Tinggalkan komentar

Hidup Bahagia ala Ki Ageng Suryomentaram

24 Maret 2018
Dibaca Normal 4 menit
Pangeran Suryomentaram adalah putra Sultan Hamengkubuwana VII yang memilih keluar dari istana dan hidup sebagai rakyat jelata. Ia kemudian mendalami spiritualitas.
tirto.id – Perjalanan singkat dari Yogyakarta ke Surakarta pada awal abad ke-20 itu telah membuka mata hati Pangeran Suryomentaram. Di dalam gerbong kereta api, sang pangeran tertegun kala memandang ke luar, melihat para petani yang sedang bekerja di sawah. Begitu sederhananya mereka, berbeda dengan kehidupan yang dijalaninya di istana selama ini.

Sekembalinya di kraton, Pangeran Suryomentaram menjadi sering gelisah. Beberapa kali ia pergi untuk menenangkan diri. Terkadang berziarah ke gua-gua yang dulu kerap dikunjungi leluhurnya, atau ke pantai selatan. Di tempat-tempat sunyi itulah, salah seorang anak kesayangan Sultan Hamengkubuwana VII (1877-1921) ini bermeditasi demi ketentraman jiwanya yang terus saja bergejolak.Hingga suatu hari, sang pangeran sudah tidak tahan lagi. Ia pergi meninggalkan istana dan berjalan sendirian, tanpa mengenakan pakaian yang menunjukkan bahwa ia seorang putra raja, hanya membawa bekal secukupnya saja.

Kegelisahan Sang Pangeran

Bernama kecil Raden Mas Kudiarmadji, Pangeran Suryomentaram merupakan anak ke-55 Sultan Hamengkubuwana VII. Ia lahir di lingkungan Kraton Yogyakarta tanggal 20 Mei 1892. Ibunya adalah salah satu istri selir raja, yakni Raden Ayu Retnomandojo, putri Patih Danureja VI.

Pangeran Suryomentaram memutuskan pergi tanpa pamit setelah permintaannya ditolak oleh sang ayah. Ia meminta agar diizinkan menanggalkan gelar pangeran, namun Sultan Hamengkubuwana VII tidak menyetujuinya.

Setelah Pangeran Suryomentaram pergi, barulah Raja Yogyakarta itu menyesal. Sultan Hamengkubuwana VII kemudian mengutus beberapa orang kepercayaannya untuk mencari di mana keberadaan sang putra kesayangan itu (Fudyartanto, Psikologi Kepribadian Timur, 2003:152).

Sampai pada suatu ketika, salah seorang utusan raja melihat sosok yang mirip dengan pangeran yang sedang dicari-cari. Namun, orang itu sangat kumal laiknya rakyat miskin kebanyakan, sedang bersama-sama kuli lainnya menggali sumur di suatu desa kecil di wilayah sebelah barat Yogyakarta.

Sang utusan raja memberanikan bertanya kepada orang itu, menanyakan namanya. Dijawab bahwa ia bernama Natadangsa. Mendengar suara yang ditanya, utusan raja itu semakin yakin bahwa Natadangsa tidak lain adalah Pangeran Suryomentaram.

Maka, dengan hormat, Natadangsa dimohon pulang ke istana karena telah membuat ayahanda dan ibundanya khawatir. Lantaran kedoknya terbongkar, Natadangsa terpaksa menurut, dan mengikuti utusan itu kembali ke Kasultanan Yogyakarta.

Natadangsa alias Pangeran Suryomentaram hidup serabutan selama masa pengembaraan itu. Selain terkadang menjadi kuli, ia juga bekerja apa saja untuk sekadar bertahan hidup. Jualan batik dan buruh tani pernah dilakoninya.

Di istana, ia lagi-lagi tidak betah karena merasa tidak cocok dengan kehidupan mewah sebagai anak raja. Cobaan bagi Suryomentaram bertambah setelah sultan menceraikan ibundanya dan membebas-tugaskan kakeknya, Patih Danureja VI, disusul dengan kematian istrinya. Namun, demi menghormati sang ayah, Pangeran Suryomentaram sebisa mungkin bertahan.

Sultan Hamengkubuwana VII –yang sebenarnya sudah turun takhta sejak 29 Januari 1921– wafat pada 30 Desember 1931. Dituliskan oleh Prof. Dr. dr. Daldiyono (2014) dalam buku Ilmu Slamet, Suryomentaram turut mengusung jenazah sang ayah, namun tidak mau mengenakan pakaian kebesaran pangeran, melainkan memakai baju lusuh, bahkan bertambal-sulam (hlm. 18).

Dalam perjalanan pulang dari pemakaman, Suryomentaram memisahkan diri dari rombongan dan singgah di sebuah warung. Ia memesan pecel, makan dan duduk lesehan bersama rakyat jelata. Sontak, kelakuan itu membuat para pangeran lainnya merasa malu. Mereka bahkan menyebut Suryomentaram sudah gila.

Menanggalkan Gelar Ningrat

Setelah ayahandanya meninggal dunia, Pangeran Suryomentaram memohon kepada saudara tirinya yang sudah bertakhta menjadi raja, Sultan Hamengkubuwana VIII (1921-1939), agar diizinkan meninggalkan istana.

Pangeran Suryomentaram merasa “tidak pernah bertemu orang” selama hidup di lingkungan istana. Orang yang ia maksud adalah rakyat yang sebenarnya, orang-orang yang harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga, orang-orang yang hidup sederhana dan apa adanya.

Oleh Sultan Hamengkubuwana VIII, permohonan Suryomentaram dikabulkan. Bahkan, pemerintah kolonial Hindia Belanda memberinya uang pensiun lantaran berstatus sebagai pangeran. Namun, uang tersebut ditolak oleh Suryomentaram karena ia merasa tidak pernah bekerja untuk pemerintah kolonial.

Sebelum pergi, Suryomentaram menjula seluruh harta benda yang dimilikinya. Uang hasil penjualan mobil diberikan kepada sopirnya, sedangkan hasil penjualan kuda diberikan kepada abdi dalem yang selama ini merawat kuda tersebut (Daldiyono, 2014:19).

Dengan berbekal uang secukupnya, Suryomentaram meninggalkan kraton untuk keduakalinya, barangkali kali ini untuk selama-lamanya karena ia memang tidak pernah berniat kembali ke istana. Gelar pangeran pun kini benar-benar ditinggalkan, ia mengganti namanya menjadi Ki Ageng Suryomentaram.

Ki Ageng Suryomentaram berjalan jauh menuju ke utara, dan membeli sebidang tanah di Desa Beringin, Salatiga. Di sana, ia hidup dengan bercocok tanam sebagai petani, bergaul dengan rakyat jelata, menjalani kehidupan sebagai orang biasa.

Meskipun mengasingkan diri, namun Ki Ageng Suryomentaram tetap menjalin relasi dengan beberapa pangeran yang memilih menepi seperti dirinya, termasuk Ki Hajar Dewantara, Ki Sutapa Wanabaya, Ki Prana Widagdo, Ki Prawira Wirawa, Ki Suryadirja, Ki Sujatmo, Ki Subono, dan Ki Suryaputra. Mereka membentuk perkumpulan dan menggelar sarasehan rutin setiap malam Selasa Kliwon.

Masing-masing tokoh ini punya tugas sesuai spesialisasinya. Ki Hajar, misalnya, memperoleh bagian di bidang pengajaran, dengan mendidik anak-anak muda yang ikut dalam sarasehan tersebut. Pangeran dari Kadipaten Pakualaman bernama asli Soewardi Soerjaningrat ini adalah pendiri Perguruan Taman Siswa (Abdurrachman Surjomihardjo, Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa dalam Sejarah Indonesia Modern, 1986:10).

Infografik Ki ageng suryomentaram

Merumuskan Ilmu Bahagia

Ki Ageng Suryomentaram sendiri tertarik mempelajari ilmu jiwa atau psikologi. Ia mencurahkan daya dan perhatiannya untuk menyelidiki alam kejiwaan manusia dengan menggunakan dirinya sebagai kelinci percobaan, demikian menurut J.B. Adimassana dalam buku Ki Ageng Suryomentaram tentang Citra Manusia (1986: 23).

Adimassana menambahkan, pemahaman Ki Ageng Suryomentaram tentang manusia seluruhnya bertitik tolak dari pengamatannya terhadap diri sendiri. Ia merasakan, menggagas dan menginginkan sesuatu, menandai adanya gerak kehidupan di dalam batin manusia. Ki Ageng Suryomentaram mencoba membuka rahasia kejiwaan manusia yang dilihatnya sebagai sumber yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.

Dari eksperimen tersebut, Ki Ageng Suryomentaram menyimpulkan bahwa manusia tidak bisa melepaskan diri dari dunia yang melingkupinya. Manusia selalu bergaul dengan lingkungan di sekitarnya dan selalu terkait dengan itu, yang kemudian menunjukkan perilaku manusia tersebut.

Alasan itulah yang membuat Pangeran Suryomentaram sungguh-sungguh mantap keluar dari istana, dari lingkungan kraton yang bermewah-mewahan. Ia ingin bersatu dengan alam dan kehidupan manusia yang sebenar-benarnya sehingga antara dirinya dengan lingkungan yang melingkupinya bisa tercipta keselarasan, baik lahir maupun batin.

Ki Ageng Suryomentaram, seperti yang tertulis dalam buku Puncak Makrifat Jawa: Pengembaraan Batin Ki Ageng Suryomentaram (2012) karya Muhaji Fikriono, sangat yakin bahwa untuk memahami manusia yang universal cukup dengan mengamati dan menyadari rasa yang ada pada diri sendiri.

Apa yang didalami Ki Ageng Suryomentaram itu dikenal dengan istilah kawruh jiwaatau kawruh begja (ilmu bahagia). Ia menjadikan metode itu sebagai perangkat analisis olah rasa untuk mengembangkan kualitas hidup dengan landasan introspeksi diri (Abdul Kholik & Fathul Himam, “Konsep Psikoterapi Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram”, dalam Gadjah Mada Journal of Psychology, Mei 2015, hlm. 122).

Meskipun mendalami ilmu kebatinan, namun Ki Ageng Suryomentaram menghindari unsur mistik atau klenik, ia berangkat dari hal-hal yang nyata dan ilmiah. Oleh karena itu, Ki Ageng Suryomentaram memilih memakai kata kawruh yang lebih rasional daripada kata ngelmu yang lekat dengan konteks mistis.

Rasa bahagia, bagi Ki Ageng Suryomentaram, berasal dari diri manusia itu sendiri. Ada tiga unsur utama yang ada dan kekal dalam diri manusia, yang oleh Ki Ageng Suryomentaram disebut sebagai “Zat, Kehendak, dan Aku”. Ketiga unsur ini merupakan asal dari segala sesuatu.

“Zat itu ada, tidak merasa apa-apa dan tidak merasa ada. Kehendak itu ada, merasa apa-apa, dan tidak merasa ada. Aku itu ada, tidak merasa apa-apa, dan merasa ada,” demikian rumusan bahagia ala Ki Ageng Suryomentaram, dikutip dari Al-Ikhlash: Bersihkan Iman dengan Surah Kemurnian (2008: 176) karya Achmad Chodjim.

Ki Ageng Suryomentaram menebarkan apa yang dipelajarinya dengan memberikan ceramah di berbagai tempat. Bahkan, ia pernah diundang oleh Presiden Sukarno ke Istana Merdeka Jakarta pada 1957. Kepada Ki Ageng Suryomentaram yang menghadap dengan pakaian sederhana, Bung Karno meminta nasihat dalam mengelola negara.

Sebelum wafat pada 18 Maret 1962, Ki Ageng Suryomentaram telah menghasilkan sejumlah karya yang ditulis dalam bahasa Jawa, seperti Pangawikan Pribadi, Kawruh Pamomong, Piageming Gesang, Ilmu Jiwa, Aku Iki Wong Apa, dan lainnya. Ajaran kebahagiaan Ki Ageng Suryomentaram hingga kini terus dipelajari dan diterapkan oleh komunitas budaya yang tersebar di sejumlah tempat di Jawa.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya

(tirto.id – Sosial Budaya)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan

https://tirto.id/hidup-bahagia-ala-ki-ageng-suryomentaram-cF81

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: