Tinggalkan komentar

“Manunggaling Kawulo lan Gusti” dari Realitas “Bhineka Tunggal Ika, Tan Hanna Dharma Mangrwa”

Bahasa kitanya, inilah “Manunggaling Kawulo lan Gusti” dari Realitas “Bhineka Tunggal Ika, Tan Hanna Dharma Mangrwa”, juga hadist “Anna inda dzani abdii.. (Aku (Tuhan) berada/akan menjadikan sesuatu sesuai dengan persangkaan Hamba-KU kepada-KU), atau Ucapan Firman Allah Ta’ala Dalam Hadits Qudsi,
“Aku Adalah Pendengarannya Yang Dia Gunakan Untuk Mendengar.”
dan makna ayat al Qur’an “Laa Hauwa wa laa Quwwata illa billhi Aaliyiil Adzim

You are a vibrational and energy being that came to this reality in a physical form; this energy stems from The Source that created your body. You deactivate your divine manifestation when you doubt. The Source can only respond to a Pure and Coherent desire not tainted by doubt and contradiction. Do you know that you create by your thoughts and manifest by your emotions and feelings. There is an inner energy; human emotions have the ability to change the shape of the DNA.

Positive emotions are hundred times more powerful than negative emotions. The happier you are the more DNA becomes relaxed and stronger. Your thoughts impact water as well. Always send positive thoughts and bless the water you drink. Let your state of being be love and joy. Be centered in your heart, always vibrate and practice these spiritual fruits: first Forgiveness, Gratitude, Appreciation, Happiness, Bliss ; all positive feelings of Kindness, Compassion, Love, Joy, Peace and Harmony.

Please watch full screen.

Blessings of the Cosmos

Gratitude to Manifestation Productions.

 

Apakah anda dapat menjelaskan hadits berikut ini? Allah Ta’ala berfirman, “Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya dari-Ku. Tidak ada yang paling Aku cintai dari seorang hamba kecuali beribadah kepada-Ku dengan sesuatu yang telah Aku wajibkan kepadanya. Adapun jika hamba-Ku selalu melaksanakan perbuatan sunah, niscaya Aku akan mencintanya. Jika Aku telah mencintainya, maka (Aku) menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengannya, (Aku) menjadi penglihatan yang dia melihat dengannya, menjadi tangan yang dia memukul dengannya, menjadi kaki yang dia berjalan dengannya. Jika dia memohon kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan dan jika dia minta ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni, dan jika dia minta perlindungan kepada-Ku, niscaya akan Aku lindungi.”
Bagian yang ingin saya tanyakan adalah, “Aku adalah pendengaran yang dengannya dia mendengar dan penglihatannya yang dengannya dia melihat dan tangannya yang dengannya dia memukul dan kaki yang dengannya dia berjalan..”
Alhamdulillah
Makna dari potongan hadits tersebut adalah bahwa seorang hamba beriman, jika dia bersungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala dalam menjalankan perbuatan-perbuatan yang diwajibkan, kemudian dia juga melaksanakan perbuatan-perbuatan sunnah, maka Tuhannya akan mendekat kepadanya dan mengangkat derajatnya dari derajat keimanan menjadi derajat ihsan.
Sehingga orang tersebut beribadah kepada Allah seakan-akan dia melihat-Nya. Hatinya penuh dengan mengenal Tuhannya, mencintai dan mengagunginya, takut dan gentar terhadap-Nya. Jika hatinya telah penuh dengan itu semua, maka hilanglah ketergantungannya terhadap segala sesuatu selain Allah dan tidak ada ketergantungan hamba terhadap sesuatupun berdasarkan hawa nafsunya. Tidak ada yang dia kehendaki selain apa yang dikehendaki Tuhannya.
Maka ketika itu, seorang hamba tidak berucap selain untuk mengingat-Nya, tidak bergerak selain dengan perintah-Nya. Jika dia berbicara, dia berbicara dengan Allah, jika dia mendengar, dia mendengar dengan Allah. Jika dia melihat, dia melihat dengan Allah. Maksudnya dengan taufik Allah kepada-Nya dalam semua perkara tersebut. Maka dia tidak mendengar selain apa yang Allah cintai, dia tidak melihat selain apa yang Allah ridhai. Tangannya tidak memukul dan kakinya tidak berjalan selain apa yang diridahi Allah sebagai Tuhannya.
Maknanya bukan Allah sebagai pendengarannya, Allah sebagai penglihatannya dan Allah sebagai tangan dan kakinya, Maha Suci Allah dari pemahaman tersebut, karena Allah Ta’ala berada di atas Arasy, dia Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya. Akan tetapi maksudnya adalah bahwa Dia memberi taufiq dalam pendengaran, penglihatan, jalannya dan genggamannya. Karena itu, terdapat dalam riwayat lain, Allah Ta’ala berfirman,
فَبِي يَسْمَعُ وَبِي يُبْصِرُ وَبِي يَبْطِشُ وَبِي يَمْشِي
“Dengan-Ku dia mendengar, dengan-Ku dia melihat, dengan-Ku dia memukul, dengan-Ku dia berjalan.”
Maksudnya adalah bahwa Dia (Allah) memberinya taufiq dalam seluruh amal dan ucapannya, pendengaran dan penglihatannya. Inilah makna yang dimaksud oleh Ahlussunnah wal Jamaah. Ditambah pula bahwa Allah akan mengabulkan doanya, jika dia meminta, Allah akan memberikan permintaannya. Jika dia meminta tolong kepada-Nya, Allah akan menolongnya, jika dia minta perlindungan kepada-Nya, maka Dia akan melindunginya.” (Jami Ulum wal Hikam, 2/347, Fatawa Nurun Alad-Darb, kaset 10, Syekh Ibn Baz rahimahullah)
Siapa yang memberikan makna selain ini, dia telah berbuat maka dia telah berlaku zalim dan melampui batas terhadap kedudukan Allah serta bertentangan dengan apa yang dikenal dalam percakapan Arab serta apa yang mereka pahami untuk ungkapan seperti itu.
Syekh Ibnu Utsaimin berkata dalam Majmu Fatawanya (1/145), “Anda dapat saksikan bahwa Allah Ta’ala telah menyebutkan adanya yang menyembah dan yang disembah, yang beribadah dan diibadahi, pencinta dan yang dicinta, yang meminta dan yang diminta, yang memberi dan yang diberi, yang memohon perlindungan dengan yang memberikan perlindungan. Hadits ini menunjukkan ada dua pihak yang berbeda, yang satu bukan yang lain. Jika demikian halnya, maka zahir sabda beliau, “Aku adalah pendengarannya dan penglihatannya, tangannya dan kakinya.” Tidak menunjukkan bahwa sang pencipta adalah bagian dari makhluk, atau bagian dari sifatnya, maha suci Allah dari yang demikian itu.
Akan tetapi, hakekat yang tampak dari hadits tersebut adalah bahwa Allah Ta’ala mengarahkan seorang hamba dalam pendengaran dan penglihatan dan pukulannya. Maka pendengarannya karena Allah Ta’ala dengan ikhlas dan memohon pertolongan kepada-Nya, mengikuti syariat dan ajarannya, demikian pula dengan penglihatannya dan jalannya.”.
Orang yang mencintaiNYA (Waliyullah/Santo) adalah Co-Creator (yang alam semesta tunduk kepada-“NYA”, karena ia telah ter-sibghah/tercelup/ Fana-Baqo fillah/Moksa/Tilem/Ngahyang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: