2 Komentar

Siwa, buda, Muhammad rasululah Dan bahtera peradaban (bagian I)

By Asep Kurniawan

Siwa, buda, Muhammad rasululah Dan bahtera peradaban (bagian I)

Dimasa lalu. Ini hanyalah satu gunung. Yang kemudian meletus.

Dibekas gunung purba ini kemudian Muncul belasan gunung baru.

Gunung purba ini jelas amat besar, membentang dari pantai selatan hingga utara. Dari pekalongan hingga magelang dan kebumen.

Gunung ini, boleh jadi tingginya melebihi 10ribu meter. Meski saat ini telah tercerai berai menjadi banyak gunung kecil. Namun akar gunung ini jelas amat dalam menghunjam ke dalam bumi.

Dan dalam legenda tantu panggelaran menjadi pasak, yang menahan bumi dari guncangan.

Mantan gunung besar ini kemudian menjadi semacam mitologi.

Yang cerita tentangnya membentang ke lebih dari separuh dunia, menjejah masa hingga lebih dari 6 ribu tahun silam.

Orang orang akaddia menyebut sebagai SuMeru, sebagai lokasi asal leluhur mereka, sehingga sejarah mencatat mereka sebagai orang sumeria.

Dalam tradisi yang berbeda disebut meru yang agung (mahameru) yang dianggap cikal bakal dari gunung gunung lain.

Tradisi Islam menyebut sebagai Jabal Qaf. Nenek moyang dari semua gunung.

Sebagai mantan bekas gunung, wonosobo dan sekitarnya menunjukan tanda tanda bekas lava di seluruh wilayahnya. Gundukan tanah tipis diatas pasir dan bebatuan dari lava yang membeku.

Kondisi ini menjadikan wonosobo sebagai lembah super subur sekaligus tempat cadangan air terbaik. Sampai sampai pabrik Aqua yang amat rakus air itupun membangun pabrik pertamanya diwilayah ini.

Pada sekitar tahun 622 Masehi, saat mengalami perjalanan spiritual ‘Isra Mi’raj.

Nabi muhammad singgah di satu desa terpencil diketinggian sekitar 2200 meter.

Satu desa yang selama ratusan tahun tersembunyi dan diapit bukit bukit.

Di desa ini lah beliau bertemu pengikut ajaran Siwa buda

‘Aku melihat sebuah desa kecil yang Indah. Tanahnya berdebu putih seperti perak. Berkilau seperti kaca. Desa itu hunian bagi manusia seperti umumnya.

Tatkala penghuni itu melihatku, mereka serempak berkata: segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami kesempatan bisa melihat secara langsung wajahmu, Wahai Nabi Muhammad. Mereka kemudian menyatakan keimanannya kepadaku’

Demikian kalimat pembuka, nabi muhammad dalam cerita perjumpaan itu.

Satu desa yang memiliki lapisan batu dan tanah yang memiliki kristal kristal kecil seperti kaca, yang secara geologis termasuk batuan intrusif

Ptolomeus menyebut desa ini sebagai desa perak karena kilau batuannya jika terkena sinar matahari.

Ditempat inilah kelak, dan ini berulangkali dalam sejarah. Setelah 1500 tahun sebelumnya pernah dibangun padepokan untuk menyiapkan kader penataan nusantara antara pengikut siwa dan buda. Kembali terjadi kesepakatan antara siwabuda dan Islam yang di bawa oleh malik bin nadhar dan abdurahman bin muadz. Untuk membangun padepokan dan kembali menata ulang nusantara. Paska mahapralaya letusan krakatau yang memisahkan jawa sumatra. Dan tsunami yang menghantam seluruh pesisir selatan antara tahun 415-420 masehi.

Dalam perjumpaan tersebut. Pengikut bhatara guru. Bercerita bahwa sepeninggal sang Guru. Nusantara dilanda perang terus menerus. Mereka yang tetap memegang ajaran, diburu oleh pemegang kekuasaan. Hingga suatu saat mereka terjepit didekat laut. Dan tak ada lagi jalan untuk lari. Saat itulah mereka berdoa dan menyerahkan nasib sepenuhnya pada yang kuasa.

‘Pada saat kami berjalan di rerumputan dekat pantai, tiba tiba kami terperosok. Tanah yang kami pijak amblas. Dan ternyata kami ada di sebuah gua. Dan ternyata ini adalah gua yang sangat panjang. Selama 18 bulan lamanya, kami berdiam di gua ini, menyusuri jalan di gua ini. Hingga kami menemukan lubang keluar yang ternyata ada di puncak gunung’ demikian mereka cerita kepada nabi Muhammad, Asal mula mereka menghuni tempat terpencil ini.

Kelak sekelompok orang yang selamat dari perang besar ini. Dikenal dalam pewayangan sebagai rombongan PARIKESIT.

Dan pintu keluar mereka di gunung, saat ini dikenal sebagai ‘GANGSIRAN ASWATAMA’

Pada masa kolonial inggris. RAFLES diketahui pernah memerintahkan para serdadunya untuk menyusuri jalan purba ini. Yang memiliki jalan tembus hingga ke pantai utara dan selatan jawa. Namun upaya itu gagal. Puluhan serdadu yang masuk melalui gangsiran aswatama, tidak pernah keluar dari lubang itu selama lamanya. Kabar yang menjadi cerita dimasyarakat. Situasi gua sudah banyak dipenuhi lumpur dan mereka terperangkap.

Dan memang demikianlah. Sebagaimana yang banyak diketahui masyarakat setempat. Gangsiran aswatama kemudian dipakai sebagai lubang pembuangan air. Untuk menguras air dari rawa rawa yang sebelumnya menenggelamkan kawasan candi dieng.

Masyarakat desa siwa buda ini, terlihat begitu menakjubkan bagi Nabi Muhammad. Beliau kemudian mengajukan beberapa pertanyaan pada mereka.

” aku melihat rumah kalian tidak ada pintunya, kenapa?”

Mereka menjawab:” kami walaupun bukan saudara, tapi kami seperti saudara. Hati dan jiwa kami terpatri dalam satu perasaan yang sama. Kami tidak pernah khawatir akan terjadi tindak kejahatan di antara kami.

Kenapa rumah ibadah kalian bangun jauh dari rumah rumah kalian? Tanya Rasul.

Dalam keyakinan kami, seseorang yang mendatangi rumah ibadah dari tempat yang jauh, akan mendapatkan karma baik yang jauh lebih banyak dari pada seseorang yang mendatangi rumah ibadah dari tempat yang dekat. Jawab mereka.

Aku melihat kuburan di tempat ini sangat dekat dengan rumah-rumah penduduk, bahkan, ada di depan bangunan rumah mereka? Tanya rasul. “Agar kami setiap saat dapat melihat kuburan itu, hingga kami tidak disibukkan lagi dengan dunia dan melupakan kematian” jawab mereka.

“Kenapa penduduk kota ini jarang tertawa terbahak bahak” rasul kembali bertanya.

“Bagi kami tertawa terbahak-bahak hanya akan membuat hati kami gelap gulita. Oleh karena itu kami tidak pernah tertawa terbahak bahak” itulah jawaban mereka.

Rasul kembali bertanya : apakah penduduk kota ini ada yang terserang penyakit?

Penyakit itu penebus dosa, kami tidak pernah melakukan dosa.

Apakah kalian bercocok tanam?

Ya wahai Rasul, namun kami mendatangi sawah kami saat tanam saja. Sehabis itu, kami biarkan tanaman kami, kami pasrahkan sepenuhnya kepada Allah. Saat panen tiba, baru kami beramai ramai mendatangi sawah kami. (Syarah Hamami Yasin, Hamami Zadah, 11-12, dgn perbaikan konteks).

Catatan diatas meninggalkan beberapa jejak yang masih tersisa hingga kini. Walaupun pemahaman terhadap hal tersebut nyaris telah hancur saat ini.

Sasi, salah satu sebutan panen bersama, dalam satu lingkup kumunal yang pada awalnya berlangsung secara bulanan dan pernah eksis di nusantara dimasa lalu.

Ini meliputi tidak hanya area hutan larangan. Namun juga, sawah dan ladang yg pada masa selanjutnya berubah menjadi semacam bengkok. Hasil hasil sungai, dan lainnya, secara bergantian tiap bulannya. Untuk kemudian dibagikan kepada tiap keluarga sesuai kebutuhan.

Konsep ini mengalami kehancuran di era kolonial dan musnah total pasca reformasi

MOU antara Nabi muhamad dgn penganut siwa buda kemudian, menghasilkan kesepakatan untuk membangun ulang desa/wanua berdasar konsep desa terpencil tadi. Plus hukum adat yang berlaku di tiap desa/nagari disesuaikan dengan ajaran masing masing. Dimana desa siwa, buda dan islam berdiri sendiri.

Dan menentukan adat yang sesuai ajaran masing masing.

Tidak lama setelah itu menjelang pertengahan tahun 600an, dibangunlah semacam padepokan di desa itu. Dimana, para murid belajar dan menjalani kehidupan yang lengkap dgn adat yang nantinya bisa mereka terapkan di wilayah masing masing.

Dimana tiap murid belajar, untuk bagaimana mampu membangun sebuah desa atau wanua dari Nol/babat alas. Sekaligus memiliki pemahaman yang baik terhadap ajaran masing masing.

‘Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya’

‘Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah’
(Bersambung)

2 comments on “Siwa, buda, Muhammad rasululah Dan bahtera peradaban (bagian I)

  1. Trimkasih admin Dtgu cerita selanjutnya

    Rahayu Umy

  2. Kupasan kupasan yg sangat menggugah, keimanan, imajinasi atau pun rasa nasionalis. Terimakasih atas berbagai ilmunya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: