Tinggalkan komentar

GURU SPIRITUAL: Mukjizat, Misteri dan Otoritas : Para perampok di Jalan Tuhan

GURU SPIRITUAL: Mukjizat, Misteri dan Otoritas

Kasus Anand Khrisna dulu, sempat bikin saya gak percaya. Pernah ikutan meditasi bersama dia, walau cuma sekali. Saat itu, cukup terpesona dengan tutur kata dan intonasi suaranya yg bikin damai telinga (ini serius loh). Lalu, sekarang muncul lagi kasus guru spiritual model Gatot Brajamusti.

Setelah ngoprek2 Google, akhirnya ketemu juga tulisan Kang Jalal tentang fenomena ini. Saya pernah baca ini beberapa tahun lalu saat beliau jadi dosen saya untuk kuliah Islamic Mysticism. Cukup menohok sih…
Sila dibaca!

————-
Para perampok di Jalan Tuhan

Oleh Jalaluddin Rakhmat

“Sects and Errors are synonymous. If you are a peripatetic and I am Platonist, then we are both wrong, for you combat Plato only because his illusions offend you, and I dislike Aristotle only because it seems to me that he doesn’t know what he’s talking about”
—Voltaire, Philosophical Dictionary.

“Aku tidak bisa melepaskan diri dari bayangan guruku. Ia masuk dalam mimpi-mimpiku. Pada suatu malam aku pernah terbangun. Aku duduk dalam lingkaran. Di situ ada guruku, Nabi Muhammad, Tuhan, dan Yesus. Guruku menyebutku Hafshah, salah seorang istri Nabi Muhammad. Aku pernah melihat Nabi Muhammad datang kepadaku; memanggilku dengan mesra. Pendeknya, kemudian terjadilah pergaulan suami-istri antara Hafshah dan Nabi Muhammad. Beberapa saat setelah itu, aku baru sadar bahwa Hafshah itu aku dan Nabi Muhammad itu adalah guruku itu,”

Helen, bukan nama sebenarnya, mengadukan nasibnya kepadaku.

Helen sarjana dan profesional. Ia cerdas dan kaya. Ketika ia mulai tertarik pada hal-hal spiritual, kawannya membawanya ke pengajian tasawuf. Ia diperkenalkan kepada seorang ustad. Bukan ustad terkenal. Tampaknya ustad itu tidak mengisi pengajian umum. Ia memusatkan pengajarannya pada komunitas khusus dengan tema khusus. Di seluruh alam semesta, hanya dia yang mempunyai pengetahuan khusus, ilmu makrifat. Ia mau berbagi ilmu makrifat itu hanya kepada manusia-manusia pilihan yang ingin berjumpa dengan Tuhan. Dengan mengamalkan
ritus-ritus tertentu—berzikir, berpuasa, dan bersemadi— Helen berhasil “melihat” Tuhan. Berkali-kali sesudah itu, ia mengalami “trans”. Dia bukan hanya berjumpa dengan Tuhan. Ia juga dapat berkencan dengan para nabi.

Makin “dalam” pengalaman rohaniahnya, makin bergantung dia kepada sang ustad. Helen yang cerdas kehilangan daya kritisnya ketika ia mendengar kalimat-kalimat gurunya. Ia berikan apa pun yang dimintanya, mulai waktu, uang, kendaraan, rumah, sampai kehormatannya. Ia sudah menjadi ‘sujet’ di hadapan juru hipnotis.

Semua dilakukannya di bawah sadar, sampai ia disentakkan oleh salah satu kuliah psikologi. Sebuah buku dengan judul “Saints and Madmen” menyadarkan dia bahwa gurunya dan juga dia bukan orang suci, tapi orang gila. Ia bukan mengalami pengalaman rohaniah, tapi gangguan mental. Sayangnya, kesadaran itu muncul setelah ia kehilangan banyak.

Tak terhitung banyak orang seperti Helen. Manusia modern yang jenuh dengan materialisme gersang. Ia merindukan pengalaman rohaniah. Ada yang kosong dalam jiwanya. Kekosongan itu tidak bisa diisi dengan seks, hiburan, kerja, bahkan ajaran-ajaran agama yang dianut oleh kebanyakan masyarakat. Ia ingin `getting connected’ dengan Yang Illahi. Ia sudah kecapaian dengan logika dan angka. Ia ingin meninggalkan dunia yang dingin dan kusam menuju alam yang hangat dan cemerlang. Ia ingin mendapat —sebut saja— pencerahan rohaniah. Ia tidak
mendapatkannya dalam institusi-institusi agama.

Dalam kerinduan spiritual itu, muncullah guru. Ia menawarkan pengalaman rohaniah yang “instan”. Kalau kamu sudah kecapaian dengan logika dan angka, masuklah bersama guru ke dalam dunia rasa dan percaya. Bunuh rasionalitas dan tumbuhkan spiritualitas (seakan-akan keduanya bertentangan). Dengan memanipulasi ajaran-ajaran esoterik dalam setiap agama, guru menegaskan —sambil mengutip Rumi— ”di negeri cinta, akal digantung”.

Kalau akal sudah digantung, terbukalah peluang bagi guru untuk memanipulasi pikiran para pengikutnya. Aku menemukan bahwa teknik-teknik menggantung akal yang dilakukan para guru itu sepenuhnya melaksanakan nasihat Dostoyevsky dalam The Brother of Karamazov: Ada tiga kekuatan, dan hanya tiga, yang dapat menaklukkan dan melumpuhkan semangat para pemberontak ini. Yang tiga itu ialah mukjizat, misteri, dan otoritas.  Tentu saja hampir tidak ada di antara para guru itu yang membaca Dostoyevsky.

Mukjizat sebenarnya adalah kumpulan dari halusinasi, ilusi, dan delusi. Guru menciptakannya dengan “merusak” otak pengikutnya melalui ritual yang aneh-aneh. Salah satu teknik yang paling populer dan
paling efektif adalah pengurangan waktu tidur (sleep deprivation), apalagi bila dibarengi dengan tidak makan (food deprivation). Dalam keadaan normal, otak kita mensintesiskan “pil tidur alamiah” sepanjang waktu bangun kita. Sesuai dengan ritme biologis, kita tidur pada waktu malam. Karena deprivasi tidur, pil tidur alamiah itu berakumulasi dan bermetabolasi menjadi produk-produk beracun. Lalu timbullah mula-mula gangguan mood —pergantian antara euforia dan depresi. Menyusul gangguan mata yang menimbulkan halusinasi (melihat cahaya dan benda-benda bergerak), delusi, dan puncaknya disorganisasi pikiran (sederhananya, gangguan jiwa). Seperti pengurangan tidur, guru juga menciptakan pengalaman rohaniah dengan upacara, seperti latihan masuk kubur, gerakan kolektif yang berulang-ulang, atau penggunaan obat-obat kimiawi. Murid mengira mereka mengalami
pengalaman gaib. Ahli neurologi menyebutnya kerusakan otak (brain damage).

Karena pengalaman rohaniah yang mereka alami, mereka merasa dibawa ke alam gaib. Di sekitar kehidupan guru berkumpul berbagai misteri. Guru pemilik ilmu-ilmu yang sangat rahasia. Guru malah mengembangkan
bahasa sendiri. Istilah-istilah agama diberi makna baru. Perjalanan bersama guru adalah perjalanan menyingkap tirai-tirai kegaiban. Murid tidak bisa menyingkap rahasia itu tanpa bimbingan guru. Seperti kata Dostoyevsky, dengan menggabungkan mukjizat, misteri, dan otoritas, bertekuklah jiwa-jiwa kritis ke kaki sang Pembawa Pencerahan.

Helen sekarang sadar bahwa ia telah jatuh kepada perampok di jalan Tuhan. Hati-hati, dalam perjalanan menuju pencerahan jiwa, Anda akan disabot oleh apa yang disebut Jean Marie-Abgrall sebagai Soul Snatchers, para pencuri jiwa.

Helen masih berjuang menyembuhkan luka- luka jiwanya; sebenarnya kerusakan dalam otaknya. Aku menganjurkan dia untuk berobat ke psikiater. Ia menolaknya.

Lama aku kehilangan Helen. Secara kebetulan, aku menemuinya dalam satu acara. Aku menanyakan mengapa ia tidak lagi mengontak aku. Ia menarik aku ke tempat sepi. Dengan muka yang penuh ketakutan, ia berbisik: gurunya sudah tahu bahwa ia telah melaporkan keadaannya kepadaku. Ia mendapat ancaman. Ia diperingatkan agar memutuskan semua hubungan dengan masyarakat di luar komunitasnya.

Bersamaan dengan hilangnya Helen, Juliet Howell, peneliti sufisme urban, muncul lagi di hadapanku. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, dia mewawancaraiku perihal tasawuf di masyarakat kota. Waktu itu aku menyelenggarakan kelas-kelas tasawuf di daerah elite. Kali ini dia bertanya tentang pengalamanku membina tasawuf. Ia juga bertanya tentang yayasan kajian tasawuf yang aku kelola. Aku bilang aku sudah tidak lagi berurusan dengan tasawuf. Ia bertanya tentang muridku yang paling “sufi”. Aku jawab,” Ia sudah mencapai makrifat setelah belajar
dikuburkan hidup-hidup”. Howell mendesak bagaimana caranya membedakan gerakan tasawuf yang benar dengan gerakan para perampok di jalan Tuhan. “Gunakanlah ukuran UUD dan UUS,” jawabku, “apabila Anda menemukan gerakan itu ujung-ujungnya duit atau ujung-ujungnya seks, anda sudah disimpangkan dari jalan Tuhan.

Ada dua juga yang membedakan saints dengan madmen: bila setelah mendapat pengalaman rohaniah, Anda merasa diri Anda rendah dan bergairah untuk menyebarkan kasih ke seluruh alam, Anda adalah orang suci. Bila Anda merasakan diri Anda lebih saleh daripada semua orang dan Anda hanya bergairah untuk mengasihi guru Anda, Anda adalah orang gila. Anda sudah masuk perangkap Soul-Snatchers. Gitu aja, kok repot! [ ]

 SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
17 Komentar
Komentar
Sarah Santi
Sarah Santi terima kasih sudah share tulisan Kang Jalal yang luar biasa. Saya izin share ya….
Suka · Balas · 1 · 17 jam

 

Maya Stary
Maya Stary Wow keren nih bun, aku jg izin share yaa..
Suka · Balas · 1 · 12 jam

 

Ali Nugroho
Ali Nugroho Keren kesimpulannya, seharusnya d republish, tapi pasti ditolak karena kang jalalnya 🙂,
Suka · Balas · 1 · 11 jam

 

Teten Ali Imron membalas · 4 Balasan · 3 jam
Ita Siregar
Ita Siregar Ini penjelasan keren.
Suka · Balas · 1 · 11 jam

 

Icha Amir
Icha Amir Wow….pemaparan yg keren abis dari pak Jalal….
Suka · Balas · 1 · 11 jam

 

Amna
Amna Izin share ya

 

Hendro Nugroho Herdijanto
Hendro Nugroho Herdijanto hihihii… murid & guru sama2 gila. Cocok weees….

 

Tantan Hermansah
Tantan Hermansah Tulisan bagus. Inspiratif.
Suka · Balas · 1 · 10 jam

 

Luthfiyah Baskoro Adjie
Luthfiyah Baskoro Adjie Terimakasih utk tulisannya. Sangat mencerahkan.
Suka · Balas · 1 · 9 jam

 

Guh Kun
Guh Kun Yg terakhir (setelah Voltaire) tulisan siapa mbak

 

Erliyani Manik
Erliyani Manik Yg mana mas? Dari mulai kutipan Voltaire sampai “…..Gitu aja kok repot?” Itu tulisan kang Jalal yg aku copas dari blog seorang teman yg dulu teman sekelas di kuliah beliau.

 

Ahmad Yanuana Samantho
Tulis balasan…
Ninik Moechiyat
Ninik Moechiyat Kereen…
Suka · Balas · 1 · 9 jam

 

Irfan Permana P
Irfan Permana P Tulisan KJ selalu super

 

Erliyani Manik
Erliyani Manik Aku panggilnya JR.

 

Ahmad Yanuana Samantho
Tulis balasan…
Essie Firdawatie
Essie Firdawatie bener banget….gw pernah mengantarkan temen ke acara komunitas seperti ini…gila..mereka bener2 percaya yang mereka panggil GURU ini…sampai2 mereka melepaskan pekerjaannya…mereka bercerai dengan pasangannya..dan bahkan menjual semua harta benda …seharusnya ini juga termasuk kejahatan yang harus diperhatikan oleh pemerintah kita….

 

Erliyani Manik
Erliyani Manik Wah.. Sounds so creepy…😁.
Banyak yah kelompok2 model begini.

 

Essie Firdawatie
Essie Firdawatie iya.. kalo kelompok temen gw ini juga dipimpin oleh ustadz yang mereka panggil pak Haji…tujuannya untuk mengambil kekayaan Ratu laut selatan..hahahahaha…gila yahhh

 

Ahmad Yanuana Samantho
Tulis balasan…
Rahmi Effendi
Rahmi Effendi soul-snatchers…like this idiom..bukan cm pncuri hati ya. ahay..
Suka · Balas · 2 · 6 jam

 

Husein Muhammad
Husein Muhammad Ini amat keren.

 

Siti Rodiah
Siti Rodiah Balik lagi ke asal saat kecil kt cari guru ngaji yg pandai dan Indah dalam melantunkan ayat2 allah bukan yg pandai berbicara tp nol nilai nya

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: