Tinggalkan komentar

PROSES PEMURNIAN – ‘PURAYA’ : SEBUAH PESAN KEBANGKITAN NUSANTARA

Sebuah Renungan Untuk Nusantara Tercinta…

Foto The Lost History of Nuhsantara.
The Lost History of Nuhsantara

PROSES PEMURNIAN – ‘PURAYA’ :
SEBUAH PESAN KEBANGKITAN NUSANTARA

(Hasil Dialog Imajiner dengan Maharaja Diraja Nusantara ‘Sang Batara Wisnu’)

Originally Written by:
Yeddi Aprian Syakh Al-Athas

*** Mohon agar dibaca pelan-pelan karena tulisan ini sangat panjang sekali.
*** Jauhi segala prasangka, buka pikiran dan hati Anda agar makna demi makna dari setiap kalimatnya dapat meresap ke dalam sanubari pemahaman Anda.

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Sampurasun…

Saudaraku, pernahkah Anda berpikir bahwa Tuhan senantiasa hadir pada setiap makhluk ciptaan-Nya dalam setiap aktivitas yang Anda lakukan dan dalam setiap waktu yang Anda lalui? Dan untuk itulah Tuhan menyandang nama “Sang Maha Hadir”.

Dan sifat Ke-Maha-Hadiran Tuhan ini tercatat dalam setiap kitab suci:

👉 Kitab Suci Hindu menyebutnya “TAT TVAM ASI” (I Am That).
👉 Kitab Suci Kejawen menyebutnya “INGSUN” (Manunggaling Ingsun Kawula Gusti).
👉 Kitab Suci Al-Kitab (Keluaran 3:14) menyebutnya “EHYEH ASHER EHYEH” (Aku adalah Aku).
👉 Kitab Suci Al-Quran (QS. Thaha 20:14) menyebutnya “INNANII ANA” (Aku adalah Aku).

Tapi ….. Jika saja diri Anda saat ini mengatakan bahwa Anda adalah Tuhan, maka apa bedanya Anda dengan Sang FIRAUN Nabi Musa dan apa pula bedanya Anda dengan SANG DAJJAL Akhir Zaman.

Nah, untuk memahami ke-Maha-Hadiran Tuhan dalam diri kita, maka izinkan saya untuk menjelaskannya seperti ini:

Anda dan saya awalnya berasal dari sebuah ‘ke-tidak-ada-an’ yang dalam bahasa Ibrani disebut sebagai GIVA (Gimel-Vav = 3+6 = 9) atau dalam bahasa Arab disebut sebagai JIWA (Jim-Wau = 3+6 = 9) yang dimaknai dalam bahasa awal manusia sebagai TO (Tha = 9) yg bermakna ‘Kosong’ / ‘Suwung’ / ‘Tidak Ada’.

Dari GIVA / JIWA / TO yg bermakna ‘Kosong’ / ‘Suwung’ / ‘Tidak Ada’, kemudian Anda dan saya menjadi ‘Ada’ yang dalam bahasa Ibrani disebut sebagai HAVA (Hey-Vav = 5+6 = 11) atau dalam bahasa Arab disebut sebagai HAWA (Ha’-Wau = 5+6 = 11) yang bermakna sebagai ‘Kehendak’ yang meng-Ada dalam lima wujud, yakni: Hawa Samana, Hawa Wiyana, Hawa Udana, Hawa Prana, dan Hawa Apana.

Kelima wujud ‘Hava’ / ‘Hawa’ inilah yg menjadi dasar lima Unsur Alam yakni: TIRTA (air), AGNI (api), PERTIWI (tanah), BAYU (angin) dan AKASA (ether) dimana kelimanya disebut sebagai PANCA MAHABUTHA yang kemudian mewujud menjadi AYA (Alif-Ya = 1+10 = 11) yg dalam bahasa Yunani dilafalkan sebagai AEIA (bumi) dan dalam bahasa awal manusia bermakna ‘Ada’.

Nah karena berasal dari dunia-bawah (Under World) maka GIVA / JIWA / TO yg bermakna ‘Kosong’ / ‘Suwung’ / ‘Tidak Ada’ perlu ditransformasi menjadi HAVA / HAWA / AYA yg bermakna ‘Kehendak’ / ‘Ada’ yang dalam proses transformasinya harus melalui tahapan berikut:

EGO -> AKU / AQU -> AYA

👉 ‘EGO’ (Alif – Ghain = 1+1000 = 1001).
👉 ‘AKU / AQU’ (Aleph – Kuf / Alif – Qaf = 1+100 = 101).
👉 ‘AYA’ (Aleph – Yod / Alif – Ya = 1+10 = 11).

Pada tahapan ‘EGO’ maka GIVA / JIWA / TO Anda masih dipenuhi oleh LOBHA, DOSA, dan MOHA.

‘LOBHA’ terjemahan yg paling dekat adalah ‘Keserakahan’. ‘DOSA’ terjemahan yg paling dekat adalah ‘Perasaan Bersalah’. ‘MOHA’ terjemahan yg paling dekat adalah ‘Kebodohan Batin’.

Di tahap awal transformasi, maka yang harus Anda lakukan adalah memperbanyak SYUKUR atas rezeki yg Anda terima dan menyadari bahwa masih banyak orang lain yang rezekinya di bawah Anda. Jika hal ini Anda lakukan dengan konsisten maka sifat ‘LOBHA’ atau ‘Keserakahan’ dalam GIVA / JIWA / TO Anda akan mulai menghilang secara berangsur-angsur dan GIVA / JIWA / TO Anda akan mulai bergeser dari tahapan EGO menjadi tahapan AKU / AQU. Dan jika hal ini berhasil Anda lakukan maka GIVA / JIWA / TO Anda yang sudah menjadi ‘AKU’ / ‘AQU’ hanya akan menyisakan DOSA dan MOHA.

Dan kemudian pada tahapan selanjutnya, yang harus Anda lakukan adalah memperbanyak MAAF atas segala kesalahan dan dosa yang pernah Anda lakukan di masa lalu dan saat ini, kecil ataupun besar, sengaja ataupun tidak disengaja. Jika hal ini Anda lakukan dengan konsisten maka sifat ‘DOSA’ atau ‘Perasaan Bersalah’ dalam GIVA / JIWA / TO Anda akan mulai menghilang secara berangsur-angsur dan GIVA / JIWA / TO Anda akan mulai bergeser dari tahapan AKU / AQU menjadi tahapan AYA. Dan jika hal ini berhasil Anda lakukan maka GIVA / JIWA / TO Anda yang sudah menjadi ‘AYA’ hanya akan menyisakan MOHA yakni ‘Kebodohan Batin’.

Dan ketika Anda sampai pada tahapan ini maka Anda akan mengalami apa yang disebut dalam hadits sebagai ‘wa man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu wa man ‘arafa rabbahu faqad jahilan nafsahu’ yg bermakna ‘siapa yang mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya, dan siap yang mengenal Tuhannya maka akan menjadi bodohlah ia’.

Sampai dengan tahapan ini, maka GIVA / JIWA / TO Anda yang sudah menjadi ‘AYA’ akan bertransformasi menjadi ATMAN (ATMA SEJATI) maka disinilah terjadi interaksi hubungan ‘manunggaling ingsun kawula Gusti’. Dengan cara inilah maka Nabi-Nabi mendapatkan petunjuk atau pesan dari Tuhan. Dan inilah yang dimaksud oleh Al-Kitab Keluaran 3:14 sebagai ‘I AM WHO I AM’ (Aku Adalah Aku) dan oleh Al-Quran QS. Thaha 20:14 sebagai ‘INNANII ANA’ (Aku Adalah Aku).

Nah pertanyaannya:
“Bagaimana caranya agar GIVA / JIWA / TO yang sudah menjadi ‘AYA’ bertransformasi menjadi ‘ATMAN’ (Atma Sejati)?”

Jawabannya ada pada ‘JANTUNG’ Anda yg dalam bahasa Sanskrit disebut sebagai ‘HARDAYA’ dan dalam bahasa Latin disebut sebagai ‘KARDIA’ dan dalam bahasa Inggris disebut sebagai ‘HEART’.

Dan pintu menuju ‘ATMAN’ (Atma Sejati) adalah melalui ‘HARDAYA-VATTU (Titik di dalam Jantung) yang dalam Ilmu Sufi disebut sebagai ilmu ‘RAHASIA TITIK BA’ dan dalam kearifan lokal leluhur Nusantara disebut sebagai ‘PURAYA’ (dalam bahasa Inggris disebut ‘PURE’ atau ‘PEMURNIAN’) Kata ‘PURAYA’ ini merupakan akronim dari huruf ‘Peh’ – ‘Resh’ dan ‘Yod’ yg dalam Piktograf Bahasa Ibrani merupakan simbol untuk Mulut / Ucapan (Peh), Kepala / Pikiran (Resh) dan Tangan / Perbuatan (Yod).

Orang yg belum menemukan ‘RAHASIA TITIK BA’ atau ‘SEED’ atau ‘BIJA’ atau ‘DZARRAH’ maka ia masih disebut sebagai ‘The Man with No Soul’ atau ‘Manusia-Manusia Tak Berjiwa’ atau ‘THE BEAST’ yg dalam Al-Kitab disebut sebagai ‘Manusia Pembawa Bilangan 666’ yang jumlahnya disebut dengan perumpamaan bilangan 144.000 orang.

Maka untuk memicu munculnya ‘TITIK BA’ atau ‘SEED’ atau ‘BIJA’ atau ‘DZARRAH’ dalam ‘HARDAYA’ atau ‘KARDIA’ atau ‘HEART’ atau ‘JANTUNG’ Anda maka leluhur kita telah mengajarkan teknik yang disebut sebagai ilmu ‘PURAYA’ atau ‘PURE’ atau ‘PEMURNIAN’.

Apa yang di-MURNI-kan?
Ya ‘HARDAYA’ atau ‘KARDIA’ atau ‘HEART’ atau ‘JANTUNG’ Anda.

Dengan cara apa?
Yakni dengan cara mengimplementasikan ketiga huruf yang menyusun kata ‘PURAYA’ dalam kehidupan nyata sehari-hari, yaitu:

👉 Peh = Mulut / Ucapan.
👉 Resh = Kepala / Pikiran.
👉 Yod = Tangan / Perbuatan.

👉 Peh-Resh-Yod (PURAYA / PURE) = ‘Mulut-Kepala-Tangan’ atau ‘Ucapan-Pikiran-Perbuatan’.

Dan implementasi ‘PURAYA’ ini dalam literatur Sunda disebut sebagai ‘TRI KARMA’ dan dalam literatur Hindu disebut sebagai ‘TRI KAYA PARISUDA’ atau dalam literatur Zoroaster disebut sebagai ‘MAZDA YASNA’ yang bermakna ‘TIGA GERAK SUCI’ atau ‘TIGA GERAK PEMURNIAN’ yang terdiri atas:

👉 PU (Peh) = MANACIKA / SABDA / HU’UKTA.
Implementasinya adalah:
1. Berkata JUJUR; dan
2. Berkata BENAR.

👉 RA (Resh) = KAYIKA / HEDAP / HU’MATA.
Implementasinya adalah:
1. Berpikir ARIF; dan
2. Berpikir LURUS (Husnudzon).

👉 YA (Yod) = WACIKA / BAYU / HU’VARSHTA.
Implementasinya adalah:
1. Berbuat ADIL; dan
2. Berbuat BIJAKSANA.

👉 Ilmu ‘PU-RA-YA’ atau ‘PURE’ atau ‘PEMURNIAN’ inilah yang sejatinya disebut sebagai ‘TRISULA WEDA’.

Inilah senjata warisan leluhur Nusantara agar anak cucunya kembali menemukan JATI DIRI-nya sebagai ‘BANGSA ARYAH’ atau ‘BANGSA GOWIY’ atau ‘BANGSA JAWIY’ yg memahami MISI-nya sebagai ‘MERCU SUAR DUNIA’ dan menjadi ‘RAHMAT BAGI ALAM SEMESTA’ atau ‘RAHMAT LIL ALAMIN’ yang oleh Sesepuh Jawa disebut dengan istilah ‘Membawa Misi Mrica sak binubut angebaki Jagad’ atau ‘Membawa Misi biji merica yang dibubut untuk memenuhi alam semesta’.

Ya kita harus Kembali kepada JATI DIRI ‘Bangsa ARYAH’…

Dan kata ‘ARYAH’ ini memiliki nilai gematria ‘216’ yang diterjemahkan sebagai rangkaian huruf ‘Alif-Resh-Yod-Hey’ (1+200+10+5 = 216).

Dan 216 = 144.000 / 666.

Inilah ilmu ‘RAHASIA TITIK BA’ atau Ilmu ‘PURAYA’ atau ‘ILMU PEMURNIAN’ yang telah dipahami dan diimplementasikan oleh leluhur NUSANTARA hingga NUSANTARA berhasil menjadi ‘MERCU SUAR DUNIA’ sebagai PUSAT PERADABAN DUNIA.

Ayo BANGKITLAH Saudaraku ….

Kembali kepada JATI DIRI ‘Bangsa ARYAH’…

Karena sejatinya Kita adalah BANGSA ARYAH yg sebenarnya. Kita adalah Pewaris Peradaban Maju LEMURIA, ATLANTIS, SABA dan MAJAPAHIT NUSANTARA.

(Akhir Zaman Kaliyuga)
Bhumi Nusantara, 26 Desember 2017

Sugeng Rahayu…
Jaya Nusantaraku…

Salam Kebangkitan Nusantara,

Yeddi Aprian Syakh Al-athas

Note:
Diizinkan untuk SHARE sebanyak-banyaknya untuk mengambil manfaat seluas-luasnya dengan tetap menyebutkan sumber aslinya.

Suka

Komentari

Komentar
Sambel Ulek Wonogiri
Sambel Ulek Wonogiri REFLEKSI NATAL
.
IDENTITAS ASALI MENURUT AGAMA BUDDHA, KATOLIK/KRISTEN DAN ISLAM
“Buddha bukanlah Sidharta Gautama, sama halnya dengan Kristus bukanlah Yesus, dan Nur Muhammad bukanlah Muhammad SAW.”
.
Apakah bisa dijelaskan gambaran identitas asali kita dalam terang ajaran Buddha, Katolik/
Kristen dan Islam?
.
Sidharta Gautama hidup 5 abad sebelum masehi, Yesus hidup pada abad 1 masehi, dan Muhammad hidup pada abad 6 dan 7 masehi. Ketiganya adalah orang yang berbeda yang hidup pada tempat dan jaman yang berbeda. Tetapi Buddha, Kristus dan Nur Muhammad hidup melampaui ruang dan waktu. Ketiganya menunjuk pada identitas asali yang TIDAK berbeda.
.
Menurut Buddhisme, semua orang bahkan semua makhluk yang bernyawa memiliki Hakikat Buddha. Buddha adalah makhluk yang tercerahkan dan Hakikat Buddha adalah benih kesadaran atau benih pencerahan. Thrangu Rinpoche (2007, Buddha Nature and Buddhahood: the Mahayana and Tantra Yana) melihat kesatuan antara kearifan (wisdom) dan kekosongan (emptiness) sebagai Hakikat Buddha.
“Kesatuan antara kearifan dan kekosongan adalah esensi dari ke-Buddha-an atau Hakikat Buddha (Sansekerta: Tathagata-garbha), di situlah terdapat benih atau potensi ke-Buddha-an. Benih ini ada dalam setiap makhluk dan karena itulah setiap makhluk memiliki potensi mencapai ke-Buddha-an.”
.
Yesus pernah membuka identitas asalinya sebagai indetitas dirinya yang sesungguhnya ketika Ia mengatakan, “Before Abraham was, I am.” (Yohanes 8:58) Bagaimana Ia bisa mengatakan bahwa sebelum Abraham ada, Ia sudah ada? Pernyataan berikut ini tidaklah berbeda, “Sebelum dunia ini ada, Aku sudah ada.” “Setelah alam semesta ini lenyap, Aku tetap ada.” Yesus hendak menyampaikan kebenaran tentang identitasNya yang sesungguhnya, yang juga adalah identitas semua orang, “I am who I am” (“Aku adalah aku”.)
.
Identitas asali Yesus sebagai Kristus Tuhan, tidak berbeda dari identitas Yahweh dalam Perjanjian Lama. Allah berfirman kepada Musa: “AKU ADALAH AKU“ (“I am who I am”.) Lagi FirmanNya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”(Keluaran 3: 14)
.
“Aku adalah aku” menunjukkan identitas asali Yesus. Ia pertama-tama bukanlah “Anak Manusia”, laki-laki”, “anak maria dan Yosef”, “seorang Yahudi”, melainkan pertama-tama ia adalah seorang “Anak Allah”, “kepenuhan kasih Allah”, “kesadaran yang ilahi yang menyelamatkan”. Singkatnya, “Aku adalah aku” tidak lain adalah “kesadaran” itu sendiri.
.
Dalam Islam, Nur Muhammad tecipta sebelum segala sesuatu yang lain ada. Nur Muhammad atau Hakikat Muhammad, adalah pangkal atau asal dari ciptaan. Dalam Hadist Rasulullah SAW bersabda, “Ana min nurullaahi, wa khala kuluhum min nuuri”—“Aku berasal dari cahaya Allah dan seluruh dunia berasal dari cahayaku.” Nur Muhammad di sini menunjuk pada cahaya kesadaran ilahiah di balik setiap wujud di alam semesta ini.
.
Jadi Buddha bukanlah Sidharta Gautama, sama halnya dengan Kristus bukanlah Yesus dan Nur Muhammad bukanlah Muhammad SAW.
.
Buddha menunjuk pada kesadaran yang tercerahkan, sama seperti Kristus menunjuk pada kesadaran ilahi yang menyelamatkan dan Nur Muhammad menunjuk pada kesadaran Allah yang meresapi setiap wujud dalam bentuk manusia dan seluruh isi alam semesta.
.
Apabila kita melekatkan diri pada dunia wujud dan lupa akan identitas asali kita, kita mengira, “Aku adalah ini atau itu.” Itulah yang disebut dengan “identitas bentuk”. Padahal, sesungguhnya “Aku adalah aku.” Titik. Itulah yang disebut “identitas asali melampaui bentuk”.
.
Dari manakah timbul “identitas bentuk” itu? “Identitas bentuk” lahir dari kesadaran dualistik. Kesadaran dualistic selalu melekat pada objek dan terkungkung oleh subjek (ego, self), suatu kesadaran yang terkondisi.
.
Kesadaran yang terkondisi selalu membawa ego atau keakuan dan melekat pada dunia wujud; kesadaran bebas keterkondisain atau kesadaran yang tercerahkan bebas dari ego atau keakuan dan melampaui dunia wujud.
.
“Aku adalah Aku.” Titik. Tidak ada atribut dari dunia wujud yang ditempelkan padanya sebagai penopang “eksistensinya”.
.
Jadi, sesungguhnya kita semua tidak berbeda. Kita pertama-tama adalah ‘kesadaran’ (awareness) yang memiliki tubuh dan batin, bukan sebaliknya. Kita semua adalah “roh” atau “kesadaran” yang bertubuh, bukan sebaliknya.
.
Itulah “Hakikat Buddha”, “Hakikat Kristus”, atau “Hakikat Nur Muhammad”.
.
Dalam dunia bentuk, kita memiliki begitu banyak perbedaan; dalam dunia tanpa-bentuk, kita sesungguhnya TIDAK berbeda. Identitas tanpa-bentuk itulah identitas asali kita.
.
~Sudrijanta Johanes

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: