Tinggalkan komentar

IBUKOTA ATLANTIS di LAUT JAWA KUNO

IBUKOTA ATLANTIS

Atlantis: The lost city is in Java SeaPlato bercerita bahwa “dimana terdapat sebuah kota dengan benteng dan cincin perairan adalah ada di laut yang nyata didalam selat dikelilingi oleh benua tak terbatas”. Benua tak terbatas itu adalah Sundalandia yang tersambung dengan Benua Asia, dan satu-satunya laut yang dikelilingi olehnya pada masa itu adalah Laut Jawa kuno, menunjukkan bahwa pulau dan ibukotanya terletak di Laut Jawa.

Pernyataan bahwa “pulau itu terletak didekat dataran dan semua saluran bertemu di kota dan bermuara ke laut”, menunjukkan bahwa pulau itu terletak di sebelah selatan dataran, di suatu tempat yang sekarang terdapat dibawah Laut Jawa.

Lokasinya diidentifikasi oleh para pelaut sebagai Gosong Gia atau Annie Florence Reef, sebuah terumbu karang digambarkan berukuran kecil dan muncul ke permukaan saat laut surut.

Kota Atlantis adalah sebuah pulau dengan sebuah bukit kecil di tengahnya. Kota dan pulau ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama sehingga cukup bagi para rajanya untuk membangunnya. Memiliki cincin-cincin perairan dan lintasan dari laut menuju cincin terdalam. Mereka membuat jembatan diatas cincin-cincin perairan yang mengelilingi metropolis tersebut. Sebuah dinding batu dimulai di laut dan membentang berkeliling. Mereka menggunakan “orichalcum”, timah dan kuningan atau perunggu untuk menutupi dinding-dinding luar kotanya.

Terdapat sebuah bukit, yang tidak terlalu tinggi, didekat tengah pulau pusat. Di puncak pulau pusatnya, sebuah kuil dibangun untuk memuja Poseidon, yang didalamnya terdapat patung emas raksasa untuknya. Mereka membangun istana di tempat kediaman dewa-dewa dan leluhur mereka, yang terus diperindah oleh generasi-generasi setelahnya.

Seperti yang dikatakan oleh Plato, kuil Poseidon dibangun di pulau pusat yang berupa sebuah bukit, dikelilingi oleh cincin-cincin perairan. Untuk mencapai kuil ini dari cincin perairan terdalam, undakan di lereng bukit pasti diperlukan. Hal ini bisa berarti bahwa kuil ini menyerupai bangunan piramida berundak tanah dan batu, sebuah ciri budaya asli Nusantara yang disebut dengan “punden berundak”. Kuil ini juga menjadi tempat
untuk memuja leluhur mereka.

Selain menhir, meja batu, dan patung-patung batu, budaya megalitik Austronesia di Nusantara memiliki bangunan piramida undakan, tanah dan batu, yang disebut dengan “punden berundak”. “Punden berundak” dianggap sebagai salah satu ciri budaya asli Nusantara. Bangunan ini terdapat dan tersebar di seluruh Nusantara sampai sejauh Polinesia.

Ungkapan “karena suatu alasan, laut di bagian itu tidak dapat dilewati dan ditembus, karena ada sebuah beting lumpur, atau tanah liat, di tempat itu” menegaskan lokasinya. Terumbu karang adalah langka di Mediterania sehingga orang Yunani dan Mesir tidak memiliki istilah tersebut, maka Plato menuliskannya sebagai “beting lumpur, atau tanah liat”. Terumbu karang tumbuh dengan baik di perairan yang hangat, dangkal, jernih, terang dan tidak tenang, dan pada permukaan keras dibawah laut, sehingga merupakan kondisi yang ideal di Laut Jawa. Hal ini ditegaskan lebih lanjut oleh ungkapan “yang disebabkan oleh penurunan pulau”, karena tumbuhnya terumbu karang disebabkan oleh kenaikan permukaan laut dalam periode glasial terakhir.

Permukaan laut terus naik sampai sekitar 6.000 tahun lalu. Karang tumbuh pada bangunan padat. Bersamaan dengan sedimentasi dan proses-proses lainnya.

Saat ini terdapat sebuah terumbu karang yang dikenal dengan nama Gosong Gia atau Annie Florence Reef. Puncaknya berada sekitar 10 meter dibawah permukaan laut rata-rata, dan dasar laut di sekitarnya terdapat di kedalaman sekitar 55 meter. Bangunan kotanya masih tampak jelas dari pola terumbu karangnya. Kedalaman lautnya sangat sesuai dengan elevasi daratan sekitar 11.600 tahun lalu. Karenanya dituliskan oleh Plato sebagai “Laut pada bagian tersebut tidak dapat dilalui dan ditembus karena terdapat sebuah beting lumpur/lempung atau terumbu karang.”

Pulau Bawean di lepas pantai Laut Jawa merupakan purwarupa pulau Atlantis karena memiliki lingkungan, formasi geologi dan proses tektonik yang sama, serta letaknya berdekatan. Pulau Bawean dan Atlantis keduanya terletak pada sebuah busur geologi yang diidentifikasi oleh para ahli geologi sebagai Busur Bawean. Dijelaskan bahwa “mereka memiliki mata air, yang satu dingin dan lainnya panas”. Terdapat beberapa sumber air panas dan dingin di Pulau Bawean yang dihasilkan oleh kegiatan tektonik di wilayah tersebut.

Deskripsi “batu-batu itu digali dari pulau pusat dan zona-zona, dengan warna putih, hitam dan merah” dan “dilubangi menjadi galangan ganda, yang memiliki atap terbentuk dari batuan asli” juga sesuai. Batu-batu itu rupanya mirip dengan batuan beku yang terdapat di Pulau Bawean yang putih bersifat asam, hitam abu-abu bersifat basa dan merah dari oksida besi. Batuan beku ini keras dan kuat, memiliki kekuatan alam yang cukup untuk berdiri sebagai atap galangan yang dilubangi.

Baca selanjutnya di http://atlantislautjawa.blogspot.co.id/

#AtlantisdiLautJawa #AtlantisinJavaSea

 

THE CAPITAL CITY OF ATLANTIS

Plato says that “where there was a city with a citadel and rings of water was in a real sea inside a strait surrounded by a boundless continent.” The boundless continent is the Sundaland attached to the Asian Continent, and the only sea surrounded by it in those days was the ancient Java Sea, suggesting that the capital island and city are located in the Java Sea.

The statement that “the island was located near the plain and all the canals met at the city and drained into the sea”, suggesting that the island is located south of the plain, in a place now under the Java Sea.

The site is identified by the sailors as Gosong Gia or Annie Florence Reef, a coral reef described as small in extent and dries at low water.

The city of Atlantis was an island with a small hill at its center. The city and the island existed long enough for many kings to develop it. It had rings of water and a passage from the sea to the inner ring. They bridged over the zones of sea which surrounded the ancient metropolis. A stone wall began at the sea and went all round. They used orichalcum, tin and brass or bronze to cover the outer walls of their cities.

There was a hill, not too high, near the middle of the center island. At the top of the central hill, a temple was built to honor Poseidon, which housed a giant gold statue of him. They built the palace in the habitation of the god and of their ancestors, which they continued to ornament in successive generations.

As said by Plato, the temple of Poseidon was built in the center island which was a hill, encircled by rings of waters. To reach the temple from the innermost ring of water, steps on the hill slope were definitely required. This could mean that the temple is featuring an earth-and-stone step pyramid structure, characterizes the original culture of Nusantara that is referred to as “punden berundak”. The temple was also the place to worship their ancestors.

As well as menhirs, stone tables, and stone statues, Austronesian megalithic culture in Nusantara features an earth and stone step pyramid structure, referred to as “punden berundak”. “Punden berundak” is regarded as one of the characteristics of the original culture of the archipelago. These structures have been found and spread throughout Nusantara as far as Polynesia.

The phrase “for which reason the sea in those parts is impassable and impenetrable, because there is a reef of mud, or clay, in the way” confirms the location. Coral reef is scarce in the Mediterranean so that the Greeks and the Egyptians did not own the term, then Plato wrote it as “a reef of mud, or clay”. Coral reefs grow best in warm, shallow, clear, sunny and agitated waters, and on hard, underwater surfaces, thus constitute the ideal conditions for the Java Sea. It is confirmed further by the phrase “caused by the subsidence of the island”, as the growth of the coral reef was caused by the sea level rise during the last glacial period.

The sea level kept rising until about 6,000 years ago. Corals grew on the solid structures, along with sedimentation and other processes.

There is an existing coral reef named Gosong Gia or Annie Florence Reef. The top of the reef is about 10 meters below the average sea level, and the surrounding sea bed is about 55 meters below the average sea level. The city structures are still apparent from the patterns of the reefs. The depth of the sea here exactly coincides the land level about 11,600 years ago. As Plato writes that “The sea in those parts is impassable and impenetrable, because there is a reef of mud or clay, or a coral reef.”

Bawean Island off in the Java Sea is a prototype of the island of Atlantis as it has the same environment, geological formation and tectonic processes, as well as they are closely situated. Bawean and Atlantis islands are both located on a geological arc identified by the geologists as Bawean Arc. It is described that “they had springs, one of cold and another of hot water”. There are several hot and cold springs in the Bawean Island resulted from the tectonic activities in the region.

The descriptions “the stones were quarried from the center island and the zones, with white, black and red colors” and “they hollowed out double docks, having roofs formed out of the native rock” are also noticeable. The stones are apparently similar to the igneous rock deposited in the Bawean Island having the acidic white, alkaline black-grey and ferro-oxide red rocks. This igneous rock is hard and strong having enough natural strength to stand as roofs of the hollowed out double docks.

Read more at https://atlantisjavasea.com/

2 Komentar
Komentar
Mus Nunggangblarakmabur Mangkurondosongo
Mus Nunggangblarakmabur Mangkurondosongo Cerita Atlantis didapat oleh Solon dari Mesir. Dan menurut Plato, Atlantis dibangun oleh Poseidon.
Namun Herodotus bilang, orang Mesir tdk mengenal Poseidon.
Jadi, siapa yg dimaksud Plato saat menyebut “Poseidon” sebagai pendiri Atlantis?

 · Balas · 

2

 · 5 Januari pukul 6:27

Hapus

Dhani Irwanto
Dhani Irwanto Plato sendiri menegaskan didalam Critias, bahwa Solon meminjam semua nama-namanya dari mitos Yunani, agar masyarakat Yunani Kuno mudah memahami. Jadi, Poseidon yang terdapat didalam kisah Atlantis tidak sama dengan Poseidon dalam mitos Yunani. Plato tidak menyebutkan nama-nama aslinya (walaupun didalam Critias nama-nama aslinya disebutkan disimpan oleh tokoh Critias). Nama-nama tersebut telah 3 kali diterjemahkan, dari bahasa Atlantis, menjadi bahasa Mesir Kuno, menjadi bahasa Mesir masa Solon dan menjadi bahasa Yunani masa Solon.

 · Balas · 

1

 · 5 Januari pukul 10:01 · Telah disunting

Hapus

Dhani Irwanto
Dhani Irwanto Dari survai yang dilakukan oleh pihak lain, saat ini terdapat sebuah terumbu karang yang dikenal dengan nama Gosong Gia atau Annie Florence Reef (lihat video di menit 4:06 atau -2:35). Puncaknya berada sekitar 10 meter dibawah permukaan laut rata-rata, dan dasar laut di sekitarnya terdapat di kedalaman sekitar 55 meter. Bangunan kotanya masih tampak jelas dari pola terumbu karangnya: dinding-dinding yang melingkar, bukit dimana dulunya terdapat sebuah kuil, jembatan dan lainnya. Kedalaman lautnya sangat sesuai dengan elevasi daratan sekitar 11.600 tahun lalu. Karenanya dituliskan oleh Plato sebagai “Laut pada bagian tersebut tidak dapat dilalui dan ditembus karena terdapat sebuah beting lumpur/lempung [terumbu karang].” Karena alasan keamanan, kami tidak ingin mempublikasikan data tersebut.

 · Balas · 

3

 · 15 jam

Hapus

Zayyana
Zayyana Kalau begitu, apakah jurnalnya juga disembunyikan pak? Saya baru tahu bahwa penelitian bawah laut tidak bisa dipublikasi karena alasan tersebut. Terimakasih

 · Balas · 

1

 · 13 jam

Hapus

Dhani Irwanto
Dhani Irwanto Iya, alasan hankam negara, terutama di Laut Jawa.

 · Balas · 

1

 · 13 jam

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: