Tinggalkan komentar

“Fake Truth” bukan “Post Truth”

Bukan “Post Truth” nama yang tepat untuk menggambarkan kebebalan kaum ( “kampret” dan rombongannya), tapi “Fake Truth”, kata RPD kawan saya.

Hasil gambar untuk post truth

Faham Radikal Baru “NKRI” Serang Sekolah dan Kampus di Riau.

Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan menjelaskan bahwa yang dimaksud Faham NKRI bukanlah Negara Kesatuan Republik Indonesia, akan tetapi Negara Khilafah Rasyidah Islamiyah, yg di dukung oleh HTI,FPI dan Ikhwanul Muslimin.

Kelompok ini menurut Ken sudah tersebar di pelosok negeri, termasuk Riau juga sudah banyak pendukungnya, mereka cukup masif mengadakan perekrutan di kalangan pelajar, mahasiswa dan kalangan umum.

Bahkan ada salah satu kampus di Pekanbaru yang sudah ada jamaahnya sekitar 80 mahasiswa dalam jaringan NKRI ini.

Pola perekrutan dan pendekatanya dengan membenturkan kondisi hari ini yang menurut mereka tidak sesuai dengan hukum Islam, mereka anti demokrasi dan menganggap bukan dari Allah, tapi aturan manusia yang lebih berpihak kepada penguasa saja.

Mereka para jamaaah NKRI itu menganggap khilafah itu merupakan janji Allah dan Rasulullah sedangkan demokrasi merupakan hal yang berseberangan dengan-Nya.

Dalam memprovokasi calon korban mereka selalu mengatakan kalau demokrasi hanya akan membuat rakyat tertindas karena hukum seperti pisau yang bermata dua yang tumpul keatas dan runcing ke bawah, hukum demokrasi Indonesia menurutnya tidak akan melukai orang kaya dan bermodal tapi hukum demokrasi di Indonesia hanya akan berlaku bagi masyarakat kecil saja.

Hasil gambar untuk post truth

Bahkan ulama menurut mereka di persekusi, ormas Islam dibubarkan, pemimpin ingkar janji dan banyak lagi polemik yang terjadi, intinya tidak berpihak pada rakyat.

Jadi menurut mereka satu satunya solusi adakah NKRI Negara Khilafah Rasyidah Islamiyah. Bila tidak mau Hijrah ke NKRI maka Ibadah kita katanya tidak diterima oleh Allah karena dianggap belum beriman alias kita masoh ibadah di tempat yang kotor sebab masih mayakini demokrasi menjadi solusi bukan Khilafah.

Mereka sangat yakin akan mampu mengulingkan sistim demokrasi Indonesia dengan segala cara karena bagi para jamaahnya merupakan sebuah kewajiban memperjuangkan tegaknya Khilafah.

Mereka sangat yakin karena mereka menggunkaan ayat Ar Radu: 11 bahwa Allah tidak akan merubah suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang merubahnya. Jadi dengan semangat nasional versi nya, mereka akan sekuat tenaga berikhtiar untuk menegakkan Khilafah.

Hasil gambar untuk HTI

Nasional kelompok khilafah yang menjadikan jamaahnya menjadi militan menurut ken itu adalah dengan menciptakan lawan, dan lawan mereka adalah sistem demokrasi pancasila, ibarat mau berkelahi kalau tidak punya lawan maka tidak greget, jadi mereka berusaha menjelekan sejelek apa yang ada di dalam sistem dekokrasi pancasila semua salah, kalau perlu dengan berita hoax juga tidak apa apa, sebab dalam kondisi perang boleh bersiasat dalam menghadapi musuh di peperangan.

Menurut Ken, mereka menggunakan konsep Negara Khilafah sebab tidak bisa meruntuhkan sistem atau merubah sebuah sistem negara kalau lewat ormas atau LSM misal NU atau Muhamadiyah, Negara harus lawan negara, makanya mereka mengunakan Negara Khilafah Rasyidah Islamiyyah untuk meruntuhkan sistem demokrasi Pancasila.

Mereka sudah menabuh genderang perang untuk kita semua, saatnya waspada, mereka menganggap kita yang berseberangan ideologi sebagai musuh, jadi kalau kita tidak waspada akan menjadi hal yang sangat berbahaya. Mereka intens merekrut jamaah baru jadi kalau kita diam ibarat lari kita kalah jauh, mari jadikan ini sebagai musuh bersama karena mereka juga menjadikan kita sebagai musuh bersama.

Bila tidak waspada maka bisa jadi ke depan keluarga dan lingkungan kita akan menjadi sasaran perekrutan mereka.

Bagi Ken Setiawan, Khilafah adalah bonus dari Allah ketika kita sudah menjalankan ajaran Allah dengan baik dimulai dari diri sendiri, hukum Islam menurutnya bukan aplikasi dalam sebuah negara Islam misal mencuri potong tangan, namun ketika kita sudah mulai dari hal hal kecil misalnya hidup bersih yang kebersihan itu merupakan sebagian dari Iman, taat peraturan, disiplin, budaya antri, tidak buang sampah sembarangan, tidak menyerobot lalu lintas dll,

Jadi percuma bila kita meneriakan Negara Islam atau pemerintahan Islam tapi akhlak kita masih jauh dari Islam itu sendiri, Tutupnya.

Komentar
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: