Tinggalkan komentar

SUNDA REK DIBAWA KAMANA?

SUNDA, REK DIBAWA KAMANA?

by Kabayan ?

Kebanggaan menjadi bangsa sunda adalah kebanggaan yang seharusnya dimiliki oleh setiap manusia sunda. Kebanggaan yang memiliki dasar yang kuat, alasan yang dapat dijelaskan dengan alur sejarah yang terentang ribuan tahun, yang menggambarkan bagaimana besarnya bangsa sunda.

Dalam kajian ilmiah yang diakui atau setidaknya menjadi rujukan para ahli sejarah, Bangsa sunda sudah bertransformasi menjadi sebuah Negara sejak awal masehi. Sebuah perubahan dan keputusan yang penting, yang menunjukkan tingginya kebudayaan Sunda.

Sebuah bentuk pemerintahan yang dibangun, membutuhkan sistem yang kompleks, sistem yang terjalin dalam sebuah struktur rumit untuk menjalankan roda pemerintahan. Perlu kebudayaan dan pengetahuan tinggi untuk membangun itu. Perlu pula kesiapan yang matang dari semua unsur termasuk masyarakatnya, dan bangsa sunda telah berhasil mewujudkannya jauh sebelum bangsa-bangsa lain di nusantara ini, jauh sebelum sriwijaya dan majapahit yang mashur, bahkan jauh sebelum beberapa bangsa eropa yang saat ini menjadi Negara besar.

Sunda sebagai Negara, adalah satu-satunya Negara yang mampu bertahan lebih dari 1.500 tahun, sebuah pencapaian yang luar biasa. Saya memilih untuk tidak memisahkan serangkaian masa pemerintahan sehingga memisahkan sebuah keutuhan sunda sebagai sebuah Negara. Sunda, dimulai sejak era Salakanagara, berlanjut menjadi Tarumanagara, kemudian dipisah jadi dua Negara, Sunda dan Galuh, kemudian kembali lagi menjadi satu kemaharajaan Sunda. Adalah merupakan rangkaian yang tidak bisa dipisahkan, alur itu adalah satu alir yang saling terhubung. Pemerintahannya juga adalah satu keturunan yang sama. Salakanagara menjadi Tarumanagara sejatinya hanya berganti nama kerajaan saja karena pendirinya adalah keturunan raja Salakanagara terakhir.

Kemudian Tarumanagara berganti nama menjadi Sunda, juga adalah berganti nama saja, karena pendiri Tarumanagara adalah menantu dari dari Linggawarman, raja terakhir tarumanagara. Linggawarman tidak memiliki anak laki-laki. Anak yang pertama (Dewi Minasih) menikah dengan dengan Terusbawa dari kerajaan bawahan di Sundapura, yang kemudian mengganti nama Tarumanagara menjadi Sunda. Anak yang kedua (Sobakancana) menikah dengan Dapuntahyang, pendiri Sriwijaya.

Ketidaksetujuan Wretikandayun terhadap pemilihan Tarusbawa sebagai penerus Linggawarman dan keputusannya yang memindahkan ibukota ke Sundapura, menyebabkan pemisahan Galuh dari Tarumanagara. Taruma terpecah menjadi Sunda dan Galuh, dua Negara yang sering disebut Negara kembar, dipisahkan oleh aliran sungai Citarum. Namun itu tidak berarti bangsa Sunda terpecah, karena kedua Negara tersebut adalah keturunan Tarumanagara, apalagi kemudian keturunan-keturunan penguasa kedua Negara saling menikah kembali. Jadilah seolah satu Negara dengan balutan sunda dan galuh. Sunda dan galuh kembali menyatu di beberapa periode pemerintahan. Sampai kemudian Prabu Siliwangi (Ratu Jayadewata/Sri Baduga maharaja) menjadi maharaja sunda yang menerima tahta dari ayahnya (prabu Dewa Niskala, Raja Galuh) dan dari mertuanya (Prabu Susuknunggal, raja Sunda), menyatukan sunda dan galuh lebih permanen. Ini sekali lagi membuktikan sunda itu satu, walau bernama Galuh dan Sunda. Perselisihan yang terjadi juga seringkali dapat didamaikan oleh orang tua mereka yang sama.

Sunda baru hancur di abad 16. Raja terakhirnya Prabu Ragamulya/Nusya Mulya/Prabu Suryakancana yang juga bergelar Pucuk Unum Pulasari karena berkedudukan di Pulasari, Pandeglang, tidak lagi di pakuan. Walaupun Cirebon dan banten adalah juga keturunan Sunda/Pajajaran, tapi sepertinya nama sunda seperti terhenti sebagai sebuah Negara. Kehancuran inilah yang memberi kesempatan kepada Mataram untuk menguasai tanah Sunda, Negara yang sudah berkeping-keping tidak mampu melawan bala tentara yang sedang masa digjaya. Sunda hancur karena perpecahan di dalam tubuh sendiri, keinginan berkuasa yang mengesampingkan keutuhan Negara dan kebanggaan sebagai sebuah bangsa. Pengaruh luar yang begitu kuat menjadi salah satu pemicunya. Fitnah dan penghianatan begitu merajalela ketika masa-masa
terakhir kerajaan Sunda. Dikisahkan benteng kota pakuan dalam masa terakhirnya, benteng yang begitu kuat karena kehebatan para prajuritnya walaupun tinggal sedikit saja, akhirnya bobol karena penghianatan. Lenyapnya kerajaan Sunda, diakhiri dengan diboyongnya batu tempat penobatan raja, Palangka Sriman Sriwacana ke Banten, yang juga berarti tidak aka nada lagi raja sunda yang dinobatkan.

Berakhir sudahlah sunda, yang terentang dalam masa yang sangat panjang. Bangsa sunda adalah bangsa yang tidak suka menjajah, gampang menerima orang lain, gampang memaafkan mengutamakan persaudaraan dan perdamaian daripada ambisi politik.

Di masa lalu, Sunda maupun Galuh adalah kerajaan besar yang sangat kuat, Majapahit pun tidak berani datang berhadapan langsung dan menyatakan perang, Sunda tidak pernah menjadi bawahan majapahit, tidak pernah ada upeti sebagai kerajaan bawahan ke sana.

Sriwijaya pun yang katanya pernah menguasai Sunda, ini juga diakibatkan adanya perasaan hubungan persaudaraan yang begitu kuat dari raja Sunda dengan pendiri Sriwijaya. Sunda sebetulnya mampu meluaskan kekuasaannya ke Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, dan ke daerah lainnya, tapi semuanya tidak dilakukan, sunda bukan bangsa penjajah, kedamaian dan keduduka yang setara lebih diutamakan.

Raja-raja sunda pun terbiasa mengalah untuk kedamaian, ketika Dewa Niskala yang dianggap melanggar aturan karena menerima orang-orang Majapahit yang jatuh di jaman Pangeran Kertabumi, padahal Majapahit dianggap sebagai penghianat karena memerangi Prabu Wangi (prabu Maharaja Linggabuana) dengan licik di Bubat, akhirnya mengundang marah Prabu Susuknunggal terhadap Prabu Dewa Niskala, tetapi keduanya kemudian mengalah, berdamai, dengan mengundurkan diri sebagai raja, dan menyerahkan tahtanya kepada putera Prabu Dewa Niskala yang juga menantu Prabu Susuknunggal, yaitu Prabu Jayadewata (Prabu Siliwangi). Bagaimana kebesaran hati mereka, kedamaian dan persaudaraan adalah yang utama daripada tahta dan perselisihan yang hanya akan memecah belah Negara.

Pelajaran yang kita bisa ambil adalah: Sebagai bangsa, Sunda adalah bangsa yang besar, yang mampu berdiri dan meraih kejayaan dalam jangka waktu yang sangat lama, hampir 16 abad, jangka waktu yang hampir mustahil dicapai oleh bangsa mana pun. Bangsa sunda adalah bangsa yang berkebudayaan tinggi, bahkan menjadi pelopor dan pemberi pengaruh besar bagi kerajaan-kerajaan lain di nusantara.

Bangsa Sunda adalah bangsa yang memberi pengaruh besar bagi NKRI. Bangsa sunda adalah bangsa yang mencintai dan mengutamakan kedamaian, persatuan, persaudaraan. Tapi bangsa sunda juga mengalami masa yang sangat pahit, karena penghianatan, perpecahan, dan ambisi kekuasaan karena pengaruh dari bangsa lain.

Tidak seharusnya bangsa Sunda menjadi bangsa yang minder, bangsa yang termarjinalisasi, bangsa yang selalu berada di bawah bangsa lain. Sudah seharusnya bangsa sunda memiliki kepercayaan diri sebagai bangsa yang besar, bangsa yang memiliki pegaruh yang kuat dalam percaturan kehidupan Negara saat ini.

Bangsa sunda harus menjadi bangsa yang sangat diperhitungkan dalam berbagai aktivitas kehidupan. Semuanya hanya bisa dicapai jika bangsa sunda bersatu, tidak terbawa arus upaya pemecah belahan dengan alasan apa pun, termasuk politik yang saat ini sedang menghangat, orang sunda harus saling mendukung, tidak saling menjatuhkan walaupun berbeda pilihan.

esalahan yang dimiliki para calon gubernur, tidak harus di “korehan” karena pada dasarnya setiap manusia itu memiliki kesalahan dan kekurangan. Kalau saling mencari kesalahan, pasti akan ditemukan segudang kesalahan.

Bangsa Sunda juga harus berlapang hati, ketika siapa pun yang menang dalam kontestansi politik, tanpa harus meninggalkan sikap kritis. Karena sungguh beda kritis dan menjatuhkan.

Dalam bidang yang lain pun demikian, dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, dan lain-lain. Sudah seharusnya bangsa Sunda “berbicara”, saling dukung adalah kuncinya. Dengan jumlah hampir 40 juta atau lebih manusia sunda, adalah potensi yang besar bagi kemajuan bangsa ini. Dengan jumlah yang sedemikian banyak, sungguh tidak punya muka jika tidak bisa berbuat banyak.

Kejayaan bangsa Sunda bergantung pada kita sebagai individu maupun kelompok.
Kita pernah menelan pil pahit kemudian terjerembab ke dalam lubang, pelajaran yang seharusnya kita ingat dan jadi pegangan untuk melangkah. Negeri bernama Sunda telah hilang yang hampir tanpa jejak karena perpecahan, penghianatan, dan terbawa arus pecah belah bangsa lain. Sedih rasanya ketika beberapa kalangan yang di dalamnya ada juga tokoh Sunda mengatakan bahwa Nagara Sunda hanyalah dongeng belaka karena bukti-bukti yang sangat sedikit.

Jika kita merasa menjadi bangsa Sunda, adalah kewajiban kita untuk membuat Sunda Kembali Berjaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: