Tinggalkan komentar

Cendikiawan Muslim Klasik, Al-Biruni: “Ada Kesamaan Monotheistik Hindu dan Islam

Al Biruni, cendekiawan Muslim klasik, menyebut Hindu sama monoteismenya dengan Islam.

Berbagi tulisan lama di bawah ini.

—————-

Al Biruni, Toleransi dan Multikulturalisme

Oleh Farid Gaban

Seribu tahun lalu di sebuah kota kecil Khat, kini di wilayah Uzbekistan, lahir satu orang yang jarang disebut dalam sejarah Islam, namun sebenarnya layak dikenang. Al Biruni namanya. Dia dikenal sebagai polymath, pemikir serba bisa, salah satu “Leonardo da Vinci” dalam sejarah Islam.

Kecintaan Al Biruni pada astronomi membuat namanya diabadikan sebagai nama sebuah kawah di bulan. Tapi, dia tidak hanya menguasai astronomi. Al Biruni mengkaji geodesi, geografi, geologi, sejarah, bahasa, matematika, ilmu alam, farmasi, filsafat, kedokteran, dan fisika. Dia menguasai bahasa Arab, Persia, Yunani dan Sanksekerta.

Kemahiran Biruni dalam bahasa Sansekerta lah, salah satu yang paling istimewa, yang antara lain membuatnya dikenal sebagai antropolog Islam pertama.

Berkelana selama 20 tahun di India (1010-1030), Al Biruni mengkaji filsafat, sains dan budaya Hindu dari jantungnya dan dari ahlinya—rohaniawan Hindu sendiri. Sebagai imbalannya, kepada mereka dia mengajarkan bahasa Yunani dan Arab, serta filsafat-sains Islam.

Riset besarnya di India dia tuangkan dalam bukunya berbahasa Arab: “Kitab al-Hind”. Di situ Al Biruni menyajikan secara rinci kehidupan, agama, bahasa dan budaya India. Dari 132 buku yang ditulisnya, inilah buku yang paling dikenal dan dipujikan sampai sekarang. Sebuah maha karya antropologi.
Al Biruni juga menerjemahkan dua buku filsafat Hindu ”Patanjali” dan ”Sakaya” ke dalam bahasa Arab. Buku pertama berisi tentang kehidupan setelah mati, dan buku kedua tentang penciptaan segala hal.

Tapi, untuk apa sebenarnya dan atas dorongan motivasi apa seorang Muslim yang taat seperti Al Biruni mendalami ajaran Hindu hingga ke akarnya? Tidakkah menerjemahkan dan menulis tentang ajaran ”kaum kafir” untuk pembaca Muslim bisa disebut ”kafir” juga?

Pertama-tama, seluruh hidup Al Biruni sendiri merupakan pengembaraan ilmiah tiada habis. Gairahnya yang besar pada ilmu pengetahuan dan keingintahuan terhadap segala sesuatu dicerminkan oleh pernyataannya yang terkenal: “Kemahabesaran Allah tidaklah membenarkan pembiaran terhadap kebodohan dan ketidaktahuan.”

Tapi, bagi Al Biruni, pencarian ilmu tidaklah sekadar untuk ilmu belaka. Membandingkan Hindu dan Islam, Al Biruni berkesimpulan betapa berbeda keduanya: sementara Islam mengakui persamaan derajat manusia, Hindu mengenal sistem kasta. Bagi Al Biruni, umat Islam harus mempelajari Hindu serta mengenali perbedaannya agar bisa berdialog, mengakui perbedaan dan hidup berdampingan secara damai.

Al Biruni tidak melihat perbedaan mendasar Hindu-Islam sebagai sumber niscaya dari ”benturan peradaban”. Dan andai Samuel Huntington juga mengikuti jejaknya, dunia sekarang mungkin akan lebih damai.

Banyak kaum Muslim kini memang mengutuk teori Samuel Huntington dan para orientalis Barat pada umumnya, untuk membenarkan ketegangan dan konflik terus-menerus antara Islam dan Barat (Kristen). Namun, banyak dari mereka, tanpa sadar dan sikap kritis, sebenarnya mengambil dan menerapkan argumen Huntington dalam kehidupan sehari-hari. Mereka selalu curiga dengan segala yang berbau bukan-Islam, yang sebenarnya lebih mencerminkan watak kurang percaya diri.

Al Biruni menunjukkan betapa penting kita mengkaji dan mendalami ajaran serta budaya lain; justru karena begitu berbedanya. Al Biruni juga menunjukkan sebuah keberanian intelektual luar biasa untuk mencebur dan memaparkan ajaran dan kebudayaan lain tanpa prasangka dan apa adanya. Sikap seperti itu tidak merendahkan Islam, melainkan justru memuliakannya. Sebuah sikap percaya diri yang sehat.

Amartya Sen, pemenang Nobel Ekonomi dari India, beberapa tahun lalu menyebut Al Biruni sebagai salah satu teladan dari pemikiran multikulturalisme dan kosmopolitanisme. ”Salah satu ilmuwan terbesar sepanjang masa yang daya kritisnya, toleransi, serta kecintaannya pada kebenaran dan keberanian intelektualnya hampir tak punya tandingan di abad pertengahan.”*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: