Tinggalkan komentar

SEJARAH ASAL MULA LAMBANG SWASTIKA

Foto The Lost History of Nuhsantara.

The Lost History of Nuhsantara

TERNYATA “SWASTIKA” TELAH DIKENAL OLEH LELUHUR NUSANTARA SEJAK 25.000 TAHUN YANG LALU

Originally Written by:
Yeddi Aprian Syakh Al-Athas

*** Mohon agar dibaca pelan-pelan karena tulisan ini cukup panjang.

*** Seperti biasa, tulisan saya ini merupakan kajian berbasis pendekatan “Etno-Linguistik” yang belakangan menjadi sebuah pendekatan baru dalam melihat sejarah, sebagaimana disampaikan oleh Dr. Ir. Ricky Avenzora, M.Sc, staf pengajar Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Sampurasun…

Mari kita mulai,

Dalam Babad Purwa Carita disebutkan bahwa pada 25.000 tahun yang lalu, terdapat sebuah kerajaan besar bernama Kerajaan Harathanus Caringin Kurung yang dipimpin oleh seorang raja bernama Yang Dipertuan Agung Sang Pramesti Jagad Nata yang wilayah kerajaannya berpusat di Bogor.

Pada zamannya, Kerajaan Harathanus telah mengenal tulis menulis dan telah memiliki aksaranya sendiri yang disebut sebagai “AKSARA DARUNG”. Mereka pun menyembah Sang Maha Tunggal yang mereka sebut sebagai “TUHAN” dan disimbolkan dengan Huruf “T” sebagai awal dari sebutan “TUHAN”. Mereka pun saling menyapa satu sama lain dengan ucapan “SWASTIKA” yang dalam Bahasa Purwacarita merupakan gabungan dari kata “SWASTI” yang berarti “SELAMAT” dan kata “KA” yang berarti “KAMU” sehingga ucapan “SWASTIKA” adalah ucapan sapaan yang berarti “SELAMATLAH KAMU”.

Dan ucapan sapaan “SWASTIKA” ini kemudian dijadikan sebagai lambang resmi dalam Hukum Tulis Menulis yang dibuat dengan menggabungkan dua buah Huruf “T” dalam AKSARA DARUNG (lihat gambar yang disertakan dalam postingan ini) sehingga terbentuklah Lambang “SWASTIKA PURBA” yang berwarna Merah dan kemudian diadopsi oleh peradaban-peradaban setelahnya dengan bentuk “SWASTIKA” yang berwarna Hijau.

Pada 18.000 tahun berikutnya, lambang “SWASTIKA” kemudian mengalami pergeseran makna yakni dengan menganggap lambang “SWASTIKA” sebagai kontraksi dari lima cita ideal yg berasal dari Mesir Kuno sebagai bentuk Praktek Penyembahan Banyak Tuhan (POLITHEISME), yakni SATU Dewa Utama yang berada di Puncak PIRAMIDA dengan EMPAT Dewa Pembantu yang berada di EMPAT KAKI PIRAMIDA yang ada di EMPAT PENJURU MATA ANGIN, dimana padanannya banyak kita jumpai di tempat-tempat lain di dunia.

Nah dalam tulisan ini, saya akan coba menghubunginya dengan praktek Penyembahan Banyak Tuhan (POLITHEISME) yang paling tua yang dilakukan oleh Kaum Nabi Nuh as yang kisahnya terekam dalam kitab suci Al-Quran:

”Dan mereka berkata: Janganlah kamu meninggalkan tuhan-tuhan kamu, dan jangan (pula meninggalkan) WADD, dan SUWA, dan YAGHUS, dan YA’UQ, dan NASR” (QS. Nuh 71:23)

Dari sini kita mendapati nama “LIMA TUHAN” yang disembah oleh Kaum Nabi Nuh as, yakni:

👉 WADD = tuhan laki-laki,
👉 SUWA’ = tuhan perempuan,
👉 YAGHUS = tuhan singa,
👉 YA’UQ = tuhan kuda, dan
👉 NASR = tuhan rajawali.

Ahli Mesir Kuno, ketika mengkaji tulisan hiroeglif dari Piramida Besar, dan menterjemahkan tradisi kaum Mesir Kuno pun menemukan lima indikasi kuat bahwa ‘LIMA TUHAN’ ini, atau sekutunya, telah disembah juga di Mesir Kuno, yaitu sebagai “DEWA HORUS” beserta empat anak lelakinya, yakni:

👉 HORUS = dewa laki-laki,
👉 AMSTA = dewa perempuan,
👉 HAPI = dewa singa,
👉 TAUMUTF = dewa sapi,
👉 KABLSENUF = dewa rajawali.

👆Lihat persamaan yang kita dapt antara “LIMA TUHAN” yg disebutkan dalam Al-Quran Surat Nuh ayat 23 dengan “LIMA DEWA” dalam Tradisi Mesir Kuno.

Sekarang mari kita lihat persamaan universal dari “LIMA TUHAN” ini pada tradisi kepercayaan lainnya.

TRADISI KAUM NABI NUH
👉 WADD: lelaki,
👉 SUWA’: perempuan,
👉 YAGHUS: singa,
👉 YA’UQ: kuda,
👉 NASR: rajawali.

TRADISI MESIR KUNO
👉 HORUS: lelaki,
👉 AMSTA: perempuan,
👉 HAPI: singa,
👉 TAUMUTF: kuda,
👉 KABISENUF: elang.

TRADISI YAHUDI KUNO
👉 ADAM: lelaki,
👉 EVE: perempuan,
👉 ARYAH: singa,
👉 SHOR: sapi,
👉 NEHER: rajawali.

TRADISI CHALDEAN KUNO
👉 USTUR: lelaki,
👉 ????? : perempuan,
👉 NIRJUL: singa,
👉 SED-ALAP: banteng,
👉 NATTIJ: rajawali.

TRADISI CINA KUNO
👉 FUXI: lelaki,
👉 NUWA: perempuan,
👉 SIGAN-FO: singa,
👉 HOW-KANG: sapi,
👉 CHENUSI: elang.

TRADISI MEKSIKO KUNO
👉 ACATTAL: lelaki,
👉 ????? : perempuan,
👉 TECPATE: singa,
👉 COLLI: sapi,
👉 TOCHTTI: elang.

TRADISI AFRIKA KUNO
👉 IBARA: lelaki,
👉 ????? : perempuan,
👉 EDI: singa,
👉 OYEKUM: sapi,
👉 OZ-BE: elang.

TRADISI INDIA KUNO
👉 BATARA GURU: lelaki,
👉 DEWI UMA : perempuan,
👉 ?????: singa,
👉 ANDINI: sapi,
👉 JATAYU: garuda.

Ahli-ahli Mesir Kuno menyatakan kepada kita bahwa HORUS, Sang Maha-Dewa, berdiri di puncak PIRAMIDA didukung oleh EMPAT PUTERANYA yang berdiri di masing-masing pojok empat penjuru mata angin.

Simbolisme “SWASTIKA” yang telah dikenal oleh Nenek Moyang Nusantara sejak 25 ribu tahun yang lalu dan baru dikenal oleh Masyarakat Mesir Kuno sejak 7 ribu tahun yang lalu, ternyata dibenarkan pula oleh NABI YEHEZKIEL yang hidup 595 tahun sebelum Kelahiran NABI ISA sebagaimana terekam dalam Al-Kitab Perjanjian Lama berikut,

“KEEMPATNYA mempunyai muka MANUSIA di DEPAN, muka SINGA di sebelah KANAN, muka LEMBU di sebelah KIRI, dan muka RAJAWALI di BELAKANG.” (Yehezkiel 1:10)

👉 Lagi-lagi Al-Kitab Perjanjian Lama pun membenarkan keberadaan simbol SWASTIKA empat penjuru angin ini bahkan dengan perlambang simbol yang sama yakni: MANUSIA (PEREMPUAN), LEMBU/SAPI, ELANG/RAJAWALI dan SINGA.

Dari Al-Kitab Perjanjian Lama kemudian simbol SWASTIKA ini kembali diingatkan dalam Al-Kitab Perjanjian Baru yakni sebagai Wahyu yang diturunkan kepada NABI YOHANES yang hidup 100 tahun sesudah NABI ISA:

“(Yohanes) melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dahulu telah kudengar, berkata kepadaku. Naiklah kemari dan Aku akan menunjukkan apa yang harus terjadi sesudah ini. “Dan di hadapan SINGGASANA (ARASY) itu ada lautan kaca bagaikan kristal; di tengah-tengah SINGGASANA (ARASY) itu dan sekelilingnya ada EMPAT MAKHLUK penuh dengan mata, di sebelah depan dan sebelah belakang. Adapun makhluk yang pertama sama seperti SINGA, dan makhluk yang kedua sama seperti ANAK LEMBU/SAPI. Dan makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka MANUSIA dan makhluk yang keempat sama dengan BURUNG ELANG yang sedang terbang”. (Yohannes 4:1, 6-7)

👉 Lagi-lagi Al-Kitab Perjanjian Baru pun membenarkan keberadaan simbol SWASTIKA empat penjuru angin ini bahkan dengan perlambang simbol yang sama yakni: MANUSIA (Perempuan), ANAK LEMBU/SAPI, BURUNG ELANG/RAJAWALI dan SINGA.

Dari Al-Kitab Perjanjian Baru kemudian simbol SWASTIKA ini rupanya juga terekam dalam Al-Quran yakni sebagai nama surat dari tujuh surat pertama dalam Al-Quran, yakni:
👉 Al-FATIHAH: lelaki,
👉 An-NISA : perempuan,
👉 Al-ANAM: singa (hewan penjaga ternak),
👉 Al-BAQARAH: sapi,
👉 Al-ANFAL: garuda (hewan yg tinggal di tempat yg tinggi).

Dan bahkan simbol SWASTIKA ini pun ditemukan dalam Ajaran Tradisi Ahlul Bait Rasulullah saw sebagai berikut,
👉 NABI MUHAMMAD Saw: lelaki,
👉 FATHIMAH ra : perempuan,
👉 ALI bin ABI THALIB ra: singa,
👉 HUSEIN bin ALI: sapi,
👉 HASAN bin ALI: garuda.

Dalam penjelasan saya paling awal sudah saya jelaskan bahwa Leluhur Nusantara menciptakan Lambang ‘SWASTIKA’ dengan cara menggabungkan dua buah HURUF ‘T’ yang ditulis dalam AKSARA DARUNG.

Nah dalam konsep tata bahasa yang diajarkan Tuhan kepada Nabi Adam as, dikenal adanya kaidah vokal ‘a-i-u’ yang disebut sebagai ‘TRIPLE VOKAL’.

Nah kaitannya dengan TRIPLE VOKAL ini, Konsep Simbol ‘SWASTIKA’ ternyata dibuat oleh Leluhur Nusantara 25 ribu tahun lalu sebagai manifestasi Ajaran MONOTHEISME mereka yang dijabarkan dengan Konsep ‘TATA’, ‘TITI’ dan ‘TUTU’ yang digambarkan dengan menggabungkan dua buah HURUF ‘T’ yang saling berkebalikan arah dalam AKSARA DARUNG sebagai manifestasi dari DUALISME makhluk ciptaan.

👉 ‘TATA’ bermakna ’PERBUATAN’ yang dalam piktograf Bahasa Simbol digambarkan dengan lambang ‘TANGAN’ yang dalam Bahasa Ibrani merupakan simbol piktograf huruf ‘YOD’ atau huruf ’YA’ dalam Bahasa Arab, yang dimanifestasikan sebagai dualisme ‘PERENCANAAN’ dan ’IMPLEMENTASI’.

👉 ‘TITI’ bermakna ‘UCAPAN’ yang dalam piktograf Bahasa Simbol digambarkan dengan lambang ‘MULUT’ yang dalam Bahasa Ibrani merupakan simbol piktograf huruf ‘PEH’ atau huruf ’FA’ dalam Bahasa Arab yang kemudian dimanifestasikan dalam dualisme ‘UCAPAN MULUT’ dan ‘UCAPAN HATI’.

👉 ‘TUTU’ bermakna ‘PIKIRAN’ yang dalam piktograf Bahasa Simbol digambarkan dengan lambang ‘KEPALA’ yang dalam Bahasa Ibrani merupakan simbol piktograf huruf ‘RESH’ atau huruf ‘RA’ dalam Bahasa Arab yang kemudian dimanifestasikan dalam dualisme ’PIKIRAN’ dan ’IMAJINASI’.

Nah konsep ‘TATA’, ‘TITI’ dan ’TUTU’ sebagai penjabaran makna lambang ‘SWASTIKA’ inilah yang kemudian diadopsi oleh ‘AJARAN KAPITAYAN’ yang dibawa oleh ‘NABI SEMAR’ sebagai ’AJARAN TATA TITI’ dan kemudian disempurnakan oleh NABI SULAIMAN menjadi ’AJARAN PURAYA’ atau ‘AJARAN PEMURNIAN HARDAYA’ atau ‘AJARAN PEMURNIAN HATI’ guna meng-AKTIVASI ‘TITIK BA’ dalam HATI dan kemudian akhirnya disempurnakan oleh Rasulullah saw melalui Ajaran Agama Islam sebagai ’IMAN – ISLAM – IHSAN’.

👉 ‘TATA – TITI – TUTU’ sebagai Konsep SWASTIKA.

👉 PU (Peh/Fa – Ucapan) – RA (Resh/Ra – Pikiran/Kehendak) – YA (Yod/Ya – Perbuatan) sebagai Konsep PURAYA.

👉 IMAN (6) – ISLAM (5) – IHSAN (1) sebagai Konsep Ajaran Agama Islam.

Mengapa harus ‘6-5-1’ bukan ‘1-6-5’ karena 651 = 7 x 93 (bilangan kripto tujuh atau bilangan habis dibagi tujuh)

👉 MANACIKA – KAYIKA – WACIKA sebagai Konsep TRI KAYA PARISUDA agama Hindu.

👉 HU’UKTA – HU’MATA – HUVARSHTA sebagai konsep MAZDA YASNA agama Zoroaster.

👉 SABDA – HEDAP – BAYU sebagai konsep TRI KARMA dalam Ajaran Sundayana.

Demikianlah penjelasan saya tentang Simbol ‘SWASTIKA PURBA’ yang diciptakan oleh Nenek Moyang Nusantara yang simbolnya digambarkan berlawanan arah jarum jam sebagai manifestasi bentuk Thawaf Alam Semesta.

Semoga Bermanfaat…

Salam Rahayu 🙏🙏🙏

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: