Tinggalkan komentar

Evolusi Lambang negara RI: Garuda Pancasila

Copas dari Kang Yeddi Aprian Syakh Al-Athas

Foto Yeddi Aprian Syakh Al-Athas.
Foto Yeddi Aprian Syakh Al-Athas.
Foto Yeddi Aprian Syakh Al-Athas.
Yeddi Aprian Syakh Al-Athas menambahkan 3 foto baru.

GARUDA / GAR-HUDA / GAL-HUDA / GALLUS-HUDA = AYAM JANTAN RAKSASA YANG MEMBERI PETUNJUK
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Originally Written by:
Yeddi Aprian Syakh Al-Athas

Bismillahir rahmaanir rahiim,

Sampurasun…

Kita kembali pada Kajian ARKEO-LINGUISTIK tentang asal muasal nama “GARUDA” dalam Mitologi Nuh-Sayna-Tha-Ra (Nusantara).

GARUDA Batara Wishnu, Burung HUDHUD Nabi Sulaiman, AYAM JANTAN Raja Solomon, dan Burung PHOENIX dalam Mitologi Yunani kesemuanya merujuk kepada sosok yang sama yang disebut dalam banyak nama.

Dalam Kitab Al-Quran Umat Islam, Burung Hud-Hud ditulis sebagai “HUDHUDA”.

“Dan dia (Sulaiman) memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat HUDHUDA, apakah dia (HUDHUDA) termasuk sesuatu yang GHAIB? Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar akan menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang jelas”. Maka tidak lama kemudian datanglah HUDHUDA lalu ia berkata: “Aku mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya, dan kubawa kepadamu dari SABA suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar”. (QS. An-Naml 27: 20-23)

Sedangkan dalam Kitab Targum II Ester Umat Yahudi yang ditulis pada abad ke-2 SM Burung Hud-Hud disebut sebagai “AYAM JANTAN”.

Continue Reading »

Iklan
Tinggalkan komentar

Bahaya Kekhalifahan dan Negara Islam dan angka 666

==Bahaya Kekhalifahan dan Negara Islam== Dan angka 666==

Saya tidak sedang menyudutkan agama Islam di sini. Justru saya sedang bicara tentang suatu keutuhan dan kesatuan agama tauhid yang diajarkan sejak Adam sampai al-Mahdi. Orang Kristen telah keliru memahami kitab-kitab Perjanjian Baru hanya untuk konteks sektarian mereka dan karenanya membelanya. Demikian juga orang Islam yang tidak lagi mengimani al-Mahdi, membuang Alkitab, dan tergesa-gesar benar menolak atau menerima sesuatu yang kami nyatakan sebagai suatu konteks sektariann.Saya tidak sedang menyudutkan agama Islam maupun agama Kristen, karena jika keduanya adalah agama yang dinisbahkan kepada Yesus dan Muhammad, maka sejatinya keduanya adalah benar dan harus dilihat dari titik mulanya, dan titik temunya.

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

Raden Pamanah Rasa, Menelusuri Jejak Kakek Sunan Gunung Jati

Rabu, 01 Maret 2017 07:30Pustaka

Raden Pamanah Rasa, Menelusuri Jejak Kakek Sunan Gunung Jati

14081041_1758349027764781_1481045411_nRaden Pamanah Rasa, kakek dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)–dalam konteks Sunda-Siliwangi-Padjajaran merupakan episode The Last Kujang di abad XVI. Sosok pemimpin Sunda yang muncul dari latar kesedihan dinasti terdahulu, dengan kharisma yang merambat ke seantero Nusantara, tak terkecuali tatkala kepulauan ini terjamah  para pendatang dari Eropa. Sosok raja Sunda yang berkarakter ‘teuas peureup lemes usap, pageuh keupeul lega awur’ yaitu kepemimpinan yang memiliki keteguhan dalam berprinsip dengan tetap menjunjung tinggi makna welas asih, serta memiliki jiwa yang bersahaja yang tetap memikirkan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Dialah sosok raja besar yang diakui oleh beragam keyakinan.

13221402_1031817820187172_5483801363094429836_oNovel ini, kabarnya, menjadi sebuah gong untuk penulisan-penulisan novel selanjutnya tentang kemaharajaan Nusantara yang belum terungkap. Novel ini ditulis berdasarkan kisah tutur dalam tradisi lisan. Penulis berupaya menuliskan apa yang tak sempat dituliskan. Ruang-ruang yang samar, bahkan gelap, dalam sejarah rupanya memberikan keleluasaan bagi penulis untuk menggali narasi dengan mengandalkan imajinasi, mencoba mencari titik sambung antara satu dan lain masa, membentangkan garis hubungan antara tempat yang satu dan tempat lainnya. Dari awal sampai akhir cerita, sangat tampak bahwa penulis cerdas dalam menata data sejarah ke dalam bentuk novel, patut diacungi jempol. Sejarah yang mana, dari mana, bagaimana tingkat kesahihannya, dipadu dengan data yang berasal dari tradisi lisan menjadikan ‘sejarah’ Raden Pamanah Rasa yang putus kejadiannya menjadi hidup dan berkesinambungan. Novel ini menyiratkan pesan yang mengajak kita untuk berani mempertaruhkan bahwa tradisi lisan patut diperhatikan dengan seksama keberadaannya.

Continue Reading »

3 Komentar

Islam Indonesia, Islam Paling Istimewa Se-Dunia

MusliModerat

17 jam ·

Alhamdulillah, akhir-akhir ini orang merasakan manfaatnya Nahdlatul Ulama (NU). Dulu, orang yang paling bahagia, paling sering merasakan berkahnya NU adalah orang yang sudah meninggal: setiap hari dikirimi doa, tumpeng. Tapi, hari ini begitu dunia dilanda kekacauan, ketika Dunia Islam galau: di Afganistan perang sesama Islam, di Suriah perang sesama Islam, di Irak, perang sesama Islam. Semua ingin tahu, ketika semua sudah jebol, kok ada yang masih utuh: Islam di Indonesia.
Akhirnya semua ingin kesini, seperti apa Islam di Indonesia kok masih utuh. Akhirnya semua sepakat: utuhnya Islam di Indonesia itu karena memiliki jamiyyah NU. Akhirnya semua pingin tahu NU itu seperti apa.

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

The Temples of Atlantis: A Planetary Species of Architects

Unprecedented New Archaeological Evidence That A Highly Advanced “Lost Civilization” Flourished In A Remote Age Older Than Recorded Time

(German) Did the world’s first cultures inherit the same high wisdom from the same more ancient but now-vanished Mother Culture?

The ancient pyramid cultures all built these Triptych (Three-Door) Temples. Does this mean they shared the same religion?


Like the pyramids, the presence of these Triptych Temples worldwide throws enormous weight behind the “Atlantis” theory—the idea that civilization has much older roots than presently accepted by science; that there is a major forgotten episode in human history; that an advanced ancient culture once flourished but was destroyed in a cataclysm; and that history’s first known cultures were inheritors of its legacy.
Continue Reading »

1 Komentar

Mengapa Kita Harus Mencintai Ahlul Bait Nabi?

Khotbah #JUMAT bagi yang tak sempat Sholat Jumat….

Mengapa Kita Harus Mencintai Ahlul Bait Nabi?

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (Qs. Al-Ahzab : 33)

“Jika dengan mencintai keluarga Nabi Saw aku disebut Rafidhi (Syiah), maka saksikanlah sesungguhnya aku seorang Rafidhi (Syiah) dan cukuplah shalatku menjadi tidak sah dengan tidak menyertakan shalawat kepada mereka.” (Imam Syafi’i ra)

Sebagaimana pernyataan Imam Syafi’i ra di atas, akan timbul berbagai pertanyaan dalam benak kaum muslimin yang mau berpikir tentang kebenaran sebuah keyakinan, siapakah yang dimaksud keluarga Nabi (Ahlul bait) yang hendak disucikan oleh Allah swt? adakah kewajiban untuk mencintai mereka sebagaimana kewajiban mencintai Nabi? mengapa dalam redaksi shalawat kepada Nabi kita harus menyertakan pula shalawat kepada keluarganya?

Keistimewaan seperti apa yang dimiliki keluarga Nabi sampai dalam setiap shalat kita harus menyertakan shalawat kepada mereka? Kalau mereka memiliki kedudukan yang agung dan mulia dalam agama ini, namun mengapa kajian tentang keluarga nabi tidak banyak kita dapatkan dalam kehidupan religius kita sehari-hari?

Tidaklah berlebihan, dalam ruang yang sempit ini saya mencoba menyelipkan sedikit tulisan mengenai mereka. Semoga dengan itu kita mau mengenal, mengikuti dan mencintai keluarga nabi atau yang sering kita dengar dengan ungkapan: Ahlul Bait.

Continue Reading »

Tinggalkan komentar

Demokrasi Meritokrasi

Foto Profil Yudi LatifYudi Latif
Demokrasi Meritokrasi

Saudaraku, demokrasi tanpa kepemimpinan hanya melahirkan gerombolan. Dalam gerombolan, kepentingan warga negara mudah menjelma menjadi anarki. Kekerasan, pemaksaan, dan pelanggaran pun tak terelakkan.

Tidaklah sama, antara pemerintahan otoriter dan pemerintahan otoritatif. Demokrasi bermaksud membasmi yang pertama, tetapi tak bisa tegak tanpa kedua. Kenyataan kini, aneka peraturan dan pembangunan tak jalan karena lemahnya otoritas kepemimpinan atas gerombolan.

Demokrasi menghendaki kepemimpinan oleh banyak orang. Proses perekrutannya tak bisa mengandalkan pada keturunan seperti dalam aristokrasi; tidak juga pada kekayaan bawaan seperti dalam plutokrasi; tetapi harus berjejak pada prestasi (merit) warga negara di segala bidang. Dengan kata lain, demokrasi menghendaki kepemimpinan berdasarkan meritokrasi.

Meritokrasi merupakan solusi atas nepotisme, kelembaman kepemimpinan serta daya saing bangsa. Demokrasi tanpa meritokrasi membuat kepemimpinan tercengkeram orang-orang yang mau meski tak mampu.

Continue Reading »

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.