Tinggalkan komentar

Grameen Bank & Niat Baik Untuk Orang Miskin

Grameen Bank & Niat Baik Untuk Orang Miskin
Oleh: Arman Dhani
Staf penulis di Tirto ID

Grameen Bank pada mulanya dihina. Bagaimana mungkin orang miskin menabung? Lantas saat banyak orang menabung, cibiran berganti, emang orang miskin bisa bayar hutang pinjaman? Cibiran ini terus dan terus hingga kemudiaan bank ini besar dan mampu mensejahterakan banyak orang. Apakah sistem ini sempurna? Tentu tidak. Tidak semua orang yang pinjam mengembalikan pinjaman mereka, tidak semua orang yang menabung konsisten menjaga tabungan mereka.

Yang membuat Grameen Bank istimewa adalah ia percaya bahwa orang miskin apabila diberikan kesempatan, kepercayaan, dorongan, dan juga mentoring yang benar, mampu mensejahterakan dirinya sendiri. Grameen Bank menjawab bahwa kemiskinan tidak membuat seseorang menjadi buruk secara karakter, tidak semua yang miskin itu maling, dan tidak semua orang miskin yang diberi pinjaman itu kabur.

Niat baik dan kesempatan untuk memberikan solusi yang memanusiakan orang miskin adalah jalan kesejahteraan. Di Indonesia orang miskin kerap menjadi korban stereotip. Sebut tinggal di bantaran kali, menyerobot tanah negara, tidak mau patuh peraturan, dan yang paling mengerikan adalah seolah miskin menjadi pembenaran untuk tidak dipercaya.

Beri orang miskin bantuan langsung tunai, mereka pasti akan habiskan untuk rokok dan alkohol atau kebutuhan sekunder, beri KJP, mereka akan mencuri uang pendidikan anaknya, beri mereka rumah susun, mereka akan jual lagi untuk kemudian balik ke jalanan, beri mereka tanah di transmigrasi, akan mereka jual dan kembali ke jawa lagi, beri mereka pupuk dan bibit, akan dijual dan diselewengkan, beri mereka sapi, akan dijual dan kawin lagi.

Kebencian terhadap orang miskin ini muncul karena generalisasi dari kelompok orang yang menyelewengkan kepercayaan. Stereotiping serupa dengan orang-orang kulit hitam pasting pemalas dan maling, orang cina pasti pelit dan gemar menyimpan kekayaan, dan sebagainya dan sebagainya. Mengapa orang miskin tidak boleh mapan? Mengapa mereka tidak diberikan kepercayaan?

Sebenarnya apa yang dibenci? Kebijakan atau manusianya? Di Jakarta orang membenci orang miskin. Beri tawaran mereka rumah susun, saat tak mampu membayar rumah susun, mereka akan disebut pemalas, tak tahu diuntung, dan ga tau terima kasih. Saat mereka menolak digusur, sebut mereka penyebab masalah, tak peduli bukti kepemilikan dan sebagainya dan sebagainya.

Sepagian ini saya menyimak debat tentang DP rumah nol persen, mereka menyebut program ini mustahil, Saya sepakat. DP nol persen membuat orang miskin akan dibebani dengan bunga tinggi, cicilan yang sangat lama, bisa bertahun-tahun hingga, dan ini bisa menyebabkan sengketa. Orang yang tidak diperuntukkan program ini bisa mengambil, dalam artian kelompok kelas menengah mapan, membeli banyak rumah, untuk kemudian dimanfaatkan lagi sebagai kontrakkan.

Tapi mengapa mendiskreditkan orang miskin? “Emang orang miskin bisa nyicil?”, “Emang mereka ga akan kabur?”, “Emang mereka mau bayar?”, dan sebagainya dan sebagainya. Kebencian terhadap orang miskin menyaru dalam rivalitas politik, membuat debat substansial tentang “Bagaimana memberikan hunian layak huni bagi masyarakat miskin ibukota terjangkau,” debat yang lahir lebih kepada Calon A begini dan Calon B begitu.

Sentimen yang muncul kemudian. DP nol persen itu ga mungkin, gini nih kalo ga pernah beli properti. DP Nol persen itu mustahil, emang beli rumah kaya beli gorengan. Sentimen kelas yang menjijikkan ini muncul dengan menunjukkan bias privilage. Orang-orang ini menghina usaha menghadirkan DP Nol persen terhadap orang miskin, tapi bungkam dengan DP nol persen apartemen mewah untuk kelas menengah atas. Menghina hunian alternatif, tapi nyaris tanpa suara saat bicara tentang apartemen mewah yang melanggar tata ruang wilayah.

Perdebatan yang baik tentang hunian saya kira adalah, bagaimana program perumahan paling masuk akal yang bisa membuat orang miskin memiliki tempat tinggal. Sebut apapun itu, rumah vertikal, rumah susun, co housing, apapun. Sentimen kebencian terhadap orang miskin hanya menunjukkan kualitas kita.

Grameen Bank tidak sempurna, tapi ia melahirkan harapan, ia memberikan kesempatan pada orang miskin untuk bisa berusaha. Tidak semua orang yang bergabung dalam program ini menjadi sukses. Tapi niat baik dan usaha untuk menjadikan orang miskin berdaya tanpa ada sentimen dan kecurigaan itu penting. Saya kira ini yang membuat Kim Shin jatuh cinta pada Ji Eun-Tak.

Foto Bhayu MH.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: