2 Komentar

KETIKA SAINS & SPIRITUALITAS MENJELASKAN TENTANG DUNIA GAIB

KETIKA SAINS & SPIRITUALITAS MENJELASKAN TENTANG DUNIA GAIB

 

oleh  Sonny H. Waluyo (1) dan Ahmad Yanuana Samantho 92)

  1. Holographic Universe

Leluhur kuno sudah menggambarkan dengan gamblang bahwa alam ini sebenarnya suwung (kosong) yang mungkin saat ini bisa lebih mudah dicerna melalui fisika kuantum dimana dinyatakan bahwa alam ini adalah hologram raksasa (holographic universe) yang artinya segala yang tampak sebagai realita adalah hologram dari proyeksi pikiran belaka. Alam adalah kanvas kosong berupa lautan energi.

Itulah mengapa ada orang-orang yang melihat alam kehidupan di dimensi lain karena pikirannya bergetar dengan cara lain sehingga memproyeksikan gambar hidup alam lain bersama-sama dengan pikiran-pikiran dari mereka yang memproyeksikan gambar hidup sebagai dimensi lain itu. Sementara orang lain tidak pernah melihat dimensi lain karena memang tak memproyeksikannya.

Untuk lebih jelasnya lagi bisa melihat ke tingkat paling mendasar atau detil terkecil dari alam dengan merujuk ke teori tentang atom, dimana setiap atom terdiri dari elektron (kutub negatif) yang mengelilingi proton (kutub positif) dan neutron pada inti atom (nucleus), sehingga itu berarti bahwa setiap atom adalah ruang kosong (alam suwung) [lihat ilustrasi].

Jadi alam semesta ini adalah lautan energi yang menjadi layar untuk proyeksi dari masing-masing pikiran individu jiwa, sehingga seperti apa gambar hidup yang dimunculkan di layar semesta tentunya akan tergantung dari pikiran masing-masing individu jiwa.

Namun setidaknya pengalaman bermimpi akan mengambarkannya lebih mudah, yakni bahwa saat tidur dan bermimpi setiap orang membuat hologram yang berbeda dengan hologram yang dilihatnya saat matanya terbuka melek. Itu pula yang menjelaskan mengapa cerita dalam mimpi bisa meloncat-loncat dan berganti setting tempat secara acak, karena pada saat tubuh fisik tidur pikiran bawah sadar mengambil alih kendali untuk menciptakan gambar hologram yang disebut mimpi. Lebih tepatnya pikiran jiwa saat tubuh fisik tertidur akan terlepas dari keharusan menggunakan indera pada tubuh fisik untuk melihat alam. Indera non-fisik tersebut sering juga disebut “mata ketiga”/”indera keenam”, yakni sebagai mata lain/indera lain yang “memandang” kehidupan dengan cara lain dengan mata fisik.

Realita yang terlihat saat mata melek adalah suatu hologram yang diciptakan oleh pikiran-pikiran kolektif dimana tubuh fisik yang digunakan oleh manusia saat ini “membatasi jiwa-jiwa yang tinggal di dalamnya” untuk mengikuti suatu pola pikir kolektif yang membuat manusia secara bersama-sama menampilkan hologram yang “serupa” walau tidak persis sama, karena selalu ada kekecualian pada masing-masing individu jiwa, seperti terlihat bahwa ada orang-orang yang bisa melihat dan berada di alam dimensi lain itu. Setiap orang bagaimanapun memiliki pikiran yang berbeda-beda seperti terlihat dalam perdebatan dan diskusi karena memang melihat kehidupan dan memiliki pengalaman berbeda-beda untuk dipaparkan.

Matriks Kehidupan

Dalam matriks kehidupan, digambarkan bahwa alur waktu adalah seperti tenunan kain, dimana setiap jiwa bisa berpindah jalur alur hidup, seperti garis-garis benang pada kain itu, setiap saat dan hologram realita yang muncul akan berubah sejalan dengan pilihan-pilihan keputusan hidup yang dibuatnya dari waktu ke waktu. Garis benang alur waktu yang dipilih adalah “fokus pikiran” yang menjadi latar belakang pengambilan keputusan pilihan-pilihan alur hidup. Oleh karena alasan itu pula mengapa para guru spiritual mengajarkan kebijaksanaan hidup, yaitu agar pikiran-pikiran orang secara bersama-sama menciptakan alur hidup bahagia dan diproyeksikan ke kanvas semesta sehingga menjadi hologram gambar hidup damai sejahtera.

Jiwa-jiwa yang menginginkan bumi menampilkan kehidupan damai sejahtera tentunya tidak akan memunculkan pikiran-pikiran penggunaan cara-cara hukuman yang adalah bentuk kekerasan karena berpikir tentang hukuman dan kekerasan akan memancarkan hologram kekerasan ke kanvas semesta. Maka jiwa-jiwa pendamai akan selalu fokus memancarkan pikiran damai, bijak, pengampunan, cinta agar terproyeksikan ke kanvas semesta di bumi.

Otak Memiliki Sifat Plastis

Buku “Train Your Mind Change Your Brain” memuat kesimpulan dari riset yang dilakukan para ahli syarat otak tentang cara kerja otak. Intinya dikatakan bahwa otak sangat plastis dan akan berkembang tergantung dari pikiran. Itu pula mengapa ada nasehat yang mengatakan “berpikirlah dengan hati”. Ini artinya bukan otak yang memproduksi pikiran, melainkan pikiranlah yang membentuk cara kerja otak. Semakin pikiran berkembang, maka otak akan semakin mekar perkembangannya mengikuti dan menyesuaikan dengan kebutuhan pikiran. Maka orang yang pikirannya sehat tubuhnya juga selalu sehat karena otak hanya mengikuti perintah pikiran dan meneruskannya ke sel-sel tubuh untuk menjadi seperti yang ada di pikiran itu.

Tubuh fisik dari seseorang sesungguhnya sudah sama sekali berbeda dengan saat terlahir, sudah “mlungsungi” (berganti) berkali-kali tak terhitung. Sel-sel tubuh secara terus-menerus berganti baru. Hal ini juga bisa dilihat dengan memperhatikan perubahan bentuk wajah foto-foto sejak kecil sampai dewasa. Pikiran yang sering dipengaruhi kondisi emosional yang berubah-ubah akan menampilkan bentuk wajah yang berubah-ubah.

Adalah Dalai Lama yang menginginkan adanya riset tentang cara kerja otak sehingga tersusun buku “Train Your Mind Change Your Brain” tersebut. Dalai Lama menginginkan adanya penjelasan ilmiah atas peristiwa-peristiwa supranatural yang dialami para biksu, entah penyembuhan, penglihatan tentang masa depan atau tentang alam lain.  Maka alam kehidupan lain tentang jin atau kepercayaan tentang malaekat dan dewa serta alam gaib menjadi lebih jelas bahwa semua itu terkait dengan holographic universe dan bentuk tampilan alam seperti apa yang muncul selalu tergantung dari pikiran masing-masing jiwa.

Dari uraian di atas selanjutnya bisa dipahami bagaimana jiwa sebenarnya tidak pernah mati dan hanya berganti-ganti “mimpi” saat mati atau bahkan bisa dikatakan bahwa hidup di realitas saat ini adalah sebuah mimpi kecil dan teramat singkat dari suatu jiwa yang hidup abadi. Menjalani hidup berupa kisah-kisah konflik dalam suatu realitas hologram fisik adalah sebuah “mimpi buruk” bagi jiwa yang sedang tidur alias tidak sadar dengan apa yang dipikirkan dan dilakukannya. Setiap jiwa yang sadar akan memahami konsekwensi dari pikirannya karena selalu berdampak kembali pada dirinya sendiri yang menciptakan semua pengalamannya untuk dinikmati sendiri. Jiwa yang sadar akan selalu hidup dalam cara-cara cinta dan bijaksana yang akan muncul sebagai proyeksi hologram realitas fisik.

Jika menyadari dan memahami cara kerja alam semesta di atas, maka alam gaib hanyalah proyeksi pikiran dari jiwa-jiwa dan semua muncul tampak sebagai realitas tergantung pada tingkat kesadaran dan ketajaman fokus pikiran untuk menampilkannya pada kanvas holografis alam semesta.

Fractal Cosmology

Melalui teori fractal dipahami bahwa perjalanan hidup setiap orang mengikuti suatu pola perulangan tertentu namun jika dilihat secara detil akan terlihat sebagai kekacauan. Demikian juga jika dipandang dari jiwa yang hidup abadi, maka satu periode kehidupan fisik hanyalah suatu waktu sekejab, namun terasa sangat panjang.

Saat turun (inkarnasi) ke dalam bentuk kehidupan fisik, setiap jiwa hadir untuk melihat suatu detil dari perjalanan abadinya sehingga dapat melihat bagaimana aliran kehidupan pada tingkat detil yang tampak kacau. Gambarannya adalah seperti melihat sebuah kursi yang nampak mulus tetapi saat turun ke detilnya di tingkat atom, kursi mulus tersebut juga terlihat sebagai gerakan energi berupa elektron yang mengelilingi inti atom, maka sebuah kursi pada tingkat atom adalah suatu benda yang bergerak-gerak.

Di tingkat kehidupan fisik (alam padat ini) jiwa-jiwa dapat menyaksikan proses tumbuh tanaman dari bentuk benih, bertunas, tumbuh akar-batang-daun sampai berbunga dan berbuah. Dan dengan inkarnasi ke dalam tubuh fisik manusia, jiwa mengalami sendiri suatu proses tumbuh dalam bentuk manusia yang membangun kehidupan dan merawatnya. Jiwa sebagai percikan kesadaran kosmos yang sedang memastikan bahwa di tingkat fisik semuanya berjalan dengan baik. Setiap kali percikan kesadaran kosmos turun inkarnasi ke bentuk fisik yang mengambil jalur matrik kehidupan di tingkat materi padat adalah untuk misi pembelajaran dan pembenahan.

Dimensi Kehidupan, Tingkat Kepadatannya & Satuan Waktu

Sumber-sumber spiritual mengatakan bahwa alam semesta tersusun atas 12 dimensi dengan 12 tingkat kepadatannya. Masing-masing dimensi dan tingkat kepadatannya memiliki kecepatan rambat cahaya yang berbeda. Semakin tinggi dimensi dan semakin halus kepadatannya kecepatan aliran energinya semakin tinggi, yang membuat perbedaan satuan waktu yang berbeda bertingkat pada masing-masing dimensi. Sebagai gambarannya dapat melihat satuan waktu menurut hitungan waktu kalpa sebagai berikut:

– 1 kalpa terdiri dari 1.000 maha yuga
– 1 maha yuga berlangsung selama 12.000 tahun dewa
– 1 tahun dewa setara dengan 360 tahun manusia pada dimensi 3 saat ini

Berdasar perhitungan tersebut satu maha yuga setara dengan 4,32 juta tahun manusia bumi, dan satu kalpa setara dengan 4,32 miliar tahun. Sedangkan 1 kalpa sama dengan satu hari kehidupan di tingkat Brahma.

Adanya pengetahuan pembagian waktu dan satuan waktu menurut kalpa di atas mengisyaratkan bahwa ada makluk hidup dengan kecerdasan sedemikian rupa yang melewati masa hidup di atas batas usia hidup manusia yang dipahami manusia bumi saat ini. Setiap jiwa yang memiliki kehidupan abadi memungkinkannya memahami rentang waktu yang sedemikian panjang.


[http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202316587579028&set=a.10202142648310655.1073741832.1321815697&type=1&relevant_count=1]

===

Love&light … ((( ❤ ))) …

25 Oktober 2013

** ** **

di October 24, 2013

————-

2. Hubungan antara Sains dan Mistisisme

oleh Ahmad Yanuana Samantho

 

Pada kenyataannya, ada dua hubungan antara ilmu pengetahuan dan mistisisme. Yang pertama harus dilakukan dengan kesamaan dalam metodologi mereka. Sama halnya seperti ilmuwan yang berpendapat bahwa kebenaran teori mereka dapat diverifikasi oleh siapapun yang melakukan pengamatan yang tepat dan eksperimen, para mistikus juga mempertahankan bahwa Kebenaran ajaran mereka dapat diverifikasi oleh siapa saja yang bersedia untuk melakukan disiplin dan pelatihan rohani yang tepat. Dengan demikian, perbedaan antara sains dan agama tidak (seperti yang orang banyak duga) bahwa yang satu bergantung pada investigasi empiris dan yang lainnya pada keyakinan yang membuta. Sebaliknya, perbedaan terletak pada domain yang akan diselidiki dan jenis kebenaran harus diverifikasi. Sementara para ilmuwan memfokuskan penyelidikan mereka pada perilaku objek dalam kesadaran, mistikus berkonsentrasi pada subjek kesadaran -yaitu ‘Diri’ atau ‘Aku’ untuk siapa objek-objek tampil. Dan sementara para ilmuwan berusaha untuk mengembangkan teori-teori yang lebih halus dan komprehensif tentang bagaimana realitas bekerja, para mistikus berusaha untuk menyadari Kebenaran pada sifat fundamentalnya yang terletak di luar jangkauan pemahaman setiap teori apapun. Perlu dicatat bahwa, jauh daripada menempatkan ilmu pengetahuan dan mistisisme dalam konflik, perbedaan-perbedaan antara domain dan apa fungsi masing-masing yang sebenarnya membuat kecocokannya menjadi mungkin.          Tidak hanya bahwa ilmu pengetahuan dan mistisisme memiliki metodologi yang paralel, tapi mistisisme sebenarnya dapat memberikan pemahaman filosofis dan spiritual yang koheren tentang bagaimana ilmu pengetahuan bekerja.

Salah satu ajaran kunci yang disepakati oleh para mistikus dari semua tradisi adalah hubungan antara kesadaran dan objek-objeknya, hubungan yang sangat (seperti yang telah kita lihat) terletak di jantung krisis filosofis dalam fisika modern.

Apa yang para mistikus klaim adalah bahwa perbedaan antara subjek dan objek kesadaran yang timbul dalam kesadaran, adalah bersifat khayalan. Pada kenyataannya, Kesadaran Ilahiyah (Tuhan, Allah, Brahman, Pikiran-Buddha, atau Tao) merupakan Latar yang tak berbentuk (Formless Ground) dari semua bentuk yang timbul sebagai mana gelombang yang tak terpisahkan yang timbul dari lautan yang tunggal. Dengan demikian, ajaran-ajaran mistis mengambil peran secara tepat di mana teori-teori ilmiah modern telah berhenti. Dan di sinilah, di titik antara kedua domain, bahwa kontinuitas (kesinambungan) yang sebenarnya antara sains dan mistisisme mulai menampakkan dirinya.

Gambar Fitur yang penulis ambil dari dari The Centter for Sacred Sciencces di atas memperlihatkan bahwa pada level/lapisan terluar dari ilmu pengetahuan Sains masih menampakan batas dan ciri warna yang tegas dalam keaneka-ragamannya (plurality). Namun pada tahan yang lebih tinggi yaitu pada Matematika, maka Plurality tersebut sudah mulai dapat mengerucut kepada dua kutub dikotomis saja (duality). Dan pada puncaknya bisa sudah naik dan memusat kepada tahapan mysticism (Spiritualitas Ilahiyah) maka yang adalah adalah tinggal Kemanunggalan (Unity) saja. Inilah gambaran ilmiah yang dapat menjelaskan bagaimana Realitas Perennial Paradigmatik Bhineka Tunggal Ika.

Setelah hal ini dipahami, masalah membangun pandangan dunia baru pada dasarnya yang bermuara pada perumusan pertanyaan: Apakah kesinambungan antara ajaran mistis dan teori-teori ilmiah dapat diekspresikan dan dipahami dengan baik dalam bahasa tunggal untuk keduanya?
Peran Matematika

Hal ini membawa kita kepada alasan terakhir untuk percaya bahwa pandangan dunia baru adalah sangat mungkin. Sebenarnya  sudah ada bahasa yang dapat mengekspresikan kesinambungan antara ilmu pengetahuan dan mistisisme. Pada kenyataannya, bahasa ini pada awalnya dikembangkan untuk tujuan ini oleh jalur kelompok mistikus Yunani kuno yang dimulai dengan ajaran tokoh Pythagoras dan Plato. Dan, meskipun sebagian besar  ilmuwan telah kehilangan pandangan tentang asal mistisnya sendiri, hari ini Matematika diakui sebagai bahasa universal ilmu pengetahuan moderen. Para sarjana di Center for Sacred Science, tentu saja, merujuk pada bahasa matematika.

Terlepas dari kenyataan bahwa kekuatan yang luar biasa ilmu pengetahuan itu berasal justru dari kemampuan untuk menyatakan hubungan matematisnya di antara berbagai fenomena fisik, pertanyaan yang paling membingungkan para ilmuwan itu sendiri adalah:  “Mengapa alam semesta harus bekerja seperti ini?” “Mengapa alam semesta begitu sempurna mentaati persamaan yang objektif, yang berasal dari pikiran subjektif matematikawan?” Hebatnya, jika apa yang mistikus klaim adalah benar – bahwa perbedaan antara kesadaran dan objek adalah bersifat imajiner – maka pertanyaan mendalam ini memiliki jawaban sederhana, meskipun radikal: Matematika tidak menggambarkan dunia benda yang ada secara independen; Matematika itu menciptakan benda-benda ini oleh tindakan imajinasi di dalam Kesadaran tersebut.

Bahkan, proses ini telah diberikan formula matematikanya secara eksplisit. Dalam karyanya:  “Hukum tentang Bentuk” (Laws of Form, 1969), matematikawan G. Spencer-Brown menunjukkan bagaimana, mulai dari kekosongan yang tak berbentuk, tindakan sederhana untuk membuat perbedaan secara alami menimbulkan hukum yang paling primitif yang mendasari logika dan aritmatika. Sekarang, jika kita mengambil kekosongan ini adalah Kesadaran yang tak berbentuk yang disaksikan oleh para mistikus, bahasa perbedaan ini dapat memberikan ekspresi matematika yang tepat untuk beberapa ajaran mistis tertinggi (misalnya, seperti digambarkan Thomas McFarlane dalam “Play of Distinction,”). Apa lagi, karya selanjutnya dari  Jack Engstrom, Louis Kauffman, Jeffrey James, dan Thomas Mc Farlane, membuat kita percaya bahwa seluruh tubuh matematika yang digunakan oleh ilmu pengetahuan modern dapat ditelusuri kembali ke dalam garis lurus yang tak terputus terhadap hukum yang sama mengenai bentuk dan kekosongan yang darinya mereka berkembang. Angka Satu (1) dan Nol ( 0 ).

Jika kasus ini terbukti, maka baik temuan-temuan ilmu pengetahuan modern serta ajaran mistikus akan dapat dibawa dalam sebuah lingkup bahasa yang umum  tentang semacam pandangan dunia baru yang ada dalam pikiran kita.  Dalam pandangan dunia seperti itu, kebenaran ilmu pengetahuan itu akan terlihat mengalir mulus dari Kebenaran yang lebih dalam yang disadari wujud-Nya oleh para mistikus dari semua tradisi agama-agama, sedangkan tradisi itu sendiri akan dipandang sebagai cabang yang berbeda dari satu Tradisi Besar yang telah menghiasi kemanusiaan dengan bimbingan moral dan spiritualitas yang sangat diperlukan sejak sejarah awal spesies kita.

Untuk membantu membangun dan mengembangkan pandangan dunia seperti itu adalah salah satu tujuan utama mengapa Pusat Ilmu Pengetahuan Suci (The Center for Sacred Science) didirikan. Mereka tentu saja tidak berada di bawah khayalan bahwa pandangan dunia baru dapat sepenuhnya dibangun atau disebarluaskan dalam semalam. Pemenuhan visi tersebut adalah tugas sejarah yang mungkin memakan waktu beberapa generasi untuk menyelesaikan.

Untuk tujuan suci itu pulalah mengapa The Islamic College for Advanced Studies (ICAS) pernah didirikan di Jakarta Indonesia pada tahun 2002 oleh para cendikiawan Muslim seperti  Almarhum Prof.Dr. Nurcholis Madjid, Dr. Jalaluddin Rakhmat, Dr. Haidar Bagir dan Dr. Ali Movahedi.

 

Perlunya Merakit Peradaban Baru

 

Filsafat, lewat metode berpikirnya yang ketat, mengajar orang untuk meneliti, mendiskusikan dan menguji kesahihan dan akuntabilitas setiap pemikiran dan gagasan. Pendeknya, menjadikan kesemuanya itu bisa dipertanggungjawabkan secara intelektual dan ilmiah.

Sebagaimana Syed Hossein Nasr katakan, krisis-krisis eksistensial ini bermula pada pemberontakan manusia modern kepada Tuhan. Krisis eksitensial ini merupakan manifestasi dari krisis spiritual manusia modern.Ketika manusia meninggalkan Tuhan demi mengukuhkan eksistensi dirinya, manusia telah bergerak dari dari pusat eksistensinya sendiri menuju wilayah pinggiran eksistensi. Kehidupan manusia modern, kata Nasr, telah terperangkap dalam pinggiran eksistensi mereka yang semakin lama semakin jauh meninggalkan pusat eksistensinya. Mereka kehilangan harapan kebahagian masa depan seperti yang dijanjikan oleh gerakan renaisance, enlightment era, sekularisme-materialisme sains dan teknologi. Oleh karena itu, kecemasan eksistensial yang menghantui manusia modern adalah merupakan konsekuensi logis alamiah dari modus eksistensi mereka yang mencampakkan kehidupan spiritual dan Tuhan mereka. Krisis ini bermula ketika manusia modern memberontak terhadap Allah Tuhan Yang Maha Pencipta.

Allah sendiri telah berfirman: “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS Al-Hasyr: 19). Jika kita merujuk kepada sabda Nabi SAWW: “Barangsiapa yang mengenal dirinya, akan mengenali Tuhannya.”Dan sabda Imam Ali KW: “Pokok pangkal agama adalah mengenal Tuhan.”, maka pengenalan jati diri manusia juga menjadi pokok ajaran agama.

Sayangnya, di satu sisi, sebagian generasi muda Muslim di kampus-kampus universitas umum maupun kampus agama Islam semacam UIN atau IAIN-IAIN yang awalnya berlatar pendidikan pesantren tradisional, malah mengalami gegar budaya dan intelektual, sehingga ramai-ramai berpaling pada pesona artifisial filsafat Barat (modernisme & postmodernisme) yang sekular-atheis, liberalis dan materialis. Di sinilah letak tantangan dan peran alternatif filsafat Islam yang dapat mendekonstruksi pandangan dunia (worldview) modernisme dan postmo yang masih memberhalakan materialisme, Darwinisme, atheisme dan sekuralisme tersebut. Munculnya fenomena kontrovesial gerakan “Islam Liberal” versus gerakan fundamentalisme “Islam Literal” niscaya dapat diatasi dan didamaikan dengan pendekatan Filsafat Islam.

Di sisi lain, keprihatinan kita terhadap kondisi psikososial umat Islam kontemporer adalah lambannya kelompok ini tampil kepermukaan dari ‘masa usia balitanya’ dalam banyak hal. Justru di banyak kampus perguruan tinggi ilmu umum (natural & social sciences) telah menjamur gerakan salafi militan literalis, yang mempromosikan pemahaman keberagamaan yang skriptualis (textual/harfiah) fiqhiyah dan superfisial, dengan semangat fundamentalisme radikal yang mudah terpesona oleh retorika dan orasi emosional tanpa penalaran dan pada saat sama gamang menghadapi realitas zaman yang menuntut kemampuan memahami orang lain tanpa hanyut kedalamnya. Mereka biasanya mengambil mengambil jalan pintas yang mudah, yakni dengan menutup diri (eksklusif) terhadap ideologi, ajaran dan ilmu pengetahuan asing, dengan cap stigmatis sebagai ajaran aliran sesat, bid’ah dan berbahaya, sambil menafikan potensi kreatifitas manusia atas nama tuhan yang mereka tafsirkan sendiri. Padahal keadaan zaman yang semakin plural dan kompleks seperti saat ini, kita dituntut untuk memiliki kemampuan apropriasi yang sebaik-baiknya. Inilah peran yang dapat dimainkan oleh Fislasat Islam, yaitu membuka wawasan berpikir umat secara holistik agar sadar terhadap fenomena dan perkembangan wacana keagamaan dan sains kontemporer, yang membutuhkan keterbukaan, pluralitas dan inklusifitas.

Sejarah memberi pelajaran banyak kepada kita, bahwa pemahaman agama yang dikhotomis, yakni mengagungkan Tuhan dengan melecehkan potensi kreatif dan otonomi yang telah Tuhan berikan kepada manusia, pada gilirannya akan melahirkan pemberontakan manusia kepada agama, dan bahkan juga, kepada Tuhan. Kisah kelam ini akan menjadi amunisi kaum sekuler untuk meminggirkan agama hanya menjadi persoalan individual dan domestik belaka. Mereka khawatir, jika agama memasuki wilayah persoalan publik, sebagaimana dituntut oleh sebagian kalangan umat beragama, maka agama dapat dengan mudahdiperalat untuk kepentingan kelompok tertentu untuk menindas kelompok lain; bahwa agama hanya menjadi topeng dari kepentingan sesaat suatu kelompok, Kekhawatiran ini adalah wajar adanya. Namun sempatkah kekhawatiran ini dikritisi? Benarkah kehawatiran ini muncul dari kesadaran yang ingin menjada kesucian agama? Ataukahjustru juga karena memiliki kepentingan yang sama, yakni ingin mendominasi persoalan publik dengan paradigma anti agama? Ataukah karena masih terpendamnya di alam bawah sadar mereka pekikan Nietzsche, suara Satre, hujatan Marx dan Freud terhadap agama, sehingga secara diam-diam pembela sekularisme ini memanifestasikan ateisme-terselubungnya itu dalam bentuk penolakan keterlibatan nilai-nilai agama dalam persoalan publik. Sebagaimana sering digaungkan oleh beberapa tokoh politik di Indonesia, jangan bawa-bawa agama dalam politik!

 

Ketika astronom Polandia Nicholas Copernicus, hampir lima ratus tahun yang lalu, mengusulkan bahwa matahari-lah, dan bukan bumi, yang menjadi pusat alam (tata surya), ia memulai sebuah revolusi ilmiah yang telah mengubah kehidupan manusia dengan cara yang dramatis dan belum pernah terjadi sebelumnya. Untuk satu hal, ilmu pengetahuan dan teknologi (sains-tek) baru yang dilahirkan ini mungkin telah membuat perbaikan yang cepat dalam bidang-bidang seperti pertanian, manufaktur, obat-obatan, perjalanan, komunikasi dan pendidikan, yang kesemuanya telah memperbaiki standar hidup untuk sebagian besar populasi dunia. Namun, karena seperti yang mungkin menyambut perkembangan ini, hal ini tidak datang tanpa harga. Seiring dengan manfaatnya yang tidak dapat dipungkiri, sains-teknologi ini telah juga membawa di belakangnya sejumlah masalah yang tidak terduga. Kelebihan dan kepadatan penduduk, pencemaran lingkungan, degradasi ekologi (menurunnya kualitas lungkungan), pemanasan global, dan penemuan senjata pemusnah massal, semuanya telah mengancam kita dengan bencana yang jauh bisa lebih besar daripada apa pun akibat perkembangan ilmu pengetahuan yang telah begitu jauh terjadi. [1]

Bagaimanapun yang lebih mengkhawatirkan, adalah kenyataan bahwa meskipun solusi teknologi bagi banyak masalah-masalah ini sudah diketahui, tampaknya kita semakin tidak mampu mempersiapkan diri untuk melaksanakannya. Kelumpuhan psiko-spiritual ini menjadi poin kolektif kami, yang lebih halus namun kita harus tidak/kurang serius membayarnya dengan harga mahal, karena sains-teknologi dengan tidak perlu diragukan lagi, telah merusak keimanan seperti – hilangnya bantalan moral dan spiritual.

Sebenarnya, kerugian ini tidak datang begitu banyak dari sains perse (yang, tegasnya, hanyalah merupakan metode), tapi dari kita telah menerima pandangan dunia materialisme-nya yang menjadi basis sains-teknologi.  Masalah pada pandangan dunia materialisme ini adalah bahwa banyak penjelasan tentang bagaimana kosmos alam semsta bekerja, bertentangan penjelasannya dengan yang  pandangan-dunia agamis yang lebih tua, yang telah memberikan panduan moral dan spiritual bagi sebagian besar sejarah umat manusia. Apalagi, mengingat keberhasilan yang tampak dari penjelasan materialis itu telah menjadi lebih mengeras dan sulit bagi orang yang terdidik untuk menganggap serius setiap penjelasan keagamaan.  Apakah para petani modern, misalnya, akan mengandalkan doa-doa dan mantera, daripada pupuk untuk meningkatkan hasil panen? Apakah ibu-ibu modern akan memilih ritual perdukunan tinimbang obat antibiotik untuk mengobati infeksi anaknya?

Perbedaan antara penjelasan yang ditemukan di dalam pandangan-dunia materialis ini dengan pandangan-dunia agamis mungkin tidak dengan sendirinya menjadi masalah, jika bukan karena fakta bahwa fungsi penting dari setiap pandangan dunia adalah untuk memberi pengikutnya pertimbangan internal yang koheren dan konsisten tentang realitas. Akibatnya, bila kita mempertanyakan satu aspek dari pandangan dunia tentu menimbulkan pertanyaan terhadap semua aspek lainnya juga. Dalam merusak penjelasan agama tentang cara kerja kosmos (alam Semesta), pandangan dunia materialisme juga menggerogoti nilai-nilai moral dan spiritual agama-agama tradisional yang telah mapan. Dan, yang membuat keadaan menjadi lebih buruk, karena pandangan dunia materialisme tidak mengakui dimensi spiritual dari kosmos, maka pada dasarnya tidak mampu memasok nilai-nilai spiritual dan moral itu sendiri.

Akibatnya, hari ini banyak orang (terutama di Barat) yang telah meninggalkan pandangan-dunia agama mereka sama sekali dan hidup dalam kekosongan moral dan spiritual. Orang lain telah menyerah kepada sejenis ‘skizofrenia filosofis’ di mana mereka bergantung pada pandangan dunia materialisme untuk pelaksanaan urusan praktis mereka, sementara mencari pandangan dunia agama yang bertentangan untuk membimbing kehidupan rohani mereka.

Pertanyaannya, kemudian, secara alami muncul: “Apakah mungkin untuk menciptakan pandangan dunia baru yang dapat menjelaskan dengan baik keberhasilan ilmu pengetahuan modern sambil mempertahankan nilai-nilai fundamental moral dan spiritual? Sebelum menjawab pertanyaan penting ini, bagaimanapun, kita pertama harus jelas mengenai apa pengertian pandangan dunia itu.

 

Apakah  Fisika Quantum & Spiritualitas terkait ?

Sangatlah berharga untuk mendiskusikan pertanyaan tentang hubungan fisika kuantum dan spiritualitas bersama-sama, untuk melihat hubungan antara mereka dari sudut pandang Gereja Baru dan juga dari perspektif Filsafat Islam Nusantara.  Ada alasan mendesak untuk mendiskusikan link ini, karena ada orang yang ingin mengidentifikasi hal-hal ini. Ada perasaan yang meluas bahwa entah bagaimana mereka terhubung, tetapi di beberapa ‘zaman baru’ orang ingin mengatakan bahwa fisika kuantum mengatakan pada kita tentang spiritualitas. Kita tahu dari Swedenborg Scientific Association bahwa ada sambungan yang tidak begitu sederhana, jadi kita perlu memahami lebih terinci apa yang sedang terjadi.

 

1 . Fisika Quantum dan Dualisme Gelombang-Partikel

Untuk meninjau di mana fisika kuantum datang, Ian Thompson akan mengingatkan Anda yang telah mengambil kursus fisika di mana fisika kuantum telah diperkenalkan, dari beberapa masalah yang kita miliki.[2] Salah satu masalah adalah bahwa partikel yang ditemukan dalam fisika modern tidak hanya bundaran kecil yang melakukan perjalanan keliling, tapi berperilaku sebagai gelombang. Elektron, yang kita anggap sebagai contoh utama dari sebuah partikel kecil, dapat tersebar dengan pola interferensi: difraksi/terpecah melalui celah, di sudut-sudut, atau dari kristal. Mereka dapat tercermin sebagai sebuah gelombang. Selain itu, gelombang ini adalah gelombang probabilitas, jadi kami tidak mengatakan bahwa elektron pasti berada di satu tempat, tetapi bahwa ia memiliki tempat atau terdistribusi probabilitasnya. Bentuk distribusi ini dapat bekerja secara akurat dalam fisika kuantum, yang membuat prediksi yang sangat tepat. Tapi hanya probabilitas yang diperkirakan: fisika tidak memberitahu kita persisnya di mana partikel tersebut. Ini adalah salah satu teka-teki: untuk memahami mengapa dan bagaimana partikel berperilaku sebagai gelombang.

Sisi lain dari koin adalah bahwa gelombang-gelombang, gelombang cahaya misalnya, di mana warna-warni dijelaskan oleh panjang gelombang osilasi, yang berperilaku seperti partikel. Ini adalah cara yang fisika kuantum dimulai. Max Planck, lebih dari 100 tahun yang lalu, menunjukkan bahwa dia bisa memecahkan beberapa masalah mendasar dalam fisika dengan mengasumsikan bahwa gelombang cahaya tidak hanya gelombang osilasi halus seperti diungkap Faraday, Maxwell dan lain-lain telah berpikir, tapi datang dalam gumpalan energi yang disebutnya quanta. Kata ‘kuanta’ berasal dari ‘menghitung’.

Partikel kecil di alam bukan sedikit benda padat atau sel darah dengan tepian yang kaku, cara Newton, Boyle dan Locke di abad ke-17. Mereka lebih seperti awan kecenderungan atau kecenderungan. Bentuk awan ini bekerja dengan sangat akurat dalam mekanika kuantum (bentuk ini adalah apa yang digambarkan fungsi gelombang), tetapi mereka tidak hanya tinggal tersebar seperti awan karena mereka entah bagaimana masih mempertahankan kesatuan. Jadi kita perlu penjelasan sistematis bagaimana awan atau bidang menyebar namun hanya bertindak dengan cara tunggal yang bersatu untuk memberikan satu hasil. Masalah seleksi ini adalah masalah pengukuran yang fisika kuantum telah mencoba untuk memecahkannya selama bertahun-tahun: untuk memahami bagaimana hal-hal yang tersebar, dan berperilaku seperti gelombang sementara mereka tersebar, maka dapat bertindak hanya dengan cara tunggal dengan respon tunggal.

Kombinasi dari kedua masalah yang muncul dalam fisika kuantum disebut masalah Dualitas gelombang-partikel. Tugas yang fisikawan kuantum sekarang miliki adalah mencoba untuk memahami hubungan antara kedua fitur fisika kuantum itu. Ian Thompson tidak akan menjelaskan lebih banyak tentang rincian fisika, tetapi akan kembali ke beberapa hal secara umum di bawah ini. Kita perlu bertanya apa yang sebenarnya terjadi di alam: apa yang fisika kuantum katakan kepada kita?

 

  1. 2. Membentuk Hubungan dengan Swedenborg

Cara yang Ian Thompson ingin mencoba untuk menjawab pertanyaan ini, adalah dengan menggunakan beberapa ide dari Swedenborg.[3] Ini bukan cara Thompson biasanya memperkenalkan fisika kuantum, tapi mengandalkan pada kenyataan bahwa Anda mungkin sudah memiliki beberapa ide-ide ini. Tujuan dasar Thompson adalah untuk menarik beberapa korespondensi antara spiritualitas dan fisika kuantum: bukan identitas, tapi korespondensi. Dengan demikian, Anda yang tahu Swedenborg dapat menggunakan korespondensi ini untuk memahami fisika kuantum,[4] dan mereka yang tahu fisika kuantum dapat melihat koneksi terbalik juga.

Gelombang yang menyebar-keluar tersebut, yang saya akan sarankan di bawah ini, sebelum kita putuskan akan lakukan apa. Bayangkan bahwa kita sedang berpikir untuk melakukan hal yang berbeda. Dalam pikiran kita, kita kemungkinan menghibur. Itulah fungsi dari pemahaman kita: adalah berpikir tentang hal-hal sebelum kita melakukannya. Kami menghibur ‘atau mempertimbangkan kemungkinan – sehingga pola gelombang dalam fisika adalah ‘seperti’ kita ketika kita menghibur beberapa probabilitas. Dengan demikian, ada sesuatu yang ‘sesuai’ antara gelombang dan pemahaman. Selain itu, kondisi fisik lebih seperti yang kita pikirkan, daripada hasil yang sudah selesai. Awalnya, fisikawan berpikir bahwa semua elektron dan atom berada dalam posisi yang sangat tepat: yaitu, seolah-olah kami sudah membuat pikiran kita apa yang harus dilakukan. Tapi kita tahu dari Swedenborg bahwa kami hanya mendapatkan hasil yang tepat pada akhir proses yang melibatkan niat, dan pemahaman, kemudian memutuskan untuk bertindak dalam beberapa cara dialami.  Aku akan memperluas lebih rinci di bawah, tapi apa yang saya ingin menunjukkan adalah bahwa fitur fisika kuantum ini sesuai dengan proses dalam pikiran kita. Ada hubungan korespondensi, seperti yang kita alami harapkan setelah Swedenborg. Paragraf terakhir ini adalah preview dari bagian sisa pembicaraan ini. Mungkin Anda tidak mengerti sekarang, tapi saya ingin memberikan beberapa ide untuk membantu saat aku melanjutkan.

 

  1. Masalah Seleksi dalam Fisika Kuantum

Salah satu masalah besar dalam fisika adalah bahwa fungsi gelombang yang menyebar memiliki bentuk yang memenuhi persamaan terkenal, tetapi masih belum jelas, seperti yang saya katakan, kapan dan bagaimana fisika mendapatkan hanya satu hasil yang sebenarnya. Elektron mungkin memiliki fungsi gelombang tersebar di seluruh ruangan, misalnya, namun jika Anda memiliki detektor di dalam ruangan, hanya salah satu dari mereka, secara acak, akan mendeteksi elektron. Dalam fisika kuantum, kita tidak memiliki alasan bagus mengapa elektron hanya dapat ditemukan dalam satu detektor dan entah bagaimana tidak dalam mereka semua. Jadi ada banyak diskusi dalam 70 tahun terakhir tentang bagaimana dalam fisika teori standar dengan gelombang hanya mengarah ke satu hasil. Hal ini telah menimbulkan banyak sekali ide-ide alternatif, dan ini tercantum dalam Gambar 3 di bawah ini: cara yang disarankan untuk mendapatkan satu aktualitas yang pasti

Gambar 3:

Sarana yang disarankan untuk mendapat suatu aktualitas tertentu

 

1. Only an appearance Everett[5],
2. Occurs to a good approximation Decoherence theory,
3. Classical apparatus N. Bohr,
4. Experimenter looks W. Heisenberg,
5. Effect of consciousness E. Wigner[6],
6. Consciousness creates an actual result H. Stapp[7],
7. Consciousness produces nature S. Malin[8],
8. Spirit produces nature E. Swedenborg,
9. Nature is essentially spiritual ‘New Age’,
10. Nature and spirit are identical C.J.S. Clarke[9],
11. Quantum physics shows us religious roots E.H. Walker[10]

 

Bagi Anda yang telah membaca beberapa fisika populer akan mengenali beberapa alternatif ini, dan mereka semua dirancang untuk menjawab masalah pengukuran yang sama. Saran pertama disebut penafsiran banyak-dunia Everett, di mana tidak ada pilihan nyata, tapi semua alternatif terjadi saat yang sama, misalnya dalam beberapa set semesta paralel. Teori kedua ‘decoherence’ mengatakan bahwa itu benar-benar seperti itu, tapi itu tampaknya pendekatan yang baik seolah-olah hanya satu hasil terjadi. Niels Bohr pikir itu adalah fakta bahwa peralatan eksperimen adalah ‘klasik’, dengan tidak ada perilaku gelombang, yang memunculkan hasil tertentu. Kita sekarang tahu bahwa fisika kuantum berlaku untuk aparat eksperimental juga, sehingga tidak benar-benar memecahkan masalah. Werner Heisenberg, Eugene Wigner dan Henry Stapp pada gilirannya telah memperkenalkan spekulasi bahwa seleksi adalah sesuatu yang harus dilakukan dengan kesadaran atau pikiran, dan ini telah melahirkan aliran seluruh saran di mana kesadaran (atau sesuatu) telah menjadi lebih dan lebih terlibat dalam mencoba untuk memecahkan masalah fisika kuantum.

Wigner dalam sebuah makalah dari 40 tahun yang lalu menyarankan bahwa itu adalah kesadaran dari ilmuwan yang mengamati, dan gagasan ini telah dilakukan oleh Stapp, yang mengatakan bahwa kesadaran sebenarnya terlibat dalam otak. Stapp percaya bahwa karena otak kuantum memiliki banyak hal alternatif yang bisa terjadi, kesadaran memilih salah satu dari hasil ini untuk menghasilkan hasil. Saya telah terdaftar alternatif lain di sini, yang bisa semakin lebih ‘jalan keluar’. Beberapa dari ide-ide kita bisa membayangkan menjadi benar, misalnya bahwa ‘roh menghasilkan alam’, tetapi beberapa orang telah pergi lebih jauh dari itu, dan mengatakan bahwa alam entah bagaimana dasarnya spiritual – yang terhubung dengan, atau sama dengan, spiritual. Orang lain telah melanjutkan tema ini untuk mengatakan bahwa fisika kuantum adalah cara belajar tentang spiritualitas, cara untuk mendapatkan kembali spiritualitas kita. Ada sejumlah besar kemungkinan solusi di sini yang mencoba untuk memecahkan masalah yang sama: bagaimana sesuatu yang dijelaskan oleh gelombang dapat menghasilkan hasil yang pasti. Masalahnya mulai dari kenyataan bahwa ketika fisikawan berpikir tentang alam, mereka hanya memiliki dua ide dalam pikiran: mereka bisa memikirkan gelombang atau partikel.[11] Kesulitannya adalah bahwa benda yang fisika kuantum mengatakan kepada kita berada di alam bukan hanya gelombang, dan bukan hanya partikel, sehingga tantangannya adalah untuk menemukan pemahaman baru dan gambar baru.

Sebagai mana ide-ide yang lebih ekstrim di atas, ada ide-ide lebih lanjut yang telah diusulkan. James Jeans[12], fisikawan matematika, menulis sekitar 60 tahun yang lalu bahwa “fungsi gelombang terlihat seperti bukan sesuatu yang padat dan substansial, tetapi lebih mirip sebuah ide”. Beberapa (misalnya Zohar[13]) telah mengambil ini berarti bahwa fisika kuantum mengatakan pada kita tentang ide-ide. Lainnya, membahas identitas  roh dan alam yang diduga/diharapkan, telah mencoba untuk bekerja keluar berbagai cara untuk memahami mengapa mereka tampil berbeda. Mereka telah mengatakan bahwa mungkin roh dan alam adalah nilai yang berbeda dari energi, frekuensi yang berbeda, dimensi yang berbeda, dan/atau ‘kehalusan’ berbeda dari material. Mereka dari kita dengan latar belakang dari Swedenborg akan mengakui bahwa menunjukkan ‘dimensi yang berbeda’ di sini adalah mencoba untuk menggunakan analogi spasial (berpikir dari ide-ide ruang) untuk membedakan pikiran dari alam. Ketika orang mencoba berbicara tentang ‘frekuensi yang berbeda’, mereka menggunakan analogi sementara untuk berpikir tentang perbedaan ini. Tapi kita tahu dari Swedenborg bahwa kita tidak dapat benar-benar menggunakan salah satu dari jenis-jenis analogi.

Dari Swedenborg kita berpikir kita tahu mana dari semua ide di atas masuk akal, yaitu, yang dari mereka mungkin benar. Mari kita menunjukkan mana yang ini yang mungkin, sebelum membahas mana yang benar. Kita tahu bahwa memilih untuk melakukan satu hal tertentu tidak dapat hanya sebuah ilusi, karena kalau tidak akan membuat olok-olok mencoba untuk menata hidup seseorang. Kita tahu bahwa hasil tertentu dipilih, sehingga dapat benar-benar hanya menjadi pendekatan yang baik bahwa pilihan memang terjadi. Kita tahu bahwa kesadaran mungkin terlibat. Hal ini tidak mengesampingkan, karena kita tahu dari Swedenborg spirit/jiwa yang menghasilkan alam, dan mungkin kesadaran itu, sebagai bagian dari roh, yang terlibat. Tapi kita tahu bahwa ketiga ide terakhir (9-11) tidak mungkin benar, karena kita tahu bahwa ada perbedaan penting antara alam dan roh, yang berarti bahwa kita harus menemukan berbagai jenis hubungan antara fisika kuantum dan spiritualitas yang bukan hanya identitas. Harus ada jenis lain dari koneksi. Dari ide set berikutnya kita tahu bahwa perbedaan berdasarkan waktu atau dimensi tidak mungkin benar. Kita tahu bahwa perbedaan sejati tidak didasarkan pada ‘kehalusan’ atau ‘kehalusan’: Swedenborg memiliki komentar untuk membuat tentang itu. Mungkin benar bahwa fungsi gelombang tampak seperti ide, tapi itu hanya berlaku jika kita mengambil kata ‘seperti’ untuk merujuk kepada korespondensi daripada menjadi hanya sama.

 

  1. Beberapa Tingkatan

Semua hal di atas adalah pengenalan yang sangat singkat dan tentu sepintas bagaimana kita dapat menggunakan Swedenborg untuk memahami fisika modern. Saya akan membahas adanya ‘beberapa tingkat generatif’ atau ‘tingkatan diskrit’. Swedenborg membuat upaya besar untuk membedakan discrete dari tingkat kontinyu dan apa yang saya ingin tunjukkan adalah bahwa ada tingkatan discrete dalam alam, yaitu, dalam fisika kuantum. Ini akan membantu kita untuk memahami apa yang sedang terjadi dalam fisika. Lebih jauh lagi, tingkat diskrit dalam alam akan sesuai dengan tingkat diskrit lain yang kita ketahui tentang dalamnya proses spiritual. Dengan demikian, kita memiliki struktur triadic ini dalam alam, serta dalam spiritual, dan ini dihubungkan oleh korespondensi. Ini adalah tema keseluruhan untuk apa yang berikut.

Jika kita simpulkan apa yang Swedenborg memberitahu kita tentang bagaimana roh dan alam digabungkan, dan jika kita melihat apa yang Swedenborg katakan setelah ia diberitahu apa yang sebenarnya terjadi, bukan apa yang ia mencoba menebak di tahun-tahun sebelumnya, yang cukup berbeda, maka kita melihat bahwa ia kemudian dalam hidupnya belajar bahwa roh merupakan sarana penting dalam penciptaan alam. Alam tidak diciptakan langsung dari Infinite, tetapi diciptakan melalui roh. Dia datang untuk melihat bahwa dunia alami adalah efek akhir dari penyebab yang bekerja di dunia rohani, yang memanifestasikan dirinya dalam beberapa bentuk cinta. Jadi, sebagai akibatnya, pola cinta à kebijaksanaan à efek adalah pola yang bisa kita coba gunakan untuk memahami apa yang terjadi dalam fisika kuantum.

Pola ini dapat diringkas dalam banyak cara: cinta à kebijaksanaan à  efek; atau jiwa à pikiran à tubuh, sebagai pola triadic yang sama. Swedenborg memberi kita alasan yang cukup untuk menunjukkan bahwa ini diulang dalam jiwa: kita memiliki langit, spiritual dan spiritual-alami. Hal ini diulang dalam pikiran: kita memiliki interior yang rasional, suatu alam eksterior, dan pikiran sensorik. Jadi pertanyaannya adalah, ini juga diulang dalam dunia alam?

Swedenborg memiliki berbagai hal untuk mengatakan tentang derajat di dunia alam (lihat artikel misalnya Hugo Lj. Odhner[14]). Ketika Swedenborg mulai, ia memiliki cukup ide-ide yang berbeda yang bervariasi dari buku ke buku. Saya akan berbicara tentang ‘eter’, yang adalah sesuatu yang ia berubah pikiran beberapa kali, juga menyangkut bagaimana mereka berhubungan dengan dunia spiritual[15]. Jika kita membaca dari Pengadilan Terakhir (Akhirat) / Last Judgement (Posthumous).

“Tiga atmosfir alam yang timbul dari matahari dunia adalah eter murni, yang bersifat universal, dari yang semua gravitasi; eter tengah, yang membentuk pusaran di sekitar planet, yang merupakan bulan dan satelit, yang merupakan magnet; dan eter utama yang udara. ”

Di sinilah ia berbicara tentang tiga derajat di alam. Hari-hari ini, kita tidak percaya pada ‘ether’, tapi pertanyaannya adalah apakah kita dapat menafsirkan apa yang dia katakan tentang ether murni, ether menengah, dan ether utama dalam sedemikian rupa cara sehingga masuk akal. Saya akan berasumsi bahwa ketiga kata sifat mengacu pada berbagai jenis ether. Dia mungkin tidak tahu dari sudut pandang ilmiah apa yang mereka, tetapi mereka pasti tampak tiga hal yang berbeda, dan tentu saja bukan  tiga Vacuums[16] yang berbeda. Tapi apakah kita mengenali pola ini? Apakah masuk akal bagi kita? Kita harus memungkinkan beberapa fleksibilitas dalam penafsiran apa yang dimaksud dengan eter, tetapi ia tidak memberitahu kita apa saja fungsi dari ketiga eter. Dia memberitahu kita bahwa yang pertama adalah melakukan dengan gravitasi, yang di tengah adalah dengan melakukan magnetisme, dan yang terakhir adalah dengan melakukan hal-hal material. Apakah gambaran itu masuk akal?

Mari kita mencoba dan bekerja apa tiga derajat di alam mungkin, jika kita menggunakan prinsip-prinsip Gereja Baru untuk bekerja keluar dari apriori derajat apa yang mungkin diharapkan terdiri darinya. Dari korespondensi dari alam dengan tiga derajat dalam spiritual, maka dalam alam harus ada (a) cara menerima dalam tubuh niat roh/spirit, selanjutnya harus ada (b) propagasi penyebab dalam alam, dan harus ada (c) cara untuk menghasilkan efek di alam. Kita dapat menganggap ini sebagai tujuan, penyebab, dan efek, semua di alam. Ini adalah apa yang kita harapkan untuk melihat dari sudut pandang Swedenborg. Apakah ada cara untuk melihat alam yang kita ketahui dari ilmu pengetahuan, di mana kita melihat ketiga derajat?

Dalam fisika modern kita tidak tahu apa-apa tentang tujuan; bahkan kita sengaja menolak untuk mempertimbangkan tujuan dalam fisika, sebagai aturan. Tapi kita tahu banyak tentang penyebaran penyebab dalam fisika: fisika itulah yang sangat baik. Ini memberitahu kita bagaimana penyebab merambat melalui urutan dan berbagai perubahan yang dihasilkan. Dan dalam fisika kita tahu sedikit tentang beberapa efek. Bahkan, ironi adalah bahwa seluruh urusan yang saya bicarakan sebelumnya, untuk mendapatkan hasil yang pasti dalam fisika kuantum, adalah justru karena fisika tidak cukup tahu tentang efek yang sebenarnya. Jadi jelas bahwa fisika kontemporer tahu banyak tentang propagasi penyebab, dan ia tahu hampir semuanya tentang produksi efek, meskipun masih ada sesuatu yang hilang dari apa yang fisika kuantum mengatakan tentang efek akhir. Jadi, jika Swedenborg memiliki cahaya untuk dilemparkan pada apa tiga derajat adalah, ini akan membantu mengisi kekosongan yang penting, kesenjangan nyata dalam fisika kuantum, yang merupakan produksi efek.

 

  1. Energi

Jika kita melihat fisika, dan berapa fisika menganggap sebagai bagian dari pemahaman yang berada di pusat, gagasan penting dalam fisika adalah energi. Energi adalah tema yang melewati fisika kontemporer. Ini berbicara tentang energi potensial, energi kinetik dan sekitar: energi kinetik adalah energi yang berkaitan dengan gerak, dan energi potensial adalah dengan melakukan apa yang akan terjadi jika keadaan benar. Dalam fisika klasik kita bisa pergi jauh dengan mengetahui tentang konservasi energi (serta kekekalan momentum, momentum sudut dll). Energi dalam fisika kuantum, total energi kinetik dan potensial, diubah menjadi apa yang disebut operator Hamiltonian (biasanya disingkat H). Saya hanya akan mengatakan bahwa operator ini masuk ke dalam persamaan gelombang Schrödinger, yang mengatur semua bentuk gelombang kuantum. Dengan demikian menghasilkan semua bidang probabilitas, dan karenanya semua evolusi waktu. Semua dinamika dalam fisika kuantum ditentukan dengan mengetahui apa keadaan awal, dan apa operator Hamiltonian adalah. Jadi, energi dalam beberapa bentuk sangat penting dalam kedua fisika klasik dan kuantum.

Dengan demikian, setiap kali saya lakukan fisika kuantum sebagai bagian dari pekerjaan saya di bidang fisika nuklir, saya pertama kali mencoba dan menemukan Hamilton, maka saya memecahkan persamaan Schrödinger

HY (x, t) = i ¶ Y (x, t) / ¶ t.

Di sini, Hamilton H adalah operator yang bekerja pada fungsi gelombang yang memberitahu kita bagaimana perubahan fungsi gelombang, dengan cara derivatif dari fungsi gelombang terhadap waktu di sisi kanan persamaan. Dengan cara ini, Hamiltonian menentukan semua dinamika, seperti yang kita dapat memecahkan persamaan ini untuk menemukan fungsi gelombang di segala tempat x dan waktu t ke masa depan.

Persamaan sentral dalam fisika kuantum adalah persamaan dari bentuk ini (mungkin Schrödinger atau persamaan Dirac), yang selalu memiliki turunan waktu yang mengisahkan bagaimana fungsi gelombang bervariasi dengan waktu. Selanjutnya, setelah kita memiliki fungsi gelombang ini, kita dapat menemukan probabilitas dengan mengambil modulus persegi | Y (x, t) | 2. Pertanyaannya sekarang, apakah kita melihat tiga serangkai akhir à sebab à efek dalam struktur ini? Saya baru saja menggambarkan struktur fisika kuantum sebagai setiap fisikawan atom, setiap fisikawan nuklir mempraktekkan itu. Apakah kita melihat triad di sana? Saya menyatakan bahwa yang kita lakukan, jika kita melihat dengan benar.

 

END                                      CAUSE                                  EFFECT

 Quantum

Gambar 2: Korespondensi Quantum dan Proses Mental

 

 

  1. Tiga Derajat Quantum

Ian Thompson mengklaim bahwa bahwa ada tiga hal. Untuk membantu Anda memahami, di bagian bawah Gambar 2, Ian Thompson telah menarik korespondensi untuk apa yang ada dalam pikiran mereka. Bagi Anda yang tahu fisika kuantum dapat melihat di bagian atas, dan mereka yang tahu Swedenborg dapat melihat di bagian bawah, dan kemudian saya ingin membuat sambungan antara. Dia mengatakan “Jika Anda tahu satu, hubungan ini akan membantu Anda memahami yang lain”. Dengan demikian, tampak lagi di fisika kuantum, kita memiliki Hamiltonian yang harus dilakukan dengan total energi, yang entah bagaimana aktif, karena operator yang beroperasi pada fungsi gelombang dan mengubahnya. Persamaan Schrödinger adalah aturan untuk bagaimana operator Hamilton menghasilkan apa yang kita sebut ‘kecenderungan gelombang’: fungsi gelombang yang merupakan bentuk kecenderungan atau kecenderungan untuk tindakan: gelombang probabilitas. Kemudian fungsi gelombang ini (pada kenyataannya modulus kuadrat-nya) memberikan probabilitas untuk hasil yang berbeda. Ini adalah struktur fisika kuantum, dan dalam struktur ini kita sekarang melihat jenis yang sama struktur derajat triadic yang kita miliki dalam pikiran kita. Di bagian bawah dari Gambar 2 adalah triad sangat sederhana dari psikologi. Jika kita melihat hanya dalam pikiran eksternal kita, maka kita punya niat, berpikir tentang rencana, baik yang mengarah ke tindakan. Ini adalah triad yang sesuai dengan proses dalam fisika kuantum (tentu saja, bukan triad yang sama). Dari Swedenborg kita tahu tentang: cinta à kebijaksanaan à penggunaan (atau kasih sayang à pemahaman à keputusan, atau langit à spiritual à alam) dan kita miliki dalam korespondensi umum untuk semua triad tersebut. Kita tahu bahwa pola yang sama berulang dalam keseluruhan, dan dalam setiap bagian. Saya berbicara tentang setiap proses tunggal untuk setiap partikel tunggal dalam fisika kuantum: setiap kali setiap hal terkecil berevolusi dalam waktu, kita melihat pola triadic yang sama.

Kita melihat bahwa ada korespondensi antara energi dan niat. Hal ini sangat populer hari ini untuk menggunakan energi dalam cara yang sangat umum untuk mengacu pada semua niat dalam pikiran kita dan dalam roh kita: kita berbicara tentang energi mental, dan tentang energi spiritual. Banyak orang bingung ini: mereka conflate energi spiritual dengan energi fisik, mengatakan bahwa ini hanyalah berbagai jenis energi. Di sini kita dapat melihat bahwa mereka berhubungan satu sama lain. Swedenborg akan menggunakan ‘panas’ dan ‘cahaya’, dan saya berpikir bahwa kata ‘energi’ adalah interpretasi umum yang baik tentang makna ‘panas’ atau kalor. Di tengah atas kita memiliki gelombang atau struktur lapangan, di mana Swedenborg mengacu pada cahaya, tapi gelombang ini adalah gelombang energi, yang menyebar keluar dan mencoba untuk melakukan sesuatu. Kita tahu bahwa cahaya adalah suatu bentuk energi, sementara Swedenborg mengatakan ‘kebijaksanaan adalah bentuk cinta’ atau ‘niat mengambil bentuk dalam pemahaman’. Ada banyak kesamaan dalam struktur logis dari kalimat yang menghubungkan dua ini pertama derajat.

Bagi Anda yang bertanya-tanya bagaimana fisika kuantum berbeda dari fisika yang kita tahu, Ian Thompson hanya akan memberikan demonstrasi singkat tentang bagaimana ini membuat perbedaan. Bayangkan seseorang roller-skating di sebuah ruang berongga. Dalam fisika klasik ada batas, tidak terduga disebut ‘titik balik klasik’, di mana energi kinetik habis, karena energi telah semua berubah menjadi energi potensial. Dalam teori kuantum, sebaliknya, tidak ada batas yang tajam, karena semuanya didasarkan pada kecenderungan, dan tidak hanya ditentukan dan kaku. Jika ini adalah sebuah elektron dalam atom, kemudian muncul dengan probabilitas kecil bahkan dalam apa yang disebut ‘ wilayah klasik terlarang ‘. Hal ini sangat penting dalam fisika kuantum, dan menimbulkan apa yang dalam pikiran saya adalah menarik tentang proses kuantum. Hal ini penting untuk memahami hal-hal seperti transistor, di mana terowongan elektron melalui lapisan sangat tipis, karena jika Anda memiliki dip lain di sisi kanan maka mereka bisa masuk. Hal yang sama muncul dengan peluruhan radioaktif, karena proton atau partikel alfa di dalam nukleus besar memiliki hambatan besar yang berhenti itu keluar, tapi masih bisa keluar terowongan dengan probabilitas sangat kecil dan karena itu Anda mendapatkan seumur hidup yang sangat panjang, seperti ribuan jutaan tahun, tetapi masih keluar akhirnya. Itulah salah satu perbedaan antara fisika klasik dan kuantum, karena ada kecenderungan dan bukan hanya keras dan cepat batas. Fakta memiliki kecenderungan berkaitan dengan apa yang Swedenborg memberitahu kita tentang niat, atau conatus, yang menghasilkan hasil tanpa sambungan tetap antara mereka.

Apa yang Ian Thompson telah berikan sejauh ini adalah ringkasan singkat dari korespondensi antara energi dan gelombang fisika kuantum, dan niat dan pikiran atau pemahaman dalam pikiran. Kami benar-benar harus menarik pikiran di atas derajat fisik, jadi niat, pemahaman dan efek menghasilkan, dan sesuai dengan, energi dan gelombang bentuk.

 

  1. Teori Bidang Quantum

Dalam fisika kuantum, rumus Hamiltonian mulai terdiri dari energi kinetik dan potensial. Sekarang pertanyaannya adalah, dari mana Hamiltonian berasal?  Ian Thompson  akan mencoba dan menjelaskan apa yang disebut teori medan kuantum. Anda mungkin tidak mengikuti rincian, tetapi penting untuk argumen Thompson bahwa fisika telah menemukan lebih dari apa yang, sehingga untuk berbicara, adalah ‘di belakang’ Hamiltonian. Ketika fisika kuantum dimulai 70 tahun yang lalu, fisikawan harus menciptakan Hamiltonian. Ada berbagai petunjuk dan trik, dan jika hasilnya keluar yang tepat Anda tahu bahwa Anda berhasil. Namun, dalam kenyataannya, ada beberapa fisika di balik itu. Kita sekarang tahu bahwa energi potensial dari bagian Hamiltonian bukan hanya sewenang-wenang, tapi datang tentang dari apa yang disebut proses virtual. Kita tahu bahwa kekuatan elektromagnetik antara dua partikel bermuatan tidak hanya diberikan oleh persamaan Maxwell, tetapi diberikan oleh ‘ virtual foton ‘ atau ‘ sinar gamma ‘ yang dipertukarkan. Daya tarik nuklir antara dua proton, atau antara proton dan neutron tidak hanya sewenang-wenang, tetapi diberikan oleh pertukaran quark dan gluon. Quark tertarik satu sama lain dengan bertukar gluon. Jadi ada sesuatu yang terjadi di ‘balik layar’ dari apa yang telah dijelaskan sejauh ini, yang menghasilkan Hamiltonian. Apa peristiwa ini? Selain itu, energi kinetik, yang adalah melakukan dengan massa, dikatakan oleh fisikawan harus ‘berpakaian’ oleh proses virtual. Ini berarti, misalnya, bahwa elektron telanjang memiliki awan foton yang pergi bersama dengan itu, karena terus-menerus memancarkan dan menerima foton, dan foton ini memberikan kontribusi massa melalui energi mereka sendiri. Jadi, bahkan massa dan energi kinetik bukan hal yang diberikan langsung, tetapi juga diproduksi dari balik layar, dan muncul di Hamiltonian yang mengandung energi kinetik dan potensial bersama-sama.

Gambar 3: Kekuatan dari pertukaran partikel virtual

 

Ian Thompson hanya akan menyebutkan apa yang beberapa dari proses-proses virtual, seperti yang digambarkan dalam Gambar 3 Ini adalah fisika yang telah ditemukan dalam 50 tahun terakhir: bahwa interaksi elektromagnetik antara partikel bermuatan adalah dengan pertukaran foton; kekuatan nuklir antara proton dan neutron adalah dengan pertukaran gluon a; interaksi lemah adalah dengan pertukaran ‘vektor meson berat’ disebut Z dan partikel W. Dalam fisika kita mengatakan bahwa ada empat jenis interaksi sama sekali. Ada tiga ini di sini: elektromagnetisme, kekuatan nuklir dan lemah; dan yang keempat adalah gravitasi. Sejauh Ian Thompson belum mengatakan banyak tentang gravitasi, tapi akan datang kembali nanti. Titik ia ingin membuat adalah bahwa semua hal-hal ini terjadi di belakang layar, dan fisikawan mengatakan bahwa ini adalah partikel virtual. Mereka tidak benar-benar terjadi, tapi semacam ‘hampir’ terjadi. Kemudian ada tantangan untuk kita untuk memahami apa yang di bumi yang terjadi? Cara saya ingin Anda berpikir tentang hal ini, adalah bahwa proses virtual adalah sarana yang rencana diproduksi. Ingat Ian Thompson mengatakan bahwa kita punya niat, memahami dan efek. Pemahaman ini memiliki semua rencana ini, tetapi pertanyaannya adalah: bagaimana rencana ini berhasil? Pasti ada sesuatu untuk membantu ini harus dikerjakan. Dari Swedenborg kita tahu bahwa semua pikiran dengan hal ini bekerja berasal dari tingkat sebelumnya. Kita tahu bahwa masuknya dari langit sangat penting bagi kita untuk berpikir, bahkan mendapatkan pemahaman kita bekerja, dan untuk mengoperasikan rencana kami. Jadi, apa yang saya usulkan untuk membantu kita untuk memahami proses virtual, adalah bahwa ada lapisan lain dari tiga (triadic) tahap seperti pada Gambar 4.

Gambar 4: Triad dari proses virtual menghasilkan proses yang sebenarnya

 

Tidak semua dari Anda akan mengerti apa yang dimaksud fisikawan dengan teori medan, tapi apa yang Ian Thompson ingin tunjukkan adalah bahwa, dengan melihat kelompok-kelompok triadic dan mendalilkan kelompok lain sebelumnya, kita mendapatkan beberapa ide yang membantu kita untuk memahami fisika kuantum. Lapisan sebelum ini menjelaskan proses virtual, atau energi potensial, dan lapisan bawah adalah apa yang ia harus memulai dengan, yang berkaitan dengan energi, kecenderungan dan peristiwa aktual. Intinya adalah bahwa layer baru ini memiliki tingkat proses otonomi sendiri, di mana peristiwa virtual yang dihasilkan oleh medan kuantum virtual, mulai off dengan apa yang dalam fisika disebut ‘lapangan/medan Lagrangian’. Kami tidak benar-benar tahu di mana Lagrangian berasal dari, sehingga sekali lagi kita memiliki masalah yang sama, tapi setidaknya kita dapat melihat bahwa proses virtual membantu mempersiapkan energi kinetik dan potensial, dan karenanya membantu mempersiapkan kecenderungan. Perhatikan bahwa ada proses virtual muncul bahkan jika tidak ada yang benar-benar terjadi. Bahkan jika Anda mengambil ruang di ruangan ini antara atom-atom, masih ada proses virtual terjadi. Para fisikawan mengatakan bahwa ada ‘energi titik nol’, dan bahwa ada ‘vakum fisik’ yang terdiri dari fluktuasi dari energi titik nol. Apa yang mereka menyiratkan adalah bahwa ada bidang virtual meskipun mungkin tidak ada bidang partikel, dan bahwa bidang virtual menghasilkan efek terukur.

Ian Thompson inginkan sekarang untuk mengidentifikasi dua lapisan ini dengan ‘udara’ lapisan dan ‘ether tengah’ lapisan Swedenborg  seperti yang ditunjukkan pada gambar, karena ether tengahnya adalah salah satu katanya dikaitkan dengan planet dan mereka magnet. Swedenborg tahu tentang magnetisme, dan ia tahu tentang planet. Fungsi utama dari peristiwa virtual adalah produksi tarik elektrostatik & tolakan, dan gaya magnet, antara partikel bermuatan. Kita sekarang tahu bahwa magnet tidak ada dengan sendirinya, dan selalu dikombinasikan dengan elektrostatika: kita berbicara tentang elektro-magnet. Jadi kita menafsirkan ‘magnet’ Swedenborg seperti itu yang kita tahu itu bersatu, yaitu elektromagnetisme. Ini terlihat seperti eter tengah. Hal ini dalam urutan yang benar, dan memiliki struktur internal yang benar, dari sudut pandang Swedenborg. Kami memiliki pola yang sama: sebuah prinsip akan menyebabkan dan kemudian ke efek. Kita tidak tahu di mana prinsip berasal, tapi kita bisa melihat bahwa itu adalah prinsip. Ini adalah prinsip bahwa fisikawan telah digunakan sampai saat ini sebagai titik awal untuk menggambarkan teori medan kuantum. Mereka mulai dengan menuliskan Lagrangian, dan melihat semua istilah dalam Lagrangian, untuk bekerja semua proses virtual mungkin. Mereka bekerja satu langkah dan dua langkah proses untuk peristiwa virtual, menggunakan teori misalnya gangguan. Kemudian mereka bekerja di luar energi potensial dan kinetik, dan melanjutkan dengan Hamiltonian dan gelombang fungsi dll Ini semua hanya menjelaskan dengan cara sederhana fisikawan apa yang hari ini. Sebuah gambar ini (tanpa kata-kata ‘ether tengah’ atau ‘udara’, tentu saja) akan menyenangkan untuk rekan-rekan saya di tempat kerja (saya telah mencobanya pada mereka[17]), sehingga sangat masuk akal dari sudut pandang fisika. Satu-satunya hal yang mereka temukan sedikit aneh adalah bahwa ada perintah tegas ini. Tidak ada semacam memberi dan menerima, tidak ada interaksi timbal balik: Saya selalu tertarik panah ‘memproduksi’ seperti ke kanan atau ke bawah, sehingga seluruh bisnis adalah bahwa masuknya: masuknya bersyarat. Apa yang Anda butuhkan untuk menerima masuknya adalah sesuatu yang saya tidak punya waktu untuk berbicara tentang: yang benar-benar bicara lain[18]. Setidaknya dari Swedenborg kita tahu bahwa ada perintah seperti itu.

 

  1. Gravitasi

Kita memiliki ether tengah, dan kita memiliki udara, jadi bagaimana dengan gravitasi? Itu adalah hal yang hilang di sana. Mari kita simpulkan apa yang kita ketahui tentang gravitasi, sangat singkat. Teori gravitasi terbaik adalah Teori Umum Relativitas Einstein. Hal ini masih teori terbaik: tidak ada orang yang menyangkal hal itu. Fisikawan tidak senang dengan hal itu, karena alasan-alasan yang akan saya jelaskan, tetapi masih teori terbaik. Dalam teori ini, ruang dan waktu ‘melengkung’ oleh gravitasi, sesuai dengan distribusi materi. Saya tidak akan menuliskan persamaan Einstein, tetapi ide dasarnya adalah bahwa kelengkungan ruang-waktu disebabkan oleh massa dan energi di ruang-waktu. Tidak ada menyebutkan probabilitas, sehingga lagi teori klasik. Hasil ini adalah bahwa pertanyaan gravitasi kuantum hangat dibicarakan: pertanyaan tentang bagaimana untuk menggabungkan probabilitas dengan ide ruang-waktu melengkung. Ada sering berdiskusi tentang bagaimana kita mungkin bisa di gravitasi kuantum kombinasi seperti itu. Sebagai contoh, jika ruang dan waktu yang entah bagaimana probabilistically dihasilkan, maka bagaimana Anda berbicara tentang probabilitas, jika kita tidak memiliki distribusi ruang yang memiliki probabilitas?

Harus ada ‘ alternatif ‘ dari beberapa jenis ! Saya berharap bahwa jika kita memiliki wawasan tentang masalah ini gravitasi kuantum dari Swedenborg, maka kita akan dapat melemparkan beberapa cahaya pada masalah-masalah mendasar .

Menurut Swedenborg, jika kita berada di dunia spiritual, kita tahu bahwa ruang dan waktu dalam dunia spiritual sangat fleksibel, mari kita bicara seperti itu. Ruang tergantung pada kondisi mental dan keadaan rohani kita. Kita tahu bahwa jika cinta dua orang adalah sama, maka mereka berdekatan di dunia spiritual. Kita tahu bahwa Matahar, negara Tuhan di langit, sangat berbeda dari negara malaikat yang muncul di jarak yang sangat besar dari mereka, menyinari mereka. Kita juga tahu bahwa waktu adalah sangat fleksibel dalam dunia spiritual. Tampaknya menjadi aturan yang, jika seseorang meminta Anda untuk melakukan sesuatu, dan Anda mengatakan bahwa Anda akan melakukannya segera tetapi Anda ingin melakukan banyak hal lain terlebih dahulu, Anda selalu memiliki ‘waktu’ untuk pengalihan untuk melakukan apapun lain yang Anda ingin lakukan, dan kemudian kembali ke apa yang orang meminta Anda untuk melakukannya. Tidak ada waktu jam di dunia spiritual: hanya ada suksesi negara. Anda selalu dapat memiliki banyak suksesi negara dari satu jenis antara negara berturut-turut sesuatu yang lain, dan tidak ada tingkat yang sama dari suksesi di bagian yang berbeda. Sekali lagi, kita melihat bahwa ruang dan waktu bervariasi sesuai dengan cinta.

Sekarang Ian Thompson akan menyajikan beberapa ide yang tidak benar-benar sebuah teori, tapi satu upaya unified melihat apa yang sedang terjadi, sehingga kita dapat mulai melihat korespondensi. Menurut Swedenborg, mencintai secara dinamis menghasilkan geometri ruang dan waktu yang kita miliki di dunia spiritual. Tapi kita tahu bahwa mencintai sesuai dengan energi, jadi mari kita mengambil kalimat ini dan menerjemahkannya dengan korespondensi ke dalam fisika. Kami berakhir dengan pernyataan, bahwa energi secara dinamis menghasilkan geometri ruang dan waktu di dunia fisik. Ini adalah persis apa kata Relativitas Umum. Kami tidak benar-benar memahami hubungan antara cinta dan energi, atau bagaimana tepatnya ini bekerja, tapi kita bisa melihat awal dari beberapa ide yang mungkin di masa depan menghasilkan beberapa wawasan. Hal ini menunjukkan bahwa lapisan kami udara dan eter menengah perlu diperluas untuk mencakup apa yang saya sebut sebelumnya ‘formatif’ derajat. Hal ini sangat spekulatif: Saya menggunakan ide dari korespondensi dari Swedenborg untuk mengisi kekosongan .

1. General Principle 2. Formative Fields 3. Form Space-time Forming Principle ‘Universal Ether’
4. Lagrangian 5. Virtual Fields 6. Virtual Events Virtual Cause

‘Middle Ether’

7. ‘Active Energy’ 8. Propensity Fields 9. Actual Selections Actual Effect

‘Air’

Principle Cause Effect  

Gambar 5:

Sebuah triad formatif pada baris pertama , untuk menghasilkan proses virtual

 

Sembilan lapisan yang telah saya diarsir pada Gambar 5 terdiri pertama dari bawah enam yang telah saya bicarakan sebelumnya: pilihan aktual , kecenderungan medan dan energi; kemudian di atas ini: peristiwa virtual, bidang virtual dan Lagrangian tersebut (apapun itu!). Lalu, saya katakan, kita akan mengharapkan beberapa lapisan atas ini, sehingga lapisan ini baru bertindak sebagai prinsip dalam tiga serangkai prinsip à  sebab àakibat  dalam arah vertikal. Karena semuanya datang dalam triad, kita tidak bisa memiliki hanya enam: kita harus memiliki sembilan (kekuatan dari tiga). Jadi sepertinya bahwa harus ada beberapa prinsip umum di awal, kemudian beberapa bidang formatif di tengah atas, dan pengaruh medan formatif harus menghasilkan ruang-waktu. Harus ada, di bagian atas, menjadi lapisan sebelum ini baru yang dilakukan adalah dengan melakukan gravitasi . Kami tidak benar-benar tahu apa-apa tentang hal ini, dan, pada kenyataannya, jika semua ahli fisika yang kita tahu berpikir tentang gravitasi kuantum bisa memikirkan sesuatu yang berguna, maka kita mungkin memiliki sesuatu untuk dikatakan. Sebaliknya, jika dari Swedenborg kami mengerti korespondensi kami dengan baik, kami juga mungkin memiliki sesuatu untuk dikatakan.

Tantangannya adalah untuk mendapatkan ide-ide kami dari sumber yang berbeda untuk bertemu bersam : kita mencoba menghubungkan langit dan bumi di sini , untuk melihat bagaimana mereka bergabung. Yang baru adalah bahwa lapisan ini sebelum baru adalah seperti apa Swedenborg katakan adalah eter pertama, yang berhubungan dengan gravitasi. Sepertinya di sini kita memiliki eter pertama  eter tengah dan udara: ini tampaknya masuk akal selama kita membiarkan diri kita untuk menafsirkan Swedenborg  Swedenborg berusaha mengatakan apa yang ia tahu benar dalam kata-kata yang ia telah tersedia baginya. Dia harus menggunakan kata-kata yang ada di sana; dia bisa menyarankan hal-hal, tapi ada banyak hal yang dia tidak tahu  Ada banyak hal yang dia tidak tahu, tapi yang sekarang kita tahu untuk menjadi penting, seperti oksigen di udara, jadi kami harus bekerja dengan tepat apa hal-hal ini bahwa ia tidak memberitahu kami.

Dalam contoh ini kita telah menerapkan prinsip-prinsip umum yang diambil dari ide-ide Swedenborg untuk menafsirkan kembali rincian referensi ke alam. Kita lihat, misalnya, pola umum yang sama secara vertikal dan horizontal. Dalam arah vertikal, kita melihat prinsip, sebab dan akibat, atau cinta, kebijaksanaan dan menggunakan, atau niat, pemahaman dan efek, mana korespondensi kita pilih. Dan kemudian ada pola yang sama di setiap arah horisontal 1 à 3 , 4à 6 dan 7 à 9 . Keseluruhan Masuknya harus datang di urutan 1 à 9 : ini harus menjadi cara bahwa dunia diproduksi. Tingkat ini semua di alam, dan tidak terdiri dari apapun mental. Ini adalah derajat diskrit, semua di alam.

 

  1. Parsial

Kita bisa menjelaskan bagaimana bisa ada pandangan parsial. Triad terakhir adalah energi à gelombang à event, yang sesuai dengan kemauan, pikiran dan tindakan, tetapi tidak identik dengan itu. Tetapi banyak orang melihat korespondensi, dan merasakan korespondensi ini, sehingga banyak dari mereka telah dibangun ke dalam bahasa sehari-hari. Insight, kehangatan, dll. adalah kata-kata yang sering digunakan. Peran energi dalam tubuh sesuai dengan peran cinta dalam roh. Kita bisa menyebutnya panas, atau energi generatif, tapi apa pun itu, itu adalah sesuatu yang pada awal yang sesuai dengan sisi cinta. Peran gelombang di dunia sesuai dengan kebijaksanaan dalam roh. Gelombang di dunia bisa menjadi gelombang cahaya, dan kita mengatakan bahwa kebijaksanaan sesuai dengan cahaya. Peran peristiwa tindakan sesuai dengan keputusan dalam roh, yang merupakan efek pada akhir fisik. Fisika kuantum masih belum yakin tentang efek ini, seperti yang saya katakan di awal, sehingga masih ada urusan yang belum selesai dalam fisika tentang apa efek ini dan apa yang benar-benar menghasilkan mereka. Orang sering conflate energi dalam tubuh dengan kasih dalam roh dengan mengatakan bahwa ada energi spiritual dalam diri kita, dan berbicara tentang aura sebagai gelombang yang dapat mereka lihat di sekitar orang. Mungkin mereka bisa, tetapi ini tidak gelombang dalam arti fisik normal.

Selain itu, banyak dari orang-orang yang saya sebutkan sebelumnya yang mencoba untuk memahami fisika kuantum dibangun pada kenyataan bahwa ada korespondensi antara peristiwa fisik dan keputusan spiritual, dengan berspekulasi bahwa peristiwa rohani adalah keputusan yang sebenarnya. Beberapa itu benar, karena mereka tampaknya sesuai, dan karena itu kita akan mengharapkan hubungan kausal, karena korespondensi timbul dari masuknya kausal. Saya telah mengatakan bahwa fisika terdiri dari efek yang berasal dari kekuatan dan ladang dan kemudian energi, dan beberapa orang berpikir itu karena energi ini sangat berbeda dari materi di dunia fisik, mungkin energi harus menjadi lama dicari ‘roh’. Namun, hanya memberitahu kita sesuatu yang sesuai dengan semangat. Orang lain telah melihat lapisan akhir ini energi, kecenderungan dan peristiwa, dan telah melihat kembali ke proses virtual. Mereka melihat bahwa proses virtual di sini bahkan jika tidak ada yang benar-benar terjadi, dan dengan demikian berspekulasi bahwa mungkin inilah proses virtual yang sesuai dengan roh, atau roh. Jadi kita bahkan mendapatkan dokumen-dokumen “Apakah Foton Virtual Dasar Pembawa Kesadaran”[19]. Saya menggunakan proposal ini untuk menunjukkan jenis pandangan parsial, atau conflation dari korespondensi yang sering terjadi. Saya harus membaca untuk Anda yang kedua untuk kalimat terakhir “arena kemahahadiran foton maya, maka akhirnya bahwa seluruh alam semesta harus embued (menyatu?) dengan subjektivitas”. Inilah yang terjadi jika Anda tidak membedakan satu derajat sebelum di alam dari derajat sebelum nyata yang berada di spiritual. Mereka berhubungan satu sama lain  tetapi mereka tidak sama. Seluruh pembicaraan saya adalah tentang fisika kuantum dan spiritualitas: ada korespondensi antara mereka, tetapi mereka tidak sama.

Sekarang saya akan membahas beberapa konsekuensi dari ide-ide di atas. Pertimbangkan gagasan bahwa pilihan aktual fisik penting, karena hasil akhir atau ‘bottom line’. Dunia spiritual seluruh menghasilkan dunia spiritual eksternal, dan kemudian semua gelar ini di alam, dan hal terakhir yang menghasilkan adalah pilihan yang sebenarnya satu hasil tertentu di tempat lain. Itulah yang fisika kuantum tidak benar mengerti, tetapi kita tahu bahwa itu harus ada. Kita tahu bahwa tindakan akhir atau akhir dari roh berada dalam pikiran sensual. Bahwa apa yang Swedenborg memberitahu kita, sedangkan psikolog akan mengatakan bahwa adalah pikiran sensori-motor  yang sedikit lebih akurat karena itu adalah tindakan, bukan hanya sensasi, yang signifikan. Dan kita tahu, dari apa yang saya baru saja dijelaskan, bahwa tindakan terakhir di dunia adalah peristiwa aktual: pemilihan salah satu hasil tertentu yang berbeda dari yang lain. Dengan demikian, dua hal – pikiran sensori -motor dan peristiwa aktual-tampaknya berhubungan satu sama lain. Jadi Heisenberg, Wigner, Stapp dan lain-lain, bahkan Paul Davies, berpikir bahwa ada hubungan antara pengamat dan pemilihan peristiwa aktual. Kita sekarang melihat bahwa mereka berhubungan satu sama lain, dan salah satu dari mereka harus menyebabkan yang lain. Ada sesuatu tentang pikiran sensori -motor  lapisan terluar dari pikiran eksternal, sesuai dengan yang operasinya harus dalam beberapa cara terhubung ke pemilihan hasil fisik tertentu. Hal ini menjelaskan sebagian bagaimana dunia alam mengakhiri dunia spiritual. Hal ini dalam dunia alam yang kita benar-benar membangun sebuah fundasi yang tetap, karena peristiwa-peristiwa aktual yang merupakan bottom line, merupakan pilihan yang pasti untuk satu cara atau yang lain. Swedenborg mengatakan bahwa dunia alam berakhir dan berisi: bahwa itu adalah containant untuk kehidupan rohani dan tindakan. Cinta  yang tetap bersama kami harus mencintai yang menghasilkan peristiwa aktual dalam kehidupan kita. Ini pada dasarnya apa yang Swedenborg  katakan kepada kita.

 

  1. Keseluruhan Gambaran

Ini semua bagian dari sebuah cerita yang lebih besar, tentu saja: pada dasarnya kita tahu bahwa ada pikiran interior, pikiran eksterior, dan dunia alam. Apa yang saya telah berbicara tentang adalah sembilan derajat di dunia alam yang ditunjukkan pada kolom paling kanan dari Gambar 6. Dalam kolom ini, kita memiliki alam, di kolom tengah kita memiliki pikiran, di mana kita memiliki sensual (atau sensori motor) pikiran, eksternal rasional (atau ilmiah), dan rasional internal yang yang dihasilkan setelah reformasi. Di sebelah kiri, kita memiliki pola yang sama lagi, di langit. Ini adalah langit spiritual. Semua pembicaraan sejauh ini baru saja menggambarkan sembilan derajat (sebuah ennead) dalam dunia alam, dan tentu saja seluruh skema lagi dengan ennead (satu set sembilan kali lipat). Swedenborg masuk ke dalam rinci tentang apa yang terjadi dalam internal rasional yang…, dan proses panjang digambarkan dalam Kitab Kejadian adalah perkembangan dari Abraham sampai dengan Joseph dan seterusnya, yang mengatakan kepada kita rincian regenerasi rasional internal.

 

 

 

Interior Mind/Spirit

(love)

Exterior Mind (understanding) Natural World

(effects)

Celestial Internal Rational Formative level
1. 2. 3.
Spiritual Scientific

(External Rational)

Virtual Causes
4. Lagrangian 5. Virtual Field 6. Virtual Event
Spiritual-Natural Sensual Actual Effects
7. Energy 8. Tendency 9. Selection

 

Gambar 6: derajat Spiritual dan Mental dalam kaitannya dengan alam.

 

Kami belum tahu rincian derajat 1, 2 dan 3 yang membentuk apa yang disebut Swedenborg sebagai yang ‘ Ether Universal ‘ .

Seperti tabel ini derajat diskrit tidak benar-benar menjelaskan penyebab dan alasan merek , tetapi memberikan klasifikasi umum. Klasifikasi ini memungkinkan kita untuk masuk akal ketika fisika kuantum mengatakan kepada kita bahwa hal-hal di dunia ini tersebar bidang yang bertindak dengan cara bersatu untuk memberikan satu hasil yang sebenarnya. Ini karena itulah cara kita. Ketika manusia berpikir, kita memiliki niat yang berpikir tentang berbagai kemungkinan, dan kemudian bekerja pada salah satu dari mereka. Itulah apa hidup ini, dan apa yang kita lihat adalah bahwa alam fisik tidak berbeda. Hal ini tidak sadar akan dirinya sendiri dengan cara yang sama, tapi mengandung jenis yang sama proses, fungsi yang sama. Ada kesamaan fungsi, dan ini membantu kita untuk memahami fisika kuantum. Sebelumnya cocok alami untuk fisik, dan kita melihat bagaimana derajat ini semua bergabung bersama-sama.

Jadi, dalam kesimpulan, kita melihat bahwa ada korespondensi menyeluruh (korespondensi secara rinci serta keseluruhan struktur) antara fungsi di alam kuantum dan fungsi dalam pikiran internal dan eksternal. Tidak ada suatu persamaan substansi, tetapi pola fungsional di alam adalah sama dengan pola fungsional dalam pikiran internal dan lagi sebagai sama dengan pola fungsional dalam pikiran eksternal. Oleh karena itu, jika kita menaruh semua foto-foto bersama, kita belajar lebih banyak tentang ala , serta belajar lebih banyak tentang spirit.[20] Oleh karena itu, Ian Thompson berharap, bahwa kita mendapatkan gambaran yang lebih baik dari masing-masing, serta hubungan antara mereka.

 

 

 

 

  1. Spiritualitas, Kesadaran dan Quantum Physic

Perkembangan baru dalam upaya ilmiah yang manusia modern saat ini miliki mendapatkan kemajuan penting dan signifikan dalam pandangan inti dari ajaran agama di bidang fisika baru terutama di Quantum Physic Teori sebanyak apa yang rumit dalam sub-bab sebelumnya.

Wacana, penjelasan, deskripsi dan argumen tentang hubungan antara Quantum Fisika dan Spiritualitas (Kesadaran), sangat menarik disajikan dalam film semi – dokumenter berjudul What the Bleep Do We Know ? (juga ditulis Apa tнe # $ * ! Dө ωΣ ( k ) πow ! ? dan Apa # $ * ! Apakah Kita Tahu!?). Ini adalah sebuah film tahun 2004 yang menggabungkan gaya wawancara dokumenter, animasi grafis komputer, dan narasi yang mengemukakan hubungan spiritual antara fisika kuantum dan kesadaran. Plot mengikuti kisah seorang fotografer yang tuli; saat ia bertemu hambatan emosional dan eksistensial dalam hidupnya, dia datang untuk mempertimbangkan gagasan bahwa kesadaran individu dan kelompok dapat mempengaruhi dunia material. Pengalamannya yang ditawarkan oleh para pembuat film sebagai ilustrasi tesis film tentang fisika kuantum dan kesadaran. sinematik ini dirilis 2004 dari film ini diikuti oleh substansial yang berubah, versi DVD yang diperpanjang pada tahun 2006 .

Film Bleep dilahirkan dan produksinya didanai oleh William Arntz, yang ikut menyutradarai film bersama dengan Betsy Chasse dan Mark Vicente: semua orang-orang ini adalah mahasiswa Sekolah Pencerahan Ramtha[21]. Sebuah anggaran yang cukup rendah untuk produksi independen, itu dipromosikan menggunakan metode viral marketing dan dibuka di bioskop rumah seni di Amerika Serikat bagian barat, memenangkan beberapa penghargaan film independen sebelum dijemput oleh distributor utama [2] dan akhirnya laku lebih dari $ 10.000.000.[22] [23]

Film ini telah dikritik karena dianggap keliru dalam menyajikan ilmu pengetahuan [24] [25]  [26] [27],  yang mengandung pseudosains [28] [29], dan telah digambarkan sebagai mistisisme kuantum [30]

 

Synopsis Film

Difilmkan di Portland, Oregon, What the Bleep Do We Know menyajikan sudut pandang alam semesta fisik dan kehidupan manusia di dalamnya, dengan koneksi kepada neuroscience dan fisika kuantum. Beberapa ide dibahas dalam film ini adalah :

  • alam semesta ini terbaik dilihat sebagai dibangun dari pemikiran (atau ide) daripada dari substansi .
  • “ruang kosong ” sebenarnya tidak kosong .
  • Materi tidak solid. Elektron terdorong masuk dan keluar dari keberadaan dan tidak diketahui di mana mereka menghilang untuk apa .
  • Keyakinan tentang siapa seseorang dan apa yang nyata dibentuk oleh diri sendiri dan realitas seseorang.
  • Peptides yang diproduksi di otak dapat menyebabkan reaksi tubuh terhadap emosi .

Di segmen narasi film, Marlee Matlin menggambarkan Amanda, seorang fotografer tuli yang bertindak sebagai pemirsa avatar pada saat ia mengalami hidupnya dari perspektif baru yang mengejutkan dan berbeda.

Di segmen dokumenter film, yang diwawancarai membahas akar dan makna dari pengalaman Amanda. Komentar fokus terutama pada satu tema: Kita menciptakan realitas kita sendiri. Direktur, William Arntz, telah menjelaskan What the Bleep sebagai film untuk “metafisik kiri. “[31] ​​

 

Produksi Film

Film ini mencakup lebih dari tiga ratus efek visual jumlah shot yang sangat besar untuk sebuah film independen, film yang dibiayai swasta. Kendala anggaran yang membutuhkan upaya internasional. Pekerjaan terpecah antara yang berbasis di Toronto Mr X Inc, Lost Boys Studios di Vancouver, dan Efek Visual Atom di Cape Town, Afrika Selatan. [11]     Tim efek visual, yang dipimpin oleh pengawas efek visual Evan Jacobs, bekerja sama dengan pembuat film untuk membuat metafora visual yang akan menangkap esensi dari mata pelajaran teknis film dengan perhatian terhadap detail estetika. [11] [32]

Pernikahan yang difilmkan ini di Gereja Katolik St Patrick, yang dibangun pada tahun 1888 dan terletak di barat laut Portland. St Patrick bukanlah sebuah paroki Polandia, seperti yang ditunjukkan dalam film; secara historis telah menyediakan layanan untuk jemaat terutama Irlandia. Beberapa wawancara yang difilmkan di University of Washington di Seattle. Paling menonjol, grand tangga dan ruang baca dari Suzzallo Library, quad, dan bagian depan dari Denny Balai digunakan sebagai lokasi wawancara.

Menurut Publishers Weekly, film itu salah satu hits sleeper 2004, sebagai “Kata-kata mulut dan pemasaran strategis yang disimpannya di bioskop selama satu tahun penuh.” Artikel tersebut menyatakan bahwa pendapatan kotor melebihi $ 10 juta, yang disebut sebagai tidak buruk untuk sebuah film dokumenter dengan anggaran rendah, dan bahwa rilis DVD mencapai bahkan sukses lebih signifikan dengan lebih dari satu juta unit dikapalkan dalam enam bulan pertama setelah rilis pada bulan Maret tahun 2005.[33]

Dalam artikel Publishers Weekly, humas of New Page Books Linda Rienecker mengatakan bahwa ia melihat kesuksesan film sebagai bagian dari fenomena yang lebih luas, yang menyatakan “Sebagian besar penduduk mencari koneksi spiritual, dan mereka memiliki seluruh dunia untuk memilihnya dari sekarang”. Penulis Barrie Dolnick menambahkan bahwa “orang tidak ingin belajar bagaimana untuk melakukan satu hal . Mereka akan mengambil sedikit Buddhisme  sedikit veganism , sedikit astrologi … Mereka datang ke pasar yang lapar untuk arahan, tetapi mereka tidak ingin beberapa orang yang mengaku memiliki semua jawaban. mereka ingin saran, bukan formula. “Artikel yang sama mengutip Bill Pfau, Advertising Manager Tradisi batin, yang mengatakan “Semakin banyak ide-ide dari masyarakat New Age telah menjadi diterima ke mainstream.”

Kritikus film menawarkan tinjauan yang beragam seperti yang terlihat di situs review film Rotten Tomatoes, di mana ia diklasifikasikan sebagai “Rotten“, dengan nilai rata-rata 4.6/10 berdasarkan 74 ulasan [34]. Dalam ulasannya film , Dave Kehr dari New York Times menggambarkan “transisi dari mekanika kuantum untuk terapi kognitif ” sebagai “masuk akal”, tetapi juga menyatakan bahwa “lompatan berikutnya – dari terapi kognitif menjadi besar, keyakinan kabur spiritual — tidak secara efektif dilaksanakan. Tiba-tiba orang-orang yang berbicara tentang partikel subatomik yang menyinggung alam semesta alternatif dan kekuatan kosmik, yang semuanya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembuatan karakter Ms Matlin yang merasa lebih baik tentang pahanya.”[35]

 

Reaksi Masyarakat New Age (Zaman Baru)

What the Bleep Do We Know ? telah digambarkan sebagai “semacam jawaban New Age kepada The Passion of the Christ dan film lain yang mematuhi ajaran agama tradisional.” [10] Ia menawarkan spiritualitas alternatif bila dilihat karakteristik filosofi New Age, termasuk kritik dari nilai-nilai moral agama tradisional. Film ini diterima dengan baik di festival film di mana penganut New Age adalah demografis yang kuat, misalnya Sedona, Arizona.[36] [37]

 

Reaksi Kalangan Akademik terhadap Film Ini

Beberapa ilmuwan yang telah meninjau What the Bleep Do We Know? telah menjelaskan pernyataan yang berbeda yang dibuat dalam film sebagai pseudosains[38]. Di antara konsep-konsep dalam film yang telah ditantang adalah pernyataan bahwa molekul air bisa dipengaruhi oleh pikiran (seperti yang dipopulerkan oleh Masaru Emoto[39]), bahwa meditasi dapat mengurangi tingkat kejahatan kekerasan,[40] dan bahwa fisika kuantum menyiratkan bahwa “kesadaran adalah dasar dari semua yang ada.” Film ini juga dibahas dalam sebuah surat yang diterbitkan dalam jurnal Physics Todays yang menantang bagaimana fisika yang diajarkan, mengatakan pengajaran gagal untuk “mengekspos misteri fisika yang telah mengalami [dan] mengungkapkan batas-batas pemahaman kita.” Dalam surat tersebut, para penulis menulis “film ini menggambarkan prinsip ketidakpastian dengan bola basket memantul yang berada di beberapa tempat sekaligus. Tidak ada yang salah dengan itu. Ini diakui sebagai pedagogis berlebihan. Tapi film ini secara bertahap bergerak ke ‘wawasan’ kuantum yang memimpin wanita untuk membuang obat antidepresan dia, untuk penyaluran kuantum Ramth, dewa Atlantis 35.000 tahun, dan omong kosong yang lebih besar. “ia pergi dengan mengatakan bahwa” Kebanyakan orang awam tidak bisa mengatakan di mana ujung fisika kuantum dan omong kosong kuantum dimulai, dan banyak hal yang rentan untuk menjadi sesat,” dan bahwa “seorang mahasiswa fisika mungkin tidak dapat meyakinkan menghadapi ekstrapolasi mekanika kuantum yang tak dibenarkan,” kelemahan yang penulis atributkan kepada pengajaran mekanika kuantum, saat di mana “kita diam-diam menyangkal misteri fisika yang  telah ditemukan.”[41]

Richard Dawkins, seorang evolusionis Baru – Darwin, menyatakan bahwa “para penulis tampak ragu-ragu apakah tema mereka adalah teori kuantum atau kesadaran. Keduanya memang misterius, dan misteri asli mereka perlu tidak ada hype dengan mana film ini tanpa henti dan ribut menggempur kita” menyimpulkan bahwa film ini adalah “omong kosong”. Profesor Clive Greated menulis bahwa “berpikir tentang neurologi dan kecanduan akan dibahas dalam beberapa detail tapi, sayangnya, referensi awal dalam film fisika kuantum inib tidak ditindaklanjuti, mengarah ke pesan yang membingungkan”. Meskipun memberi peringatan, ia menyarankan agar orang-orang melihat film, menyatakan, “Saya berharap ini berkembang menjadi sebuah film kultus di Inggris seperti yang telah di Amerika Serikat. Sains dan teknik yang penting untuk masa depan kita, dan apa pun yang melibatkan masyarakat hanya dapat menjadi hal yang baik.” Simon Singh menyebutnya pseudosains dan mengatakan saran “bahwa jika mengamati perubahan struktur molekul air, dan jika kita adalah 90% air, maka dengan mengamati diri kita dapat mengubah pada tingkat dasar melalui hukum fisika kuantum ” adalah ” omong kosong konyol.”   Menurut João Magueijo, profesor fisika teoritis di Imperial College, film sengaja salah mengutip ilmu pengetahuan. [6 ]  Ulasan The American Chemical Society mengkritik film sebagai “docudrama ilmuan”, mengatakan “Di antara pernyataan yang lebih aneh adalah bahwa orang dapat melakukan perjalanan mundur dalam waktu, dan materi yang benar-benar berpikir. ”

bahwa Tema sentral film ini – mekanika kuantum, menunjukkan bahwa pengamat sadar dapat mempengaruhi realitas fisik juga telah dibantah oleh Bernie Hobbs, seorang penulis ilmu pengetahuan dengan ABC Sains online. Hobbs menjelaskan, “Efek pengamat fisika kuantum bukan tentang orang atau realitas. Ini berasal dari Prinsip Ketidakpastian Heisenberg, dan ini tentang keterbatasan yang mencoba untuk mengukur posisi dan momentum dari partikel subatomik … ini hanya berlaku untuk sub-partikel – atom – . . batu tidak perlu Anda bertemu itu ada , ini ada partikel sub – atom yang membentuk atom yang membentuk batu itu ada juga”. Hobbs juga membahas percobaan Hagelin dengan Meditasi Transendental dan tingkat Washington DC kejahatan kekerasan, mengatakan bahwa “jumlah pembunuhan benar-benar pergi. “Hobbs juga membantah penggunaan film dari mitos sepuluh persen”.

David Albert, seorang ahli fisika yang muncul dalam film tersebut, menuduh para pembuat film selektif mengedit wawancara untuk membuatnya tampak bahwa ia mendukung tesis film bahwa mekanika kuantum terkait dengan kesadaran. Dia mengatakan dia “sangat simpatik terhadap upaya menghubungkan mekanika kuantum dengan kesadaran. ”

Dalam film itu, selama diskusi tentang pengaruh pengalaman persepsi, Candace Pert mencatat cerita, yang katanya dia percaya adalah benar, penduduk asli Amerika tidak mampu melihat kapal Columbus karena mereka berada di luar pengalaman mereka. Menurut sebuah artikel di Fortean Times, oleh David Hambling, asal-usul cerita ini mungkin melibatkan pelayaran dari Kapten James Cook, bukan Columbus, dan akun yang berkaitan dengan sejarawan Robert Hughes yang mengatakan kapal Cook adalah” … kompleks dan asing untuk menentang pemahaman pribumi”. Hambling mengatakan ada kemungkinan bahwa kedua akun Hughes dan kisah yang diceritakan oleh Pert sebagai sikap berlebihan dari catatan yang ditinggalkan oleh Captain Cook dan ahli botani Joseph Banks. Sejarawan percaya bahwa penduduk asli Amerika cenderung melihat kapal-kapal tetapi mengabaikan mereka sebagai berpose tidak bahaya[42].

Skeptis seperti James Randi menggambarkan film itu sebagai “docudrama fantasi” dan “Sebuah contoh maraknya pelecehan oleh penipu dan sekte.” [43]   Komite untuk Skeptical Inquiry menolak sebagai “campur aduk semua jenis omong kosong gila,” di mana “ilmu [adalah] terdistorsi dan sensasional.”[44] Pengulas BBC menggambarkannya sebagai “sebuah film dokumenter ditujukan untuk benar-benar mudah tertipu.”[45]

Wartawan John Gorenfeld, menulis di Salon, mencatat bahwa film tiga direktur adalah mahasiswa Sekolah Pencerahan Ramtha, yang ia gambarkan sebagai telah disebut “kultus.”[46]

 

Adaptasi Buku dan Sekuel Film

Pada pertengahan 2005 , para pembuat film bekerja dengan HCI Books untuk memperluas tema film dalam sebuah buku berjudul What the Bleep Do We Know ! ? – Menemukan Kemungkinan Realitas Endless Sehari-hari Anda. HCI presiden, Peter Vegso, menyatakan dalam kaitannya dengan perusahaannya yang menerbitkan buku, ia percaya bahwa “What the Bleep adalah lompatan kuantum dalam dunia New Age, “dan” dengan mengawinkan  ilmu pengetahuan dan spiritualitas, itu adalah dasar pemikiran masa depan. ” [4]

Pada tanggal 1 Agustus, 2006 What The BLEEP – Down the Rabbit Hole, Quantum Edition multi- disc DVD set dirilis , mengandung dua versi diperpanjang What the Bleep Do We Know, dengan lebih dari 15 jam dari material pada 6 DVD sisi! ?

 

 

Individu Menarik yang Terlibat dalam Film Semi-Dokumenter ini

Film ini menampilkan beberapa orang yang diwawancarai untuk bagian dokumenter, termasuk:

  • Amit Goswami , yang muncul dalam majalah What is, menulis buku The Self- Aware Universe: How Consciousness Creates the Material World (ISBN 0-87477-798-4 ), telah bekerja dengan Deepak Chopra dan digunakan oleh Institut Ilmu Noetic [ 23 ]
  • John Hagelin, seorang fisikawan di Maharishi University of Management , direktur MUM Institute for Science, Teknolog, dan Kebijakan Publik, dan tiga kali calon presiden dari Partai Meditasi Transendental -linked Natural Law. [24]
  • Stuart Hameroff, ahli anestesi, penulis, dan direktur dari Pusat Studi Kesadaran di Universitas Arizona, yang bekerja dengan Roger Penrose, pada teori kuantum spekulatif kesadaran,
  • JZ Knight, seorang guru spiritual yang juga diidentifikasi dalam bagian narasi sebagai semangat “Ramtha” bahwa Knight diduga menyalurkan (Channeling)
  • Andrew Newberg B., asisten profesor radiologi di Rumah Sakit Universitas Pennsylvania, dan dokter di kedokteran nuklir, yang ikut menulis buku, Why God Won’t Go Away: Brain Science & the Biology of Belief (ISBN 0-345-44034 – X),
  • Candace Pert, seorang neuroscientist, yang menemukan situs ikatan selular untuk endorfin di otak, dan pada tahun 1977 menulis buku Molecules of Emotion.
  • Fred Alan Wolf, seorang fisikawan independen, yang baru-baru ini menulis The Yoga of Time Travel: How the Mind Can Defeat Time, [25] dan ditampilkan dalam film dokumenter Spirit Space.
  • David Alber, seorang filsuf fisika dan profesor di Columbia University, yang menurut sebuah artikel Popular Science, adalah” marah pada produk akhir, “karena para pembuat film mewawancarainya tentang mekanika kuantum yang tidak terkait dengan kesadaran atau spiritualitas, dan kemudian diedit materi sedemikian rupa bahwa ia merasa salah mengartikan pandangannya. [17]

Orang lain yang diwawancarai dalam film ini termasuk Joe Dispenza, chiropractor, penulis, dan pemuja Ramtha Sekolah Pencerahan; [26] Michael Ledwith, penulis dan mantan profesor teologi di National University of Ireland, Maynooth; Daniel Monti, dokter dan direktur Program Pengobatan Pikiran – Tubuh di Thomas Jefferson University; Jeffrey Satinover, psikiater, penulis dan profesor; dan William Tiller, Profesor Emeritus of Material Science and Engineering di Stanford University, dan dipekerjakan oleh Institut of Noetic Science. [23]

 

 

[1] An New Worldview, http://www.centerfor sacredsciences.org,  accessed at October  2010

 

[2] This Article adopted from a talk given by Ian Thompson, Physics Department, and University of Surrey, U.K. to the Swedenborg Scientific Association, 20 April 2002. Quoted From http://www.ianthompson.org/papers/Thompson_Article–New_Philosophy_July-December_2002.pdf, accessed at   August..,  2010

 

[3] Emanuel Swedenborg (1688-1772) was a Swedish philosopher and scientist who, at 56, had a spiritual awakening and wrote numerous books on his theological views and related topics. He advocated a version of Christianity where works count as much as faith, with the trinity existing in Jesus, instead of three separate entities. Swedenborg derived inspiration from dreams and visions, and claimed to be able to visit heaven and hell at will. His works were widely read after his death and highly regarded by poets, writers and mystics such as Blake, Baudelaire, Strindberg, Balzac, Yeats, Jung, and William James. The following electronic texts have been converted automatically for sacred-texts by a volunteer. Swedenborg’s writings are indexed by paragraph number. Each of the texts have been arbitrarily separated into 50-paragraph files. (http://www.sacred-texts.com/swd/index.htm).

See also: http://en.wikipedia.org/wiki/The_New_Church, http://en.wikipedia.org/wiki/Emanuel_Swedenborg

 

[4] Mesmer, Swedenborg and Quantum Physics  In the late twentieth century, Mesmer, Swedenborg and Quantum Physics converge in the New Age by Catherine L. Albanese, This article is excerpted, with adaptations, from her essay “The Magical Staff: Quantum Healing in the New Age” and reprinted from Perspectives on the New Age edited by James R. Lewis and J. Gordon Melton by permission of the State University of New York Press. © 1992.

http://gvanv.com/compass/arch/v1402/albanese.html

[5] See Bryce S DeWitt, R Neill Graham eds The many-worlds Interpretation of Quantum Mechanics, Princeton University Press, 1973.

[6] E. Wigner, ‘Remarks on the Mind-Body Question’, pp. 284 – 302 in The Scientist Speculates, I.J. Good (ed) Basic Books, N.Y., 1962

[7] H. Stapp, Mind, Matter and Quantum Mechanics, Springer-Verlag, 1993, see also http://www-physics.lbl.gov/~stapp/stappfiles.html

[8] S. Malin, Nature Loves to Hide, Oxford, 2001.

[9] C.J.S. Clarke, Reality Through the Looking Glass. Floris, 1995.

[10] E.H. Walker, The Physics of Consciousness: The Quantum Mind and the Meaning of Life, Perseus, 2000.

[11] In the last two decades, physics has explored the possibility of strings or branes in place of particles. These extensions to one or two dimensional objects do not solve the selection problem

[12] James Jeans, The Mysterious Universe, Macmillan, 1930.

[13] Danah Zohar, The Quantum Self, Bloomsbury, 1990

[14] Hugo Lj. Odhner, The Transition from Human to Divine Philosophy, The New Philosophy 77 (1974) 43, available at www.swedenborgdigitallibrary.org/SR/hlo74.htm

[15] Odhner, ibid

[16] Ian Thompson have heard about the possible replacement of the word ‘ether’ by ‘vacuum’, but that would make a nonsense of this paragraph. If you replace the appearances of ‘ether’ here by the word ‘vacuum’, you get something very strange

 

[17] The slides for Ian Thompson talk Physics of the wave function are at www.generativescience.org/talks/wfdesc/index.htm

 

[18] For a preliminary discussion, see I.J. Thompson, The Consistency of Physical Law With Divine Immanence, Science & Christian Belief, 5 (1993) 1936, http://www.theisticscience.org/theology/pldi.html

 

[19] H. Romijn, Are Virtual Photons the Elementary Carriers of Consciousness, J. Consc. Stud. 9 (2002) 61

[20] This is part of what Leon James and I call “Theistic Science”: see www.TheisticScience.org

[21] Yahr, Harriette (Sept. 9, 2004). Let’s get metaphysicalSalon.com. Retrieved 2008-02-21

[22] Tom Huston, “Taking the Quantum Leap… Too Far?“, What is Enlightenment? Magazine. Retrieved January 25, 2008.

[23] http://www.einsteinyear.org/bleep/ einstein year, What the Bleep do we Know. Retrieved December 28, 2007.

[24] Ron Hogan (9/5/2005). “New Age: What the Bleep? Categories conflate, confound, connect”Publishers Weekly. Retrieved 2007-12-28

[25] Kuttner, Fred; Rosenblum, Bruce (November 2006). “Teaching physics mysteries versus pseudoscience”Physics Today (American Institute of Physics59 (11): 14. doi:10.1063/ 1.2435631.}

[26] “The minds boggle”. The Guardian Unlimited

[27] Wilson, Elizabeth (2005-01-13). “What the Bleep Do We Know?!”American Chemical Society. Retrieved 2007-12-19.

[28] Kuttner, Fred; Rosenblum, Bruce (November 2006). “Teaching physics mysteries versus pseudoscience”Physics Today (American Institute of Physics59 (11): 14. doi: 10.1063/1.2435631.}

[29] “The minds boggle”. The Guardian Unlimited

[30] “The minds boggle”. The Guardian Unlimited

[31] Kehr, Dave“‘Bleep’ Film Challenges Traditional Religion, Attracts Following”. beliefnet.com. Retrieved 2007-12-30.

[32] “Cinefex article detailing the visual effects for the film”.

[33] Ron Hogan (9/5/2005). New Age: What the Bleep? Categories conflate, confound, connect”Publishers Weekly. Retrieved 2007-12-28.

[34] Ron Hogan (9/5/2005). New Age: What the Bleep? Categories conflate, confound, connect”Publishers Weekly. Retrieved 2007-12-28.

[35] Kehr, Dave (2004-09-10). “A Lesson in Harnessing Good Vibes”New York Times. Retrieved 2008-01-06.

[36] Kehr, Dave“‘Bleep’ Film Challenges Traditional Religion, Attracts Following”. beliefnet.com. Retrieved 2007-12-30.

[37] Sedona Film Festival

[38] [38] Mone, Gregory (October 2004). “Cult Science Dressing Up Mysticism as Quantum Physics”Popular Science. Retrieved 2008-02-17.

[39]  http://www.einsteinyear.org/bleep/ einstein year, What the Bleep do we Know. Retrieved December 28, 2007.

[40] Wilson, Elizabeth (2005-01-13). “What the Bleep Do We Know?!”American Chemical Society. Retrieved 2007-12-19.

[41] Kuttner, Fred; Rosenblum, Bruce (November 2006). “Teaching physics mysteries versus pseudoscience”Physics Today (American Institute of Physics59 (11): 14. doi:10.1063/ 1.2435631.}

 

[42] Fortean Times

[43] 2004 Pigasus awards James Randi Educational Foundation

[44] Review by Eric Scerri of the Committee for Skeptical Inquiry

[45] Review at BBC Movies

[46] Gorenfeld, John (2004-09-16). “”Bleep” of faith”Salon. Retrieved 2006-11-29.

 

 

 

2 comments on “KETIKA SAINS & SPIRITUALITAS MENJELASKAN TENTANG DUNIA GAIB

  1. thanks infonya, bisa jg yah mereka dikaitkan

  2. Alam semesta yang membentang ini terdiri atas trilyunan galaksi, manusia berusaha untuk mengetahui dengan baik. Tetapi alam gaib itu juga ada, hal ini dapat disimak dari banyak pengalaman orang-orang yang tanpa sengaja memasukinya. Misalnya Prof.Gatot Kartono yang pulang dari Asem Bagus ke Probolinggo hanya kurang 10 menit. Ia juga kaget perasaan naik bus diberi karcis. Tetapi dI Terminal Probolinggo mau pindah ke Malang bus yang dia tumpangi kok tidak ada? Kejadian tahun 1988. Makanya kami bingung….mohon saran dan pendapat..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: