Tinggalkan komentar

Pendidikan Yang Berkebudayaan

Pendidikan Yang Berkebudayaan (PYB): Catatan Khusus (1)

PYB itu adalah judul sebuah buku yang menurutku adalah sebuah magnum opus dari pemikir Yudi Latif (YL) yang sangat komprehensif menyusun mozaik landasan konsep Pendidikan di Indonesia dengan memutar ulang jejak sejarah yang melatarinya dan berupaya membawanya ke konteks kekinian. Sehingga terasa sangat pas jika subjudulnya adalah “Histori, Konsep dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif”. Kata transformasi saya yakin dipakai oleh YL untuk memperkuat gagasannya bahwa Pendidikan itu adalah sebuah proses dan dalam proses tidak ada yg “ujug ujug” pasti ada sebab awal.

oleh: Ahmad Rizali-NU Circle

Seringkali pembaca yang tak sabaran, sesudah mengamati sampul buku akan langsung menelaah daftar isi dan tanpa membaca pengantar dan pendahuluan langsung meloncat ke topik yg paling disukai dan dicari, tenggelam di sana. Ini kesalahan awal dalam membaca sebuah buku, apalagi buku berat sejenis PYB.

Pengantar dan Pendahuluan adalah ibarat ketika membaca peta adalah acuan dan asumsi2 dasar yg wajib kita ketahui dan di sana juga ada batasan2 dari isi peta. Buku yang baikpun wajib memberi “disclaimer” kepada pembacanya semua “domain dan range” yang dibahas di sana agar pembaca tidak ngawur dan sesat. Pembaca yang ajaib sekualitas alm. GusDur, ketika membaca judulnya saja bisa jadi langsung bisa mengisahkan isi buku tersebut. Mengapa ? Karena bisa jadi GD sudah membaca rujukan yg dibaca oleh pengarang dan dia rangkai sendiri.

Jika anda membaca PYB, jangan lewati bab pengantar dan pendahuluan, karena seorang pembaca yg baik adalah seperti manusia beradab tinggi yg diundang makan. Ada Table Manner. Pengatar dan Pendahuluan itu adalah makanan pembuka dan obrolan pembuka pula. Janganlah seperti undangan “nggragas” yang langsung tancap gas ke “menu utama”. Hidangan PYB tak akan memberi kenikmatan dan gizi serta relasi yang intim dengan penyedia hidangan.

So, siapkan diri menikmati hidangan PYB karya besar Master Chief Yudi Latif dan kunyah serta cerna baik baik.

(Bersambung)

Pendidikan Yang Berkebudayaan (2)

PYB adalah GAGASAN PETA JALAN untuk mempraktekan Pendidikan Transformatif Bangsa Indonesia. Namun “Peta Jalan PYB” untuk Menuju Manusia Indonesia Sejahtera yang ditulis Yudi Latif (YL) ini masih berbentuk dugaan/tesis ilmiyah.

Pasi Sahlberg dari Finlandia penulis “Finnish Lessons” sebuah Buku Peta Jalan yg sama dg PYB dlm konteks Finlandia dan cara yg diajukan dan dilaksanakan bangsa Finlandiapun sama pula dengan gagasan YL. Indonesia harus segera mampu menyumbang buku “Indonesia Lessons” dg mempraktekan buku “Pendidikan Yg Berkebudayaan” ini sebagai acuan utama Peta Jalan.

Jika YL juga mengulas lebih dalam “Finnish Lessons” karya Pasi Sahlberg, saya yakin greget buku PYB akan semakin besar karena cara Finlandia mereformasi Pendidikannya untuk menghadapi abad 21, sekali lagi sangat mirip dengan cara yg dianjurkan YL dlm buku PYB, yaitu menggali dan menguatkan “local wisdom” dan menerima serta mempraktekan “global vision”. Uniknya, cara yang ditempuh Finlandia sangat KHD, sementara kita, pewaris sah KHD belum sempat mempraktekan gagasan beliau seperti tulisan YL ini.

Saya tak faham mengapa YL hanya mengutip potongan kecil potret reformasi dan transformasi pendidikan Finlandia, padahal proses perjuangan reformasi pendidikan merekapun dlm skala negeri kecil mirip dengan Indonesia. Finlandia menggali akar budayanya sendiri, mengantisipasi tantangan masa depan dan mengembang gagasan menjadi Peta Jalan fondasi reformasi dan transformasi Pendidikannya yang persis kehendak Yudi dlm PYB.

PYB wajib mengeksplorasi lebih dalam lektur berbasis “NeuroSciences” agar tidak salah tangkap esensi mapel matematika di jenjang SD/MI yg tidak sekedar Calistung dan meski tingkat buta aksara Indonesia mengecil namun tidak berarti yg melek huruf faham yg dibaca. YL mengajurkan peniadaan matematika di jenjang SD/MI dan cukup diajari berhitung saja.

Alangkah semakin dahsyatnya jika YL merujuk ke beberapa studi “neurosains” tentang belajar, saya yakin dia akan lebih tertarik mengutipnya daripada Multiple Intelligences Howar Gardner yg “Project Zero” nya tidak diteruskan. Serial teks cara manusia berfikir seperti “How People Learns (HPL)” dan “How Children Learns Math (HCLM)” dan “Berfikir Majemuk” karya Iwan Pranoto akan memperkaya ulasan YL.

Jika YL merujuk pula ke teks “HPL” dan “HCLM” terbitan Akademi Sains Amerika serta “Berfikir Majemuk” nya Iwan Pranoto, maka YL pasti akan berubah pandangan tentang matematika yang diajarkan di SD/MI sebagai Numerasi bukan sekedar berhitung. Lebih dari itu, PYB akan terlengkapi dengan pemahaman cara otak manusia belajar berbasis “Neuro Sciences”.

YL juga masih seperti cendekia umumnya, menganggap ketrampilan membaca murid Indonesia baik2 saja, padahal hasil uji PISA menunjukkan, Indonesia sudah kembali ke status 18 Tahun yl “kembali ke titik nol” dan YL pun membaca laporan WB bahwa 53 % murid Indonesia usia 15 Tahun tak faham yang mereka baca.

Meski mengutip semua acuan data rendahnya hasil belajar, termasuk yang sangat dramatik dari direktur RISE, Lant Princhett dan laporan WB, YL anggap rendahnya mutu membaca dan matematika tdk begitu penting, karena memberi ulasan sangat sedikit dan usulan perbaikan dalam topik ini juga belum tajam.

(Bersambung ke-3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: