Tinggalkan komentar

Prabowo & Naga ijo

Prabowo & Naga ijo (Bagian 1 & 2)

Prasetyo BoediFrast

(Tulisan ini akan sangat panjang dn ngelantur kemana-mana akan ndledek nyamber banyak pihak dan akan menghabiskan banyak waktu, tapi nggak apa2 saya habiskan sedikit waktu saya untuk menuliskan kisah2 seputaran jatuhnya Soeharto yg mungkin ada beberapa kisah yang mainstream banyak diketahui oleh publik dan saya juga akan selipkan kisah2 “underground” yang selama ini hanya 

Keterangan foto tidak tersedia.diketahui oleh ” kalangan underground” saja . Tulisan ini di maksudkan untuk jadi bahan literasi untuk memutuskan siapakah orang baik yg layak jadi presiden kita 2019 nanti– dan mulai dari bagian 1 ini kisah2 itu akan di mulai dan sampai berujung kemana saya tak tau pasti sebab tulisan ini akan mengalir begitu saja bisa menghantam atau memuji siapa saja bergantung pada mood saya —-selamat mengikuti setidaknya sampai jelang pencoblosan 17 April nanti).

#Jangan_kuatir_dengan Validitas data dari kisah yang saya tuliskan karena itu bisa saya pertanggung jawabkan dari sumber mana cerita2 itu saya ambil

Saat Bu Tien Soeharto meninggal April 1996 , Mulailah kasak-kusuk persiapan suksesi dan perebutan kekuasan setelah Pak Harto turun. Pihak-pihak yang berkepintangan dgn perebutan kekuasaan itu adalah di tubuh ABRI dan dalam keluarga Cendana.
Dalam tubuh ABRI ada dikotomi antara ABRI Hijau (naga Hijau) dan ABRI Merah (putih) (-Naga Merah) yang bersebrangan secara “kepentingan” . ABRI Hijau berada di atas angin di mulai saat Pak Harto mulai merapat ke kelompok Islam. Dengan dukungan Habibie yamg lagi naik daun lewat ICMI, Jenderal Feisal Tanjung bisa diatas angin di hadapan Jenderal2 Naga Merah yang rata2 adalah punya patron ke LB Moerdani.

#Sejarah Polarisasi ABRI Merah vs ABRI Hijau

Polarisasi di tubuh ABRI saat itu di mulai tahun 80-an yakni Persaingan antara Jenderal Beny Moerdani dengan Jenderal M. Yusuf. Polarisasi itu sangat serius sehingga terbawa sampai ke dekade berikutnya di tahun 90-an.
Prabowo Subianto termasuk orang yang dekat dengan Jenderal M.Yusuf ini terjadi karena ada “salah Perhitungan ” Jenderal Moerdani dengan kearah mana ideologis seorang Prabowo.
Posisi Prabowo yang jadi staf khusus Jemderal Moerdani menjadikan Prabowo punya akses yang luar biasa besar dan detail dari informasi2 Inteljen yang ada di saat itu, dengan kedekatan dengan Soeharto karena jadi mantunya prabowo punya akses yg luar biasa .

Namun Prabowo kemudian melakukan kesalahan yakni dengan mengumbar informasi2 inteljen yang sensitif seringkali diumbar kepada perwira-perwira menengah tanpa filter. Juga melakukan tindakan konsolidasi untuk melawan Jenderal Moerdani. Hal ini membuat atasan langsung Mayor Prabowo yakni Letkol Luhut Binsar Panjaitan marah besar.

Letkol Luhut Panjaitan adalah Komandan detasemen 81 Pasukan Elite Kopasus yang dispesialisasikan untuk anti-teror. Sementara Mayor Prabowo Subianto adalah wakil Komandan Detasemen 81 jadi wakil Luhut Panjaitan, namun karena hal itu Letkol Luhut pernah Marah besar karena mengetahui konsolidasi-konsolidasi yang dilakukan bawahanya yaitu Prabowo menggalang kekuatan melawan seorang Jenderal. Nama Luhut Panjaitan kemudian di identifikasikan sebagai orang yang ada di kubu benni Moerdani. Perselisihan Luhut Pankjaitan ternyata terus berlanjut sampai saat ini.

Masuk ke era-90-an Prabowo kian giat melakukan konsolidasi, mulai mendekat ke Komandan Seskoad Mayor Jenderal Feisal Tanjung dan Ke Pangdam V Brawijaya Mayor Jenderal R. Hartono, Prabowo mulai mendekat dan mengkonsolidasikan kekuatan jenderal2 yang secara karier agak terhambat karena kuatnya kekuatan Orang2 Jenderal Moerdani di tubuh ABRI.
Mayor Jenderal Feisal tanjung & Mayor Jenderal Hartono adalah orang2 yang karirnya sedikit terhambat karena hubungan vertikal ke atasanya di tubuh ABRI terhambat oleh Jenderal Benni Moerdani yang ternyata sudah mempersiapkan penggantinya berturut-turut, mulai dari Letjen Sahalarajagukguk, Mayor jenderal Sintong Panjaitan, Brigjen Theo Syafei, Kolonel Luhut Panjaitan dan Letkol RR Simbolon yang dipersiapkan utk gantikan jadi Panglima ABRI selanjutnya.
Tajamnya persaingan hingga menimbulkan perbincangan di banyak kalangan saat itu tentang Polarisasi dalam Tubuh ABRI, antara ABRI Hijau yakni Tentara yang menggunakan subkultur Islam dengan ABRI Merah yang tidak menggunakan bendera Agama atau nasionalis. (tapi kemudian oleh Aktivis2 Islam yang direkrut oleh Soeharto dan Prabowo isu Kristen di gunakan utk menyerang ABRI “merah”)

Yang dianggap sebagai ABRI Hijau yg berasal dari sub Kulture Islam adalah misalnya Jenderal Feisal Tanjung & Jenderal Hartono.

Sementara ABRI merah yang tak gunakan bendera Agama disebut2 adalah yang masuk kedalam kelompok Jenderal Edi Sudrajat. Naga Merah yang sangat dominan itu betul menyulitkan berkembangnya Naga Hijau, Hingga kemudian Soeharto mengangkat Jenderal Try Soetrisno yang di tugasi untuk membersihan hegemoni ABRI merah utk memberikan kesempatan naik karier dari kelompok ABRI Hijau.

Oleh kelompok ABRI Hijau try Soetrisno dianggap gagal dan tak berdaya menghadapi kekuatan ABRI merah dgn bukti mengangkat orang2 benny di posisi strtegis spt mengangkat Letjen Harsudiono Hartas sebagai Kasospol dan angkat Letjen Sahala rajagukguk jadi waksad dan tidak mengangkat orang2 yg dekat dengan Prabowo di posisi strategis.
Tapi Jenderal Try Soetrisno memilih Posisi Netral hingga dianggap ambigu yang kemudian Try Soetrisno diangkat jadi wapres yg oleh Soeharto tak di beri share kekuasaan apapun dalam periode pemerintahan soeharto kala itu, hanya simbol kenegaraan WAPRES saja.

Tapi situasi kemudian berubah adalah dengan adanya Peristiwa Santa Cruz yang mana itu membuat Jenderal2 ABRI Merah jadi “pesakitan Internasional” sebagai pelanggar HAM ditambah denga munculnya ICMI sebagai kekuatan baru utk menghambat CSIS yang jadi kekuatan ABRI Merah di Parlemen dan kementrian.

Memasuki 90-an Soeharto mulai cemas dengan perlawanan dari ABRI, terutama terlihat saat Sidang Umum MPR tahun 1988, yang mana diwarnai interupsi oleh Fraksi ABRI berkaitan dengan penolakan terhadap penetapan Soedharmono sebagai Wakil Presiden Soeharto. Itu disebabkan karena ABRI punya calon sendiri yaitu LB Moerdani.

Tahun 1993, Fraksi ABRI yang dikuasai oleh kubu Merah melakukan faith acompli dengan “memaksakan” Jenderal Try Soetrisno menjadi wakil untuk Soeharto, Padahal di rapat Panitia 11 MPR sudah di putuskan jika Cawapres nya peringkat 1 adalah Bj Habibie, Peringkat 2 Soesilo Soedarman dan Jenderal Try Soetrisno menduduki peringkat 3.

Soeharto paham jika tetep ngotot mengangkat Habibie akan terjadi insubordinasi bahkan perlawanan dari Kubu ABRI Merah.

Berdasarkan pengalaman “kudeta” terhadap Soekarno tahun 65-67, Soeharto mencoba menyeimbangkan kekuatan kalau dulu antara AD, PKI dan diri Soeharto maka di tahun 90-an mencoba menyeimbangkan kekuatan AD, Islam dan Dirinya.

Saat mau mengkonsolidasi kekuatan Islam ternyata Soeharto mengalami kesulitan itu karena “buah” dari apa yang di tanamnya yakni perlakuan terhadap Nahdliyin sejak awal ORBA. Yang mana Soeharto dan Orba lebih mengakomodasi kekuatan Islam Modernis (Muhammadiyah dan HMI) untuk ikut mendukung kekuasaanya.

#NU & Gus Dur menjadi sandungan

Kenapa Gus Dur tak mau mendukung konsolidasi kekuatan AD, Islam dan Cendana? itu tak lepas dari perlakuan “orang-orang” Soeharto yang bahkan sampai mencoba melakukan pembunuhan (yang berakibat sopir Gus dur meninggal dan Ibu Shinta Nuriyah cacat kakinya tak bisa jalan) . Alasan lainnya adalah upaya membendung Gus Dur jadi Krtua PBNU untuk ketiga kalinya yang Ndilalah di operatori oleh Jenderal Hartono gagal total yang kemudian bikin Soeharto marah besar sampai2 Soeharto menoilak hadir saat pelantikan Gus Dur untuk jadi Ketum PBNU untuk ke tiga kalinya.  Situasi itu tambah runyam yakni ketika Gus dur secara terang-terangan mengusung Benni Moerdani jadi Presiden RI di tahun 1993, Soeharto semakin murka dengan NU.

Sebagai konsekuensi Logis tak mampu “menjinakan” massa Islam tradisional yang jumlahnya sangat banyak kemudian Soeharto dengan operator mantunya Prabowo mebangun kekuatan dengan Islam Modernis & Konservatif dengan merangkul modernis Islam yang dilokomotifi oleh Muhammadiyah dan HMI yang kemudian membawa Gerbong kelompok Islam eks-Masyumi, Eks DI/TII/NII masuk kian dalam ke lingkar kekuasaan Soeharto.

Salah satu karya Prabowo adalah membangun konsolidasi dan membangun kekuatan bersama KISDI yang di ketuai oleh Achmad Soemargono. Setelah diawali konsolidasi kekuatan Islam2 konservatif oleh prabowo yang bahkan sampai di dukung pendanaanya oleh Probosutedjo (adik Soeharto) yang mana di sediakan dana di Bank Jakarta (Bank milik Probo) yang awalnya di gunakan untuk melakukan solidaritas terhadap Muslim Bosnia, yang kemudian operator lapanganya di serahkan pada KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) melakukan gerakan demo2 juga penggalangan dana umat waktu itu.

Dan di mulai saat itu kelompok Islam Konservatif yang rata2 didikan eks Masyumi di LDII,KISDI dan yang dikampus liqo2 Ikhwanul Muslim dan hizbut Tahrir semakin berkembang pesat berkat dukungan ABRI hijau dan Soeharto dan hasilnya kemudian terlihat yakni radikalisasi Islam di Indonesia.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang tersenyum, orang berdiri, orang di panggung dan luar ruangan

Prasetyo BoediFrast

Prabowo & Naga ijo ( bagian 2)

Kenapa awal 90-an Soeharto merapat ke Islam?

Hmmm yups karena diarahkan oleh situasi geopolitik Internasional dan ambisi utk terus berkuasa itu yang menyebabkan Soeharto merangkul dan merapat dengan Islam.

Situasi politik memang sudah berbeda. Perang Dingin sudah usai, Uni Soviet sudah bubar, dan Republik Rakyat Cina terlihat mulai lebih moderat ketimbang menampakkan diri sebagai negara komunis berhaluan keras.

Sehingga platform politik yang sebelumnya melandaskan diri pada anti-komunisme pun berganti narasi. Salah satu indikasinya adalah dipulihkannya hubungan diplomatik dengan Cina pada 1990. Pemulihan ditandai penandatanganan nota kesepahaman (MOU) oleh kedua Menteri Luar Negeri, Ali Alatas dan Qian Qichen, di Jakarta pada 8 Agustus 1990. Kedua kepala negara, Soeharto dan Li Peng, menyaksikan langsung peristiwa bersejarah itu.

Memasuki dekade 1990-an, Soeharto menilai Islam bisa menjadi basis politik yang lebih kuat di masa-masa mendatang. Inilah yang membuatnya berubah arah menjadi lebih ramah pada Islam.

Betul ada arahan dari Amerika untuk merubah mindset stereotip dan pandangamiring terhadap Islam, Pasca bubarnya perang dingin Amerika dan sekutunya berkonsentrasi untuk menguasai Dunia Islam terutama yang di timur tengah.

Perak Irak dan Iran 1980-1988 berakhir dan itu “kurang menyenangkan” buat produsen2 senjata seperti Amerika dan beberapa negara NATO. Sekutu Amerika yakni IRAK di bawah Saddam Husein ternyata mulai sadar dengan permainan proxy dan campur tangan Amerika di negaranya itu ditambah dengan IRAN yang walopun di tinggalkan Uni Sovyet ternyata masih tegak berdiri menentang Israel dan Amerika.

Setelah Uni Sovyet Runtuh Amerika mulai mengacak-acak dan mulai memasukan pengaruhnya terutama ke negara2 eks Sovyet atau negara2 yang dulu di kuasai sovyet untuk di kuasai …itu bisa kita lihat proses gerontokisasi lewat perselisihan antara kubu yg pro Sovyet (kemudian di ganti Rusia) dengan kelompok2 milisi bentukan amerika untuk memberontak.

Uni Sovyet pecah jadi 15 negara kemudian dan cara yang di gunakan Amerika adalah menggunakan Proxy kelompok-kelompok Islam seperti yang di lakukan di beberapa negara Asia tengah Kazakhstan, Kirgizstan,Tajikistan,Turkmenistan,Uzbekistan dengan menggunakan isyu sektarian untuk memisahkan diri dari Rusia (eks Sovyet).

Negara2 Eropa timur lain yang dekat dengan Sovyet-pun tak luput dari perang Proxy Amerika serikat dan eropa barat misal Pembubaran Yugoslavia disebabkan oleh serentetan gejolak dan konflik politik pada awal tahun 1990-an. Mengikuti krisis politik pada tahun 1980-an, republik anggota dari Republik Federal Sosialis Yugoslavia terpecah belah, tetapi masalah-masalah yang tak tertangani mengakibatkan perang antaretnis Yugoslavia yang sengit. Perang ini memberi dampak terutama kepada Bosnia dan Kroasia.

Ekperimen yang berhasil adalah di pembantaian kaum Muslim di Bosnia Herzegovina.

Konflik Bosnia Herzegovina inilah yang jadi langkah awal Soeharto menarik dukungan dari kalangan Muslim di Indonesia. Itu dilakukan oleh Soeharto karena gak lepas karena ada perselisihan dengan LB Moerdani, yang mana saat itu Soeharto sedikit kerepotan sebab LB Moerdani lebih menguasai Angkatan Darat dan Golkar karena orang2 CSIS yg ada ditubuh Golkar dan jadi Think Thank-nya.(kita bahas lebih lanjut disambungan berikutnya).

Soeharto menggunakan konflik muslim di Bosnia untuk mengga;amh kekuatan di luar Parlemen dan angkatan darat.

Soeharto memerintahkan Prabowo Subianto untuk menyokong KISDI yang lahir lewat demonstrasi besar2an Solidaritas Muslim Indonesia untuk Bosnia di halaman Masjid Al Azhar Jakarta Selatan pada Pertengahan Februari 1994. Pertemuan Akbar itu memutuskan untuk mengirim relawan-relawan ke Bosnia Herzegovina dan juga dimulainya penggalangan Dana untuk pendirian masjid di sarajevo yang akan di namai Masjid Muhammad Soeharto.

Untuk memfasilitasi tujuan tersebut dibentuklah Panitia Nasional Solidaritas Muslim untuk Bosnia (disingkat PNSM Bosnia) yang di ketuai adik soeharto Probosutedjo, Gerakan itu didanai oleh Probobosutejo dan tommy Soeharto melalui rekening di Bank Jakarta milik Probo sutedjo (banknya sudah dilikuidasi).

Siapakah KISDI?

Ahmad Sumargono yang akrab disapa Bang Gogon ini lahir di Jakarta 1 Februari 1949. Sejak muda dikenal sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Indonesia dan kemudian ikut mendirikan Partai Bulan Bintang (PBB) bersama cendikiawan Yusril Ihza Mahendra dan MS Kaban.

Gogon sempat menjabat Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PBB DKI Jakarta, namun belakangan ia hijrah ke PPP sebagai anggota Dewan Pertimbangan.

Ia terpiilih sebagai anggota DPR periode 1999-2004. Di parlemen ia berkiprah di antaranya sebagai anggota Bamus DPR dari Fraksi PBB, anggota Pansus Buloggate dari Fraksi PBB, dan Komisi I dari Fraksi PBB.

Almarhum juga ikut mendirikan Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) yang kemudian ia pimpin. Gerakan KISDI fenomenal di era 1990-an karena menggalang dukungan menentang pendudukan Palestina dan Afganistan.
Dr. Adian Husaini (lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 17 Desember 1965; umur 53 tahun)[1] adalah ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, sekretaris jenderal Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) dan Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina-Majelis Ulama Indonesia (KISP-MUI), Anggota Komisi Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan anggota pengurus Majlis Tabligh Muhammadiyah.

Ia memperoleh pendidikan Islamnya dari Madrasah Diniyah Nurul Ilmi Bojonegoro (1971–1977)[1], Pondok Pesantren Ar Rasyid Kendal Bojonegoro (1981–1984)[2], Pondok Pesantren Ulil Albab Bogor (1988–1989), dan Lembaga Pendidikan Bahasa Arab, LIPIA Jakarta (1988)[3].
Gelar sarjananya di bidang Kedokteran Hewan diraih dari IPB, sedangkan gelar Master dalam bidang Hubungan Internasional diperoleh dari Pascasarjana Program Hubungan Internasional Universitas Jayabaya Jakarta, dengan tesis berjudul Pragmatisme Politik Luar Negeri Israel. Dan meraih gelar doktor di Institute of Islamic Thought and Civilization-International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) dalam bidang pemikiran dan peradaban Islam.

Siapakah yang aktif di KISDI kita akan temui nama2 besar yups ada Fadli zon, Eggy Sudjana, fahri Hamzah , Din Syamsudin dan banyak tokoh lain yang terlibat di dalamnya.
Setelah sebelumya Soeharto juga menyetujui didirikannya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada Desember 1990. Lalu, ia memperbolehkan jilbab dipakai. Setahun setelah merestui ICMI, Soeharto bahkan naik haji bersama keluarganya. Namanya pun menjadi Haji Muhammad Soeharto.

Soeharto yang abangan awam dengan Islam kemudian “Benar-benar” di permainkan oleh Permainan Fundamentalis dan Radikalis Islam yang dengan leluasa memainkan Agendanya. (Agenda ini juga sepertinya akan di pakai modelnya utk atur khalifah hulaihi kita)

Perekrutan yang masif dengan dukungan Amerika serikat lewat duit Arab Saudi dgn kendaraan “proxy”-nya Wahabi maka di mulailah radikalisasi beberapa kelompok umat Islam Nusantara.

Tapi itu belum cukup untuk menghadapi “Gerakan di tubuh Angkatan darat” yang relatif di kuasai oleh LB Moerdani dan kawan-kawan ..juga tak terlalu signifikan pengaruhnya di tubuh Golkar.

Langkah selanjutnya adalah pembersihan ABRI merah di tubuh ABRI yg di operatori oleh Prabowo dengan Back up Penuh Amerika dan sekutunya dan tunggu -tu akan saya bahas di sambungan berikutnya

Bersambung ke bagian 3

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: