Tinggalkan komentar

Pemikiran Islam Progresif Ala Bung Karno

Oleh Rohmatul Izad

Pemikiran Islam Progresif Ala Bung KarnoSoekarno, yang lebih akrab disapa Bung Karno, bukanlah seorang yang lahir dalam tradisi Islam yang kuat. Ayahnya, Soekemi Sosrodiharjo, adalah seorang Muslim, sementara sang ibu, Ida Ayu Nyoman Rai, penganut agama Hindu-Bali. Perjumpaan Bung Karno dengan Islam, dalam konteks ajaran yang ketat, diawali dengan perkenalannya dengan H.O.S Tjokroaminoto yang menjadi gurunya saat Soekarno kecil, mulai tumbuh sebagai remaja.


Melalui H.O.S Tjokroaminoto inilah Bung Karno mulai mengalami Islam secara mendalam beserta ajaran-ajarannya yang begitu luas. Tak hanya itu, ia juga terus belajar secara mandiri dengan membaca berbagai karya pemikir Islam dunia dan Nusantara, yang kemudian menjadi satu paket pemahaman ajaran Islam yang begitu lengkap dan mumpuni.

Bagi Bung Karno, menjadi seorang Muslim haruslah mengamalkan Islam dengan orientasi kemajuan, progresif, dan menurutnya, sistem khilafah Islamiyah adalah sebuah kemunduran zaman. Bung Karno telah menyadari jauh-jauh hari bahwa menjadi Muslim yang maju tidak harus menjalankan prinsip syariat dalam ketatanegaraan. Justru ajaran-ajaran Islam menjadi maju dengan cara bersinergi dengan alam pikiran modern yang berkembang.

Progresifitas pemikiran Islam Bung Karno yang berorientasi kemajuan ini, harus dilihat dari bagaimana ia dapat mempertemukan antara ajaran Islam berupa ritual keagamaan sekaligus memproduksi keilmuan modern. Artinya, seorang Muslim harusnya memiliki daya saing yang tinggi dan juga terlibat dalam menciptakan ilmu pengetahuan modern.

Menjadi Muslim tak boleh hanya sekedar mengamalkan ritual-ritual keagamaan semata. Lebih daripada itu, ia harus mensinergikan dengan perkembangan zaman dan menyadari betapa pentingnya kedua hal itu dapat menyatu, khususnya dalam membangun kemajuan peradaban umat manusia.

Bung Karno sangat antipati dengan ide khilafah. Baginya, pemerintahan berbasis khilafah tak lebih dari suatu pemikiran yang mundur disebabkan terlalu berilusi dalam mengembalikan kejayaan Islam masa lalu untuk dihadirkan lagi saat ini. Padahal, masa lalu memiliki alam pikirannya sendiri dan tak selalu cocok dengan era kekinian. Justru yang dibutuhkan adalah selalu mengikuti arus zaman dengan segala konsekuensi perubahannya.

Di era modern ini, tampak bahwa umat Islam mengalami ketertinggalan yang amat jauh dengan tradisi pemikiran Barat. Sebab itu, sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk menyongsong ketertinggalannya dan membangun masa depan yang lebih menjanjikan.

Bung Karno pernah berkata, “Islam harus berani mengejar zaman, bukan seratus tahun, tetapi seribu tahun Islam ketinggalan zaman. Kalau Islam tidak cukup kemampuannya buat mengejar seribu tahun itu, niscaya ia akan tetap hina dan mesum. Bukan kembali pada Islam glory yang dulu, bukan kembali pada ‘zaman khalifah’, tetapi lari ke muka, lari mengejar zaman. Itulah satu-satunya jalan buat menjadi gilang gemilang kembali. Kenapa toh kita selamanya dapat ajaran, bahwa harus mengkopi ‘zaman khalifah’ yang dulu-dulu? Sekarang toh tahun 1936 dan bukan 700 atau 800 atau 900?”.

Itulah sedikit cuplikan dari bagaimana cara pandang Islam ala Bung Karno yang begitu progresif. Sebagai seorang pemimpin revolusioner, Bung Karno memang mampu menjembatani berbagai pemikiran menjadi satu paket kesatuan yang utuh. Ide Marxisme ia gabungkan dengan Islamisme, lalu Nasionalisme dan melahirkan apa yang kita kenal sekarang sebagai ideologi Pancasila.

Dalam konteks Islam progresif, Bung Karno memang tidak memiliki pemikiran yang utuh dan sistematis, tetapi dengan melihat beberapa faktor utama mengapa umat Islam mengalami kemunduran, maka akan sedikit menghantarkan kita pada pemikiran Islam progresif ala Bung Karno. Faktor itu antara lain:

Pertama, adanya upaya umat Muslim untuk melakukan formalisasi terhadap ajaran Islam. Seperti adanya ide membangun khilafah dalam sebuah sistem kenegaraan. Corak umat Islam semacam ini tidak melihat Islam secara substantif, tetapi lebih mengacu dan mengutamakan fikih. Di sisi lain, tidak merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah yang merupakan sumber paling otoritatif dalam ajaran Islam.

Bung Karno menilai fikih dan hukum Islam sangatlah penting, tetapi ia bukanlah satu-satunya pondasi ajaran Islam. Banyak umat Islam hanya melihat agamanya sebatas label, bungkus atau atribut semata, bukan melihat isi atau substansinya. Pandangan ini hingga hari ini, masih saja berkembang di sebagian kalangan umat Islam.

Kedua, adanya kecenderungan taklid buta atau logika ikut-ikutan. Menurut Bung Karno, sikap taklid ini akan menjadi berbahaya jika mematikan kreatifitas dan akal budi manusia, yang merupakan prasyarat utama bagi manusia dalam melakukan daya cipta. Ini dapat dilihat misalnya, kemajuan suatu bangsa dapat dilihat bagaimana daya pikir ini dapat dimaksimalkan.

Taklid buta, dalam banyak hal, akan mengakibatkan pemikiran menjadi mandul dan menghambat kemajuan umat Islam. Meski taklid adalah sesuatu yang diperbolehkan dan memang harus dalam bermadzhab, tetapi taklid tak boleh hanya sekedar ikut-ikutan. Taklid buta justru akan merusak umat Islam dari dalam akibat kebodohan yang berkepanjangan.

Ketiga, mengutip dan mempercayai hadits-hadits lemah sebagai rujukan dalam beragama. Menurut Bung Karno, umat Islam harus benar-benar selektif dalam mengambil sumber rujukan hukum Islam. Tak boleh bersikap serampangan dan suka-suka. Sebab, banyak hadits-hadits palsu yang bertebaran, maka sudah sepatutnya umat Islam dapat memilah secara cerdas dan mencari rujukan sumber hukum yang otoritatis serta relevan bagi zamannya.

Dan juga, banyak umat Islam mengalami ketertinggalan, menurut Bung Karno disebabkan kurangnya ulama yang mempelajari sejarah. Dengan mempelajari sejarah, pastilah kita dapat memahami kekuatan-kekuatan masyarakat berserta kemajuan dan kemundurannya.

beberapa poin penting yang menjadi faktor utama kemunduran umat Islam ini, menunjukkan bahwa betapa Bung Karno memiliki pemikiran Islam yang sangat progresif. Bung Karno mengharuskan umat Islam untuk lebih terbuka agar wawasan keagamaannya dapat berkembang dan mampu mengintegrasikannya dengan keilmuan modern. Pemikiran yang ekslusif dan tertutup, justru akan menjadikan umat Islam mandul dan tidak berkembang.

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Filsafat UGM.

http://www.nu.or.id/post/read/92041/pemikiran-islam-progresif-ala-bung-karno

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: