Tinggalkan komentar

TAUHID IALAH SATU KEMANUSIAAN. 

Banyak pendakwah, filsuf, mistikus, teolog maupun sarjana agama membingungkan dan atau bahkan keblinger dalam menjelaskan atau merumuskan tauhid atau keesaan Tuhan. Kata-kata yang mereka tuliskan atau pun mulut mereka berbusa-busa mengatakan keesaan Tuhan. Lalu, selanjutnya bagaimana kalau sudah tahu Tuhan itu esa? Pernah bertemu Tuhan? Pernah berbicara dengan Tuhan? Memahami Tuhan dengan menjelaskannya?

Prof. Dr. Pdt. Thomas McElwain atau Syaikh Ali Haydar merumuskan ajaran Sayyid Haji Bektash Wali (wafat sekitar 1300 M) bahwa TAUHID IALAH SATU KEMANUSIAAN. Tentu saja, kata-kata “tauhid ialah satu kemanusiaan” merupakan parafrase saya dari ajaran Thomas McElwain dalam mahakaryanya terjemahan berima Alkitab (termasuk Alquran) The Beloved and I.

Ketika Anda membaca tulisan saya ini, renungkan baik-baik: apakah gawai yang Anda gunakan ialah buatan seorang yang beragama sama dengan Anda?

Sekarang pergilah ke meja makan. Marilah mulai makan sepiring nasi. Apakah Anda ingat ketika Anda makan nasi di piring Anda berapa banyak orang telah berjasa mengantarkan nasi itu sampai ke mulut Anda: mulai dari petani, pencipta mesin penggiling padi, supir truk pembawa beras, penemu benih padi, pembuat sendok dan piring, pembungkus karung, pencipta penanak nasi, penemu listrik atau penemu kompor gas, sampai orang yang memasak nasi itu untuk Anda dan manusia ribuan tahun lalu yang entah siapa yang menemukan budidaya padi. Apakah mereka semua seagama, sebangsa, segender dan sealiran keyakinan dengan Anda?

Itu baru sebutir nasi yang Anda telan! Kita belum bicara lauk-pauknya, buahnya, pencuci mulutnya, maupun jika Anda harus minum suplemen tambahan atau obat-obatan seperti saya. Sejak tahun 2014 saya harus mengkonsumsi corticosteroid yang ditemukan oleh seorang Katholik Amerika bernama Arthur Nobile (wafat di Virginia pada 2004). Jika Anda seorang yang hidup dengan autoimun dan selama ini bertahan hidup dengan corticosteroid, berterimakasihlah padanya dan berhentilah berpikir bahwa Nobile tidak akan masuk surga hanya karena dia berbeda agama dengan Anda.

Yunus Emre – seorang penyair proto-Bektashi – mengkritik salah satu puisi Jalaluddin Rumi sebagai berikut. “Jika saya menjadi Anda, saya tidak akan bertele-tele mengatakan tentang DIA. Saya akan langsung menulisnya demikian: AKU menjadi daging dan diberi kulit.”

Yunus Emre ingin menegaskan ajaran Sayyid Bektash Wali bahwa tauhid ialah satu kemanusiaan, bahwa kita tidak perlu bertele-tele membahas keesaan Tuhan, tetapi Tuhan Yang Maha Esa itu telah menjelma sebagai manusia. Karena itulah dalam pelbagai kebudayaan, manusia disebut sebagai wakil Tuhan, bayang-bayang Tuhan di muka bumi, dewa (tuan), dan lain-lain. Manusia-lah yang mengejawantahkan hakikat Tuhan dalam hal sesederhana menanam padi dan menanak nasi.

Seorang manusia modern akan sangat sulit bertahan hidup sendirian, menyintas bertahun-tahun dengan menyediakan segala makanan dan minuman bagi dirinya sendiri. Jika itu terjadi, mula-mula, ia harus menyediakannya seperti seorang manusia bagi dirinya sendiri, bukan seperti seorang hewan, apalagi seperti tumbuhan. Kemudian, ia harus bergantung kepada tanaman atau hewan untuk tetap dapat hidup. Artinya, sekarang tauhid berarti juga satu kemakhlukan. Bahkan, jika ia berpuasa 40 hari 40 malam, ia harus tetap menghirup udara. Gas-gas, dan atom-atom serta molekul-molekul dalam udara itu semuanya ialah makhluk-makhluk. Tetapi, setelah bertahun-tahun, manusia yang hidup sendirian itu pasti akan merasa sangat kesepian.

Jika Anda bersyukur kepada Tuhan YME apakah Anda mengingat bagaimana butir nasi itu sampai ke mulut Anda? Bagaimana gandum ditemukan oleh manusia yang memuja dewa-dewi ribuan tahun lalu, dan sekarang Anda menikmati sepotong roti dengan congkaknya menghina mereka sebagai kafir? Bagaimana obat pusing atau obat maag itu ditemukan oleh seorang ilmuwan dari suatu agama yang mungkin Anda sebut sesat atau kafir? Bagaimana jarum diciptakan untuk menjahit pakaian syar’i Anda atau alat tenun diciptakan untuk membuat sarung Anda untuk pergi beribadah? Kebun-kebun kapas untuk membuat kain katun atau domba-domba untuk menghasilkan wol, atau di pabrik-pabrik kain sintetis, pernahkah Anda berpikir bahwa buruh-buruhnya berbeda agama, bangsa dan keyakinan dengan Anda?

Anda percaya hukum-hukum adat dan hukum-hukum agama yang melarang pernikahan berbeda agama, atau pernikahan berbeda kasta, atau pernikahan berbeda suku, sebagai hukum yang digariskan Tuhan yang kata Anda itu Maha Esa, yang berarti yang menciptakan semua manusia di dunia ini?

Pernahkah Anda merenungkan mt-DNA yang ada pada tubuh Anda mengandung mt-DNA leluhur ratusan bahkan ribuan tahun lalu yang sama sekali berbeda agama dan bahkan berbeda warna kulit dengan agama dan rupa fisik Anda? Semuanya berujung kepada seorang perempuan dan seorang pria di Afrika, yang ribuan tahun lalu tidak pergi ke gereja atau ke masjid, atau tidak kenal siapa Siddharta Gautama dan Khrisna.

Ketika Anda bersujud di atas sajadah, pernahkah Anda berpikir bagaimana sajadah itu dihasilkan? Siapa orang pertama yang menciptakan kubah gereja atau mesjid Anda? Siapa penemu pengeras suara dan kertas kitab suci serta mesin cetaknya? Bagaimana aksara pertama kali ditemukan?

Kenapa Anda ini! Sibuk memberi makan ego sektarian Anda, mengkafirkan si anu dan si fulan, tetapi bahkan sebutir nasi pun Anda bergantung dengan ribuan manusia yang tidak Anda kenal dan berbeda keyakinan dengan Anda!

Setiap orang dari kita manusia oleh karena satu unsur DNA yang sama, berpotensi untuk menderita suatu jenis kanker, atau pun suatu jenis autoimun. Sel-sel kanker atau imunitas yang berlebihan atau yang menurun akan mentertawakan Anda jika mengira karena agama Anda, Anda akan terhindar dari penyakit! Virus dan bakteri tidak mengenal kasta, agama, bangsa atau gender Anda. Segelas air jika diminum seteguk demi seteguk bergantian oleh lima orang berbeda agama, kandungannya tidaklah berubah hanya karena diminum oleh orang-orang yang berbeda agama!

Sadarlah, bahwa tauhid ialah satu kemanusiaan. Bahkan tauhid ialah satu kemakhlukan.

Alkisah lima sahabat bertemu dan memiliki sekeping emas untuk membeli sebotol minuman yang menurut mereka paling enak. Mereka orang Cina, Jawa, India, Arab dan Inggris, masing-masing berdebat meminta minuman yang namanya berbeda-beda. Maka, mereka setuju apapun yang dibelikan si orang Jawa dengan sekeping emas yang mereka miliki, mereka akan meminumnya. Ketika melihat si Jawa membeli sebotol anggur, mereka tertawa dan bersukacita karena ternyata itu minuman yang sama-sama mereka maksudkan!

Begitulah orang Timur Tengah menyebut nabi dan rasul, orang India dan Cina menyebut dewa dan dewi, orang Jawa menyebut tuan dan gusti, yang lain menyebutnya buddha dan avatar, atau ada yang menyebutnya roh, leluhur, dan lain-lainnya. Dan, kalian bertengkar mengatakan agama kalian yang paling benar karena menyembah Allah dan bukan menyembah YHWH. Dan, kalian bertengkar mengatakan kitab suci agama kalian yang paling mengandung kebenaran, karena yang satu mengatakan “Jangan membunuh” sedangkan yang lain mengatakan, “Do not murder.”

Sebuah kapal tenggelam di Danau Toba, dan sebuah pesawat jatuh di lautan Pasifik. Penumpangnya dari berbagai agama dan bangsa: dan Anda ribut membagi-bagi tanah pemakaman dalam blok-blok berdasarkan agama! Jika Anda menggunakan satu botol jenis pengawet mayat yang sama untuk lima mayat dengan kondisi biokimia yang sama: masing-masing seorang biksu, ulama, pendeta, pastor dan ateis, maka percayalah, kelimanyalah akan awet!

Jadi, apakah masih ada yang salah dengan apa yang saya sampaikan ini: Tauhid ialah satu kemanusiaan?
Apakah darah saya biru dan darah Anda kuning? Apakah hanya darah seorang Muslim golongan darah O yang dapat menyelamatkan Muslim bergolongan darah O, dan orang-orang Hindu bergolongan darah A tidak dapat menyelamatkan orang-orang Kristen bergolongan darah A yang membutuhkan darah?

Jangan bingung tentang mana agama yang paling benar. Kebenaran tidaklah relatif. Hanya ada satu kebenaran, dan itu adalah satu kemanusiaan.

Hentikan memberi makan ego sektarian. Jika di dunia ini Tuhan YME begitu adilnya kepada segenap manusia, maka tidaklah mungkin Dia memihak seseorang hanya karena agama dan alirannya. Musa, Yesus dan Muhammad berada di sisi terbaik Allah bukan karena mereka Yahudi, Kristen dan Muslim!

Tauhid ialah satu kemanusiaan.

Rahayu,
RA Gayatri WM.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: