2 Komentar

Teosofi, Atlantis, dan Gunung Padang

Teosofi, Atlantis, dan Gunung Padang

by Shanti Jehan N

IMG_0001

“Plato Tidak Bohong, Atlantis Pernah Ada di Indonesia.”

Launcing Buku Plato tidak bohong di Setneg RI-6Kira-kira demikianlah hipotesis yang dipercaya oleh DR Danny Hilman Natawidjaja, menguatkan pendapat Dr. Arisiyo Santos dan Stephen Oppenheimer yang lebih dahulu menyebutkan kemungkinan tersebut. Untuk membuktikan pendapatnya, Danny Hilman dan timnya hingga saat ini sibuk menggali Gunung Padang yang menurutnya merupakan peninggalan Atlantis. Seorang tokoh lain bernama Dicky Zainal Arifin atau akrab disapa Kang Dicky (KD) memiliki keyakinan lain, menurutnya pembangun Gunung Padang adalah bangsa Lemurian, bangsa yang menurunkan suku suku di Nusantara sekarang ini. Kang Dicky mendapatkan teori tersebut berdasarkan metode time travel atau ngimpleng yang tentunya akan menjadi tertawaan ilmuwan-ilmuwan yang lebih mempercayai metode ilmiah untuk membuktikan suatu teori. Bagaimanapun, kedua teori tersebut memiliki pengikut fanatiknya sendiri-sendiri. Aku pernah berdebat dengan salah satu dari mereka hingga akhirnya aku dituduh “tidak nasionalis” karena tidak mempercayai keagungan leluhur nusantara.

Aku pernah membahas polemik ini dalam tulisanku beberapa tahun yang lalu. Kali ini aku tertarik untuk membahasnya kembali karena sejak tulisan itu kubuat, kontroversi mengenai Gunung Padang masih hangat terjadi, bahkan menjurus kepada perdebatan politis mengingat motor pengungkapan Gunung Padang adalah Andi Arief, Staff Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana yang notabene tidak memiliki latar belakang keilmuan sejarah/arkeologi/geologi sama sekali. Di sisi lain para penentangnya adalah para akademisi yang mewakili bidang-bidang geologi, arkeologi dan sejarah. Aku tertarik sekali mengamati perdebatan di antara kedua kubu, yang menurutku mewakili dua karakter orang Indonesia pada umumnya. Mereka yang mempercayai takhayul dan mereka yang rasional. Kelompok pertama bisa saja mengaku rasional, tapi sejauh ini keyakinan mereka lebih didasari oleh emosi semata dibanding pikiran sehat. Buktinya kepercayaan bangsa atlantis sebagai nenek moyang bangsa Indonesia dipercaya begitu saja tanpa bukti nyata. Hanya buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization” karya Prof. Dr. Aryso Santos dan Eden in the East karya Stephen Oppenheimer-lah yang menjadi pegangan mereka.

cropped-bayt-al-hikmah-institute.jpgLewat tulisan ini aku ingin menambah beberapa referensi untuk mereka, bahwa kepercayaan bahwa nenek moyang bangsa ini merupakan bangsa atlantis / lemuria ternyata bukan barang baru lagi. Teori ini sudah dikemukakan sekitar seratus tahun lalu oleh para penganut ajaran Teosofi. Bagaimana kepercayaan mereka terhadap keberadaan bangsa atlantis tersebut selayaknya menjadi pertimbangan bagi para pendukung teori atlantis masa kini karena ternyata kepercayaan akan garis keturunan atlantis / lemuria membawa konsekwensi tertentu. Apa konsekwensinya ? Untuk itu aku akan mengisahkan kembali sejarah Pulau Jawa menurut kalangan Teosofi, sebagaimana dimuat dalam buku “Sejarah Gaib Pulau Jawa” karya C.W. Leadbeater. Buku ini diterbitkan Pustaka Theosofi Jakarta tahun 1976, merupakan terjemahan dari buku “Occult History of Java” yang diterbitkan tahun 1951. Teks versi bahasa inggris dapat dilihat di link ini.

Image
C. W. Leadbeater (1854-1934)

C. W. Leadbeater (1854-1934) adalah tokoh utama di balik gerakan Teosofi yang juga merangkap sebagai Uskup Gereja Katolik Bebas tahun 1923-1934. Gerakan Teosofi sendiri adalah gerakan internasional yang didirikan tahun 1875 oleh H. Blavatsky dan Colonel Olcott. Gerakan ini kemudian dikomandoi oleh Annie Besant, Rudolf Steiner dan C.W. Leadbeater. Gerakan Teosofi singkatnya adalah sebuah gerakan yang bertujuan untuk menemukan pengetahuan agung suatu super religion, dimana Agama dan Ilmu Pengetahuan bisa dijembatani. Siapapun yang mengaku umat Islam, Kristen, Hindu, Agnostik dan lain-lain bisa memasuki organisasi ini asalkan mengakui Teosofi sebagai Agama Super yang menaungi semua agama tersebut.  Selain mengadopsi ajaran-ajaran Agama khususnya Hindu dan Budha, Teosofi juga  mengambil beberapa aspek pemikiran Hermes Trismeistos, Phytagoras, Plato, Tarot, Freemason, Darwin, hingga Ignatios Donnely. Teosofi juga mempercayai adanya pertentangan antara “tuhan baik” dan “tuhan jahat” seperti ajaran Gnostik Zoroaster dan Manikeanisme.

Menurut teosofi, peradaban dunia terbagi atas 7 zaman dengan masing-masing bencana yang menghancurkannya. Ketujuh zaman tersebut didiami oleh ras manusia yang berbeda, yang hingga kini sisanya masih bisa ditemukan berdasarkan ciri fisik tertentu. C. Jinaradjasa dalam buku “First Principle of Theosophy” (Madras, 1922) tampak menghubungkan ajaran Budha, Darwin, dan Budha dalam penentuan periode tersebut. Terbukti dari kepercayaannya atas keberadaan strata berdasarkan ciri fisik manusia, yang uniknya menempatkan bangsa Arya sebagai ras yang lebih “sempurna” dibandingkan Lemurian atau Atlantean.

…The Aryan or Caucasian races we have probably the highest forms, not only in beauty of structure, but also for quick response to external stimuli and high sensitiviness to the finer philosophical and artistic thougts and emotions…

IMG_0002_Fotor

Menurut Jinaradjasa, bangsa Lemuria mendiami benua Australasia (Gabungan Asia dan Australia) sekitar 1.000.000 tahun yang lalu. Nama Lemuria sendiri berasal dari seorang Naturalis bernama Scalter yang mempercayai keberadaan benua Australasia berdasarkan keberadaan  Monyet Lemur yang tersebar di sepanjang kawasan Pasifik. Ditambahkannya, sisa dari keturunan Lemuria ini bisa dilihat pada penduduk asli  Ethiopia dan kepulauan Pasifik.

C.W. Leadbeater menyebutkan bahwa orang-orang ras Polinesia (Lemuria) inilah yang pertama kali menduduki pulau Jawa. “Mereka belum memiliki indra perasa pada lidahnya dan dipercaya melakukan dosa buruk antara lain melakukan hubungan sex dengan binatang-binantang dengan monyet-monyet sebagai saksi bisunya,” tambah Leadbeater.

Kedatangan bangsa Lemuria disusul oleh kedatangan penduduk Atlantis yang membawa beserta mereka kepercayaan-kepercayaan jahat dari negara mereka. Pandangan Leadbeater dalam hal ini sejalan dengan mitos Atlantis Plato yang menyebutkan penduduk Atlantis sebagai pemilik peradaban tinggi namun pendosa sehingga mendapat azab dari Zeus.  Jinaradjasa mengutip Flower dan Lydekker menyebutkan bahwa keturunan Bangsa Atlantis adalah mereka dengan ciri fisik orang-orang Mongolia atau China. Mereka mendiami benua raksasa yang dahulunya terletak di samudera Atlantis (cukup masuk akal).

Benua ini tenggelam pada tahun 9564 S.M. , menghasilkan legenda “Banjir Besar” yang masih dikenal hingga sekarang. Ketika Atlantis tenggelam, munculah padang pasir seperti Sahara di Afrika dan Gobi di Asia.

IMG_0005b

IMG_0005_Fotor

IMG_0006

Leadbeater menyebutkan bahwa pendatang dari Atlantis di Pulau Jawa menyembah dewa-dewa yang kejam dan menjijikan, oleh karena itu penduduk terus menerus dituntut untuk melakukan persembahan-persembahan lewat pengorbanan manusia. Ini mungkin menjelaskan adanya situs-situs punden berundak yang tersebar di jawa, tempat persembahan kepada dewa. Para penduduk terus hidup dalam bayangan kekuasaan jahat tanpa mampu melarikan diri darinya. Mereka dipimpin oleh seorang Imam Agung yang sangat fanatik dalam kepercayaanya terhadap dewa-dewa jahat. Di sisi lain ia juga sangat mencintai Pulau Jawa sehingga ia beranggapan bahwa hanya dengan jalan pengorbanan darah setiap hari dan pengorbanan nyawa manusia setiap minggu dan hari perayaan tertentu, pulau Jawa bisa bebas dari bencana alam. Menurutnya, kemarahan dewa ditunjukan salah satunya dengan letusan gunung berapi yang kerap terjadi di Jawa. Untuk menjaga agar sistem pengorbanan ini tetap terlaksana, ia menempatkan penjaga-penjaga gaib (hantu-hantu) di berbagai tempat di pulau Jawa, terutama di kawah-kawah dan gunung berapi.

Selanjutnya sejalan dengan teori professor Veth,  penjajahan Atlantis atas Jawa mulai berakhir ketika pulau didatangi oleh bangsa Melayu utamanya dari Kamboja. Setelah itu, Jawa mengalami kolonialisasi oleh bangsa kulit putih dari Kalinga (India), yang mana masih meninggalkan jejak hingga saat ini.

Bangsa kulit putih tersebut merupakan kelompok bangsa Arya di bawah komando Chakshusha Manu dan Vaivasvata Manu yang tiba sekitar tahun 1200 SM. Awalnya pendatang Hindu ini berprofesi sebagai pedagang-pedagang yang cinta damai dan bertempat tinggal di pantai hingga lama kelamaan membentuk negeri-negeri kecil. Ketika kekuasaan mereka semakin kuat, mereka mulai memaksakan pengaruh dan penerapan hukum-hukum Hindu kepada penduduk asli pulau Jawa. Namun pengaruh Hindu tidak berhasil menghilangkan prosesi-prosesi keagamaan jahat yang selama ini dipraktikan oleh penduduk asli. Mereka tetap melakukan kegiatan tersebut secara rahasia. Karena tidak berhasil menghilangkan praktek gelap ini, Vaivasvatu Manu mengajukan kepada Raja India Karishka untuk mengirimkan ekspedisi ke Jawa tahun 78 M.

Pemimpin ekspedisi itu dikenal sebagai Aji Saka. Misinya adalah memusnahkan semua upacara jahat dan kanibalisme serta menerapkan kembali berlakunya hukum dan budaya Hindu seperti sistem Kasra, vegetarisme, epos Hindu, dan abjad Jawa. Untuk melawan warisan kutukan yang dulunya disimpan Raja Atlantis di Pulau Jawa, Aji Saka menanam benda-benda yang dapat menetralisir kekuatan jahat. Dalam bahasa Jawa, benda-benda tersebut dikenal sebagai “Tumbal”. Tidak hanya itu, Aji Saka juga memindahkan gunung-gunung dan memberikan nama-nama Sansekerta pada mereka. Salah satunya adalah sebuah gunung di Japara yang paling tinggi dan dulunya disebut Mahameru, dinamainya sebagai Mauria yang diambil dari nama Dinasti Maurya (322 SM.). Raja Ashoka adalah salah satu anggota dinasti Maurya.

Catatan-catatan orang Cina pada waktu itu melaporkan mengenai sebuah semburan lumpur yang menyembur di Grobogan, di sebelah selatan Gunung tersebut/ Semburannya itu demikian tingginya sehingga pelaut-pelaut tersebut dapat melihatnya.

Lagi di dekatnya Tuban (yang berarti “memancar”), catatan itu mengatakan bahwa ada sumur berapa mil dari pantai yang mengeluarkan demikian banyak air segar, sehingga air laut di dekatnya dapat diminum karena tak lagi asin rasanya.

Aji saka memilih tempat penanaman tumbalnya yang paling penting dan paling kuat pada sebuah bukit yang rendah, bukit terakhir dari deretan bukit yang berhadapan dengan sungat Progo (Diambil dari nama daerah Praga di India).  Di atas lokasi penempatan tumbal itu nantinya akian dibangun sebuah monumen luar biasa oleh dinasti Shailendra – bernama Borobudur.

Borobudur dirancang oleh seorang bernama Gunadharma, seorang Hindu Budha dari perbatasan Nepal, sedangkan pelaksananya adalah orang Jawa. Pembangunan ini dipengaruhi sekte Budha bernama Vrajasana.

IMG_0003

Borobudur ditujukan sebagai tempat ziarah orang-orang Budha dari seluruh dunia.  Ketika Syailendra berkuasa, pulau Jawa dan Sumatra masih bersatu , adalah letusan gunung Krakatau pada tahu 915 yang memisahkan kedua pulau tersebut.  Sejak itu pedagang dari India dan Tiongkok mulai menggunakan selat sunda yang terbentuk di antara dua pulau.

Kerajaan Syailendra termasuk monumen Borobudur kebanggaanya mengalami kejatuhan setelah tertimbun  letusan gunung Merapi. Setelah itu keturunan Syailendra mengungsi ke Jawa Timur dan membangun kerajaan baru bernama Kediri.

Borobudur ditemukan kembali oleh Raffles di abad-19 yang kemudian direstorasi oleh pemerintah kolonial Belanda. Sejak itu Borobudur menjadi relik utama kaum Teosofi. Kaum yang mempercayai keunggulan ras arya ini sangat memuja Candi Borobudur, sehingga boleh dibilang mereka merupakan kelompok pertama yang mengadakan upacara Waisak di Borobudur.

Leadbeater berusaha menguatkan teorinya dengan mengatakan bahwa bangsa Arya yang tiba di Jawa berusaha untuk menjaga jarak dengan penduduk asli (Lemuria/Atlantean) namun tidak begitu sukses. Pemisahan pergaulan tersebut tetap memunculkan adanya perbedaan fisik, penggunaan bahasa dan tradisi antara kalangan Aristokrat Jawa dan orang-orang desa yang tinggal di pegunungan.

Demikianlah sedikit penggalan kepercayaan kaum Teosofis terhadap teori Atlantis dan sejarah Jawa menurut salah satu uskupnya, C.W. Leadbeater. Dari pandangannya tersebut setidaknya kita bisa mengambil  point penting bahwa kita jangan dulu bangga disebut keturunan bangsa Atlantis karena apabila kita konsisten dengan konteks cerita Plato, mereka adalah penduduk dengan  peradaban tinggi yang gemar melakukan banyak dosa  dan kesesatan sehingga mereka mendapat hukuman dewa. Kepercayaan ini masih tersisa oleh kepercayaan penduduk Jawa yang gemar memberikan persembahan-persembahan bernama “sajen” untuk memuaskan kehendak “dewa-dewa Jahat.”

Selain itu Leadbeater juga berusaha menjelaskan perilaku masyarakat Jawa yang gemar meng-kramatkan gunung-gunung dan tempat tertentu. “Dewa-dewa jahat” yang menguasai tempat tersebut harus dinetralisir  dengan menggunakan tumbal. Menurutnya kepercayaan terhadap Atlantis tidak selamanya perlu dibuktikan oleh bukti-bukti fisik situs semata, keberadaan mereka juga harus ditelusuri lewat peninggalan-peninggalan non fisik seperti “okultisme hitam” warisan Imam Agung Atlantis yang selama ini masih dipraktekkan sebagian masyarakat di pulau Jawa. Entah mengapa,  Perilaku orang-orang yang mengkeramatkan Gunung Padang seakan-akan menguatkan kepercayaanku terhadap pandangan tersebut.

Terakhir, buku Sejarah Gaib Pulau Jawa tampaknya harus dibaca semua orang yang mempercayai teori atlantis di Nusantara, bahwa baik bangsa Atlantis atau Lemuria ternyata sama-sama memiliki nama yang kurang baik di kalangan orang barat yang diwakili pandangan Leadbeater. Sekeras apapun kita menyuarakan keunggulan nenek moyang kita, orang lain akan tetap membanggakan nenek moyangnya. Sehingga pandangan Budi Dalton, seorang budayawan di Bandung yang mengatakan bahwa pengungkapan Gunung Padang akan menunjukan bahwa “Indonesia bukanlah bangsa ketiga seperti yang diyakini saat ini” adalah omong kosong menurutku.  Negara lain tidak peduli seberapa hebat nenek moyang kita atau seberapa kaya negara ini di masa lalu, yang mereka pedulikan hanyalah kemajuan masyarakatnya saat ini terutama dalam hal ekonomi.  Apabila pengungkapan sejarah atlantis di Nusantara bisa dengan otomatis menghapus hutang-hutang negara ini maka lain ceritanya…

Secara umum memang buku Leadbeater ini tidak ilmiah dan sangat bias sama seperti halnya teori-teori lain yang berusaha menjelaskan fenomena Atlantis. Semuanya hanya didasarkan asumsi-asumsi belaka tanpa bukti karena hingga saat ini tidak ada buku sejarah dunia yang mengakui keberadaan atlantis.

Mengenai sikapku terhadap Gunung Padang, aku mendukung segala penelitian terhadap situs tersebut selama dilakukan secara ilmiah oleh orang-orang yang kompeten, bukan oleh sekelompok pemburu atlantis yang gemar berspekulasi.

 

Post navigation

35 thoughts on “Teosofi, Atlantis, dan Gunung Padang”

  1. Apakah arti pentingnya jika Atlantis itu ada di wilayah Indonesia? apa keuntungannya? apakah kita kan senang disebut bangsa yang maju pada dahulu kala dan musnah karena perbuatan tercela..lalu kalau memang dulu menjadi bangsa yang maju, kok sekarng ceritanya lain? kenapa bangsa kita “saat ini” malah semakin tertinggal…? bangganya di mana?

    1. Begitulah mas, kalau menurut istilahku ini seperti seorang Mahasiswa yang bangga terhadap nilai sekolahnya sewaktu TK tapi IPK-nya saat kuliah jeblok… Tidak terlalu penting sehebat apapun kita di masa lalu kalau keadaan kita sekarang melarat. Apakah lantas negara2 maju akan menyembah kita misalnya, apabila benar negeri ini dulunya atlantis ? Selain itu mengapa sih kita harus membuat-buat sejarah yang luar biasa tetapi melupakan aspek ilmiah.

  2. jadi intinya masa lalu itu ngga penting ya, lebih penting masa sekarang ????
    saya sendiri memaknai ini sebagai bukti kebesaran ayat-ayat Tuhan di kitab suci kepercayaan saya, akan adanya bangsa besar yg kemudian musnah karena perbuatan buruknya
    dari segi ekonomi jika situs ini sudah utuh bukankah akan jadi tujuan wisata bahkan dari penjuru dunia mengingat usianya sangat tua & ukurannya sangat besar
    mungkin juga akan banyak melahirkan para geolog & arkeolog handal negri sendiri
    soal mitos atlantis atau lemuria biarlah menjadi daya tarik sendiri :)
    karena tanpa rasa penasaran takan ada penlitian

    1. Masa lalu itu penting sebagai pembelajaran saja, bukan untuk membuat kita terlena dan sombong… Penelitian bagaimanapun harus dilakukan atas dasar ilmiah bukan legenda/mitos. Aku setuju sekali pemanfaatan situs2 sejarah seperti gunung padang untuk kepentingan pariwisata atau ekonomi…

  3. kalo atlantis itu ada di dasar laut Indonesia, kemungkinan adanya di Laut dalam,, wisatanya gimana ya? hehehhe,,,, blm kebayang… 😉 bikin monorail aja gak jadi-jadi, kalau jauh sama Thailand 😉 apalagi membangun wahana wisata ke laut dalam…
    sebetulnya, lebih baik pemerintah sekarang fokus ke perbaikan ekonomi Indonesia, tingkatkan mutu pendidikan, entaskan kemiskinan, tambah lapangan pekerjaan,, dan,, dan,, dan,, masih banyak PR, ketimbang mengurusi mitos

    1. Setuju sekali… lebih baik mengoptimalkan potensi wisata gunung padang atau situs sejarah lainnya untuk kepentingan masyarakat daripada sibuk “membuktikan” keberadaan atlantis di indonesia… negeri ini butuh pemimpin yang memiliki visi masa depan, bukan visi masa lalu… peace…

  4. wah terimakasih ibu Santi, saya sudah lama mencari buku ini… eh tiba2 ada yang ngasih link-nya. terimakasih sekali lg

  5. kalo menurut saya, sejarah masa lalu itu amat penting, kalo dijadikan sebagai acuan untuk menjadi lebih baik kedepannya, dan dapat dijadikan sebagai pelajaran amat berharga, agar tidak melakukan hal-hal buruk seperti nenek moyangnya dan kita ambil yg baik baiknya saja , misalnya ilmu pengetahuan nya , sebagaimana perintah Allah kpd kita, agar berjalanlah dimuka bumi ini utk memperhatikan dan meneliti bagaimana akibat atau kesudahan perbuatan atau kesalahan-kesalahan dimasa lalu dan tidak mengulangnya kembali. Kesimpulannya : ambil yg baiknya dan buang yg buruknya. Yang baiknya kita banggakan yg buruknya kita tinggalkan. Hidup sundaland.

      1. Nenek moyang mayoritas bangsa indo- sekarang ini perpaduan antara orang mongol & orang papua. Knp bukan ras arya sama orang mongol saja, ya ? Kan lebih keren jadinya. Si arya malah jaga jarak segala. Maaf, sedikit rasis. Trims.

  6. Teori ini menguatkan pengetahuan saya tentang nenek moyang mayoritas penduduk indo- sekarang ini (perpaduan antara ras asiatik mongoloid dengan malayan negroid). Karna itu ada yg saya sesalkan, knp bukan campuran ras arya & asiatik mongoloid saja yg menjadi mayoritas di negeri ini. Kan tampilanya jadi lebih keren. Si arya knp malah jaga jarak to ?! Maaf, sedikit rasis. Trims.

  7. IMHO, tidak ada salahnya kalau ada pihak-pihak yang notabene “bukan ilmuwan” tergerak untuk melakukan penelitian dengan pegangan teori Dr. Arisiyo Santos atau bahkan mitologi/legenda/dongeng sekalipun. Einstein sendiri mengatakan kalo imajinasi lebih penting dari pengetahuan. Pengetahuan itu terbatas, sedangkan imajinasi meliputi seluruh dunia, merangsang kemajuan, melahirkan evolusi. Jadi gak usahlah merasa diri yang paling rasional dan paling benar, yang pikirannya rasional aja sering salah. Pengetahuan didapat dengan berbagai metode. Tanpa imajinasi yang jadi motivasi generasi selanjutnya, gak mungkin kita mengungkap kebenaran karena sekelompok orang yang merasa “paling rasional” bilang kalo itu “salah”. menyedihkan.

    1. Tidak ada yang melarang untuk melakukan penelitian apapun dengan dasar apapun… Namun apabila penelitian itu ingin disebut ilmiah dan menghasilkan sebuah “ilmu pengetahuan” maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi seperti : objektif, metodis, universal, dan sistematis… Sejauh buku ini tidak memenuhi keempat unsur tersebut, maka adalah sah-sah saja untuk disebut “Tidak Ilmiah”

  8. Mohon maaf untuk semua…
    Saya berpendapat bahwa awal semua peradaban dunia berasal dari sini, Nusantara. Sebagai contoh bisa ditelusuri melalui google mengenai alasannya. Saat ini, Jepang, Korea bahkan Mesir telah menyatakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Nusantara, dan telah dipublish resmi oleh para ilmuwannya dengan persetujuan dari pemerintahnya masing-masing.
    Ingat yang dikatakan Bung Karno “Jas Merah” = jangan sekali-kali melupakan sejarah, semua itu merupakan peringatan dan nasehat agar kita belajar dari sejarah, terutama hal-hal tentang kebaikan atau etika moral. Namun sejarah bangsa kita telah dipelintir oleh orang2 tertentu untuk kepentingan sesuatu yang tersembunyi, jadi hati2 dalam mempelajari sejarah.
    Saya mengapresiasi segala pendapat dari rekan2 semua, namun sekali lagi, lebih baik kita menelaah terlebih dahulu sebelum menentukan sikap.
    Lambat laun, sejarah sebenarnya akan terkuak, hanya tinggal menunggu waktu. Semoga dengan terkuaknya sejarah bangsa kita, kita bisa kembali kepada ajaran Allah SWT yang sesungguhnya, bukan ajaran yang telah direkayasa oleh orang2 tertentu.
    Sekian & Terima kasih

  9. Tidak berlindung tapi mempelajarinya. Karena nenek moyang Nusantara sangat arif & bijaksana dalam segala hal, hanya keturunannya yang telah keluar jauh dari ajarannya.

  10. Menurut saya sah2 saja orang mempercayai teori nya masing, namanya juga riset spt pembuktian bumi itu bulat (tidak datar) juga memakan waktu. Saya scr pribadi lbh percaya ahli2 yang berkompeten, Prof Santos, Ilmuwan LIPI, dan lain2 baik itu yg memperdebatkan teori ahli geolog kita, spt di MIT, maupun sependapat. Drpd referensi yg diambil oleh tulisan website ini, sgt bukan ahli sama sekali di bidangnya.
    Saya pribadi justru mempertanyakan peran government mestinya lebih besar thd arkeologi, dgn ilmuwan berkompeten, memang kita patut berterima kasih thd sebagian ilmuwan Belanda yg mendalami Indonesia, tetapi bukan berarti org Belanda selalu benar, atau Eropa, selalu “baik” dengan imperialismenya yg bertentangan dgn Pancasila.

    1. Tentu saja, semakin banyak seseorang memperkaya wawasan dengan membaca banyak referensi, biasanya tidak akan mudah mempercayai satu teori dan memiliki daya kritis yang tinggi. Yang perlu dilakukan adalah membebaskan diri dari prasangka dengan menyebutkan orang ini pasti benar atau orang itu pasti salah sebelum benar-benar mendalaminya…

        1. Tidak perlu memiliki peradaban tinggi di masa lalu untuk menjadi bangsa ya hebat. Yang penting adalah sikap dan kerja keras kita di masa sekarang dan masa depan.

  11. atlantis – the homeland of the jew
    jew = jawa
    yahudi – israel
    solomon – sulaiman suparman sudirman
    promised land of moses/israel egypt

    aku pernah mimpi bisa terbang,bisa pindah tempat dalam sekejap,dan itu benar2 aku rasakan seperti nyata,seperti aku aku dulu pernah hidup dijaman atlantis

    pokoknya seperti nyata,tapi waktu terbangun aku kecewa hanya mimpi,tapi dalam mimpi itu aku seperti sungguhan,bisa terbang dengan konsentrasi dan niat,juga bisa pindah tempat seperti goku dengan memusatkan pikiran dan gaya seperti goku(tangan diletakkan dijidat) dan mak cling,bisa pindah tempat,tapi itu ga selalu bisa,harus dengan konsentrasi yg tinggi

    dan ingin aku coba lagi dimasa sekarang tapi nampaknya sudah tak bisa karena sudah beda zaman,beda energi dan aura,sudah ga sinkron

  12. Menurut pendukung Atlantis, justru bangsa-bangsa lain di dunia ini termasuk Arya, Jewish dsb adalah keturunan Atlantis, bukan sebaliknya.
    Jadi memang berbeda sudut pandang.

    Dr Santos dan Dr. Oppenheimer bukannya berusaha membuktikan secara ilmiah ?
    BTW, bisa cek juga pendapat yang lain di turanggaseta.com

  13. ts sok mau analis tp tambah ngaco aja krn msh pake otak darwinisme landasan mikirnya, sgala lemurian ngesex sama kera dr sini aja ts ketauan ga paham arti Le Muria, muria (in sansekrit = mulia, org yg mulia disebut org yg luhur, yg maha luhur Le luhur karna bangsa yg taat kpd hukum Tuhan) makanya ada sosok wali sunan muria, gak ada hubungannya dgn hewan lemur, justru adanya hewan tsb mmg utk menjatuhkan moyang manusia sang Luhur/ Le luhur bangsa nusantara ini.

Leave a Reply

Iklan

2 comments on “Teosofi, Atlantis, dan Gunung Padang

  1. Di buku Sejarah Gaib Pulau Jawa tertulis “pendatang-pendatang dari Atlantis”. Itu berarti bahwa Atlantis bukan di Jawa.
    Jawa (dulu masih menyatu dengan Sumatera dan Kalimantan) dijajah oleh Atlantis. Atlantis menjajah seluruh dunia, kecuali Kerajaan Agartha/Shamballa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: