Tinggalkan komentar

SUNDA=>NUSANTARA=>INDONESIA.

SUNDA=>NUSANTARA=>INDONESIA.
—————————————————-
Edi S. Ekajati, Bandung, 25 September 1995.
—————————————————–

Foto Jro Mangku Danu.Secara historis, Ptolemaeus, ahli ilmu bumi bangsa Yunani, merupakan orang pertama yang menyebut kata Sunda sebagai nama tempat. Dalam buku karangannya yang ditulis sekitar tahun 150 Masehi ia menyatakan ada tiga buah pulau yang dinamai Sunda yang terletak di sebelah timur India (Atmamihardja, 1958: 8). Kiranya berdasarkan informasi dari Ptolemaeus inilah, ahli-ahli ilmu bumi Eropa kemudian menggunakan kata Sunda untuk menamai wilayah dan beberapa pulau yang terletak di sebelah timur India.

Ahli geologi Belanda R.W. Van Bemmelen menjelaskan bahwa Sunda adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menamai suatu dataran bagian baratlaut India Timur, sedangkan dataran bagian tenggaranya dinamai Sahul. Dataran Sunda dikelilingi oleh sistem Gunung Sunda yang melingkar (sircum-Sunda Mountain System) yang panjangnya sekitar 7.000 km. Dataran Sunda itu terdiri atas dua bagian utama, yaitu (1) bagian utara yang meliputi kepulauan Filipina dan pulau-pulau karang sepanjang Lautan Pacifik bagian barat serta (2) bagian selatan yang terbentang dari barat ke timur sejak Lembah Brahmaputera di Assam (India) hingga Maluku bagian selatan. Selanjutnya, dataran Sunda itu bersambung dengan sistem Gunung Himalaya di Barat dan dataran Sahul di timur (Bermmelen, 1949:2-3).

Selanjutnya, sejumlah pulau yang kemudian terbentuk di dataran Sunda diberi nama dengan menggunakan istilah Sunda juga, yakni Kepulauan Sunda Besar dan kepulauan Sunda Kecil. Yang dimaksud dengan Kepulauan Sunda Besar ialah himpunan pulau-pulau yang berukuran besar yang terdiri atau pulau-pulau: Sumatra, Jawa, Madura dan Kalimantan. Adapun Kepulauan Sunda Kecil merupakan gugusan pulau-pulau: Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor (Bermmelen, 1949:15-16). Namun kemudian istilah Sunda Besar dan Sunda Kecil tidak dipakai lagi dalam percaturan Ilmu Bumi Indonesia.


…Selengkapnya dapat di Download dalam bentuk file pdf :

Komentar
Kalender-Indonesia.Com adalah situs yang menyajikan empat jenis kalender, yaitu: Masehi, Hijriyah, Jawa,…
KALENDER-INDONESIA.COM|OLEH AGUNG NOVIAN
Agus WirabudimanAgus Wirabudiman Porf. Edi Ekadjati, menyatakan bahwa Sunda sebagai nama tempat, pertama kali digunakan oleh seorang ahli bumi Yunani bernama Ptolemaeus yang menggunakan istilah itu pada abad ke-2 Masehi untuk menyebutkan tiga pulau yang terletak di sebelah timur India. Kemudian van Bemmelen (1949) seorang geolog dari Belanda mengatakan hal hampir sama, bahwa Sunda adalah istilah yang digunakan untuk menamai daratan bagian barat laut India Timur, sedangkan bagian tenggaranya dinamai Sahul. Dataran Sunda menurutnya, dikelilingi sistem Gunung Sunda yang melingkar dengan panjangnya sekitar 7000 km.

Sunda merujuk kepada nama Gunung purba lebih lanjut diungkapkan oleh Gona (1973) yang menyebut bahwa pada mulanya kata Sunda merupakan nama sebuah gunung yang menjulang tinggi di bagian barat Pulau Jawa. Gunung itu dari jauh tampak putih karena tertutup abu asal gunung tersebut. Kemudian nama tersebut diterapkan pula pada wilayah gunung itu berikut penduduknya. Beberapa pihak ada juga menyebutkan bahwa Keberadaan Gunung Sunda Purba 100 juta tahun yang lalu. Umumnya pendapat yang menyoal keberadaan gunung Sunda ada pada periode Pleistosen (2,8 juta-12.000 tahun lalu).
http://www.wacananusantara.org/sundaland/

Istilah Sundaland digunakan dalam studi Biogeografi…
WACANANUSANTARA.ORG|OLEH WACANA NUSANTARA

 

Agus WirabudimanAgus Wirabudiman “Sunda, Kujang, Keris, Nusantara dan Nagara (Menyingkap Tabir Serpihan Sejarah Perjalanan Leluhur)
Hunggg…..Ahunggg
Om Swastyastu
Sampurasun
Hong Basuki Langgeng
Peradaban “Sunda” telah ada antara 30.000-12.000 tahun Sebelum Masehi, jauh lebih tua dari peradaban bangsa Mesir (6000 SM). Namun demikian perlu dipahami terlebih dahulu bahwa istilah “SUNDA” sama sekali bukan nama etnis (suku) yang tinggal di Jawa Barat, sebab Sunda merupakan nama wilayah besar yang ditimbulkan oleh adanya ajaran “SUNDAYANA” (yana=ajaran) yang disebarluaskan oleh Maharaja Resi Prabhu Sindhu-La-Hyang (bapak dari Da Hyang Su-Umbi=Dayang Sumbi). Inti ajaran Prabhu Sindhu atau Sintho (di Jepang) dan di India menjadi HINDU (Hindus) adalah ajaran ‘budhi-pekerti’ dan ketata-negaraan yang disebut sebagai La-Hyang Salaka Domas dan La-Hyang Salaka Nagara.
Sebenarnya negara kita memiliki beberapa nama, namun pada umumnya bangsa Indonesia hanya mengenal nama “Nusantara” saja, padahal awalnya bernama: “Dirgantara” kemudian menjadi “Swargantara” lalu menjadi “Dwipantara” setelah itu menjadi “Nusantara” dan kini disebut “Indonesia”.
Lalu apa kaitannya dengan Kujang? Kenapa pula dianggap Kujang lebih tua dari Keris? dan apa sebabnya Kujang sering dikaitkan dengan Sunda? oleh sebab-sebab itulah kita harus melihat runtun kejadian di negara kita melalui catatan sejarah dan bukan mithos.
Pada dasarnya penggambaran Kujang itu sama dengan Garuda Pancasila di jaman sekarang. Artinya, kujang sama dengan lambang negara yang mengandung inti ajaran kenegaraan (ideologi bangsa) atau ageman (agama) bangsa.
Kujang merupakan simbol “Api” (atau Ra = api kehidupan) bagi masyarakat pegunungan (dataran tinggi), dan kelak ketika negera ini mengembangkan diri menjadi Kerajaan Maritim maka lahirlah bentuk Keris sebagai simbol Air (Naga atau dunia wanita/Ibu atau Ibu Pertiwi).
Singkatnya, Kujang sebagai “Ra” dan Keris sebagai “Naga”, maka terbentuklah konsep NAGA dan RA, lalu kita menyebutnya sebagai NAGARA atau NEGARA.
Jaman Dirganta-Ra (Wilayah api kehidupan yang bercahaya) artinya Kujang dijadikan sebagai simbol Batara Durga (Api yang memberi kehidupan).
Jaman Swarganta-Ra (Wilayah kehidupan mandiri yang bercahaya) artinya Kujang = sebagai simbol Matahari (Sang Hyang Manon).
Jaman Dwipanta-Ra (Kehidupan Negeri Cahaya Kembar / Merah-Putih) artinya Kujang = sebagai simbol ajaran cahaya (merah/api/matahari) atau Salaka Domas, dan Keris = sebagai simbol negara air (maritim) atau Salaka Nagara artinya lahirnya konsep CAHAYA KEMBAR (Dwi) Naga dan Ra dengan simbol Kujang dan Keris atau Merah dan Putih (Vertikal dan Horisontal).
Maka itu sebabnya pula Prabhu Air Langga (tahun 1000 Masehi) disimbolkan mengendarai Garuda Wisnu (Menunggang seekor burung yang berdiri (bertumpu) di atas Naga/ular) yang mensiratkan era Banjaran Nagara.
Jaman Nusantara (Gerak/Kehidupan Manusa Cahaya) artinya menggambarkan lahirnya Panji Cahaya (Bende-Ra) sebagai lambang Negara (bendara Merah-Putih). Sebagai negara Maritim dalam era ini Keris lebih banyak berperan dibandingkan Kujang. Pada zaman ini dikenal sebagai era Pajajaran Nagara.
Jaman Indonesia (konsep negara Re-Publik), kerajaan diruntuhkan dan direbut atau dirampok oleh rakyat (Ra-Hayat).
* Kujang = simbol Batara Durga = simbol Dewa Api = simbol negara Matahari = simbol Salaka Domas = simbol Merah = Horisontal
* Keris = simbol Dewa Air = simbol negara Maritim = simbol Salaka Nagara = simbol Putih = Vertikal
Dengan demikian makna “Bende-Ra” sama sekali jauh berbeda dengan “flag” (bahasa Inggris) sebab Merah-Putih adalah lambang kehidupan keagamaan dan kenegaraan bangsa yang telah mampu menciptakan sistem tanda yang agung. Keunggulan dan keagungan suatu bangsa ditandai oleh kemampuan mereka dalam menciptakan sistem tanda untuk berkomunikasi, dan bangsa kita sudah melakukannya sejak ribuan tahun lalu….!
Pun Sapun…Paralun
Ka pupunclak Agung
Sang Rama, Sang Ratu, Sang Resi
Sabab geus loba anu nyambat ka Pajajaran
Kaula nyatur sabab Kujang geus aya anu neang
Rahayu Rahayu Rahayu
Om Santih Santih Santih Om
♡ Jro Mangku Danu©
* Disarikan dari: Yuganing Raja Kawasa
Sumber :
https://www.facebook.com/Manuk.Tunggal/posts/10206894247575628

Foto Jro Mangku Danu.
Foto Jro Mangku Danu.
Foto Jro Mangku Danu.

Jro Mangku Danu menambahkan 3 foto baru — bersama Suncana Diana Purbasari dan 23 lainnya.

16 jam ·

“Sunda, Kujang, Keris, Nusantara dan Nagara (Menyingkap Tabir Serpihan Sejarah Perjalanan Leluhur)

Hunggg…..Ahunggg
Om Swastyastu
Sampurasun
Hong Basuki Langgeng

Peradaban “Sunda” telah ada antara 30.000-12.000 tahun Sebelum Masehi, jauh lebih tua dari peradaban bangsa Mesir (6000 SM). Namun demikian perlu dipahami terlebih dahulu bahwa istilah “SUNDA” sama sekali bukan nama etnis (suku) yang tinggal di Jawa Barat, sebab Sunda merupakan nama wilayah besar yang ditimbulkan oleh adanya ajaran “SUNDAYANA” (yana=ajaran) yang disebarluaskan oleh Maharaja Resi Prabhu Sindhu-La-Hyang (bapak dari Da Hyang Su-Umbi=Dayang Sumbi). Inti ajaran Prabhu Sindhu atau Sintho (di Jepang) dan di India menjadi HINDU (Hindus) adalah ajaran ‘budhi-pekerti’ dan ketata-negaraan yang disebut sebagai La-Hyang Salaka Domas dan La-Hyang Salaka Nagara.

Sebenarnya negara kita memiliki beberapa nama, namun pada umumnya bangsa Indonesia hanya mengenal nama “Nusantara” saja, padahal awalnya bernama: “Dirgantara” kemudian menjadi “Swargantara” lalu menjadi “Dwipantara” setelah itu menjadi “Nusantara” dan kini disebut “Indonesia”.

Lalu apa kaitannya dengan Kujang? Kenapa pula dianggap Kujang lebih tua dari Keris? dan apa sebabnya Kujang sering dikaitkan dengan Sunda? oleh sebab-sebab itulah kita harus melihat runtun kejadian di negara kita melalui catatan sejarah dan bukan mithos.

Pada dasarnya penggambaran Kujang itu sama dengan Garuda Pancasila di jaman sekarang. Artinya, kujang sama dengan lambang negara yang mengandung inti ajaran kenegaraan (ideologi bangsa) atau ageman (agama) bangsa.

Kujang merupakan simbol “Api” (atau Ra = api kehidupan) bagi masyarakat pegunungan (dataran tinggi), dan kelak ketika negera ini mengembangkan diri menjadi Kerajaan Maritim maka lahirlah bentuk Keris sebagai simbol Air (Naga atau dunia wanita/Ibu atau Ibu Pertiwi).
Singkatnya, Kujang sebagai “Ra” dan Keris sebagai “Naga”, maka terbentuklah konsep NAGA dan RA, lalu kita menyebutnya sebagai NAGARA atau NEGARA.

Jaman Dirganta-Ra (Wilayah api kehidupan yang bercahaya) artinya Kujang dijadikan sebagai simbol Batara Durga (Api yang memberi kehidupan).

Jaman Swarganta-Ra (Wilayah kehidupan mandiri yang bercahaya) artinya Kujang = sebagai simbol Matahari (Sang Hyang Manon).

Jaman Dwipanta-Ra (Kehidupan Negeri Cahaya Kembar / Merah-Putih) artinya Kujang = sebagai simbol ajaran cahaya (merah/api/matahari) atau Salaka Domas, dan Keris = sebagai simbol negara air (maritim) atau Salaka Nagara artinya lahirnya konsep CAHAYA KEMBAR (Dwi) Naga dan Ra dengan simbol Kujang dan Keris atau Merah dan Putih (Vertikal dan Horisontal).

Maka itu sebabnya pula Prabhu Air Langga (tahun 1000 Masehi) disimbolkan mengendarai Garuda Wisnu (Menunggang seekor burung yang berdiri (bertumpu) di atas Naga/ular) yang mensiratkan era Banjaran Nagara.

Jaman Nusantara (Gerak/Kehidupan Manusa Cahaya) artinya menggambarkan lahirnya Panji Cahaya (Bende-Ra) sebagai lambang Negara (bendara Merah-Putih). Sebagai negara Maritim dalam era ini Keris lebih banyak berperan dibandingkan Kujang. Pada zaman ini dikenal sebagai era Pajajaran Nagara.

Jaman Indonesia (konsep negara Re-Publik), kerajaan diruntuhkan dan direbut atau dirampok oleh rakyat (Ra-Hayat).

* Kujang = simbol Batara Durga = simbol Dewa Api = simbol negara Matahari = simbol Salaka Domas = simbol Merah = Horisontal

* Keris = simbol Dewa Air = simbol negara Maritim = simbol Salaka Nagara = simbol Putih = Vertikal

Dengan demikian makna “Bende-Ra” sama sekali jauh berbeda dengan “flag” (bahasa Inggris) sebab Merah-Putih adalah lambang kehidupan keagamaan dan kenegaraan bangsa yang telah mampu menciptakan sistem tanda yang agung. Keunggulan dan keagungan suatu bangsa ditandai oleh kemampuan mereka dalam menciptakan sistem tanda untuk berkomunikasi, dan bangsa kita sudah melakukannya sejak ribuan tahun lalu….!

Pun Sapun…Paralun
Ka pupunclak Agung
Sang Rama, Sang Ratu, Sang Resi
Sabab geus loba anu nyambat ka Pajajaran
Kaula nyatur sabab Kujang geus aya anu neang

Rahayu Rahayu Rahayu
Om Santih Santih Santih Om

Jro Mangku Danu©
* Disarikan dari: Yuganing Raja Kawasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: