Tinggalkan komentar

PEMIKIRAN TENTANG SEJARAH SUNDA ? (MITOLOGI dan KENYATAANNYA)

Patut disayangkan bahwa telah banyak terjadi penyelewengan sejarah maupun kesalahan dalam menafsirkannya, satu diantaranya yang FATAL adalah NASKAH Pangeran Wangsakerta yang saat itu berada dibawah tekanan penjajah. Kesalahan sangat besar akan berakibat fatal ketika anak bangsa salah memahami sejarah kehidupan negaranya sendiri, patut dipahami bahwa sistem kodefikasi dalam kata-kata merupakan ciri kearifan lokal bangsa Nusantara. Perlu hati-hati dalam memaknai ‘situs atau ‘artefak’. Sebagai contoh; mayoritas anak Indonesia dari tingkat SMP hingga SMA bahkan perguruan tinggi jika ditanya tentang asal kata ‘Majapahit’ akan menjawab bahwa nama itu artinya ‘buah maja yang pahit’. Jika benar nama Majapahit itu dari kata buah maja yang pahit, maka hal tersebut akan menjadi rancu manakala kita harus menguraikan arti dari nama kata atau nama kota seperti Majalengka, Majalaya, Majakerta (Mojokerto), dan sebagainya.Majalengka, berasal dari kata ‘Maharaja Alengka’ yaitu masa Prabhu Sindhu La Hyang.Majakerta, berasal dari kata ‘Maharaja Kertanegara’ yaitu masa Prabhu Dharmawangsa.Majapahit, berasal dari kata ‘Maharaja Purahita’ yaitu dijaman Raden Wijaya.Majalaya, berasal dari kata ‘Maharaja Mundinglaya’ yaitu dijaman Prabhu Silihwangi II.


Tatkala menguraikan asal mula kata Sunda, disamping beberapa pendapat serta kemiripan beberapa kata pada beberapa kebudayaan di luar Nusantara, Sunda menurut semiotika serta sistem kodefikasi Nusantara mengandung arti :

Sunda merupakan kependekan dari kata Su dan Ananda yang berarti ‘Su’ mengandung arti ‘kebenaran’, ‘A’ mengandung arti ‘tidak’, ‘Nanda’ mengandung arti ‘bergeming’. Sehingga kata Sunda dapat berarti : Kebenaran yang tidak bergeming atau Kebenaran yang Kokoh. Sunda sama sekali bukan nama suku (etnis) yang tinggal di pulau Jawa, melainkan nama atau sebutan bagi wilayah besar yang meliputi 1/4 dunia, atau sebutan lain dari sebutan Indonesia sekarang. Batas wilayah Sunda diduga merupakan batas wilayah ajaran dari Sundayana.

Menurut cerita yang beredar di kalangan para sesepuh Sunda, runtutan Pa-Ra Buyut dan Rumuhun (Karuhun/Leluhur/Nenek Moyang) perjalanan bangsa Sunda diawali dari daerah Su-Mata-Ra. Mereka membangun kebudayaan selama beribu-ribu tahun di kawasan Mandala Hyang (Mandailing) daerah Ba-Ta-Ka-Ra sampai ke daerah Pa-Da-Hyang (Padang). Pada masa tersebut, para Karuhun telah memeluk ajaran yang disebut sebagai ‘Su-Ra-Yana’ atau Ajaran Surya. Hingga satu masa Gunung Batara Guru meletus habis dan meninggalkan sisa Kaldera yang sekarang menjadi danau yang sangat luas (Danau Toba seluas 100 Km2).

Akibat meletusnya gunung tersebut, diceritakan bahwa dunia tertutup awan debu selama tiga bulan lamanya. Setelah itu, Mandala Hyang beralih ke Gunung Sunda, yang sekarang terkenal sebagai Gunung Krakatau (Ka-Ra-Ka-Twa). Pada saat itu belum dikenal konsep Negara, tapi lebih kepada konsep Wangsa (bangsa). Wilayah Mandala Hyang pada masa itu dikenal dengan sebutan ‘Buana Nyungcung’ karena terletak pada kawasan yang tinggi. Sementara Maya Pa-Da (Jagat Raya) dikenal dengan sebutan Buana Agung/Ageung/Gede dan Buana Alit (Jagat Alit). Kata buana di jaman yang berbeda mengalami metaformosis kata menjadi ‘Banua’ atau ‘Benua’.

Puncak Pertala di Buana Nyungcung Gunung Sunda dijadikan Mandala Hyang, begitu juga dengan gelar Ba-Ta-Ra Guru yang menggantikan petilasan atau tempat yang sudah menghilang. Pada masa ini kehidupan wangsa menunjukan kemajuan yang luar biasa. Perkembangan budaya serta aplikasinya mencapai tahap yang luar biasa. Pada masa itu dicapai berbagai penemuan teknologi darat dan laut. Kemudian daerah ini terkenal dengan sebutan ‘Buana A-ta’ atau buana yang kokoh dan tidak bergeming. Oleh bangsa luar dikenal dengan sebutan ‘Atalan’ (mungkin maksudnya Ata-Land). Kemajuan disegala bidang tersebut terhenti kembali, saat Gunung Sunda meletus (Gunung Ka-Ra-Ka-Twa). Daratan terbagi menjadi dua (Sumatra dan Jawa).

Semua bukti kemajuan jaman wangsa tersebut hilang, tenggelam tidak bersisa, yang tersisa hanyalah sebuah bentuk Ajaran Surayana. Persis kejadian di Batara Guru (Gunung Toba) yang wilayahnya meliputi Pa-Da-Hyang, begtu uga dengan Batara Guru (Sunda) yang wilayahnya meliputi Pa-Ra-Hyang. Ajaran tersebut kemudian dilanjutkan oleh Prabu Sindhu (Sang Hyang Tamblegmeneng, putra Sang Hyang Watugunung Ratu Agung Manikmaya) menjadi Ajaran Sundayana (Sindu Sandi Sunda) yang kemudian menyebar ke seluruh dunia. Perjalanan Prabu Sindu di wilayah Jepang membuat ajarannya diberi nama Shinto yang memuja kepada Sang Hyang Manon (Dewa Matahari atau Na-Ra) bahkan lambang dari ajaran tersebut kemudian dijadikan Bende-Ra bangsa tersebut.

Setelah itu ajaran tersebut menyebar sampai ke daerah India dan menyisir sebuah aliran sungai besar yang membelah sebuah lembah yang dikenal sebagai Lembah Sungai Sindu (orang Barat mengenalnya sebagai Lembah Sungai Hindus), tepatnya di daerah Jambudwipa. Perkembangan ajaran tersebut sangat luar biasa sehingga menghasilkan sebuah peradaban tinggi ‘Mohenjodaro dan Harapa’ yang memiliki kemiripan nama dengan Maharaja-Sunda-Ra dan Pa-Ra-Ha/Hu yang kondisnya persis dengan sebuah tempat di wilayah Parahyangan sekarang ini.

Ajaran Prabu Sindu yang selanjutnya disebut agama Hindu asalnya merupakan ajaran Surayana-Sundayan ( masih tersisa di daerah Bali sekarang), serta Ajaran Sunda Wiwitan yang isinya sama menjadikan Matahari serta Alam sebagai panutan hidup. Perjalanan sejarah kemudian menjadikan ajaran-ajaran tersebut masuk kedalam klasifikasi Animisme dan Dinamisme.

Sampai saat ini masyarakat ditatar sunda masih gamang tentang apa agama Sunda Wiwitan itu. Memang kadang-kadang ada halangan yang terkait dengan masalah keyakinan, terutama ketika suatu keyakinan tersebut dikatagorikan pada istilah animisme dan dinamisme, karena dimata bayangnya menunjuk pada urusan surga dan neraka.

Istilah Sunda Wiwitan memang asyik di “haleuangkeun” dalam lagu-lagu rakyat atau di “padungdengkeun” dalam seminar-seminar atau saresehan. Tetapi mencari dan mengetahui kesejatian dari ajaran ini agak sulit dan nyaris tak diketahui. Mungkin juga masalahnya karena ketertutupan dari para penganutnya, atau ada semacam eliminasi dari kita yang mengaku kaum beragama!!!!!!!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: