman di mana pun berada, dari kelompok sosial dan agama apapun. Karena Hikmah adalah harta berharga yang harus kita kumpulkan dan sebarkan untuk menyempurnakan kemanusiaan kita.

Anto kecil terlahir di kota Hujan Bogor, tepatnya di depan Istana Bogor (RSAD Salak) 14 Januari 1965 dari rahim ibunda Rr. Lieke Sri Suryaningsih binti Hussein Martoseputro dan ayahanda Sukarya Danimiharja. Ibuku berdarah Jawa campuran Persia-Arab. Menurut silsilah keluarga dari ibuku, aku adalah keturunan ke 14 dari Maulana Malik Ibrahim Kasyani (Maulana Magribi, Wali yang pertama dari Wali Songo). Sedang Ayahku suku Sunda dari Kuningan Jawa Barat. Dia (Almarhum ayahku) adalah Doktor Ahli Peneliti Utama bidang Bioteknologi Perkebunan di Deptan RI. Aku sangat bangga dengan semangat belajar ayahku, kedisiplinan dan tradisi ilmiah yang ditanamkannya kepada anak-anaknya.

Pendidikan dasar dan menengahku ditempuh di kota kelahiranku Bogor. Selepas dari SMA Negeri 1 Bogor, tahun 1983, aku mulai kuliah di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Tapi karena mengalami gejala “Pubertas Aqidah” dan keaktifanku berorganisasi, bekerja sebagai wartawan dan mengaji/mendalami kajian keislaman, membuatku meninggalkan bangku kuliah Fakultas Hukum Unpad di semester 7.

Karier kerjaku dimulai sebagai wartawan Majalah Dakwah Islamiyah RISALAH, terbitan PP Persis (ormas Persatuan Islam) di Bandung. Setelah 3 tahun bekerja sebagai Reporter dan Editor/ Redaksi di RISALAH, kemudian pindah menjadi Koresponden majalah KIBLAT Jakarta dan Tabloid Ishlah MUI Bandung.

Bosan menjadi wartawan Media Islam yang kembang-kempis, akhirnya membuatku beralih profesi menjadi guru dan pendidik di sekolah swasta Islam. Mulai dari mengajar Bahasa Indonesia dan Sejarah di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Babussalam, Ciburial Bandung, sampai aku menikah tahun 1988 dengan sesama santri di Pesantren al-Qur’an Babussalam, Siti Sumirah, yang dikenalkan oleh Pak Kyai Muhtar Adam kepadaku. Ustadzku KH Dr.Jalaluddin Rakhmat, membekaliku dengan nasihat perkawinan pada aqad nikahku di Mesjid As Salam yang sederhana.

Dari Rahim Siti Sumirah aku dikaruniai Tuhan 3 putra: Maulana Ahmad Hussain Khomeini, Muhammad Iqbal dan Muhammad Taufiqurahman.

Karierku sebagai guru dan pendidik selama 20 tahun, berlanjut di SMP-SMA Insan Kamil Bogor, lalu di SLTP Internat Al-Kausar Sukabumi, milik keluarga Sri Rahayu Fatimah Habibie dan di SMU Plus Muthahhari Jakarta, (yang dikelola Ustadz Jalaluddin Rakmat dan Dr.Haidar Bagir), lalu di SMU Plus Lazuardi (milik Dr. Haidar Bagir).

Sambil mengajar, kuselesaikan kuliah S-1 di FISIP-UT jurusan Administrasi (Manajemen) Pembangunan. Lalu setelah selesai kuliah S-2 Filsafat Islam di ICAS, sambil menyelesaikan thesisku, kini aku bekerja di Islamic College for Advanced Studies (ICAS), mengelola Program BA/Sarjana S-1 Islamic Studies dan Students Affair. Sebelumnya aku pernah bekerja sebagai Manager Pendidikan dan Dakwah di Yayasan Rahmatan lil-‘Alamin milik Ustadz Husain bin Hamid Alatas di Cawang Jakarta dan Manager Pendidikan dan Dakwah di Islamic Cultural Center (ICC) Jl. Buncit Raya Jakarta.

Selama setahun lebih aku membidani dan mengelola Website The Jalal center for The Enlightenment sampai Mei 2007, dan aktif di berbagai organisasi seperti Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Ketua RW 14 Griya Kalisuren, Kab.Bogor. Pokdar Kamtibmas & Mitra Polisi di Polsek Bojong Gede Bogor.

Aku sangat menikmati perkerjaanku di dunia akademik, intelektual dan dakwah-sosial di ICAS dan Ikatan Jamaah Ahlul Bayt Indonesia (IJABI). Aku bahagia ditengah segala keterbatasanku yang akhirnya membuatku harus kreatif mengelola semua karunia Ilahi yang telah kuterima. Thanks God.

Ahmad Samantho al-Husaini

CURRICULUM VITAE

 IDENTITAS DIRI

Nama              : AHMAD YANUANA SAMANTHO, S.IP, M.A. M.Ud

Tempat  dan Tanggal Lahir           : Bogor, 14 Januari 1965

Jenis Kelamin                                      : □ Laki-laki

Status Perkawinan                            : □ Kawin

Agama                                                   : Islam

Golongan / Pangkat Akademik  : Assisten Ahli

Perguruan Tinggi                              PMIAI Universitas Paramadina –ICAS Jakarta

Alamat           :   jl. Pejaten Raya, No, 19, Pasar Minggu, Jakarta Selatan

Telp./Faks.  : +62-21- 7806545, Fax. +62-21-7806425

Alamat Rumah  : Griya Kalisuren Blok A-1, No.5, Desa Kalisuren, Kec. Tajur Halang,   Kab.Bogor

Telp.                  : 0852 3825 0133,

Alamat e-mail  : ahmadsamantho@gmail.com, ay_samantho@yahoo.com,

   ahmad_samantho@icas.ac.id

RIWAYAT PENDIDIKAN PERGURUAN TINGGI

Tahun

Lulus

Program Pendidikan(diploma, sarjana,

magister, spesialis, dan doktor)

Perguruan Tinggi

Jurusan/

Program Studi

2010 Program Magister Ilmu Agama Islam  (PMIAI) (PMIAI) Universitas Paramadina-Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta Konsentrasi Filsafat Islam
1998 Sarjana Ilmu Politik (S..IP) Universitas Terbuka, Indonesia Administrasi Pembangunan
1999 Akta IV (Kelayakan Mengajar) Universitas Terbuka Indonesia Fakutas Ilmu kependidikan
Program S-1/Sarjana (Tidak Lulus) Universitas Terbuka Indonesia Fakultas Ekonomi, Jurusan Manajemen
Program Sarjana Muda Hukum (Sm.Hk) Universitas Padjadjaran Bandung Fakultas Hukum,  Jurusan Hukum  Tata Negara

PELATIHAN PROFESIONAL

 

Tahun Jenis Pelatihan( Dalam/ Luar Negeri) Penyelenggara

Jangka waktu

1983

Penataran Pelaksanaan Pedoman penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4) Pola Pendukung 25 jam Universitas Padjadjaran bekerjasama dengan BP-7. 5 hari

1983

Training Jurnalistik Dasar Majalah YANG MUDA Kharisma Mesjid Salman-ITB

1984

Pendidikan dan Pelatihan Koperasi Mahasiswa Universitas Padjadjaran Bandung

Universitas Padjadjaran Bandung

4 hari

1984

Kursus dasar Komputer (Program Wordstar,D-Base III & Lotus ) Pesantren Al Qur’an Babusalam, Ciburial, Bandung. 6 hari

1984

Training Jurnalistik Islami Fakultas Ekonomi Universitas Islam Bandung (UNISBA) 2 hari

1984

Training Jurnalistik tingkat Madya Majalah dakwah Islamiyah RISALAH Persis Bandung 3 hari

1984

Studi Islam Intensif (SII) B-4 Bidang Kaderisasi DKM Mesjid Salman ITB Bandung 7 hari

1986

Latihan Penelitian dan Perencanaan Dakwah (LPPD) Laboratorium dakwah dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) 7 hari

1984-1985

Mentoring Islam Keluarga Remaja Islam Mesjid Salman (Kharisma) ITB Bandung 1 tahun

1983

Mentoring Agama Islam Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung 6 bulan

1986-1990

Dirosah Islamiyah & Tafsir Al-Qur’an Pesantren Al-Quran Babusalam , Dago-Ciburial, Bandung 3 tahun

1993-1994

Penataran Sanggar Peningkatan Keterampilan Guru (PKG) Bahasa Indonesia, PKG  Bahasa Indonesia & Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bogor 18 hari

1994

Pelatihan Manajemen Sekolah & Administrasi Pendidikan Yayasan Pendidikan Insan Kamil Bogor 2 hari

1997

Kursus Komputer Tingkat Lanjut (MS Office Windows: MS Word, Excel, Acces, Power Point & Publisher Gudwah Islamic Digital Edutaintment (GUIDE) Jakarta & Yayasan Pendidikan Al-Kausar 6 hari

1997

Pelatihan Metode Pendidikan Alternatif (Mentoring & Psikologi Pendidikan Islami Ikatan Remaja Mesjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat 8 hari

1999

Profesional Teacher Training Yayasan Pendidikan Internat Al-Kausar Sukabumi 3 hari

1999

Pelatihan Jurnalistik Dakwah Tingkat Lanjut Yayasan Sidik, Jaringan Media Profetik & Yayasan Al-Amanah, DepKeu RI, Jakarta 3 hari

1999

Seminar Nasional: “Peluang dan Tantangan Bidang Pendidikan, Politik, Ekonomi, dan Teknologi Menghapi Transformasi Universitas Terbuka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

2000

Outbond Teamwork Training Yayasan & Manajemen Pendidikan Internat Al-Kausar Sukabumi 4 hari

2000

Pelatihan Fasilitator Perencanaan dan Pengawasan Pembangunan Kota Bogor (Urban Management Advisory) UMA-UNDP (PBB) 6 hari

2002

In House Training Kurikulum Bebasis Kompetensi (KBK) dan Pendidikan Berbasis Kompetensi (PBK) SMU Plus Muthahhari, Bandung 3 hari

2003

In House Training Kurikulum Bebasis Kompetensi (KBK) dan Pendidikan Berbasis Kompetensi (PBK) SMU Plus Muthahhari, Bandung 1 hari

2007

Short Courses Filsafat Isyraqiyah (illuminationism), Mantiq, Comparative Philosophy, International Center for Islamic Studies (ICIS)-Qom- Iran 2 bulan

2012

Pelatihan Pengelolaan Jurnal Ilmiah di lingkup Universitas Paramadina Universitas Paramadina, Jakarta 1 hari

PENGALAMAN MENGAJAR

 

Mata Pelajaran/ MataKuliah

Program Pendidikan

Institusi/Jurusan/Program Studi

Sem/Tahun Akademik.

Bahasa dan Sastra Indonesia, Sejarah & Geografi

Madrasah Tsanawiyah & Madrasah Aliyah

Mts & MA Babussalam Ciburial-Bandung,

SLTP Internat Al-Kausar Sukabumi1986-1989

Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa Inggris, PMP/PPKN, Sosiologi-Antropologi

SMP-SMA

SMP & SMA Insan Kamil Bogor,

1990-1996

Bahasa dan Sastra Indonesia, Sejarah Dunia dan Sejarah Nasional Indonesia

SMP-SMA

SLTP Internat Al-Kausar, Sukabumi

1997-2000

Bahasa dan Sastra Indonesia,

SMA

SMA Plus Muthahhari Jakarta

2000-2001

Bahasa dan Sastra Indonesia,

SMA

SMA Lazuardi Global Islamic Scholl, Depok

2001-2003

Logika

S-1

STAI Madinatul Ilmi

2004-2005

Pengantar Filsafat Islam

S-1

STAI Madinatul Ilmi

2004 -2005

Filsafat Panca Sila

S-1

STFI Sadra

2011 & 2012

 

 

PRODUK BAHAN AJAR

 

Mata Kuliah

Program Pendidikan

Jenis Bahan Ajar

(cetak dan  noncetak)

Sem/Tahun Akademik.

Bahasa dan Sastra Indonesia

SLTP Internat Al-Kausar

Modul – Cetak &  OHP Trasparansi

1997-1998

Sejarah Nasional Indonesia

SLTP Internat Al-Kausar

Modul – Cetak &  OHP Trasparansi

1997-1998

Quantum Learning & Accelerated Learning

SMA Lazuardi GIS & SMA DWiwarna

Transparansi & Slide

2002

Filsafat Panca Sila

S-1

Makalah & Power Point Presentation

2010-2011

 

 

 

 

 

PENGALAMAN PENELITIAN

 

Tahun

Judul Penelitian

Ketua /Anggota Team

Sumber Dana

 

 

2008-2010

Traditional Sacred Science and Sophia Perennialism as a Solution for the Crisisc of Modernism (Modern Science) in Seyyed Hossein Nasr’s View

 

Pribadi

2007-2012

Sejarah Nusantara Kuno dan Peradaban Sunda Land

 

 

 

KARYA ILMIAH*

 

  1. A.   Buku/Bab Buku/Jurnal

Tahun

Judul

Penerbit /Jurnal

1986

Islam dan Sains (Terjemahan Science and Islam karya Prof.Dr. Abdussalam, Pakistan) Belum diterbitkan

1997

Pengolahan Unggas, Teknologi Pangan dan Gizi, terjemahan LSI-IPB Bogor, 1997

2000

Jurnalistik Islami, Pedoman Praktis bagi Para Aktifis Muslim Hikmah – Penerbit Mizan, Jakarta

2000

Media, Emansipasi dan Modernitas, Argumentasi tentang Media dan Teori Sosial, Terjemahan. Mizan, Jakarta (belum diterbitkan)

2004

Buku Daras Theologi (Terjemahan dari Theological Instruction karya M. Taqi Misbah Yazdi) Belum diterbitkan

2004

Herbal Therapy dalam Al-Qur’an, terjemahan Hikmah, Mizan Jakarta

2004

Sifat-Sifat Kemuliaan (Terjemahan dari Awsaf  al Asyraf, Karya Khwajah Nasiruddin Thusi) Penerbit  Intermasa, Jakarta

2011

Peradaban Atlantis Nusantara Penerbit Ufuk Press, Jakarta

 

*termasuk karya ilmiah dalam bidang ilmu pengetahuan/teknologi/seni/desain/olahraga

  1. B.   Makalah/Poster

Tahun

Judul

Penyelenggara

2004

Quo Vadis Reformasi Indonesia Bayt  Al-Hikmah Institute Online

2009

Misteri Peradaban Atlantis Akhirnya Terungkap Majalah Madina, Jakarta

8 Juli 2011

Tasawuf Sebagai Epistemologi Harian Pelita, Jakarta
  1. C.  Penyunting/Editor/Reviewer/Resensi

 

Tahun

Judul

Penerbit/Jurnal

1984-1987

Majalah Dakwah Islamiyah RISALAH PP Persis Indonesia -Bandung

2009

Majalah Madina Penerbit Madina – Yayasan Paramadina Jakarta

2011

Eden in The East, (terjemahan) karya Stephen J. Oppenheimer Penerbit Ufuk Press

2011

Cincin Api (terjemahan Ring Of Fire), Penerbit Ufuk Press
     
     

 KONFERENSI/SEMINAR/LOKAKARYA/SIMPOSIUM

Tahun

Judul

Kegiatan Penyelenggara

Panitia/

peserta/pembicara

2012

Ekspose Hasil Peneliltian Situs Megalitikum “Piramida” Gunung Padang Cianjur dan Gunung Sadahurip, Garut Kantor Staff Khusus Presiden RI, bidang Riset Kebencanan Katastropik Purba Peserta

2012

Diskusi Hasil Temuan Penelitian Piramida Sadahurip Garut dan Gunung Padang Cianjur Kantor Staff Khusus Presiden RI, bidang Riset Kebencanan Katastropik Purba Narasumber Pembahas.

2012

Seminar Nasional Dialog Budaya Nusantara Seminar Nasional, Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) Peserta

2012

Sarasehan Budaya Sunda Wakil Bupati Bogor: Karyawan Faturahman Narasumber

2012

Sarasehan Budaya Sunda Kuno si Situs Gua Langkop, Gunung Salak, Bogor Wakil Bupati Bogor: Karyawan Fathurahman Narasumber

2012

Sarasehan Budaya Sunda Kuno di Situs Cibalay-Salaka Domas, Gunung Salak Bogor

Wakil Bupati Bogor: Karyawan Faturahman

Narasumber

2011

International Seminar: “Islamic Education System amid The Global World Challenge” Ikatan Alumni Jamiat al-Mustofa Peserta

2011

Annual Conference on Islamic Studies ke 11 Kemenag RI – STAIN SAS Bangka-Belitung Peserta

2011

Seminar Nasional Tasawuf Filosofis Nusantara Internasional Society for Islamic Philosophy (ISIP), region Sout Esat Asia, Autralia & New Zealand Panitia Pelaksana (OC)

2010

International Conference on Sundanese Culture: Reinventing Sundanese Culture Dinas Parawisata dan Budaya, Pemerintah Propinsi Jawa Barat Pengagas dan Panitia Pengarah (SC)  dan Moderator

2010

Serial Discussion on Epistemology: “A Comparative Study of Western and Islamic Perspective” Ibn Arabi and Mulla Sadra Corner of The Islamic College Jakarta Peserta Aktif & panitia

2010

International Semnar on Islamic Mysticism: “The Soul According to Ibn Arabi” Ibn Arabi and Mulla Sadra Corner of The Islamic College Jakarta Peserta Aktif & Panitia

2010

National Seminar on Islamic Philosophy and Mysticism: ;Ibn Arabi and Mulla Sadra Schools of Thought” Ibn Arabi and Mulla Sadra Corner of The Islamic College Jakarta, & UIN Syarif Hidayatullah Peserta

2010

Seminar “The Annual Al Quds Day” Voice of Palestina & HMI MPO Jakarta Selatan Peserta

2009

Serial Conference on Philosophi Emerging From Culture IAI Universitas Paramadina –ICAS Jakarta &  CRVP Catholic Washington University Panitia (OC)

2009

International Seminar on Muthahhari Thought Program Pascasarjana IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung Peserta

2008

Diskusi Panel Roundtable: “Evolution or Permanence of Intelligence and Creatitivity Aviciena Center for Religions and Science Studies (ACRoSS) Panitia dan Peserta

2007

National Seminar “Pancasila as  Modus Vivendi in Religion and Believe in Indonesia” IJABI, BPKBB, PMIAI Universitas Paramadina -The Islamic College (ICAS) Pengagas dan Panitia pelaksana (OC)

2007

Seminar:  “Comparative Studies on Mystical Ideas between Hamzah Fanshuri and Ayatullah Khomeini” ICAS Jakarta & Fakultas Falsafah-Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Ketua Panitia Pelaksana (OC)

2006

Revitalisasi Ideologi Panca Sila Ikatan Jamaah Ahlu Bait Indonesia (IJABI) Penggagas dan SC-OC

2006

Public Lecture “Nature of Man: In the Perspective of Islamic Philosophy and Its Comparison to Western Philosophy” University of Indonesia & The Islamic College (ICAS) Peserta

2006

Discussion on Book Review: “Lebih Tajam dari Pedang” PMIAI Universitas Paramadina-ICAS Jakarta Peserta

2006

Short Course: “Introduction to Islamic Philosophy: The Characteristic of Islamic Philosophy”  PMIAI Universitas Paramadina-ICAS Jakarta Panita

2006

Public Lecture “Issues on Justice and Spirituality” PMIAI Universitas Paramadina-ICAS Jakarta Peserta

2006

Reflection on Al Jabiri’s Thought on Critical Reason of Arabian  PMIAI Universitas Paramadina & The Islamic College (ICAS) Peserta

2005

International Confererence on Murtadha Muttahhari Tought PMIAI Universitas Paramadina –ICAS Jakarta Panitia (OC)

2005

Student Stircle Seminar: Religion Multiculturalism dan Pluralisme PMIAI Univertas Paramadina-ICAS Peserta

2005

Student Circle: “Text and Reality: Hermeneutic Strained in Islamic Thought” PMIAI Universitas Paramadina-ICAS jakarta Peserta

2005

International Conference Islamic Education in Globalization Era PMIAI Universitas Paramadina –ICAS dan UHAMKA Moderator

2005

International Seminar on Contemporary Challenges for Islamic Educational Institution Program Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah & The Islamic College (ICAS) Panitia (OC)

2005

Hermeneutics and Inter-religious Dialogue University of Indonesia & The Islamic College (ICAS) Panitia (OC)

2005

International Seminar on Religion & Ecology: Opportunities and Challenges Master Program of  Environment Study, UI & The Islamic College Panitia (OC)

2005

Be Familiar with Nurcholish  Madjid as a Nation Father (Guru) Yayasan Paramadina & The Islamic College (ICAS) Peserta

2005

Book Launch and Discussion  “Menjadi Muslim Liberal” (Be A Liberal Moslem), written by  Ulil Abshar-Abdala JIL, Freedom Institute, University of Paramadina & The Islamic College (ICAS) Peserta

2004

Seminar Dialog Between Science and Religion PMIAI Univertas Paramadina-ICAS Panitia (OC)

2003

Seminar Nasional Renaisance Islam PMIAI Univertas Paramadina-ICAS Peserta

2002

Seminar Epistemologi Islam: “Menuju Sains yang Memberdayakan dan Berorientasi Kemanusiaan” The International Institute of Islamic Thought-Indonesia (IIIT-I) Peserta

2000

Short Course Ideologi, Peradaban dan Agama II: “Teologi Versus Antropologi, Perdebatan Enam Abad antara Agama dan Sekulariosme dalam Pencarian Jadi Diri Manusia” Pusat Kajian Filsafat Madinatul Ilmi (PKFMI) & HMI Cabang Depok & FIKI Universitas Indonesia Peserta

2000

Islamic Manajemen Training Yayasan Rahmatan Lil ‘Alamin, Jakarta Timur Pengagas & Panitia Pengarah+OC

1996

Seminar Sehari: MuslimNet: Sebuah Strategi Dakwah Masa Depan Dewan Keluarga Masjid Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bandung Peserta

1994

International Seminar: Mukjizat Al-Qur’an mengenai IPTEK ICMI dan (IPTN) Bandung Peserta  (4 hari)

1993

Seminar Nasional KAHMI Bogor: “Pendidikan dan Dakwah untuk Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia berwawasan IPTEK, beriman dan Bertaqwa menyongsong PJPT II Korsp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Pengurus Daerah Bogor Peserta

1993

Seminar Nasional  Sistem Pendidikan Terpadu sebagai Alternatif Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Menjawab Tantangan PJPT II Yayasan Pendidikan Terpadu Krida Nusantara Bandung & IKIP Bandung Peserta (4 hari)

1993

Seminar Nasional Sistem Ketatanegaraan Islam ICMI Pusat Peserta

1992

Seminar Islam Sehari: Media Masa dan Kebangkitan Islam DKM OSIS SMAN 1 Bogor Peserta

1991

Seminar Nasional Perkembangan Pesantren di Indonesia dan Konstribusi serta Peranannya Dalam Pembangunan Nasional Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta Peserta Aktif (2 hari)

1990

Seminar  Pendidikan Alternatif: “ Mendidik Anak Mengenal Allah  (MAMA)” Yayasan Pendidikan Alternatif Jakarta & Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar, jakarta Peserta

1990

Temu Karya Nasional Dakwah Pembangunan Derap PPM Nasional 4 hari

KEGIATAN PROFESIONAL/PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT 

Tahun

Jenis/Nama Kegiatan

Tempat

 

1982

Pengelolaan Badan Keamanan lalulitas (BKLL) dan Patroli Keamanan Sekolah (PKS) d Kotamadya Bogor

1984-1987

Wartawan & Redaktur Pelaksana Majalah Dakwah Islamiyah Risalah,PERSIS Bandung,

1988-1989

Wartawan & Koresponden Majalah Kiblat Jakarta, Tabloid Islah MUI Jawa Barat, Bandung

1986-1988

Kepala Madrasah Diniyah Takhashus Mahasiswa, Pesantren Al-Qur’an Babussalam, Desa Ciburial, kec. Cimeyan, Kab. Bandung

1986-1989

Guru pengajar Bahasa Indonesia dan Geografi di Madrasah Tsanawiyah & Madrasah Aliyah Babusalam Desa Ciburial, Kec. Cimeyan, Kab. Bandung

1990-1996

Guru dan Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SMP & SMA Insan Kamil, Bogor Kota Bogor

1993-1997

Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kota Bogor

1993-1995

Editor & Staff Redaksi Buletin Anizariyyah, Pasir Kuda, Ciomas Bogor Kota Bogor

1996-1997

Ketua Pemuda dan Remaja Mesjid DKM Mesjid Miftahul Khoir, Cibalagung, Ciomas Kab. Bogor Kota Bogor

1998-1999

Kedua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional, Kabupaten Sukabumi

1997-2000

Guru dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Pembina Pramuka, Pembina Ekskul Jurnalistik & Fotography  SLTP Internat Al-Kausar, Sukabumi Kabupaten Sukabumi

1998-1999

Pengurus Kwartir cabang Pramuka, Kab. Sukabumi Kabupaten Sukabumi

1997-1999

Pengurus Koperasi Guru-Karyawan SMP Internat Al-Kausar kab. Sukabumi Kabupaten Sukabumi

1999

Pembina & Editor Ahli Buletin berbahasa Ingris SHINE & Buletin Al-KAUSAR Kabupaten Sukabumi

1997-1998

Ketua Panitia Pelaksana Lomba Mengarang Tingkat Nasional ke-2 dan ke-3 Internat Al-Kausar Sukabumi Kabupaten Sukabumi

2000-2001

General Manager Yayasan Rahmatan Lil’Alamin, Jl. Cawang III, Jakarta Timur

2001-2002

Guru Bahasa Indonesia dan Kepala Tata Usaha SMA Plus Muthahhari Jakarta Jakarta

2000-2002

Fasilitator Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) & Urban Managemennt Advisory (UMA) UNDP Pemerintahan Kota Madya Bogor

2002-2005

Guru Bahasa Indonesia dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMA Lazuardi Global Islamic School Kota Depok

2003-2005

Ketua RW 14, Desa Kalisuren, Kec. Tajur Halang, Kab. Bogor

2003 -2005

Anggota Kelompok Sadar Kamtibmas (KSK) Kepolisian Sektor  Bojong Gede, Kab. Bogor

2005

Manajer Pendidikan dan dakwah Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta Jakarta

2005-2007

Kepala Biro Akademik dan Kemahasiswaan Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta Jakarta

2007-2009

Public Relation & Students Enrollment of ICAS Jakarta Jakarta

2010-2012

Kepala Biro Akademik Program Magister Ilmu Agama Islam (PMIAI) Universitas Paramadina – ICAS Jakarta Jakarta

2012 – sekarang

Kepala Biro Students Enrollment Program Magister Ilmu Agama Islam (PMIAI) Universitas Paramadina – ICAS Jakarta & Sekolah Tinggi Filsafat Islam SADRA Jakarta

2000-2012

Penerjemah, Editor  dan Penulis Buku-buku  Ilmu Pengetahuan dan Islam Bogor & Jakarta

2000-2012

Ceramah Ilmiah, Bedah Buku & Narasumber Diskusi Bandung, Bogor, Jakarta, Pekalongan,

2004- sekarang

Administrator WebBlog  Situs Blogsite  Aviciena Center for Religions, and Science Studies (ACRoSS)-ICAS Jakarta

Jakarta

2009-2010

Administrator WebBlog  Situs Blog  Baitul Mal Yayasan Wakaf Paramadina

Jakarta

2006-sekarang

Administrator WebBlog  Situs Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta

Jakarta

2010 –sekarang

Administrator WebBlog  Situs Reinventing Atlantis Sunda Land Civilization

Jakarta

2010- sekarang

Administrator WebBlog  Situs Blog International Society for Islamic Philosophy (ISIP) regional Indonesia, Filipina, papua Nugini, Australia & New Zealand

Jakarta

2010-sekarang

Administrator  Situs Face Book Group Atlantis Indonesia Nasional Indonesia

 

JABATAN DALAM PENGELOLAAN INSTITUSI

 

Peran/Jabatan

Institusi( Univ,Fak,Jurusan,Lab,studio, Manajemen Sistem Informasi Akademik dll)

Tahun … s.d. …

Kepala Madrasah Madrasah Dinniyah Takhashus Mahasiswa Pesantren Al-Qur’an Babus Salam, Ciburial Bandung

1986-1988

Kepala Unit Penerbitan Pesantren Al-Qur’an Babussalam, Ciburial, Bandung

1988-1989

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Insan Kamil Bogor

1990-1996

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SLTP Internat Al-Kausar Sukabumi Jawa Barat

1997-1999

General Manager Yayasan Rahmatan lil ‘Alamin, Cawang II, Jakarta Timur

2000-2001

Kepala Tata Usaha SMA Plus Muthahhari Jakarta

2001-2002

Wakil kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMA Lazuardi Global Islamic School, Depok

2002-2005

Manajer Pelaksana Pusat Kajian Filsafat ,Tasawuf dan Tauhid (PusKaFiTT) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2004 -2005

Manajer Pendidikan dan Dakwah Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta

2005

Manajer Program & Web Master & Web Administratur The Jalal Center for Enlightenment (JCE)

2006-2007

Direktur  & Web Master/Blog site Administrator Bayt al-Hikmah Institute, Research Center for Islamic Philosophy and Mysticism, Science, Culture & Civilization

2007- sekarang

Kepala Biro Akademik & Kemahasiswaan Program   (S-1) Sarjana ICAS-Universitas Paramadina  Jakarta

2005-2007

Blog site  Administrator Blogsite  Aviciena Center for Religions, and Science Studies (ACRoSS)-ICAS Jakarta

2004- 2010

Blog site  Administrator Blog  Baitul Mal Yayasan Wakaf Paramadina

2009-2010

Blog sIte Administrator Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta

2006-sekarang

Blog site  Administratur Blog International Society for Islamic Philosophy (ISIP) regional Indonesia, Filipina, papua Nugini, Australia & New Zealand

2010- sekarang

Head of Student Affair & Public Relation & Official Web Administator of ICAS PMIAI Universitas Paramadina –ICAS Jakarta

2007-2008

Head of Academic Bureau Program Pasca Sarjana PMIAI Universitas Paramadina –ICAS Jakarta

2010-2012

Head of Student Enrollment PMIAI Universitas Paramadina –ICAS Jakarta dan Sekolah Tinggi Filsafat Islam SADRA

2012 – sekarang

 PERAN DALAM KEGIATAN KEMAHASISWAAN

Tahun

Jenis /Nama Kegiatan

Peran

Tempat

1983

Himpunan mahasiswa Fakultas Hukum Unpad Bandung Ketua Angkatan 1983 & Koordinator Mentoring Islam angkatan 1983

Fakultas Hukum, Universitas Padjadjaran Bandung

1983-1984

Kelompok penyuluhan Hukum, Fakultas Hukum Unpad Bandung Pengurus & Anggota Fakultas Hukum, Universitas Padjadjaran Bandung
1983-1984 Kelompok Pencinta Alam Kalpataru, Fak.Hukum Unpad Bandung Anggota Fakultas Hukum, Universitas Padjadjaran Bandung

1984

Pendidikan dan Pelatihan Koperasi Mahasiswa Universitas Padjadjaran Bandung Peserta Universitas Padjadjaran Bandung

1984-1985

Bidang Kaderisasi DKM Mesjid Salman ITB Bandung Ketua Panitian pelaksana SII B-5, & Mentor & Instruktur Training-training ke-Islam-an Mesjid Salman ITB Bandung

1984-1985

Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Hukum, Universitas Padjadjaran Bandung periode 1984-1985 Angota BPM Fakultas Hukum, Universitas Padjadjaran Bandung

1984

Latihan Kepemimpinan Mahasiswa dan Pekan Olah raga antar Angkatan 1984 Panitia, Seksi Publikasi dan Dokumentasi Fakultas Hukum, Universitas Padjadjaran Bandung

1983-1984

Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Unpad, Anggota Senat & Ketua Angkatan 1983 Bandung

1983-1985

Ikatan Mahasiswa Aktifis Mesjid Kampus Unpad Pusat Pengurus DKM & Mentor Islam Bandung

1983-1985

Mentoring Agama Islam Keluarga Remaja Islam Mesjid Salman ITB Bandung Anggota dan Mentor Bandung

PENGHARGAAN/PIAGAM

Tahun

Bentuk Penghargaan

Pemberi

1982

Piagam Penghargaan Atas Pengabdian kepada Masyarakat Bogor Komandan Resort Kepolisian Kota Bogor:  Letkol. Soetikno Suwignjo

1985

Piagam Penghargaan atas Aktifitas di Badan Perwakilan mahasiswa FH Unpad Dekan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung:  Prof.Dr. Sri Sumantri, SH

2000

Piagam Penghargaan Pelatihan Fasilitator Kota  & SK pengankatan Fasilitator Kota Walikota Bogor: HR Iswara Nata Negara, SH

2010

Piagam Penghargaan (Certificate) atas Kepala Dinas Parawisata dan Kebudayaan Pemerintah Propinsi Jawa Barat

 ORGANISASI PROFESI/ILMIAH

 

Tahun

Jenis/ Nama Organisasi

Jabatan / jenjang keanggotaan

1990-1996

Musyawarah Guru Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Anggota

2010- sekarang

International Society for Islamic Philosophy Pengurus
2010- sekarang International Society for Atlantis Nusantara Research Project Pendiri dan Pengurus/Administrator
2010- sekarang Atlantis Indonesia Face Book Group Ketua Dewan Penasehat Ahli dan Administrator

2010- sekarang

 

 

 

 

Saya menyatakan bahwa semua keterangan dalam Curriculum Vitae ini adalah benar dan apabila terdapat

kesalahan, saya bersedia mempertanggungjawabkannya.

.Jakarta, 16 Februari  2012

(Ahmad Yanuana Samantho, S.IP, M.A., M.Ud)


Bayt Al-Hikmah INSTITUTE,

Research and Development Center

Islamic Philosophy, Mysticism, Science and Civilization

(Research and Development Center for Islamic Philosophy, Islamic mysticism, Science & Civilization)

BACKGROUND OF THINKING

1. The collapse of Philosophy in Islamic Tradition

By quoting Prof. thinking. Dr. Mulyadi aquatic mammal, the collapse of the tradition of Islamic philosophy of common concern underlying the establishment of Bayt al-Hikmah:

One time in his life, Abu Hamid al-Ghazali (d. 505/1111) felt the need to revive the religious sciences (naqli) because of the threats that endanger the sciences of rational sciences (‘aqli). Actually, anti-rational sciences have started about two centuries before al-Ghazali by Abu Hasan al-Ash’ari (d. 324/935) to the flow of rational theological Mu’tazilite. Although the movement has succeeded me concerning the position kekhalifaan Mu’tazilite as the official school of the time, but apparently has not managed to minimize the rational philosophical movement, as evidenced by the emergence of two philosophers that is greater than that already existed, al-Farabi (d. 339/950) who known as “al-Mu’allim Al-Tsani,” and Ibn Sina (d. 430 / 1038), “Shaykh al-Rais,” which marks the peak of the philosophy of the Muslim Neoplatonik also known as “Peripatetic.”

As a follower, even one of his main character Asy’ariyah, of course, al-Ghazali felt called to continue the struggle of the founders of his school in the face of or against the dominance of the rational sciences. It’s just that the challenges faced by al-Ghazali was much heavier, because he faced not only a theological system that is based on the dialectical method (jadali), but rather a philosophical system that is more solid because it is based on the method of demonstrati (Burhan).

However, with the genius and sincerity as well as a very methodical way, al-Ghazali successfully answered the challenge well. Accuracy metodologisnya seen for example in the expression: “Do not you criticize something (in this case, philosophy) before mastering the right thing, even if you can outperform expert-expert.” During the roughly two years, al-Ghazali devoted himself to studying philosophy in a systematic , in order to criticize it. It turns out he really master it. Research results that he immortalized in his work, al-Falsifah Maqasid. After he was considered the master of philosophy, before he launched a sharp and telling criticism against the teachings of the philosophers in his work better known al-Falasifah Tahafut.

Critique of philosophy turned out to be very effective. Warning to the Muslims to be careful of some of the teachings (propositions) of the philosophers and pengkafirannya against them and their followers who believe in the eternity of nature, the ignorance of God on juz’iyyat and their rejection of bodily resurrection, it is very very effective arouse resentment in people and even hostility to science, philosophy and other related rational immunization, such as physics, psychology, mathematics, astronomy and so forth. Is effective because after the attack philosophy is never seen, especially in the Sunni world, except with suspicion. Even in some places the study of philosophy is officially banned, and many of the major philosophical works were burned and destroyed. Thus we can conclude that al-Ghazali’s critique of philosophy is very effective and “final,” so that the Sunni parts of the world-where the influence of al-Ghazali was the largest-philosophy can never rise to the present.

Thus, al-Ghazali’s attempt to revive the religious sciences, philosophy after the hatchet job, very successful. With his efforts he was able to raise the degree of religious sciences to a very high level, perhaps even the highest. In the Sunni world he greatly admired, and received his “Hujjat al-Islam” because of his success was. As a result, now “pressure point” the science has rolled from the rational sciences to the religious sciences. Accordingly, he asserted that studying the religious sciences is fardlu Ain, while the rational sciences, fardlu kifayah, meaning no obligation for every Muslim. But unfortunately, al-Ghazali’s success in raising the degree of religious sciences must be redeemed with a premium price, namely sirnanya disciplines of philosophy and its offshoots, and later by a downturn in the rational scientific tradition that accompanies it.

2. Contemporary Philosophical Challenges

Compared with the philosophical challenges faced by al-Ghazali’s about a thousand years ago, philosophical challenges facing Muslims today is far more serious and radical, because while the challenges faced by al-Ghazali came from philosophers who still firmly believe in the supernatural (metaphysical realities), philosophical challenges facing Muslim intellectuals today comes from the philosophers and scientists who have lost faith in things metaphysical. Not enough with that, they also disseminate the views of anti-metaphysical way of attacking them with metaphysical foundations of what he said as illusory and meaningless. Therefore the challenge is far more serious and radical. They no longer provide an unorthodox interpretation of metaphysical reality, but deny them by attacking the ontological status of the metaphysical world itself.

Philosophically the most dangerous challenge to the metaphysical world is caused by “positivism.” According to the positivist view, the only manifestation is a positive real which can be observed through the senses. All beings who are behind the physical world (metaphysical) are only the result of speculation that the human mind has no ontological reality outside of human consciousness. Religious concepts of God, the final day, angels and other supernatural beings-beings are considered nothing more than human creations when they are at the early stage of development. In the next phase, improving human religious concepts by developing systems of philosophical rationality. But the establishment of a terakhirpun, according to them, still based on the illusion of believing in the metaphysical world. The most perfect final stage in human development is achieved at a positive stage in which man finds that the only true reality is the physical world that can be objectively verified-positive. They produce is not a religious belief system, or a rational philosophical system, but knowledge (science) based on sensory observation.

The greater the influence of positivism, and therefore more dangerous as the challenge of philosophical, theological-religious for us-as it gets wide support from scientists in various fields of science, like astronomy, biology, psychology and even sociology. This influence is visible example of the reluctance of many Western scientists to look at the metaphysical entities such as God or angels, as the cause and source for the universe. In their view God has ceased to be anything. He has been a creator, maintainer and regulator of the universe. They prefer to see the universe as a giant machine that runs according to natural law (the law of nature), and explain the nature fenomina accordance with the law than to consider nature as a result of God’s creation.

Positivist views of naturalists like this can easily be found in the works or expressions of Western scientists are big and influential as Pierre de Laplace, Darwin, Freud, and Emile Durkheim. Although not all scientists agree with their views, but their influence in the world of science (science) is still very large and decisive, they are still often regarded as “the Prophets” science. So that their views are still very meaningful as a challenge to the Islamic belief system. Pierre de Laplace (d. 1827), a French astronomer and mathematician, known as the inventor (with Kant) theory of “Big Bang,” did not feel the need to mention a word of God says, when he explained the theory of creation of the universe in his book The Celestial Mechanisme . The reason is because for him God is a hypothesis which is not required in the explanation astronomisnya, or in his own expression: “Je nai besoin de CET hypothesie fit.”

Similarly, Charles Darwin (d. 1882), a famous British naturalist’s theory of evolution, no longer assume that biological beings that exist in nature as God’s creation semsta wise, but solely as a result of the legal mechanisms of natural selection ( natural selection). In his autobiography, Darwin says: “People used to be said that the strongest evidence of the existence of God the Creator is the regularity and harmony with nature. But after the law of natural selection is found we can no longer say that hinges beautiful shells, for example, should be the creation of an agent from outside himself (God), just as we are told that mestilah door hinge is a creation of God. “

Influence of positivism view is also very evident in Freud’s view of Sigmun (d. 1939), a physician and a pioneer in psychoanalysis. In his book The Future of an Illution, Freud saw religion as an illusion. Eric Fromm, explaining that “For Freud religion derived from human powerlessness in the face of natural forces from outside and from within his imaginative power. Religion emerged in the early stages of human development when he had not yet use their minds to deal with external forces and internal and must suppress or control them with the help of other forces that are effective. So, instead of tackling the forces were with reason, he was overcome with a “counter Affects,” namely, the emotional forces whose function is to suppress and mengandalikan what he can not deal rationally. “Well, if religion is seen as illusion, then surely the religious beliefs of the supernatural (metaphysical realities), like God, angels, spirits and final day, by itself also an illusion. That kind of thing and who put them into the views of Emile Durkheim (d. 1917), a sociologist fiolosof and France. In his works he views religion as a projection of social values, while God is none other than the Society (the Society) itself, and not a metaphysical entity as personal, as we believe.

The attack on the metaphysics will also have an impact on the Islamic epistimilogi system, particularly in relation to the source of knowledge. With the rejection of the metaphysical world, then the only source of knowledge for the positivist pengatahuan is experience, or in other words the senses. They do not believe in other sources, which occupy an important position in Islamic epistemology, namely mind, intuition and revelation. Laplace had said: “I mistrust anything but the direct result of observation and calculation.” So with so they do not believe the revelation and also the “mystical experience” as one source of knowledge. Whereas in epistimologi tradition of Islam, the third source of knowledge is that by Mulla Sadra (d. 1050/1640), a great Muslim philosopher of the seventeenth century, referred to respectively as “Burhan, Irfan and the Koran,” is recognized as a source- legitimate source of knowledge as only the senses.

The positivists, therefore, recognizes only the senses (via observation) as the only legitimate source of knowledge and reliable. Sources of other sciences, such as the revelation and intuition, can not be trusted because it is not grounded in reality but the illusion of human beings. The reason they say it is because the revelation and mystical experience always presupposes the existence of a close relationship with the metaphysical world, so that its validity depends on the status eksisitensi (ontologically) the metaphysical world itself. Once the existence of the world metafisk rejected, then the validity of the sources of science that depend on it will be rejected by itself. Since the revelations and mystical experiences are indeed so, then their validity can only be maintained if we affirm the ontological status of the metaphysical realities. Once the realities of their existence was denied, then the possibility of revelation and mystical experience that propped him by itself rejected and have no logical foundation. Whereas we know what will happen if the revelation (in this case al-Qur’an) declined as a source of legitimate science, then the whole system of beliefs, theological, and philosophical mistiko-Islam will collapse. This is according to me the challenges of contemporary philosophical thinking very seriously of the Western positivist epistimologi system of Islam, to which we as Muslim intellectuals “must” provide a philosophical response comparable, even better and more convincing than their arguments.

Another challenge associated with the positivist attack on metaphysics to impact the building of Islamic ethics, whether religious or philosophical, of course, leaning to some extent on the commandments of God. However, when eksisitensi Lord himself as one of the metaphysical entity is rejected, then the ethical basis of Islam will lose some ground. Freud once said “If the validity of ethical norms rely on God’s commands, then the future ethics will stand or fall with belief in God. And as Freud thought that religious belief is fading, so he pressed to argue that maintaining the relationship of religion with ethics will bring destruction on moral values, top-up terminal itself.

Therefore, the only ethical system which they admit is a humanist ethical systems that rely solely on science and mere human wisdom, rather than on other sources of transcendence. For them, what is called the revelation is nothing else than the result of human thought (in this case the Prophet) only, and not as a beam of divine nature which they reject its existence. Consequently, any values contained in the revelation is viewed not absolute and can not apply at all times, as is believed to be its adherents. Revelation for them as no different than any other human thought and therefore is relative and subject to change in space and time, and therefore can be modified or replaced if the demands of the times require it. This is the positivist view about skriptual ethical values, which, like ordinary philosophical works, and even vulnerable to changes in the total correction.

The same criticisms they direct at the mystical experience and its validity as an ethical bias. The positivists often regard mystical experience as a hallucination. Even it they also addressed the validity of an intellectual experience that supports the metaphysical realities. And all this they do because they have lost faith in the metaphysical nature. For them the only reliable basis for ethics is a science that is based on thorough experience of nature. Freud demanded that ethics is not didasarkaaan on religious beliefs that are “illusory,” but the utilization of human mind.

These are among the challenges faced philosophical Muslim intellectuals today, a challenge-if we contemplate far more radical and serious than the challenges faced by Muslim intellectuals at the time of al-Ghazali. Because of the nature of such challenges, it is our duty as the scholars to try to answer these challenges well, which among others can be helped by reviving the rational sciences which have adorned the Muslim classical repertory but which is now so long been neglected as objects useless things.

3. Reform, Mau Where?

Reform Movement in Indonesia, which has been running 8 years even, to some, are considered still hobbled by the roadside contemporary Indonesian history. Instead of successfully achieve his noble goals, the movement began to lose direction and leaving piles of unresolved crisis and found the solution effectively.

Reform was a little ‘successful’ in opening the tap of freedom (‘liberalization’) in the field of ‘formal politics’, information and culture. But behind the fact that freedom is born of chaos and manipulation of people’s voice, just an increasingly widespread poverty and confusion of the people and the decentralization of capitalist hegemony, oppression, repression and a new tyranny in the name of democracy, decentralization and economic liberalization.

It’s getting a lot of people disappointed and do not believe that the reform movement would work to bring social change and political-economic & cultural significant and meaningful to society, nation and state in Indonesia. Finally, look at the process of legislative elections and presidential elections in 2004, and the conflicts resulting from the violence of the police officers and military personnel and foreign parties hooked mengadudomba and shed the blood of the people, began to have an intellectual figures and former activists that reform will begin to look or predict the likelihood the occurrence of social revolution in Indonesia.

There may be a social revolution that was, if it is a historical necessity, is still in big question mark? Is the revolution would only “eating his own son,” and produces a more violent chaos with no good results? Or will produce a complete and total repair for any crisis of this nation?

Reform or revolution? Both of them will not mean anything and bring good to humanity, without any constituted and driven by the change in philosophical thinking and ideology (worldview) is right. Thinking seriously examine what the major root causes of all the existing crisis, and offer appropriate solutions (effective) and efficient.

Multidimensional crisis in this country is a reality. One root cause is our inability to capture the substance of an issue. How much scientific debate, economic, political and cultural, are only able to peel the skins surface problems. Discussion and discussion that occurs often is ‘banal’ (superficial), atomistic, disaggregated-Sort (partial) and too simplified problem (simplistic). Conversation about democracy, human rights, social justice, economic, and cultural globalization is not uncommon even be counter-productive because it does not tergalinya and terpecahkannya-load cargo into the philosophical assumptions and basic-issue pengerak these issues.

4. Eksitensial crisis, Source Multidimensional Crisis

Six centuries have proclaimed the sovereignty of man himself. With the stems on rationality, humans (in the West) to find her identity through renaissance movement, anthropocentrism philosophy / modern thinking, reform and enlightenment (enlightmen / Aufklarung). With the motto Sapere Aude (befikir own brave!) Man willed autonomous and free from all shackles of authority and tradition (religion & culture). Age Aufklarung 8th century AD is the peak power of optimism and rationalism as a substitute for faith torchbearers welfare of mankind.

Modern man to rebel against the metaphysical or theological way of thinking. Holy heavens dikoyakkan by premature interpretations Copernican cosmology. Transcendental divine knowledge by rationalism and empiricism didesakralisasi. Enchantment of the universe be destroyed by the ‘cogito’ Descartes and Newtonian mechanics. Religion and the church with the pastor dikepinggirkan. Traditional moral values dumped. Ditunding religious norms as the shackles of freedom and autonomy of the subject.

Along with the development of consciousness of modernity was, secularization was as a claims history, and modern human consciousness. Secularization is a process in which men turn away from the “world beyond” (beyond the world) and only focused on the “here and now are” [1]. With the secularization of this, people feel free from the control and commitment to religious values. Secular consciousness is manifested in the separation of religion from the dimensions of life, especially in the sciences, social, economic and political. Religion is only seen as a phenomenon of cultural and human heritage. Religion is only a mere subject of anthropology and history.

Pendulum of human civilization, which leads to rebellion against the religion of modern man kept going. After religion, theology and metaphysics successfully removed from scientific discourse and social life and humanity by making it only as a purely individual affair, the rebellion is directed directly to the heart of religious belief, namely God. Feuerbach mentions that the so-called God is none other than the human ideal is a projection of human values of hope itself, such as knowledge, power and glory. Therefore, Feurbach proposes to abolish and replace it with anthropology theology. Karl Marx mentions God as a character / concept of the capitalist-bourgeois invention to anesthetize the proletariat. Then Nietzsche declared the liberation of the death of God as the pinnacle of human self-sufficiency.

However, not enough to stop there-secularist opposition and harassment against religious atheism. The positifis menvonis religion as a set of meaningless illusion-delusion whatsoever, because they can not logically and scientifically verified. Freud even mention the religious consciousness is the product or the sublimation of sexual libido strivings are not channeled; that religious people are the people who mengindap mental illness.

The needle continues to move history. The 20th century was a time of reaping the storm. Freud’s psychoanalysis was not only insulting religion. Beyond expectations and hopes of modern man, dropping prestige psychoanalysis rationality and consciousness are proud of the autonomy of the subject so far. Freud was strongly influenced by Darwinism announce the results of his research, that most human behavior is driven by mere biological libido, instincts hewaniyah subconscious; that the ratio of human consciousness and played just a bit like a tip of the iceberg in a sea of ice that is the human subconscious . Darwinism and Freudisme has rocked the pillars of faith in modern man to greatness ratio.

Century 20 & 21 are reaping century storm. The New Left (New Left), which was pioneered by the Frankfurt School figures complement the fall of the rationality of modernism. Through a philosophical-sociological analysis and psychoanalysis, they expose the behavior of modern society such as the nature irrasionalitas greed, consumerism, tyranny, hegemony, fascism, tribalism. Horkheimer said today that individual freedom is false, because freedom is only imagined while in reality individuals are unconsciously enslaved by a society driven by market forces and capital. Individuals and modern society driven by capitalist-konsumeristik what is called the “impersonal forces” like the world of advertising (advertising) and entertainment (entertainment), and markets highway (mall), and capital markets. Day-night “impersonal force” that’s fascinating and promising all hope. Modern people fascinated with advertising slogans and entertainment, and are willing to give themselves enslaved by the “impersonal forces” them. Modern man has become robots and small screws social machine could no longer think clearly choose what is actually good for him, based on the nature of consciousness.

As a result, the project of human liberation, initiated by the renaissance, reformation, and Aufklarung has failed, because modern man has been shackled by new myths, new idols, new illusions, superstitions, a new superstition and new gods.

20th century and into the 21st century, reap the storm. The development of science muthakhir any, beyond expectations and hopes of modern man, modern man has undermined the confidence of the scientific understanding of positivism, which so far seems to be the two pillars of their faith. The emergence of modern physics with Einstein’s relativity theory tercetusnya and Quantum Mechanics has broken down the classical mechanics and Newtonian mechanistic paradigm-positivist who has three centuries embraced by modern humans. [2] The universe is a mystery that turned out to save the endless review. Consciousness emerged in modern humans, especially the academics and educated, that they do not know anything about the entire universe and reality; that turned out to man and the universe are interconnected in depth. This awareness is for the educated, modern man’s desire to destroy can bow and exploit nature, as well as any simultaneous nature has rebelled against the arbitrary exploitation of human beings, in the form of air pollution, water and soil, overheating in the global climate and weather, depletion layer ozone. At the level of theory, namely epistemology and cosmology, consciousness of modern man is shaking confidence in science. As a result, the movement developed skepticism and nihilism that no longer have an appreciation of science and also even, against all human knowledge. Modern sophisme generation has been born again. 2500 years humans have retreated back to classical Greek sophisme.

20th century 21st century reap the storm. Science and technology relied on by modern humans to reach happiness apparently turned threatening human existence itself. Has two great world wars occurred with hundreds of millions of human casualties by weapon technology engineering. Variety of sophisticated weapons, ranging from chemical weapons to nuclear bombs, designed to kill many humans, or at least used to threaten and bully other countries, as practiced by the USA and Israel against the countries which did not surrender to the U.S. & Israel that’s presumptuous. Modern humans to see that the development of science and technology did not correlate positively to the welfare of mankind. UN Secretary General Kofi Annan in the UN anniversary last October 24, 1999 mentions that the 20th century as a century, the darkest and harshest in the history of mankind, the century’s most crowded with stories of human suffering. The thinkers and intellectuals would be worrying bijaksanawan emergence of various humanitarian disasters and natural calamities in the coming 21st century. Therefore, Anthony Giddens mentions the present is characterized by uncertainity manufactured, namely the period of uncertainty and lead to high consequence risk. [3]

The story of human suffering find themselves, not yet ended. The crisis of modernism does not stop at the irrationality and moral crisis, an epistemological crisis, ecological crisis and the crisis of violence alone.

But the crisis of modernism, which also hit Indonesia, does not stop only at the epistemological and methodological crisis such as this. More acute, it occurs at the ontological level with respect to the human existential crisis concerning the nature, purpose and meaning in life. Modern man has been thrown into an existential crisis, spiritual emptiness, the legitimacy crisis of meaning and mission of his life, as well as loss of vision and alienated from the universe, God and himself. Albert Camus describes how every human effort to find the essence of who she always meet with failure, so until such a conclusion that life is absurd, have no meaning. Living life is like a man who struggled to climb the mountain without hope will never reach the destination. Camus thus questioning why humans who do not know and had no goal in life is still going to live in this meaningless world. Why men do not kill yourself better?

20th century 21st century reap the storm. After the 6th century mencangkan human sovereignty and declared the death of God himself, the situation is now reversed. Needles history has shaken confidence joints of modern humans; fallen pillars of their faith. Rationality, autonomous subject, anthropocentrism, positivism, science and technology, are now getting ready to fossil debris of civilization. The energy was gone. The spirit has disappeared. Twilight of modern human civilization has been looming in the eyelid. Modern man has died.

Humans have to die? Some of them then make appearances as themselves in the behavior of Cheerful Robot, the man who tried to escape from mental anxiety and existential anxiety with the plunge in their entertainment, sensual pleasures (especially sexual), the consumption of luxury products, take a trip to nearby pleasant place, and busy beratraksi with different games. It was all done unconsciously, and are fully subject to the psychological engineering of the capitalist-imperialist ‘traders pleasure’ [4]. Much longer behaves like a zombie, a zombie who haunt the streets looking for prey; unemotional cold-blooded, anarchist-destructive acts. Much more, especially in educated circles, dealt with existential anxiety abandoning their own existence, namely by taking the attitude of apathy, all skeptical, nihilistic, and if necessary, suicide.

Jalaluddin Grace wrote, “When they get rid of God, they not only alienated from God. They were thrown into the world without knowing where they should go. They lost their way. “[5] As a result of human sovereignty project which was inaugurated by the Renaissance and Aufklarung (reform) have failed, because modern man has been shackled by new myths, new idols, new illusions, superstitions, a new superstition , and the new gods! People have been shackled by his own wild adventures, until the lost and cast from himself, alienated from the universe and of the True Lord.

5. Need Assemble New Civilization

Philosophy, through a rigorous method of thinking, teaching people to examine, discuss and test the validity and accountability of every thought and ideas. In short, it makes all of them can be intellectually and scientifically justified.

69 comments on “About Bayt al-Hikmah Institute

  1. Salam,

    Pak Samantho, blognya semakin update saja nih, tulisannya bagus2….
    Saya juga baru tahu rupanya Antum ketua RW juga ya….salut Pak RW, di tengah aktivitas yg segudang masih sempat ngeblog pula

    Wassalam
    IP

  2. saalam kenal Ustad..
    barakallahu alaika..

    rusle

  3. Assalamu alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh,

    Terima kasih atas doa dan apresiasinya.

    Wassalam

  4. salam
    salam kenal buat pak Samantho

  5. Salam Kenal juga buat Nargis. kamu Lucu deh, Salam juga buat Abah wa Uminya ya.

  6. Subhanallah.. semoga antum selalu dinamis.

  7. Assalamu alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh,

    Salam kenal pak, boleh minta informasinya, apakah bapak tahu dimana ada jadwal pesantren kilat anak SMP untuk liburan bulan juni 2007 nanti. Terima kasih sebelumnya.
    Wass

  8. salam.
    blog yang bagus pak! semoga bapak selalu sukses. amiin.

  9. Ass, rasa-rasanya aku pernah kenal nich…apa yang dulu suka dipanggil kang anto samanto. Aku FH unpad angkatan 84. salam buat keluarga.

  10. Salam kenal pak…. Terima kasih atas kunjungannnya, diblog kami. Sekalian sama-sama ingin bersilaturahmi. Wacana blognya bapak bagus. Sudah saya link blognya, mohon izin. Wassalam

  11. kang samantho, kunjungi juga blog babussalam dan mohon sumbangan tulisannya biar blog ini lebih kaya. terima kasih. http://babussalam.wordpress.com

  12. Alhamdulillah, Babus Salam sudah punya Websitenya sendiri. Walaupun baru di Blogsite, tapi sudah mulai bagus layout, format dan content-nya. Mudah-mudahan dapat lebih berkembang lagi. Saya sangat bersyukur menjadi alumni pesantren Babussalam. Berkat bimbingan dan ajaran dari Bapak Ustadz Mukhtar Adam-lah, kecintaanku terhadap al-Qur’an semakin bersemai di hati dan tumbuh subur, disirami ilmu beliau. Masykur ya Ustadzi.

    Salam untuk Bapak, Ibu, putra-putri beliau dan keluarga besar Babussalam. BTW semua tulisan saya di situs ini boleh dikutip dan disiarkan di situs Babussalam (dengan menyebutkan sumbernya tentu). Dan boleh ditambahkan keterangan di bawah nama saya: Alumni Pesantren Babussalam angkatan 1987 – 1990.

  13. Mbak Devi,
    Coba anda kunjungi disini

    http://www.baitulamin.org/trenki/kontak.php

    Semoga masih ada tempat

    Arief

  14. Assalammualaikum,
    Kang Anto, salam kenal. Kebetulan saya seneng baca-baca tulisan yang berbau filsafat dan budaya. Jadi, kalo boleh, saya akan link URL Akang ke blog saya. Hatur nuhun.

  15. Salam,

    Kang Zepbess yth, hatur Nuhun tos mampir ka Gubug Maya Abdi. Mangga, Silahkan dilink-kan ke situs Antum. saya senang bisa memperluas jaringan silaturahmi dan dakwah. Tolong juga kritik dan sarannya/masukannya untuk menyempurnakan content dan format situs ini, walau masih Blog. Doakan ya supaya bisa ditingkatkan pakai hosting khusus.

    Wassalam

  16. Salam Pak Samantho..
    Awfull Blog..
    Kalau bisa kasih saran tatanan dan susunan hurufnya diseragamkan dengan font tahoma (bagusnya sih) karena theme Ocean Mist ini sepertinya cocok dengan tahoma.
    Lalu pada headernya disertain Home sehingga memudahkan kita untuk langsung bisa ke frontpagenya..

    Trims..

    Saya link yaa Blognya…??

    Sukses selalu

    Bloger Isyraq

  17. ASSALAM SALAM KENAL USTAD DAN JANGAN LUPA DOAKAN SAYA

  18. Insya Allah, Alaika Salam wa Rahmah wa Barakatullah

  19. Ass. wr. wb
    salamkenal. saya bustami, dipanggil boes atau tami. ustad punya info kah, apa buku ensiklopedi tematis filsafat islam buku kedua dari mizan sudah terbit. ma kasih, mungkin mas samanto tahu.

  20. Ass. Wr. Wb.
    Salam kenal. Nama saya Denny Noor. Agama saya Islam. Sepertinya mazhab saya Suni, walaupun belum jelas benar Suni yang mana. Karena saya mengharapkan tidak Suni, tidak Syiah. Tapi sebagai orang yang beragama Islam, sedikit-sedikit saya pelajari juga semuanya. Saya tinggal di Bogor. Kalau tidak keberatan saya ingin berbncang secara pribadi dengan Anda. Saya sedang merasakan ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran masalah pemahaman mazhab di Islam. Untuk singkatnya dalam masalah perbedaan cara berdoa.

    Suatu saat nanti saya akan menghubungi HP Anda.

    Sampai ketemu.

    Wassalam Wr. Wb.

  21. Assalamu’alaikum Pak RW, wah bloknya bagus ya

  22. salam pak,

    saya suka blognya bicara hikmah & peradaban

    boleh saya link pak ?

    suwun,wassalam

  23. Kukagumi luasnya pengalaman, dinamika perjuangan dan prestasi Pak Antho. Saya berutang budi atas sejumlah tambahan ilmu & pengetahuan yang kuperoleh dari blog Bayt al -Hikmah . Trims, wassalam

  24. salam wa rahmah,
    pa kabar ustadz? semoga Allah senantiasa memberikan Antum kemudahan.

    begini ustadz, saya menemukan website mahasiswa yang memuat tulisan mengenai kritik atas axiologi. berikut linknya: http://www.gemapembebasan.or.id/?pilih=lihat&id=519

    Besar harapan saya, ustadz berkenan menanggapi artikel tersebut.

    wassalam.

  25. Terima kasih, para Ikhwan HMI di Solo,

    Ini Tanggapan saya terhadap tulisan ikhwan Hizbut Tahrir (?) namanya Umbara dari blognya Gema Pembebasan :

    Assalamu ‘alaikum, wr wb.

    ISLAM AGAMA RASIONAL

    Tampaknya apa yang ditulis oleh ikhwan Umbara dari Hizbut Tahrir (?) adalah tanggapan prejudice (Su’udzon) dan kesimpulan yang tergesa-gesa yang disebabkan keawamannya sendiri dan bacaannya yang kurang terhadap filsafat.

    Seharusnya kalau mau mengkritik sesuatu dengan benar, maka pelajarilah sesuatu itu dengan lengkap dan mendalam, baru kritiklah dengan hujjah (argumentasi) yang kuat.

    Antum katakan bahwa semua bahasan filsafat berawal dari axiologi? Ini adalah keliru. Aksiologi, bukanlah tentang asal-usul segala sesuatu (Ontologi), axioloqi adalah filsafat terapan, yang akan melahirkan berbagai disiplin ilmu murni dan ilmu terapan seperti, etika, estetika, ekonomi, politik, ideologi, fisika, kimia, dll.

    Jadi axiologi adalah tahap akhir dari berfilsafat, bukan yang pertama atau asal usul.

    Kita umat Islam, memang harus mengkritisi filsafat barat, baik dari segi ontologi (tentang asal usul segala sesuatu: metafisika, kosmologi, theologi), maupun epistemologinya (kajian filososif tentang apa saja sumber-sumber ilmu, bagaimana caranya mendapatkan ilmu /metodologi, bagaimana memverifikasi (validasi), dan memfalsifiklasi (membuktikan kesalahan suatu ilmu), batasan-batasan ilmu, dan juga kita harus kritis terhadap Axiologi Filsafat Barat.

    Sikap kritis kita terhadap filsafat Barat, bukan berarti kita harus tolak sepenuhnya mentah-mentah segala sesuatu dari filsafat Barat, karena walaupun ada cacat di sana-sini, tapi Filsafat Barat pun masih punya beberapa nilai-nilai kebenaran yang berakar juga dari rasionalitas yang murni dan kearifan atau kebijakan para Nabi Allah dari Timur (dari Mesir, dari Babylonia, India, dll). Bahkan bangsa-bangsa Barat menemukan khazanah filsafat Yunani (Greek) itu melalui perantaraan para ulama dan filosof Muslim seperti Al-Kindi, Ibnu Sina (Aviciena), Ibnu Rushd (Averous), al-Khawarizmi, dll. Melalui kontak dengan para cemdikiawan dan para ulama filosof Muslimlah, Barat mendapatkan ruh untuk renaisansnya, dan spirit ilmiahnya sampai sekarang.

    Kenapa para ulama dan para hukama/filosof Muslim mau mempelajari filsafat Yunani-Persia, Mesir, India dan China? Itu tak lain adalah karena terinspirasi oleh ajaran al-Qur’an (Kalam dan perintah Allah SWT) dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Betapa banyak ayat al-Qur’an (lebih dari 800 ayat) yang memerintahkan kita untuk banyak berfikir, menggunakan akal sehat dan merenungkan segala fenomena kejadian alam, masyarakat manusia, dan sejarahnya, untuk menemukan hakikat kebanaran dan kekokohan iman terhadap Tuhan Allah SWT dan memahami alam semesta sebagai sarana beribadah kepada-Nya.

    Filsafat adalah Hikmah terpendam yang harus digali kaum Muslim dari manapun sumbernya. Ada 20 ayat al-Qur’an berbicara tentang Hikmah (Silahkan Anda pelajari via blogsite saya: http://www.ahmadsamantho.wordpress.com, atau situs resmi Islamic College for Advanced Studies (ICAS) – Paramadina University Jakarta: http://www.icas-indonesia.org.

    Di Indonesia ini, garda depan markas filsafat Barat ada di STF Driyarkara Jakarta, dan FIB-UI, tapi kalau untuk Garda Depan Markas Filsafat Islam, maka datanglah dan belajarlah di ICAS Jakarta.
    Islam adalah agama rasional, keimanan kita kepada Allah SWT, Yang Maha Pencipta, dan Yang Maha meciptakan, haruslah punya landasan intelektual rasional yang kokoh, yang akan mengantarkan kita kepada ketajaman intuisi qalbu dan keimtiman spiritual penuh cinta dan iman terhadap Hakikat al-Haqq: Allah SWT.

    Terakhir, kalau mau mengalahkan, atau tidak mau dikalahkan oleh peradaban Barat (seperti kondisi umat Islam saat ini), maka kita harus menggali dan mengembangkan Filsafat Islam, dan juga mempelajari Filsafat Barat yang mau kita koreksi. Suatu peradaban umat manusia tidak akan tegak tanpa landasan filosofis dan ideologis yang kuat.

    Ahmad Samantho

  26. blog bagus. boleh juga dong pajangan blog ku di daftar blog pak samantho. makasih kalo di approve.

  27. Assalamu’alaikum wr.wb
    Bapak/Ibu, Ikhwan/Akhawat mohon izin saya mau numpang menginformasikan Shalawat Tarhim dan Audionya. Shalawat yang iramanya sangat menyentuh hati. Shalawat ini dikumandangkan setiap menjelang Subuh di radio masjid Agung Sunan Ampel Surabaya dan diakses oleh hampir seluruh masjid di Surabaya dan pelosok2 Jawa Timur, khususnya masjid2 Nahdhiyyin. Semoga shalawat ini bermanfaat bagi kita.

    Bagi yang berminat mendengarkan dan mendownload Audionya, dilengkapi tek latin dan terjemahan, silahkan klik di sini:

    http://syamsuri149.multiply.com

    Terimah kasih Bapak/Ibu, Ikhwan/Akhawat
    Wassalam
    Syamsuri Rifai

    http://syamsuri149.wordpress.com

    http://shalatdoa.blogspot.com

  28. Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    rasanya saya pernah jumpa bapak,bapak pernah kos dengan saudara saya dari makassar dibandung. terakhir ketemu bapak thn 1990 saya pernah kerumah bapak di bogor gimana kabar kak anto salam dari makassar..

    Wassalam
    Syamsul

  29. Wa alaikum salam,

    Ya saya ingat pernah satu kos dengan….teman dari Makasar, kalau ngak salah dia sekarang Ngajar di UNHAS ya. Aduh saya lupa lagi namanya, tapi saya ingat betul wajahnya, karena pernah sekamar dengannya di ci… dekat jalan dipati ukur bandung. Titip salam yang untuknya.

  30. assalamualaikum,
    Semoga Allah memberkahi langkah mas anto mendalami filsafat Islam, sedalam-dalamnya, setinggi-tingginya. Kebetulan malam ini saya lagi cari buku saya ttg Manusia by Muthahari gak ketemu, eh surving di sini ketemu web mas anto.

    Semoga sukses selalu, jangan lupa salam saya u/ kang Jalal dan Haidar Baghir.

    wassalam, syahganda nainggolan, Wk. Sekjen ICMI, alumni Apasat SMU I Bogor tea

  31. Assalamu’alaikum wr.wb.,
    Bravo Kang Samantha! Kumaha damang?? lama sekali kita tidak bertemu. Tulisan-tulisan di blog-nya amat mencerahkan, saya senang membacanya. Mudah-mudahan semakin sukses dan berkembang dalam kajian-kajian keilmuannya!

    Wassalam,
    ali badrudin

  32. Salam….
    Semoga perjuangan ust. Samantho selalu mendapat perkenan dari Tuhan.
    Mohon melalui komen ini saya diperkenankan untuk mengutip apa yang ada di sini.
    Mohon doa juga untuk saya yang masih sangat kerdil dan dangkal (serius!) bisa berkembang pemikirannya melalui blog anda ini.
    Wassalam…

  33. Setelah membaca isi blog ini

    1. Runtuhnya Tradisi Filsafat dalam Islam
    2. Tantangan-tantangan Filosofis Kontemporer
    3. Reformasi, Mau Kemana?

    4. Krisis Eksitensial, Sumber Krisis Multidimensional
    [...Walhasil, proyek pembebasan manusia yang dicanangkan oleh renaisans, reformasi, dan Aufklarung telah gagal, karena manusia moderen telah dibelenggu oleh mitos-mitos baru, berhala-berhala baru, ilusi-ilusi baru, tahayul-tahayul baru dan tuhan-tuhan baru.
    Abad ke-20 dan ke-21 adalah abad MENUAI BADAI..]

    5. Perlunya Merakit Peradaban Baru
    [..Filsafat, lewat metode berpikirnya yang ketat, mengajar orang untuk meneliti, mendiskusikan dan menguji kesahihan dan akuntabilitas setiap pemikiran dan gagasan. Pendeknya, menjadikan kesemuanya itu bisa dipertanggungjawabkan secara intelektual dan ilmiah.

    Sebagaimana Syed HOSSEIN NASR katakan, krisis-krisis eksistensial ini bermula pd pemberontakan manusia modern kepada Tuhan. Krisis eksitensial ini merupakan manifestasi dari krisis SPIRITUAL manusia modern. Ketika manusia meninggalkan Tuhan demi mengukuhkan eksistensi dirinya, manusia telah bergerak dari dari PUSAT eksistensinya sendiri menuju wilayah PINGGIRAN eksistensi..]

    maka kami terpanggil utk memberikan dukungan bagi visi dan misi Bayt Al Hikmah Institute dalam menggapai sasaran2nya (the goals).
    [..Untuk mencapai sasaran-sasaran di atas, Bayt al-Hikmah telah merancang kegiatan-kegiatan utamanya yang meliputi: (1) penerjemahan karya-karya klasik & kontemporer; (2) diskusi dan penelitian tentang isu-isu Filosofis, Tasawuf dan Tauhid yang relevan; (3) penerbitan sejumlah jurnal ilmiah, dan; (4) penyelenggaraan paket-paket kajian, pelatihan, diskusi, seminar

    We can support the institute – by translating the books – after selected by Bayt Al Hikmah – to be translated – from English into Bahasa Indonesia, to allow more Bangsa Indonesia – to share more easily the vision and missions of the Institute.

    Salam dan shalawat bagi Rasulullah, Keluarga dan Sahabatnya yang setia.

    Salam, rahmat dan berkat Allah bagi kita semua.

  34. Assalamalikum ustadz..

    Pertama kali ketemu ustadz dulu waktu saya SMA mau daftar bahasa Arab di ICC.. Dulu banget :D

    Blognya ana link ya.. Sukses selalu dan salam kenal (lagi; salam kenal dunia maya) :P

    Wslm..

  35. Assalamu’alaikum…
    Salam kenal aja Pak dari Garut.

  36. salam,
    numpang baca2 sekalian izin nge-link di blog saya
    makasih

  37. bbrp kali sy telp hp anda 0817 89 77 39 tp selalu yg angkat org lain?
    apa hpnya udah hilang/ganti?
    apakah ada nomor lain yg permanen, selain hp?

  38. mw ikutan kjian gmna caranya??

  39. I am happy I found your blog on bebo. Thanks for the sensible critique. Me and my neighbour were just preparing to do some research about this. I am very happy to see such reliable info being shared freely out there.
    Regards,
    Burt from Corpus Christi city

  40. Saya Sangat ber-Syukur sekali kepada Allah SWT. yang telah memberi kita semua petunjuk-petunjuk, yang Insya Allah akan membuat kita selalu Memuji Kebesaran-Nya.

    Salam Hormat saya kepada Bapak-bapak Saya yang telah membagi pengetahuan kepada kami semua

    Terima kasih

  41. Assalamu’alaikum wr.wb.,

    salam kenal pak Samantha!

    saya sangat bersyukur kepada Allah Swt, yang telah mengarahkan saya membuka blog ini, saya suka isinya karena membahas mengenai hikmah dan peradaban.

    sangat bermanfaat sekali….

    semoga menjadi berkah.. Amin

    mohon ijin blognya untuk saya link..

    terimakasih

  42. ASTAGHFIRULLAH, SYIAH dan SUNNI DIKAFIRAN?

    Bismillaahir rohmaanir rohiim.
    Asyhadu anlaa ilaaha illallaahu wa asyhadu anna Muhammadur rasuulullahi
    Allahumma sholli ‘alaa Muhammad Wa aali Muhammad. Amma ba’dlu…

    Ass. Wr. Wb….

    Salam kenal dan silaturrahmi di dalam Din Allah. Saya ikhwan, Pecinta Ahl Al Bayt (Mazhab Ahl Al Bayt) atau Syiah Imamah Istnariyah. Dan semoga antum berkenan jika situs antum saya link di blog saya.

    Astaghfirulllah, SYIAH dan SUNNI dikafirkan??! oleh sdr. حَنِيفًا Hanifa. (red. admin Hanifa.com) di situs Kerajaan Agama http://kerajaanagama.wordpress.com/2010/08/31/syi%E2%80%99ah-itu-kafir-apa-masih-islam/comment-page-1/#comment-5977 setelah dialog.

    Semoga ini hanya merupakan ke-KHILAF-an sdr. حَنِيفًا Hanifa (red.admin Hanifa.com), dan bukan merupakan ke-KALAP-an !!!

    Wass. Wr. Wb.
    Hamba Allah yang bodoh!!

    Site :
    1. The Concept, Successor’s Islamic Leadership and Brief Biography of
    12 The Holy Imams Ahl Al Bayt, site:
    http://theholy12imams.blogspot.com dan
    2. Konsep, Suksesi Kepemimpinan Islam (Islamic Leadership) dan
    Biografi Ringkas 12 Imam Suci Ahl Al Bayt Nabi Suci Muhammad SAWW.
    site: http://12imamsuci.blogspot.com,
    3. SItus Para Pecinta Ahl Al Bayt Nabi Suci Muhammad SAWW.

    http://amanahrasul.blogspot.com

  43. ASTAGHFIRULLAH, SYIAH dan SUNNI DIKAFIRAN?

    Bismillaahir rohmaanir rohiim.
    Asyhadu anlaa ilaaha illallaahu wa asyhadu anna Muhammadur rasuulullahi
    Allahumma sholli ‘alaa Muhammad Wa aali Muhammad. Amma ba’dlu…

    Ass. Wr. Wb….

    Salam kenal dan silaturrahmi di dalam Din Allah. Saya ikhwan, Pecinta Ahl Al Bayt (Mazhab Ahl Al Bayt) atau Syiah Imamah Istnariyah. Dan semoga antum berkenan jika situs antum saya link di blog saya.

    Astaghfirulllah, SYIAH dan SUNNI dikafirkan??! oleh sdr. حَنِيفًا Hanifa. (red. admin Hanifa.com) di situs Kerajaan Agama http://kerajaanagama.wordpress.com/2010/08/31/syi%E2%80%99ah-itu-kafir-apa-masih-islam/comment-page-1/#comment-5977 setelah dialog.

    Semoga ini hanya merupakan ke-KHILAF-an sdr. حَنِيفًا Hanifa (red.admin Hanifa.com), dan bukan merupakan ke-KALAP-an !!!

    Wass. Wr. Wb.
    12 Imam Suci

    Site :
    1. The Concept, Successor’s Islamic Leadership and Brief Biography of 12 The Holy Imams Ahl Al Bayt, http://theholy12imams.blogspot.com dan
    2. Konsep, Suksesi Kepemimpinan Islam (Islamic Leadership) dan
    Biografi Ringkas 12 Imam Suci Ahl Al Bayt Nabi Suci Muhammad SAWW. http://12imamsuci.blogspot.com,
    3. SItus Para Pecinta Ahl Al Bayt Nabi Suci Muhammad SAWW.

    http://amanahrasul.blogspot.com

  44. salam pak Samanto. Bolehkah saya bersilaturahmi ke Bogor? Tepatnya bogor dimana?

  45. Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.,

    Kehadiran Bayt al-Hikmah Institute perlu disambut dengan baik, karena peradaban manusia kini sedang memasuki Era Spiritualisme.

    WALI SONGO adalah “Zenith Sufism” dan karya-karyanya merupakan “Tip Top” ajaran Tasawuf, utamanya Wayang Purwo. Saya pernah diundang ke Solo oleh Kelompok Studi Mangkubumen (HMI Surakarta) untuk mendiskusikan hubungan Wayang Purwo dengan agama, budaya dan sains mutakhir. Perlu dipertanyakan, mengapa tidak diungkapkan dalam tulisan Anda?
    Apakah Bayt al-Hikmah Institute juga sudah meneliti Kebangkitan NeoSUFISM yang sedang bersemi di negeri ini?

    Hormat saya,
    Tato Sugiarto.

  46. assalamualaikum w w ,ya mari kita bicara pasal ilmu ,yang dimaksud disini manusia yang baligh dan ber akal ,merupakan kalifah tuhan di atas muka bumi ini ,sebagai mata pena / tinta yang melakar dan menulis di antara 2 jari dari ,kudrat dan iradat tuhan ,sama ada yang dihasilkanya berupa ketaatan kepada tuhan atau pendurhakaan kepada tuhan ,sudah tentu akibatnya dipertanggung jawabkan kepada manusia itu sendiri akibat akal yang ada padanya sebagai anugerah ilahi ,sesuai dengan firman tuhan ,telah diberikan amanah kepada langit dan bumi serta gunung ganang ,mereka tidak mau menerima ,maka diberikan amanah itu kepada manusia maka manusia menerima amanah tersebut ,sedang manusia itu condong kepada menganiaya dirinya sendiri ,

  47. ASSALAMUALAIKUM W W,MARI KITA BICARA PASAL ILMU ,YANG MULA MULA ALLAH SUBHANAHUATAALA JADIKAN IALAH, NUR MUHAMMAD DAN NAMA LAIN DARI NUR MUHAMMAD INI IALAH, AKAL, MAKA NABI ADAM DISEBUT PENGHULU JASAD, MAKA NABI MUHAMMAD S A W DISEBUT PENGHULU RUH,JADI APA JUGA YANG DIFIKIRKAN MANUSIA MANUSIA LAIN SEMUA DATA TERSEBUT TELAH SEDIA ADA PADA NABI MUHAMMAD S A W,JADI WAKTU UMUR MASING MASING MANUSIA ITU SUDAH ADA BATASAN ,DAN TUGASANNYA JUGA SUDAH ADA KETENTUAN,ITU YANG DISEBUT TAKDIR TUHAN ,APA JUGA YANG ANDA KERJAKAN SAMA SEKALI TIDAK AKAN PERNAH TERLEPAS DARIPADA TAKDIR TUHAN,DEMIKIAN HEBAT DAN AGUNGNYA TAKDIR TUHAN ,SAMPAI TIDAK DAPAT DICAPAI AKAL HANYA DAPAT DICAPAI DENGAN IMAN,LAHAULAWALAQUATA ILLA BILLA HIL ALIYIL AZIM,

  48. Imani Masakini*Katakanlah sesuatu,maka tiada seorangpun yang mampu memaknainya dengan sangat benar melainkan potensi kata itu sendiri*

  49. assalamualaikum w w ,ya kita bicara bab ilmu ,imam al ghazali ,bukan orang asing bagi kita ,beliaulah imam yang memberi hujah berhubung pertanyaan dan maslahah dalam agama islam dari masaalah a sampai z ,atau dari huruf alif sampai huruf ya,ada jawaban dalam setiap persoalan yang ingin di ketahui sesuai dengan akal dan iman,maksud akal disini agama islam itu sendiri ,dan iman itulah wahyu yang diturunkan kepada para nabi dan para rasul alaihissalam yang memimpin akal umat manusia,maka imam al ghazali ini merupakan imam agung pewaris nabi yang di hantar ketengah masyarakat umat manusia dan jins untuk memberi penerangan berhubung hukum serta unda undang allah taala yang disampaikan golongan para nabi dan para rasul alaihissalam umat manusia seluruhnya ,dari kalangan umat manusia yang mengerjakan amalan yang diredhai allah .manakala segelintir dari umat manusia yang mengerjakan yang dilarang allah itu namanya manusia yang durhaKA KEPADA ALLAH,SIAPAKAH MANUSIA YANG DURHAKA ITU ,ANDA JAWAB SENDIRI YA JIKA ANDA SEORANG YANG BIJAKSAN

  50. [...] Newtonian dan paradigma mekanistik-positifisme yang telah tiga abad dianut oleh manusia modern.[2] Alam semesta ternyata menyimpan misteri yang tak habis-habisnya dikaji. Muncul kesadaran pada [...]

  51. [...] About Bayt al-Hikmah Institute [...]

  52. asal usul ,web site, keturunan Melayu berasal dari Minangkabau? kajian DNA
    sifat asal melayu ialah sifat islam ,yaitu tidak berpuak puak ,sekiranya kita sudah menjadi ber puak puak ,pengertianya kita semakin jauh dari orang melayu ,tuhan sudah menjadikan menghantar para nabi dan rasul juga dihantar sekali raja pemimpin manusia dari belahan dari nabi dan rasul untuk di ikuti ,baik dari para nabi dan rasul atau raja yang di ikuti semuanya karena allah serta untuk mendapat keredaan allah jua .cuba fikirkan apa yang boleh menyatukan umat.

    sumber rujukan rasmi kajian DNA itu : https://yentown.us/wp-content/uploads/137/1.pdf
    penerangan lengkap kajian DNA itu : http://humpopgenfudan.cn/p/A/A1.pdf

  53. yang ikut sekali bersama raja manusia ,raja harimau ,raja gajah, raja buaya ,raja kambing,dan raja kucing,serta raja ular,raja anjing dari rupa bentuk manusia yang sifatnya sama dengan hewan tersebut,turun dari kapal dipuncak gunung kerinci di pulau perca/pulau emas/pulau sumatra ,raja minang kabau ini,yang jadi raja di asia timur sebagai orang islam dari keluarga junjungan besar nabi muhammad s a w ,imam para nabi penghulu para rasul seluruh alam

  54. PADA AWAL PERADABAN UMAT MANUSIA AGAMA MENG ESA KAN TUHAN DIPANGGIL AGAMA TAUHID BERMULA DI DALAM SURGA LAGI DI MANA NABI ADAM ALLAH TAALA NIKAHKAN DENGAN SITI HAWA DI DALAM SURGA DENGAN MAS KAHWIN NYA BERSALAWAT KE ATAS JUNJUNGAN BESAR NABI MUHAMMAD S A W ,SEBAGAI BUKTI SEBELUM SESUATU ALLAH TAALA CIPTAKAN ,MAKA ALLAH MENCIPTAKAN NUR MUHAMMAD S A W ,TERLEBIH DAHULU ,SETERUSNYA ALLAH SUBHANAHUATAALA ,MENCIPTAKAN SEKALIAN RUH ,SURGA DAN NERAKA ,PARA MALAIKAT ,SERTA 4 UNSUR ANGIN,AIR,API,TANAH,ARASY,LANGIT DAN ,BUMI,DARI NUR MUHAMMAD S A W,MAKA AGAMA TAUHID INI DI PIMPIN TIGA NABI DAN RASUL 3 KITAB UTAMA MASA ITU ,SERTA PARA NABI YANG LAINYA,KITAB ZABUR, DI TURUNKAN KEPADA NABI DAUD ALAISSALAM,KITAB TAURAT, DITURUN KAN KEPADA ,NABI MUSA ALAISSALAM,KITAB INJIL, DITURUNKAN ALLAH TAALA KEPADA NABI ISA ALAIHISSALAM,SETERUSNYA KITAB TERAKHIR DI TURUNKAN KEPADA NABI MUHAMMAD S A W,SEBAGAI NABI TERAKHIR YANG MEMBAWA MUKJZAT KITAB SUCI AL QUR AN,DENGAN MEMBAWA AGAMA SUCI AGAMA ISLAM ,SELEPAS KITAB SUCI AL QUR AN DI TURUNKAN MAKA KITAB KITAB YANG SEBELUMNYA DAN AGAMA AGAMA YANG SEBELUMNYA DI BATALKAN SERATA TIDAK DI AKUI LAGI,SEBABNYA ALLAH SUBHANAHUA TAALA TELAH MENYEMPURNAKAN KEBAIKAN ,DAN AJARANNYA KEPADA AGAMA ISLAM,SERTA ALLAH SUBHANAHUATAALA TELAH MEREDHAI AGAMA ISLAM SEBAGAI AGAMA YANG SAH DI TERIMA DI SISI ALLAH SUBHANAHUA TAALA

  55. PADA AWAL KEDATANGAN AGAMA ISLAM SELEPAS NABI MUHAMMAD S A W ,GOLONGAN MANA YANG SUKA MEMERANGI SERTA MEMBUNUH KELUARGA NABI ,APA ALASAN NYA TAK LAIN DAN TAK BUKAN HANYA SEMATA MATA IKUT NAFSU SERTA TIDAK REDHA DENGAN KETENTUAN ALLAH TAALA YANG MENGANGKAT SERTA MENJADIKAN KELUARGA NABI JADI PEMIMPIN DARI KALANGAN MASYARAKAT YANG IKHLAS KARENA ALLAH UNTUK MENDAPAT KEREDAAN ALLAH JUA ATAS TUJUAN INI LAH PARA NABI DAN RASUL SERTA RAJA DARI BELAHAN NABI ,ALLAH TAALA HANTAR UNTUK MEMBIMBING DAN UNTUK MEMIMPIN UMAT MANUSIA ,SEKARANG INI ADA ULAMA PEWARIS NABI YANG BERJUANG DAN BERJIHAD KARENA ALLAH DAN HANYA MENGHARAPKAN KEREDAAN ALLAH JUA SERTA TIDAK MEMINTAK UPAH DI ATAS KERJA DAKWAH YANG DI LAKUKANYA

  56. assalamualaikum pak samantho.
    salam kenal pak

  57. Salam. Trimakasih atas sharingnya, bpk Samantho:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.973 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: