Tinggalkan komentar

Sundaland Ethnomusic Festival 2018

Sundaland Ethnomusic Festival 2018 & Diskusi Sejarah Peradaban Sundalandia Lemuria dan Atlantis Nusantara

Talataaki Production, gelar Sundaland Ethnomusic Festival 2018 di Pura Agung Jagatkarta, Ciapus, Bogor

NJI, HujanMusik!, Bogor – Bagi sebagian penikmat musik, mungkin ada yang merindukan sebuah kejutan ditengah merajanya musik folk, metal, shogaze, ataupun pop saat ini. Menjamurnya musisi-musisi yang karyanya seragam mungkin sedikit membosankan. Pun dengan panggung musik yang masih didominasi oleh suara modern. Semua itu tidak salah, memang begitu seharusnya dunia. Terdiri dari angka nol dan garis lurus, bilangan binari yang mewakili keseimbangan.

Sundaland Ethnomusic Festival rasanya bisa menjawab rasa haus akan sesuatu yang berbeda. Menjadi alternatif pilihan diantara keseragaman. Talataki, sebuah komunitas yang berazaskan nilai-nilai luhur kearifan lokal, terutama seni, menawarkan sebuah helaran berisi konser musik tradisional.

Tidak cuma itu, festival yang akan digelar pada 27 Oktober nanti ini juga akan dipadati kegiatan yang berkaitan dengan seni, budaya, dan sejarah. Diskusi tentang Atlantis, Lemuria, dan sejarah Sundaland, pameran foto, festival dongdang, dan pasar murah melengkapi hajat besar di Pura Agung Jagatkarta.

Manusia adalah mahluk yang unik, seringkali berharap mendapat kejutan dan bersorak kegirangan ketika mendapatkannya. Itulah yang terjadi pada saya saat menghadiri konferensi pers Sabtu (19/10) lalu di Kopi Kamu, sebuah kedai manis yang menawarkan kepahitan kopi sebagai jualan utama. Saya senang bukan kepalang, akan segera disuguhi helaran seni besar yang melibatkan setidaknya 60 seniman dari berbagai negara dan berdiskusi tentang seni budaya sunda yang menarik perhatian saya sejak 8 tahun kebelakang. Sungguh, kejutan yang menerbangkan harapan ke awang-awang.

Gambar mungkin berisi: 3 orang, termasuk Dhani Irwanto, orang tersenyum, orang berdiri dan luar ruangan

“Yang kita tampilkan adalah maestro. Melalui kegiatan ini sepantasnya kita memberikan kepada maestro seni klasik sunda, tempat yang selayak-layaknya,” terang Iwan Toruan, penggagas dan produser Sundaland Ethnomusic Festival 2018.

Sebuah penelitian psikologi yang dipublikasikan dalam jurnal Cognitive Psychology (2015) menjelaskan pada dasarnya kejutan memiliki tingkatan, mulai yang biasa, sedang sampai sangat mengejutkan. Meadhbh Foster dan Mark Keane dalam penelitian yang diberi judul why some surprises are more surprising than others: surprise as a metacognitive sense of explanatory difficulty tersebut menyebut terdapat empat faktor yang membuat kita terkejut, yaitu memori kita, skenario kejutan, logika rasio, dan juga kerja kognitif kita saat kejadian. Keempatnya yang membuat kejutan menjadi bertingkat.

Melihat semua atributnya, Sundaland Ethnomusic Festival akan menjadi kejutan yang berada di tingkatan menengah. Tidak biasa juga tidak sangat mengejutkan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan psikologis manusia. Seperti disebutkan diawal tulisan, sebagian penikmat musik pasti ada yang mengharapkan sesuatu yang diluar kebiasaan. Tapi pasti ada juga yang merasa bahwa keramaian dunia musik saat ini sudah cukup dan mereka tidak membutuhkan hal lain.

“Kami tetap kemas dengan tampilan populer. Kami pastikan denting Kacapi bisa dinikmati dengan layak,” jelas Reye Maulana, show director acara ini.

Rasanya memang sedikit janggal menyebut sebuah pagelaran yang sudah digembar-gemborkan sejak dua bulan lalu sebagai sebuah kejutan. Tapi beberapa orang bilang pada saya bahwa mereka terkejut, walaupun kebanyakan terkejut karena gerakan besar ini digratiskan untuk umum. Selain itu, pihak Talataki selaku penyelenggara juga mengaku tidak akan ada kejutan lain selain dari yang sudah disebutkan dalam berbagai media promo. Tapi ada juga segelintir orang yang mengharapkan kejutan dari para penampil dan suasana yang akan hadir disana. Jadi rasanya sah-sah saja mengkategorikan festival ini kedalam kejutan.

“Sajian musik spiritual dalam pengertian geografis-kultural pada 12000 tahun yang lalu. Ingatan itu dipancing dengan musik, pendekatan musikal. Jadi memori kesadaran itu kita coba hadirkan melalui musik dan diskusi kesejarahan,” tambah Ahmad Samantho, penulis buku Peradaban Atlantis Nusantara, pemandu diskusi kesejarahan.

Kini, tinggal menunggu semua kejutan itu terwujud saat Sundaland Ethnomusic Festival turun dari langit mimpi ke sebuah pura asri di kaki gunung salak.(Ahmad Samanto)

Sundaland Ethnomusic Festival 2018

Kejutan di Tengah Musik yang Berbeda

Kejutan di Tengah Musik yang Berbeda

Foto : dok. Sundaland Ethnomusic Festival 2018

Menjamurnya musisi yang karyanya seragam mungkin sedikit membosankan. Dan bagi sebagian penikmat musik, mungkin ada yang merindukan kejutan di tengah merajalelanya musik folk, metal, shogaze, ataupun pop saat ini. Dan Sundaland Ethnomusic Festival (SEF ) 2018 adalah kejutan itu.

Menjadi alternatif pilihan diantara keseragaman, SEF rasanya bisa menjawab rasa haus akan sesuatu yang berbeda. Talataaki, komunitas yang berazaskan nilai-nilai luhur kearifan lokal, terutama seni, menawarkan helaran berisi konser musik tradisional.

Tidak cuma itu, festival yang digelar pada Sabtu (27/10) tersebut dipadati kegiatan yang berkaitan dengan seni, budaya, dan sejarah. Diskusi tentang Atlantis, Lemuria, dan sejarah Sundaland, pameran foto, festival dongdang, dan pasar murah melengkapi hajat besar di Pura Agung Jagatkarta, Bogor.

“Yang kita tampilkan adalah maestro. Melalui kegiatan ini sepantasnya kita memberikan kepada maestro seni klasik sunda, tempat yang selayak-layaknya,” terang Iwan Toruan, penggagas dan produser SEF 2018.

Melihat semua atributnya, SEF akan menjadi kejutan yang berada di tingkatan menengah. Hal ini disebabkan perbedaan psikologis manusia. Sebagian penikmat musik pasti ada yang mengharapkan sesuatu di luar kebiasaan. Tapi pasti ada juga yang merasa bahwa keramaian dunia musik saat ini sudah cukup dan mereka tidak membutuhkan hal lain.

“Kami tetap kemas dengan tampilan populer. Kami pastikan denting Kacapi bisa dinikmati dengan layak,” jelas Reye Maulana, Show Director SEF.

Rasanya memang sedikit janggal menyebut pagelaran yang sudah digembar-gemborkan sejak dua bulan lalu sebagai sebuah kejutan. Selain itu, pihak Talataaki selaku penyelenggara juga mengaku tidak akan ada kejutan lain selain dari yang sudah disebutkan dalam berbagai media promo. Tapi ada juga segelintir orang yang mengharapkan kejutan dari para penampil dan suasana yang akan hadir di sana.

“Sajian musik spiritual dalam pengertian geografis-kultural pada 12.000 tahun lalu. Ingatan itu dipancing dengan musik, pendekatan musikal. Jadi memori kesadaran itu kita coba hadirkan melalui musik dan diskusi kesejarahan,” tambah Ahmad Samantho, penulis buku Peradaban Atlantis Nusantara, pemandu diskusi kesejarahan.  yeb/R-1

Tempat Tafakur Prabu Siliwangi

Lebih dari 30 seniman musik yang tergabung dalam 7 kelompok penampil memberikan hiburan musik etnik kelas wahid bagi mereka yang ingin merehatkan indra dan rasa dari musik favorit mereka selama ini.

Nada-nada yang mengalir cepat dengan indah dari alat musik Tabla dan Sitar dari India, keanggunan suara kecapi Guzheng dari Tiongkok, kecantikan suara kecapi Koto dari Jepang, serta suara mendayu-dayu kecapi suling Sunda beserta suara ritmis musik Gembyung dari Subang ditata apik oleh Rock Mountain Event Organizer dan bergulir secara harmonis dari waktu ke waktu selama helaran berlangsung.

Para maestro musik klasik Sunda, seperti Abah Surya Drajat Kusumahdiningrat dari Bandung, Aki Dadan Sukandar dan Mang Tatang Setiadi dari Cianjur, serta Mang Ayi Ruhyat dari Subang, tampil berbagi panggung dan memberikan pertunjukan musik etnik dengan kualitas tinggi.

Sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Festival yang digagas Iwan Lumban Toruan dan Zeira Soraya Indraswari dari Komunitas Talataaki ini memiliki arti penting karena menjadi sebuah kegiatan kultural yang mengadopsi nama Sundaland untuk pertama kali di dunia.

Konsep ilmiah yang sebenarnya berorientasi biogeografis ini direlasikan secara kuat dengan gagasan spekulatif milik Plato tentang keberadaan peradaban Atlantis, sebuah peradaban maju yang diduga pernah mendiami dataran tersebut, untuk menggugah kesadaran kolektif bangsa ini guna membangun kembali peradaban maju di bumi Nusantara sekarang.

Untuk itu, Komunitas Talataaki menggelar diskusi tentang Sundaland dan peradaban Atlantis, dengan memasukan pembahasan tentang peradaban Lemuria yang diklaim banyak pihak sebagai peradaban yang lebih tua dari Atlantis, untuk menegaskan upaya tersebut.

Pembicara penting dalam kajian ini, seperti Dicky Z.A, Dhani Irwanto dan Ahmad Y. Samantho, berbagi pengetahuan terbaru tentang peradaban-peradaban tersebut kepada masyarakat umum.

Kegiatan kebudayaan yang dilaksanakan di Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, Ciapus, Bogor, itu merupakan bangunan persembahyangan umat Hindu Bali yang berdiri indah di atas tanah yang memiliki makna spiritual tinggi bagi masyarakat Sunda maupun banyak kalangan lain, karena dipercaya sebagai salah satu tempat tafakur Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi semasa hidupnya.  yeb/R-1

Dijamin Tidak Membosankan

Pendiri Talataaki, Iwan Toruan menjelaskan, pertunjukan musik tradisional kecapi suling bertajuk SEF 2018 mengambil tema Rukun Sakabehna Saumat Sadunya (rukun umat seluruh dunia) atau live together in Peace and harmony.

“Rasa kebersamaan saat ini menjadi barang langka. Melalui musik, khususnya kecapi suling kami ingin hadirkan kembali rasa persatuan itu,” papar Iwan.

Suling dan kecapi sendiri merupakan alat musik tradisional Sunda yang merakyat dan saat ini sudah jarang dipertontonkan secara langsung atau sangat jarang orang memainkannya. Melalui festival ini, khususnya generasi muda saat ini minimal menyukai, dan diharapkan setelah suka lalu mencintai dan ikut melestarikannya ke depan.

Sementara itu, pengarah acara SEF 2018, Kang Yana menjelaskan, kemasan acara dibuat se-modern mungkin.

“Pun seni tradisional, kami yakinkan sungguhan acara tidak akan membosankan, cukup nyaman dan menarik,” katanya.

Pertunjukan menyuguhkan 30 musisi etnik dari berbagai daerah hingga luar negeri. Seperi Aki Dadan maestro kecapi suling. Ki Gola dengan Karinding, Mang Ayi Ruhiyat dengan Kecapi Pantun. Jakarta Kota Club mewakili Kebudayaan Jepang. India Jawaharlal, dan Guzheng, Tiongkok.

Tidak hanya pertunjukan musik, lanjut Yana, dihadirkan juga diskusi terkait Sundaland dan Lemura-Atlantis. Hal menarik dalam diskusi ini, membedah terkait tenggelamnya peradaban Atlantis di Laut Jawa.

SEF 2018 juga menghadirkan pameran sekitar 100 benda pusaka Sunda, kerajinan bambu, alat musik, hingga makanan tradisional.

“Acara ini gratis, siapa saja boleh datang. Estimasi kami, sekitar 1.500 orang yang hadir. Diharapkan ajang ini juga menjadikan Bogor sebagai tuan rumah untuk wisatawan internasional,” pungkas Yana.   yeb/R-1 

http://www.koran-jakarta.com/kejutan-di-tengah-musik-yang-berbeda/

 

 

 

 

http://lensacelebrity.com/talataki-production-adakan-festival-musik-etnik-di-pura-agun

g-jagatkarta-bogor/

Suara Sunda dari Taman Salaka

 

Poster SundaLand Ethnomusic Festival 2018Gambar mungkin berisi: 28 orang, termasuk Dhani Irwanto dan Ahmad Yanuana Samantho, orang tersenyum, orang berdiri

Bagi seorang Aki Dadan, Kacapi tak sekedar alat musik, melainkan refleksi cerminan diri dan keluhuran pikiran. Guratan diwajahnya menyibak perjalanan hidup yang sarat pengalaman. Ragam kesenian yang sejiwa dengan nilai-nilai kehidupan dituturkannya dengan lugas dan lancar. Tak ada keraguan, keyakinan jalan kesenian yang dipilihnya menjadikannya satu dari sedikit pelaku Kacapi sunda yang tetap aktif.

Baginya Kacapi adalah musik yang sesungguhnya. Mengalir dalam darahnya, meresap dalam sanubarinya.

Kesadaran musik tradisi yang menyuburkan bakat luar biasa untuk seorang Aki Dadan. Dijalani dengan cinta yang mendalam, diperjuangkan dengan kerja keras. Sebuah pengorbanan dan dedikasi panjang hingga bertahan 50 tahun lamanya. Sematan gelar maestro sangat layak ditempatkan untuknya.

Suatu kehormatan bagi saya, mendapat kesempatan menyaksikan aksi sang maestro secara langsung bakal terjadi dalam waktu dekat ini. Aki Dadan akan “naik gunung” memainkan Kacapi-nya.

https://www.youtube.com/watch?v=SJfCEF6j85I

Sekumpulan individu pelestari bebunyian tradisi bernama Talataaki akan menghadirkannya pada acara Sunda Land Ethnomusic Festival 2018. Sebuah gelaran untuk memperkenalkan keindahan seni Kacapi suling sunda klasik sebagai warisan dunia yang sangat berharga.

Tema perdamaian menjadi misi utama kehadiran Aki Dadan dan musisi lainnya di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta, Ciapus – Bogor, 27 Oktober 2018.

Selain Aki Dadan, beberapa musisi tamu dipastikan akan tampil menguatkan nilai perdamaian yang menjadi tujuan festival ini dilangsungkan. Yaitu : Ustadz Shabbir Hasan Warsi, pelaku Tabla dan Sitar dari Pusat Kebudayaan India Jawaharlal Nehru di Jakarta. Penampilan ustadz Sahabbir merepresentasikan kebudayaan India.

Eni Agustien, pendiri Sekolah Musik Miladomus Jakarta, akan memainkan alat musik kecapi Guzheng dari Cina. Sementara Jakarta Koto Club, akan memainkan kecapi tradisional Jepang, mewakili kebudayaan Jepang.

Dari Jawa Barat Mang Ayi Ruhiyat akan memainkan seni Gembyung Subang dan Seni Beluk. Sedangkan Abah S. Dradjat Kusumahdiningrat dari Bandung juga tampil memainkan kecapi pantun Sunda klasik. Terakhir dari Bogor ada Ki Gola & Svara Jiva Nusantara yang akan memainkan karinding.

Sunda Land Ethnomusic Festival bakal digelar di Bogor, Sabtu, 27 Oktober 2018. Foto : Alphons Louis Marie Antonie Hubert Hustinx/fotomuseum – Talataaki.

Aki Dadan sendiri akan tampil bersama Mang Tatang Setiadi, dan Perceka Art Center Cianjur, memainkan kecapi pantun Sunda klasik Cianjuran.

Talataaki, sebuah organisasi nirlaba yang didirikan di Jakarta oleh Iwan Toruan dan Zeira Soraya, menjadi aktor terjadinya festival ini. Pun demikian dengan sederet agenda lain yang mendukung festival.

“Ini didedikasikan untuk tidak hanya memperkenalkan keindahan musik kecapi suling Sunda klasik kepada dunia, namun juga untuk menyebarluaskan pesan Rukun Sakabehna Saumat Saduniya. Arti dari pesan tersebut adalah seluruh umat manusia harus hidup rukun”, tulis Iwan tentang misi Talataaki.

Tak cukup menghelat pertunjukan musik, Sunda Land Ethnomusic Festival 2018 memiliki materi diskusi untuk mencerahkan kita tentang apa dan bagaimana sunda.

Sundaland dan peradaban Lemuria-Atlantis menjadi materi menarik untuk disimak bersama pembicara Dicky Zainal Arifin/Pembina Lanterha The Lemurian Meditation dan Dhani Irwanto, penulis buku Atlantis The Lost City Is In Java Sea. Diskusi akan dipandu Ahmad Samantho/Penulis buku Peradaban Atlantis Nusantara. Terselip juga pameran foto perdamaian.

Pengunjung yang hadir pada hajatan yang digelar Talataaki Production ini juga bakal disuguhkan bazaar produk kerajinan UMKM dari Bogor dan sekitarnya.

Ah…saya perlu mencatat baik-baik tanggal perhelatannya, pergelaran model begini tak banyak dihelat. Suatu kemewahan bisa menikmati kidung adilihung langsung dari sisi taman salaka-nya.

Rahayu!

Anggitane, cyclist, citizen journalist dan pemulung sampah Ciliwung di Bogor. Menulis musik aktif untuk hujanmusik.id.

(Visited 35 times, 1 visits today)

Panggung Layak untuk Seni Sunda Klasik

 

Iwan Toruan (tengah), Ahmad Samntho dan Ry Maulana (berkacamata) saat memberikan keterangan terkait acara Festival Kecapi Suling 2018

Untuk sejenak, Iwan Toruan nyaris tak bisa meneruskan kata-kata. Keheningan sesaat melanda saat ditanya kenapa memilih Kacapi Suling sebagai repertoar utama Sunda Land Ethnomusic Festival 2018 yang digagasnya. Pandangannya lebih sering tengadah keatas dibanding menatap mata jurnalis yang menitip tanya kepadanya. Perjalanan selama 4 tahun menelisik jejak maestro Kacapi Suling di Jawa Barat, bisa jadi temuan intuitif yang melatar belakangi Iwan bersama Zeira Soraya Indraswari mempersiapkan Sunda Land Etnomusic Festival setahun yang lalu. Festival yang akan dihadiri 1000 lebih penonton.

Sejurus kemudian barulah Iwan berbagi kegundahan atas seni sunda klasik yang melegenda itu.“Kami berkeliling kampung-kampung sekeliling Gunung Salak mencari pemain musik Kacapi Suling. Mencari mereka yang mungkin ada di Kampung-kampung, yang umurnya sudah sepuh dan piawai. Kami panggungkan pada saat bulan purnama, depan 10 – 20 orang. Ternyata sulit mendapatkan pemain kecapi suling yang baik”, ungkapnya.

Bagi Iwan kenyataan seni sunda klasik pada hari ini, tak seindah alunan suaranya yang begitu mendayu-dayu. Sebegitu klasiknya hingga sepi peminat dari tahun ke tahun. Setali tiga uang dengan jalan hidup senimannya sendiri. Banyak yang memilih bertahan hidup dengan menjadi pengiring jenis musik modern lain. Kenyataan yang kian hari kian mengaduk-aduk benak. Kenyataan bagaimana seni sunda klasik mempertahankan keberadaannya diantara K-Pop dan budaya internasional lainnya.

Bersama Talataaki, Iwan dan beberapa individu pelestari nilai-nilai luhur kearifan lokal, utamanya seni. Menghadirkan sebuah helaran konser musik sunda klasik Sundalan Ethnomusic Festival 2018 di Pura Agung Jagatkarta, Ciapus, Bogor-Jawa Barat, 27 Oktober 2018.

“Musik sunda itu sifatnya lokalan, kami terpikir untuk tahun ini memanggungkan maestro – maestro saja. Kami kategorikan sebagai maestro karena memang pengalamannya panjang, hidupnya sepenuhnya untuk seni. Itu kami bawa ke pentas kami”, terang Iwan, penggagas dan produser Sundaland Ethnomusic Festival 2018.

Sebuah tontonan alternatif yang sangat layak disimak ditengah ramai-ramainya musik folk, metal, shogaze, hingga pop sekalipun. Tontonan yang mengandung kecerdasan tingkat tinggi, tercipta dari hasil proses ‘rasa’ yang cukup dalam dan hinggap melalui perenungan-perenungan tertentu.

Kemewahan bagi generasi kekinian yang bisa menyaksikan helaran yang menampilkan total 60 seniman sunda. Pertunjukan anti mainstream jika meminjam logika penentang arus utama. Sebuah nilai seni berbalut intelektual, berbeda dan tidak mengikuti selera pasar.

“Kami sajikan musik alternatif untuk anak-anak milenial sekarang. Jangan sampai anak-anak itu belum pernah dengar musik kecapi suling. Sayang kalau hilang begitu saja”, tambah Iwan.

Kata kunci panggung yang layak, sepertinya sudah jarang menyambangi dunia pelaku seni tradisi. Reye Maulana, show director yang berpengalaman mengelola panggung Noah hingga JKT48 menyaksikan betul sisi miris ini. Panggung yang layak adalah ruang yang nyaris tak pernah mereka sentuh. Panggung Sunda Land Ethnomusic Festival akan menjadi pembeda perlakuan itu.

“Saya tidak bilang ini bagus, hebat atau spektakuler. Hanya menemempatkan mereka pada ruang dan waktu yang teoat. Kita kasih pertunjukan yang benar. Bagus atau tidak itu terserah penonton yang menilai,” terang Yana, sapaan akrab Reye Maulana

Konser akan tetap dikemas dengan tampilan populer. Meski demikian, Yana berani memastikan bahwa denting Kacapi bisa dinikmati dengan layak.

***

Sebagai alat musik, suling mendapat tempat yang cukup penting dalam banyak kebudayaan dunia. Beberapa penyair bahkan melukiskan vibrasinya tidak akan berhenti hingga akhir zaman.

Pun demikian halnya kacapi. Kotak resonansi yang mengiringi aluan suling dalam pertunjukan seni Kacapi Suling.

Melalui nada yang dijalarkan, Ahmad Sumantho, seorang penulis buku Peradaban Atlantis Nusantara, menilai ada rangkaian-rangkaian sejarah akumulatif, saling terhubung dan bersambung, bak menyusun puzzle-puzzle. Itulah alasan yang menurutnya menjadi latar belakang Talataaki kembali ke akar musik tradisional klasik, suling dan kacapi. Rentetan yang membawa Indonesia menjadi pusat perhatian dunia.

Cukup beralasan, menilik bahwa Sunda Land Ethnomusic Festival 2018 juga menghadirkan materi diskusi untuk mencerahkan apa dan bagaimana sunda bersama Dicky Zainal Arifin/Pembina Lanterha The Lemurian Meditation dan Dhani Irwanto, penulis buku Atlantis The Lost City Is In Java Sea.

“Sajian musik spiritual dalam pengertian geografis-kultural pada 12000 tahun yang lalu. Ingatan itu dipancing dengan musik, pendekatan musikal. Jadi memori kesadaran itu kita coba hadirkan melalui musik dan diskusi kesejarahan,” tambah Ahmad Samantho, penulis buku Peradaban Atlantis Nusantara, pemandu diskusi kesejarahan.

Melengkapi khasanah sunda dalam pengertian geografis dan kultural, Talataaki juga mengundang musisi dari India, Jepang dan orang Indonesia keturunan Tionghoa yang sudah tampil dibanyak negara memainkan alat musik Guzheng. Ia sudah diakui dibanyak negara sebagai musisi Guzheng yang piawai.

Musisi internasional ini akan tampil membawakan  2 repertoar, 1 dari negara masing-masing, 1 lagi lagu wajib Indonesia, ada manuk dadali, ada tanah airku, dan ada Indonesia Pusaka. Tentunya dengan alat musik mereka masing-masing.

Semoga repertoar yang mereka tampilkan menjadi doa perdamaian umat manusia.

Terbersit sebuah niat yang kuat, Talataaki akan memanggungkan semua alat musik tradisional kedepannya. Bisa jadi tahun depan ada seni-seni sunda klasik lain yang orang sudah jarang dengar.

Semoga

Anggitane, cyclist, citizen journalist dan pemulung sampah Ciliwung di Bogor. Menulis musik aktif untuk hujanmusik.id.  

https://seluang.id/2018/10/24/panggung-layak-untuk-seni-sunda-klasik/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: