Tinggalkan komentar

BALI, Benteng terakhir Kearifan Dharma Nusantara

Gambar mungkin berisi: langit dan luar ruangan

 

by  Santo Saba 

BALI

Bali bukan india,Ajaran dan Falsafah peradaban maju terdahulu yang kini tersimpan di Bali yang mewarnai tanah india,Tidak sebaliknya.

“Udvayam tamasaspari jyotis pasyanta uttaram,devam devatra suryamaganma jyotiruttamam.”

Artinya:
“Lihatlah menjulang tinggi di angkasa, cahaya yang terang benderang mengatasi kegelapan telah datang, ia adalah Dewa Surya, dewa dari seluruh dewata, cahaya nya yg terang itu betapa indahnya.”

Perhatikan budaya Bali menyimpan tentang falsafah Matahari lengkap dan masih terawat hingga kini,Indonesia harus menjaga Bali.

“Bali”,Bukti Peradaban awal dan maju di muka bumi terdahulu pernah ada di Nusantara terekam sempurna pada budaya Bali. Ajaran “Dharma”, leluhur kita kaum Schytia adalah Çaka, Ras Arya dengan symbol Su-Astika-nya.

Peradaban maju “Dinasty Surya” telah mempunyai ajaran dan falsafah yg dicirikan dengan penghormatan kepada sang Surya Matahari, bukan menyembah Matahari.

Di era Majapahit para Reshi menyelamatkan ajaran asli Nusantara ke Bali, para Raja mufakat untuk tidak menarik pajak di tanah ini.

Dewa tertinggi, pada dasarnya adalah Surya yang memancarkan cahanya TUHAN,L lebih lengkapnya Hyang Surya Raditya Ra Aditya.

Di samping Dewa Surya dengan berbagai aspek, dewa lainnya yang dominan adalah Agni dewa api, Indra dewa hujan, raja para dewa penguasa surga Vayu, Dewa Angin, juga dewi-dewi yang kerap dipuja atau disebutkan dalam mantra-mantra di antaranya Saraswati, Savitri, Aditi, Suryaputri.

Dewa-Dewi tersebut pada umumnya digambarkan secara anthrophomorphic, berwujud seperti manusia dengan keunggulan dan kelebihannya dengan senjata dan kendaraannya.

Dewa Agni Dewa Brahma, Dewa Indra dan Varuna diidentikan dengan Dewa Wisnu, yang merupakan nama lain dari  Surya.

Di Bali, Dewa dan Dewi juga sering disebut dengan Bhatara dan Bhatari.

Dalam tradisi Jawa umumnya, dan pada tradisi pewayangan, istilah Bhatara dipakai untuk merujuk kepada Dewa.

Ajaran terdahulu asli Nusantara Indonesia terekam pada budaya Sunda Wiwitan, Kanekes (Baduy), Batak ParMalim, Marapu, Kapitayan, Kaharingan, Tengger, Bali, Tolotang, Aluk Todolo ini semua bukan dari india.

Dalam tradisi Agama Dharma di Bali, istilah Bhatara diucapkan “Bêtarə (betare)”, dan disamakan atau bahkan diidentikkan dengan dewa.

Penyebutan Bhatara, hampir sama dan ada pada budaya asli lainnya di Nusantara Indonesia, nama nama Dewa ini asli Nusantara, bukan india.

Dewa merupakan sinar suci atau manifestasi dari Brahman, atau Tuhan yang Maha Pencipta, masyarakat di Bali sangat menekankan ritual-ritual perdamaian yang dramatis dan estetis terhadap “Hyang”.

“Hyang Widhi Tunggal”, Tuhan Yang Maha Esa

Agama Masyarakat Bali disebut pula Agama “Dharma” atau Agama Tirtha “Agama Air Suci”. Para sejarawan luar mencatatnya ajaran “Dharmic” ini sebagai dasar konsep agama-agama timur yang bersumber dari peradaban maju kaum Schytia, Çaka

Di masa lalu..

Dalam perkembangannya ajaran “Dharmic” yang di bawa kaum Çaka berkembang di dataran India, mendasari 2 ajaran utama salah satu nya “Jainsm” dengan tokohnya “Mahavira” pada 5 SM. Pada 9 M lahir agama baru untuk membedakan tidak keduanya dan bukan Islam.

Di tanah kaum Çaka ini,pada era sebelum orba “Agama” tersebut di atas harus menjadi pilihan alternatif “Agama Resmi” Negara….

Borobudur adalah kiblat dunia pada masa itu bernama “Bhwana Sakha Phala”,ber palsafah ajaran asli Nusantara,tidak di bangun abad 8 M,Sailendra merawat bukan membangun

falsafah tentang “Dharma” terekam pada dinding reliefnya,juga prosesi kontemplasi spiritual,”Topobroto”,”Laku”, Samadhi, berbentuk arca posisi duduk bersila.

Di relief bagian dasar yg kini tidak dapat di lihat karena tertutup batu ada di antara nya 12 teks literasi kata “Svargga” bukan “Nirvana”.

Dan prasasti dengan angka tahun Çaka di tanah ini negri kaum Çaka tidak dihitung dari 78 Masehi, itu adalah angka tahun saat kaum Çaka leluhur kita menaklukan Raja Salivahana di india

Maka sudah saat nya sejarah benar kembali…bangkit nya percaya diri anak bangsa yang di darah nya masih mengalir DNA kaum “Garuda Çaka”…

Rahayu …

KAJIANUSANTA RA
Oleh : Santosaba
santosaba234@gmail.com

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas Isu Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: