Tinggalkan komentar

Antara Muslim Mukminin Vs Muslim Islamisist sok “Ngislam”

Kiageng Selo (Ahmad Yanuana Samantho)

 

Antara Muslim Mukminin Vs Muslim Islamisist sok “Ngislam”

 

Bismillahirahmanirrahim, Allahuma Shalli ala Muhammad wa ala ‘Aaali Muhammad wa ajjil farojahum,

             Bangsa dan Negara kita dalam 50-20 tahun terakhir memang mulai menghadapi masalah serius dan bahaya yang mengancam kesatuan-persatuan bangsa dan NKRI serta ancaman kehancuran Negara dan bangsa. Upaya perbaikan dan kemajuan bangsa dan Negara, pasca gerakan “reformasi 1998”, yang diharapkan akan muncul perbaikan reformatif –minimal atas kondisi sosial-politik-ekonomi bangsa— dan maksimalnya perbaikan menyeluruh dalam ipoleksosbud hankamnas, kini seolah terseok-seok berjalan ditempat dan terhambat.

Ancaman disintegrasi bangsa semakin menguat, akibat kelemahan mental-ideologi internal bangsa kita sendiri, di samping adanya intervensi penggalangan oleh agen-agen intelejen asing dari negara-negara  adidaya Barat dan para pengusaha kapitalis-neo-imperialis global, yang telah dan ingin terus mengambil banyak keuntungan dari kelemahan SDM (Sumber Daya Manusia) kita, seraya mengambil keuntungan maksimal atas kekayaan SDA (Sumber Daya Alam) kita yang berlimpah-ruah.

 

Jangan Lupakan Sejarah! Konspirasi Menuju Disintegrasi Bangsa:

Apa yang sekarang terjadi di Indonesia di akhir tahun 2016 sampai  pertengahan tahun 2017 ini, tak lepas dari akar sejarah kita. Ini semua masih merupakan kelanjutan dari ekses pasca kolonialisme dan imperialisme, yang bermetamorfosa menjadi berbagai konflik sosial politik ekonomi yang masih kerap terjadi di Indonesia.  Maka marilah kita merenung sejenak, menelisik kembali sejarah kontemporer paska Proklamasi kemerdekaan RI 1945.

Dari Pemberontakan PRRI-Permesta, Konflik Tolikara hingga Parade Tauhid Indonesia dan Demo 4-11 & 2-12 2016 serta berbagai aksi terorisme di Indonesia: adalah Program Konspirasi Menuju Disintegrasi Bangsa?

Salah seorang sahabat penulis, Almarhum Quito Riantori, 18 August 2015, setahun sebelum wafatnya, telah memposting tulisan Arya Penangsang di laman Facebooknya, sebagai berikut:

“Amerika Serikat dan Negara-negara sekutunya tetap punya kepentingan untuk mengendalikan pemerintahan Indonesia. Sejarah telah membuktikannya. Setiap kali rezim pemerintah RI tidak mau tunduk terhadap kepentingan dan kemauan politik “Paman Sam” (USA), maka dipastikan akan terjadi kerusuhan sosial di Indonesia. Kita bisa mengungkap kembali fakta sejarahnya.

Pertama, Era 1950-an. Pemberontakan PRRI/Permesta. Pemberontakan ini didalangi oleh Amerika Serikat. Bahkan tentara AS terlibat langsung di dalamnya. Terbukti dengan tertangkapnya seorang pilot AU AS, di Morotai, Maluku.

AS berkepentingan menjatuhkan pemerintahan Presiden Soekarno. Karena pemerintahan RI waktu itu berkiblat kepada poros Peking-Moskow yang kebetulan berhaluan komunis atau sosialis. Tragisnya pemberontakan terhadap Soekarno tersebut di lapangan dijalankan oleh partai Islam, Masyumi. Di dalamnya banyak terlibat tokoh-tokoh muslim modernis.

Kedua, GESTOK atau G-30-S/PKI tahun 1965. Banyak catatan sejarah yang membuktikan keterlibatan intelijen AS: CIA, pada peristiwa Gerakan 30 September, G30S-PKI. CIA bekerjasama dengan segelintir perwira TNI AD. Mereka berhasil menghancurkan 3 kekuatan RI sekaligus. Yakni loyalis Perwira TNI AD, pemimpin, kader dan anggota parpol PKI, serta Presiden Soekarno dan para pendukungnya.

Setelah itu AS menjadi penguasa yang sebenarnya atas negeri tercinta ini. Rezim Orde Baru Soeharto hanyalah boneka AS. Tak lebih dari itu. Selama 50 tahun lebih kekayaan sumber daya alam (SDA) Indonesia dieksploitasi dan dirampas oleh AS. Tragisnya mayoritas alim-ulama Indonesia dan ormas Islam tradisional tak menyadari akan hal ini. Mereka justru, sadar atau tak sadar, telah menjadi alat provokator CIA dan rezim Orba untuk menghancurkan komponen bangsa lainnya. Terjadilah penculikan, pembantaian, dan pembunuhan terhadap anggota PKI dan pemenjaraan dan isolasi-blokade sosial-politik-ekonomi terhadap para tokoh Sukarnois.

Sebenarnya secara tak langsung peristiwa di atas mungkin terjadi karena kelengahan kebijakan Presiden Soekarno sendiri pada awal kemerdekaan RI. Tepatnya pada saat perundingan KMB 1949. Delegasi Indonesia bersedia menyepakati pasal yang sangat berbahaya, yakni memasukkan mantan perwira tentara kolonial Belanda: KNIL, ke dalam tubuh perwira TRI yang kemudian menjadi TNI. Sedangkan sebagian tentara TRI yang sudah terbukti loyal terhadap negara, justru mengalami proses rasionalisasi (pemberhentrian dari TRI-TNI). Artinya terjadi demiliterisasi sebagian anggota TRI. Akhirnya terjadilah G30S/PKI dan Supersemar. “Senjata makan tuan”. “Revolusi memakan anak kandungnya sendiri”. Bahkan menelan korban orang tua kandungnya sendiri. “Cerita Joko Tingkir menyingkirkan Sultan Trenggono kembali terjadi dalam pentas sejarah Indonesia modern.” Begitu tulis Arya Penangsang.

Ketiga, Kerusuhan Mei 1998 menjelang “Reformasi”, Gerakan demonstrasi yang diprakarsai oleh para mahasiswa ini berhasil melengserkan Presiden Soeharto. Ditengarai kuat CIA juga terlibat dalam peristiwa ini. Karena arah suksesi kepemimpinan nasional yang dipersiapkan Soeharto, tak sesuai dengan keinginan Negeri Paman Sam (USA). Oleh karena itu Presiden Soeharto serta penggantinya harus merasakan akibatnya (dijatuhkan).

Awal kerusuhan Mei 1998 terjadi kerusuhan di universitas Trisakti, Jakarta. Aparat TNI menembak mati beberapa mahasiswa. Sesaat kemudian terjadilah penjarahan oleh massa. Provokasi anti pribumi dan kerusuhan anti China dihembuskan oleh mulut-mulut setan yang haus kekuasaan. Orang pintar juga tahu siapa setan yang dimaksud. Dialah dalang kerusuhan Mei 1998. Seseorang yang sangat berambisi ingin menjadi Presiden RI. Namun tak pernah tercapai hingga kini. Dia sebenarnya hanya boneka yang dikendalikan intelijen AS, CIA.

Keempat, Kerusuhan SARA di Maluku dan Palu. Peristiwa ini terjadi pada tahun 2004. Sesaat setelah Susilo Bambang Yudoyono dan M Jusuf Kalla menjabat sebagai presiden dan wapres RI. Konflik SARA ini juga buatan CIA. Guna menekan rezim SBY agar tunduk terhadap kemauan pemerintah Paman Sam dan Zionisme internasional. Faktanya konflik pun berhenti setelah rezim SBY melakukan MOU dengan perusahaan multinasional asal AS yang menanamkan modalnya dan mengeruk kekayaan alam Indonesia. Leluasalah mereka kembali merampas emas, minyak bumi, dan SDA lainnya. Kita semua tahu akan hal ini.

Kelima, konflik Tolikara-Papua. Kerusuhan ini juga rekayasa CIA. Demi menekan rezim Jokowi agar mau tunduk kepada kepentingan Barat dan AS. Untuk menegur pemerintahan Jokowi yang mulai bermesraan dengan RRC, Rusia dan Iran. Ini peringatan pertama. Peringatan kedua, segera menyusul.

Apa skenarionya? Berbagai “Parade Tauhid Indonesia” banyak disusupi agen Muslim ekkstrem takfiri. Sudah jelas arahnya. Yakni ingin menciptakan kebencian antar etnis dan agama. Memfitnah kaum Nasrani yang cinta damai. Memfitnah Muslim Syiah dan NU yang berhaluan madzab cinta dan rahmatan lil-’alamin. Tampaknya skenario ini juga akan gagal. Presiden Jokowi cukup cerdas. Dan tetap tak mau bergeming. Tak mau tunduk kepada arogansi Paman Sam. Benar-benar si kerempeng (Presiden Joko Widodo) yang bermental jenderal.

Inikah yang namanya merdeka? Inikah yang namanya negara yang bermartabat dan berdaulat? Salah siapakah ini?

Ini jelaslah salah para elite penguasa sebelumnya, dan para calon penguasa yang haus kekuasaan dan ingin menumpuk kekayaan pribadinya. Kedzaliman dan penjajahan terjadi di negeri Muslim karena “ulamanya” dan “Habibnya” takut mati dan cinta dunia. Namun ini juga kesalahan seluruh rakyat Indonesia. Mengapa demikian…?

Karena kita hanya pandai berkoar-koar. Hanya lantang meneriakkan yel-yel merdeka, reformasi, bermartabat, berdaulat atau berdikari. Namun tak siap menanggung konsekuensinya. Kita tak siap diembargo. Kita tak siap dikucilkan oleh dunia internasional. Tak siap menjalani hidup susah sepanjang tahun. Tak siap hidup miskin dan sederhana selama puluhan tahun. Kita benar-benar lemah dan cengeng! Tidak setegar rakyat Republik Islam Iran dan Korea Utara!

Mana mungkin bisa tahan lapar, jika badannya tambah tambun. Para pimpinan politisi oposan sebagian berusia muda, namun perutnya tambah buncit saja. Si kerempeng (Jokowi, Pen) yang menerapkan pola hidup sederhana malah dicaci-maki. Pelakunya justru para habaib, ustadz, dan kiyai, yang cinta dunia saat ini. Apakah aksi ini jujur bertolak dari hati nurani kalian…? Lantas, di mana kejujuran dan keberanian kalian terhadap kedzaliman rezim Orba selama 32 tahun?

Apakah dosa dan kedzaliman “si Kerempeng” yang baru berkuasa 2 tahun ini lebih besar dari Jendral Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun…? Mana tulisan kritis kalian terhadap rezim Soeharto…? Mana aksi people-power kalian pada tahun 1998…? Di mana jutaan massa kalian…? Mengapa tak berdemo di Senayan bergabung dengan mahasiswa pada tahun 1998..? Di mana kalian saat itu…? Kalian tak berani menunjukkan batang hidungnya. Tak ada orasi dari kalian untuk menentang thagut di gedung DPR/MPR. Inikah namanya laskar mujahidin…? Hanya teman-teman mahasiswa yang turun berdemonstrasi ke jalan hingga mengepung gedung DPR/MPR. Kalian tak ada disana saat itu. Justru kalian mencemooh kalangan demonstran saat itu. Padahal kini kalian yang menikmati hasil reformasi. Kami hanya menjadi tulang berserakan yang tak berarti.

Antar komponen bangsa saling sikut. Saling tendang. Saling melaknat dan mengumpat. Saling memfitnah. Dan akhirnya menghalalkan pembantaian dan pembunuhan.

Mayoritas justru menindas minoritas. Memfitnah PKI. Memfitnah non-pribumi. memfitnah etnis China. Memfitnah Syiah sesat dan halal darahnya…! Memfitnah kaum Nasrani. Memfitnah kaum minoritas lainnya. Demi tegaknya Tauhid…?  Demi ukhuwah Islamiyah…? Demi silaturahim dan halal-bihalal….? Demi memperingati kemerdekaan Republik…? Namun penuh fitnah dan provokasi di dalamnya. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun…

Kalian justru melupakan musuh sejatimu. Yakni setan besar Amerika Serikat dan Zionis Yahudi. Batang hidung kalian tak tampak pada hari al-Quds. Kemana massa kalian yang anti Zionis, pada hari pembebasan Palestina? Kalian tak sudi bergandengan tangan dan merapatkan barisan demi menghancurkan musuh. Ketidakpedulian kalian terhadap ketertindasan rakyat Palestina adalah kemenangan propaganda Israel dan setan besar Amerika.

 

Menuju Skenario Ketiga

Kita sebagai umat Islam Nusantara dan komponen utama bangsa Indonesia harus cerdas membaca strategi musuh. Tetap menjaga persatuan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta asa Bhineka Tunggal Ika. Kita wajib menghilangkan sentimen perbedaan suku, ras, dan agama. Meredam perbedaan madzab. Pihak minoritas kaum Takfiri jelas tak sudi akan hal ini. Tapi, ingatlah..! Mayoritas umat dan bangsa ini cinta damai dan persatuan. Bangsa kita memanglah multi kultur. Namun bukan berarti mudah untuk dipecah-belah. Sangat berbeda dengan kondisi bangsa Timur Tengah yang mono kultur. Namun mereka mudah terprovokasi oleh isu perbedaan madzab. Seruan fitnah dan perpecahan yang dihembuskan oleh kaum Takfiri saat ini di Indonesia tak akan berhasil. [1]

Intelijen Amerika tentunya segera merancang skenario ketiga. Yakni menciptakan krisis moneter dan krisis ekonomi. Dimulai dari menekan rupiah sehingga mata uang dollar Amerika terus naik meroket. Kemudian mereka menciptakan demonstrasi mahasiswa, dan menciptakan kerusuhan sosial. Jika skenario ini juga gagal, maka CIA menerapkan senjata pamungkasnya. Yakni memprovokasi segelintir elit perwira TNI yang haus kekuasaan agar mau melakukan kudeta militer.

CIA ingin mengulang kesuksesannya di Mesir melalui strategi kudeta militer. Yakni menyetir Jenderal Abdel Fattah as- Sisi untuk melakukan kudeta terhadap Presiden Mohammed Morsi yang berhaluan Islam fundamentalis. Rupanya CIA belum menemukan bahan bakar bonekanya di dalam tubuh TNI. Kalaupun ada, namun wayang tersebut sudah lama pensiun dari TNI.

Inilah medan tempur dan jalan peperangannya. Kita benar-benar bertaruh dan berharap banyak dengan kecerdasan dan ketangguhan rezim Jokowi untuk mematahkan skenario busuk tersebut. Ada secercah harapan. Rupiah masih kokoh bertahan dari gempuran kenaikan dollar. Mutasi, promosi dan penguatan doktrin kebangsaan di jajaran perwira tinggi TNI yang sangat loyal terhadap negara juga wajib ditingkatkan. Bila perlu mengarah kepada terbentuknya jiwa perwira TNI yang ultra nasionalis…! Rezim Jokowi benar-benar bekerja keras menahan serangan dari 2 arah yang mematikan ini.

Doa kami, rakyat yang cinta damai dan anti kekerasan, semoga Presiden Jokowi dan jajaran pemerintahannya berhasil menghantarkan negara Indonesia yang bermartabat, berdikari, dan berdaulat penuh. Hingga menjadi macan Asia. Bisa mensejajarkan diri dengan Iran dan RRC.

Dirgahayu Republik Indonesia ke 70. Jayalah Indonesia tercinta.”[2]

Di atas itulah kajian kritis dari Arya Penangsang yang penulis setujui kebenarannya, walau sangat kontroversial dan mungkin cukup banyak orang yang tak tahu. Namun masalah-masalah di atas bukan tanpa dasar pemikirian (mindset/paradigma) yang mengendalikannya. Oleh karena itu kita selayaknya menelisik dan menyelidiki secara lebih mendalam, agar kita kita tahu persis akar permasalahannya, sehingga akan lebih mudah mencari solusi atas masalahnya secara menyeluruh/komprehensif, sangkil dan mangkus (efisien dan efektif).

Potensi konflik sosial berbahan bakar SARA masih menyala titik apinya, dan asapnya masih mengepul belum terpadamkan. Simak amatan saya dan sahabat saya Karyawan Faturahman, mantan wakil Bupati Bogor, berikut ini:

“Aksi Damai” (Demo ) 4-11, 2-12, Tahun  2016 Untuk Kepentingan Siapa?

Bermula dari statement politik Presiden Joko Widodo pada Peringatan Konperensi Asia Afrika di Bandung (2015) yang menyatakan Palestina harus “Merdeka”, dan berbagai kebijakan Presiden Jokowi soal Freeport, dll. telah membuat Amerika dan Israel berang. Jokowi dianggap telah berani melawan dan membangkang terhadap kepentingan Amerika sehingga dianggap sebagai musuh besar Amerika yang harus segera dilengserkan. Maka dirancanglah berbagai skenario operasi intelejen dengan target maksimal Jokowi jatuh pada tahun ketiga pemerintahannya (2017), atau minimal tidak akan terpilih lagi pada pilpres di masa keduanya.

Amerika yang bersekutu dengan NATO dan negara-negara persemakmuran (bekas negara jajahan Inggris) seperti Australia, Malaysia, Singapura yang bertetangga langsung dgn Indonesia, telah merancang gerakan militer untuk menekan untuk menekan Jokowi. Agen-agen asing, bertebaran melakukan rekrutmen kepada golongan barisan sakit hati dari kalangan bumi putra untuk melakukan perlawanan dari berbagai sektor: buruh tani, nelayan, santri, rakyat daerah sebagai bais wong cilik yang dijadikan alat demo menentang kebijakan Jokowi. Sistem perbankan, hukum, perdagangan, pemerintahan diacak-acak melalui antek mereka yg terdiri dari oknum-oknum bangsa kita sendiri. Boikot, penghadangan, penggagalan, demo, isue-isue, cemoohan, ledekan, cibiran dan fitnah dilakukan secara sistemik, bahkan oleh lembaga DPR RI.[3]

Kini isue SARA telah diledakkan yg berdampak besar kepada banyak “ulama dan agamawan tertentu” terprovokasi untuk menyatakan “Jihad”, padahal faktanya dari data yang kita dapatkan bahwa pada tanggal 4 November 2016 lalu, armada kapal induk Amerika berikut 26.000 marinirnya telah terkonsentrasi di perairan lepas Australia (Samudra Hindia: Pulau Christmas) dengan moncong senjata berat dan rudal diarahkan ke istana negara yang hanya berjarak tempuh rudal 1 jam 9=- 5000 km ke Jakarta. Maka secara taktis hari itu Presiden memang harus tidak berada di Istana dgn tetap menjaga oipini tetap tenang-aman-terkendali-kondusif dan biasa saja tidak ada yang istimewa, tidak membuat kepanikan masyarakat.

Langkah brilian Jokowi berikutnya adalah mendatangi markas-markas komando Kopassus, Marinir, Angkatan Udara, Brimob, Kostrad, merupakan untuk kekuatan dan jawaban bagi ancaman Amerika, bahwasanya kita sangat siap menghadapi mereka dengan kekuatan militer yang utuh, kompak, solid dan kuat dgn semangat bela negara yg tinggi. Jadi bukan untuk menjawab aksi damai tersebut.

Dengan indikasi kuat inilah Kapolri telah menyatakan adanya rencana MAKAR-Subversif (gerakan pengkhianatan) dari dalam negeri terhadap pemerintahan yang sah. Maka Panglima TNI menyatakan kita siap berjihad membela kedaulatan bangsa dan negara. Jadi sangatlah kecil dan dangkal jika ada tuduhan bahwa ketika Jokowi tak ada di Istana Negara pada Demo 4-11-2016, Jokowi melarikan diri untuk sekedar menghindar dari aksi damai 4-11 tersebut. Akan sangat disayangkan dan patut disesalkan ketika kedangkalan hati dan pikiran sebagian kecil umat terprovokasi untuk iku melakukan perlawanan bersama Amerika dan Israel terhadap NKRI tercinta.

Mari kita kembali renungkan siapa sebenarnya jati diri bangsa kita? Siapa lawan atau kawan kita yang sebenarnya? Patriot atau pengkhiat NKRI dan Pancasila-Bhineka Tunggal Ika? MERDEKA !!! (Info dari Ki Sunda dan Ki Ageng Selo)”[4]

Pola pikir dan sikap tindak para ekstrimis islamist yang anti Pancasila dan anti NKRI pro “Khilafah” atau “Negara Islam Indonesia”, menurut terawangan saya adalah disebabkan oleh kesalahpahaman mereka dalam konsep teologis dan kosmologisnya.

Paradigma dan konsep Tauhid atau ketuhanan ala Wahabi dan saudara-saudaranya menjadi sebab kerancuan berfikir mereka sekarang. Hal yg sama juga dulu 30 tahun yang lalu pernah saya alami ketika saya baru saja mengalami puber akidah yang terlambat dan salah asuhan. Ideologi atau manhaj fikriyah ala Hizbut Tahrir atau Wahabiyin Persis, Al Irsyad, NII, DI-TII, ikhwanul muslimin dan berbagai OTB Islamist Wahabisme garis keras lainnya, mulai mewabah di kampus-kampus pada tahun 1980-an, sebagai kelanjutan perjuangan eks NII-DI TII dan para pejuang Masyumi tahun 1950-an yg pernah memperjuangkan Pancasila ala Piagam Jakarta, yg sila pertamanya adalah “Ketuhanan YME dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya.” Sekarang yang terbaru adalah Kasus ISIS, Terorisme atas nama Islam, HTI dan Gerombolan pemberontak makarv atas nama “Bela Islam” anti PKI anti Cianisasi oleh kaum Islamist (“ngislam”).

Kaum Islamist tersebut menganggap bahwa Pancasila yang kemudian sekarang berlaku secara sah de jure dan de facto, adalah belum atau tidak Islami. Sehingga perlu diganti dgn Syariat Islam, khalihah, NII-DI. Cara pandang seperti ini antara lain karena mereka memahami Islam secara banal harfiah atau letterlijk formalis fiqhiyah syar’iyah saja.

Mayoritas kaum Islamist tersebut belum memahami Islam dan pesan-pesan utama Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW secara kaffah (komprehensif-holistik) dari semua dimensinya, baik Aqidah, Syariah, Tarikat, Hakikat dan Makrifatnya. Karena mayoritas kaum islamist tsb, tak menyukai kajian tasawuf dan irfan (Islamic Mysticism). Maka sudut pandangnya begitu formalis banal/dangkal. Mereka masih secara dikotomis diskriminatif diametral membedakan secara tegas antara agama langit yang berdasarkan wahyu scriptural, dengan agama bumi yang dibangun melalui akal budi atau budaya peradaban manusia. Seolah antara bersal dari Tuhan (Yang Ilahi) dan wi itu selalu dalam anggapan dikotomis diametral. Mereka tak menyadari bahwa ayat-ayat Tuhan  YME itu tak hanya hadir di dalam  Suci Wahyu Ilahi yang diturunkan dari Langit. Tetapi ayat-ayat Tuhan yang tersebar di alam semesta dan di dalam diri-diri manusia (ayat kauniyah dan insaniyah/aqal), ditolaknya. Padahal ayat-ayat tanziliyah wahyu dalam kitab Suci pun, secara tersirat maupun tersurat, telah menjelaskan adanya ayat-ayat yang lain dari Tuhan , yang tersebar di ufuk langit dan bumi (alam semesta) serta di dalam diri-diri Manusia, makhluk-NYA yang paling sempurna, yang mewujud dalam bentuk ilmu pengetahuan dan hikmah kebijaksanaan serta budaya dan peradaban umat manusia. Ayat-ayat Kauniyah ini, tak pernah dianggap suci oleh mereka, dan dianggap tak penting, bahkan dianggap bertentangan dengan Kehendak Tuhan Allah SWT.

Cara berfikir dikhotomis dualistis tersebut menurut guru guru saya, sebenarnya adalah sesat pikir yang menjurus kepada kemusyrikan yang samar. Hal ini mungkin tak disadari oleh para penganutnya. Namun tentunya ini secara sadar dan sengaja dibuat oleh para konseptornya, yaitu para orientalis imperialis Inggris seperti Hemper dan Lawrence of Arabia yang membina Wabisme Saudi Arabia, dan Snouck Hurgronye yang menyusup ke Mekkah dan kalangan pesantren di Nusantara serta merumuskan ideologi isl baru yg menguntungkan kolonialis Belanda.

Namun tak hanya itu.

Cara berfikir ideologis literal harfiah ekstrim tersebut, memang punya akar sejarah yang panjang. Paling tidak sejak peristiwa Perang Siffin antara Imam / Khalifah Rasulullah Syaidina Ali Bin Abi Thalib dengan pasukan Muawiyah bin Abi Sofyan di abad 7 M. Berlanjut kepada Imam Hasan dan Imam Hussein bin Abi Thalib, cucunda Nabi Muhammad SAW,  yang terbantai di Padang Karbala Irak oleh Yazid bin Muawiyah. Juga Al Halaj dan Ibn Arabi yg terzalimi oleh sebagian ulama Fiqh pada zamannya.

Episode selanjutnya dari konflik antara kaum Mukminin-Muslimin dengan kaum neokhawarij Islamisist terjadi juga pada konflik antara Prabu Brawijaya V dan Raden Patah Sultan Demak Bintoro dengan ajaran budhi pekerti para Ulama Sabdo Palon Noyo Genggong. Juga hal sama terjadi konflik dan perang antara Prabu Siliwangi dan keturunanya para Raja Pakuan Pajajaran dengan Sultan Banten Maulana Yusuf di abad 15-16 M.  Tragedi kemanusiaan religous juga terjadi pada kasus konflik berdarah antara Syekh Siti Jenar dengan para ulama pengusung Kesultanan Islam Demak Bintoro. Syekh Siti Jenar diancam dibunuh.

Sampai kini kaum Muslim dan non Muslim para pecinta Panca Sila Bhineka Tunggal Ika di Indonesia juga selalu diserang kaum islamisit ekstrim tersebut, sebagaimana yang terjadi belum lama ini pada rangkaian “Aksi Bela Islam” yang diusung kaum Wahabiyin di FPI, FUI, HTI, JT, GNPF MUI, PKS, serta gerombolan politisi busuk dan konglomerat sisa para pendukung rezim orde baru Suharto dukungan USA. Isue dan sentimen keagamaan islamist begitu dieksloitasi untuk menutupi dan memuluskan ambisi politik ekonomi profan mereka.

Yang paling Mutakhir mungkin akan terjadi besok 20 Mei 2017, akan ada Demo besar-besar para mahasiswa (BEM) se Indonesia untuk menggulingkan Presiden RI yang Sah Joko Widodo, Jelas-jelas ini tindakan makar subversif. Naudzu billah min Dzalik. Istaghislana ya Allah, Fanshurna ala kaumin munafikin, kafirin wa musyrikin. Amin ya Rabb al alamin.

Strategi politik penjajahan neokolonialis dan neoimperialis masih menggunakan strategi “devide et impera”, pecah belah (sehingga lemah), lalu jajah (kuasai) secara paksa. Konflik dan ancaman disintegrasi (perpecahan) bangsa, sebagaimana yang sebagian kecil saja tadi sudah diungkap, itu masih sangat potensial dengan menggoreng isu SARA  (kesukuan, agama dan rasialisme). Fakta sosio-antrologis kebhinekaan dengan mudah menjadi musuh berbagai upara pemaksaan kehendak penyeragaman keyakinan dan hukum (‘fiqh-Syariat) parsial sekelompok kecil umat beragama, yang merasa dan mengklaim diri (sepihak) sebagai kaum mayoritas pemilik negeri ini.

Nah, untuk memahami dan mencari solusi menyeluruh atas problem kebangsaaan kenegaraan tersebut, maka tulisan saya dan berbagai tulisan nara sumber lainnya yang saya kutip dalam buku ini, berusaha mengajukan analistis deskriptif  yang mendalam tentang penyebab krisis dunia modern – dalam bingkai sejarah modernisme dan post modernisme: materialisme-sekularisme.

Maka perlu dipahami apa itu Gerakan Wahabi dan Paham Wahabisme, sebagai naka kandung dari Ideologi dan falsafah berfikir Materialisme. Buku ini akan membahas hal itu.

 

Anda tidak Bisa Memahami ISIS

Jika Anda Tidak Tahu Sejarah Wahhabisme di Arab Saudi

Alastair Crooke Become a fan

Fmr. MI-6 agent; Author, ‘Resistance: The Essence of Islamic Revolution’

http://www.huffingtonpost.com/alastair-crooke/isis-wahhabism-saudi-arabia_b_5717157.html

Alastair Crooke dari Beirut Libanon, menulis di Huffington Post bahwa kehadiran dramatis Da’ish (ISIS) di pentas Irak telah mengejutkan banyak orang di Barat. Banyak orang telah bingung – dan merasa ngeri – oleh kekerasan dan magnet yang nyata terhadap para pemuda “Sunni-Wahabi”. Tapi lebih dari itu, mereka menemukan ambivalensi Arab Saudi dalam menghadapi perwujudan ISIS, antara yang meresahkan dan yang bisa dijelaskan. Orang layak bertanya: “Bukankah Saudi memahami bahwa ISIS juga dapat mengancam mereka?”

Tampaknya -bahkan sekarang- bahwa elit penguasa Arab Saudi telah terpecah belah. Sebagian merasa salut bahwa ISIS memerangi “api” Syiah Iran dengan “api” Sunni;  bahwa negara Sunni baru mulai terbentuk di jantung apa yang mereka anggap sebagai warisan sejarah Sunni; dan mereka tertarik oleh ideologi ketat Salafi Da’ish itu.

Sebagian orang Arab Saudi lainnya yang lebih merasa ketakutan, mengingat sejarah pemberontakan terhadap Abd al-Aziz oleh kaum Ikhwan Wahhabi (catatan: Ikhwan ini tidak ada hubungannya dengan Ikhwannya Ikhwanul Muslimin -Harap dicatat, semua referensi lebih lanjut di akhir adalah dengan Ikhwan Wahhabi, dan bukan Ikhwanul Muslimin Mesir), tapi dengan Wahhabisme yang hampir meledak dan al-Saud di akhir 1920-an. Banyak juga warga Saudi yang sangat terganggu oleh doktrin-doktrin radikal Da’ish (ISIS) – dan mulai mempertanyakan beberapa aspek arah wacana dan Arab Saudi

 

KEMENDUAAN SAUDI ARABIA

Perselisihan intern Arab Saudi dan ketegangan mengenai  ISIS hanya dapat dipahami dengan memahami dualitas yang melekat (dan yang terus berlangsung) yang terletak pada inti dari riasan doktrinal Kerajaan Saudi dan akar historisnya.

Salah satu mata rantai dominan identitas Saudi berkaitan langsung dengan Muhammad ibn’Abd al-Wahhab (pendiri Wahhabisme), dan penggunaan puritanisme ekslusionisnya yang radikal, yang diletakkan oleh Ibn Saud, (yang terakhir kemudian tidak lebih dari seorang pemimpin kecil –di antara banyak- perdebatan terus-menerus dan suku Badui perampok di latar dan gurun yang sangat miskin dari Najd)

Alur kedua untuk dualitas yang membingungkan ini, berkaitan tepatnya dengan pergeseran Raja Abd-al Aziz berikutnya terhadap tata kenegaraan pada tahun 1920: penertiban-nya atas kekerasan Ikhwani (dalam rangka untuk memiliki kedudukan diplomatik sebagai negara-bangsa dengan Inggris dan Amerika); pelembagaan tentang dorongan Wahhabi asli – dan selanjutnya merebut kesempatan aliran keran petrodollar yang bergelombang pada 1970-an, untuk menyalurkan kekerasan Ikhwani saat jauh dari rumahnya menuju ekspor ideologi – dengan menyebarkan revolusi budaya, bukan revolusi kekerasan di seluruh dunia Muslim .

Tapi “revolusi budaya” ini bukanlah reformisme yang jinak. Itu adalah revolusi berdasarkan kebencian Jacobin Abd al-Wahhab seperti tentang perbusukan dan bid’ah yang ia anggap sebagai seruannya untuk membersihkan Islam dari semua ajaran sesat dan penyembahan berhala.

 

MUSLIM PENIPU

 

Penulis dan jurnalis Amerika, Steven Coll, telah menulis bagaimana Abd al-Wahhab murid yang keras dan suka mencela dari  sarjana abad ke-14:  Ibnu Taimiyah,  membenci ” Seni yang sopan, merokok tembakau, penghisapan ganja, kemegahan dentuman drum bangsawan Mesir dan Ottoman (Turki Ustamiyah) yang melakukan perjalanan di Saudi untuk berdoa di Mekah. ”

Dalam pandangan Abd al-Wahhab, ini tidaklah Islami, mereka bukan Muslim; mereka adalah penipu yang menyamar sebagai Muslim. Juga, memang, dia menemukan perilaku orang Arab Badui lokal jauh lebih baik. Mereka memperparah Abd al-Wahhab dengan penghormatan mereka terhadap orang-orang suci, dengan mendirikan batu nisan mereka, dan “takhayul” mereka (misalnya memuja kuburan atau tempat-tempat yang dianggap sangat dijiwai dengan ruh ilahi). Semua perilaku ini menurut Abdul Wahab adalah Bid’ah yang diharamkan oleh Allah.

Seperti tokoh sebelum dia yaitu Ibn Taimiyah, Abd al-Wahhab percaya bahwa masa Nabi Muhammad tinggal di Madinah adalah masa ideal masyarakat Islam (“masa yang terbaik”), yang semua Muslim harus bercita-cita untuk menirunya  (ini, pada dasarnya, adalah Salafisme).

Taimiyah telah menyatakan perang terhadap Syiah, tasawuf dan filsafat Yunani.  Pembicaraannya juga menentang ziarah makam nabi dan perayaan ulang tahunnya (Maulid Nabi), menyatakan bahwa semua perilaku ini hanya seperti mewakili tiruan dari ibadah penyembahan Kristen Yesus sebagai Tuhan (yaitu penyembahan berhala). Abd al-Wahhab menyamakan semua ajaran sebelumnya ini, yang menyatakan bahwa “keraguan” kepada interpretasi tertentu dari Islam (wahabi) sebagai perhormatan terhadap kaum beriman dapat  “menghalangi kekebalan milik seorang pria dan hidupnya. ”

Salah satu prinsip utama ajaran Abd al-Wahhab yang telah menjadi ide utama adalah takfiri (pengkafiran). Di bawah doktrin Takfiri, Abd al-Wahhab dan para pengikutnya bisa menganggap sesama muslim kafir kepada mereka yang terlibat dalam kegiatan yang dikatakan mengganggu pada kedaulatan Otoritas mutlak (yaitu, Raja). Abd al-Wahhab mencela semua Muslim yang menghormati orang mati, orang-orang suci, atau malaikat. Dia menyatakan bahwa sentimen tersebut dapat mengurangi pengabdian lengkap seseorang terhadap Allah, dan hanya kepada Allah. sehingga Islam Wahhabi melarang setiap doa yang ditujukan kepada orang-orang suci dan orang-orang tercinta yang telah meninggal, ziarah ke makam dan masjid khusus, festival keagamaan merayakan orang-orang suci, yang menghormati ulang tahun Nabi Muslim Muhammad, dan bahkan melarang penggunaan batu nisan saat menguburkan orang mati.

 

“Mereka yang tidak sesuai dengan pandangan ini harus dibunuh, istri dan anak-anak perempuan mereka dilecehkan, dan harta benda mereka disita”, tulisnya.”

 

Abd al-Wahhab menuntut kesesuaian di mana sebuah kesesuaian yang harus ditunjukkan dengan cara fisik dan nyata. Dia berpendapat bahwa semua Muslim secara individu harus bersumpah setia kepada pemimpin tunggal Muslim (khalifah, jika ada satu). Mereka yang tidak sesuai dengan pandangan ini harus dibunuh, istri dan anak-anak perempuan mereka boleh dilanggar kehormatannya, dan harta benda mereka boleh disita, tulisnya. Daftar  hokum mati buat orang murtad termasuk untuk kaum sufi dan  Syiah, dan kelompok Muslim lainnya, yang dianggap Abd al-Wahhab bukanlah Muslim sama sekali.

Tidak ada satru hal pun di sini yang dapat membedakan Wahhabisme dengan ISIS. Keretakan hanya akan muncul kemudian: dari pelembagaan berikutnya doktrin Muhammad ibn’Abd al-Wahhab tentang “Satu Penguasa, Satu otoritas, dan Satu Masjid” – tiga pilar yang dibawa masing-masing untuk merujuk kepada raja Saudi, otoritas mutlak resmi Wahhabisme, dan kontrol dari “kata-kata” (yaitu masjid).

Ini adalah celah ini – penolakan ISIS terhadap tiga pilar di mana seluruh otoritas Sunni saat ini terletak – membuat ISIS, yang dalam segala hal lainnya sama sesuai dengan Wahhabisme, tapi juga dapat menjadi ancaman yang mendalam ke Arab Saudi.

 

Sejarah Singkat Wahabi antara Tahun 1741- 1818

 

Advokasi atau pembelaan Abd al-Wahhab terhadap pandangan ultra radikal pastilah menyebabkan pengusirannya dari kotanya sendiri – dan pada 1741, setelah beberapa lama pengembaraan, ia menemukan perlindungan di bawah perlindungan Ibn Saud dan sukunya. Apa yang Ibn Saud dirasakan dalam pengajaran agama Abd al-Wahhab adalah sarana untuk membatalkan tradisi dan konvensi Arab. Itu adalah jalan menuju merebut kekuasaan.

“Strategi mereka – seperti yang ISIS miliki hari ini – adalah untuk membawa orang-orang yang mereka taklukkan menjadi tunduk. Mereka bertujuan untuk menanamkan rasa takut.

Klan Ibn Saud, merebut doktrin Abd al-Wahhab, sekarang bisa melakukan apa saja yang selalu mereka lakukan, yang merampok desa-desa tetangga dan merampok  harta mereka. Hanya sekarang mereka melakukannya tidak dalam lingkup tradisi Arab, melainkan di bawah bendera jihad. Ibn Saud dan Abd al-Wahhab juga telah memperkenalkan kembali gagasan kemartiran (mati syahid) atas nama jihad, karena diberikan orang-orang martir masuk langsung ke surga.

Pada awalnya, mereka sedikit menaklukkan masyarakat setempat dan mereka dikuasai. (Penduduk yang ditaklukkan diberi pilihan terbatas, pindah agama ke Wahhabisme atau mati). Pada 1790, Aliansi Wahahbi menguasai sebagian besar Semenanjung Arab dan berulang kali menyerang Madinah, Suriah dan Irak.

Strategi mereka – seperti  yang ISIS lakukan saat ini – adalah dengan membawa orang-orang yang mereka taklukkan menjadi tunduk. Mereka bertujuan untuk menanamkan rasa takut. Pada 1801, Sekutu menyerang Kota Suci Karbala di Irak. Mereka membantai ribuan umat Islam Syiah, termasuk wanita dan anak-anak. Banyak mesjid Syiah hancur, termasuk  makam Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad yang dibunuh Yazid bin Muawiyyah.

Seorang pejabat Inggris, Letnan Francis Warden, yang mengamati situasi pada saat itu, menulis: “Mereka menjarah seluruh tempat  itu [Karbala], dan menjarah Makam Hussein … membunuh penduduk Karbala dalam satu hari, dengan kekejaman yang aneh, membantai lima ribu penduduk … ”

Osman Ibnu Bishr Najdi, sejarawan dari negara Saudi pertama, menulis bahwa Ibn Saud melakukan pembantaian di Karbala pada tahun 1801. Dia dengan bangga mencatat pembantaian dengan mengatakan, “kami mengambil harta dan penduduk Karbala dan menyembelihnya dan mengambil orang-orangnya (sebagai budak), maka puji Allah, Tuhan semesta alam, dan kami tidak meminta maaf untuk itu dan berkata: “Dan terhadap orang-orang kafir: perlakuan yang sama.”

 

Pada tahun 1803, Abdul Aziz kemudian masuk ke Kota Suci Mekkah, yang menyerah di bawah pengaruh teror dan panik (nasib yang sama akan menimpa Medina, juga). Pengikut Abd al-Wahhab telah membongkar monumen bersejarah dan semua makam dan masjid di tengah-tengah mereka. Pada akhirnya, mereka telah menghancurkan arsitektur Islam berabad-abad di dekat Masjidil Haram.

Tapi pada bulan November 1803, seorang pembunuh Syiah membunuh  Raja Abdul Aziz (untuk membalas dendam atas pembantaian di Karbala). Putranya, Saud bin Abdul Aziz, menggantikan dia dan terus melakukan penaklukan Arab. Penguasa Ottoman (Turki Utsmaniyah)  bagaimanapun, tidak bisa lagi hanya duduk diam dan menonton karena kerajaan mereka dilahap sepotong demi sepotong.  Pada tahun 1812, tentara Ottoman, yang terdiri dari Mesir, mendorong Aliansi keluar dari Madinah, Jeddah dan Mekah. Pada tahun 1814, Saud bin Abdul Aziz meninggal karena demam. Namun anak malang itu Abdullah bin Saud, diambil oleh Ottoman ke Istanbul, di mana ia  dieksekusi (pengunjung ke Istanbul melaporkan melihat dia yang telah dipermalukan di jalan-jalan Istanbul selama tiga hari, kemudian digantung dan dipenggal, kepalanya terpenggalnya ditembakkan dari meriam kanon, dan hatinya dipotong dan tubuhnya ditusuk).

Pada tahun 1815, pasukan Wahhabi dihancurkan oleh orang Mesir (yang bertindak atas nama Ottoman) dalam pertempuran yang menentukan. Pada tahun 1818, Ottoman merebut dan menghancurkan ibukota Wahhabi di Dariyah. Negara Saudi pertama tidak ada lagi. Wahhabi yang tersisa mundur ke padang gurun untuk berkumpul kembali, dan di sana mereka tetap, diam untuk sebagian besar abad ke-19.

 

Kembali ke  Sejarah ISIS

Tidak sulit untuk memahami bagaimana berdirinya Negara Islam  ISIS di Irak kontemporer yang mungkin beresonansi di antara orang-orang yang mengingat sejarah ini. Memang, etos Wahhabisme abad ke-18 tidak hanya layu di Najd, tapi meraung kembali ke kehidupan ketika Kekaisaran Ottoman runtuh di antara kekacauan Perang Dunia I.

Al Saud – dalam kebangkitan abad ke-20 ini – dipimpin singkat oleh Raja Abd-al Aziz, dan politik licik yang, menyatukan suku-suku Badui yang gelisah, meluncurkan Saudi “Ikhwan” dalam semangat Abd-al Wahhab dan semangat pertempuran Ibn Saud sebelumnya.

Ikhwan adalah reinkarnasi dari gerakan sengit bersenjata pelopor semi-independen awal yang berkomitmen Wahhabi “moralis” yang hampir telah berhasil merebut Arabia di awal 1800-an. Dalam cara yang sama seperti sebelumnya, Ikhwan kembali berhasil menaklukan Mekkah, Madinah dan Jeddah antara 1914 dan 1926. Abd-al Aziz, bagaimanapun, mulai merasa kepentingannya yang lebih luas terancam oleh revolusioner “Jacobinisme” dipamerkan oleh Ikhwan. Ikhwan memberontak – mengarah ke perang saudara yang berlangsung sampai tahun 1930-an, ketika Raja telah menjatuhkan mereka: dia menembak mereka dengan senapan mesin.

Untuk raja ini, (Abd-al Aziz), verities sederhana dekade sebelumnya yang mengikis. Minyak yang ditemukan di semenanjung. Inggris dan Amerika mendekati Abd-al Aziz, tapi masih  cenderung mendukung Sharif Husain sebagai satu-satunya penguasa yang sah dari Saudi. Saudi diperlukan untuk mengembangkan sikap diplomatik yang lebih canggih.

Jadi Wahhabisme dipaksa berubah dari gerakan jihad revolusioner dan pemurnian teologis Takfiri, kepada gerakan dakwah sosial, politik, teologis, dan religius konservatif (seolah dakwah Islam) dan untuk membenarkan lembaga yang menjunjung tinggi kesetiaan kepada keluarga kerajaan Saudi dan kekuasaan mutlak Raja.

 

Kekayaan Minyak Menyebarkan Wahhabisme

Dengan munculnya bonanza minyak – sebagai sarjana Perancis, Giles Kepel menulis, tujuan Saudi adalah untuk “menjangkau dan menyebarkan Wahhabisme di seluruh dunia Muslim . Untuk “mewahhabikan ” Islam, sehingga mengurangi” banyak suara pendapat dalam agama “ke dalam” kredo tunggal “. Gerakan yang akan melampaui pembagian kebangsaan. Miliaran dolar terus menerus diinvestasikan dalam manifestasi dari soft power ini.

Campuran memabukkan miliaran dolar dan proyeksi soft power – dan ambisi Saudi untuk mengelola kelompok Sunni Islam dengan maksud untuk memajukan kepentingan Amerika. Karena bersamaan tertanamnya Wahhabisme bidang pendidikan, sosial dan budaya di seluruh negeri Islam – maka dapat dibawa menjadi ketergantungan kebijakan Arab Saudi kepada Barat,  ketergantungan yang telah bertahan sejak pertemuan Abd-al Aziz dengan Roosevelt di atas kapal perang AS (saat presiden AS dkembali ari Konferensi Yalta) hingga saat ini.

Barat memandang Kerajaan dan pandangan mereka  dengan mengambil kekayaan; dengan modernisasi yang jelas; dengan pengakuan sebagai pemimpin dari dunia Islam. Mereka memilih untuk menganggap bahwa Kerajaan tunduk kepada perintah kehidupan modern – dan bahwa pengelolaan Sunni Islam juga Kerajaan, akan mengikatnya untuk kehidupan modern.

“Di satu sisi, ISIS adalah sangat Wahhabi. Di sisi lain, ISIS sangat ultra radikal dengan cara yang berbeda. Hal ini dapat dilihat pada dasarnya sebagai gerakan korektif untuk Wahhabisme kontemporer.”

Namun pendekatan Saudi Ikhwan ke Islam tidak mati di tahun 1930-an. Ini mundur, tetapi tetap mempertahankan kekuasaannya atas bagian dari sistem – maka dualitas yang kita amati saat ini dalam sikap Saudi terhadap ISIS. Di satu sisi, ISIS adalah sangat Wahhabi. Di sisi lain, ultra radikal dengan cara yang berbeda. Hal ini dapat dilihat pada dasarnya sebagai gerakan korektif untuk Wahhabisme kontemporer.

ISIS adalah Gerakan “pasca-Madinah”: terlihat pada tindakan pertama dua khalifah, bukan kepada contoh Nabi Muhammad sendiri, sebagai sumber emulasi, dan tegas menyangkal klaim kewenangan Saudi  untuk memerintah.

Sebagai monarki Saudi berkembang di era minyak menjadi lembaga yang lebih meningkat, daya tarik pesan Ikhwan mendapatkan pembumian (meskipun ada kampanye modernisasi Raja Faisal). “Pendekatan Ikhwan” menikmati – dan masih menikmati – dukungan dari banyak orang terkemuka dan para wanita dan syekh. Dalam arti, Osama bin Laden justru merupakan wakil yang berkembenag di akhir dari pendekatan Ikhwani ini.

Hari ini, ISIS yang melemahkan legitimasi  Raja Saudi Arabia tidak dilihat menjadi bermasalah, melainkan kembali ke asal-usul sebenarnya dari proyek Saudi-Wahhab.

Dalam manajemen kolaboratif wilayah oleh Saudi dan Barat dalam mengejar banyak proyek Barat (melawan sosialisme, Ba’athisme, Nasserisme, Soviet dan pengaruh Iran), para politisi Barat telah menyoroti pilihannya membaca Arab Saudi (kekayaan, modernisasi dan pengaruh), tetapi mereka memilih untuk mengabaikan dorongan Wahhabi.

Akhir kata, gerakan Islam yang lebih radikal yang dirasakan oleh badan intelijen Barat sebagai lebih efektif dalam menjatuhkan Uni Soviet di Afghanistan – dan dalam memerangi pemimpin dan negara-negara Timur Tengah yang tak disukasi intelejen Barat.

Mengapa kita perlu kemudian heran adalah bahwa Pangeran Bandar Saudi  menjalankan mandat Barat untuk mengelola pemberontakan di Suriah terhadap Presiden Assad harus memunculkan  kekerasan jenis neo-Ikhwan,  gerakan pelopor penyebaran ketakutan: ISIS? Dan mengapa kita harus terkejut – mengetahui sedikit tentang Wahhabisme – yang “memoderasi” pemberontakan di Suriah akan menjadi aneh daripada mitos unicorn? Mengapa kita harus membayangkan bahwa Wahhabisme radikal akan membuat moderat? Atau mengapa kita bisa membayangkan bahwa doktrin “Satu pemimpin, Satu otoritas, Satu masjid: tunduk, atau dibunuh” akhirnya pernah bisa menyebabkan moderasi atau toleransi?

Atau, mungkin, kita tidak pernah membayangkan.

ISIS memang merupakan bom waktu yang dimasukkan ke dalam jantung Timur Tengah. Tapi kekuatan destruktif nya yang tidak seperti yang umum pahami. Hal ini bukan  dengan ” Beheaders bulan Maret “; tidak dengan pembunuhan; penyitaan kota dan desa; kekasarannya dari “keadilan” – meskipun mereka mengerikan – yaitu kebohongan yang benar-benar berdaya ledak. Namun Hal ini lebih kuat daripada tarik eksponensial pada pemuda Muslim, gudang yang besar senjata dan ratusan juta dolar

“Kita harus memahami bahwa Barat kini tidak bisa berbuat apa-apa kecuali duduk dan menonton.”

Potensi yang sebenarnya untuk kehancuran terletak di tempat lain – di dalam ledakan Arab Saudi sebagai peletak dasar Timur Tengah modern. Kita harus memahami bahwa Barat kini benar-benar hampir tidak bisa berbuat apa-apa kecuali duduk dan menonton.

Petunjuk yang benar-benar potensi meledak, seperti sarjana Saudi Fouad Ibrahim telah tunjukkan (tapi yang telah berlalu, hampir seluruhnya diabaikan, atau maknanya sudah diketahui), adalah disengaja dan diniatan ISIS digunakan dalam doktrinnya – dari bahasa Abd-al Wahhab, pendiri Wahhabisme abad ke-18, bersama-sama dengan Ibn Saud, dan proyek Saudi:

Abu Omar al-Baghdadi, “pangeran terpercaya” yang pertama di Negara Islam Irak (ISIS), yang pada tahun 2006 telah merumuskan, misalnya, prinsip-prinsip negara calon nya … Di antara tujuannya adalah menyebarkan monoteisme (tauhid) “yang merupakan tujuan [yang untuknya manusia diciptakan] dan [yang tujuan mereka harus dipanggil kepada] Islam …” Bahasa ini ulangan tepat formulasi Abd-al Wahhab. Dan, tidak mengherankan, tulisan-tulisan yang terakhir dan Wahhabi komentar tentang karya-karyanya tersebar luas di daerah-daerah di bawah kendali ISIS ‘dan dibuat menjadi subjek sesi belajar. Al-Baghdadi selanjutnya adalah tercatat menyetujuinya, “generasi muda [telah] dilatih berdasarkan doktrin yang terlupakan dari kesetiaan dan pengingkaran.”

Dan apa tradisi “dilupakan” ini “kesetiaan/lyalitas/dan pengingkaran (al-Wala wa al-Bara) ?” Ini adalah doktrin Abd al-Wahhab bahwa kepercayaan satu-satunya (baginya sebuah tuhan Allah antropomorfik) – yang sendirian layak disembah – dalam dirinya sendiri tidak cukup untuk membuat pria atau wanita Muslim?

Sesorang bisa menjadi tidak benar benar beriman, kecuali menambahkan, ia harus aktif menolak (dan menghancurkan) subjek ibadah lainnya. Daftar mata pelajaran potensial ini seperti subjek pemujaan idola, yang dikutuk al-Wahhab sebagai penyembahan berhala, begitu luas bahwa hampir semua umat Islam berisiko jatuh di bawah definisi tentang “orang-orang kafir.” Oleh karena itu mereka menghadapi pilihan: Entah mereka mengkonversi visinya kepada ajaran Islam al-Wahhab – atau dibunuh, dan istri-istri mereka, anak-anak mereka dan harta fisik diambil sebagai rampasan jihad. Bahkan mereka yang mengekspresikan keraguan tentang doktrin ini, al-Wahhab mengatakan, seharusnya dieksekusi.

“Melalui penerapan disengajanya bahasa Wahhabi ini, ISIS sengaja menyalakan sekering untuk meledakan daerah yang lebih besar – salah satu yang memiliki kemungkinan yang sangat nyata yang dinyalakan, dan jika harus berhasil, akan mengubah Timur Tengah secara tegas.”

 Intinya,  saya percaya Fuad Ibrahim membuat, tidak hanya untuk menekankan kembali reduksionisme ekstrim visi al-Wahhab, namun mengisyaratkan sesuatu yang sama sekali berbeda: Itu melalui adopsi disengaja atas bahasa Wahhabi ini, ISIS sengaja menyalakan sekering untuk meledakan daerah yang lebih besar – salah satu yang memiliki kemungkinan yang sangat nyata yang dinyalakan, dan jika harus berhasil, akan mengubah Timur Tengah tegas.

Karena ini  justru adalah formulasi dakwah  idealis, puritan, oleh al-Wahhab yang merupakan “bapak” bagi seluruh “proyek” Saudi (satu yang ditekan keras oleh Kekhalifahan Ottoman pada tahun 1818, tapi secara spektakuler dibangkitkan pada tahun 1920, menjadi kerajaan Saudi yang kita kenal sekarang). Tapi karena kebangkitan di tahun 1920, proyek Saudi selalu dilakukan di dalamnya, “gen” penghancuran diri sendiri.

Ekor Saudi Telah Mengibaskan Inggris Dan As Di Timur Tengah

Paradoksnya,  adalah pejabat Inggris maverick, yang membantu menanamkan gen itu ke dalam negara baru. Pejabat Inggris yang merapat ke Aziz, salah satunya adalah Harry St. John Philby (ayah dari petugas M-I6 yang memata-matai untuk agen KGB Soviet, Kim Philby). Ia menjadi penasihat dekat Raja Abd al-Aziz, setelah mengundurkan diri sebagai pejabat Inggris, dan sampai kematiannya, menjadi anggota kunci dari pengadilan Penguasa. Dia, seperti Lawrence of Arabia, adalah Arabist. Dia juga seorang mualaf untuk Wahhabi Islam dan dikenal sebagai Sheikh Abdullah.

St John Philby adalah seorang King Maker: ia bertekad untuk membuat temannya, Abd al-Aziz, menjadi penguasa Saudi. Walau memang, jelas bahwa dalam memajukan ambisi ini ia tidak bertindak atas instruksi resmi. Ketika, misalnya, ia mendorong Raja Aziz untuk memperluas di Najd utara, ia diperintahkan untuk berhenti. Tapi (sebagai penulis Amerika, Stephen Schwartz mencatat), Aziz sangat menyadari bahwa Inggris telah berjanji berulang kali bahwa kekalahan Ottoman akan menghasilkan negara Arab, dan ini tidak diragukan lagi, mendorong Philby dan Aziz untuk bercita-cita untuk menjadi penguasa baru yang kemudian.

Tidak jelas apa yang terjadi antara Philby dan Penguasa (tampaknya, rinciannya, entah bagaimana telah dirahasiakan), tapi  akan muncul bahwa visi Philby itu tidak terbatas pada pembangunan negara dengan cara konvensional, melainkan adalah salah satu transformasi yang lebih luas terhadap umat Islam (atau komunitas kaum mukminin/orang beriman) dengan instrumen Wahhabisme yang akan menjadikan al-Saud sebagai pemimpin bangsa Arab. Dan agar hal ini terjadi, Aziz dibutuhkan untuk memenangkan persetujuan Inggris (dan kemudian banyak dukungan Amerika). “Ini adalah langkah pertama yang Abd al-Aziz dibuat sendiri, dengan saran dari Philby,” catat Schwartz.

 

British Godfather Of Saudi Arabia

Dalam artian, Philby dapat dikatakan menjadi “godfather” untuk pakta penting ini, di mana kepemimpinan Saudi akan menggunakan kekuatan untuk “mengelola” umat Islam Sunni atas nama kepentingan dan tujuan Barat (berkenaan dengan sosialisme, Ba’athisme, Nasserisme, pengaruh Soviet, Iran, dll) – dan sebagai imbalannya, Barat akan menyetujui Arab Saudi diberikan soft-power untuk mewahabikan umat Islam (dengan kehancuran tradisi intelektual Islam yang bersamaan dan rusakanya keragaman dan menabur atas perpecahan dalam dunia Islam).

“Dalam hal politik dan keuangan, strategi Saud-Philby telah sukses secara mengejutkan. Tapi itu selalu berakar pada kebodohan intelektual Inggris dan Amerika. Penolakan untuk melihat ‘gen’ berbahaya dalam proyek Wahhabi, potensi terpendam untuk bermutasi setiap saat, kembali ke aslinya menjadi berdarah, ketegangan puritan yang gagaimanapun, ini baru saja telah terjadi: ISIS itu “.

Akibatnya – sejak saat itu sampai sekarang – kebijakan Inggris dan Amerika telah terikat dengan tujuan Saudi (seketat kepada orang-orang mereka sendiri), dan telah sangat bergantung pada Arab Saudi untuk arah dalam mengejar wacananya di Timur Tengah.

Untuk memenangkan dukungan Barat (dan melanjutkan terus dukungan Barat), bagaimanapun juga, diperlukan perubahan modus: “proyek” harus berubah dari gerakan Islam bersenjata, da’wah gerakan garda depan Islam menjadi sesuatu yang menyerupai tatanan negara. Hal ini tidak pernah akan mudah karena kontradiksi yang melekat terlibat (moralitas puritan terhadap politik riil dan uang) – dan karena waktu telah berkembang, masalah mengakomodasi “modernitas” yang dibutuhkan kenegaraan, telah menyebabkan “gen” menjadi lebih aktif, bukannya menjadi lebih lembam.

Bahkan Abd al-Aziz sendiri menghadapi reaksi alergi: dalam bentuk pemberontakan serius dari milisi Wahhabi sendiri, Saudi Ikhwan. Ketika perluasan kontrol oleh Ikhwan mencapai perbatasan wilayah yang dikuasai oleh Inggris, Abd al-Aziz berusaha menahan milisinya (Philby yang mendesak dia untuk mencari perlindungan Inggris), tetapi Ikwhan, sudah kritis, mereka menggunakan teknologi modern (telepon, telegraf dan senapan mesin), “yang marah dengan meninggalkan jihad karena alasan politik real duniawi… mereka menolak untuk meletakkan senjata mereka, dan malah memberontak terhadap raja mereka … Setelah serangkaian bentrokan berdarah, mereka hancur pada tahun 1929. Anggota Ikhwan yang tetap setia, kemudian diserap ke dalam Garda Nasional Saudi. ”

Anak Raja Aziz dan ahli warisnya, al-Saud, menghadapi berbagai bentuk reaksi (kurang berdarah, tetapi lebih efektif). Anak Aziz digulingkan dari tahta oleh lembaga agama – yang mendukung saudaranya Faisal – karena perilaku mewah dan boros nya. kemewahannya, gayanya yang sombong, telah menyinggung kemapanan agama yang diharapkan menjadi “Imam Muslim,” untuk mengejar kesalehan, gaya hidup dakwah.

Raja Faisal, pengganti Saud, pada gilirannya, ditembak oleh keponakannya pada tahun 1975, yang telah muncul di pengadilan untuk pura-pura membuat sumpah kesetiaan, tetapi sebaliknya, ia malah mengeluarkan pistol dan menembak raja di kepalanya. Keponakan telah terganggu oleh perambahan keyakinan Barat dan inovasi (bid’ah) ke dalam masyarakat Wahhabi, sehingga merugikan cita-cita asli dari proyek Wahhabi.

 

Perebutan Mesjid al Haram pada 1979

 Jauh lebih serius, bagaimanapun, adalah menghidupkan kembali Ikhwan dari Juhaiman al-Otaybi, yang memuncak dalam perebutan Masjidil Haram oleh sekitar 400-500 orang bersenjata pada tahun 1979. Juhaiman berasal dari suku Otaybi berpengaruh dari Najd, yang memiliki memimpin dan menjadi elemen utama dalam Ikhwan asli tahun 1920-an.

Juhaiman dan pengikutnya, banyak dari mereka berasal dari pesantren di Madinah, mendapat dukungan diam-diam, di antaranya dari  para ulama lainnya, Sheikh Abdel-Aziz Bin Baz, mantan Mufti Arab Saudi. Juhaiman menyatakan bahwa Syekh Bin Baz tidak pernah keberatan terhadap pengajaran Ikhwannya (yang juga kritis terhadap kelemahan ulama terhadap “orang tak beriman”), tapi bin Baz telah menyalahkan dia untuk sebagian besar penekanan pada dinasti al-Saud yang berkuasa saat itu, yang telah kehilangan legitimasinya karena korup, hidup mewah dan telah menghancurkan budaya Saudi dengan kebijakan westernisasi agresif. ”

Secara signifikan, pengikut Juhaiman memberitakan pesan Ikhwani mereka di sejumlah masjid di Arab Saudi yang  awalnya tanpa ditangkap, tetapi ketika Juhaiman dan sejumlah Ikhwan akhirnya ditahan untuk diinterogasi pada tahun 1978. Anggota  dewan ulema (termasuk bin Baz) memeriksanya secara lintas untuk bid’ah, tapi kemudian memerintahkan pembebasan mereka karena mereka melihat mereka sebagai tidak lebih dari tradisionalis yang menekankan kembali kepada  gerakan Ikhwan– seperti kakek Juhaiman – dan karenanya itu bukan ancaman.

Bahkan ketika perebutan masjid dikalahkan dan diatasi, tingkat tertentu kesabaran para ulama untuk pemberontak tetap ada. Ketika pemerintah meminta fatwa yang memungkinkan angkatan bersenjata untuk digunakan dalam masjid, bahasa bin Baz dan ulama senior lainnya yang ingin tahu terkendali. Para ulama tidak menyatakan Juhaiman dan pengikutnya sebagai non-Muslim, meskipun pelanggaran mereka terhadap kesucian Masjid al Haram, tetapi mereka hanya disebut al-jamaah al-musallahah (kelompok bersenjata).

Kelompok yang dipimpin Juhaiman jauh dari terpinggirkan dari sumber penting kekuasaan dan kekayaan. Dalam arti, mereka itu berenang dalam keramahan, perairan menerima. Kakek Juhaiman telah menjadi salah satu pemimpin Ikhwan asli, dan setelah pemberontakan melawan Abdel Aziz, banyak kawan kakeknya di tentara diserap ke Garda Nasional – memang Juhaiman sendiri telah melayani dalam Pasukan keamanan – sehingga Juhaiman mampu untuk mendapatkan senjata dan keahlian militer dari simpatisannya  di Garda Nasional, dan senjata yang diperlukan dan makanan untuk mempertahankan pengepungan yang pra-posisi, dan tersembunyi, dalam Masjidil Haram. Juhaiman juga dapat memanggil orang-orang kaya untuk mendanai perusahaan.

ISIS vs Saudi yang kebarat-baratan

Titik berharga dalam sejarah ini adalah untuk menggarisbawahi betapa kepemimpinan Saudi yang tak mudah, harus berada dalam kemunculan ISIS di Irak dan Suriah. Manifestasi Ikhwani sebelumnya, ditekan – tetapi semua ini terjadi di dalam kerajaan.

ISIS bagaimanapun, adalah protes penolakan neo-Ikhwani yang terjadi di luar kerajaan – dan lebih dari itu, mengikuti ketidakpuasan Juhaiman dalam kritik tajam atas keluarga penguasa al-Saud.

Perpecahan yang mendalam ini adalah yang kita lihat sekarang di Arab Saudi, antara arus modernisasi yang Raja Abdullah merupakan bagiannya, dan orientasi “Juhaiman” yang mengikuti bin Laden, dan pendukung ISIS Saudi dan pembentukan agama Saudi yang merupakan bagiannya. Ini juga merupakan perpecahan yang ada dalam keluarga kerajaan Saudi sendiri.

Menurut koran milik Saudi Al-Hayat, di Juli 2014 “jajak pendapat Saudi yang dirilis pada situs jejaring sosial, mengklaim bahwa 92 persen dari kelompok sasaran percaya bahwa ‘ISIS sesuai dengan nilai-nilai Islam dan hukum Islam . ‘”komentator terkemuka Saudi, Jamal Khashoggi, baru-baru ini memperingatkan ‘ pendukung ISIS Saudi yang” menonton dari bayang-bayang. ”

Ada pemuda yang marah dengan mentalitas miring dan pemahaman hidup dan syariah, dan mereka membatalkan warisan dari abad-abad sebeleumnya dan keuntungan yang seharusnya dari modernisasi yang belum selesai. Mereka berubah menjadi pemberontak, amir dan khalifah menyerang daerah yang luas lahan kami. Mereka membajak pikiran anak-anak kita dan membatalkan perbatasan. Mereka menolak semua aturan dan peraturan perundang-undangan, melemparkan [a] cara … untuk visi mereka tentang politik, pemerintahan, kehidupan, masyarakat dan ekonomi. [Untuk] warga yang menyatakan diri “Amirul Mukminin,” atau khalifah, Anda tidak punya pilihan lain … Mereka tidak peduli jika Anda berdiri di antara orang-orang Anda dan jika Anda seorang yang terpelajar, atau dosen, atau pemimpin suku, atau pemimpin agama, atau politisi yang aktif atau bahkan hakim … Anda harus mematuhi Amirul Mukminin dan berjanji sumpah setia kepadanya. Ketika kebijakan mereka dipertanyakan, Abu Obedia al-Jazrawi berteriak dan berkata: “. Diam ! referensi kami adalah buku dan Sunnah dan hanya itu.”

“Apa yang salah kita lakukan?” Khashoggi bertanya. Dengan 3.000-4.000 pejuang Arab di Negara Islam saat ini, ia menyarankan kebutuhan untuk “melihat ke dalam untuk menjelaskan kebangkitan ISIS ‘”. Mungkin sudah waktunya, katanya, mengakui “kesalahan politik kita,” untuk “memperbaiki kesalahan para pendahulu kita.”

 

Modernisasi Raja Yang Paling Rentan

Raja Saudi saat ini, Abdullah, secara paradoks semua lebih rentan justru karena ia telah menjadi yang memodernisasi. Raja telah menahan pengaruh lembaga keagamaan dan polisi agama – dan secara penting telah mengizinkan empat sekolah yurisprudensi (fiqh)  Sunni yang akan digunakan, oleh orang-orang yang mengikuti mereka (al-Wahhab, sebaliknya, menolak semua sekolah yurisprudensi (fiqh) lain selain dirinya sendiri).

“Pertanyaan politik yang penting adalah apakah fakta sederhana keberhasilan ISIS, dan manifestasi penuh (yang berkembang) dari semua kesalehan asli dan kepemimpinan impuls pola dasar, akan merangsang dan mengaktifkan  ‘gen’  ingkar- di dalam kerajaan Saudi. Jika tidak, dan Arab Saudi ditelan oleh semangat ISIS, Teluk tidak akan pernah sama lagi. Arab Saudi akan dihancurkan  dan Timur Tengah akan tak dapat dikenali lagi”

Hal ini bahkan mungkin juga bagi warga Syiah di Arab Saudi timur untuk memohon Fiqh Ja’afri dan beralih ke ulama Syiah Ja’afari untuk menguasai. ( di dalam kontras yang jelas, al-Wahhab memiliki permusuhan tertentu terhadap Syiah dan menahan mereka untuk menjadi berontak, Seperti yang baru-baru terjadi pada 1990-an, ulama seperti bin Baz, Mantan Mufti – dan Abdullah Jibrin menegaskan pandangan adat Wahabi bahwa Syiah adalah kafir).

Beberapa ulama Saudi kontemporer akan menganggap reformasi seperti hampir merupakan provokasi terhadap doktrin Wahhabi, atau setidaknya, contoh lain dari westernisasi. ISIS, misalnya, menganggap setiap orang yang mencari yurisdiksi (fiqh) lain daripada yang ditawarkan oleh Negara Islam itu sendiri adalah bersalah tidak beriman- karena semua itu yurisdiksi (fiqh) “lain” itu mewujudkan inovasi (bid’ah) atau “pinjaman” dari budaya lain dalam pandangannya.

“Pertanyaan politik yang penting adalah apakah fakta sederhana keberhasilan ISIS, dan manifestasi penuh (yang berkembang) dari semua kesalehan asli dan kepemimpinan impuls pola dasar, akan merangsang dan mengaktifkan  ‘gen’  ingkar- di dalam kerajaan Saudi. Jika tidak, dan Arab Saudi ditelan oleh semangat ISIS, Teluk tidak akan pernah sama lagi. Arab Saudi akan dihancurkan  dan Timur Tengah akan tak dapat dikenali lagi”

“Mereka memegang cermin untuk masyarakat Saudi yang tampaknya mencerminkan kembali kepada mereka gambar ‘kemurnian’ yang hilang”

Singkatnya, ini adalah sifat dari bom waktu yang dilempar ke Timur Tengah. ISIS menyindir  Abd al-Wahhab dan Juhaiman (yang tulisan-tulisan pembangkangnya yang beredar dalam ISIS) menyajikan provokasi yang kuat: mereka memegang sebuah cermin untuk masyarakat Saudi yang tampaknya mencerminkan kembali kepada mereka gambar dari “kemurnian” yang hilang dan keyakinan awal dan kepastian yang berubah tempat dengan menunjukkan kekayaan dan kepuasan.

Ini adalah”bom”  ISIS dilemparkan ke dalam masyarakat Saudi. Raja Abdullah – dan reformasinya – yang populer, dan mungkin dia bisa mengandung wabah baru ketidakpuasan Ikwhani. Tapi akankah ada opsi yang tetap mungkin setelah kematiannya?

Dan di sini adalah kesulitan dengan berkembang kebijakan AS, yang tampaknya menjadi salah satu dari “yang terkemuka dari belakang” lagi – dan untuk mencari negara-negara dan masyarakat Sunni untuk bersatu dalam memerangi ISIS (seperti di Irak dengan Dewan Kebangkitan).

Ini adalah strategi yang tampaknya sangat tidak masuk akal. Siapa yang ingin memasukkan diri ke dalam keretakan internal-Arab yang  sensitif ini? Dan akankah serangan bersama Sunni pada ISIS akan membuat situasi Raja Abdullah lebih baik, atau mungkin itu merangsang kemarahan dan ketidakpuasan domestik Saudi lebih jauh? Jadi siapa tepatnya yang ISIS ancam? Ini tidak bisa lebih jelas. Tidak secara langsung mengancam Barat (meskipun Barat harus tetap waspada, dan tidak menginjak kalajengking tertentu).

Sejarah Ikhwani Saudi adalah polos:  karena Ibn Saud dan Abd al-Wahhab membuatnya seperti di abad ke-18; dan sebagaimana Saudi Ikhwan membuatnya seperti di abad ke-20. Target nyata ‘harus Hijaznya’ ISIS – penyitaan Mekah dan Madinah – dan legitimasi bahwa ini akan memberikan kesempatan pada ISIS sebagai emir baru Arabia.

Untuk kemudian, setelah kita mengetahui akar masalahnya dan penyebab kesesatan berfikir sebagian umat Islam yang terpengaruh Wahabisme, yang dibahas dalam buku ini, maka buku saya yang berikutnya akan terbit adalah buku REVOLUSI MENTAL IDEOLOGI PANCASILA, BERDASARKAN FALSAFAH PERENNIAL BHINEKA TUNGGAL IKA NUSANTARA, yang akan  menyodorkan salah satu alternatif solusi utama atas dampak Materialisme, sebagaimana yang ditawarkan oleh Seyyed Hoosein Nasr agar kita kembali merujuk kepada kearifan filosofis tradional suci-perennial wisdom.  Bhineka Tunggal Ika adalah kristalisasi warisan ajaran filosofis Nusantara yang bersifat perennial (azali & abadi) univesal  tersebut.

Menurut penulis, analisis dan pendekatan solusi Seyyed Hossein Nasr sangatlah relevan dan dapat kita temukan erat kaitannya dengan berbagai kearifan lokal tradisional suci bangsa kita di Sundaland-Nusantara (Asia Tenggara).

Mengapa Sundaland atau Nusantara dan Indonesia khususnya menjadi harapan baru datangnya zaman keemasan (golden age) umat manusia yang akan menyelamatkan dunia ? Jawaban singkatnya adalah karena peradaban Nusantara punya keunikan dan keunggulan tersendiri dari segi kesejarahan, kelimpahan kekayaan sumber daya alam  maupun falsafah kehidupannya, yang berbeda diametral dengan falsafah dunia Barat yang didominasi materialisme-isme bahkan atheism anti tradisi Suci. Nusantara masih menyimpan warisan kearifan perennial abadi, nilai-nilai suci-sakral manunggal Ketuhanan-Kemanusiaan-Alam Semesta dan pandangan dunia kosmologis-ekologis yang ilahiyah (divine) ber-Ketuhanan Yang Mahaesa. Realitas Tuhan-Manusia dan Alam semesta masih dipandang sebagai sesuatu Realitas yang Unitiv (Manunggal, Tauhidi) secara eksistensial, sebagaimana tergambar dan falsafah-ideologi Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika,

Yang saya maksud dengan revolusi mental di dalam buku ini adalah revolusi  pemikiran (paradigma) dan perasaan (cipta & rahsa) dan sikap budaya (karsa) secara cepat (revolusioner) progresif, dari kondisi mental bangsa terjajah, mental bangsa lemah-pesimis, mental bangsa yang selalu minder tak punya harga diri, tak punya self estem dan tak punya rasa percaya diri, tak tahu diri, lupa ingatan/lupa jati dirinya, pemalas, materialis-hedonis-koruptif dan bodoh, menjadi bangsa yang sepenuhnya sadar diri, cerdas, tahu identitas eksistensi diri sejatinya, ingat sejarahnya sebagai induk peradaban dunia sumber kebaikan agama-agama dunia, berniat dan bermental juara, punya national pride (kebanggan nasional), sadar bahwa dirinya adalah berasal dari Tuhan YME dan akan kembali kepada-Nya, mampu mewakili (mandatoris) dan memperjuangkan sifat-sifat-Ketuhanan Yang Maha Esa-NYA (Cinta kasih-sayang kemanusiaan,   kejujuran,  keadilan, keindahan, persaudaraan semesta, Rahmatan lil-alamin (Hamemayu Hayuning Bawono)  dan lain-lain kehendak-kehendak-NYA, menjadi mercusuar, kompas dan teladan kepemimpinan dunia, berbudaya unggul dan berperadaban paripurna, menjadi contoh dan guru bagi bagi bangsa-bangsa lain seperti dulu zaman Kejayaan Peradaban Lemuria-Atlantis-Punt, Vedha Sanatha Dharma di anak benua Sundaland Nusantara.

Di sisi lain, perkembangan pemikiran umat manusia di dunia ini, Alhamdulillah, pada kenyataannya tidaklah statis dan stagnan. Walaupun mungkin belum menjadi trend yang mainstream (arus utama) dalam prosesnya, namun perkembangan positif itu dan para pemikir tecerahkan mulai lahir sejak akhir abad 20 dan berlanjut kini pada awal abad 21.

Sebagaimana kita ketahui, dan ini juga yang dijelaskan ulama intelektual  Asy-Syahid Murthada Mutahhari, bahwa arus sejarah dan perkembangan peradaban umat manusia dan bangsa-bangsa, sangatlah tergantung dari bagaimana pola pemikiran dan cara pandang dunia (worldview, weltanshaung) atau falsafah-ideology dan moral-mental-ideology yang hidup dan beroperasi pada mayoritas warga bangsa atau elit dominan pembangun peradaban tersebut. Pola tindakan dan berbagai peristiwa sejarah, tak  mungkin terlepas dari pola pikir para pelaku sejarah tersebut, yang menghasilkan peristiwa, aksi dan berbagai fenomena, baik sosial, politik ekonomi, seni-budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, pengelolaan lingkungan hidup ekologis, dll.

Secara umum, filsafat, yang merupakan fondasi dasar dari system ilmu pengetahuan, budaya dan peradaban manusia,  terdiri dari 3 bagian pokok, yaitu: 1) Ontology, yang membahas tentang hakikat dan asal-usul atau akar mendasar segala sesuatu, Di dalamnya terkandung bahasan mengenai theology (ilmu ketuhanan), dan Cosmology (ilmu alam semesta); 2). Epistemology,  yang membahas sumber-sumber dan struktur ilmu pengetahuan dan cara atau metode memperoleh ilmu pengetahuan, cara menguji kebenaran ilmu pengetahuan (verifikasi/pembenaran atau falsifikasinya/pembuktian kesalahannya); 3). Axyology, yang membahas ilmu pengetahuan terapan (aplikasi imu pengetahuan) seperti ilmu politik, etika dan estetika, ekonomi, Humaniora, science dan technology, dll.

Bagaimanakah bentuk dan model aksiologi  atau ilmu pengetahuan (pemikiran/brainware) yang menjadi software dan atau brainware dari sebuah entitas budaya dan peradaban umat manusia, akan selalui terkait-terhubung erat dengan jenis ontologi dan epistemologinya. Ketiganya saling berkait-kelindan tak bisa dilepaskan, karena ontologi akanmembentuk espistemologi dan pada gilirannya epistemologi tertentu akan memberi corak dan membentuk aksiologi, serta system ilmu pengetahuan yang menjadi pedoman dan rujukan pembinaan dan pembangunan budaya dan peradaban umat manusia tersebu

 

[1] Lampiran: 

(Link Terkait: para “Kyai dan Ustadz” Provokator Agen Amerika binaan Jendral Kivlan Zein?)

http://www.suara-islam.com/read/index/16272/KH-Husni-Thamrin–Habib-Rizieq-Benar–tidak-Perlu-Minta-Maaf

http://www.suara-islam.com/read/index/8558/Ulama-Kharismatik—Hati-hati-ada-118-Orang-PKI-di-DPR-

 

[2] Tangerang, 17 Agustus 2015

Arya Penangsang

[3] http://www.beritaislam24h.net/2016/11/kivlan-zen-inikah-aktor-makar-yang.html

 

[4] http://idnnkri.com/sisa-harapan-jokowi-atas-ahok-dan-mimpi-makar-kubu-biru-hijau/

http://www.beritakita.id/22579/news/mengejutkan-panglima-tni-sebut-penyebar-berita-provokasi/

http://idnnkri.com/sisa-harapan-jokowi-atas-ahok-dan-mimpi-makar-kubu-biru-hijau/

https://l.facebook.com/l.php?u=https%3A%2F%2Farrahmahnews.com%2F2016%2F11%2F26%2Fbom-rpw-majalengka-akan-ledakkan-gedung-dpr-dan-mabes-polri%2F&h=rAQHd4anX

http://www.beritakita.id/22579/news/mengejutkan-panglima-tni-sebut-penyebar-berita-provokasi/

http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/16/11/23/oh2tx2396-panglima-tni-sebut-australia-dan-amerika-sebar-berita-provokasi

 

 Hasil gambar untuk fpi isis saudara kita

 https://www.youtube.com/watch?v=eom1_fjrU1o

https://youtube/eom1_fjrU1o

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: