Meninggalkan komentar

DEKLARASI TELUK MANADO 2014 MUFAKAT BUDAYA INDONESIA SE SULAWESI & KALIMANTAN

DEKLARASI TELUK MANADO 2014

MUFAKAT BUDAYA INDONESIA

SE SULAWESI & KALIMANTAN

 

BANGSA Indonesia adalah bangsa yang hidup di Nusantara yang memfasilitasi terjadinya proses persilangan budaya. Kondisi tersebut telah memungkinkan terjadinya proses produksi dan reproduksi kebudayaan sebagai satu dinamika sejarah yang mampu melintasi zaman dalam samudera perubahan.

Continue Reading »

Meninggalkan komentar

MENGURAI KONFLIK DAN MEMBANGUN HARMONI DALAM KEBERAGAMAN 1)

MENGURAI KONFLIK DAN MEMBANGUN HARMONI

DALAM KEBERAGAMAN 1)

 

Oleh:

Juraid Abdul Latief 2)

 

Dalam dua dekade terakhir realitas harmoni Indonesia kerap terkoyak oleh serangkaian konflik berbau kekerasan (violence conflicts) yang marak merebak di berbagai daerah. Selain menyebabkan jatuhnya korban jiwa yang tak sedikit, konflik juga mengakibatkan dampak sosial yang luar biasa. Berbagai konflik komunal bukan hanya sangat mengganggu stabilitas nasional tetapi juga mengancam integrasi bangsa. Komunitas kebangsaan yang diangankan sebagai sebuah bangunan yang solid, sontak berubah menjadi sebuah komunitas semu yang menurut Benedict Anderson (2002) tak lebih hanya sebatas komunitas imajiner. Inilah sebetulnya tantangan terberat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang tersusun secara multikultur, multietnik, dan multiagama yang rapuh dan rentan jatuh dalam perpecahan, jika bangsa ini gagal mengelolanya secara baik. Menyikapi serangkaian konflik yang muncul diperlukan perhatian dari semua pihak.

Continue Reading »

Meninggalkan komentar

DEMOKRASI YANG MERANA: TERABAIKANNYA NILAI-NILAI LOKAL DALAM PENGEMBANGAN DEMOKRASI DI INDONESIA

 DEMOKRASI YANG MERANA: TERABAIKANNYA   NILAI-NILAI  LOKAL DALAM

 PENGEMBANGAN  DEMOKRASI DI INDONESIA

Prof Dr. A. Rasyid Asba,MA[1]

Abstrak

             Membicarakan nilai-nilai kelokalan, khususnya  masalah demokrasi/ hidup berkelompok (wanua)  masih   dapat dikatakan belum dibuka secara bebas karena dapat mengancam integrasi nasional,  khusunya kelompok politik yang masih  menganut paham sentralistik pewarisan Orde Baru. Tradisi sejarah kita, khususnya masalah demokrasi dan  kepemimpinan  manusia Bugis Makassar yang menganut paham egalitarian hampir dilupakan, meskipun tradisi itu   telah berabad-abad tumbuh, dan  kaya akan  nilai-nilai  demokrasi, kini hampir dilupakan, khususnya dalam mengembangkan nilai-nilai dimokrasi di era reformasi ini. Demokrasi nilai-nilai lokal   dianggapnya sebagai  barang museum  yang tak berfungsi,  keculai sebagai kenangan saja. Makalah ini  akan merefleksikan kembali  nilai-nilai kepemimpinan dan sistem demokrasi  dari berbagai kerajaan  yang penah eksis di Sulawesi Selatan, yang hingga kini  belum dilirik sebagai akses bangsa dalam menumbuh kembangkan nilai –nilai  kepemimpinan dan demokrasi di Indonesia. Akibatnya adalah ajaran demokrasi yang banyak diakses dari negara-negara Barat, cenderung  menjadi  ideal type yang pada akhirnya melahirkan ”demokrasi yang merana” tumbuh dan tidak sejalan dengan  buadaya politik kita.

Continue Reading »

Meninggalkan komentar

Multikulturalisme, Sebagai Resolusi Konflik dan Pembangunan Harmoni: Studi Kasus Kaharingan di Kalimantan Tengah

Multikulturalisme, Sebagai Resolusi Konflik dan Pembangunan Harmoni:

Studi Kasus Kaharingan di Kalimantan Tengah[1]

 Oleh: Dr. Marko Mahin, MA[2]

 

Pendahuluan

Kaharingan adalah nama agama  masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah.  Menurut masyarakat Dayak Ngaju,   Kaharingan telah ada beribu-ribu tahun sebelum datangnya agama Hindu, Budha, Islam dan Kristen.   Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2007, di Kalimantan Tengah (yang terdiri dari 13 Kabupaten dan 1 Kotamadya)  terdapat  223.349 orang penganut agama Kaharingan (Kalimantan Tengah Dalam Angka 2008).  Kata Kaharingan berasal dari bahasa Dayak Ngaju, yang  muncul dan dipakai dalam upacara ritual keagamaan. Dalam basa sangiang yaitu bahasa ritual para imam ketika menuturkan mitos-mitos suci, kata Kaharingan berarti “hidup atau kehidupan”  (Baier, Hardeland dan Schärer, 1987: 48).

Continue Reading »

Meninggalkan komentar

KEBUDAYAAN MINAHASA DALAM KEBERAGAMAN SOSIAL INDONESIA

KEBUDAYAAN MINAHASA DALAM KEBERAGAMAN SOSIAL INDONESIA

Kontribusi Kebudayaan Minahasa

Bagi Kerukunan Umat Beragama di Indonesia[1]

Oleh:

Dr. Richard A.D. Siwu, Ph.D.

 

Pendahuluan

Keberagaman sosial (social plurality) di Indonesia telah berabad lamanya, dengan adanya kemajemukan etnis dan budaya bahkan agama di persada Nusanara. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat Indonesia sejak dahulu sebetulnya telah menerima dengan sendirinya (take for ganted) kemajemukan (plurality).[2] Namun, konflik horizontal di berbagai wilayah Nusantara beberapa tahun terakhir, yang melibatkan penganut agama ataupun etnis yang berbeda, seakan mengindikasikan hal yang kontroversial. Menerima dengan sendirinya kemajemukan sosial tidak serta-merta identik dengan kerukunan hidup berdampingan dalam keberbedaan. Nampaknya masyarakat Indonesia masih harus belajar bagaimana hidup bersama dalam satu bangsa yang memiliki keberagaman sosial, kultural dan agama. Hal ini menyatakan pula bahwa kerukunan bukanlah sesuatu yang terberi, bukan hanya sekedar slogan, doktrin, ataupun top-down instruction, melainkan  suatu perilaku sosial yang dilandasi oleh penghayatan akan kebersamaan dalam keberagaman (senasib dan sepenanggungan).

Continue Reading »

Meninggalkan komentar

Islam Kapitalis

Originally posted on :

Agama memang bukan muncul dan berkembang di tengah realitas yang sunyi. Islam hadir memberikan alternatif kehidupan dan semangat perlawanan di tengah iklim penindasan dan eksploitasi kemanusiaan.

Spirit Agama yang menolak manusia menghamba pada penindasan membuat Nabi, para Imam,  orang-orang suci dan para pejuang Islam datang di tengah masyarakat selalu berada dalam resiko.

View original 481 more words

Meninggalkan komentar

Jangan Bersedih, Surga-Nya Cukup Luas Untuk Semua Agama

bali-hindu-family-720x479 ISLAMTOLERAN.COM– Suatu ketika, salah seorang sahabat Nabi yang bernama Salman Al-Farisi tampak gusar. Sebelum mengenal Nabi dan menjadi seorang Muslim, Salman adalah seorang penganut Nasrani yang tinggal bersama para biarawan di gereja. Salman mengenal para biarawan itu sebagai orang-orang yang baik dan saleh. Hal itu membuatnya sedih karena ia mengira bahwa para biarawan itu akan masuk neraka sebab mereka bukan Muslim. Betapa lembut dan pengasihnya hati seorang Salman, yang memikirkan nasib para biarawan baik hati yang sudah dia anggap seperti sahabat dan keluarganya sendiri.
aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.453 pengikut lainnya.