8 Komentar

TERUNGKAP: GUNUNG SINAI BUKAN DI MESIR, TAPI DI SUMATERA

Foto Yeddi Aprian Syakh Al-Athas.
Yeddi Aprian Syakh Al-Athas ke NUHSANTARA HISTORICAL DISCOVERY

TERUNGKAP: GUNUNG SINAI BUKAN DI MESIR, TAPI DI SUMATERA

Originally Written by:
Yeddi Aprian Syakh Al-Athas

*** Mohon agar dibaca pelan-pelan karena tulisan ini cukup panjang.

*** Seperti biasa, tulisan saya ini merupakan kajian berbasis pendekatan “Etno-Linguistik” yang belakangan menjadi sebuah pendekatan baru dalam melihat sejarah, sebagaimana disampaikan oleh Dr. Ir. Ricky Avenzora, M.Sc, staf pengajar Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Sampurasun…

Selama ini kita kita semua meyakini dan mengiyakan apa yang disampaikanoleh Para Ahli Sejarah bahwa GUNUNG SINAI itu berada di MESIR, namun rupanya ketika melakukan kajian etno-linguistik terhadap Al-Kitab Perjanjian Lama dan Al-Quran ternyata ciri-ciri tentang GUNUNG SINAI yg disebutkan dalam Al-Kitab ataupun Al-Quran justru merujuk ke lokasi di Nusantara yakni tepatnya di Pulau SUMATERA.

Penasaran dengan apa yang telah saya sampaikan di atas?

Mari kita mulai,

Dalam Al-Quran QS. Al-Mu’minun 23:20 kata ‘THURSINA’ ditulis dengan kata ‘SAINAA-A’ (Sin-Ya-Nun-Alif-Hamzah).

Dan di dalam QS. At-Tiin 69:2 kata ‘SINAI’ ditulis sebagai ‘SIINIIN’ (Sin-Ya-Nun-Ya-Nun). Bandingkan dengan QS. Al-Mu’minin 23:20 yang menyebut kata ‘SINAI’ dengan kata ‘SAINA’ (Sin-Ya-Nun).

Artinya jika kita merujuk kepada QS. At-Tiin 69:2 yg menyebutkan kata ’SIINIIN’ maka maknanya adalah ”DUA SINAI”. Ini sama halnya dengan kata ’SABA’ yang ditulis oleh Al-Quran dengan kata ‘SABA’IIN’ yg bermakna ‘DUA SABA’.

Jika Data pendukung dari kata ’SABA-IN’ yg bermakna ’DUA SABA’ adalah Hadits Rasulullah saw yg menyebutkan “SABA di YAMAN dan SABA di SYAM” maka data pendukung dari kata ‘SIINIIN’ yg bermakna ’DUA SINAI’ adalah Al-Kitab Perjanjian Lama (al-Ahd al-Qadm) Kitab Keluaran (al-Khuruj) 16:1 berikut:

“Setelah mereka berangkat dari Elim, tibalah segenap jemaah Israel di padang gurun SIN (CIYN) yang terletak di antara ELIM dan GUNUNG SINAI (CIYNAY) pada hari yang kelima belas bulan yang kedua, sejak mereka keluar dari tanah Mesir.”

👆Dalam Al-Kitab Perjanjian Lama, Kitab Keluaran 16:1 di atas, kata ‘SIN’ disebut dengan kata ’CIYN’ dan kata ‘SINAI’ disebut dengan kata ‘CIYNAY’.

Dan dalam aspek gematria adalah:

Untuk Kata ‘SIN’:
Ditulis: Ciyn.
Dibaca: Seen.
Dieja: Samekh-Yod-Nun.
Nilai Gematria: 60+10+50 = 120.
Strong’s Number: 5512.
Meaning / Arti: “Thorn” (Tanduk).

👉 Bandingkan kata ’CIYN’ (Dibaca: SIN) di atas dengan kata ’SINAI’ dalam QS. Al-Mu’minun 23:20 yg ditulis dengan kata ‘SAINA’ (Sin-Ya-Nun) yg juga sama2 memiliki nilai gematria ’120’.

Kemudian untuk kata SINAI:
Ditulis: Ciynay.
Dibaca: Seenah-ee.
Dieja: Samekh-Yod-Nun.
Nilai Gematria: 60+10+50+10 = 130.
Strong’s Number: 5514.
Meaning / Arti: “Thorny” (Bertanduk).

Kesimpulan:
👉 Menurut Al-Kitab Perjanjian Lama Kitab Keluaran 16:1, disebutkan ada dua SINAI, yang satu adalah PADANG SIN (CYN) dan yang satu adalah GUNUNG SINAI (CIYNAY), dimana PADANG SIN terletak antara ELAM dan GUNUNG SINAI.

Mari kita lanjutkan…

Al-Kitab Perjanjian Lama (al-Ahd al-Qadim) Kitab Keluaran (al-Khuruj) menyebutkan bahwa Nabi MUSA bertemu dengan Tuhan di ‘GUNUNG SINAI’ namun Al-Quran dalam QS. Thoha 20:12 dan QS. An-Naazi’at 79:16 menyebutkan bahwa Nabi MUSA bertemu dengan Tuhan di ‘ARDHIL MUQADDAS THUWA’ atau ’LEMBAH SUCI THUWA’.

Kata ‘THUWA’ dalam Al-Quran ditulis dengan huruf ‘Tha’ dan ‘Waw’ dan kata ’THUWA’ ini sama artinya dengan kata ’TOW’ dalam bahasa ibrani yg ditulis dengan huruf ‘Tet’ dan ‘Vav’.

👉 Bahasa Arab: THUWA = Tha-Waw (dibaca: THUWA / TUWA).
👉 Bahasa Ibrani TOW = Tet-Vav (dibaca: TOBE / TOBA).

THUWA (bahasa Arab) atau TOBA (bahasa Ibrani) merujuk ke nama tempat dan dikaitkan dengan kata ‘THUR’ yg berarti ‘GUNUNG’ atau ‘BUKIT’.

👉 Di dunia hanya ada dua tempat yg bernama ‘TOBA’ yakni ’TOBA’ di Batak, Sumatera Utara dan ‘TOBA’ di Amerika Selatan. Tapi hanya ’TOBA’ di Batak, Sumatera Utara yg merupakan sebuah gunung dan disebut sebagai ’MOUNT TOBA’.

Lalu apakah benar kata ‘TOBA’ merupakan pengucapan kata ‘THUWA’ (bahasa Arab) dalam bahasa Batak?

👉 Dalam Tradisi Batak, Oppu Mulajadi Nabolon dalam Agama Parmalim dianggap sebagai ‘DEBATA’ yang berarti “TUHAN” atau “DEWA”. Nah kata ‘DEBATA’ (bahasa Batak) ini berasal dari kata ibrani ’DEVA’ (dalet-vav) yang dalam bahasa arab sama dengan kata ‘DAWA’ atau ‘DEWA’ (Dal-Waw). Perhatikan bahwa huruf ‘Vav’ bahasa ibrani atau huruf ‘Waw’ dalam bahasa arab diucapkan sebagai huruf ‘B’ dalam bahasa Batak. Sehingga ini menjadi sebuah fakta pendukung bahwa kata ‘TOBA’ memang merupakan pengucapan kata ‘THUWA (bahasa arab) atau kata ‘TOW’ – ‘Tet-Vav’ (bahasa ibrani) dalam Bahasa Batak.

Masih menurut Al-Kitab Perjanjian Lama (al-Ahd al-Qadim) Kitab Keluaran (al-Khuruj) 16:1 bahwa ‘PADANG GURUN SIN’ (CIYN) terletak di antara ‘ELIM’ dan ‘GUNUNG SINAI’ (CIYNAI).

👉 Dalam penjelasan sebelumnya, sdh sy jelaskan bahwa ‘GUNUNG SINAI’ dalam Al-Kitab disebut sebagai ‘LEMBAH SUCI THUWA’ dalam Al-Quran, sehingga kita dapat mengatakan bahwa ’SINAI’ = ‘THUWA’. Dan ‘THUWA’ dalam bahasa ibrani dibaca ’TOB’ dan dalam bahasa Batak dibaca ’TOBA’ sehingga ’GUNUNG SINAI’ = ‘GUNUNG TOBA’.

👉 Lalu apakah ada ’PADANG GURUN SIN’ di dekat lokasi ‘GUNUNG TOBA’ ….?

Jawab: ADA.

👉 Dalam Al-Kitab Perjanjian Lama, ‘PADANG GURUN SIN’ ditulis dalam bahasa ibrani sebagai ‘CIYN’ yg berarti “Thorn” atau “Tanduk”.

👉 Dan ternyata dekat lokasi ’GUNUNG TOBA’ terdapat kawasan kaldera yg bernama ‘GUNUNG SIPISO-PISO’ yang artinya adalah “GUNUNG TANDUK BANUA”.

👉 Sehingga ‘PADANG GURUN SIN’ yg berada dekat ‘GUNUNG SINAI’ yg disebut dalam Al-Kitab Perjanjian Lama adalah ‘GUNUNG SIPISO-PISO’ (GUNUNG TANDUK) yg berlokasi tidak jauh dari ‘GUNUNG TOBA’.

Dan dalam Al-Kitab Perjanjian Laam (al-Ahd al-Qadim) 16:1 juga disebutkan bahwa tidak jauh dari lokasi ‘PADANG GURUN SIN’ (CIYN) dan ‘GUNUNG SINAI’ terdapat lokasi yg bernama ’ELIM’ yang dalam bahasa ibrani ditulis ’EYLIM’ (strong’s number 0362) yg merupakan kata turunan dari akar kata ’AYIL (strong’s number 0352) yg artinya adalah:

(1) Strong Man, Leader, Chief (Pemimpin, Tokoh Yang Dituakan).
(2) Trees (Pohon).

👉 Kaitannya dengan arti kata yng pertama, yakni sebagai “Leader” (Pemimpin) atau “Strong Man” (orang yg dituakan), maka kata ’ELIYM (dibaca: ELIM) kita temukan pada Agama Asli Masyarakat Batak Toba yakni ‘Agama PAR-MALIM’ dimana kata ’PAR-MALIM’ berasal dari Bahasa Melayu ‘MALIM’ yang berarti ”Orang yang Berilmu” atau “Tokoh Agama” atau ”Pemimpin Umat”. Dan arti kata ‘MALIM’ ini mirip dengan arti kata ‘ELIM’ dalam bahasa Ibrani yg disebut dalam Al-Kitab.

👉 Kaitannya dengan arti kata yang kedua yakni sebagai “Trees” atau “Pohon” maka di Batak atau Sumatera secara umum dikenal adanya pohon yang bernama ‘ULAM RAJA’ yang di Jawa disebut sebagai ’DAUN KENIKIR’ atau di Sunda disebut sebagai ‘RANDA MIDANG’ dan daun pohon ini biasa dijadikan lalapan yang bisa dimakan.

Dan ini disebutkan pula dalam QS. Al-Mu’minum 23:20 sbb,

“Dan POHON yang keluar dari THUR SAINA yang menghasilkan minyak dan kuah bagi orang-orang yang memakannya”.

👆Al-Quran menyebutkan bahwa di ‘BUKIT SAINA’ atau ’GUNUNG SAINA’ yang dalam Al-Kitab disebut dengan ‘CIYN’ (Samech-Yod-Nun) yang juga bisa dibaca sebagai ’CAINA’ atau ’SAINA’ terdapat sebuah pohon yang dapat dimakan. Dan ini sepadan dengan kata ‘ULAM RAJA’ (Bahasa Sumatera) atau ’DAUN KENIKIR’ (Bahasa Jawa) yg bisa dijadikan makanan lalapan dan kata ’ULAM’ dari ‘ULAM RAJA’ memiliki kemiripan fonetik dengan kata ’ELIM’ yg disebut dalam Al-Kitab Perjanjian Lama berlokasi tidak jauh dari ’PADANG GURUN SIN’ dan ‘GUNUNG SINAI’.

Kemudian Dalam QS. Hud 11:89 disebutkan:

“(Syua’ib berkata): Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa Kaum Nuh atau Kaum Hud atau Kaum Shaleh, sedangkan Kaum Luth dari kamu tidaklah jauh (bi ba’iid)”.

👆Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsirnya “Shahih Ibn Katsir”, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan kata BI-BA’IID dalam Surat Hud ayat 89 bisa bermakna ’WAKTU’ dan bisa pula bermakna ‘TEMPAT’.

Dalam konteks ‘WAKTU’ berarti jarak waktu antara adzab Allah yang ditimpakan kepada kaum Nabi LUTH dengan Kaum Nabi SYU’AIB tidaklah terlalu jauh. Sedangkan dalam konteks ‘TEMPAT’, berarti memang lokasi negeri Kaum Nabi LUTH tidaklah terlalu jauh dari lokasi Negeri MADYAN.

👉 Kita tahu bahwa Kaum Nabi LUTH itu berlokasi di Negeri THUUBA. Dan secara fonetik linguistik, kata ’THUUBA’ memiliki kemiripan dengan kata ’TOBA’ yg dalam penjelasan sebelumnya disebutkan bahwa ’GUNUNG TOBA’ adalah ‘GUNUNG SINAI’.

👉 Dan dalam QS. Hud ayat 89 disebutkan bahwa dalam konteks Tempat, maka lokasi Kaum Nabi LUTH itu tidaklah jauh dengan lokasi Kaum Nabi SYUA’IB yakni di Negeri MADYAN. Dan saya pernah menjelaskan bahwa kata ‘MADYAN’ dari sisi linguistik adalah sama dengan kata ‘MEDAN’. Sehingga maksud dari kalimat “lokasi Kaum LUTH yg tidak jauh dari lokasi Kaum Nabi SYUAIB” adalah “GUNUNG TOBA” yang tidak jauh lokasinya dari “MEDAN”.

Reminder tentang MADYAN = MEDAN

Etnis BATAK KARO yg merupakan penduduk MEDAN yg konon berasal dari Kerajaan ARU, menyumbangkan pemikiran tentang penamaan kota ‘MEDAN’ dan menyatakan bahwa asal nama ’MEDAN’ berasal dari bahasa KARO yaitu ”MADEN“ yang berarti “SEMBUH”. Sebab hikayatnya dahulu di pinggir sungai Deli dan Babura banyak penderita LEPRA/KUSTA dan sembuh (dalam bahasa Karo disebut MADEN) maka kata sembuh ‘MADEN’ dalam pengucapannya disesuaikan dengan bahasa melayu menjadi ‘MEDAN’.

Kata ’MADEN’ sendiri merupakan transliterasi dari bahasa ibrani ’MIDYAN’ atau bahasa arab ’MADYAN’ ke dalam bahasa indonesia.

MADYAN dibaca: MADEN.

Analog:
RADYAN dibaca: RADEN.
JAYLANI dibaca: JELANI.
SULAYMAN dibaca: SULEMAN.
PAYTRA dibaca: PETRA.

RAMPYAS dibaca: RAMPES.

Berarti kita sudah punya EMPAT DATA PENDUKUNG yg menjadi argumen bahwa yg dimaksud ’GUNUNG SINAI’ dalam Al-Kitab atau ‘LEMBAH SUCI THUWA’ dalam Al-Quran merujuk ke ’GUNUNG TOBA’.

DATA PENDUKUNG #1:
👉 Kata ‘THUWA’ (bahasa arab) = Kata ’TOW’ (dibaca TOB dalam bahasa ibrani = Kata ’TOBA’ dalam bahasa Batak.
Analog kata ‘DEVATA’ atau ‘DEWATA’ diucapkan dalam bahasa Batak sebagai ‘DEBATA’.

DATA PENDUKUNG #2:
👉 Kata ’CIYN’ (dibaca SIN) yg dalam bahasa ibrani artinya adalah “Thorn” atau “Tanduk” dan lokasinya tidak jauh dari ’GUNUNG SINAI’ atau ’GUNUNG TOBA’ ternyata merujuk kepada ’GUNUNG SIPISO-PISO’ yg artinya adalah ‘GUNUNG TANDUK BANUA’.

DATA PENDUKUNG #3:
👉 Kata ‘ELIM’ yg dalam bahasa ibrani artinya “Leader” (pemimpin) atau “Strong Man” (orang yang dituakan) ternyata memiliki kemiripan dengan kata ’MALIM’ dalam Bahasa Batak Toba yg artinya adalah “Orang yang Dituakan” atau “Pemimpin Umat”.

👉 Kata ‘ELIM’ yg dalam bahasa ibrani juga berarti “Trees” atau “Pohon” ternyata memiliki kemiripan dengan kata ’ULAM RAJA’ yg merupakan nama sebuah pohon yg dalam bahasa Jawa disebut ’DAUN KENIKIR’ dan merupakan pohon yg daunya dapat dijadikan makanan lalapan sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Mu’minim 23:20 bahwa di ‘GUNUNG SAINA’ atau ‘BUKIT SAINA’ terdapat POHON yang mengeluarkan minyak dan kuah bagi yg memakannya.

DATA PENDUKUNG #4:
👉 dalam QS. Hud ayat 89 disebutkan bahwa lokasi Kaum Nabi LUTH (di Negeri THUBA) tidak jaih tempatnya dengan lokasi Kaum Nabi SYUAIB (di Negeri MADYAN).
THUBA = GUNUNG TOBA.
MADYAN = MEDAN.

Dan ‘GUNUNG TOBA’ memang tidaklah jauh lokasinya dari MEDAN, dankeduanya sama2 berada di SUMATERA UTARA.

👉 Dan saya masih punya Data Pendukung ke-5.

DATA PENDUKUNG #5:
👉 Dalam Sejarah disebutkan bahwa Nabi SYUAIB diutus kepada Kaum MADYAN karena saat itu Kaum MADYAN menganut kepercayaan TUHAN BAAL.

Jika ’MADYAN’ = MEDAN pertanyaannya adalah apakah di MEDAN ada sisa-sisa peninggalan kepercayaan terhadap TUHAN BAAL…?

Jawab:
Di PADANG SIDEMPUAN terdapat peninggalan kuno bernama ’BIARA BAHAL’ yg diyakini berasal dari Abad ke-12 Masehi.

👉 Secara fonetik linguistik, kata ‘BAHAL’ memiliki kemiripan dengan kata ’BAAL’.

Eits tunggu dulu, ternyata saya masih punya data pendukung ke-6.

DATA PENDUKUNG #6:
Dalam Al-Kitab Perjanjian Lama (al-Ahd al-Qadim) Kitab Bilangan 12:10 disebutkan,

”Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah MIRYAM kena KUSTA, putih seperti salju; ketika HARUN berpaling kepada MIRYAM, maka dilihatnya, bahwa dia kena KUSTA!”

Kemudian di Kitab Bilangan 12:15-16 disebutkan:
”Jadi dikucilkanlah MIRYAM ke luar tempat perkemahan tujuh hari lamanya (karena KUSTA) dan bangsa itu tidak berangkat sebelum MIRYAM diterima kembali. Kemudian berangkatlah mereka dari Hazerot dan berkemah di padang gurun PARAN.”

Pertanyaannya:

Dimanakah lokasi PADANG GURUN PARAN tempat MIRYAM Saudara Perempuan Nabi MUSA dan HARUN dikucilkan karena menderita penyakit KUSTA?

Jawab:
Ada pada Kitab Bilangan 10:12berikut,
“Lalu berangkatlah orang Israel dari GUNUNG SINAI menurut aturan keberangkatan mereka, kemudian diamlah awan itu di padang gurun PARAN.”

👆Ternyata lokasi PARAN pun masih berdekatan dengan lokasi GUNUNG SINAI.

👉 Ingat dalam penjelasan saya sebelumnya bahwa GUNUNG SINAI = GUNUNG TOBA di Sumatera Utara.

👉 Dan PARAN ditulis dalam bahasa ibrani dengan huruf: ‘Peh-Resh-Nun’ sepadan dengan huruf ‘Fa-Ra-Nun’ dalam bahasa Arab dan dibaca ‘FARAN’.

Dan ‘FARAN’ adalah penyebutan untuk Kota ‘BARUS’ di Tapanuli Utara oleh Para Ahli Sejarah Arab yang dalam bahasa Arab disebut sebagai ‘FARANSUR’.

PARAN (bahasa ibrani) = FARAN (bahasa arab) = FARANSUR = Kota BARUS di Tapanuli Tengah.

Dan memang Kota ’BARUS’ di Tapanuli Tengah juga berlokasi tidak jauh dari ’GUNUNG TOBA’ yg masih sama-sama terletak di Provinsi Sumatera Utara.

Demikian penjelasan singkat saya mengenai Misteri Lokasi GUNUNG SINAI dari sudut pandang etno-linguistik.

Dan sekali lagi saya tegaskan bahwa ini hanyalah sebatas “HIPOTESIS” yang saya sampaikan ke ruang terbuka publik yang saya peroleh lewat kajian berbasis “etno-linguistik” dan “ilmu gematria”. Hipotesis saya ini bisa benar dan bisa juga salah. Karena saya juga hanyalah manusia biasa. Semoga ijtihad pemikiran saya ini bisa menjadi awal kajian dan bahan diskusi lanjutan yang membangkitkan nalar dan logika berpikir yang lebih kritis dan mendalam guna mengungkap fakta kebenaran yang sesungguhnya.
Mohon Maaf jika ada kata-kata saya yang tidak berkenan, dan sampai jumpa lagi di kajian-kajian saya berikutnya.

NB:
Diizinkan untuk SHARE sebanyak-banyaknya guna mendatangkan manfaat yang sbesar-besarnya namun dengan tetap menyebutkan sumber aslinya.

Untuk Kebangkitan Nusantara _/\_

Salam Rahayu,

Yeddi Aprian Syakh al-Athas
👉 Admin Group “The Lost History of Nuhsantara”
👉 Admin Group “Nuhsantara History Discovery”
👉 Admin Group “Imperium Sulaiman (Atlantis Indonesia)”

 

8 comments on “TERUNGKAP: GUNUNG SINAI BUKAN DI MESIR, TAPI DI SUMATERA

  1. ada satu kejanggalan dalam analisisnya dan terlalu jauh penyimpangannya.. perbudakan bani israil atau yahudi jelas adanya di mesir… apa mungkin perjalanan bani israel sampai ke sumatra dalam pengembaraannya..udah habis di makan harimau.

    • Setuju…….ini sih namanya othak athik gathuk aj ini….musuh Nabi Musa adalah Fir’aun dan jelas Fir’aun itu gelar Raja Mesir,,,apa mesir itu jg ada di Nusantara? Atau sekarang jadi samosir itu ya…?? 😄😄😄😄 ngakak aq baca artikel super ngawur ini…

  2. Gunung Sinai memang BUKAN di Mesir & BENAR di Indonesia…tetapi letaknya BUKAN di SUMATERA.
    Kajian yg disampaikan hanya mengolah BAHASA tetapi tak mengkaji TEMPAT.
    Coba cermati apa yg dikabarkan Al Quran.
    Sinai memang dari kata Chynai = artinya PENANDA
    Atau Gunung yg ditandai.
    Al Quran menjelaskannya dg kata Zaitun= Minyak
    Yg tdk tumbuh di Barat & dibTimur = Berada di Tengah.
    Ditengah ini bukan Medan, Sumatera . Meskipun kata Medan digunakan berasal dari kata Tengah..dulu org medan memang berasal dari daerah Madyan
    Gunung Sinai ditandai dg Zaitun, dunhi & Naar.
    Juga Pohon & Air.
    Tempat bertemunya Nabi Musa & Allah sekarang dipakai sbg Masjid yg memang harus melepas sandal.
    Dulu sebelum jadi Masjid namanya MUSOLA / Langgar.

  3. Alhamdulillah, saya merasa ada kesesuaian dengan yang saudara sampaikan.

    Ada lagi, mungkin bisa dibahas Kemudian
    Soal dinding Ya’juj Ma’juj:
    Saya Menafsirkan ada di wilayah Papua barat (tenggelam di laut Jayapura)

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    “Hingga ketika dia sampai di tempat terbit matahari (wilayah timur) didapatinya (matahari) bersinar di atas (0° LS) suatu kaum yang tidak Kami buatkan suatu pelindung (pakaian) bagi mereka dari (cahaya matahari) itu,” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 90) <= wilayah timur Indonesia, terdapat jalur khatulistiwa (Matahari bersinar tepat di atas) suku Papua yang hingga kini masih terdapat bukti orang tak berpakaian.

  4. Alhamdulillah, saya merasa ada kesesuaian dengan yang saudara sampaikan.

    Tapi soal Gunung Thuwa ; Boleh Jadi Gunung Tua Padang Lawas Utara Yang Terdapat Kuil Bahal.

    Ada lagi, mungkin bisa dibahas Kemudian
    Soal dinding Ya’juj Ma’juj:
    Saya Menafsirkan ada di wilayah Papua barat (tenggelam di laut Jayapura)

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    “Hingga ketika dia sampai di tempat terbit matahari (wilayah timur) didapatinya (matahari) bersinar di atas (0° LS) suatu kaum yang tidak Kami buatkan suatu pelindung (pakaian) bagi mereka dari (cahaya matahari) itu,” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 90) <= wilayah timur Indonesia, terdapat jalur khatulistiwa (Matahari bersinar tepat di atas) suku Papua yang hingga kini masih terdapat bukti orang tak berpakaian.

  5. Thuri Siiniin
    2 Gunung S (Sin) <= Sibayak & Sinabung
    Yang berjarak 26.5 Km

  6. Wadil muqaddasi thuwa (Qs. Thaha:12) = Kadesh Barnea (Kitab Bilangan 32:8)
    ———
    Kadesh = muqaddasi = yang disucikan
    Barnea, Barnuwa = wadi thuwa = (lembah di gurun) tempat pelarian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: