Tinggalkan komentar

Masukan/Rekomendasi Dewan Adat-Budaya dan Adab Sunda Langeng Wisesa (SLW) untuk Para Paslon Bupati-Wakil Bupati dan Walikota-Wakil Walikota Bogor

Draft mentah bahan Rapat Sabtu ini

 

Masukan/Rekomendasi Dewan Adat-Budaya dan Adab Sunda Langeng Wisesa (SLW)

untuk Para Paslon Bupati-Wakil Bupati

dan Walikota-Wakil Walikota Bogor

 WhatsApp Image 2018-04-14 at 1.48.11 AM

dirangkai oleh  AYS- (Sekretaris 2 SLW)

 

Latar

  • Ada satu hal yang kita lupa, selama ini, satu hal yang sesungguhnya vital, substansial bahkan sebagian kalangan menganggapnya kritikal, tapi ternyata dilupakan atau hampir sama sekali tidak disentuh dalam wacana, jargon, slogan, janji, ataupun retorika program pembangunan yang berkembang selama masa kampanye pemilihan kepala daerah (Pilkada), baik di tingkat propinsi, kabupaten maupun kota. Satu hal itu adalah: kebudayaan Lokal-Tradisonal.

 

  • Apa yang dominan dalam semua perang kata-kata semasa kampanye dalam Pilkada adalah segala hal yang melulu berkait dengan persoalan politik dan ekonomi moderen. Mungkin bukan kekeliruan. Namun, sekali lagi kita lupa, suksesnya dua hal utama (mainstreams) dalam pembangunan di atas, akan rapuh dan gagal menjadi dasar kedaulatan kita bila tidak diberi akar kebudayaannya; budaya dan adab Nusantara bangsa Indonesia.

  • Hal di atas kini jadi kenyataan di negeri ini. Kebudayaan, apalagi produknya yang utama, cq pendidikan-kesenian-kebudayaan, tidaklah menjadi fokus atau tujuan akhir dari kerja pemerintahan, di semua lini (legislatif, eksekutif maupun yudikatif). Posisi kebudayaan yang malah minor di hadapan anak kandungnya sendiri, pendidikan, membuat kehidupan berbangsa di semua lininya mengalami degradasi dalam nilai, adab-moralitas atau etika, maupun estetikanya.

 

  • Maka, dengan semakin kuatnya kesadaran publik akan akar masalah negara (dan kebangsaan) yang ada pada ranah budaya, perlu sekali bila kita melihat, memeriksa, mengkritisi, bahkan meminta janji/komitmen –lebih jauh lagi mungkin semacam “kontrak politik”—para calon pemimpin bangsa ini, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk lebih memperhatikan atau mengedepankan pembangunan kebudayaan.

 

  • Bagaimana pandangan, visi atau konsep mereka dalam dimensi yang satu ini, apa saja program-program yang telah mereka siapkan di kantung kekuasaan mereka; apakah semuanya dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan dasar bagi tumbuhnya ekspresi dan manifestasi kebudayaan/artistik bangsa ini; dan bagaimana pemecahan-pemecahan dasar bagi pematangan adab publik dalam melakoni hidup terkininya, dan sebagainya.

 

  • Dengan latar pikiran itulah, sebuah dialog yang tepat dan benar perlu dibangun antara calon pemimpin, dalam hal ini pasangan Cawalkot+wakilnya dan Cabup+wakilnya, dengan para Pupuhu Sunda (Rama/ Tokoh Adat-Budaya), dan para cendekiawan-budayawan (Reshi-Panditha-ulama) terbaik negeri ini untuk mendapatkan semacam kesepakatan/konsensus yang visioner, strategis, dan berjangka panjang, untuk perkembangan budaya dan adab bangsa Indonesia, demi lahir generasi baru yang lebih adaptif berintegritas, cerdas dan punya harga diri yang kuat di masa depan.

 

 

Dengan mempertimbangkan latar di atas,

Maka Dewan Adat –Budaya dan Adab Sunda Langgeng Wisesa (SLW) menyerukan sembilan pasangan calon wali kota – wakil wali kota dan calon bupati – wakil bupati Bogor periode 2018-2023 untuk dapat menempatkan program pembangunan Budaya Sunda sebagai prioritas  utama (Leading Sektor) dalam program kerja dan pembangunan bila terpilih menjadi pemimpin Bogor.

Ketua Umum Dewan Adat Sunda Langgeng Wisesa, Ki Karyawan Fathurachman mengatakan, sembilan pasangan harus memperhatikan budaya Sunda dalam merumuskan visi, misi dan program. Ia berharap, pasangan calon manapun yang kelak dipercaya warga Bogor untuk menjadi bupati maupun wali kota, agar memberikan sentuhan khusus pada bidang budaya. “Kami mengajak siapapun paslon yang akan dipilih warga Bogor menjadi bupati dan wali kota pada Pilkada 27 Juni mendatang, agar menempatkan pembangunan budaya sebagai prioritas,” beber wakil bupati Bogor periode 2008-2013 ini.

Ketua Bidang IT, Humas dan Kerja Sama Antarlembaga SLW Ahmad Fahir menambahkan, secara organisasi, rumah besar para insan seni dan budaya Sunda ini berprinsip netral dalam Pilkada. SLW menghargai apapun pilihan masyarakat Bogor. Diharapkan semua paslon pemimpin Bogor dapat bekerja sama dengan SLW dalam merumuskan agenda besar pembangunan budaya Sunda Bogor ke depan.

Fahir mengutarakan, pada 2017, UNESCO sudah menetapkan Indonesia sebagai negara adidaya pada bidang budaya. Sedangkan Bogor merupakan akar dan ibu kandung peradaban Nusantara, yang memiliki 300 lebih situs cagar budaya. “Kami berharap semua paslon bupati dan wali kota peduli budaya. Bogor merupakan situs penting peradaban Nusantara. Selama ribuan tahun Bogor menjadi ibukota Kerajaan Sunda, yang menjadi cikal bakal dari semua kerajaan di bumi Nusantara,” papar Fahir.

Sementara itu, pegiat budaya Ki Gatut Susanta didaulat menjadi ketua pelaksana diskusi publik dengan 9 paslon bupati dan wali kota Bogor. Ia mengaku akan bekerja sama dengan KPUD baik Kota maupun Kabupaten Bogor. “Kegiatan diskusi publik akan digelar bulan April. Kami akan konsultasi dengan KPUD, untuk kerja sama dan menyesuaikan waktu kosong kampanye,” ungkap Gatut yang juga mantan Wakil Ketua DPRD Kota Bogor.

Gatut mengajak agar semua komunitas seni budaya dan berbagai elemen masyarakat Bogor bersinergi dalam pelestarian budaya Sunda di bumi Prabu Siliwangi. “Kami mengajak semua pihak guyub membumikan budaya Sunda, karena hakekatnya masyarakat adalah faktor terpenting pelestarian budaya,” kata Gatut.[1]

Dewan Adat Sunda Langgeng Wisesa (SLW) menyerukan 9 pasangan calon wali kota – wakil wali kota dan calon bupati – wakil bupati Bogor periode 2018-2023 agar menempatkan program pembangunan budaya Sunda sebagai prioritas bila terpilih menjadi pemimpin Bogor.

Demikian diutarakan Ketua Umum Dewan Adat Sunda Langgeng Wisesa, Ki Karyawan Fathurachman kepada wartawan di Bale Pakuan, Jl Rd Aspiya, Kelurahan Karadenan, Cibinong, Minggu (4/3/2018)

“Kami menyerukan 9 pasangan calon wali kota – wakil wali kota dan calon bupati – wakil bupati Bogor agar memperhatikan budaya Sunda dalam merumuskan visi, misi dan program,” ujar Karyawan Faturahman.

Karyawan berharap, pasangan calon manapun yang kelak dipercaya warga Bogor untuk menjadi bupati maupun wali kota, agar memberikan sentuhan khusus pada bidang budaya.

“Kami mengajak siapapun paslon yang akan dipilih warga Bogor menjadi bupati dan wali kota pada Pilkada 27 Juni mendatang, agar menempatkan pembangunan budaya sebagai prioritas,” beber Wakil Bupati Bogor periode 2008-2013 ini.

Ketua Bidang IT, Humas dan Kerja Sama Antar Lembaga SLW, Ahmad Fahir menambahkan, secara organisasi, rumah besar para insan seni dan budaya Sunda ini berprinsip netral dalam Pilkada. SLW menghargai apapun pilihan masyarakat Bogor.

Diharapkan, semua paslon pemimpin Bogor dapat bekerja sama dengan SLW dalam merumuskan agenda besar pembangunan budaya Sunda ke depan.

Fahir mengutarakan, pada 2017, UNESCO sudah menetapkan Indonesia sebagai negara adidaya pada bidang budaya. Sedangkan Bogor merupakan akar dan ibu kandung peradaban Nusantara, yang memiliki 300 lebih situs cagar budaya.

“Kami berharap semua paslon bupati dan wali kota peduli budaya. Bogor merupakan situs penting peradaban Nusantara. Selama ribuan tahun Bogor menjadi ibukota Kerajaan Sunda, yang menjadi cikal bakal dari semua kerajaan di bumi Nusantara,” papar Fahir.

Pada Kamis malam Jumat (1/3) SLW menyelenggarakan pertemuan untuk menyusun agenda strategis pengembangan kerja sama dengan 9 paslon bupati dan wali kota Bogor.

Pertemuan yang dilangsungkan di Bale Pakuan, Cibinong, dihadiri Ketua Umum Dewan Adat SLW Ki Karyawan Fathurachman, Sekretaris Umum  Deden Sukmaaji, Pembina SLW, Rama Said, Ketua Bidang Seni dan Pagelaran, Tjethep Thoriq, Ketua Bidang IT, Humas dan Kerja Sama Antarlembaga, Ahmad Fahir, dan Bendahara, Asep Sugandi.

Hadir pula sejumlah tokoh Sunda dari berbagai komunitas, yakni  Syarif Bastaman dari Baraya Kujang Pajajaran (BKP), penggagas kegiatan “Ngalokat Hulu Cai Cihaliwung”, Gatut Susanta,i Ali Khan, Romen dan puluhan pegiat budaya Sunda lainnya.

Gatut Susanta, yang didaulat peserta rapat untuk menjadi ketua pelaksana diskusi publik dengan 9 paslon bupati dan wali kota Bogor mengatakan, pihaknya akan bekerja sama dengan KPU baik Kota maupun Kabupaten Bogor.

“Kegiatan diskusi publik akan digelar bulan April. Kami akan konsultasi dengan KPUD, untuk kerja sama dan menyesuaikan waktu kosong kampanye,” ungkap Gatut yang juga mantan Wakil Ketua DPRD Kota Bogor.

Gatut mengajak agar semua komunitas seni budaya dan berbagai elemen masyarakat Bogor bersinergi dalam pelestarian budaya Sunda di bumi Prabu Siliwangi.

“Kami mengajak semua pihak guyub membumikan budaya Sunda, karena hakekatnya masyarakat adalah faktor terpenting pelestarian budaya,” kata Gatut.

Pada Minggu malam Senin (4/3) panitia yang dibentuk Dewan Adat SLW menggelar rapat koordinasi di Bale Pakuan, Cibinong. (rls)[2]

Dewan Adat Sunda Langgeng Wisesa (SLW) menyerukan sembilan pasangan calon wali kota – wakil wali kota dan calon bupati – wakil bupati Bogor periode 2018-2023 menempatkan program pembangunan budaya Sunda sebagai prioritas bila terpilih menjadi pemimpin Bogor. Ketua Umum Dewan Adat Sunda Langgeng Wisesa, Ki Karyawan Fathurachman mengatakan, sembilan pasangan harus memperhatikan budaya Sunda dalam merumuskan visi, misi dan program. Ia berharap, pasangan calon manapun yang kelak dipercaya warga Bogor untuk menjadi bupati maupun wali kota, agar memberikan sentuhan khusus pada bidang budaya. “Kami mengajak siapapun paslon yang akan dipilih warga Bogor menjadi bupati dan wali kota pada Pilkada 27 Juni mendatang, agar menempatkan pembangunan budaya sebagai prioritas,” beber wakil bupati Bogor periode 2008-2013 ini.

Ketua Bidang IT, Humas dan Kerja Sama Antarlembaga SLW Ahmad Fahir menambahkan, secara organisasi, rumah besar para insan seni dan budaya Sunda ini berprinsip netral dalam Pilkada. SLW menghargai apapun pilihan masyarakat Bogor. Diharapkan semua paslon pemimpin Bogor dapat bekerja sama dengan SLW dalam merumuskan agenda besar pembangunan budaya Sunda ke depan.

Fahir mengutarakan, pada 2017, UNESCO sudah menetapkan Indonesia sebagai negara adidaya pada bidang budaya. Sedangkan Bogor merupakan akar dan ibu kandung peradaban Nusantara, yang memiliki 300 lebih situs cagar budaya. “Kami berharap semua paslon bupati dan wali kota peduli budaya. Bogor merupakan situs penting peradaban Nusantara. Selama ribuan tahun Bogor menjadi ibukota Kerajaan Sunda, yang menjadi cikal bakal dari semua kerajaan di bumi Nusantara,” papar Fahir.

Sementara itu, pegiat budaya Ki Gatut Susanta didaulat menjadi ketua pelaksana diskusi publik dengan 9 paslon bupati dan wali kota Bogor. Ia mengaku akan bekerja sama dengan KPUD baik Kota maupun Kabupaten Bogor. “Kegiatan diskusi publik akan digelar bulan April. Kami akan konsultasi dengan KPUD, untuk kerja sama dan menyesuaikan waktu kosong kampanye,” ungkap Gatut yang juga mantan Wakil Ketua DPRD Kota Bogor.

Gatut mengajak agar semua komunitas seni budaya dan berbagai elemen masyarakat Bogor bersinergi dalam pelestarian budaya Sunda di bumi Prabu Siliwangi. “Kami mengajak semua pihak guyub membumikan budaya Sunda, karena hakekatnya masyarakat adalah faktor terpenting pelestarian budaya,” kata Gatut.(*/els)[3]

“Bogor ini ibu kandung peradaban Sunda. Karena itu urang Bogor harus bangkit, dengan cara merevitalisasi identitas kultural dan memperkuat pelestarian nilai-nilai adiluhung warisan leluhur untuk mengangkat marwah Ki Sunda,” tambah Ki Karyawan.

Pemimpin Bogor pada masa silam, seperti Prabu Siliwangi maupun yang lainnya, memiliki rekam dan kontribusi yang luar biasa bagi masyarakat Sunda, sehingga keharuman nama besarnya melegenda hingga sekarang.

“Spirit juang dan sosok pemimpin besar seperti Prabu Siliwangi perlu kita tiru dalam konteks kekinian, untuk meningkatkan peran serta masyarakat Sunda dalam membangun bangsa,” papar Wakil Bupati Bogor 2008-2013.

Ketua Bidang Pertanian Sunda Langgeng Wisesa, Ki Prof. Dr. Syarif Bastaman mengatakan, ada banyak garapan yang akan dikembangkan oleh organisasi ini. Antara lain pada bidang pertanian, sumberdaya alam dan sumberdaya manusia.

“SLW bersama pemerintah akan melakukan penguatan pada sektor pertanian dan sumberdaya alam, dengan cara mengedukasi masyarakat cara-cara tani ala karuhun Sunda. Selain memperkuat dari sisi sumberdaya manusia tentunya,” imbuh Syarif.

Ki Syarif mengungkapkan, cara tani ala leluhur Sunda memiliki nilai yang sangat holistik. Pertanian ala Sunda tidak hanya memperhatian soal kualitas dan kuantitas hasil tanam, namun juga menjaga keseimbangan alam secara berkelanjutan.

Untuk mengembangkan program SLW pada bidang pertanian dan sumberdaya manusia, Syarif berencana menggalang kerja sama dengan para komunitas kesundaan, kelompok tani, pesantren, sekolah hingga Universitas yang ada di Bogor.

“Kami akan bekerja sama dengan IPB dan pemkot atau pemda Bogor, sebagai perguruan tinggi terbaik di Asia pada bidang pertanian, untuk memperkuat sektor pertanian di wilayah Bogor,” terang Ki Syarif.

Pembina SLW, Ki Wahyu Affandi Suradinata mengharapkan kehadiran dewan adat ini dapat menjadi wadah efektif untuk memperjuangkan agenda-agenda strategis budaya Sunda, khususnya di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor.

“Budaya dan bahasa Sunda menghadapi tantangan besar. Keberadaan Sunda Langgeng Wisesa diharapkan dapat menjadi wahana untuk pelestarian dan penguatan budaya Sunda di tengah masyarakat,” papar Kasepuhan Baraya Kujang Pajajaran (BKP). (Ry)[4]

………………. (manga kita sempurnakan bersama siang ini di gedung Kesenian Ruang DK3B)….. Ki Ahmad Y. Samantho

 

 

 

 

[1] http://www.metropolitan.id/2018/03/dewan-adat-sunda-serukan-calon-pemimpin-bogor-peduli-budaya/

[2] http://bogornews.com/berita-dewan-adat-sunda-serukan-calon-pemimpin-bogor-peduli-budaya.html

 

[3] http://www.metropolitan.id/2018/03/dewan-adat-sunda-serukan-calon-pemimpin-bogor-peduli-budaya/

 

[4] https://infodesanews.com/slw-tingkatkan-sdm-di-sektor-pertanian-ekonomi-dan-umkm.html

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: