Tinggalkan komentar

Peringatan Asyura dalam Manuskrip Nusantara

manuskrip-syiah_syiah-menjawab

October 3, 2016 Kajian, Sirah Leave a comment 2,370 Views

 Mereka yang membenci dan anti terhadap Muslim Syiah, mengklaim Asyura sebagai tradisi impor asal Iran pasca Revolusi Islam 1979. Namun, Sejarah peringatan Asyuro ternyata banyak terekam dalam hikayat maupun manuskrip-manuskrip kuno di Nusantara.

Peringatan Asyura Dalam Manuskrip Kuno Nusantarahikayat-nusantara_syiah-menjawab

Manuskrip kuno tentang syiah Peringatan Asyura di beberapa tempat
sempat dipermasalahkan sebagian orang yang menganggapnya sebagai ritual khusus milik Muslim Syiah. Lebih parah lagi, ada yang mengklaim Asyura sebagai tradisi impor asal Iran pasca Revolusi Islam 1979.

Namun fakta berkata lain. Koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, berjudul Hikayat Muhammad Ali Hanafiyyah, karya Muhammad Ikhram Fadhly Hussin, sejenis manuskrip dengan nomor panggil ML 446, yang terletak di lantai 5B, bercerita tentang bagaimana pada 10 Muharam atau Hari Asyura, cucu Nabi, Imam Husein telah syahid.

Tragedi Karbala Dalam Hikayat Melayu

f5470-247139_1759935758169_1232305668_31493693_5184801_nHikayat setebal kurang lebih 4 cm, lebar 17,5 cm, panjang 25,6 cm dan diperkirakan berumur sekitar 4 abad ini masih terawat rapi. Meski tampak lusuh namun isinya masih tetap dapat dibaca. Dengan menggunakan huruf Arab pegon dan bahasa Melayu, Hikayat dari abad ke 13-15 M ini menjadi bukti nyata bahwa peringatan Asyura dan kisah tentang kesyahidan Imam Husein telah ada di negeri kita sejak awal masuknya Islam ke Nusantara.

Saat berkunjung ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (23/10), melihat d
an membaca langsung Hikayat tersebut, Tim ABI Press mendapati kisah kesyahidan Imam Husein ketika 10 Muharam terdapat di halaman 186 baris ke enam hingga halaman 187.

Tertulis di sana bahwa pasukan Yazid lah yang telah membantai Imam Husein di padang Karbala.“Amir Husein di padang Karbala dikerubungi oleh segala kaum munafik. seperti orang memetik kembang, kepalanya pun diperceraikan daripada badannya.”

Sementara di halaman 190 Hikayat Muhammad Ali Hanafiyyah itu dikisahkan saat Imam Husein tiba di padang Karbala dengan paparan sebagai berikut:

“Diceritakan Amir Husein pun bertanya, hai tolongku apa nama padang ini? Maka kata segala sahabatnya,junjunganku padang inilah padang Karbala. Maka kata Amir Husein, wa
h inilah padang tempat kematianku itu, karena sabda Rasulullah saw, bahwa kematian Husein itu kepada padang Karbala, maka kata Amir Husein, qolu innalillahi wa inna ilaihi roji’un.“

Peringatan Asyura Dalam Hikayat Melayu

Bukan hanya cerita tentang Imam Husein yang syahid di padang Karbala saja, Hikayat ini pun menjelaskan tentang acara peringatan 10 Muharam atau Asyura pada masa itu di berbagai daerah di Nusantara yang dalam pelaksanaannya terbagi menjadi dua jenis.

Peringatan pertama yang lebih bersahaja dilakukan di sejumlah wilayah di Nusantara seperti di Pulau Jawa, Madura, Sulawesi Selatan dan Aceh. Di Jawa dan Madura peringatan 10 Muharram atau Asyura disebut dengan Hari Suro atau Asuro. Sementara di Aceh, Asyura disebut dengan hari Hasan dan Husin, yang pada malam harinya diadakan pengajian atau majlis dengan mendengarkan pembacaan Hikayat Muhammad Ali Hanafiyyah yang menceritakan tentang tragedi Karbala.

Peringatan yang kedua adalah peringatan yang lebih mirip dengan di Iran atau India. Bentuk perayaan seperti ini dapat dijumpai di Sumatera Barat dan Bengkulu yang dimulai sejak abad ke-18 M, ketika Inggris menguasai Bengkulu dan membawa banyak warga Muslim Syiah dari daratan India.

Perayaan yang dilakukan dengan arak-arakan Tabut, melambangkan kesyahidan Imam Husein dengan diiringi rombongan musik yang melambangkan pasukan Imam Husein (Barkel 1975).

Maka Hikayat Muhammad Ali Hanafiyyah adalah salah satu fakta bahwa peringatan Asyura atau peringatan kesyahidan Imam Husein pada 10 Muharam telah lama ada bersamaan dengan masuknya Islam di Nusantara pada sekitar abad ke 13-15 M dan telah melekat, mendarah daging dengan Islam Nusantara.

Tapi, jika ternyata masih ada sebagian kelompok Islam di Nusantara yang berusaha untuk menyangkalnya, mungkinkah mereka tidak membaca sejarah?

Sumber:

http://www.syiahmenjawab.com/peringatan-asyura-dalam-manuskrip-nusantara/

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: