Tinggalkan komentar

Nusantara Tak Pernah Dikalahkan & Dijajah ?

Nusantara Tidak Pernah Dikalahkan ?

_by Agus Budiyono, Alumni Massachusetts Institute of Technology_

_disampaikan dalam Seminar Nasional “Literasi Sains untuk Membumikan Nilai-nilai Pancasila” Solo, 19 Agustus 2019_

Saya menghabiskan sebagian besar usia dewasa saya di luar nusantara. Saya pernah tinggal di _Amerika (Cambridge, Boston, Nashua, Columbus),Eropa (Assen),Australia (Melbourne) dan Timur Jauh (Seoul)._ Kemanapun saya pergi saya bangga menjadi orang Indonesia. Sangat bangga. Saya datang dari bangsa yang kaya raya. Nenek moyang sayalah yang dulu menyelamatkan bangsa Eropa dari ancaman kepunahan dan membiayai transformasi masyarakat mereka untuk keluar dari abad kegelapan. Eropa tahun 1200an adalah daratan yang terkebelakang. Lima ratusan tahun kemudian, pun dengan episode Renaissance tahun 1400-1700an, nasib mereka tidak berubah banyak.

Sampai tahun 1694, Eropa masih didera wabah kelaparan. Menurut catatan pegawai di kota _Beauvais_, wabah kelaparan yang mengganas membuat para warga yang miskin mengkonsumsi makanan yang sangat tidak higienis (dan tidak akan pernah terbayang oleh penduduk nusantara kita). Mereka makan kucing dan serpihan bangkai kuda yang terserak di tengah kotoran. Lainnya memakan paku-pakuan, rumput dan akar tanaman yang mereka rebus dalam air. Pemandangan ini meruyak di seluruh daerah Perancis. Sekitar 15% populasi *Perancis* mati kelaparan antara tahun 1692-1694. Tahun 1695, wabah yang sama memukul *Estonia* dan membunuh seperlima populasinya. Tahun berikutnya, 1696, adalah giliran *Finlandia* yang seperempat penduduknya habis. Sementara itu *Skotlandia* juga dihajar wabah kelaparan antara tahun 1695-1698, dimana beberapa daerah kehilangan 20% dari penduduknya. Itulah wajah Eropa selama lebih dari setengah abad. Negeri-negerinya diperintah oleh penguasa-penguasa yang lalim dan diperas oleh para perampok dan bajak laut. Sementara warga Perancis sedang sekarat dan bergulat dengan kelaparan masal, Raja Louis XIV asyik glenikan dengan simpanan-simpanannya di Versailles.

Bagaimana kondisi nusantara pada perioda tersebut? Pada perioda 1200 – 1700 nusantara kita adalah tempat paling makmur seluruh dunia. Setelah era kerajaan maritim *Sriwijaya* (650-1183), tahun 1300an muncul, *Majapahit*, empire kedua di Nusantara yang masa keemasannya didokumentasikan dalam buku _Negara Kertagama_. Wilayah Majapahit membentang melebihi Indonesia kita sekarang ini. _Subur kang sarwo tinandur. Gemah ripah loh jinawi_. Sawah luas seperti tanpa batas. Hutan dan kebun dengan seribu macam buah, umbi-umbian, rempah-rempah dan tentunya beraneka ragam ternak. Sungai, laut dan danau penuh berisi ikan dan berbagai komoditi. Sementara tanah yang dipijak berisi mineral dan berbagai logam mulia. Pendeknya, nusantara kita adalah paradisal archipelago. Raja-raja kita memerintah dengan adil dan bijaksana. Memang ada persaingan dan peperangan di sana-sini. Tetapi ini peperangan bukan karena kekurangan. Semua raja di wilayah nusantara adalah penguasa yang kaya raya. _Madep ngalor sugih, madep ngidul sugih._ Tidak pernah ada masalah kelaparan seperti di Eropa sana. Jadi tidaklah logis. _It doesn’t add up_. _Ora gathuk_. Tidak nalar, kalo bangsa kelaparan tadi itu datang _kledang-kledang_ menjajah bangsa yang kuat dan makmur. Dari keseluruhan riset saya, berikut ini adalah rekonstruksi yang lebih mungkin terjadi di situasi nusantara kita saat itu:

1. Para explorer dari Eropa itu dikirim kemana-mana oleh penguasanya justru sebagai misi SOS (tapi kemudahan berkembang menjadi misi keserakahan). Bangsa nyaris punah yang sedang mencari jalan keselamatan. Mereka mengetahui dari laporan para traders sebelumnya bahwa ada negeri makmur di katulistiwa yang mempunyai semuanya. Sumber daya yang besar. Itu adalah harapan besar bagi mereka untuk _survive._

2. Ketika datang ke nusantara, tidak seperti yang digambarkan oleh kebanyakan narasi mereka kemudian(yang ironically menjadi rujukan utama sejarah kita sampai saat ini), mereka bukanlah datang dengan kapal-kapal yang gagah yang pantas untuk menguasai kita. Layar kapal-kapal mereka compang-camping. Tiang-tiang kapal banyak yang patah. Awak-awak kapal mereka kurus kering, kelaparan dan penyakitan sesudah dihajar badai-badai dan digarap para perompak sepanjang lintasan ke nusantara. Mereka tiba di kepulauan kita dengan kaki lemes, mata nanar dan tatapan kosong. Salah satu episoda yang tercatat secara resmi adalah diterimanya 7 pelaut Portugis oleh *Sultan Abu Lais* tahun 1512, sesudah mereka diselamatkan oleh nelayan karena kapalnya hampir karam. Alvares Cabral memimpin pelayaran 13 kapal dan hanya 7 yang selamat.

3. Hanya atas belas kasihan raja-raja kita lah mereka itu diterima dan ditampung dalam wilayah nusantara. Disanak dan diorangkan, karena penguasa-penguasa kita menjunjung tinggi nilai bahwa tamu haruslah dihormati. Sebenarnya kalangan _Central Intelligence_ istana sudah menengarai bahwa ada potensi ancaman (kelak akan terbukti secara besar-besaran), tapi raja-raja kita adalah penguasa yang dermawan dan terbuka hatinya. Atas nama kemanusiaan, orang-orang asing tersebut diberi makan dan bahkan diberi sekedar pekerjaan. Karena memang di negeri asalnya sana sedang berlangsung krisis pekerjaan dan ekonomi sampai orang-orang mati kelaparan di jalan-jalan. Penguasa kita, yang resourcenya luar biasa, menyisihkan sedikit opportunity buat mereka. Zaman sekarang ini mungkin sektor pekerjaan informal: menyapu halaman, membantu masak, membersihkan kandang kuda, menguras kolam ikan dsb.

4. Dalam perkembangannya, kelompok yang mula-mula disanak tadi ternyata sesuai prediksi berbalik mengkudeta para tuan-nya. Dibekali dan diperkuat dengan teknologi senjata api yang marak di Eropa, gelombang-gelombang pendatang baru ke nusantara ini perlahan-lahan mulai melakukan aksi penguasaan. Dimulai dari taktik monopoli dagang. Kemudian secara berangsur yang tadinya adalah perusahaan menjadi pemerintahan. Dimulai dengan datangnya Afonso de Albaquerque (belajar dari rute _Diaz_ dan _Vasco De Gama_) tahun 1511 di selat Malaka sesudah ybs menaklukan satu demi satu pelabuhan-pelabuhan di perairan India. Persaingan kemudian terjadi antara bangsa pendatang Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda. Masing-masing ingin menguasai dan memonopoli jalur rempah-rempah. Mereka, bangsa yang kelaparan dan hampir punah ini, menemukan bahwa dagang rempah-rampah sangat menguntungkan.

5. Gelombang explorer dari Eropa tadi terbukti ternyata membawa kerusakan di seluruh wilayah dunia, tidak hanya Nusantara. Pada Maret tahun 1520 ketika fleet Spanyol tiba, Meksiko adalah rumah bagi 22 juta penduduknya. Pada bulan December, penduduknya tinggal 14 juta. Pendatang Eropa tidak hanya membawa mesiu, mereka juga datang dengan virus cacar, flu dan tubercolusis. Tahun 1580 penduduk Meksiko menyusut menjadi tinggal 2 juta. Dua abad kemudian, pada tanggal 18 Januari 1778, explorer Inggris _James Cook_ mencapai kepulauan Hawaii, daerah padat dengan penduduk hampir setengah juta. Tahun 1853 hanya 70,000 orang yang selamat mewarisi puing-puing Hawaii. Peradaban _Maya_ dan _Aztec_ kolaps dan punah karena sergapan dan dominasi bangsa Eropa. Tetapi peradaban Nusantara kita berbeda. Tidak sedikitpun kita bergeming dari serbuan bangsa barbar dari Utara. Sejak pecah perang pertama, tahun 1500an di Ternate, penduduk nusantara tidak berhenti angkat senjata untuk mengusir bekas budak yang menjadi durhaka. Perang *Saparua* di Ambon, Perang *Padri* (Sumbar), Perang *Diponegoro* (1825-1830), Perang *Aceh* (1873-1904), Perang *Jagaraga* (Bali) dan ratusan perang lainnya. Demikianlah bela tanah air ini terus berlanjut sampai proklamasi kemerdekaan 1945 dan era mempertahankan sesudahnya. Termasuk era perang budaya dan teknologi yang sekarang berlangsung.

6. Catatan ini kiranya penting bagi generasi muda Indonesia. Mereka harus kita bekali kepercayaan dan sejenis keimanan bahwa mereka adalah bagian dari bangsa pejuang dan negeri pemenang yang setara dengan negara besar dimana saja. Bangsa besar yang bisa memimpin dan memandu bangsa-bangsa lain di seluruh dunia.

Maka, kelak di tahun 2045, ketika Indonesia sudah menjadi salah satu dari 5 besar ekonomi dunia, saya juga ingin membantu memastikan bahwa kita adalah 1 dari 5 negara yang aktif mengurus dan mungkin malah memimpin Stasiun Ruang Angkasa Dunia _(International Space Station)_. Launching station kita akan terletak di Morotai yang dilewati garis equator sehingga bahan bakar roket kita akan lebih hemat. _Space Shuttle_ kita bukan bernama _Magellan_ atau _Nebuchadnezaar_, tapi adalah _SS Karaeng Galesung, SS Tjoet Nya’ Dien_ atau _SS Ngurah Rai_. Nama orang-orang gagah berani yang menjadi saksi bahwa penjajahan sejati tidak pernah ada di Nusantara.

 

*Keterangan Foto:*
Di tengah-tengah generasi muda pejuang teknologi Indonesia. Insinyur-insinyur kampiun yang sebrilliant dan sebaya dengan founder Gojek, Bukalapak dan Tokopedia (Unicorn start-ups Indonesia).

_Ditulis dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 dan memperinganti penerbangan pertama pesawat N250 buatan Indonesia, 10 Agustus 1995._

*References (primary and partial list):*

_Diamond, Jared. Collapse: How societies choose to fail or succeed. Penguin, 2005._
_Diamond, Jared. Guns, Germs and Steel. New York (1997)._
_Harari, Yuval Noah. Sapiens: A brief history of humankind. Random House, 2014._
_Harari, Yuval Noah. Homo Deus: A brief history of tomorrow. Random House, 2016._
_Prapanca, Mpu. Negara Kertagama. Majapahit, 1365_
_Library of Congress, Reuters, AP, AFP, Compton’s Encyclopedia, Wikipedia, National Geographic, Smithsonian magazine, New York Times, Washington Post, Los Angeles Times, Times of London, Lonely Planet Guides, The Guardian, The New Yorker, Time, Newsweek, Wall Street Journal, The Atlantic Monthly, The Economist_

 

 

Refleksi Kemerdekaan:

Penjajahan 350 Tahun ?

74 tahun sudah Indonesia merdeka, setelah dijajah 350 tahun lamanya oleh kolonial asing. Segenap rakyat bersuka cita tentunya menyambut bulan kemerdekaan yang penuh akan sejarah ini. 

Namun pernahkag tebersit di pikiran kita, apakah betul 17 Agustus 1945 merupakan tanggal kemerdekaan Republik ini? Dan betulkah bangsa ini telah tereksploitasi dari segala macam aspek selama 3,5 abad lamanya? Dan seperti apa sejarah bangsa ini merebut kembali kedaulatannya dari tangan penjajah?

Bagi saya sungguh penting adanya untuk memahami ini semua, terlebih bagi generasi muda. Sebab senyumnya mereka saat ini merupakan hasil investasi dari keringat dan darah para pahlawan berpuluh atau bahkan beratus tahun silam. Dalam momentum kemerdekaan ini mari kita refleksikan sejarah kemerdekaan bangsa tercinta ini.

Dalam tulisan ini, saya lebih fokus membahas doktrin umum pra-Indonesia merdeka, yaitu penjajahan kolonial selama 350 tahun lamanya. Perlu digarisbawahi bahwa narasi tersebut merupakan omong kosong yang terus digaungkan bahkan dalam kurikulum pendidikan di penjuru nusantara.

Mengapa demikian? Jika kita hitung 350 tahun hingga pada Republik ini memproklamasikan kemerdekaannya, maka hasilnya ialah kolonial menjajah sejak tahun 1595.

Mari kita lihat lebih saksama secara historis. Orang Belanda pertama yang datang ke Nusantara adalah Cornelis de Houtman, dengan misi ekspedisi perdagangan menggunakan (hanya) 4 kapal dan berlabuh di Banten pada 1556.

De Houtman memberi pengaruh besar terhadap perdagangan hingga pada 20 Maret 1602, para pedagang Belanda mendirikan Verenigde Oostindiche Compagnie (VOC).

Kala itu, Nusantara yang masih berbentuk kerajaan-kerajaan belum berada di bawah kendali Belanda, melainkan VOC. Monopoli perdagangan dan kekuasaan terus dilakukan hingga pada tahun 1669, VOC mengalami puncak kejayaan sebagai perusahaan pribadi terkaya sepanjang sejarah dunia.

Namun karena konflik perdagangan dengan Inggris dan Prancis, berbagai perang melawan nusantara, dan banyaknya praktik korupsi. Pada 31 Desember 1799, VOC resmi dinyatakan bubar. Pasca VOC bubar di abad 19, pemerintah Belanda mulai mengambil alih kendali kepulauan Nusantara. Dikenal dengan nama Hindia-Belanda.

Perlu ditekankan sejak lahirnya VOC pada 1602 hingga dinyatakan bubar pada 1799 (197 tahun lamanya), VOC tidak menguasai seluruh penjuru nusantara. Bahkan pengendalian atas kerajaan-kerajaan nusantara pun tidak langsung ketika VOC didirikan, namun dicicil secara bertahap.

Misal, pada 1603 VOC membangun pusat perdagangan pertama di Banten. Itu pun masih harus bersaing dengan pedagang Inggris dan Tionghoa. Lalu pada 1619, melakukan penyerangan terhadap Banten dan menjadikan Batavia sebagai pusat militer dan administrasi.

Namun upaya tersebut masih belum dapat menundukkan kerajaan Banten. Tahun 1680, merupakan masa kejayaan kerajaan Banten dibawah pimpinan Sultan Ageng Tirtayasa. Baru pada 1682, VOC berhasil merebut perdagangan Banten.

Kerajaan lain, pada 1605 menyerang Ambon dan dijadikan pusat VOC pada 1610. Lalu 1660, VOC menyerang Gowa yang dirajai oleh Sultan Hasanuddin, berakhir dengan permusuhan hingga VOC kembali melakukan serangan besar-besaran pada 1668. Juga kerajaan Mataram, yang baru dapat kuasai oleh VOC pada 1749.

Contoh lagi, pada kerajaan Aceh. Sejarah mengatakan bahwa Aceh merupakan daerah yang paling sulit diduduki Belanda. Bahkan pada awal abad 17, kesultanan Aceh dikenal sebagai negara terkaya, terkuat, dan termakmur di Kawasan Selat Malaka. Aceh juga dikenal sebagai pusat perdangan Asia Tenggara.

Belanda pun pernah berusaha menyerang Aceh pada tahun 1873, peperangan berlangsung puluhan tahun dengan korban yang tidak terkira banyaknya pada kedua belah pihak. Belanda masih tak mampu menguasai Aceh sebab rakyat Aceh selalu melawan.

Hingga pada tahun 1903, Belanda berhasil menduduki Aceh setelah berbagai peperangan yang tak kunjung usai. Keberhasilan tersebut disebabkan oleh seorang ahli Islam bernama Snouck Hurgronje yang telah membaur bersama masyarakat Aceh, memberi saran dan langkah yang efektif kepada Belanda untuk menaklukan Aceh. Namun tak lama sejak itu, Aceh segera kembali mengambil kedaulatan bangsanya.

Gambaran diatas merupakan contoh kecil dari banyaknya perjuangan kerajaan nusantara melawan Belanda. Perlu diingat kembali, bukan penjajahan, melainkan perlawanan.

Pengendalian memang dilakukan namun perlawanan rakyat juga selalu ada kapanpun dimanapun. Dari sedikit tulisan diatas masihkan kita yakin bahwa bangsa kita telah dijajah selama 350 tahun? Dengan alasan apapun saya menolak sepakat pada narasi tersebut.

Bahkan bisa dianggap mengkerdilkan keringat dan darah rakyat yang berjuang mati-matian mempertahankan kedaulatannya. Saya lebih sepakat dengan istilah “melawan”, bukan dijajah. Lepas dari semua itu tentunya kita berharap, perjuangan para pahlawan yang menghasilkan NKRI ini dapat kita lanjutkan.

Tentunya bukan lagi perjuangan dengan bambu runcing, namun dengan keruncingan pikiran rakyatnya yang akan kembali membesarkan bangsa ini.

SUMBER:

https://www.qureta.com/post/refleksi-kemerdekaan-penjajahan-350-tahun?utm_content=buffercbae3&utm_medium=social&utm_source=facebook.com&utm_campaign=buffer&fbclid=IwAR0PaMDwK5SkqRkDhRSrob4r_9D04Bto1d0pzjb2o7peT3FI0jFsl7rZUbc

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: