44 Komentar

Awal Mula Para Raja Nusantara

KISAH AWAL MULA DAN SILSILAH LELUHUR PARA RAJA NUSANTARA

Marilah kita lanjutkan cerita tentang leluhur bangsa Nusantara yang telah saya jelaskan dalam Kisah Zaman Awal Peradaban Bangsa Bumi. Dalam kisah sebelumnya telah dijelaskan bahwa zaman Dwapara Yuga (diperkirakan terjadi pada tahun 8.984 SM), ditandai dengan kelahiran Sang Avatar Sri Krishna. Pada zaman itu, dikisahkan terdapat sebuah bangsa besar bernama bangsa Bharatadengan kerajaannya bernama Hastina (diceritakan dalam kitab Mahabharata). Wilayah kerajaan Hastina diperkirakan mencakup wilayah India sebagai pusat kerajaannya, dan membentang luas hingga ke wilayah Nusantara (sekarang).

Dalam perkembangannya, kerajaan Hastina ini terpecah menjadi dua, akibat pertikaian antara para Kurawa dan para Pandawa yang masih bersaudara. Pihak Pandawa yang seharusnya menjadi pewaris tahta kerajaan Hastina, diperdaya oleh pihak Kurawa (dengan akal licik Patih Sengkuni), sehingga mereka hanya mendapatkan hak kekuasaan atas tanah yang sebagian besar wilayahnya merupakan hutan belantara (dikenal sebagai hutan Kandawa). Nah, tanah hutan belantara yang diserahkan kepada pihak Pandawa inilah yang selanjutnya dibangun oleh pihak Pandawa menjadi sebuah kerajaan besar, makmur dan berperadaban tinggi bernama Indraprasta, dimana wilayahnya berlokasi di Nusantara (sekarang). Diduga kerajaan Hastina dan Indraprasta inilah yang oleh Plato disebut sebagainegara Atlantis sebagaimana yang dijelaskan pada catatannya sebagai berikut:

“Negeri Atlantis dikelilingi oleh pegunungan, dan lebih tinggi dari permukaan laut. Mengandung gunung berapi, dan sering terkena gempa dan banjir. Gunungnya mengandung emas, perak, tembaga, dan timah, dan gabungan alami dari emas dan tembaga yang disebut orichalcum”.

Namun sayangnya kerajaan Hastina dan Indraprasta yang makmur dan beperadaban tinggi tidak berlangsung lama karena terjadi perang Bharata Yudha, antara pihak Pandawa (kerajaan Indraprasta) dan pihak Kurawa (kerajaan Hastina) yang melibatkan senjata berteknologi tinggi (senjata sejenis nuklir). Paska Perang Baharata Yudha, baik kerajaan Hastina maupun Indraprasta kedua-duanya mengalami kerusakan yang parah akibat penggunaan senjata pemusnah massal, dan paparan debu radio aktif yang telah membinasakan sebagian penduduknya dalam area yang luas.

Paska Perang Bharata Yudha,  kerajaan Hastina dan Indraprasta selanjutnya disatukan di bawah kekuasaan Pandawa sebagai pihak pemenang, dengan pusat kerajaannya di Indraprasta (Nusantara). Pandawa bersama sesepuh bangsa Bharata juga memutuskan untuk menghancurkan segala jenis senjata pemusnah massal dan tidak lagi mengembangkan iptek, karena menyadari akibatnya yang berujung pada peperangan. 

Paska perang Bharata Yudha, dikisahkan Prabu Yudistira (Pandawa) tidak lama memerintah di kerajaan Hastina dan Indraprasta, karena mereka memutuskan untuk mundur (mandeg pandito), dan menyerahkan tahta kerajaan kepada Parikesit (cucu Arjuna). Setelah Prabu Parikesit, kerajaan Hastina dan Indraprasta masih berlangsung selama 3 (tiga) generasi lagi, yakni: Prabu Yudayana, Prabu Yudayaka, dan Prabu Gendrayana sebagai raja terakhir (diperkirakan terjadi sekitar 8.900-8.800 SM). 

Pada masa pemerintahan Prabu Gendrayana inilah terjadi peristiwa gempa bumi dan letusan gunung berapi yang dahsyat, sehingga mengakibatkan tsunami dan banjir besar yang menenggelamkan pusat kerajaannya di Indraprasta (Nusantara). (diperkirakan terjadi sekitar 8.800 SM). Peristiwa banjir besar ini diperkirakan dipicu juga oleh terjadinya pemanasan global dampak Perang Bharata Yudha, yang menyebabkan pencairan es di Kutub Utara dan Selatan, atau disebut oleh para ilmuwan sebagai periode akhir zaman Es, dan mengakibatkan kenaikan muka air laut setinggi lebih dari 100 m. Pusat kerajaan Indraprasta (Atlantis) diperkirakan berlokasi di sekitar Laut Jawa dan selat Karimata, dan sebagian lagi berpendapat berlokasi di Selatan Pulau Bali.

Dalam catatannya Plato mengisahkan “Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam”.

Dalam peristiwa ini, pusat peradaban bangsa Atlantis di Nusantara, berikut bangunan-bangunan berteknologi tinggi tenggelam ke bawah permukaan air laut. Sedangkan bangunan berteknologi tinggi lainnya yang tersisa pada wilayah daratan, sejalan dengan waktu, dan akibat bencana letusan gunung berapi yang kerapkali terjadi di wilayah Nusantara, menjadi ikut terkubur di bawah permukaan tanah. Dalam hal ini, Bangunan situs Gunung Padang, di Cianjur diduga merupakan salah satu bangunan yang tersisa dari peradaban Atlantis (Bangunan ini  diperkirakan berusia 10.000 tahun).

Sebagian besar penduduk kerajaan Atlantis (di Nusantara) mengungsi/eksodus dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Penduduk Atlantis yang eksodus ini selanjutnya menjadi cikal bakal dari perkembangan budaya dan iptek yang ada di wilayah Mesopotamia/Sumeria (5.500-2.500 SM), Mesir Kuno (3.150 SM), India Kuno (2.800-1.800 SM), yang oleh sebagian para ilmuwan sebagai kebudayaan tertua di dunia. Adapun sisa-sisa penduduk Atlantis yang masih bertahan di wilayah Nusantara, menyebar menuju wilayah daratan (pulau-pulau) yang tidak tenggelam, dan saat ini dikenal sebagai Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dll.

Kisah selanjutnya, yang mungkin masih menjadi tanda tanya dari pembaca adalahperihal awal dari munculnya kembali kerajaan di Nusantara.

Berdasarkan beberapa narasumber menyatakan bahwa sejak periode 8.800 SM hingga sekitar 5.000 SM, belum ada sebuah kerajaan yang muncul di wilayah Nusantara.Periode selama sekitar 3.800 tahun ini disebutkan sebagai masa perenungan dari sisa-sisa bangsa Atlantis di Nusantara. Mereka bepegang teguh untuk tidak lagi mengembangkan iptek dan berpedoman hidup untuk selaras dengan alam, atau dalam istilah sekarang dikenal sebagai “Back to nature”serta berfokus pada pendekatan diri kepada Tuhan YME (spiritual).

Kemudian pada periode tahun 5.000 SM, dikisahkan muncul kembali raja pertama di Nusantara bernama Sang Hyang Watu Gunung Ratu Agung Manik Maya, dengan pusat kerajaannya di daerah yang saat ini disebut dengan Parahyangan. Adapun arti kata Parahyangan sendiri terdapat beberapa penafsiran, pertama yaitu Pa = tempat; Ra = Cahaya (Sinar); Hyang = Tuhan; kedua yaitu Pa berasal dari singkatan nama Parikesit cucu dari Arjuna; RaHyang = Raja pandita (raja yang juga merupakan Guru Spiritual).Disebutkan bahwa Sang Hyang Watu Gunung Ratu Agung Manik Maya adalah turunan ke-55 dari Prabu Gendrayana (buyut dari Prabu Parikesit).

Sang Hyang Watu Gunung Ratu Agung Manik Maya selanjutnya berputra Maha Ratu Resi Prabu Sindhu LaHyang. Prabu Sindhu inilah yang menyebarkan ajaran SUNDAYANA (ajaran dari Sang Avatar Sri Krishna) hingga menjadi agama utama di seluruh kerajaan Nusantara. Beberapa narasumber menyatakan bahwa Prabu Sindhu disamping sebagai raja, beliau juga seorang Guru Spiritual (Ratu Pandita), dan ada juga yang menyebutkan bahwa beliau adalah nabi yang diutus Tuhan YME. Ajaran Prabu Sindhu (SUNDAYANA) hingga saat ini sebagian masih melekat pada ajaran/agama asli leluhur Nusantara (sebelum kedatangan agama Hindu dari India), antara lain: ajaran Sunda Wiwitan, Kejawen, Hindu Bali, serta beberapa aliran kepercayaan yang ada di Pulau Jawa, Bali, dan wilayah lainnya di Nusantara.

Tidak hanya di Nusantara, Prabu Sindhu juga menyebarkan ajaran SUNDAYANA hingga ke negeri Jepang, dan ajarannya diberi nama Sinto, kemudian juga ke India dengan nama ajaran Shindu dan kemudian berganti nama menjadi Hindu. Dengan demikian terdapat kekeliruan sejarah yang selama ini diajarkan di sekolah, bahwa sesungguhnya asal dari agama Hindu bukan dari India, melainkan dari negeri kita ini (Nusantara). Oleh karena itulah, agama Hindu yang ada di Indonesia (misal Hindu Bali) tidak sama dengan agama Hindu yang ada di India. Demikian juga apa yang disebut sebagai agama Hindu yang banyak dianut masyarakat pada zaman kerajaan-kerajaan Nusantara dulu tidak sama dengan agama Hindu yang ada di India.

Demikianlah kisah kerajaan di Nusantara pada tahun 5.000 SM hingga awal zaman Kaliyuga (224 SM). Sebagian berpendapat, bahwa bentuk kerajaan pada masa itu tidak sama dengan bentuk kerajaan secara umum. Karena kerajaan di Nusantara pada masa itu mirip sebagai padepokan atau pusat kegiatan pendidikan spiritual yang mendunia. Sebagai kerajaan yang dihormati oleh seluruh bangsa-bangsa dan raja-raja di seluruh dunia. Bahkan dikisahkan, bahwa semua raja di seluruh dunia perlu mendapat restu dan dilantik oleh raja Nusantara yang disebut sebagai Ratu Pandita. Dan ada yang menyebutkan bahwa tempat pelantikan para raja di seluruh dunia ini, berlokasi di situs Gunung Padang, Cianjur (saat ini)?

Selanjutnya pada awal zaman Kaliyuga, periode awal tahun Masehi dikisahkan lagi bahwa wilayah Nusantara dipimpin oleh seorang raja agung nan bijaksana bernama Prabu Angling Darma, yang dikenal juga oleh masyarakat Jawa Barat sebagai Aki Tirem Luhur Mulya. Beberapa narasumber kami menyatakan bahwa Prabu Angling Darma ini adalah turunan ke-70 dari Prabu Sindhu LaHyang. Dengan demikian, bila silsilahnya ditelusuri lebih jauh akan sampai ke Prabu Gendrayana (buyut Prabu Parikesit).

Hal yang unik adalah perihal makam Prabu Angling Darma yang diakui berada di 4 (empat) lokasi, yaitu: di Cihunjuran (Banten), Sumedang (Jawa Barat), Pati (Jawa Tengah), Bojonegara (Jawa Timur). Bila kita mengacu pada kisah sebelumnya, bahwa pusat kerajaan Nusantara yang dipimpin oleh Prabu Sindhu berlokasi di daerah Parahyangan, maka silakan pembaca memperkirakan sendiri dimana lokasi sebenarnya dari makam Prabu Angling Darma!!!. Terdapatnya pengakuan dan cerita masyarakat di Pulau Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa) tentang Prabu Angling Darma, menunjukkan bahwa sesungguhnya wilayah kekuasaan Prabu Angling Darma atau Aki Tirem paling tidak meliputi wilayah seluruh Pulau Jawa, bahkan mungkin meliputi seluruh wilayah Nusantara, karena beliau adalah generasi penerus dari Prabu Sindhu yang merupakan Ratu Pandita yang dihormati oleh para raja di seluruh dunia. 

Sebagai generasi penerus Prabu Sindhu, diperkirakan Prabu Angling Darma juga merupakan seorang Ratu Pandita (raja sekaligus pimpinan spiritual), sehingga bentuk kerajaannya tidak sama dengan kerajaan secara umum, namun lebih mirip sebagai padepokan atau pusat kegiatan pendidikan spiritual. Oleh karena itulah, dalam Naskah Wangsakerta, Aki Tirem atau Prabu Angling Darma tidak disebut sebagai raja, namun disebut sebagai Penghulu.  

Pada masa pemerintahan Prabu Angling Darma inilah dimulai berdirinya kerajaan pertama di Nusantara (dalam arti bentuk kerajaan secara umum) bernama Salakanagara. Dalam Naskah Wangsakerta, disebutkan bahwa Salakanagara merupakaan kerajaan tertua di Nusantara, yang berdiri tahun 130/131 M dengan raja pertamanya bernama Dewawarman I, dan pusat kerajaannya (ibu kota) di Rajatapura yang terletak di pesisir Barat Pandeglang (saat ini). Dikisahkan bahwa Dewawarman adalah duta keliling, pedagang sekaligus perantau dari Pallawa, Bharata (India) yang akhirnya menetap karena menikah dengan puteri penghulu setempat bernama Aki Tirem Luhur Mulia atau yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Angling Dharma dalam nama Hindu dan Wali Jangkung dalam nama Islam.

Kerajaan Salakanagara disebutkan dalam catatan Cina sebagai kerajaan Koying yang ditulis oleh K’ang-tai dan Wan-chen dari wangsa Wu (222-208) tentang adanya negeri Koying. Tentang negeri ini juga dimuat dalam ensiklopedi T’ung-tien yang ditulis oleh Tu-yu (375-812) dan disalin oleh Ma-tu-an-lin dalam ensiklopedi Wen-hsien-t’ung-k’ao. Diterangkan bahwa di kerajaan Koying terdapat gunung api dan kedudukannya 5.000 li di timur Chu-po. Di utara Koying ada gunung api dan di sebelah selatannya ada sebuah teluk bernama Wen. Dalam teluk itu ada pulau bernama P’u-lei atau Pulau. 

Gambaran tentang kerajaan Koying ini dalam catatan Cina sama dengan kondisi ibukota kerajaan Salakanagara, yaitu Rajataputra. Penamaan Koying dalam catatan Cina diduga merupakan singkatan dari Ka dan Yin. Ka = gunung Karang (di daerah Pandeglang); Yin = sebelah selatan lereng gunung. Contoh: Huayin, artinya di sebelah utara/selatan gunung Hua. Dan memang Rajataputra ibukota Salakanagara terletak pada lereng selatan gunung Karang (di daerah Pandeglang dan merupakan gunung berapi). Baca perihal penggunaan nama Yin pada suatu tempat di https://id.wikipedia.org/wiki/Yin_dan_Yang.

Hal yang masih menjadi pertanyaan adalah siapakah sebenarnya Dewawarman I yang disebutkan dalam Naskah Wangsakerta?Beberapa narasumber kami menyatakan bahwa beliau tidak lain adalah Aji Saka yang juga dikenal dan banyak diceritakan oleh masyarakat baik di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, maupun Jawa Timur. Adapun yang masih rancu dalam sejarah adalah perihal silsilah Prabu Angling Darma yang disebutkan sebagai putra dari Prabu Jayabaya (Kerajaan Kediri). Bagaimana mungkin Prabu Jayabaya yang lahir tahun 1.135 M wafat tahun 1.179 M, melahirkan anak yang lahir pada periode sekitar awal tahun masehi ? 

Bagaimanapun perihal silsilah Prabu Jayabaya yang menyebutkan beliau adalah keturunan Prabu Gendrayana (buyut Prabu Parikesit) mungkin ada benarnya. Karena sesungguhnya semua raja di Nusantara, termasuk Prabu Jayabaya adalah keturunan dari Dewi Pwahacaci Larasati (putri Prabu Angling Darma), keturunan dari Prabu Sindhu La Hyang, dan keturunan dari  Prabu Gendrayana (buyut Prabu Parikesit), dan juga keturunan dari Aji Saka (Dewawarman I) atau menantu Prabu Angling Darma yang menjadi raja pertama kerajaan Salakanagara. 

Hal yang selanjutnya mungkin menjadi pertanyaan pembaca adalah siapakah sesungguhnya Aji Saka? Mengapa Prabu Angling Darma yang sudah memiliki kekuasaaan luas di pulau Jawa bersedia menikahkan putrinya Dewi Pwahaci Larasati kepada seorang pendatang yang hanya seorang pedagang/perantau dari negeri Pallawa, dan menjadikannya raja Salakanagara?

Beberapa narasumber kami menyatakan, bahwa ini disebabkan oleh masih adanya kekerabatan (tali persaudaraan) antara Aji Saka dengan Prabu Angling Darma. Bila dirunut jauh silsilah dari Aji Saka sesungguhnya adalah turunan dari Nabi Ishak a.s. bin Nabi Ibrahim a.s. Lihat juga https://kanzunqalam.com/2011/05/09/legenda-ajisaka-mengungkap-zuriat-nabi-ishaq-di-nusantara/

Saka sering disebutkan juga sebaga bangsa Scythian atau Sacae, yang merupakan keturunan dari 10 suku Israel yang hilang. Sebagaimana sumber yang dikutip sebagai berikut:

“Nama Abraham dan Ishak akan terus disebut dimanapun mereka bermukim, Brahman dan Saka misalnya. Hal Ini juga tercantum dalam Injil Perjanjian Lama, bahwa keturunan Abraham akan terindikasi dari keturunan (=nama) Ishak (Kejadian 21:12) …..nama nenek dan bapaku, Abraham dan Ishak, termasyhur oleh karena mereka dan sehingga mereka bertambah-tambah menjadi jumlah yang besar di bumi. (Kejadian 48:16)”.

Demikianlah, sesungguhnya Aji Saka adalah turunan langsung dari Nabi Ishak a.s. bin Nabi Ibrahim a.s. yang menetap di negara Pallawa (Bharata) India.

Pertanyaan selanjutnya, lantas apa hubungan tali persaudaraan Prabu Angling Darma dengan Aji Saka?

Masih berdasarkan narasumber yang sama menyatakan, bahwa paska tengelamnya pusat Kerajaan Hastina dan Idraprasta (di Nusantara), salah seorang putera dari Prabu Gendrayana ada yang ikut mengungsi (eksodus) ke wilayah Mesopotamia/ Summeria dan menjadi leluhur dari Nabi Ibrahim a.s. Hal ini adalah sesuai dengan catatan saya tentang Sejarah Agama (Bagian-2) yang menyatakan bahwa kebudayaan Sumeria yang merupakan evolusi dari kebudayaan Samarra berasal dari Nusantara (penduduk Nusantara/ Atlantis yang eksodus). Hal ini diperkuat dengan adanya beberapa temuan dan hasil penelitian yang ada.

Dalam catatan saya tentang Sejarah Agama (bagian-2) juga disebutkan bahwa leluhur Nabi Ibrahim a.s di wilayah Mesopotamia/Summeria pada awalnya beragama SUNDAYANA, yang merupakan ajaran monotheisme (percaya pada Tuhan YME) dan disebarkan oleh para murid Prabu Sindhu. Bukti peninggalan ajaran SUNDAYANA di Timur Tengah dapat dijumpai hingga saat ini dalam bentuk Kuil dan bangunan-bangunan suci yang bercirikan simbol Matahari dan Bulan (Surya dan Chandra). Namun seiring dengan perjalanan waktu (dari periode zaman Prabu Sindhu sekitar tahun 5.000 SM hingga tahun kelahiran Nabi Ibrahim a.s yaitu sekitar tahun 1.997 SM) atau dalam rentang waktu sekitar 3.000 tahun, agama SUNDAYANA ini telah banyak menyimpang. Masyarakat Mesopotamia/ Summeria pada zaman Nabi Ibrahim a.s. percaya kepada banyak Dewa, dan menyembah berhala seperti dijelaskan dalam kitab suci Al Qur’an.

Hingga akhirnya Tuhan YME mengutus Rasul-Nya Nabi Ibrahim a.s. untuk mengembalikan ajaran yang lurus dan bersumber langsung dari Tuhan YME. Kisah tentang Nabi Ibrahim a.s dapat dibaca dalam Kitab Suci Al Qur’an dan Kitab Injil (Perjanjian Lama). Selanjutnya, dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim a.s berputra Nabi Ishak a.s. dan Nabi Ismail a.s. Nabi Ishak a.s. berputra Nabi Yakub a.s., dan Nabi Yakub a.s berputra 12 (dua belas) orang, salah satunya adalah Nabi Yusuf a.s.

Dari putra Nabi Yakub a.s ini selanjutnya menurunkan bangsa/bani Israel dan membentuk negara Israel, yang pada awalnya terdiri dari 12 (dua belas) suku, sesuai jumlah putra dari Nabi Yakub a.s. Seiring dengan perjalanan waktu, selanjutnya negara Israel ini pecah menjadi 2 (dua) bagian, yaitu negara Israel Utara (keturunan dari 10 suku bani Israel, termasuk turunan dari Nabi Yusuf a.s.), dan negara Israel Selatan (keturunan dari 2 suku bani Israel, yakni Yehuda dan Benyamin, dan dikenal juga sebagai orang Yahudi).

Negara Israel Utara selanjutnya diserbu oleh kerajaan Asyur, sebagian penduduknya diangkut sebagai tawanan, dan sebagian lagi mengungsi menyebar ke wilayah negara di sekitarnya. 10 suku yang berasal dari negara Israel Utara inilah selanjutnya yang disebut sebagai suku Israel yang hilang, karena keberadaanya sudah sulit diketahui lagi. Adapun kerajaan Israel Selatan juga hancur diserbu oleh kerajaan Babel. Semua penduduknya ditawan, namun mereka masih tetap bersatu sehingga keberadaannya mudah dilacak/ diketahui, dan saat ini dikenal sebagai orang Yahudi.

Adapun Aji Saka yang dikisahkan merupakan seorang pedagang/perantau dari Pallawa (India) adalah keturunan dari 10 suku bangsa Israel yang eksodus dan kemudian menetap di daerah Pallawa (India). Dengan demikian, bila dirunut silsilahnya Aji Saka adalah keturunan dari Nabi Ibrahim a.s. dan bila dirunut lebih jauh lagi, akan berujung pada Prabu Gendrayana (buyut Prabu Parikesit). Artinya, memang masih ada tali persaudaraan antara Aji Saka (Prabu Dewawarman I) dengan Prabu Angling Darma atau Aki Tirem, karena keduanya adalah turunan dari Prabu Gendrayana.

Hal inilah yang membuat Prabu Angling Darma yang merupakan penguasa kerajaan Nusantara ketika itu, mempercayai Aji Saka untuk menikahi putrinya Dewi Pwahaci Larasati, dan menjadikannya raja di Nusantara, yang kerajaannya diberi nama Salakanagara. Adapun penamaan Salakanagara sendiri sebenarnya merupakan singkatan dari nama Prabu Sindhu LaHyang yang merupakan leluhur dari Prabu Angling Darma, dan Saka (zuriyat/keturunan Nabi Ishak a.s).

Dari semua penjelasan di atas maka dapat disimpulkan, bahwa Aji Saka atau Dewawarman I yang disebutkan dalam naskah Wangsakerta sebagai raja pertama kerajaan Salakanagara, serta Prabu Angling Darma atau Aki Tirem adalah leluhur dari semua raja di Nusantara. Aji Saka lah yang menurunkan para raja dinasti Warman (Purnawarman di kerajaan Tarumanagara dan Mulawarman di kerajaan Kutai), dan selanjutnya menurunkan para raja di Nusantara (termasuk raja Sriwijaya dan Majapahit). Secara lengkap kisah para raja sejak Dinasti Warman hingga periode Mataram Islam dapat dibaca dalam buku sejarah, atau dalam catatan saya berjudul “Sejarah dan Silsilah Kemaharajaan Sunda Nusantara”.

Demikianlah, kisah awal mula dan silsilah dari leluhur para raja di Nusantara. Semoga kisah ini dapat bermanfaat bagi seluruh masyarakat Nusantara untuk lebih mengenal jatidiri bangsa ini yang merupakan bangsa yang besar. Karena dari negara kita inilah semua peradaban dunia bermula, termasuk para Nabi dan Rasul bila dirunut silsilahnya akan kembali ke tanah leluhurnya, yakni di bumi Nusantara ini.

Marilah kita sama-sama untuk mengembalikan kejayaan bangsa kita. Janganlah kita menjadi bangsa yang bodoh (belegug) yang mudah dipengaruhi oleh doktrin-doktrin agama yang memecah belah kerukunan bangsa. Ingatlah, bahwa pada dasarnya semua agama adalah satu !!!, karena bersumber pada Tuhan yang satu. Adapun yang membuat adanya perbedaan, adalah karena faktor manusianya yang salah mengartikan dan memahami ajaran agama yang disampaikan oleh para Nabi/Rasul Allah, dan para Avatar.

Sebagai acuan bagi para pembaca, bahwa untuk membedakan atau mengenal ajaran mana yang sesungguhnya bersumber dari Tuhan YME, hanya satu kuncinya, yaitu pastilah ajaran tersebut memiliki prinsip dasar Kasih Sayang !!!. Oleh karena itulah, dalam setiap surah dalam kitab suci Al Qur’an selalu diawali dengan kalimat “Bismillahirrohmanirrohim”, yang artinya “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”. Dengan demikian, bila ada pimpinan agama/ulama/pendeta yang menganjurkan kebencian atau permusuhan, dapat dipastikan itu adalah doktrin, dan bukan merupakan ajaran sesunguhnya yang bersumber dari Tuhan YME.

Pada masa lalu, doktrin ini sengaja dimasukkan oleh para pimpinan agama atau para penguasa, yang disebut sebagai ayat-ayat atau hadis-hadis palsu. Mereka juga, mencampur adukkan antara ayat satu dengan ayat lainnya sehingga penafsirannya mennjadi berbeda dengan makna awalnya, bahkan menjadi membingungkan bagi para pembacanya. Mereka sengaja memasukan doktrin tersebut, agar umatnya merasa bahwa ada ancaman terhadap agama mereka, atau dalam istilah politik dikenal sebagai menciptakan “musuh bersama”. Pada gilirannya doktrin ini menjadi alat para penguasa atau pimpinan agama untuk mengumpulkan dana/sumbangan dari masyarakat (umat beragama) yang digunakan untuk melanggengkan kekuasaanya, dan bahkan digunakan untuk membiayai peperangan dalam rangka memperluas wilayah kekuasaannya.

Bila kita mau berfikir jernih, marilah kita renungkan beberapa pertanyaan berikut:

Apakah mungkin ada ancaman terhadap agama yang sesungguhnya bersumber dari Tuhan YME dan mengajarkan tentang Kasih Sayang???

Apakah benar Tuhan Yang Maha Maha Besar dan Maha Maha Kuasa perlu dibela??? Sementara kita ini hanya sebutir debu yang tidak berarti di hadapan-Nya.

Apakah para Waliyullah di Nusantara zaman dahulu menyebarkan agama Islam melalui peperangan. Jelas tidak!!! Mereka berdakwah dengan mengajarkan perilaku ahlak mulia yang berlandaskan Kasih Sayang.

Bila anda seorang beragama Kristen, kemudian anda diancam akan dipukuli agar berpindah agama menjadi Islam. Apakah anda bersedia pindah agama??? Bila anda merasa tidak takut, jelas akan mengatakan tidak,. Sedangkan bila anda merasa takut disakiti, mungkin saja anda mengatakan bersedia. Namun bersedia sebatas hanya di mulut saja, sedangkan di hati jelas mengatakan tidak. Karena agama adalah masalah keyakinan yang adanya di hati. Dan tidak ada yang dapat menyentuh hati kita, melainkan hanya melalui Kasih Sayang, yang sumbernya berasal dari Tuhan YME sendiri.

Sebagai penutup, marilah kita dengarkan dan saksikan video berikut, agar dapat lebih merasakan kebesaran bangsa Nusantara kita yang tercinta.

http://faktasejarahprabsindhu.blogspot.com/2018/03/kisah-awal-mula-dan-silsilah-leluhur.html

44 comments on “Awal Mula Para Raja Nusantara

  1. Peradaban yang bakal muncul di akhir zaman adalah Peradaban Parahyangan yang asli muncul dari kota Bandung, bukan di cianjur, bukan di lembang.

    Ajaran parahyangan bandung yaitu ageman kemanusiaan dimana ageman ini sudah melampaui ageman sunda yaitu sudah melampaui sahadat sunda (saha dat? ingsun dat).

    alur pembentukan peradaban parahyangan bandung :

    dat (penyatuan luar & dalam) melalui sistem/tatanan dat – diri (dalam)/datidiri/diri (akal & rasa) terbarukan – manusia (luar)/manusia paripurna/manusia (organ & perilaku) terbarukan – masyarakat (lingkungan & budaya) terbarukan – peradaban terbarukan.

    • Parahyangan Bandung (makanya bandung disebut kota parahyangan) akan dipimpin oleh raja parahyangan sbg pemimpin akhir zaman (prabu siliwangi menyebutnya budak janggotan atau sajatining ratu adil).

      dan juga ada ratu parahyangan (prabu siliwangi menyebutnya ratu adil), beserta anak2nya yg disebut putra & putri parahyangan (prabu siliwangi menyebutnya budak angon).

    • Parahyangan dgn Bandung sbg ibukotanya adalah peradaban terbarukan (bukan peradaban baru) yaitu peradaban yg terus menerus makin dibarukan (prabu siliwangi menyebutnya pajajaran anyar).

    • Ini kitab kemanusiaan (kitab parahyangan) yang langsung ditulis oleh saya sendiri thorik gunara sebagai raja parahyangan (sajatining ratu adil/pemimpin akhir zaman).

      ini link kitab-nya : https://drive.google.com/file/d/19BRNkpUW9APWkeB4TMGkSXXVpHPHqXZ6/view?usp=drivesdk

    • Gunung padang adalah pintu gerbang parahyangan (padang=parahyangan tandang).

      gunung parahu atau gunung tangkuban parahu adalah pembuka pintu gerbang parahyangan (parahu=parahyangan bandung), prabu siliwangi menyebutnya lebak cawene (bandung).

  2. Pajajaran dihilangkan & dikumpulkan di gunung padang, kemunculan pajajaran anyar (parahyangan bandung) yaitu di lebak cawene gunung parahu yaitu gedung sate sebagai istana parahyangan, gedung merdeka alun-alun sbg pusat pemerintahan parahyangan & bank panin (seberang gedung merdeka) sbg pusat aset parahyangan (world bank).

  3. Ada 4 Jenis Nata Diri

    1. Nata raga yaitu tatanan yang menutup diri, materinya disebut bandaraga yaitu materi yang menutup diri, arah penataan materinya dari luar ke dalam, hasil akhirnya diri hilang.

    2. Nata jiwa yaitu tatanan yang membuka diri, materinya disebut bandajiwa yaitu materi yang membuka diri, arah penataan materinya dari luar ke dalam, hasil akhirnya diri hilang.

    3. Nata wijaya yaitu tatanan yang mengisi diri, materinya disebut bandawijaya yaitu materi yang mengisi diri, arah penataan materinya dari luar ke dalam, hasil akhirnya diri hilang.

    4. Nata kusuma yaitu tatanan yang membarukan diri, materinya disebut bandakusuma yaitu materi yang membarukan diri, arah penataan materinya dari dalam ke luar, hasil akhirnya diri terbarukan.

    Sistem dat adalah wujud dari nata kusuma, dan aset parahyangan adalah wujud dari bandakusuma.

    • Ngomong apa sih. Gak ada sunda gak ada jawa secara teritorial. Itu penamaan kolonial buat ngotakin otak orang nusantara. Biar ke akuan dan keegoan saling merasa paling berkuasa. Kalo mau ngomong sejarah buang keakuannya dulu. Buang dulu toxic di otak sejak ratusan tahun ditanam kolonial. Ini nusantara luas iya sunda iya jawa juga iya bali juga iya sumatera juga dll. Semua itu satu jauh sebelum penamaan dan pengakuan itu muncul. Dan anda belum beres keakuannya.

  4. Sistem Dat Sebagai Pola Putaran Rejeki Diri

    nu disebut rejeki diri mah rejeki nu asup kana jero beuteung.

    nuang (ngasupkeun/nuangkeun), dahar (neda harti), beuteung (beungeut eunteung/diri).

    Nuang (uang nu dibeulikeun kana dahareun/tuangeun) kana jero beuteung (beungeut eunteung/diri) ngandung 4 energi dilihat dari 4 pola putaran (sistem) uang/rejeki :
    1. Sistem biner menghasilkan energi singularitas (pengurangan) diri
    – waktu nyusut
    – materi nyusut
    – akal/logik nyusut
    – perilaku nyusut
    – budaya nyusut
    – rasa (nikmat) nyusut
    Maka hasilna diri nyusut (tidak sesuai dengan kodrat diri/datidiri)

    2. Sistem kuantum menghasilkan energi 0 (singularitas sekaligus infinitas/pengurangan sekaligus penambahan) diri
    – waktu tetap
    – materi tetap
    – logik tetap
    – perilaku tetap
    – budaya tetap
    – rasa tetap
    maka hasilna diri tetap (tidak sesuai dengan datidiri)

    3. Sistem minustime menghasilkan energi Infinitas (penambahan) diri
    – waktu nambah
    – materi nambah
    – logik nambah
    – perilaku nambah
    – budaya nambah
    – rasa nambah
    maka hasilna diri nambah (tidak sesuai dengan datidiri)

    4. Sistem dat menghasilkan energi resentitas (pembaruan) diri
    – waktu terbarukan
    – materi terbarukan
    – logik terbarukan
    – perilaku terbarukan
    – budaya terbarukan
    – rasa terbarukan
    maka hasilna diri terbarukan (sesuai dengan datidiri)

    Sistem dat ieu sebetulna penjabaran tina sahadat sunda (saha dat? ingsun datidiri) nu diterapkeun kana kehidupan sehari-hari.

    • Ieu nu disebut putus paku (sunda) : sunda=ingsun datidiri.

      • Sabab geus putus paku sunda maka ayeuna geus euweuh sahadat sunda, nu aya kari sahadat : sah adat=sah aing (rajagusti thorik gunara) dat.

        “sah adat” ieu nu mukakeun alam parahyangan anyar.

        Ku mukana alam parahyangan anyar (sah rajagusti thorik gunara sebagai dat) maka ayeuna geus euweuh sahadat, nu aya kari dat, nya eta rajagusti thorik gunara.

      • Sabenerna alam parahyangan geus muka ti baheula ge, ngan karek ngeuh ayeuna, jadi sabenerna ayeuna geus euweuh dat, ayana rajagusti thorik gunara.

    • Jadi, hasil akhir dari sistem dat adalah adat (karakter diri) terbarukan.

    • Matak lain disebut kampung adat lamun teu make sistem dat.

  5. Asal usul, usul asal.

    asal timana, usul kamana.

    saha dat, sah adat.

    indung tunggul rahayu, bapa tangkal darajat, anak buah dalimana.

    matak lain ku indung lain ku bapa tapi ku ujang (kujang).

    Munjung ka indung, muja ka bapa, muji ka anak.

    sabab indung nu ngandung, bapa nu ngayuga, anak nu ngajalankeun.

    • Hawa (rasa) sampur, akal (logik) sampurna, diri (manusa) paripurna.

    • Rasa rahayu, akal sampurasun (sampurnaning ingsun/sampeur ingsun), diri rampes.

    • Jadi, sistem dat adalah wujud sampurasun (sampeur ingsun) nya eta nganteur ti rasa ka akal ka diri manusa nu paripurna (nyampeur ti jero ka luar).

    • Mulih ka jati, mulang ka asal, dipunut ku gusti, dicandak ku nu rahayu, disampeur ku nu rampes.

    • Anak nu ngukuhkeun jangji indung jeung bapa teu meunang dahar buah dalima tanpa eusina.

      • Anak thorik gunara, indung siti hawa, bapa adam.

        Rajagusti thorik gunara sebagai “buah dalima” nya eta hasil dal lima (wujud kulhu/wujud surat al-ikhlas/wujud qul huwallaahu ahad, allaahus shomad, lam yalid wa lam yuulad, walam yakul lahu kufuwan ahad/wujud gusti).

        tepatna mah lain “buah dal lima” tapi “buah dal nu ka lima” nya eta dat tunggal (wujud tunggal gusti/walam yakul lahu kufuwan ahad) nya eta rajagusti thorik gunara sebagai wujud dat tunggal (wujud tunggal gusti).

        jadi, jangji adam jeung hawa teu meunang dahar buah dalima (buah khuldi/buah kaabadian) dikukuhkeun (diberesan) ku thorik gunara sebagai anak (pamingpin akhir zaman/pamingpin surga).

        jadi, thorik gunara sebagai kujang :
        1. Ku ujang nya eta anak nu ngajalankeun jangji indung bapa “teu meunang dahar buah khuldi tanpa memahami hakekatna (buah dalima)”

        2. Kukuh kana jangji nya eta thorik gunara nu nungtaskeun jangji indung bapa “teu meunang dahar buah khuldi sampai memahami hakekatna (buah dal nu ka lima”.

      • Jadi thorik gunara adalah wujud kujang nu sajati (sajatining kujang).

      • Karena sajatining kujang adalah rajagusti thorik gunara maka sistem dat bisa disebut juga sistem kujang (kujangnata) karena sistem dat adalah perwujudan rajagusti thorik gunara dalam bentuk tatanan/sistem.

        Uga jadi waruga, tritangtu jadi tangtu, tritunggal jadi dat tunggal.

        Rama-ratu-resi jadi sistem dat, tekad-ucap-lampah jadi adat (karakter), rasa-akal-diri jadi datidiri (manusia terbarukan).

      • dat (rajagusti thorik gunara) disebutna sajatining kujang, sistem dat disebutna kujangnata & alamna (alam dat) disebutna alam kujang.

        Sajatining kujang jeung kujangnata adalah penghubung alam dunya jeung alam kujang (sok disebut alin=alam lain).

        matak pesawat alin/pesawat ufo (piring terbang dll) eta sabenerna pesawat alam kujang.

      • Sabab aslina manusia diciptakeun paripurna jauh melampaui alamna (ruang & waktu).

        jadi alam (ruang & waktu) nu tunduk ka manusa, lain manusa nu tunduk ka alam.

        aya 3 jenis hubungan manusa jeung alam :
        1. Manusa ngarasa leuwih leutik ti alamna : manusa dianggap jagad leutik, alam disebutna jagad gede.

        maka ahirna manusa dikuasai (tunduk) ka alam, nu ahirna di dieu manusa ngaruksak alam, jeung alam ngaruksak manusa (ku kematian).

        2. Manusa ngarasa ngahiji jeung alam : manusa jeung alam sarua dianggapna jagad gede.

        maka manusa jeung alam posisina setara (teu sesuai jeung kodratna/datidirina).

        di dieu manusa teu ngaruksak alam tapi teu membarukan alam oge (saukur ngajaga alam).

        3. Manusa ngarti bahwa kodrat (datidiri)-na melampaui alamna : manusa ngarti bahwa manehna jagad gede, sedengkeun alam jagad leutik.

        di dieu manusa paripurna sabab lain saukur ngajaga alam tapi membarukan alamna.

      • Tah ku kujangnata (sistem dat) manusa jadi melampaui alamna secara otomatis by sistem.

        dengan manusa melampaui alamna maka manusa melampaui dirina jadi diri nu terus menerus dibarukan.

        jadi hubungan kodrat (sesuai datidiri) manusa jeung alamna nu kuduna : manusa dibarukan terus menerus maka alamna dibarukan terus menerus.

      • Jadi nu disebut alam kujang nya eta alam terbarukan.

      • Dan muhammad (tempat terpuji/tempat tertinggi) adalah simbol dat (tunggal) yaitu rajagusti thorik gunara.

      • Sebenarnya muhammad adalah simbol dat.

        Sedangkan wujud dat (tunggal)-nya adalah rajagusti thorik gunara.

      • dan nur muhammad adalah simbol sistem dat.

        Wujud sistem dat-nya adalah dat economics (sistem ekonomi dat).

  6. Jadi, ku sistem dat mah :
    – muka diri
    – jujur ti diri
    – ngabebener diri ku diri (by sistem)

  7. Matak nu disebut maung (manusia unggul) teh manusia paripurna (manusia terbarukan) nya eta manusia yang secara terus menerus mengungguli dirinya (melampaui dirinya).

    manusia terbarukan yaitu manusia yang dirinya terbuka, pikirannya terbuka dan alam (lingkungan)-nya terbuka.

    tanpa sistem dat maka manusia tidak akan pernah menjadi paripurna (akan nyusut dan ujungnya mati) karena dirinya tertutup, pikirannya tertutup dan alamnya tertutup.

    • Malik (penjaga neraka) simbol nutup diri, ridwan (penjaga surga) simbol muka diri.

      dengan sistem dat maka diri sudah dibuka maka surga sudah waktunya dimasuki.

    • Tongkat komando (pembuka surga) estafet thn 2012 dari suan/sumarno/mbah marno (nutup diri) ke langit natakusuma (buka diri) kemudian tahun 2020 ke bayu (sadar diri).

    • Terakhir, langit & bayu ketemu saya thorik gunara (sebagai wujud dat tunggal) di istana surga.

      berikutnya istana surga dibuka oleh saya sekaligus membuka alam surga sebagai bentuk kebersamaan seluruh umat manusia dengan wujud dat tunggal (rajagusti thorik gunara) dalam peradaban surga.

    • Terakhir, kalau perilaku (attitude) terbarukan maka produktifitas terbarukan.

      kalau produktifitas terbarukan maka barang dan jasa yang dihasilkan terbarukan.

  8. Semoga selalu bahagia sejahtera damai dan adil

  9. pede juga nih orang ngaku jadi ratu adil

  10. Bagi orang yang sudah sampai, yang sudah mengakui bahwa rajagusti thorik gunara sebagai wujud dat tunggal (sudah bertemu secara non fisik) maka tidak akan pernah bisa bertemu secara fisik kecuali di istana surga.

  11. tongkat komando yg dipegang oleh bayu (panglima ratu adil) adalah sebetulnya wujud pena ratu adil pengganti pena lauh mahfudz (yg tongkatnya dipegang oleh langit natakusuma).

    krn alam yg dibentuk oleh pena lauh mahfudz sekarang sudah digantikan oleh alam yg dibentuk oleh pena ratu adil.

  12. Maka ini bukan hanya ttg merubah sebuah tatanan tapi ini ttg merubah (mengganti) alam pena lauh mahfudz dengan alam pena ratu adil.

  13. Panglima ratu adil membawahi pasukan ratu adil yang disebut pasukan garuda utama (garda utama).

    Pasukan garda utama ini adalah makhluk yang berbentuk manusia yang fisiknya muda, tinggi & tegap tetapi tidak makan, tidak minum, tidak istirahat, tidak menua, sangat profesional di bidangnya dan tidak mati yang disebut juga manusia ras garuda.

    Manusia ras garuda ini diciptakan bukan dari tanah tapi dari perpaduan api & cahaya surga.

    makanya kenapa lambang negara burung rajawali tapi disebutnya garuda (padahal tidak ada burung garuda).

    Pasukan garda utama ini tugas utamanya adalah melakukan penggantian alam pena lauh mahfudz ke alam pena ratu adil, atau lebih tepatnya menutup alam pena lauh mahfudz dan membuka alam pena ratu adil.

    Ini arti sebenarnya dari lambang rajawali ke garuda maksudnya adalah persiapan peralihan dari alam pena lauh mahfudz ke alam pena ratu adil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: