Tinggalkan komentar

Misteri Situs Candi Muara Takus, Kampar- Riau-Sumatra

66082277_638558513330383_469801475799777280_n

Menurut Penulis China Kuno, Itsing, apabila seseorang hendak belajar Hinduism dan Budhism ke Universitas Nalanda di India maka harus terlebih dulu kuliah/belajar di Nan Andala, (Mandala) Muara Takus, Kampar Riau, Sumatra ini.

https://translate.google.com/translate…

Prasasti Nalanda
(Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Prasasti Nalanda merupakan sebuah prasasti yang terdapat di Nalanda, Bihar, India.

Penafsiran teks
Prasasti ini berangka tahun 860 M, dari penafsiran manuskrip menyebutkan Sri Maharaja di Suwarnadwipa (Sumatra), Balaputradewa anak Samaragrawira, cucu dari Śailendravamsatilaka (mustika keluarga Śailendra) dengan julukan Śrīviravairimathana (pembunuh pahlawan musuh), raja Jawa yang kawin dengan Tārā, anak Dharmasetu.[1]

Isi prasasti Nalanda adalah permintaan Raja Balaputradewa pada Raja Dewapaladewa. Dalam prasasti ini juga disebutkan bahwa Balaputradewa adalah anak raja Jawa dari Dinasti Syailendra yaitu Raja Samaragrawira

Penjelasan:

Raja Balaputradewa meminta pada raja Dewapaladewa memberikan sebidang tanah yang digunakan untuk membangun asrama tempat tinggal pelajar agama Buddha dari Sriwijaya.

Dari
https://historia.id/…/tujuan-perjalanan-i-tsing-biksu-dari-… :

Gambar mungkin berisi: 5 orang, langit, pohon dan luar ruangan

WhatsApp Image 2019-07-22 at 4.10.15 PM

Tujuan Perjalanan I-Tsing, Biksu dari Tiongkok

Inilah hasil perjalanan I-Tsing, biksu Tiongkok, ke 30 negeri selama 25 tahun.

Tujuan Perjalanan I-Tsing, Biksu dari Tiongkok
Salah satu halaman cetakan buku Yi Jing dari masa Dinasti Sung. (Wikipedia).

DALAM perjalanannya menuju India, I-Tsing atau Yi Jing, seorang biksu Tiongkok, mampir tiga kali ke wilayah yang dia sebut Lautan Selatan. Dalam catatannya, dia memberikan imbauan bagi para biksu yang ingin belajar Buddha Dharma.

“Lautan Selatan itu mencakup Sumatra, Jawa, Bali,” kata Shinta Lee, penerjemah catatan perjalanan I-Tsing dari Komunitas Sudimuja & Jinabhumi, dalam acara Borobudur Writers and Cultural Festival, di Hotel Manohara, Magelang.

Yi Jing merupakan salah satu dari tiga peziarah terkenal dari Tiongkok. Pendahulunya adalah Fa Xian dan Xuan Zang.

Waktu itu, di Tiongkok sudah banyak interpretasi atas ajaran-ajaran Buddha. Yi Jing pun ingin mempelajari Buddha Dharma di negeri asalnya: India. “Dia sudah berguru sejak muda, ketika remaja berangan-angan mengunjungi India yang waktu itu pusat pembelajaran Buddha Dharma,” kata Shinta.

Pada 671 M, Yi Jing berangkat dari Guangzhou. Setelah berlayar selama 20 hari, dia mendarat di Fo-shi (Sriwijaya). Dia tinggal selama enam bulan untuk belajar Sabdavidya atau tata bahasa Sansekerta.

Shinta menjabarkan menurut catatan Yi Jing, semua biksu di Fo-shi mempelajari mata pelajaran yang sama dengan yang dipelajari di Nalanda. Misalnya, Pancavidya yang mencakup pelajaran tata bahasa, pengobatan, logika, seni, keterampilan kerajinan, dan ilmu mengelola batin.

“Beliau bahkan merekomendasikan jika biksu ingin ke Nalanda, yang konon susah sekali, baiknya belajar dulu di Sriwijaya,” kata Shinta.

Khusus pelajaran tata bahasa Sanskerta, menurut Yi Jing, jika dipelajari sejak kecil bisa mengatasi segala kesulitan mempelajari kitab-kitab Buddha Dharma. Ketika itu di Sriwijaya, dia menyontohkan untaian kisah Jataka selain dipelajari, juga dilantunkan, dan dipentaskan.

“Ini menunjukkan adanya penguasaan bahasa Sanskerta sebagai bahasa lokal. Jadi kisah Jataka bisa diwujudkan dalam bentuk lain (pementasan, red.),” kata Shinta.

Dari Sriwijaya, Yi Jing diantar olah raja ke Moluoyou (Melayu). Dia tinggal di sana selama dua bulan. Dari sana dia berangkat ke Jiecha (Kedah). Dari Kedah, pada 671 M, dia mengunjungi berbagai daerah hingga tinggal di Tamralipti, pelabuhan di pantai timur India pada 673 M. Dari sana dia mencapai Nalanda. Dia menetap dan belajar di Nalanda selama sepuluh tahun (675-685 M).

“Setelah mempelajari teks di sana, lalu kembali untuk kedua kalinya ke Melayu yang kemudian menurut beliau sudah jadi bagian dari Shili Foshi,” lanjut Shinta.

Padahal, pada awal kedatangan Yi Jing, di catatannya dia masih menyebut nama Malayu dan belum bernama Sriwijaya. Dalam hal ini, Shinta menyebutkan pernyataan Yi Jing dalam catatannya itu cocok bila dikaitkan dengan catatan sejarah. Prasasti Kedukan Bukit mencatat tanggal sebelum akhirnya Dapunta Hyang mendirikan Kota Sriwijaya pada 16 Juni 682 M.

“Jika dikaitkan dengan catatan sejarah, Prasasti Kedukan Bukit, Sri Dapunta Hyang mengadakan jaya sidayatra pawai kemenangan atas ditaklukkannya Melayu atas Sriwijaya. Ini cocok,” kata Shinta.

Baca juga: Inilah akta kelahiran Kerajaan Sriwijaya

Kedatangan Yi Jing yang kedua membuatnya menetap selama empat tahun. Pada 689 M, dia naik kapal dan bermaksud menitipkan surat untuk meminta kertas dan tinta yang akan digunakannya menyalin sutra. Namun, dia terbawa kapal itu dan tanpa sengaja kembali ke Tiongkok selama tiga bulan.

Padahal, 500 ribu sloka Tripitaka yang dia bawa dari India masih tertinggal di Sriwijaya. Dia kembali ke Sriwijaya dan tinggal selama lima tahun (akhir 689-695 M). Di sana, dia bertemu biksu bernama Da Jin. Kepadanya, Yi Jing menitipkan sutra dan sastra (ulasan) sebanyak 10 jilid, Kiriman Catatan Praktik Buddhadharma dari Lautan Selatan (empat jilid), Riwayat Para Mahabiksu yang mengunjungi India dan Negeri-Negeri Tetangga untuk Mencari Ajaran di Masa Dinasti Tang (dua jilid).

Pada 695 M, Yi Jing pulang dan disambut meriah oleh Wu Zetian, kaisar perempuan. Dia membawa 400 teks Buddhis, 500 ribu sloka, dan peta lokasi Vajrasana Buddha. Itu hasil berkelana selama 25 tahun dan mengunjungi 30 negeri.

“Kalau Yi Jing bilang praktik Buddha Dharma di Sriwijaya sama seperti di India, maka Nalanda juga menjadi model bagi Swarnadwipa. Maka bangunannya memang mirip. Hanya iklimnya yang berbeda,” kata Agus Widiatmoko, arkeolog dari Kementerian Pendidikan dan Budaya.

 

UNIVÊRÇITĀ DHĀRMĀ PĀLĀ (by Santo Saba Salomo)

Situs muara takus,di duga adalah land mark dari sebuah kompleks area pendidikan pengajaran pembelajaran ajaran “Dharmic” …

Temuan dinding besar sebagai batas komplek sekolah,stempel, dan area luas untuk menampung para pelajar di perkirakan 6000 org dalam setiap angkatan

Area utama 4 km2,Area kedua 75 km2 area terluar 300km2 adalah perkiraan sementara di dapat berdasarkan sebaran temuan artefak di wilayah itu

Pengamatan pada budaya dan sistim tata adat yg masih ada di ndetikan dan di temukan area ini adalah area kedatuan dgn ring utama SOKO ring kedua PISOKO ring ke tiga LIMBAGO

Mengarah pada pendekatan analasia bahwa area ini adalah seperti pusat peradaban yg merupakan MPR …di sini tdk di temukan Raja atau Kerajaan tapi KE DATUAN …

SOKO ada kemungkinan SAKA,semoga dapat terungkap awal peradaban SAKA serta awal perhitungan tahun SAKA yang angka tahun tertera di semua Prasasti Nusantara

Pilisofi ajaran “Dharmic” terekam pada kata “DHOMO” ke mungkinan di pelajari di sini dan di kembangkan ke luar area…

Penemuan beberapa stempel atau cap,juga area pelataran komplek pendidikan pelatihan menguatkan dugaan bahwa ada pernah terjadi proses belajar dan mengajar di tambah di temukan hal yang mendukung nama dari pusat pembelajaran ini…

UNIVÊRÇITĀ DHĀRMĀ PĀLĀ

Sesuai dengan catatan I Tshing : Mereka yang tekun mempelajari “Dharma” akan pergi ke tanah svarnadvipa sebelum ke India…

Nama nama Sariputa,Dharmakitri,Sanjaya adalah nama yg tercantum dalam study ttg Dharmic oleh sejarawan eropa sebagai pembawa ajaran Non Budhis di tanah india,ajaran atau palsafah pilisofi “DHARMA” menurut studi sejarawan eropa yang mendasari agama agama timur…

Mari kita kaji ungkap sejarah benar negri ini…..

By : Santo saba piliang
WA only 0813 2132 9787

Menurur Dr. Abdul Latif, Budayawan Kampar dan Kurator Benda Bersejarah Kampar:

“Dalam ctt kuno bgs India, Tiongkok,Yunani, negeri ini ( Alam pulau poco( Pulau perca) atau Indo dunio ( Hindu dunia) atau Mutakui (Matankari ) = Muara takus yg terletak di titik 0 (aquator / Aquinok) disebut juga dengan negeri Seribu Candi atau Stupa atau Situs yang tersebar disepanjang jejeran koto koto di pinggir pantai dan perbukitan laut Ombun/ Embun .Laut Embun adalah cikal bakal dari Sungai Kampar kanan dan Kampar kiri. Laut ini terbentuk oleh patahan lempengan tektonik yg jadi tempat pertemuan lempengan tektonik Asia dan Australia yg pernah terjadi gempa tektonik yg menyebabkan gempa besar dan menjadi bencana global belasan ribu tahun silam. Setelah bencana global tersebut terjadilah perubahan besar terhadap Pulau Sumatera ,jawa, kalimantan, Riau kepulauan, Sulawesi dan Bali . Di pulau Sunatera khususnya Sumatera tengah ( Kampar) dan pesisir Pantai timur Sumatera terjadi perubahan yg mendasar baik secara Geo marphologys maupun struktur dasar tanah dan Pulau Sumatera. Pulau Sumatra hancur dan tinggal sepertiga saja lagi. Sedangkan 2/3 nya luluh lantak dilanda gelonbang Tsunami dan tepat digaris lempeng tektonik tsb buminya terjun kebawah dan membentuk Ngarai/lembah raksasa yang hampir2 memutus pulau sumatera, mulai dari bagian timur dan utara Sumatera tetus ke baguan tengah, dan sampai ke daerah Sumateta barat. Bukti yg dapat kita lihat berdasarkan penelitian yg kita lakukan selama puluhan tahun adalah terbentuk nya laut ombun akibat patahan tektoik tersebut mulai dari selat Malaka memanjang sampai ke 8 koto sitingkai, 4 koto di Tapung, Lima koto, terus ke XIII koto Kampar dan terus ke Sunateta barat dg bujti terbentuknya lembah Arau dejat kelok sembilan, Payakunbuh, terus ke lembah Anai dekat bukit tinggi. Dengan panjang lembahnya sepanjang belasan kilometer. Dan yang paling jelas bekasnya di Kampar Sumatera tengah adalah terbentuknya lembah raksasa depanjang puluhan kilometer di daerah Kampar kiri dekat desa Batu sasak, Lubuk bigau,Ludai, Batang kapas ,balung , dan sekitarnya . Diperkirakan akibat gempa tektonik dan diiringi gunung meletus itulah yg menyebabkan ratusan /ribuan stupa Candi/ situs yg ada di Alam Pulau Poco atau Kampar kuno menjadi tenggelam dan tertimbun. Dan sebagiannya lagi kemungkinan masih bisa ditemukan jejak2nya. Dalam tonmbo kuno ( Kampar) yg pernah diceritakan oleh Datuk Patuan kpd peneliti menyebutkan bhw:….dulu dulu kala pernah terjadi musibah gempa besar yg menghancurkan bumi. 1. Gempa yg tetjadi yg menyebabkan bumi terjun/jatuh sehingga kampung2 jatuh dan tenggelam kedalam bumi,…ikan ikan besar berjalan diatas darat, bumi gelap, terdengar ledakan dahsyat, setelah itu datang gelombang besar yg menelan kota2 dan kampung ,hutan dan gunung runtuh, semua jadi rata dan gundul tak satupun pohon yg bisa berdiri . semua disapu gelombang besar, kota ditelan laut, pulau Poco /sumatera tinggal sepertiga. Yang dulunya pulau Cumago hanya dipisahkan oleh sungai yg lebarnya satu lompatan kuda, kini telah dipisahkan oleh laut yg harus diseberangi dengan kapal ……… .yang ke2 adalah gempa dahsyat yang diawali dengan hujan lebat selama 40 hari terus menerus tampa henti. Sehingga menyebabkan cuaca sangat dingin selama berbulan lalu muncul banjir yg menyapu bumi dan segala isinya, kemudian datanglah gempa, bumi jatuh, banyak manusia yg mati. Setelah 8 tahun saya nencatat keterangan Datuk Patuan tsb, saya sangat terkejut setelah saya nembaca buku Prof. Arcyo Santos ( dua tahun lalu ) yg berjudul Atlantis the lost continent finally found yg menjelaskan buku plato th 1500 SM…. Kenapa bisa sama dengan cerita /Tombo Kampar????… Saya yakin ini bukan suatu kebetulan. Tapi betul2 kejadian, apalagi didukung oleh fakta2 alam yg kita temukan selama penelitian serta didukung oleh benda2 artefak kuno yg kita temukan baik berupa arca kuno, dari batu, dan tanah liat yg sdh membatu, maupun artefak2 kuno yg terbuat dari perunggu, serta fosil2 hewan purba dll. (Wassalam dari kami pimpinan Museum AMM. (A. Latif Malay Museum ) : DR Hc. A. Latif Hasyim. MM. Didukung oleh : Bpk.  Ahmad Yanuana Samantho dan Bpk.Santo Saba.

Baca juga: Pertukaran pelajar antara Sriwijaya dan Nalanda

Simak lebih lanjut di Brainly.co.id – https://brainly.co.id/tugas/2425951#readmore

Rujukan
^ Cœdès, George (1996). The Indianized States of Southeast Asia. University of Hawaii Press. ISBN 0-8248-0368-X.
Pranala luar
Nalanda and the Southeast Asian connection
The Nalanda-Sriwijaya Centre at the Institute of Southeast Asian Studies, Singapore
Indo-sejarah.png

Keterangan foto tidak tersedia.
Gambar mungkin berisi: awan, langit, luar ruangan dan alam
Gambar mungkin berisi: luar ruangan
Gambar mungkin berisi: langit, awan, luar ruangan dan alam
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: