Tinggalkan komentar

MEMANUSIAKAN MANUSIA

Alit Pranakarya ke ki alit Pranakarya (Konsultan Spiritual & Parapsikolog)

MEMANUSIAKAN MANUSIA…

Kasih sayang, cinta, kedamaian, kebajikan, persaudaraan dan sejumlah niai-nilai kemanusiaan secara normative dan ideal dari agama Islam yang mengajarkan dan memproklamirkan hal-hal tersebut.

Bila saja merujuk pada ajaran agama, dalam hal ini Islam sebagai satu model ajaran agama yang memproklamirkan sebagai agama kemanusiaan. Kedatangan Islam pertama kali jika ditinjau dari sejarahnya adalah satu bentuk respon terhadap masyarakat pagan dengan prinsip-prinsip kesetaraan, kemerdekaan serta penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia, dimana waktu itu unsur-unsur kemanusiaan banyak terabaikan oleh masyarakat Arab yang jahiliyah.

Islam dengan prinsip-prinsip kemanusiaan yang melekat pada ajarannya sebagai satu agama yang mencoba mengangkat sisi kemanusiaan yang ternoda tersebut kembali pada tempatnya, sehingga dari situlah secara kukuh Islam bisa dinyatakan sebagai agama kemanusiaan.

Lembaran sejarah dunia Islam juga menyajikan satu cerminan yang cukup penting untuk dilihat pada satu kondisi masyarakat Madinah yang cukup akur antar kelompok satu dengan kelompok yang lain. Waktu itu Madinah adalah suatu kota yang ditinggali oleh masyarakat yang majemuk, secara garis besar ada tiga kelompok besar masyarakat waktu itu, yaitu kaum muslimin (Anshor dan Muhajirin), orang Arab yang belum masuk Islam dan Yahudi.

Waktu itu kaum muslim adalah kelompok yang paling dominan diantara kelompok lainnya, namun Islam waktu itu tidak menampilkan satu kelompok yang angkuh, tapi Islam yang diperagakan oleh Rasulullah waktu itu sebagai Islam yang rahmatan lil’alamin (mengayomi dan menghargai perbedaan). Islam yang ramah tersebut tertuang dalam satu nota kesepahaman yang dikenal dengan Piagam Madinah.

Dalam piagam inilah terlintas kedekatan Islam sebagai agama yang sangat menghargai unsur kemanusiaan, lewat penginsafan adanya perbedaan keyakinan yang harus dihormati.

Begitu cukup indah cerminan sejarah yang terdeskripsikan di atas, itulah wajah Islam yang dicontohkan oleh rasul. Islam adalah agama yang santun, sangat memanusiakan manusia dengan menghargai perbedaan sebagai salah bentuk kenyataan hidup yang tidak bisa disisihkan. Al-Qur’an juga memberikan satu respon toleran pada persoalan keyakinan dan agama, “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”.

Cukup banyak contoh-contoh yang lain mengenai sikap toleransi yang diajarkan oleh Al-Qur’an lewat ayat-ayatnya yang Agung, kemudian akhirnya membawa ajaran Islam sebagai satu model ajaran agama yang kental akan penghargaan terhadap unsur-unsur kemanusiaan.

Sejarah serta sedikit kutipan ajaran Al-Qur’an di atas cukup kiranya untuk mengatakan bahwa Islam secara ajaran, mungkin juga pada ajaran-ajaran agama yang lain pada prinsipnya sangat menghargai dan mendambakan kondisi kemanusiaan yang wajar. Tidak ada dalam ajaran-ajaran tersebut ajakan untuk saling memusuhi, dengan demikian agama tetaplah suatu ajaran yang suci, yang menjadikan agama itu sebagai tempat bertikai adalah para pemeluknya yang salah dalam memahami ajaran agamanya. Tetapi, pertikaian antar agama tetap menjadi satu problem yang terus melilit sejarah peradaban manusia sampai detik ini.

Islam dengan seperangkat ajarannya yang sejak dari pertama adalah agama kemanusiaan tentunya mempunyai banyak sisi untuk dijadikan satu titik tolak menuju hubungan antar umat beragama yang harmonis. Jika Nabi sempat mencontohkan lewat Piagam Madinah yang merupakan segmen pada tataran perpolitikan, kiranya juga sangat menarik jika kemudian perdamaian itu bisa dirajut melalui sisi spiritual. Dimensi spiritual dalam kahzanah keislaman yang paling menarik dalam hal ini adalah tasawuf.

Tasawuf dengan bidikan esoterisnya jika ditarik pada kehidupan modern saat ini cukup mumpuni sebagai mediator terciptanya masyarakat multi agama yang rukun. Kehidupan modern yang dipenuhi dengan multi aktifitas yang menggerahkan, nampaknya menggiring manusia pada satu kondisi jiwa yang rapuh. Jiwa yang rapuh inilah yang kemudian bisa saja dimasuki oleh dorongan-dorongan negative yang menghantarkan pada sikap anarkis yang bisa saja terwujud dalam bentuk penghinaan pada kelompok keyakinan yang lain.

Tasawuf dengan olah rohaninya menjadi satu jawaban yang bisa menstabilkan kondisi krisis jiwa umat Islam dengan kondisi tersebut. Ajaran kedamaian, cinta serta kasih sayang dalam dunia tasawuf adalah segmen yang cukup menarik untuk disingkap, sekaligus sebagai upaya membangun hubungan umat beragama yang harmonis.

Ajaran Humanistis dalam Tasawuf:

Tasawuf sampai saat ini masih dicitrakan sebagai disiplin ilmu yang bersifat personal. Capaian-capain kebenaran yang disingkap bersifat subyektif, sehingga dinilai tasawuf tidak cukup peka dengan persoalan sosial. Para ahli tasawuf dianggap orang-orang yang egois, yang selalu beradu mesra dengan Tuhannya. Sementara lingkungan, problem sosial adalah realitas lain seolah-olah tasawuf berada jauh di luar itu. Mungkin memang demikian satu segmen tasawuf yang memperagakan praktek tasawuf yang ekslusif.

Tentu, bukan ini yang dimaksud dari tasawuf itu sendiri, di dalam tasawuf ada ajaran-ajaran yang sangat berkaitan dengan kehidupan konkret yang menata hubungan antar sesama manusia. Esklusifitas dalam dunia tasawuf adalah satu bagian stigma yang harus dipugar menjadi tasawuf yang lebih ramah pada realiatas, sehingga kemudian terciptalah satu tasawuf yang inklusif.

Menggali hubungan tasawuf dengan fenomena sosial yang menyangkut humanistis perlu kiranya suatu tahapan memulangkan hubungan yang dimaksud tersebut terlebih dahulu pada makna dan arti dari tasawuf itu sendiri. Kondisi ini sangat sulit untuk dihindari, karena ajaran dalam tasawuf itu sangat terkait dengan tekanan-tekanan yang terkandung dari arti tasawuf secara definitive. Tasawuf mempunyai arti sebagai bentuk perwujudan dari ihsan yang berarti kesadaran adanya komunikasi dan dialog seorang hamba dengan Tuhannya. Adapun kondisi yang tidak boleh lepas dari seorang manusia sebelum benar-benar larut dalam gumulan ajaran tasawuf seorang hamba harus melewati kondisi zuhud yang berarti meninggalkan hidup kematerian. Beranjak dari individu zahid inilah seorang hamba akan menapaki individu sufi.

Tasawuf dalam terminologi epistemologi khazanah keilmuan Islam sebagai bagian dari tiga pilar epistemologi Islam. Pada konteks ini Tasawuf dianggap sangat berdekatan dengan epsitemologi Irfani walaupun beberapa kalangan berpendapat adanya perbedaan mendasar antara tasawuf dan irfani sebagai sebuah epistemologi. Tasawuf lebih ditempatkan sebagai sisi kultur spiritual (spiritual culture) yang tidak dianggap bisa menyelesaikan persoalan kontemporer, karena kebenaran pencapaiannya hanya berupa kebenaran subyektif. Adapun irfani ditempatkan sebagai suatu metodis keilmuan dengan sedikit meminjam istilah-istilah yang ada dalam tasawuf itu sendiri.

Sebenarnya cukup dilema ketika irfani dan tasawuf dipisahkan dengan suatu jurang pemisah yang cukup jauh, karena apa yang ditunjuk oleh irfani secara substansi adalah apa yang juga ditunjuk oleh tasawuf sebagai suatu kebijaksanaan abadi yaitu Tuhan. Terlepas dari problem kontroversial tersebut titik kedekatan tasawuf dan irfani terletak dari olah jiwa (riyadlah) yang merupakan bagian paling prinsip dari tasawuf dan irfani, inilah kemudian dikenal dengan kasyf yang berupa penyingkapan kebenaran Tuhan pada hambanya.

Pada prakteknya tasawuf merupakan satu bentuk potensi universal manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok kemanusiaannya dari sisi spiritual yang berkaitan dengan hatinya. Jika akal memenuhi kebutuhannya lewat realitas maka hati juga perlu pemenuhan kebutuhannya lewat perjumpaannya dengan Tuhan, tasawuf inilah yang menyajikan seperangkat instrument untuk mencapai perjumpaan tersebut. Pada sisi lain ada semacam keterbatasan akal pada suatu sudut tertentu sehingga kemudian menemui titik syak (ragu). Pada titik inilah hati sebagai bagian komponen pada tasawuf bisa memberikan perannya untuk menghantarkan keraguan tersebut pada titik valid menuju titik sumber dari segala pengetahuan yaitu Tuhan.

Sekilas dari uraian di atas mengindikasikan tasawuf berupa ajakan-ajakan pendekatan dan penghayatan ritual keagamaan belaka. Tetapi satu hal yang perlu diketahui bahwa ada kosa kata yang cukup populer dalam dunia tasawuf, tanpa kata tersebut maka tasawuf tidaklah sempurna,kata kunci itu adalah cinta. Lewat catatan sejarah kesufian Rumi yang cukup luas tercermin satu bentuk percintaan yang cukup intim antara seorang hamba pada Tuhannya. Bisa dikatakan peran cinta yang mengolaradalam hati Rumi sebagai bentuk keindahan hubungannya dia bersama Tuhan.

Merujuk pada awal munculnya tasawuf terdapat satu tahap yang mengindikasikan bahwa cinta sebagai spirit dari dari praktek tasawuf. Semula tasawuf adalah bentuk rasa takut seorang hamba terhadap dosa, kemudian pada masa Rumi tasawuf sebagai praktek rasa cinta terhadap Tuhan lalu ada tahap berikutnya adalah masa pembentukan literatur dunia tasawuf yaitu pada masa Al-Sarraj.

Pada priodisasi kemunculan tasawuf kakata kunci cinta menjadi kata kunci yang vital ketika menyebut tasawuf sebagai suatu bentuk kajian.

Cinta digambarkan dalam dunia tasawuf adalah keadaan yang dialami dalam hati seorang hamba yang cukup sulit untuk diungkapkan secara lisan. Keadaan seperti ini kemudian mendorong kondisi seorang hamba pada pensucian Tuhan dan pencarian ridla-Nya yang luas.
Pencarian ridla-Nya yang luas tidak terkungkung pada satu kondisi ritual peribadatan saja tapi juga mempunyai makna yang lebih luas, tentunya juga menyentuh problem-problem sosial kemanusiaa.

Ketika tasawuf selalu berkaitan dengan cinta maka tentunya juga sangat berkaitan dengan keindahan. Kenyataannya cinta memang selalu bertalian dengan keindahan, karena suatu keindahan, cinta itu muncul, namun bisa saja karena cinta lalu kemudian muncul keindahan. Demikian cukup dekat dan bisa dikatakan telah merekat antara keindahan dan cinta itu sendiri. Sehingga bisa dikatakan seorang sufi adalah individu yang halus yang penuh dengan cinta dan keindahan.

Suatu bentuk keindahan tertinggi dalam terminologi tasawuf adalah pertemuan dengan Tuhan. Pertemuan tersebut setelah terciptanya kesucian hati. Dengan demikian titik keindahan jika sedikit diseret pada ranah kemanusiaan maka keindahan yang tertinggi terdapat pada keindahan hati. Keindahan hati biasa diistilahkan dalam dunia tasawuf dengan ihsan. Ihsan secara terminilogis mempunyai banyak makna yang berupa, indah, baik dan sempurna. Makna yang terkandung secara terminologis tersebut tidak hanya berlaku pada kondisi hubungan internal seorang individu dengan Tuhannya tetapi termanifestasikan dalam bentuk hubungan antar manusia lewat etika dan moral.

Ihsan dalam arti yang lain adalah kedamaian pada jiwa seorang hamba dalam kondisi keseimbangan dan harmonis dengan dunia. Ihsan juga berarti menyelam dalam keindahan pada semua level manifestasinya termasuk membebaskan diri dari batasan-batasan eksistensi keduniawian yang kemudian menggiring suatu kesadaran pada samudera keindahan tanpa batas, yaitu Tuhan itu sendiri.

Keindahan tanpa batas tersebut menandakan keindahan tesebut juga tidak tebatas pada hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga sangat berkaitan dengan hubungan antar sesama manusia. Sebenarnya sangat banyak sekali sisi lain dari ajaran tasawuf yang mencerminkan kehumanisan dan mengedepankan kedamaian, akan tetapi secara garis besar nampaknya cinta dan keindahan inilah satu titik paling signifikan dan nampaknya paling familiar di tengah-tengah halayak umum, paling tidak familiar bagi penulis sendiri.

Sisi lain yang mungkin juga tidak bisa dilewatkan ketika tasawuf ditinjau dari sisi humanistis adalah konsep mengenai wahdat al-Adyan. Konsep wahdat al-Adyan adalah suatu konsep kreatif yang hendak membawa umat manusia pada pentingnya memahami persamaan dan kesatuan agama-agama secara original. Ketika menyebut konsep ini mengingatkan pada seorang tokoh penggagasnya yaitu, Ibn Arabi (1240 M). Sejatinya konsep ini adalah satu rangkaian yang berkaitan dengan teori hulul dari al-Hallaj yang menyatakan bahwa pada dasarnya agama-agama berasal dari dan akan kembali kepada pokok yang satu. Pada konsep ini perbedaan yang ada dalam agama-agama sekadar perbedaan dalam bentuk dan namanya, sedangkan hakikatnya yakni mengabdi pada Tuhan yang sama.

Konsep Wahdat al-Adyan jika merujuk pada analoginya Ibn Arabi adalah semacam perbincangan antara konsep yang satu (alwahid) dan yang banyak (katsir). Dalam hal ini Ibn Arabi membawa konsep ini pada tataran filosofis yang menggambarkan hubungan Tuhan (al-wahid) dengan alam, dimana Tuhan hanya bisa dipahami setelah adanya perpaduan antara dua sifat yang berlawanan (wahid-katsir) kemudian dalam tataran epsitemologisnya disebut dengan wahdatul wujud. Bermula dari dasar filosofis ini kemudian bisa ditarik semacam pemahaman bahwa Tuhan memanifestasikan Dirinya pada alam yang banyak dalam bentuk yang tidak terbatas, proses ini dikenal dengan sebutan tajalla.

Konsep ini seakan-akan memeberikan ruang bagi manusia untuk memahami Tuhan dari berbagai sisi lewat menifestasi-manifestasi Tuhan yang begulir dalam bentuk konsep-konsep keagamaan.

Keberadaan Wahdat al-Adyan cukup banyak mengundang kontroversi, kecenderungan memadukan agama-agama memunculkan banyak kerisauan di tengah-tengah umat muslim. Namun bila boleh disimpulkan yang dimaksud dengan Wahdat al-Adyan oleh Ibn Arabi adalah tidak pada level syariat, bentuk, identitas yang berdimensi eksoteris, akan tetapi perjumpaan agama tersebut ada level esoterik atau spiritual yang bermain pada tingkat penghayatan pengalaman personal. Terlepas dari kontroversi yang bergulir, konsep Wahdat al-Adyan adalah satu pencapaian tasawuf yang sangat humanis, dimana ketika konsep ini menjadi satu sikap dan pandangan kebergamaan maka hubungan antar umat beragama tidak akan diliputi saling mencurigai atau tindak cacat moral lainnya.

Implikasi Ajaran Tasawuf dalam Kehidupan Hubungan Antar Agama:
Tahapan ini adalah tahapan yang menghendaki bagaimana ajaran-ajaran tasawuf tersebut yang terdapat pada ulasan sebelumnya bisa ditransfer pada ranah sturktur sosial kemasyarkatan yang mejemuk. Setidaknya ada satu pertanyaan mungkinkah tasawuf juga ada dalam agama-agama yang lain selain Islam? Jika ada maka pintu menuju kedamaian lewat tasawuf adalah satu pintu yang akan mengahantarkan pada kedamaian yang berimbang, karena akan terjalin semacam kesepahaman antaragama.

Jika merujuk pada kemunculan tasawuf dalam Islam maka sangat kentara bahwa tasawuf sebagai tindak mistik adalah bentuk gejala universal yang terdapat di berbagai macam kepercayaan. Persepsi mengenai sumber tasawuf Islam yang menunjuk India dengan komonitas mistik Hindunya lalu memunculkan kelompok sufi Islam dari Khurasan adalah satu bentuk rangkaian dimana terdapat keterpengaruhan para sufi Islam terhadap prilaku mistik pada dunia Hindu. Sumber kedua menunjuk pada dunia Kristen yang juga mempunyai ajaran mistik yang berkaitan dengan oleh jiwa (riyadlah dalam dunia tasawuf). Kemiripan tasawuf Islam pada tindak mistik dunia Kristen menunjukkan kemungkinan adanya persamaan lainnya dengan ajaran yang terdapat dalam tasawuf.

Islam sejak dari awal adalah agama kemanusiaan yang menjunjung kedamaian seperti yang tercermin pada ajaran tasawufnya yaitu sebagai agama rahmatan lil alamin. Mencoba membuka lembaran ajaran Kristen sebagai agama yang paling dekat dengan kehidupan muslim di negeri ini adalah satu pembuka kesadaran pada tahap kesadaran pluralitas. Satu simbol dan ciri khas dari ajaran Kristen adalah ajaran kasih sayangnya. Secara teologis kaum Nasrani meyakini bahwa penyaliban Yesus adalah bentuk cinta kasih pribadi Yesus pada manusia untuk menebus dosa anak cucu Adam. Ajaran moral cinta kasih ini mengubah moral jutaan umat Nasrani untuk saling mengasihi antar sesama manusia.

Ajaran cinta kasih ini konon juga terdapat pada ajaran agama-agama yang lain, sehingga ajaran cinta ini menjadi perekat perekat antar agama di dunia,mengingat titik inilah menjadi kesamaan universal yang dimiliki oleh setiap agama.

Dengan demikian persepsi atau pandangan stereotype yang sering kali dimilki oleh sebagian muslim terhadap agama yang lain tidak perlu terjadi mengingat ada sisi persamaan pada masing agama yang ada tersebut.

Jika kembali pada tasawuf sebaga mediator pembawa kedamaian hubungan antar umat beragama maka secara ekplisist dunia tasawuf menyediakan seperangkat tahapan menuju kesadaran cinta damai yang merupakan inti dari perekat antar hubungan antar agama. Tahapan-tahapan tersebut terbagi menjadi tujuh tahapan yang merupakan maqomat dalam terminology tasawuf.

Pertama taubat, yang berupa peninggalan perbuatan yang kurang baik berupa penginsafan terhadap dosa atas, kealfaan mengingat Allah dengan disertai penyesalan yang mendalam.
Kedua Wara’ menjauhakn diri dari yang subhat (statusnya tidak jelas) baik secara lahir dan batin.
Ketiga Zuhud, tidak mengutamakan kehidupan dunia.
Keempat Faqir, mengosongkan seluruh pikiran dan harapan dari kehidupan masa kini dan masa depan, dan tidak menghendaki sesuatu apapun kecuali Tuhan SWT.
Kelima, Sabar yang berartimenerima segala bencana dengan laku sopan dan rela.
Keenam Tawakkal yaitu percaya atas segala apa yang ditentukan Tuhan.
Dan yang ketujuh adalah Ridla yakni hilangnya rasa ketidaksenangan dalam hati sehingga yang tersisa hanya kegembiraan dan sukacita.

Tujuh tahapan di atas menjadi penting untuk dilewati mengingat cinta yang dimaksud sebagai cinta sejati dalam dunia tasawuf tidak bisa dicapai kecuali seorang individu tersebut melebur pada dunia sufi itu sendiri. Dengan membaur pada dunia sufi maka tasawuf sebagai jalan menuju kedamaian tidak hanya sebagai teori tetapi masuk menjadi pengamalan, tentunya pengetahuan yang dicapai antara peresapan ide lewat akal saja dengan pengetahuan yang dicapai lewat pengamalan mempunyai tensi yang berbeda.

Uraian ini cukup layak untuk mengimplikasikan ajaran humanistis pada tataran realiatas. Secara konkret implikasi pengamalan ajaran humanistis itu dapat direalisasikan dalam hubungan antar agama ketika pemahman publik mengenai ajaran agama-agama yang ada dapat dipahami oleh masing-masing pemeluk yang ada, sehingga dalam bentuk riil bisa memungkinkan pengajaran-pengajaran agama lain pada agama tertentu, misalnya saja mungkin saja terdapat Studi agama Kristen pada Universitas Islam begitu juga sebaliknya. Kemudian pada tahap kedua adalah melaksanakan ajaran tasawuf secara amaliyah untuk menghantarkan pada kesadaran yang utuh mengenai ajaran humanistis yang terdapat dalam tasawuf.

Kesimpulan:

Tasawuf memang separangkat tawaran yang layak untuk dipilih dari sekian banyak alternatif lain sebagai penawar dari adannya konflik yang cukup akut dalam hubungan antar agama. Ajaran yang humanistis dalam dunia tasawuf adalah cerminan ajaran Islam yang damai dan ramah bagi golongan kepercayaan apapun di dunia ini.

Pandangan pluralis lewat ajaran tasawuf tidak hanya bisa mengayomi perbedaan tetapi juga sebagai alternative untuk mengangkat agama yang ada saat ini secara umum (tidak hanya Islam) pada porosnya sebagai pembawa kedamaian.

Memahami ajaran agama-agama lewat Interrelegius studies adalah keharusan di dunia muslim kontemporer untuk menghindari stereotype terhadapa agama-agama yang lain. Selain itu pengamalan tasawuf dalam keseharian adalah jalan kedua untuk mencapai cinta kasih yang dipahami sebagai kebenaran universal oleh agama yang lain. Dengan demikian diharapkan konflik bermotif agama di puncak peradaban ini tidak lagi terjadi.-

****Atas Nama Seluruh Keluarga Besar FSSN (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara Mengucapkan:
“Selamat Natal Bagi Saudaraku Yang Merayakannya”

“Munajat Cinta Anak Negeri, Damailah Indonesia ku”

#kaP (Pendiri / Ketua Umum FSSN)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: