Tinggalkan komentar

Perahu jong? Perahu apa pula ini?

Perahu jong? Perahu apa pula ini?

 

Jong (kadang disebut jung) adalah salah satu jenis kapal atau perahu yang pernah berjaya di lautan Nusantara, Asia Tenggara, bahkan Samudra Hindia hingga Madagaskar dan Afrika.

Oleh: Yusandi

AGUSTUS 8, 2016

Replika perahu jong tanpa cadik Perhatikan motif kepala naga pada hulu dan sejumlah dayung di sisi badan perahu, yang sesuai dengan gambaran Bujangga ManikPerahu jong diproduksi oleh orang Jawa, dan selalu memenuhi pelabuhan-pelabuhan besar yang tersebar di Nusantara, bareng kora-kora buatan orang Banda, lancang (lanchara dalam tulisan Portugis) buatan orang Melayu, dan pinisi buatan orang Bugis, dan padekawang buatan orang Makassar. Jong, dan semua jenis kapal ini, berfungsi ganda: perahu perang dan perahu dagang.

Selama ini, kita mengetahui keberadaan perahu jong dari kesaksian dan kronik-kronik Cina, Portugis, dan Belanda. Pada abad ke-15 dan ke-16, orang Eropa menulisnya junco. Namun, ternyata bangsa kita pun pernah menulis perihal jong ini—malah lebih rinci.

Salah seorang saksi yang menulis bentuk fisik jong adalah tokoh utama dalam naskah Bujangga Manik yang ditulis setelah tahun 1475 dan sebelum 1511 M (berdasarkan keterangan implisit si tokoh bahwa Kerajaan Demak telah ada dan Kerajaan Malaka belum didatangi Portugis). Kesaksian tokoh Bujangga Manik bisa melengkapi pengetahuan kita tentang “perahu bercadik” pada relief Candi Borobudur.

Tokoh utama, sebut saja Bujangga Manik, adalah seorang bangsawan Kerajaan Sunda dari Pakuan (sekitar Bogor, Jawa Barat) yang aslinya bernama Pangeran Jaya Pakuan dan berniat menjadi pertapa dan berkelana ke perbagai tempat suci di Jawa dan Bali. Pada perjalanan pertamanya, setelah tiba di Pamalang (Pemalang, Jawa Tengah), bangsawan ini menaiki perahu jong ke Kalapa (Sunda Kelapa di Jakarta) karena rindu pada sang ibu.

Saat perjalanan kedua, setelah menempuh pelbagai gunung, sungai, dan sejumlah wilayah administratif melalui jalur utara Jawa (semacam jalur Pantura kini), ia tiba di Balungbangan (Blambangan, Jawa Timur) dan naik perahu jenis yang sama menyeberang ke Bali. Dari Bali ia naik kapal kembali lalu mendarat di Balungbangan kembali dan melanjutkan perjalanan melalui jalur selatan Pulau Jawa dan akhirnya menetap di Gunung Patuha (di Jawa Barat) hingga akhir hayatnya menjadi pertapa.

 

Replika perahu jong tanpa cadik Perhatikan motif kepala naga pada hulu dan sejumlah dayung di sisi badan perahu, yang sesuai dengan gambaran Bujangga Manik

Replika perahu jong tanpa cadik Perhatikan motif kepala naga pada hulu dan sejumlah dayung di sisi badan perahu, yang sesuai dengan gambaran Bujangga Manik

Nah, sekarang mari kita ikuti perjalanan Rakeyan Ameng Layaran (nama samaran Bujangga Manik saat berlayar) yang saleh ini saat menyeberangi Selat Bali menuju Pulau Dewata, dengan naik jong. Sebagai seorang pertapa (ameng) sekaligus ahli falak (bujangga), ia disambut oleh ki puhawang alias kapten kapal bernama Selabatang dengan ramah.

Maka, naiklah Bujangga Manik melalui pintu palka lalu duduk di dalam kabin. Dari kabin, pertapa ini langsung tertarik kepada penampilan perahu jong yang berbahan kayu jati berukir, hulunya berhiasan kepala naga dan melengkung hingga buritan (seperti layaknya jenis-jenis perahu lain di Nusantara).

Kayu penyangga dari bambu gombong (sejenis bambu dengan batang besar) dan tiangnya dari kayu juwana. Perlu disebutkan, bahwa pada saat itu Juwana merupakan satu dari banyak wilayah di pesisir utara Jawa, terutama Jawa Tengah, yang menghasil kayu jati yang memang digunakan sebagai bahan dasar kapal.

Sang Bujangga asyik menerangkan bahwa penggulung layar perahu terbuat dari aur kuning (sejenis bambu yang sangat kuat), lantainya dari kayu enau tua dan beralaskan aur seah (sejenis bambu juga). Kemudinya kemudi Keling (mungkin diadopsi dari Keling/India).

Tiang layar dari kayu laka dan bercat merah, dihiasi ikatan-pembuka dari rotan hitam yang bercampur rotan kuning. Tali penyangga layar dari kenur Cina. Dayungnya gemerlap mengkilap-kilap bagai cermin. Pendayungnya berjumlah duapuluh lima di setiap sisi perahu. Jika begitu, jumlah keseluruhan para pendayung adalah 50 orang.

Beres menjelaskan fisik jong, Bujangga Manik melirik kepada awak kapal. Ia mencatat bahwa para pendayung adalah orang Marus (Baros di Sumatra Utara?), para pengayuh orang Angke (di Jakarta?), penanggung jawab layar orang Bangka, kepala kelasi orang Lampung, juru kemudi orang Jambi, juru panah orang Cina, juru sumpit orang Melayu, juru tarung orang Salembu (belum teridentifikasi), juru perang orang Makassar, juru sergap orang Pasai.

Rupanya kapal yang ditumpangi Bujangga Manik ini adalah jong dagang yang wajib dikawal oleh “seksi keamanan” yang siap dengan panah, sumpit, dan senjata tajam lainnya juga oleh mereka yang siap menyergap dan bertarung bila kelak dihadang para perompak di tengah samudra yang terkenal ganas itu.

Ameng Layaran dengan jeli memerhatikan mereka yang bertugas menimba air agar beban perahu stabil yang di antaranya adalah wanita, dengan alat timba dari gayung perak. Ia mencatat bahwa dinding kabin terbuat dari daun nipah, dengan tiang pembalut dinding kabin tegak lurus.

Dan saat layar jong dikembangkan, ia menrdengar letusan bedil sebanyak tujuh kali, yang diikuti oleh alunan sarunay (seruling), gong, gamelan, gong kuning, dan gendang yang diiringi nanyian para awak kapal dengan sangat meriah.

Setelah seharian penuh membelah Selat Bali, sampailah Bujangga Manik di “Nusa Bali” dan menyerahkan bingkisan berupa kain kepada nakkoda Selabatang (rupanya sang nakhoda menggratiskan Bujangga Manik atas biaya pelayaran, karena memandang bahwa pertapa haruslah dihormati). Jika kita perhatikan, Bujangga Manik ini layaknya wisatawan domestik kini yang sedang berlibur bertamasya ke Pulau Dewata.

Sayang, Bujangga Manik tak menceritakan panjang dan lebar perahu. Namun, saat naik jong dari Bali ke Balungbungan, ia menerangkan bahwa kapal yang ia tumpangi dan hendak ke Pariaman (di Sumatra Barat), berukuran tak terlalu besar, dengan lebar delapan depa (sekitar 13 m) dan panjang duapuluh lima depa (sekitar 40 m).

Dengan begitu kita bisa menganggap bahwa jong yang ia naiki sebelumnya lebih besar dari jong saat ia kembali ke Balungbangan. Dan karena, Bujangga ini tidak menyebutkan kata “cadik” maka kita bisa menganggap bahwa jongyang ia tumpangi tidak bercadik.

Itulah gambaran yang diberikan Bujangga Manik atas jong yang ia tumpangi. Jelas, uraiannya sejalan dengan kesaksian pelaut Cina dan Eropa, yang menurut mereka jong ini pada abad ke-16 memegang peranan penting dan menyatukan jalur perdagangan Asia Tengara yang meliputi Campa (selatan Vietnam), Ayutthaya (Thailand), Aceh, Malaka, dan Makassar.

Tatkala mencapai perairan Asia Tenggara awal abad itu, pelaut Portugis menemukan kawasan tersebut didominasi jong-jong yang menguasai jalur perdagangan rempah- rempah antara Maluku, Jawa, dan Malaka.

Pada abad ke-16, Malaka yang dikuasai Portugis pimpinan Alfonso de Albuquerque dikepung oleh ratusan kapal junco yang diawaki pasukan gabungan Demak-Aceh-Palembang. Portugis menembaki jong-jong itu, namun meriam terbesar Portugis pun hanya mampu menembus dua lapis dindingjunco.

Saat mendekati junco, mereka bahkan tidak mampu mencapai jembatannya karena kapal junco sangat tinggi. Jelas, besar jong melebihi kapal Portugis. Sumber Cina dari periode abad ke-5 hingga ke-7 menyebutkan bahwa kapal-kapal kayu yang dibuat di Nusantara panjangnya sekitar 162 kaki (43 m).

Sementara, hasil rekontruksi terhadap penemuan puing-puing kapal di Palembang menunjukkan bahwa kapal itu memiliki panjang sekitar 65 hingga 70 kaki (20-21 m) dan bahwa itu merupakan bangkai perahu tanpa cadik, yang dianggap cikal bakal perahu jong. Hal ini berkesesuaian dengan model perahu Nusantara yang terpahat pada relief Candi Borobudur, yang dianggap sebagai nenek moyang dari jong.

Jong Jawa berbeda dengan jung Cina, karena jong Jawa disatukan dengan pasak kayu, sedangkan jung Cina disatukan dengan paku besi dan pengapit. Dua penziarah Cina yang sempat menaiki jong dari Sumatera menuju India menceritakan, panjang kapal 160 kaki (sekitar 49 m) dan memiliki beban sekitar 600 ton. Kapal itu dibuat dengan beberapa lapis papan, tidak menggunakan besi sebagai penguat, papan itu diikat dengan menggunakan serat pohon aren (enau), dan dipasangi tiang-tiang dan layar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: