1 Komentar

“AKHIRNYA TERUNGKAP: BAHTERA NABI NUH TERBUAT DARI POHON JATI RAHA JEPARA DARI PUNCAK GUNUNG MURIA

Postingan Lanjutan Seri Kajian Mengungkap Rahasia Bahtera Nabi Nuh yang berjudul:

“AKHIRNYA TERUNGKAP: BAHTERA NABI NUH TERBUAT DARI POHON JATI RAHA JEPARA DARI PUNCAK GUNUNG MURIA”

Jika penasaran, Silahkan langsung klik disini:
https://www.facebook.com/thelosthistoryofnuhsantara/posts/1989370048005429

Foto The Lost History of Nuhsantara.

The Lost History of Nuhsantara

AKHIRNYA TERUNGKAP: BAHTERA NABI NUH TERBUAT DARI POHON JATI RAHA JEPARA DARI PUNCAK GUNUNG MURIA
***********************************************
Originally written by:
Yeddi Aprian Syakh Al-Athas

*** Disclaimer:
1. Buang jauh segala prasangka sebelum membaca. Jika apa yang saya tulis ini benar maka anggaplah sebagai sebuah fakta kebenaran yang harus disampaikan, dan jika salah maka anggaplah sebagai sebuah upaya ijtihad pemikiran dalam rangka menemukan dan merangkai serpihan-serpihan Sejarah Nuhsantara yang dengan sengaja telah dikubur dan dikaburkan oleh pihak-pihak tertentu.
2. Seperti biasa, tulisan saya ini sangatlah panjang, jadi mohon bersabar untuk membacanya, dan jika perlu silahkan disave terlebih dahulu dan dibaca kemudian setelah mempunyai waktu luang.

Bismillahirrahmaanirrahiim,

*** Sampurasun…

Artikel ini merupakan kelanjutan dari postingan artikel saya sebelumnya tentang Seri Kajian Bahtera Nabi Nuh yang berjudul “Misteri Keberadaan Gunung Ararat dan Bukit Judi Akhirnya Terungkap” yang telah dilihat oleh lebih dari 56.115 orang, dilike oleh lebih dari 1.901 orang dan dishare oleh lebih dari 168 orang.

Namun sebelum membaca postingan lanjutan dari Seri Kajian Bahtera Nabi Nuh ini, saya sangat menyarankan Anda agar terlebih dulu membaca artikel sebelumnya agar Anda mendapatkan pemahaman yang utuh tentang Misteri Bahtera Nabi Nuh.

Artikel sebelumnya yang berjudul “Misteri Keberadaan Gunung Ararat dan Bukit Judi Akhirnya Terungkap” dapat dilihat disini:
https://www.facebook.com/thelosthistoryofnuhsantara/posts/1957714514504316

Seperti biasanya, kita akan berdikusi dalam kajian berbasis pendekatan “Etno-Linguistik” yang belakangan ini menjadi sebuah pendekatan baru dalam melihat sejarah, sebagaimana disampaikan oleh Dr. Ir. Ricky Avenzora, M.Sc, staf pengajar Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Mari kita mulai…
Bismillah…

Jika dalam artikel sebelumnya, telah dibahas mengenai lokasi tempat berlabuhnya Bahtera Nabi Nuh, maka kali ini kita akan membahas mengenai:

(1) lokasi tempat bertolaknya Bahtera Nabi Nuh yang sekaligus menjadi lokasi tempat dibuatnya Bahtera Nabi Nuh; dan
(2) bahan materi yang digunakan untuk membuat Bahtera Nabi Nuh tersebut.

Dalam Kitab Badi’ul ‘Alam fi Dzikri Qishshati Nuh ‘alaihissalam yang disadur dari Kitab Bada-i az-Zuhur fi Waqa-i ad-Duhur yang ditulis oleh Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi disebutkan bahwa ketika Allah mengabulkan doa Nabi Nuh, kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Nuh agar membuat perahu.

Kemudian bertanyalah Nabi Nuh,
“Ya Tuhan, apakah perahu itu?”

Allah berfirman,
“Perahu adalah rumah kayu yang bisa berjalan di atas permukaan bumi”.

Lalu Allah memerintahkan agar Nabi Nuh
menanam pohon sebagai bahan dasar pembuatan perahu. Nabi Nuh kemudian menanam pohon tersebut dan membiarkannya tumbuh sampai 40 tahun, sampai pohon tersebut siap ditebang dan dipotong-potong.

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Tsauri, bahwa Perahu Nabi Nuh terbuat dari KAYU JATI, dan inilah yang tertulis dalam Kitab Taurat (Al-Kitab Perjanjian Lama) sebagai “GOPHER” dan “KOPHER”.

Ibrani:
עֲשֵׂה לְךָ תֵּבַת עֲצֵי־גֹפֶר קִנִּים תַּעֲשֶׂה אֶת־הַתֵּבָה וְכָפַרְתָּ אֹתָהּ מִבַּיִת וּמִחוּץ בַּכֹּפֶר׃

Translit:
‘Asah Lekha Tebat ‘Ets-GOPHER Qinim Ta’asah ‘Eth Hatebah Ve-KAPHARTA ‘Otah Mibayith Umichuwts Ba-KOPHER.

Terjemahan:
“Buatlah bagimu sebuah perahu dari Kayu GOPHER, perahu itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kau lumuri (KAPHAR) dengan KOPHER dari luar dan dari dalam.” (Kejadian 6:14)

Kata “GOPHER” hanya disebut satu kali di dalam Kitab Taurat (Al-Kitab Perjanjian Lama) dan tidak ada yang tahu kata “GOPHER” ini berasal dari bahasa apa dan ia merupakan kayu dari jenis pohon apa. Beberapa ahli menduga bahwa yang dimaksud dengan “GOPHER” adalah Kayu Jati, Kayu Pinus (Cypress), atau Kayu Aras (Cedar). Bahkan beberapa ahli ada yang berpendapat bahwa kata “GOPHER” adalah kata pengganti untuk kata “KOPHER” yang berarti ASPAL atau TER.

Jelas ini merupakan hal yang sangat gegabah jika dilakukan hanya berdasarkan kemiripan fonetik kata yang keliru antara kata “GOPHER” dan “KOPHER”, padahal keduanya ditulis dengan huruf yang berbeda.

Kata “GOPHER” ditulis dengan huruf ibrani: Gimel, Peh dan Resh. Sedangkan kata “KOPHER” ditulis dengan huruf ibrani: Kuf, Peh dan Resh.

Kata “KOPHER” itu sendiri merupakan kata turunan dari Bahasa Akkadia “KUPRU” yang berarti “ASPAL” atau “TER”. Kata tersebut oleh Ath-Thabari disebut dalam Bahasa Arab sebagai “KASYAF SAAJ” yang merujuk kepada Pohon DAMAR yang merupakan tumbuhan ASLI INDONESIA.

Pohon DAMAR menyebar di Maluku, Sulawesi, hingga ke Filipina (Palawan dan Samar). Di Pulau Jawa sendiri, Pohon DAMAR ditanam di daerah Pegunungan dan dibudidayakan untuk diambil getahnya yang dikenal sebagai Getah DAMAR yang biasa digunakan untuk cat, vernis spiritus, plastik, bahan sizing, pelapis tekstil, dan bahan “Water Proofing” yakni bahan anti air yang sangat diperlukan untuk melapisi kayu perahu.

Lalu bagaimana dengan “GOPHER”?

Kata “GOPHER” bukan berasal dari Bahasa Ibrani, melainkan merupakan kata serapan dari Bahasa Sunda Kuno “JAPARA” yang ditulis dalam huruf Arab: Jim, Fa dan Ra.

Jika dilihat dari aspek gematria, maka baik kata “GOPHER” dalam Bahasa Ibrani ataupun kata “JAPARA” dalam Bahasa Arab, keduanya memiliki Nilai Gematria yang sama yakni:

GOPHER = Gimel-Peh-Resh.
Gimel = 3.
Peh = 80.
Resh = 200.
Gimel-Peh-Resh = 3+80+200 = 283.

JAPARA = Jim-Fa-Ra.
Jim = 3.
Fa = 80.
Ra = 200.
Jim-Fa-Ra = 3+80+200 = 283.

Jadi kata “GOPHER” yang selama ini tidak diketahui artinya dan telah membingungkan para ahli Al-Kitab Yahudi dan Nasrani selama berabad-abad, ternyata merujuk ke sebuah tempat di Indonesia (tepatnya di Pulau Jawa) yang bernama “JAPARA” atau “JEPARA” yang dalam Bahasa Belanda disebut sebagai “YAPARA” atau “JAPARE” yang terkenal sebagai tempat penghasil Pohon JATI.

Menurut T. Altona, Pohon JATI sempat dianggap sebagai jenis tumbuhan asing yang ditanam oleh orang-orang hindu yang datang ke Pulau Jawa ribuan tahun yang lalu. Sehingga terkesan jika Pohon JATI didatangkan oleh orang-orang Hindu dari India, apalagi setelah seorang ahli botani bernama Charceus mengatakan bahwa Pohon JATI di Pulau Jawa berasal dari India yang dibawa sejak tahun 1500 SM sampai abad ke-7 M. Kontroversi ini kemudian terjawab oleh hasil penelitian marker genetik menggunakan teknik iso-enzyme yang dilakukan oleh Kertadikara pada tahun 1994. Dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Pohon JATI yang tumbuh di Pulau Jawa merupakan Pohon Endemik Asli Pulau Jawa yang tumbuh secara alami di hutan hujan dataran rendah sampai dengan ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut.

Menurut Kitab Badi’ul ‘Alam fi Dzikri Qishshati Nuh ‘alaihissalam yang disadur dari Kitab Bada-i az-Zuhur fi Waqa-i ad-Duhur yang ditulis oleh Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi, setelah pohon-pohon JATI yang telah ditanam Nabi Nuh selama 40 tahun siap ditebang, kemudian Allah kembali memerintahkan Nabi Nuh untuk menuju Tanah KUFFAH untuk memindahkan kayu-kayu JATI yang telah ditebang ke atas gunung untuk kemudian dibuat menjadi perahu.

Nah sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa terjadi perbedaan lokasi tempat ditanamnya Pohon JATI bahan baku pembuatan Perahu Nabi Nuh antara Kitab Taurat (Al-Kitab Perjanjian Lama) yang menyebutnya dengan kata “GOPHER” yang merujuk ke sebuah tempat di Pulau Jawa yang bernama JAPARA atau JEPARA, dengan Kitab Badi’ul ‘Alam fi Dzikri Qishshati Nuh ‘alaihissalam yang disadur dari Kitab Bada-i az-Zuhur fi Waqa-i ad-Duhur yang ditulis oleh Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi yang menyebutkan Pohon JATI itu ditanam di Tanah KUFFAH.

Jawaban atas perbedaan lokasi nama tempat ini ada di dalam Catatan Kronik Cina Kuno I-Tsing yang menjadi benang merah antara keduanya.

Dalam Xin Tang-Shu, book 222, Notice on Heling dan dalam During The Epoch of Tian-Bao (Ying Huan Zhe-Liu, Chapter 2) disebutkan bahwa di Pulau Jawa terdapat Kerajaan Holing yang berlokasi di Kota Pelabuhan Chepo, dan kemudian dipindah ke arah timur di Polujiasi. Di Holing, pada musim kemarau tengah hari, sebuah tiang dengan tinggi 2,4 meter akan memberikan bayangan sepanjang 0,6 meter ke arah selatan. Dan di Holing juga terdapat sebuah bukit.

Nah dengan melakukan sedikit hitungan matematika terhadap apa yang disebutkan oleh Catatan Kronik Cina Kuno tersebut, maka kita akan mendapatkan bahwa koordinat lokasi Holing berada pada derajat 8 menit Lintang Selatan (desimal -6,1333). Dan nilai koordinat ini lebih merujuk ke lokasi JAPARA atau JEPARA (koordinat -6.5924 LS, 110.6710 BT).

Sehingga dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa Kota Pelabuhan CHEPO yang dimaksud adalah JAPARA atau JEPARA. Dan kata “CHEPO” merupakan tranlsliterasi dari bahasa Arab “KUFFAH” ke dalam bahasa Cina. Kemudian jika disebutkan bahwa di Holing yang berlokasi di Kota Pelabuhan CHEPO (JAPARA atau JEPARA) terdapat sebuah bukit, maka jika kita melihat peta geografis, tentu akan langsung mengatakan bahwa bukit yang dimaksud adalah GUNUNG MURIA yang merupakan satu-satunya bukit/gunung yang berlokasi dekat dengan Kota Pelabuhan CHEPO (JAPARA atau JEPARA).

Sehingga lewat Catatan Kronik Cina Kuno, akhirnya kita paham bahwa Tanah KUFFAH yang dimaksud dalam Kitab Badi’ul ‘Alam fi Dzikri Qishshati Nuh ‘alaihissalam yang disadur dari Kitab Bada-i az-Zuhur fi Waqa-i ad-Duhur adalah Kota JAPARA atau JEPARA yang ada di Pulau Jawa yang dalam transliterasi bahasa Cina disebut sebagai Kota CHEPO. Dan jika dalam kitab tersebut disebutkan bahwa Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk memindahkan kayu-kayu JATI yang telah ditebang ke atas gunung, maka gunung yang dimaksud tentunya pastilah GUNUNG MURIA sebagai satu-satunya gunung yang berada dekat dengan KUFFAH atau CHEPO atau JAPARA atau JEPARA.

Dan pada ribuan tahun yang lalu, GUNUNG MURIA masihlah merupakan gunung tertinggi yang ada di Pulau Jawa. Dan inilah yang menjadi alasan mengapa Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk memindahkan kayu-kayu JATI dari KUFFAH atau CHEPO atau JAPARA atau JEPARA ke Puncak GUNUNG MURIA sebagai satu-satunya tempat yang paling tertinggi di Pulau Jawa saat itu. Selain itu di dalam Al-Quran Surat Hud ayat 42 juga disebutkan bahwa gelombang air bah yang terjadi ketika Banjir Nabi Nuh adalah setinggi gunung.

Di puncak GUNUNG MURIA itu sendiri, tepatnya di Puncak GUNUNG RAHTAWU, satu dari tiga puncak GUNUNG MURIA, pada tahun 1990 ditemukan sebuah prasasti bernama Prasasti RAHTAWUN oleh tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta yang dipimpin oleh Profesor Gunadi.

Nah kata RAHTAWUN ini yang merupakan nama asli dari GUNUNG MURIA itu sendiri berasal dari kata RAHA dan TAWUNG.

Dalam Kamus Sansekerta – Indonesia yang ditulis oleh Dr. Purwadi, M.Hum disebutkan bahwa arti dari kata “TAWUNG” adalah “Tutup Dinding Papan Perahu”. Sedangkan kata “RAHA” sendiri merupakan salah satu jenis Pohon JATI Purba yang banyak tumbuh di Pulau Jawa namun telah punah, yakni dikenal sebagai Pohon JATI RAHA.

Jadi, kata RAHA-TAWUNG (dibaca: RAHTAWU atau RAHTAWUN) yang dijadikan nama Prasasti yg ditemukan di Puncak GUNUNG MURIA atau GUNUNG RAHTAWU maknanya adalah “Pohon JATI RAHA yang dijadikan sebagai TAWUNG atau tutup dinding papan perahu Nabi Nuh”.

Kemudian yang menjadi pertanyaan lanjutan adalah bagaimana caranya Kayu Pohon JATI RAHA Raksasa diangkut dari KUFFAH atau CHEPO atau JEPARA yang ada di kaki GUNUNG MURIA atau GUNUNG RAHTAWU ke puncak gunung?

Jawabnya ada dalam Kitab Badi’ul ‘Alam fi Dzikri Qishshati Nuh ‘alaihissalam yang disadur dari Kitab Bada-i az-Zuhur fi Waqa-i ad-Duhur yang menyebutkan bahwa Allah mewahyukan kepada Nabi Nuh bahwa yang akan mampu mengangkut kayu-kayu Pohon JATI RAHA Raksasa yang akan digunakan untuk membuat Perahu sepanjang 1000 dzira dari kaki GUNUNG MURIA atau GUNUNG RAHTAWU ke puncak gunung adalah Auj bin Anuq.

Imam Al-Kisai mengatakan bahwa Auj bin Anuq adalah keturunan Nabi Adam yang buruk rupa. Ketika ia sudah dewasa, ia berubah wujud menjadi raksasa yang tinggi badannya mencapai 600 dzira, dua kali lipat tinggi Perahu Nabi Nuh yang hanya mencapai 300 dzira. Dikisahkan bahwa Auj bin Anuq hidup selama 4500 tahun hingga bertemu zamannya Nabi Musa. Nah Auj bin Anuq inilah yang mengangkut seluruh kayu-kayu Pohon JATI RAHA raksasa dari Kota KUFFAH atau CHEPO atau JEPARA ke puncak GUNUNG MURIA atau GUNUNG RAHTAWU.

Dan ketika seluruh kayu-kayu pohon JATI RAHA raksasa sudah berada di Puncak GUNUNG MURIA atau GUNUNG RAHTAWU, lantas Nabi Nuh kebingungan dan bertanya kepada Allah,
“Wahai Tuhan, bagaimanakah cara untuk membuat perahu?”

Kemudian Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk mengajari Nabi Nuh membuat perahu. Lalu Nabi Nuh menjadikan kayu-kayu Pohon JATI RAHA raksasa tersebut menjadi lembaran-lembaran papan yang dalam Al-Quran disebut sebagai “ALWAH” dan dalam bahasa Sansekerta disebut sebagai “TAWUNG”.

“Dan Kami angkut Nuh ke atas (perahu) yang terbuat dari ALWAH (PAPAN) dan DUSUR (PAKU)”. (QS. Al-Qamar 54:13)

Kemudian Nabi Nuh menggabungkan lembaran-lembaran kayu jati yang sudah berubah menjadi PAPAN atau ALWAH atau TAWUNG dan menyatukannya dengan paku besi (bahasa Arab: dusur).

Ketika pembuatan perahu sudah hampir selesai, kemudian Nabi Nuh melapisinya dengan ASPAL atau TER yang berasal dari GETAH DAMAR yang dalam Kitab Taurat (Al-Kitab Perjanjian Lama) disebut sebagai “KOPHER”.

“Buatlah bagimu sebuah perahu dari KAYU GOPHER (KAYU JATI RAHA JEPARA), perahu itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kau lumuri dengan KOPHER (GETAH DAMAR) dari luar dan dari dalam.” (Kejadian 6:14)

Nah sampai disini, akhirnya kita paham bahwa ternyata Kitab Taurat (Al-Kitab Perjanjian Lama) menyebutkan bahwa Perahu Nabi Nuh terbuat dari KAYU GOPHER yang merupakan Pohon JATI Raksasa yang berasal dari Kota JEPARA / KUFFAH / CHEPO yang kemudian diangkut ke Puncak GUNUNG MURIA / GUNUNG RAHTAWU yang berlokasi tidak jauh dari Kota JEPARA / KUFFAH / CHEPO untuk kemudian dipotong-potong dan dijadikan lembaran-lembaran kayu papan yang dalam bahasa Al-Quran disebut sebagai ALWAH dan dalam bahasa Sansekerta disebut sebagai TAWUNG yang kemudian lembaran-lembaran kayu papan tersebut disatukan satu sama lain dengan DUSUR atau PAKU BESI dan kemudian baru dilumuri dengan KOPHER atau ASPAL atau TER yang berasal dari GETAH POHON DAMAR.

Nah sekarang pertanyaan lanjutannya adalah:
“Jika Perahu Nabi Nuh dibuat di Puncak GUNUNG MURIA / GUNUNG RAHTAWU, maka apakah ketika Banjir dan Taufan datang, Puncak GUNUNG MURIA / GUNUNG RAHTAWU tersebut menjadi tempat bertolaknya atau tempat keberangkatannya Perahu Nabi Nuh? Lalu bagaimana dengan adanya ayat dalam Al-Quran yang menyebutkan keberadaan TANNUUR sebagai ciri-ciri lokasi tempat keberangkatan Perahu Nabi Nuh? Apakah di wilayah sekitar Kota JEPARA / KUFFAH / CHEPO ditemukan adanya TANNUUR?”

Jawab:

Dalam Surat Hud ayat 40 disebutkan,
“Hingga apabila perintah Kami datang dan TANNUUR telah memancarkan air, Kami berfirman: ‘Masuklah ke dalam perahu…..”
(QS. Hud 11:40)

Kemudian dalam Kitab Badi’ul ‘Alam fi Dzikri Qishshati Nuh ‘alaihissalam yang disadur dari Kitab Bada-i az-Zuhur fi Waqa-i ad-Duhur disebutkan bahwa Allah mewahyukan kepada Nabi Nuh,
“Wahai Nuh, jika TANNUUR dari rumah anakmu yang bernama Sam itu memancarkan air maka naiklah ke atas perahu”.

Sam adalah putra tertua Nabi Nuh. Saat itu Sam berusia 300 tahun dan telah menikahi wanita bernama Rahmah.

Kemudian akhirnya Nabi Nuh pun datang ke rumah putrra tertuanya, Sam dan kemudian menyampaikan apa yang telah diwahyukan Allah kepadanya,
“Wahai Rahmah, sungguh awal terjadi datangnya Banjir Taufan itu dari TANNUUR ini, tempat yang kau gunakan untuk memasak roti. Jika kamu melihat TANNUUR ini memancarkan air, maka segeralah kamu lari dan memberitahukanku”.

TANNUUR berasal dari kata TANA+NUUR.
TANA = Lubang.
NUUR = Cahaya.
TANNUUR = Lubang Cahaya, yakni lubang intrusi magma yang telah beku tapi masih mengeluarkan cahaya yang menurut Imam Ali bin Abi Thalib ra cahayanya seperti cahaya subuh yang merekah.

Nah TANNUUR-TANNUUR API (lubang-lubang intrusi magma) ini justru banyak ditemukan di wilayah yang banyak memiliki gunung-gunung berapi yang aktif yang disebut oleh Plato sebagai “THE RING OF FIRE”.

Sehingga dengan demikian, sangatlah tidak mungkin jika Nabi Nuh dikatakan tinggal di wilayah seperti Timur Tengah atau Jazirah Arab yang tidak memiliki pegunungan api yang aktif yang setiap saat dapat bererupsi. Sehingga faktanya justru Nabi Nuh itu tinggal di Nusantara yang dijuluki oleh Plato sebagai THE RING OF FIRE.

Nah, di wilayah yang ditinggali oleh Nabi Nuh dan putranya, banyak ditemukan magma beku “BATOLIT” dan “LAKOLIT” yang dilubangi atasnya untuk kemudian dimanfaatkan panasnya untuk memanggang roti. Inilah yang disebut sebagai “TANNUUR”.

BATOLIT adalah batuan beku yang terbentuk di dalam dapur magma sebagai akibat penurunan suhu yang sangat lambat.

Sedangkan LAKOLIT adalah magma yang menyusup di lapisan batuan yang bagian atasnya terangkat sehingga menyerupai lensa cembung, sementara permukaan atasnya tetap rata.

Belajar dari kasus struktur bangunan Pepunden GUNUNG PADHANG Cianjur, para ahli ternyata menemukan adanya pemanfaatan TANNUUR API yaitu lubang intrusi magma beku untuk tujuan tertentu. Gunungan atau bangunan pepunden seperti inilah yang banyak dibangun oleh Kaum Nabi Nuh di Pulau NUSA JAWA menjelang waktu kedatangan Banjir Nabi Nuh, sebagaimana disebutkan dalam Naskah Carita Waruga Guru (tahun 1750 M).

“Di bawa unggah ke parahu, manga bijil angina topan sapocoro ti sagara, mangka keueum alam dunya. Urang NUSA JAWA rame ekeur nyien GUNUNG.”
(Naskah Carita Waruga Guru, 1750 M).

Dan NUSA JAWA inilah yang disebut dalam hadits Rasulullah saw sebagai Al-HIND.

“Jarak antara Nabi Nuh dan hancur kaumnya adalah 300 tahun. Dari TANNUUR API di Al-HIND telah keluar air dan kapalnya Nabi Nuh berminggu-minggu mengelilingi Ka’bah.” (HR. Hakim).

AL-HIND ini bukan INDIA, tapi justru yang dimaksud AL-HIND itu adalah NUSANTARA.

Di dalam Kitab Mustadrak al-Hakim (kitab al-‘At’imah), Vol. 4, p. 150 , diriwayatkan seorang raja dari Al-Hind datang bertemu dengan Rasulullah saw. Sebagaimana hadis berikut :

Dari Abu Sa’id Al Khudri ra. mengatakan bahwa seorang Malik al-Hind telah mengirimkan kepada Nabi saw sebuah tembikar yang berisi jahe.
Lalu Nabi saw memberi makan kepada sahabat– sahabatnya sepotong demi sepotong dan Nabi saw pun memberikan saya sepotong makanan dari dalam tembikar itu (HR. Hakim)

Jika kita membuka lembaran sejarah, istilah “Malik al-Hind” sebagaimana tersebut di dalam Hadis al-Hakim diatas, juga dipergunakan oleh Raja-Raja dari Nusantara. Hal ini bisa dilihat pada surat yang dikirimkan Raja Sriwijaya (sumber : jejakislam.net), kepada Khalifah Bani Umayyah.

“Dari Raja al-Hind yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, (dan) yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani seribu putri raja-raja, dan yang memiliki dua sungai besar (Batanghari dan Musi), yang mengairi pohon gahana (aloes), kepada Mu’awiyah…”

Dalam riwayat Raja al-Hind dikenal dengan nama Abdullah Samudri ra., nama ini mungkin ada kaitannya dengan Pulau Sumatera. Hal ini dikarenakan nama Sumatera, berasal dari kata “Samudera”.

Nah kembali kepada bahasan kita mengenai lokasi TANNUUR API (lubang intrusi magma beku berupa BATOLIT dan LAKOLIT) yang berada di AL-HIND yang memiliki banyak gunung berapi aktif dan disebut sebagai Ring of The Fire , maka dapat disimpulkan bahwa Perahu Nabi Nuh bertolak atau berangkat dari Nusantara, yakni tepatnya dari Puncak GUNUNG MURIA atau GUNUNG RAHTAWU, karena di dekat Kota JEPARA atau KUFFAH atau CHEPO itu sendiri terdapat kota yang bernama BATEALIT (memiliki kemiripan dengan kata BATOLIT).

Artinya terjadi hentakan gelombang yang sangat dahsyat dari arah timur Nusa Jawa (Nusantara) yang kemudian menyeret Perahu Nabi Nuh ke arah Barat/Barat Laut menuju Mekah dan kemudian dari Mekah, Perahu Nabi Nuh mengelilingi seluruh tempat-tempat bersejarah di muka bumi dan kemudian akhirnya Perahu Nabi Nuh berlabuh di Pegunungan IRARUTU (ARARAT) di GUNUNG NABI PAPUA.

Silahkan baca Artikel sebelumnya yang berjudul “Misteri Keberadaan Gunung Ararat dan Bukit Judi Akhirnya Terungkap” dapat dilihat disini:
https://www.facebook.com/thelosthistoryofnuhsantara/posts/1957714514504316

Nah demikianlah sekelumit dari hasil kajian kecil saya dalam rangka mengungkap Misteri tempat bertolaknya Perahu Nabi Nuh dan Misteri Bahan Dasar Pembuatan Perahu Nabi Nuh yang ternyata berasal dari Bumi Nusantara.

Dan sekali lagi saya tegaskan bahwa ini hanyalah sebatas “HIPOTESIS” yang saya sampaikan ke ruang terbuka publik yang saya peroleh lewat kajian berbasis “etno-linguistik” dan “ilmu gematria”. HIPOTESIS saya ini bisa benar dan bisa juga salah. Karena saya juga hanyalah manusia biasa. Semoga ijtihad pemikiran saya ini bisa menjadi awal kajian dan bahan diskusi lanjutan yang membangkitkan nalar dan logika berpikir yang lebih kritis dan mendalam guna mengungkap fakta kebenaran yang sesungguhnya.

Salam Kebangkitan Peri-Bumi Nuhsantara….

MISTERI KEBERADAAN GUNUNG ARARAT DAN BUKIT JUDI AKHIRNYA TERUNGKAP
*******************************************
Originally written by:
Yeddi Aprian Syakh Al-Athas

*** Disclaimer:
1. Buang jauh segala prasangka sebelum membaca. Jika apa yang saya tulis ini benar maka anggaplah sebagai sebuah fakta kebenaran yang harus disampaikan, dan jika salah maka anggaplah sebagai sebuah upaya ijtihad pemikiran dalam rangka menemukan dan merangkai serpihan-serpihan sejarah Nuhsantara yang dengan sengaja telah dikubur dan dikaburkan oleh pihak-pihak tertentu.
2. Seperti biasa, tulisan saya ini sangatlah panjang, jadi mohon bersabar membacanya, dan jika perlu silahkan disave terlebih dahulu dan dibaca belakangan ketika punya waktu luang.

Bismillahirrahmaanirrahiim,

*** Sampurasun…

Saya adalah seorang statistisi yang berlatarbelakang matematika dan bukan berasal dari latar belakang sejarahwan, namun bagi saya melakukan kajian tentang sejarah merupakan hal yang sangat menggairahkan sekaligus menantang, mulai dari bagaimana ribetnya merunut benang merah yang terputus, rumitnya merangkai data dan fakta yang berserakan untuk dikaitkan satu sama lain, sulitnya memahami pola pikir pelaku sejarah di masa lampau, hingga sampai akhirnya merumuskan “hipotesis” sebagai kesimpulan sementara yang masih membutuhkan ruang pembuktian dan ruang diskusi lebih lanjut untuk dapat menjadi sebuah “hipotesa” kebenaran.

Seperti biasanya, kita akan berdikusi dalam kajian berbasis pendekatan “Etno-Linguistik” yang belakangan ini menjadi sebuah pendekatan baru dalam melihat sejarah, sebagaimana disampaikan oleh Dr. Ir. Ricky Avenzora, M.Sc, staf pengajar Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Namun dalam diskusi kita kali ini, izinkan saya menambahkannya dengan kajian berbasis “Ilmu Gematria” yakni ilmu matematika yg mempelajari pola-pola geometri maknawi sebuah bahasa, yang hanya dapat diterapkan dalam Bahasa Ibrani dan Bahasa Arab.

Banyaknya pertanyaan yang sama dan berulang yang ditujukan kepada saya yang berasal dari sahabat-sahabat facebook saya mengenai Misteri Gunung Ararat dan Bukit Judi, maka kali ini saya mencoba memberanikan diri untuk menyampaikan hasil kajian kecil saya berbasis Ilmu Gematria tentang Misteri Gunung Ararat dan Bukit Judi yang keduanya terkait erat dengan Kisah Bahtera Nabi Nuh yang telah menjadi legenda dunia.

Mari kita mulai…
Bismillah…

Tempat Berlabuhnya Kapal Nabi Nuh menurut Al-Kitab:

“Dalam bulan yang ketujuh, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, terkandaslah bahtera itu pada Pegunungan ARARAT.”(Genesis / Kejadian 8:4)

Tempat Berlabuhnya Kapal Nabi Nuh menurut Al-Quran:

“Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit berhentilah,” dan air pun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas Bukit JUUDII, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim”. (QS. Hud 11:44)

Mari kita bahas satu persatu…

Data tentang ‘ARARAT
————————–
Bahasa Ibrani: ‘ARARAT
Ditulis: ‘ararat.
Dibaca: ar-aw-rat’
Strong’s Number: 0780.
Gematria Value: 410.
Aleph+Resh+Resh+Tet
😊 1+200+200+9 = 410)
Meaning:
“The Curse Reversed” (umpatan yang berbalik)

Nah secara fonologi, maka kata ‘ARARAT yang disebutkan dalam Genesis/Kejadian 8:4 ini memiliki kemiripan kata dan makna dengan kata IRARUTU, yang merujuk ke sebuah tempat di Provinsi Papua Barat, yang terletak di posisi 03o0′ – 03o41′ Lintang Selatan dan 132o1′ – 133o15’ Bujur Timur, yang wilayahnya terbentang luas di empat kabupaten di Provinsi Papua Barat, yakni mencakup: Kabupaten Teluk Bintuni, Kaimana, Fakfak dan Teluk Wondama.

Menurut DR. Jason Alexander Johann Jackson dalam disertasi doktor filosofinya yang berjudul “A Grammar of Irarutu, A Language of West Papua, Indonesia, with Historical Analysis” menyebutkan bahwa secara terminologi kata IRARUTU merujuk kepada dua hal, yakni sebagai “Bahasa Asli IRARUTU” dan kedua sebagai “Penduduk Asli IRARUTU”.

Di dalam disertasinya ini, DR. Jason Alexander Johann Jackson juga menyebutkan bahwa kata IRARUTU tersusun dari dua sub kata, yakni IRARU yang berarti “language” (ucapan/bahasa) dan TU yang berarti “true” (baik). Sehingga secara keseluruhan kata IRARUTU bermakna sebagai “True Language” atau “Ucapan/Bahasa yang baik”. Filosofi makna kata IRARUTU ini didasari oleh adanya sebuah “belief” atau “mitos” yang diyakini oleh Penduduk Asli IRARUTU secara turun temurun bahwa di IRARUTU tepatnya jika berada di atas GUNUNG IRARUTU siapapun tidak boleh memiliki niat kotor dan berkata-kata jahat, karena dalam keyakinan mereka kata-kata jahat itu akan kembali kepada orang yang mengucapkannya. Dari sinilah filosofi makna kata “IRARUTU” berasal mula.

Dan makna kata IRARUTU yang disampaikan oleh DR. Jason Alexander Johann Jackson dalam disertasinya ini ternyata memiliki kemiripan makna dengan kata ‘ARARAT dalam Al-Kitab Genesis/Kejadian 8:4 yang dalam bahasa Ibrani bermakna “The Curse Reversed”
(umpatan yang berbalik).

Selain itu jika kata ARARAT dalam Al-Kitab merujuk kepada Pegunungan ARARAT, maka demikian pula halnya dengan kata IRARUTU yang juga merujuk kepada sebuah gunung, yang disebut sebagai “GUNUNG NABI” yang menurut DR. Jason Alexander Johann Jackson memiliki nama asli sebagai “MOUNT IRARUTU” atau “GUNUNG IRARUTU” yang lokasinya berada di Teluk Arguni, Kabupaten Kaimana yang dianggap sebagai tempat paling suci oleh Penduduk Asli IRARUTU.

Kepala Suku IRARUTU di Kabupaten Kaimana yang bernama Harun Sabuku mengatakan bahwa menurut pitutur turun temurun bahwa konon kabarnya semua manusia di Papua berasal dari nenek moyang mereka yang tinggal di puncak GUNUNG NABI.

Menurut Hikayat GUNUNG NABI, seluruh dunia tenggelam oleh banjir dan orang-orang terpilih yang berada dalam Kapal Nabi Nuh telah terdampar di GUNUNG NABI. Masih menurut hikayat yang sama, disebutkan bahwa pasca banjir surut, Nabi Nuh dan ketiga anaknya yang bernama IRARUTU, MAIRASI dan KURI beserta 48 orang penumpang lainnya yang berada di dalam bahtera tersebut turun dari GUNUNG NABI dan menyebar ke seluruh dunia. IRARUTU menuruni GUNUNG NABI melalui rute Sungai Narmasa terus ke Tugarni menuju Teluk Arguni, dan MAIRASI menuruni GUNUNG NABI melalui rute Sungai Urere, terus ke Lobo dan terus menuju Teluk Triton, sedangkan KURI menuruni GUNUNG NABI melalui rute Sungai Wosimi tembus hingga ke Teluk Bintuni dan Teluk Wondama.

Ketiga anak Nabi Nuh versi Hikayat GUNUNG NABI ini yakni: IRARUTU, MAIRASI dan KURI lagi-lagi memiliki kemiripan dengan apa yang disampaikan dalam Al-Kitab yang menyebutkan bahwa Nabi Nuh memiliki tiga putra yakni: SHEM (SYAM), CHAM (HAM) dan YEPHETH (YAFET).

Sekarang pertanyaannya adalah mengapa dalam Al-Quran Surat Hud ayat 44 justru disebutkan jika Kapal Nabi Nuh berlabuh di Bukit JUUDII bukan di ‘ARARAT sebagaimana diaebutkan dalam Al-Kitab.

Mari kita kaji…

Data tentang JUUDII
————————
Bahasa Arab: JUUDII.
Gematria Value: 23.
Jim – Wau – Dal – Ya
😊 3+6+4+10 = 23)
Meaning: “Bukit Juudi”

Nah kata “JUUDII” ini rupa-rupanya bukan asli berasal dari Bahasa Arab melainkan juga merupakan kata serapan dari Bahasa Ibrani yakni dari kata “GEDIY”.

Data tentang GEDIY,
————————
Strong’s Number: 1423
Bahasa Ibrani: “GEDIY”
Ditulis: gediy
Dibaca: ghed-ee’
Gematria Value: 17.
Gimel – Dalet – Yod
😊 3+4+10 = 17)
Meaning: “Same as strong’s number 0415”

Data tentang Strong’s Number 0415,
——————————————
Strong’s Number: 0415
Bahasa Ibrani: “GADAH”
Ditulis: gadah
Dibaca: gaw-daw’
Gematria Value: 12
Gimel – Dalet – Hey
😊 3+4+5 = 12)
Meaning: “Bank River” (Induk/Kepala Sungai).

Sehingga kata “JUUDII” dalam QS. Hud 11:44 ini jika dimaknai ulang maka maknanya akan menjadi “Bukit/Gunung Tempat induk sungai berasal.” Dan makna kata “JUUDII” ini ternyata berkaitan erat dengan kata “ARARAT” dalam Al-Kitab yang di atas disebutkan bahwa kata “ARARAT” ini merujuk kepada “IRARUTU” sebagai tempat keberadaan “GUNUNG NABI” yang menurut hikayat setempat merupakan tempat berlabuhnya Kapal Nabi Nuh.

Lalu Apa keterkaitan antara “JUUDII” dan ‘ARARAT…?

Keterkaitannya adalah bahwa di “GUNUNG NABI” yang menurut DR. Jason Alexander Johann Jackson memiliki nama asli “MOUNT IRARUTU” atau “GUNUNG IRARUTU” di puncaknya terdapat tiga buah induk sungai besar, dan ini sesuai dengan makna dari kata “JUUDII” yang diserap dari bahasa ibrani “GEDIY” yang bermakna “Bank River” atau “Tempat Induk Sungai”.

Sungai pertama adalah Sungai Wosimi, yang bermuara ke Teluk Wondama (sekarang menjadi Kabupaten Teluk Wondama). Yang mendiami wilayah sekitar sungai itu adalah anak Nabi Nuh yang bernama KURI beserta keturunannya. Dan bahasa yang mereka gunakan sehari-hari adalah Bahasa Kuri dan Bahasa Irarutu.

Sungai kedua adalah Sungai Urere, yang bermuara ke Teluk Triton. Yang mendiami wilayah sekitar sungai itu adalah anak Nabi Nuh yang bernama MAIRASI beserta keturunannya. Dan bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Mairasi.

Sedangkan Sungai ketiga adalah Sungai Narmasa, yang bermuara ke Teluk Arguni (sekarang Kabupaten Kaimana). Yang mendiami wilayah sekitar sungai itu adalah anak Nabi Nuh yang bernama IRARUTU beserta keturunannya. Dan bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Irarutu.

Sehingga dari sini kita akhirnya paham bahwa yang dimaksud sebagai “JUUDII” oleh Al-Quran dan “ARARAT” oleh Al-Quran ternyata merujuk ke tempat yang sama, yaitu “GUNUNG NABI” dimana nama aslinya adalah “GUNUNG IRARUTU” yang lokasinya berada di Teluk Arguni, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat, Indonesia.

Sehingga Kesimpulan yang dapat diambil dari kajian di atas adalah:

JUUDII = ‘ARARAT = IRARUTU = GUNUNG NABI.

Masih mengenai GUNUNG NABI Papua, sebuah Jurnal Ilmiah terbitan Australian National University tahun 2015 yang berjudul “From Stone Age to Real Time, Exploring Papua Temporalities, Mobilities and Religiosities” disebutkan sebagai berikut,

“Papua is the land where Adam and Eve descended, where Noah’s Ark was stranded, and where all subsequent figures of the holy book lived. A mountain on the land between Arguni Bay and Wondama Bay is known under the name ‘mountain of the prophet’ (gunung nabi) and some Papuan Muslims like to perform the pilgrimage there instead of travelling to Mecca.”

Terjemahan:
“Papua adalah tanah tempat Adam dan Hawa diturunkan dari Surga, tanah dimana Kapal Nabi Nuh berlabuh dan tempat dimana seluruh tokoh penyebar ajaran kitab suci tinggal. Ada sebuah gunung di Papua yang terletak di dataran antara Teluk Arguni (sekarang Kabupaten Kaimana) dan Teluk Wondama (sekarang Kabupaten Teluk Wondama) dikenal dengan nama ‘GUNUNG NABI’ yang seringkali dikunjungi oleh beberapa Penduduk Muslim Papua jika mereka ingin melaksanakan ibadah haji ke Mekah.”

Sehingga hipotesis yang muncul dari apa yang disebutkan dalam jurnal ilmiah di atas terkait GUNUNG NABI / GUNUNG IRARUTU adalah:
(1) GUNUNG NABI adalah tempat diturunkannya Adam dan Hawa.
(2) GUNUNG NABI adalah tempat berlabuhnya Kapal Nabi Nuh.
(3) GUNUNG NABI adalah tempat beberapa nabi menyebarkan ajaran kitab suci.

Terkait ketiga hipotesis tentang GUNUNG NABI yang disebutkan dalam Jurnal Ilmiah terbitan Australian National University di atas, rupanya DR. Jason Alexander Johann Jackson dalam disertasi doktor filosofinya yang berjudul “A Grammar of Irarutu, A Language of West Papua, Indonesia, with Historical Analysis” juga menyebutkan sebagai berikut,

“In 2010, language consultants relayed a creation myth in which ‘Nabi Mountain’ is revered as Biblical Mount Sinai (Zion) the place of ascension of both Jesus Christ and The Prophet Muhammad and the origin point of all mankind as well as human language.”

Terjemahan:
“Pada tahun 2010, konsultan-konsultan bahasa menyampaikan sebuah mitos tentang GUNUNG NABI yang merujuk ke Gunung Zion / Gunung Sinai yang disebutkan dalam Al-Kitab sebagai tempat naiknya Yesus Kristus dan Nabi Muhammad dan sebagai titik asal seluruh bahasa-bahasa berawal.”

Dan terkait hal ini saya pribadi juga sempat melakukan wawancara mendalam terhadap salah seorang teman saya yang tinggal di Kabupaten Manokwari, Papua Barat yang dulu pernah menjadi operator alat berat ketika membuka hutan untuk membuat jalan di kaki gunung di daerah Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Menurut kesaksian teman saya ini, ketika menjelang waktu maghrib dia bertemu dengan seorang kakek-kakek tua yang tidak menggunakan baju alias bertelanjang dada dan hanya menggunakan kain cawat berwarna merah yang smhanya sekedar untuk menutupi auratnya.

Tanpa menaruh curiga sedikitpun, teman saya ini mau saja ketika diajak oleh sang kakek untuk berkunjung ke rumahnya. Dalam perjalanan, teman saya ini menceritakan bahwa tanah tempatnya berjalan itu seperti bukan tanah seperti biasanya yang padat dan keras namun lebih seperti berjalan di atas balon, kemudian ketika mulai memasuki daerah perkampungan tempat si kakek tinggal, teman saya ini melihat adanya sebuah tempat yang jika dilihat dari susunan pohon-pohonnya berbeda jenis dengan pohon-pohon yang ada di hutan di kaki gunung tersebut, sepanjang mata memandang terlihat jika pohon2 tersebut memiliki ketinggian yang sama seolah seperti dipangkas dan dirawat oleh seorang tukang kebun. Teman saya ini juga melihat dengan mata kepalanya sendiri jika si kakek berjalan di atas permukaan rawa-rawa seperti orang yg sedang berjalan di atas air. Seketika dalam waktu singkat, teman saya ini sudah berada di perkampungan tempat sang kakek tinggal, yang sepanjang penglihatannya tempat tersebut dipenuhi cahaya terang benderang dan banyak dihuni orang-orang yang berasal dari berbagai ras dan bangsa, mulai dari yang berkulit putih bersih sampai kepada yang berkulit hitam legam. Dan anehnya di sepanjang jalan menuju perkampungan itu berserakan batu-batu permata berwarna-warni yang seakan tidak tersentuh manusia sama sekali, dan selain itu persis di tengah-tengah perkampungan terdapat sebuah danau besar di atas gunung yang airnya asin seperti air laut dan dipenuhi banyak ikan-ikan laut beraneka jenis.

Setibanya di rumah sang kakek, teman saya ini dipersilahkan duduk, dan sang kakek pun memperkenalkan dirinya sebagai “TETE CAWAT MERAH” yang bermakna “kakek yang menggunakan celana cawat merah”. Sang Kakek bercerita bahwa sebelum tinggal di GUNUNG NABI PAPUA, ia adalah orang yang pertama membuka peradaban di Pulau Jawa, tepatnya di daerah sekitar Pandeglang, Banten. Ketika itu ia dijuluki sebagai “AKI TIREM”, yang bermakna “kakek yang pertama” (kata “aki” bermakna “kakek” dan kata “tirem”berasal dari bahasa ibrani “terem” yang bermakna “yang pertama” atau “awal mula”).

Sang kakek juga bercerita bahwa GUNUNG NABI di Papua itu ada dua, yakni GUNUNG NABI KECIL yang berada di Bomberai, Kabupaten Fakfak, Papua Barat yang dikenal masyarakat setempat sebagai GUNUNG BAHAM. Dan yang satunya lagi adalah GUNUNG NABI BESAR yang berada di Teluk Arguni, Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Kedua GUNUNG NABI ini disebut sebagai Pegunungan IRARUTU yang dalam Al-Kitab disebut sebagai Pegunungan ARARAT.

Sang kakek menyebutkan dirinya sebagai “BABE” yang dalam bahasa Irarutu artinya adalah “laki-laki tua”. Dan tugasnya sebagai “BABE” adalah menjaga GUNUNG NABI KECIL yang berada di Bomberai, tempat dimana Nabi Musa menerima sepuluh perintah Tuhan dan tempat dimana Nabi Musa meninggal dan dimakamkan. Di puncak GUNUNG NABI KECIL terdapat sebuah danau air asin yang dipenuhi oleh ikan-ikan air laut sebagai simbol Wahana Pengetahuan Agama Islam yang luas dimana ikan-ikan di dalamnya merupakan simbol Umat Islam, itulah sebabnya sang kakek selalu terlihat membawa Al-Quran berbahasa arab gundul.

Sang kakek juga menyebutkan bahwa GUNUNG NABI BESAR di Teluk Arguni dijaga oleh seorang “BABELE” yang dalam bahasa Irarutu artinya adalah “perempuan tua”. Dan tugasnya sebagai “BABELE” adalah menjaga GUNUNG NABI BESAR, tempat dimana Nabi Harun meninggal dan dimakamkan. Di puncak GUNUNG NABI BESAR terdapat sebuah danau air tawar yang airnya manis yang dipenuhi oleh ikan-ikan air tawar sebagai simbol Wahana Pengetahuan Agama Yahudi dan Nasrani dimana ikan-ikan di dalamnya merupakan simbol Umat Yahudi dan Umat Nasrani, itulah sebabnya sang BABELE selalu terlihat membawa Al-Kitab berbahasa ibrani gundul.

Nah demikianlah sekelumit kecil hasil kajian saya guna mengungkap Misteri tentang Gunung Ararat dan Bukit Judi sebagai tempat berlabuhnya Bahtera Nabi Nuh.
Dan sekali lagi saya tegaskan bahwa ini hanyalah sebatas “HIPOTESIS” yang saya sampaikan ke ruang terbuka publik yang saya peroleh lewat kajian berbasis “etno-linguistik” dan “ilmu gematria”. Hipotesis saya ini bisa benar dan bisa juga salah. Karena saya juga hanyalah manusia biasa. Semoga ijtihad pemikiran saya ini bisa menjadi awal kajian dan bahan diskusi lanjutan yang membangkitkan nalar dan logika berpikir yang lebih kritis dan mendalam guna mengungkap fakta kebenaran yang sesungguhnya.

Salam Kebangkitan Nuhsantara _/\_

Note:
Share dan copas diizinkan seluas-luasnya namun dengan tetap mencantumkan link dan sumber aslinya….

_/\_ Sugeng Rahayu _/\_

Yeddi Aprian Syakh,

Admin Group “Atlantis Indonesia”
Admin Group “Imperium Sulaiman”
Admin Group “Nuhsantara Historical Discovery”
Admin Group “The Lost History of Nuhsantara”
Admin Group “Zero Praying”

Foto The Lost History of Nuhsantara.

Note:
Share dan copas diizinkan seluas-luasnya namun dengan tetap mencantumkan link dan sumber aslinya….

 

_/\_ Salam Sugeng Rahayu _/\_

Yeddi Aprian Syakh Al-Athas,

Admin Group “Atlantis Indonesia”
Admin Group “Imperium Sulaiman”
Admin Group “Nuhsantara Historical Discovery”
Admin Group “The Lost History of Nuhsantara”
Admin Group “Zero Praying”

 

One comment on ““AKHIRNYA TERUNGKAP: BAHTERA NABI NUH TERBUAT DARI POHON JATI RAHA JEPARA DARI PUNCAK GUNUNG MURIA

  1. Hebat..
    Sebuah kajian yg sangat dibutuhkan oleh semua kalangan, karena masih minimnya.. pengetahuan tentang ini.
    Kalau lah mmg seperti itu…. Bukan mainan… Kita bangsa Indonesia.. adalah bangsa yg sangat besar dan bangsa yg sangat berpengaruh vbagi peradaban dunia..
    Terimakasih .. SDH berbagi ilmu kepada kami..
    Sehingga membuka pemikiran2 kami yg sempit…
    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: