4 Komentar

Apa itu Sunda Wiwitan ?

Menurut para sarjana yang terbaratkan, Sunda Wiwitan adalah agama atau kepercayaan pemujaan terhadap kekuatan alam dan arwah leluhur (animisme dan dinamisme ) yang dianut oleh masyarakat tradisional Sunda. [1] Akan tetapi ada sementara pihak yang berpendapat bahwa Agama Sunda Wiwitan juga memiliki unsur
monoteisme purba, yaitu di atas para dewata dan hyang dalam pantheonnya terdapat dewa tunggal tertinggi maha kuasa yang tak berwujud yang disebut Sang Hyang Kersa yang disamakan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Saya Ahmad Samantho, sebagai Master peneliti Filsafat Islam dan Irfan serta Perbandingan Agama dan Peradaban,  bersaksi bahwa Sunda Wiwitan adalah ajaran Monotheistik (Tauhidi), yang mungkin juga adalah warisan Para Nabi Allah generasi awal peradaban di Sundaland (Lemuria-Atlantis-Vedic Culture (Veda Sanatha Dharma).

Penganut ajaran ini dapat ditemukan di beberapa desa di provinsi Banten dan Jawa Barat, seperti di Kanekes, Lebak , Banten; Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok , Sukabumi; Kampung Naga; Cirebon; dan Cigugur, Kuningan. Menurut penganutnya, Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan yang dianut sejak lama oleh orang Sunda sebelum datangnya ajaran Hindu dan Islam .

Ajaran Sunda Wiwitan terkandung dalam kitab Sanghyang Siksakanda’ng  Karesian, sebuah kitab yang berasal dari zaman kerajaan Sunda yang berisi ajaran keagamaan dan tuntunan moral, aturan dan pelajaran budi pekerti. Kitab ini disebut Kropak 630 oleh Perpustakaan Nasional Indonesia.

Berdasarkan keterangan kokolot (tetua) kampung Cikeusik, orang Kanekes bukanlah penganut Hindu atau Buddha, melainkan penganut animisme, yaitu kepercayaan yang memuja arwah nenek moyang. Hanya dalam perkembangannya kepercayaan orang Kanekes ini telah dimasuki oleh unsur-unsur ajaran Hindu , dan hingga batas tertentu, ajaran Islam. [2] Dalam Carita Parahyangan kepercayaan ini disebut sebagai ajaran “Jatisunda”.

Mitologi dan sistem kepercayaan

Kekuasaan tertinggi berada pada Sang Hyang Kersa (Yang Mahakuasa) atau Nu Ngersakeun (Yang Menghendaki). Dia juga disebut sebagai
Batara Tunggal (Tuhan yang Mahaesa), Batara Jagat (Penguasa Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Gaib). Dia bersemayam di Buana Nyungcung. Semua dewa dalam konsep Hindu (Brahma, Wishnu, Shiwa, Indra, Yama, dan lain-lain) tunduk kepada Batara Seda Niskala. [3]

Ada tiga macam alam dalam kepercayaan Sunda Wiwitan seperti disebutkan dalam pantun mengenai mitologi orang Kanekes:
1. Buana Nyungcung : tempat bersemayam Sang Hyang Kersa, yang letaknya paling atas
2. Buana Panca Tengah: tempat berdiam manusia dan makhluk lainnya, letaknya di tengah
3. Buana Larang: neraka, letaknya paling bawah

Antara Buana Nyungcung dan Buana Panca Tengah terdapat 18 lapis alam yang tersusun dari atas ke bawah. Lapisan teratas bernama
Bumi Suci Alam Padang atau menurut kropak 630 bernama Alam Kahyangan atau Mandala Hyang.

Lapisan alam kedua tertinggi itu merupakan alam tempat tinggal Nyi Pohaci Sanghyang Asri dan Sunan Ambu .

Sang Hyang Kersa menurunkan tujuh batara di Sasaka Pusaka Buana. Salah satu dari tujuh batara itu adalah Batara Cikal, paling tua yang dianggap sebagai leluhur orang Kanekes. Keturunan lainnya merupakan batara-batara yang memerintah di berbagai wilayah lainnya di tanah Sunda. Pengertian nurunkeun (menurunkan) batara ini bukan melahirkan tetapi mengadakan atau menciptakan.

Filosofi

Paham atau ajaran dari suatu agama senantiasa mengandung unsur-unsur yang tersurat dan yang tersirat. Unsur yang tersurat adalah apa yang secara jelas dinyatakan sebagai pola hidup yang harus dijalani, sedangkan yang tersirat adalah pemahaman yang komprehensif atas ajaran tersebut. Ajaran Sunda Wiwitan pada dasarnya berangkat dari dua prinsip, yaitu Cara Ciri Manusia dan Cara Ciri Bangsa.

Cara Ciri Manusia adalah unsur-unsur dasar yang ada di dalam kehidupan manusia. Ada lima unsur yang termasuk di dalamnya:
Welas asih: cinta kasih
Undak usuk: tatanan dalam kekeluargaan
Tata krama: tatanan perilaku
Budi bahasa dan budaya
Wiwaha yudha naradha: sifat dasar manusia yang selalu memerangi segala sesuatu sebelum melakukannya. Kalau satu saja cara ciri manusia yang lain tidak sesuai dengan hal tersebut maka manusia pasti tidak akan melakukannya.

Prinsip yang kedua adalah Cara Ciri Bangsa. Secara universal, semua manusia memang mempunyai kesamaan di dalam hal Cara Ciri Manusia. Namun, ada hal-hal tertentu yang membedakan antara manusia satu dengan yang lainnya. Dalam ajaran Sunda Wiwitan, perbedaan-perbedaan antarmanusia tersebut didasarkan pada Cara Ciri Bangsa yang terdiri dari:
Rupa
Adat
Bahasa
Aksara
Budaya

Kedua prinsip ini tidak secara pasti tersurat di dalam Kitab Sunda Wiwitan, yang bernama Siksa Kanda-ng karesian. Namun secara mendasar, manusia sebenarnya justru menjalani hidupnya dari apa yang tersirat. Apa yang tersurat akan selalu dapat dibaca dan dihafalkan. Hal tersebut tidak memberi jaminan bahwa manusia akan menjalani hidupnya dari apa yang tersurat itu. Justru, apa yang tersiratlah yang bisa menjadi penuntun manusia di dalam kehidupan.

Awalnya, Sunda Wiwitan tidak mengajarkan banyak tabu kepada para pemeluknya. Tabu utama yang diajarkan di dalam agama Sunda ini hanya ada dua.

Yang tidak disenangi orang lain dan yang membahayakan orang lain
Yang bisa membahayakan diri sendiri

Akan tetapi karena perkembangannya, untuk menghormati tempat suci dan keramat (Kabuyutan, yang disebut Sasaka Pusaka Buana dan Sasaka Domas) serta menaati serangkaian aturan mengenai tradisi bercocok tanam dan panen, maka ajaran Sunda Wiwitan mengenal banyak larangan dan tabu. Tabu (dalam bahasa orang Kanekes disebut “Buyut”) paling banyak diamalkan oleh mereka yang tinggal di kawasan inti atau paling suci, mereka dikenal sebagai orang Baduy Dalam.

Tradisi

Dalam ajaran Sunda Wiwitan penyampaian doa dilakukan melalui nyanyian pantun dan kidung serta gerak tarian. Tradisi ini dapat dilihat dari upacara syukuran panen padi dan perayaan pergantian tahun yang berdasarkan pada penanggalan Sunda yang dikenal dengan nama Perayaan Seren Taun . Di berbagai tempat di Jawa Barat, Seren Taun selalu berlangsung meriah dan dihadiri oleh ribuan orang. Perayaan Seren Taun dapat ditemukan di beberapa desa seperti di Kanekes, Lebak ,
Banten; Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul,
Cisolok , Sukabumi; Kampung Naga; dan
Cigugur, Kuningan. Di Cigugur, Kuningan sendiri, satu daerah yang masih memegang teguh budaya Sunda, mereka yang ikut merayakan Seren Taun ini datang dari berbagai penjuru negeri.

Meskipun sudah terjadi inkulturasi dan banyak orang Sunda yang memeluk agama-agama di luar Sunda Wiwitan, paham dan adat yang telah diajarkan oleh agama ini masih tetap dijadikan penuntun di dalam kehidupan orang-orang Sunda. Secara budaya, orang Sunda belum meninggalkan agama Sunda ini. [4]

Tempat suci

Tempat suci atau tempat pemujaan yang dianggap sakral atau keramat dalam Agama Sunda Wiwitan adalah Pamunjungan atau disebut Kabuyutan. Pamunjungan merupakan punden berundak yang biasanya terdapat di bukit dan di Pamunjungan ini biasanya terdapat Menhir, Arca, Batu Cengkuk, Batu Mangkok, Batu Pipih dan lain-lain.

Pamunjungan atau Kabuyutan banyak sekali di Tatar Sunda seperti Balay Pamujan Genter Bumi, Situs Cengkuk, Gunung Padang, Kabuyutan Galunggung, Situs Kawali dll. Di Bogor sendiri sebagi Pusat Nagara Sunda dan Pajajaran dahulu terdapat Banyak Pamunjungan beberapa diantaranya adalah Pamunjungan Rancamaya nama dahulunya adalah Pamunjungan Sanghyang Padungkukan yang disebut Bukit Badigul namun sayang saat ini Pamunjungan tersebut sudah tidak ada lagi digantikan oleh Lapangan Golf.

Pada masanya Pamunjungan yang paling besar dan mewah adalah Pamunjungan Kihara Hyang yang berlokasi di Leuweung (hutan) Songgom, atau Balay Pamunjungan Mandala Parakan Jati yang saat ini lokasinya digunakan sebagai Kampung Budaya Sindang Barang.

Dengan banyaknya Pamunjungan atau Kabuyutan tersebut di Tatar Sunda membuktikan bahwa agama yang dianut atau agama mayoritas orang Sunda dahulu adalah Agama Jati Sunda atau Sunda Wiwitan, ini adalah jawaban kenapa di Sunda sangat jarang sekali diketemukan Candi. Namun begitu, Hindu dan Budha berkembang baik di Sunda bahkan Raja Salaka Nagara juga
Tarumanagara adalah seorang Hindu yang taat. Candi Hindu yang ditemukan di Tatar Sunda adalah Candi Cangkuang yang merupakan candi Hindu pemujaan Siwa dan

Percandian Batujaya di Karawang yang merupakan kompleks bangunan stupa Buddha.

sumber:wikipedia

 

 

 

 

 

4 comments on “Apa itu Sunda Wiwitan ?

  1. Sunda Wiwitan Sunda Wekasan, Sunda nu ngamimitian Sunda nu Mungkasan.

    Sunda wekasan adlh agama amanah atau agama akhir zaman yang akan menyatukan semua umat manusia.

    Sunda wekasan dgn sistem amanah-nya akan menghasilkan pancanata (nata raga, nata jiwa, nata kulawarga, nata nagara & nata sawarga) yg ujungnya bertemu dgn wujud Gusti Pangeran.

  2. Mrk baduy hidup spt itu krn ditugaskan menjaga amanah, menjaga sanad keilmuan Nabi Adam.

    Ajaran yg dibawa Nabi Adam ini adalah Ageman Sunda (Wiwitan) tanpa diberi kitab makanya orientasinya bkn ngaji kitab (ke luar diri) tapi “ngaji diri maca awak” (ke diri).

    Beda dgn ajaran (agama) jatisunda kampung naga tasik yg ditugaskan utk menjaga sanad keilmuan Nabi Nuh, di sini mulai ada kitab/naskah/catatan.

    Beda antara agama & ageman. Agama itu orientasinya ngaji kitab (ke luar diri), sedangkan ageman itu orientasinya ngaji diri (ke diri).

    Krn ngaji ke luar diri maka dlm agama itu terpisah antara amalan lahir (sareat) & amalan batin (tarekat) shg ujungnya tdk bisa menjadi budaya/adat.

    Sdgkan dlm ageman itu menyatu antara amalan lahir & amalan batin shg ujungnya menjadi budaya/adat.

    Jadi, ageman tertua yaitu Sunda wiwitan (Nabi Adam), sedangkan agama tertua yaitu Jatisunda (Nabi Nuh).

  3. Mrk baduy bkn tdk mau msk agama lain, krn ageman mrk tdk bisa disempurnakan oleh agama tapi hanya bisa disempurnakan oleh ageman di atasnya.

    Krn ageman (ngaji diri) itu 4 tingkat di atas agama (ngaji kitab). Krn ageman pakai logik transenden (rasa 0,1,2,3,…dst) sdgkn agama pakai logik biner (0/salah & 1/benar).

    Ageman Sunda wiwitan telah gagal melampaui pancaniti (niti harti, niti surti, niti bukti, niti bakti & niti sajati) & pancanata (nata raga, nata jiwa, nata kulawarga, nata nagara & nata sawarga) krn msh pakai logik biner shg tdk bisa bertemu dgn wujud Gusti Pangeran.

    Makanya di akhir zaman, ageman Sunda wiwitan ini akan disempurnakan oleh ageman Sunda Wekasan shg bisa melampaui pancaniti & pancanata hingga ujungnya bertemu dgn wujud Gusti Pangeran.

  4. Ageman Sunda Wiwitan acuan utamanya SAHADAT SUNDA yaitu SAHA DAT? ingSUN DAt tapi dgn Sunda wiwitan gagal bertemu dgn DAT (wujud Gusti Pangeran) hanya melihat tabir waktu krn terjebak di logik/akal biner.

    Sedangkan agama Jatisunda acuannya “mulih ka jati, mulang ka asal” yaitu mensucikan lahir dgn amalan lahir (sareat) & mensucikan batin dgn amalan batin (tarekat), ujungnya sama juga hanya melihat tabir waktu, tdk bisa bertemu dgn DAT (wujud Gusti Pangeran).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: