Tinggalkan komentar

Epos Ramayana, mana yg aslinya?: versi India vs Versi Jawa Nusantara

*Mengkritik Tulisan Dr.Gauri Mahulikar*
EFFECT OF RAMAYANA ON VARIOUS CULTURES AND CIVILISATIONS
(PENGARUH RAMAYANA TERHADAP BERBAGAI BUDAYA DAN PERADABAN)

 

Oleh Agus Wirabudiman

 

Berhubungan dengan epic Ramayana, menurut Gauri Mahulikar menyebutkan dalam pengantar tulisannya : Ramayana adalah sumber mata air dari tradisi besar sastra, budaya, agama; tidak hanya di India, tetapi di pulau-pulau, wilayah dan negara-negara sejauh di samudera Pasifik juga. Ada dua aliran utama yang mengalir dari India, tempat kelahiran Ramayana; satu ke Asia Tenggara (SEA) dan yang lainnya ke negara-negara barat, mewakili aspek budaya dan sastra masing-masing. Makalah ini bertujuan untuk menyoroti budaya pengaruh terutama dan dengan demikian SEA akan menjadi titik utama. “Beberapa karya sastra yang diproduksi di sembarang tempat telah sepopuler ini, berpengaruh, ditiru dan sukses sebagai puisi epik Sanskerta yang besar dan kuno, itu Ramayana”, kata Robert Goldman.” [1]

Selanjutnya Gauri Mahulikar mengklaim seolah sumber satu-satu kisah Ramayana bermula terjadi di Peradaban India kuna saja, sehingga wilayah-wilayah negera lain adalah meniru sebagaimana yang diungkapkan Robert Goldman di atas, seperti Indonesia, Malaysia dan yang lainnya adalah dampak penyebaran budaya tradisi besar sastra dari negara India sekarang, beliau menuliskan : “Meskipun India adalah tanah rumah dari Ramayana, sekarang milik seluruh dunia dan merupakan harta yang unik, sosial, budaya, spiritual, filosofis dan sastra dari umat manusia. Perbedaan setup ideologi, politik dan agama dari negara-negara dipengaruhi oleh Ramayana, tidak pernah menjadi halangan dalam kemajuan dan popularitas epik. Daerah yang telah datang di bawah kekuasaan epik ini merupakan negara-negara Asia Tenggara (SEA) terutama seperti Kamboja, Indonesia, Jawa, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Efeknya adalah dari dua jenis: (a) Bahasa dan sastra, (b) Seni dan Arsitektur.” [2]

Selain Robert Goldman, Gauri Mahulikar pun terpengaruh dengan tulisan Will Durant, sejarawan Amerika terkemuka, India adalah yang paling kuno peradaban di dunia telah mengerahkan pengaruhnya di seluruh dunia, dan itu Orang India mengeksplorasi rute laut, menjangkau dan memperluas pengaruh budaya mereka Mesopotamia, Arab dan Mesir, pada awal abad ke-9 SM Ramayana telah mencapai Siberia yang membeku.(Lokesh Chandra,”Indian Culture in Transbaikalian Siberia”, article in V.C.V.,p.629.)[3]

Ramayana versi Malaysia, yang dikenal sebagai Hikayat Seri Rama (HSR), menawarkan bahan yang menarik untuk studi akulturasi. Disini, Dasaratha dikatakan sebagai yang terbaik cucu dari Nabi Adam. Rahwana ditampilkan memiliki anugerah dari Allah, bukan Brahma.(Srinivasan, K.S., “Ramayana Traditions in South East Asia”, article in CIRSW,p.xxx). Jadi kita menemukan bahwa kedatangan Islam tidak membuat perbedaan, sebaliknya, vitalitas segar diberikan pada aslinya dengan adaptasi, asimilasi dan integrasi. Versi pertama Ramayana dalam bahasa Jawa kuno adalah karya Yogesvara pada abad ke-9 M, sebuah karya dari 2774 bait dalam gaya manipravala yaitu campuran bahasa Sansekerta dan Kawi. Ravanavadham dari Bhatti, yang dikenal sebagai Bhattikavya telah sangat memengaruhi Ramaya Indonesia dan Jawa. Di Bali Ramakavaca dari 22 bait dalam bahasa Sansekerta ditemukan. Beberapa ayat ini adalah identik dengan Ramayana Valmiki. (Goudriaan, T., “Sanskrit Texts and Indian Religion in Bali”, article in India’s Contribution to World Thought and Culture, Vivekananda Commemoration Volume (V.C.V.), Madras, 1970,p.562).[4]

Menurut temuan Gauri Mahulikar : Bahasa Sansekerta, selama berabad-abad, merupakan satu-satunya bahasa penghubung, yang diperbaiki dengan baik oleh pengguna regular pengajaran tata bahasa tersedia di seluruh India dan Asia Timur, yang memungkinkan propogasi dan popularisasi Ramayana. Selanjutnya beliau menyampaikan : Asal-usul Kata-kata India sangat umum yang diucapkan dalam bahasa Thai dan Indonesia. Itu Bahasa Jawa Kawi adalah campuran dari bahasa Sanskerta dan asli Jawa, juga disebut Lama Orang jawa. Namun demikian, bahasa Jawi Baru telah bercampur dengan kata-kata Arab dan Persia; benar bukti aturan Islam di sana. Di Filipina, juga, banyak kata-kata Sansekerta ditemukan.[5]

Dalam hal penelitian Bahasa Sangsekerta ini, Gauri Mahulikar hampir senada dengan hasil penelitian Purbacaraka yang mengatakan bahwa tujuh puluh sampai delapan puluh persen (70-80%) bahasa Jawa kuna (kawi) adalah Bahasa Sangsekerta murni.[6] Yang dimaksud dengan bahasa Jawa kuna /atau Bahasa Sangsekerta murni adalah bahasa sebelum ada pemisahan antara bahasa Sunda dan Jawa seperti sekarang. Artinya pemilik dari Bahasa Sangsekerta murni (70-80%), termasuk epic Ramayana adalah berasal dari leluhur bangsa Indonesia (Yavadvipa /Jawadwipa) yang menyebar ke seluruh wilayah Asia Tenggara (SEA) sampai ke daratan India sekarang. Dari daratan India lalu baru menyebar ke Negara-negara barat.

Bahkan apabila memperhatikan isi yang tertulis dalam epic Ramayana oleh Valmiki (500-400 SM) mengatakan bahwa Rama mencari Sita ke wilayah pulau Yavadvipa[7]. Dari hasil penelitian para sarjana barat sendiri menyimpulkan bahwa yang dimaksud wilayah/kepulauan Yavadvipa adalah Java (Jawa) Indonesia sekarang. Oleh karena itu sangat wajar jika kisah mengenai Rama, Sita, Rahwana, Sugriwa dan lain sebagainya terdapat juga di Indoensia (Jawadwipa) yang dikisahkan dalam berbagai bentuk Seni, Tradisi maupun Arsitektur Candi di Indonesia adalah bukan sebuah tiruan /atau meniru dari hasil sebaran sastra epic Ramayana dari Negara India.
—————–
[1]Dr Gauri Mahulikar, “EFFECT OF RAMAYANA ON VARIOUS CULTURES AND CIVILISATIONS”, https://www.yumpu.com/en/document/read/6476999/effect-of-ramayana-on-various-cultures-and-civilisations-sabrizainorg diunduh 20 Januari 2020 M
[2]Ibid.
[3]Ibid.
[4]Ibid.
[5]Ibid.
[6]Quoted in Hindustan Standard (Calcutta) : According to Poerbatjoroko a well-known Javanese scholar, between seventy and eighty per cent of the words of Javanese language are either pure Sanskrit or of Sanskritic origin.(Quoted in Hindustan Standard (Calcutta), December 30, 1962.)
[7]The island of Java was the earliest island within Indonesia to be identified by the geographers of the outside world. “Yavadvipa” is mentioned in India’s earliest epic, the Ramayana dating to approximately 5th–4th century BC. It was mentioned that Sugriva, the chief of Rama’s army dispatched his men to Yawadvipa, the island of Java, in search of Sita (Kamlesh Kapur, History Of Ancient India (portraits Of A Nation), Sterling Publishers Private Limited 2010, ISBN 978-81-207-5212-2),hlm.465.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: