Tinggalkan komentar

Di Nusantara pun Turun Nabi Allah ??

https://pustakaindonesia.org/yppi/2016/02/25/menacham-ali-dan-keahlian-langka-membaca-naskah-naskah-kuno/

MENACHAM ALI DAN KEAHLIAN LANGKA MEMBACA NASKAH-NASKAH KUNO

YPPI- Tak banyak orang yang mau menekuni dan tenggelam dalam naskah-naskah kuno. Menachem Ali melakukan segalanya. Mencari, mengkoleksi dan mengkaji. Dedikasinya berbuah prestasi.

TIDAK ada yang lebih mengasyikkan bagi Menachem Ali selain menggunakan waktu kosongnya dengan mengkaji naskah-naskah lawas. Hampir di setiap sudut ruang tamu rumahnya berjajar buku dan membuat naskah lama. Ali memang dosen filologi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Secara sederhana , filologi bisa disebut sebagai ilmu mengenai kajian manuskrip kuno. Tapi, kerjanya tak sesederhana itu. Seorang filolog sejatinya berada pada lintasan tiga ilmu. Yakni sejarah, kesustraan, hingga linguistic.

Ali adalah ahli filolog pesantren atau studi semit. Karena itu, dia menguasai 10 bahasa. “Secara aktif, saya menggunakan tiga bahasa. Yakni Ibrani, Inggris dan Arab. Yang lain hanya pasif,” tuturnya. Ali memang dituntut bisa casciscus dalam berbagai “lidah”. Dan, itu tidak mudah. Namun, semua harus dilakoni lantaran dia seorang filolog. Setidaknya, Ali harus paham bahasa-bahasa kuno. Di antaranya, Sansekerta, Jawa kuno, Melayu lama, hingga Jepang dan Prancis.

Apa resep belajar banyak bahasa itu? Terlebih, di keluarganya belum ada seorang pun ahli bahasa atau polyglot (orang yang menguasai banyak bahasa). Ali menjawab, rumusnya simple. “Belajar sendiri dan banyak berdiskusi dengan ahli bahasa tersebut,” katanya.

Pria dua anak itu mengawali karir sebagai pembaca naskah tua pada awal 1998. Itu saat dia menjadi dosen di Unair. Ali mengumpulkan beberapa manuskrip. “Saya mulai kumpulkan pada 2002. Naskah tua yang pernah saya jumpai lebih dari 10. Mungkin 20 naskah,” ujarnya.

Tentu, cara hunting-nya beragam. Dia membeli ke pasar loak hingga dating ke pelosok-pelosok desa. Focus Ali adalah mencari naskah lama berhuruf pegon.

Lihat Naskah Majapahit Dibeli Negara Lain

Itu modifikasi huruf Arab untuk tulisan berbahasa Jawa. Banyak orang yang menyebutnya sebagai tulisan Arab –Jawa. “Di rumah ada 20 manuskrip dengan tulisan pegon,” kata Ali. Kecintaan terhadap naskah tua membuat dirinya telah berkunjung ke beberapa Negara sebagai delegasi ahli bahasa dari Indonesia.

Dari lima benua, tinggal Australia dan Amerika yang belum disambangi Ali. Karya-karyanya yang berupa kajian naskah lama pun telah masuk di jagat ilmiah nasional. Ada enam jurnal yang telah go international. “Empat jurnal menulis bersama akademis internasional dan dua hasil tulisan sendiri yang diterbitkan oleh luar negeri,” jelasnya.

Menacham Ali dan Keahlian Langka Membaca Naskah-Naskah Kuno005Pada 2013-2014, Ali mendapat kesempatan menjadi dosen tamu dari Indonesia untuk Maroko. Dia bekerja selama setahun di Faculte des Letres et des Science Humaines, Universite Mohammed V, Agdal-Rabat, Maroko. “Disana, saya juga meriset manuskrip terkait perjumpaan Islam dan Yahudi. Seru lah, satu tahun di sana,” tuturnya.

Di Maroko, lelaki kelahiran Surabaya pada 1972 itu meraih prestasi. Dia diganjar sebagai doctor ahli bahasa oleh Kerajaan Maroko. Penghargaan itu setara bagi ahli bahasa yang sudah berpendidikan S-3. Saat itu, suami Dewi Utami tersebut adalah satu-satunya orang dari Indonesia yang mendapat penghargaan itu. Awalnya tidak menyangka mendapat penghargaan sebagai ahli bahasa atau doctor bahasa. “Mungkin supaya saya didorong untuk lanjut S-3,” terang pria yang gemar berolahraga lari tersebut.

Dosen lulusan S-2 The Baptist Theological Seminary Semarang tersebut mengatakan, tidak banyak orang Indonesia yang mengetahui betapa besar manfaat ketika mempelajari naskah –naskah lama. Menurut dia, Indonesia adalah gudang naskah –naskah lama. Menurut dia, Indonesia adalah gudang naskah-naskah lama. Dari naskah lama tersebut, dapat dipelajari banyak hal. Salah satunya sejarah Indonesia.

Ali menyatakan, Jawa Timur adalah satu-satunya provinsi yang memiliki banyak naskah tua peninggalan Majapahit. “Tahun lalu saya melihat naskah itu dibeli oleh pihak asing, yakni pemerintah Brunai Darussalam,” jelasnya.

Ayah Da Vinci Cheidar P. Mizrachi dan Riukah Calista Mizrachi itu bermimpi kelak Indonesia akan menjadi pusat studi literasi naskah lama. Dia menyadari jalan tersebut tak mudah. Bagi Ali, naskah lama bukan sekedar tulisan usang yang tidak punya manfaat. “Naskah akan berbicara banyak hal bila kita kaji,” kata Ali.

Ada satu pengalaman yang tertarik dan membuat Ali tidak dapat melupakannya. Saat berkunjung ke Maroko, di sana dia sempat menemukan satu bahasa yang pernah ada pada masa Nabi Adam. “Nama bahasanya itu bahasa Amazigh,” ujarnya.

Kemudian, di Jombang, Ali juga sempat mendapat pengalaman luar biasa. Dia menemukan satu naskah yang ditulis di sebuah daun lontar dan ada tulisan dengan huruf kakawi. Naskah itu dianggap aneh, unik. “Seharusnya, daun lontar itu pasangannya sama huruf pegon. Karena daun lontar itu munculnya pas zaman Islam. Huruf kakawi munculnya di zaman Hindu- Budha,” terangnya.

Tahun ini dia sedang mempersiapkan pendidikan untuk masuk ke jenjang S-3. “Saya memilih di University of Brunei Darussalam,” jelasnya. Di kampus itu ada jurusan filologi yang digandrunginya. Sambil menunggu kelengkapan berkas studi, Ali masih disibukkan dengan mengajar di Universitas Airlangga. Ketika tidak ada jam mengajar di kampus, Ali melancong ke beberapa tempat penjualan buku bekas. Baik di Surabaya maupun di luar kota. “saya paling sering ke Jogyakarta. Iseng-iseng cari buku-buku lama,” katanya.

Dia tidak ragu merogoh koceknya lebih dalam hanya untuk mendapatkan sebuah buku lama. “Paling jauh saya beli buku di Maroko pas 2014,” jelasnya. Berbeda dengan buku, manuskrip didapatkannya tidak dengan melancong ke pasar buku bekas. Naskah-naskah lama itu didapat dengan terjun langsung kerumah-rumah warga di pedesaan.

Memang, kecintaan terhadap tulisan tak boleh luntur. Terlebih, tulisan itulah satu-satunya hal yang membuat orang melompat dari Zaman prasejarah ke era sejarah. Nya

(Sumber dari Jawa Pos, 25/2/2016, Hal 29)

 

Link Terkait:

https://ahmadsamantho.wordpress.com/2016/08/11/asal-peradaban-india-dari-indonesia-sundaland-kuno-bukan-dari-bangsa-arya-di-utara/

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Berbagi Ide, Saling Cinta

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: