Tinggalkan komentar

Kisah Dede, Pemuda Desa Sukses Ciptakan Kompor Bahan Bakar Air

Pengantar Ahmad Y. Samantho.

“Wah, penemuan ini bisa memicu revolusi energi dunia. Dede harus segera diamankan (dilindungi) oleh TNI-Polri dan Semua Aparat NKRI dari ancaman keamanan oleh konspirasi mafia BBM Global. Teknik kimia ini lebih praktis dan efisien daripada proses elektrolisis air maupun difusi permeable atau proses kimia dengan reaksi Aluminium + Soda Api + Air (H20) yg pernah saya lakuklan eksperimennya.” 

WIRAUSAHA MUDA MANDIRI 2015

Kisah Dede, Pemuda Desa Sukses Ciptakan Kompor Bahan Bakar Air

Dari teknologi yang diciptakan itu Dede sudah menghasilkan ratusan juta rupiah.

By Rohimat Nurbaya4 Mei 2016 10:11

Money.id – ‘Jangan menilai buku dari sampulnya karena Anda tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk mencari tahu apa yang ada di dalamnya’. Peribahasa itu sangat cocok untuk menggambarkan sosok Dede Miftahul Anwar (22). Sepintas penampilannya terlihat sederhana dan ‘culun’ namun kemampuannya di bidang ilmu pengetahuan dan bisnis sangat luar biasa.

Saat mengikuti salah satu rangkaian acara bernama ‘Program Inkubasi Usaha’ yang digelar Bank Mandiri di Kawasan Plaza Senayan, Jakarta, Dede tampak percaya diri mengenakan kemeja biru berbahan katun. Dipadu dengan celana bahan hitam dan sepatu gunung.

Tak lupa dia menenteng tas laptop yang tampak lusuh. Penampilan mahasiswa asal Subang, Jawa Barat tersebut terlihat kontras dengan pengunjung lain di pusat perbelanjaan elite itu.

Plaza Senayan memang termasuk salah satu mall yang biasa didatangi kalangan menengah ke atas. Barang-barang dijual di sana pun relatif mahal. Sepatu saja paling murah bisa di atas Rp500 ribu.

Di sana, rata-rata pengunjung pria berpakaian sangat necis, tidak jarang yang berdasi dan mengenakan jas. Sedangkan pengunjung wanita lebih banyak yang berpenampilam trendi dengan rok mini dan pakaian seksi sangat menggoda. Meski penampilan Dede lihat paling sederhana namun rasa percaya diri dari dalam tubuhnya terpancar jelas.

“Saya asli Subang, bapak saya petani dan ibu saya buka warung,” ucap Dede saat berbincang dengan Money.id, di salah satu Coffe Shop di kawasan Plaza Senayan, Selasa 3 Mei 2016.

Dede Miftahul Anwar (Money.id)

Bila menilai Dede dari luar saja pasti akan terkecoh, dengan rambut disisir seadanya dan kumis tipis, orang akan menyangka dia hanya mahasiswa biasa yang datang dari desa. Namun, setelah mengobrol lebih dalam, kemampuan dan pengalaman Dede sangat luar biasa. Pemuda desa itu patut diacungi jempol dan harus diperhitungkan.

Saat ini Dede masih tercatat sebagai mahasiswa di Departemen Pendidikan Kimia, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) Universitas Pendidikan Indonesia.

Meski berasal dari sebuah desa di Kabupaten Subang, prestasi Dede sangat luar biasa. Dia menjadi juara pertama di ajang Wirausaha Muda Mandiri 2015 untuk bidang usaha teknologi non digital. Dede dianggap berhasil membuat produk sangat inovatif, kompor berbahan bakar air.

Seorang pengunjung mengoperasikan Kompor Sahabat Hemat Energi (Kosahegi) yang dipajang pada salah satu stand pameran Cooperative dan Halal Fair 2011 di Lap. Gasibu Bandung, Jawa Barat, Rabu (20/7). Kompor yang diproduksi di Desa Cimaung Banjaran Kab. Bandung tersebut berbahan bakar tiga liter air dan satu liter solar mampu menyala selama 6 jam, dijual mulai harga Rp350.000 hingga Rp800.000.  Apakah yang ini ciptaan Dede ? Belum ada keterangan.

“Saya melakukan penelitian, mengurai dua unsur yang ada dalam air. Jadi yang diambil gas hidrogen saja, oksigennya diendapkan,” ucapnya.

Pria berperawakan kecil tersebut menjelaskan, ada  yang diendapkan di dalam air sehingga yang diambil adalah gas hidrogennya saja. Dia menciptakan zat khusus untuk pengurainya. Karena menurutnya air terdiri dari dua unsur. Ketika zat ramuan Dede itu dicampur dengan air dengan sendirnya dua unsur itu langsung terpisah. Jadi gas hidrogen itu yang diolah menjadi bahan bakar.

“Zat kimia untuk pengurai itu sangat mudah di dapatkan dan ada di mana saja. Tinggal dicampur dengan air langsung terpisah antara oksigen dan hidrogen,” tuturnya. Namun Dede masih merahasiakan dari unsur apa saja zat pengurai itu dibuat.

NEXT>> Dipasarkan di Kampung

Dipasarkan di Kampung

Setelah temuan itu dipastikan bisa digunakan dan diapliksikan untuk pengganti kompor gas elpiji akhirnya Dede memberanikan untuk memasarkan di desa kelahirannya, Kampung Kerajan, Desa Cihambulu, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Tidak Tanggung-tanggung dia langsung mendirikan perusahaan bernama CV Energon Teknologi.

Di kampungnya Dede memang termasuk salah satu pemuda yang sukses, karena bisa duduk di bangku kuliah. Pasalnya, rata-rata pemuda seusianya hanya bisa sekolah hingga SMP dan paling tinggi SMA. “Dari angkatan saya sekolah hanya beberapa orang yang bisa meneruskan kuliah,” tegasnya.

Bagi warga Desa Cihambulu, bisa duduk di bangku kuliah adalah sebuah prestasi sangat membanggakan. Di desa itu, sekolah SMA saja tidak ada. Apabila ingin sekolah SMA harus bersedia sekolah di luar kota. “Saya dulu sekolah di Purwakarta,” ucap dia.

Berbekal itu semua akhirnya Dede memberanikan diri untuk menggandeng kelompok Karang Taruna yang ada di kampungnya. Dia memperagakan produk di balai desa dan meyakinkan kompor bahan bakar air itu bisa digunakan dengan sangat aman dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Awalnya memang sulit, tapi akhirnya 80 persen warga Desa Cihambulu mau menggunakan produk ciptaan saya,” jelasnya.

Guna memudahkan pelanggan, Dede juga membangun Saung Pengisian Bahan Bakar Hidrogen (SPBH). Jadi warga yang sudah menggunakan produk buatannya bisa mengisi ulang dengan mudah apabila sudah habis. Gas hidrogen yang diurai dari air itu dijual Rp10 ribu per tabung dan bisa digunakan hingga tiga minggu. “Ini lebih irit dari gas elpiji,” kata dia.

Memang, warga yang ingin menggunakan kompor bahan bakar air itu harus membeli tabung khusus dari stailess steel. Tidak bisa menggunakan tabung gas biasa. Harganya memang cukup mahal, namun dengan kecerdasannya dalam berbisnis Dede memberikan kredit kepada warga yang sudah niat menggunakan produk itu.

“Untuk tabung dan kompor saya ada vendor dibuat di Bandung. Harganya sih lumayan,” tutur Dede.

Namun, meski harga tabung dan kompor tidak murah, usaha yang dilakukan Dede dianggap sangat membantu warga Desa Cihambulu, karena ternyata akses masuk gas elpiji ke sana sangat sulit. Pasalnya, jalan menuju ke desa itu sangat sulit.

“Itu juga yang menjadi salah satu tekad saya ingin menciptakan gas berbahan bakar air ini,” imbuhnya.

Karena menurut Dede, apabila tidak ada gas warga di Desa Cihambulu harus harus memasak menggunakan kayu bakar. Sedangkan untuk mencarinya sangat sulit karena harus pergi ke hutan yang ada di sekitar sana.

Karena kelangkaan gas di kampungnya itu, dari hasil menjual teknologi kompor berbahan bakar air itu ratusan juta sudah didapatkan Dede. “Dari sejak didirikan dari 2015 hasilnya sudah lumayan lah,” ucapnya.

NEXT>> Segera Dipatenkan

Segera Dipatenkan

Meski kompor berbahan bakar air itu sudah banyak digunakan di Desa Cihambulu, tapi Dede belum berani memasarkannya secara luas. Saat ini dia sedang menunggu keluarnya hak paten dari Kementerian Riset Teknologi Dan Pendidikan Tinggi (Ristek Dikti).

“Saya ingin mematenkan dulu, baru akan merasa leluasa untuk memasarkannya,” ujarnya.

Dede mengaku, saat ini dia bersama rekan-rekan pengusaha dari Wirausaha Muda Mandiri terus berusaha supaya paten itu bisa cepat keluar. “Sayang sedang follow up terus, tapi masih belum ada hasil,” keluhnya.

Dia berharap, setelah hak paten untuk kompor berbahan bakar air itu keluar, dalam waktu singkat produknya bisa dikenal dan dinikmati di seluruh penjuru negeri. “Saya targetkan dua tahun bisa berkembang di Indonesia,” harap Dede.

Satu hal yang membebaninya ketika produk itu dipasarkan secara luas sebelum dipatenkan adalah ditiru oleh orang lain. Namun meski demikian Dede mengaku tidak takut dengan para duplikator yang bisa saja ‘membunuhnya’ dalam permainan bisnis teknologi itu.

“Kalau ada yang meniru, saya sudah punya antisipasinya. Sudah menyiapkan teknologi lebih canggih dari itu,” paparnya.

Apabila ada yang memang nekat meniru teknologi dikembangkannya itu, Dede mengaku siap menjadikan perusahaan tersebut sebagai sparing partner dalam bisnis berbasis teknologi itu.
“Saya sudah menyiapkan banyak rencana untuk bidang ini. Posisi saya sebagai pelopor,” tegas dia. (rn/rn)

 

Money.id – Dede Miftahul Anwar (22) pemuda asal Subang, Jawa Barat tiba-tiba beken setelah menciptakan kompor berbahan bakar air. Hatinya Dede ‘meledak’ karena kampungnya dipandang sebelah mata oleh penyalur gas elpiji pemerintah.

Warga Kampung Kerajan, Desa Cihambulu, Pabuaran, Kabupaten Subang, Jawa Barat harus tertatih-tatih mencari bahan bakar untuk memasak. Apabila tidak ada gas elpiji, mereka harus mencari kayu bakar ke hutan. Termasuk orangtua Dede yang harus merasakanya.

Berbekal pengalaman orangtua dan warga kampungnya tersebut, Dede kemudian mencoba menerapkan pengetahuan yang dimilikinya. Sehingga akhirnya berhasil menciptakan kompor berbahan bakar air.

Saat berbincang dengan Money.id, Dede menjelaskan menjelaskan cara kerja kompor bahan bakar air dan perjuanganya menciptakan kompor berbahan bakar air itu.

Berikut petikan wawancaranya:

Sejak kapan CV Energon berdiri?
CV Energon berdiri sejak 2015. Saat itu belum jadi Energon yang sekarang. Dulu hanya sebatas komunitas Energon yang beranggotakan lima orang. Isinya temen deket semua. Namun setelah mengikuti kompetisi bisnis pada pertengahan 2015 kami mencoba menjadikan energon sebagai perusahaan kecil-kecilan dengan manajemen yang seadanya.

Ide menciptakan kompor bahan bakar air itu awalnya seperti apa?
Semuanya berawal dari kurangnya pasokan gas elpiji di desa saya Kampung Kerajan, Desa Cihambulu, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, Jawa Barat. tepatnya pada 2013. Saat itu kami masih betiga. Kami melakukan riset terkait bahan bakar baru tepat guna serta bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat, tentunya ramah lingkungan.

Saat kuliah saya mendengar istilah hidrokarbon semua bahan bakar hidrokarbon yang kami gunakan akan menghasilkan emisi berupa karbon berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Akhirnya ‘ide gila’ saya bermunculan, mengapa tidak menggunakan hidro-nya saja dan karbon-nya dilepas. Karena air mengandung hidro alias hidrogen dan berlimpah pula. Berawal dari itu, saya mencoba untuk memecah molekul air menjadi hidrogen dan oksigen.

Riset kami lakukan secara study literatur, pertama dimulai dari elektrolisis air, eternal power generator, metode thermolisa hingga composite hidrogen generator. Alhamdulillah dana selalu kami dapatkan dari kompetisi hibah bersaing di ajang Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) setiap tahunya, hingga akhirnya pencapaian itu terlaksana.

Mengapa kampung Anda bisa kekurangan pasokan gas elpiji?
Desa cihambulu merupakan desa yang sulit dilalui kendaraan besar, jalannya berlubang, sempit dan panas. Saya sendiri biasanya kalau pergi ke luar kota melalui jembatan bambu setapak. Jembatan itu dikenal dengan nama jembatan ‘Mak Uwok’. Mobil memang bisa masuk ke desa tersebut, ada dua jalur untuk mobil yakni melalui Kebon Tiwu dan melalui Jalan Pabuaran yang rusaknya luar biasa.

Pasokan gas ke Desa Cihambulu sendiri biasanya datang berapa minggu
sekali?
Pasokan gas elpiji kadang tiga minggu sekali kadang satu bulan sekali, itupun setiap orang dibatasi, termasuk ibu saya yang buka warung. Beliau juga sering menjual elpiji tapi tiap ada pasokan gas elpiji ibu saya hanya kebagian empat tabung saja, itupun buat keperluan rumah tangga kurang, apalagi untuk dijual.

Jumlah pasokan elpiji berbeda untuk warung dan individu, biasanya untuk warung maksimal empat dan individu dua tabung, padahal di tabungnya ada tulisan ‘Untuk Orang Miskin’. Oh berarti desa kami termasuk orang-orang kaya ya. Aamiin.

Di Desa Cihambulu ada agen gas elpiji, kalau ada apakah dia tidak merasa terusik dengan keberadaan CV Energon?
Agen gas ada, sepertinya tidak terusik. Tapi terus terang saya sendiri belum ada komunikasi dengan beliau.

Boleh dideskripsikan tentang Kampung Kerajan?
Kampung Kerajan, Desa Cihambulu adalah desa yang terletak antara Subang dan Purwakarta, kalo dari arah Bandung menuju lokasi lebih dekat melalui Kota Purwakarta, desa dengan penduduk yang ramah meski suhu disana panas, tapi hati tetep adem kalau di sana.

Jalan menuju ke sana bergelombang. Jembatan bambu menjadi kesan dan bahan cerita dengan tim Energon saat kami lewat bersama di jembatan itu. Rata-rata penduduknya berprofesi petani, pedagang dan guru. Ya begitulah desaku.

Tadi anda mengatakan, untuk mengendapkan salah satu molekul air supaya bisa jadi bahan bakar menggunakan zat khusus hasil racikan sendiri, boleh diceritakan prosesnya?
Sederhananya molekul air akan terurai menjadi unsur unsurnya oleh bantuan dari komposit energon, kemudian komposit energon akan memberi beban pada atom oksigen sehingga atom oksigen terperangakap pada komposit tersebut sehingga hanya hidrogenlah yang dihasilkan.

Kemudian karena suhu yang dihasilkan cukup tinggi, air mencapai titik didih sehingga produk samping gas ini adalah uap air. Lalu, uap air ini dapat dipisahkan dengan hidrogen dengan separator. Prosesnya hanya dilakukan dua menit.

www.money.id/inspiratory/perasaan-dede-meledak-saat-kampungnya-sulit-terjamah-gas-pemerintah-160513a.html

Money.id – Perjuangan Dede Miftahul Anwar (22) menjadi pebisnis tidak mudah. Memang kini prestasi pemuda asal Subang, Jawa Barat itu patut diperhitungkan, dia mampu mendirikan perusahaan dengan nama CV Energon yang memproduksi kompor bahan bakar air.

Dede mengaku untuk menuju sampai sana tidak mudah, berbagai halangan dan rintangan harus dihadapinya. Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) itu mengaku awalnya tidak didukung orangtua, pasalnya mereka menginginkan anaknya fokus kuliah dulu hingga lulus jadi sarjana.

“Saat ini orangtua sudah mendukung, tapi awal sempat dilarang berjualan karena hawatir kuliah tidak fokus,” ucap Dede kepada Money.id, Jumat 13 Mei 2016.

Dede mengaku, alasan orangtuanya itu bukan tanpa sebab, pasalnya sebelum membuat kompor bahan bakar air tersebut dia pernah menjalankan beberapa usaha namun gagal. Orangtua Dede tidak ingin hal serupa menimpa anaknya.

“Soalnya dulu saya pernah jualan cilok (makanan khas Jawa Barat), ngajar privat, sampai bisnis MLM dan akhirnya semuanya tidak menguntungkan. malah kuliah saya yang terabaikan,” kenangnya.

Namun berkat ketekunan dan tekad yang bulat akhirnya Dede bisa meyakinkan kedua orangtuanya bahwa jalan yang ditempuhnya itu bisa merubah keadaan keluarga dan seluruh warga di Kampung Kerajan, Desa Cihambulu, Kabupaten Pabuaran, Subang, Jawa barat.

“Desa Cihambulu merupakan desa yang sulit dilalui kendaraan besar, jalannya berlubang, sempit dan panas,” tutur dia.

Menurut Dede, apabila dia ingin keluar dari kampung itu harus melalui jembatan bambu setapak. “Jembatan itu dikenal dengan nama Jembatan Mak Uwok,” ujarnya.

Dia menjelaskan, sungai yang dilintasi jembatan Mak Uwok tersebut cukup lebar dan arusnya sangat deras. Kata dia, pastinya kendaraan besar tidak bisa melewati jembatan tersebut, hanya bisa dilewati pejalan kaki dan sepeda motor saja.

http://www.money.id/inspiratory/dede-pencipta-kompor-bahan-bakar-air-sempat-dilarang-jadi-pebisnis-160513z.html

 

NEXT>> Dede bicara soal bisnis

Ciptakan Kompor Bahan Bakar Air, Dede Langsung Diincar Asing

Dede tiba-tiba dihubungi orang yang memperkenalkan diri dengan bahasa Inggris. Lalu…

By Rohimat Nurbaya9 Mei 2016 16:31


Dede berfoto di depan produk gas hidrogen buatannya (Facebook)
 

Money.id – Kreativitas Dede Miftahul Anwar (22) di bidang ilmu pengetahuan patut diperhitungkan. Dia berhasil membuat kompor berbahan bakar air yang digunakan masyarakat di Kampung Kerajan, Desa Cihambulu, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Penemuan Dede tersebut dianggap sanggat membantu masyarat di kampung kelahirannya itu, pasalnya gas elpiji jarang dipasok ke daerah tersebut. Alasan kampung tersebut tidak terjamah distributor gas elpiji sangat klasik. Karena akses jalan susah.

“Mobil pengangkut elpiji tidak sampai ke rumah saya,” ucap Dede saat berbincang dengan Money.id beberapa waktu lalu.

Dede menggambarkan, untuk menuju ke kampungnya butuh waktu sekitar lima jam apabila berangkat dari pusat Kota Bandung. Apabila menggunakan sepeda motor, jalan yang diambil adalah menuju Padalarang, kemudian menuju jalur ke arah Purwakarta. Dari sana langsung menuju ke Pabuaran, Subang.

Dia menegaskan, menuju ke Kampung Kerajan tidak ada angkutan khusus. Alat transportasi satu-satunya adalah ojek. Sepanjang jalan menuju kampungnya harus melewati bentangan sawah dan hutan karet.

Tidak hanya itu, salah satu yang membuat akses ke kampungnya sangat sulit adalah harus melewati sungai yang sangat lebar dengan arus deras. “Hanya ada satu jembatan kayu yang menjadi penghubung ke kampung saya,” tuturnya.

Dede sedang mempresentasikan tabung gas hidrogen hasil risetnya (Facebook)

Dari sulitnya pasokan gas itulah yang membuatnya bersikeras menciptakan sebuah produk bermanfaat bagi orangtuanya dan seluruh warga Kampung Kerajan. “Kalau tidak ada gas warga di kampung saya harus cari kayu bakar ke hutan,” tutur Dede.

Melihat kondisi tersebut akhirnya Dede membuat kompor berbahan bakar air tersebut. Secara sederhana dia menjelaskan, dua unsur yang ada di dalam air yakni oksigen dan hidrogen diurai.

Kata dia, selanjutnya senyawa oksigen diendapkan dan gas hidrogen itulah yang digunakan sebagai bahan bakar. Dede membuat senyawa khusus yang bisa mengurai oksigen dan hidrogen tersebut.

“Bahan-bahannya sangat mudah didapatkan dan sangat murah. Jadi saya bisa menjual gas hidrogen itu lebih murah dari gas elpiji,” ujar Dede.

Melalui perusahaannya, bernama CV Energon Teknologi, Dede menjual gas hidrogen Rp10 ribu per tabung. Untuk pemakain kebutuhan memasak keluarga sehari-hari, gas hidrogen itu biasanya cukup untuk dua pekan.

“Saya juga mendirikan Saung Pengisian Bahan Bakar Hidrogen (SPBH). Sehingga warga di kampung saya tidak sulit untuk melakukan pengisian hidrogen,” jelasnya.

Hasil penemuan itu dilombakan dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2015. Karena kompor berbahan bakar air itu, Dede menjadi juara pertama di ajang Wirausaha Muda Mandiri 2015 untuk bidang usaha teknologi non digital.

Ciptakan Kompor Bahan Bakar Air, Dede Langsung Diincar Asing

Dede tiba-tiba dihubungi orang yang memperkenalkan diri dengan bahasa Inggris. Lalu…

By Rohimat Nurbaya9 Mei 2016 16:31

Money.id – Kreativitas Dede Miftahul Anwar (22) di bidang ilmu pengetahuan patut diperhitungkan. Dia berhasil membuat kompor berbahan bakar air yang digunakan masyarakat di Kampung Kerajan, Desa Cihambulu, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Penemuan Dede tersebut dianggap sanggat membantu masyarat di kampung kelahirannya itu, pasalnya gas elpiji jarang dipasok ke daerah tersebut. Alasan kampung tersebut tidak terjamah distributor gas elpiji sangat klasik. Karena akses jalan susah.

“Mobil pengangkut elpiji tidak sampai ke rumah saya,” ucap Dede saat berbincang dengan Money.id beberapa waktu lalu.

Dede menggambarkan, untuk menuju ke kampungnya butuh waktu sekitar lima jam apabila berangkat dari pusat Kota Bandung. Apabila menggunakan sepeda motor, jalan yang diambil adalah menuju Padalarang, kemudian menuju jalur ke arah Purwakarta. Dari sana langsung menuju ke Pabuaran, Subang.

Dia menegaskan, menuju ke Kampung Kerajan tidak ada angkutan khusus. Alat transportasi satu-satunya adalah ojek. Sepanjang jalan menuju kampungnya harus melewati bentangan sawah dan hutan karet.

Tidak hanya itu, salah satu yang membuat akses ke kampungnya sangat sulit adalah harus melewati sungai yang sangat lebar dengan arus deras. “Hanya ada satu jembatan kayu yang menjadi penghubung ke kampung saya,” tuturnya.

Dede sedang mempresentasikan tabung gas hidrogen hasil risetnya (Facebook)

Dari sulitnya pasokan gas itulah yang membuatnya bersikeras menciptakan sebuah produk bermanfaat bagi orangtuanya dan seluruh warga Kampung Kerajan. “Kalau tidak ada gas warga di kampung saya harus cari kayu bakar ke hutan,” tutur Dede.

Melihat kondisi tersebut akhirnya Dede membuat kompor berbahan bakar air tersebut. Secara sederhana dia menjelaskan, dua unsur yang ada di dalam air yakni oksigen dan hidrogen diurai.

Kata dia, selanjutnya senyawa oksigen diendapkan dan gas hidrogen itulah yang digunakan sebagai bahan bakar. Dede membuat senyawa khusus yang bisa mengurai oksigen dan hidrogen tersebut.

“Bahan-bahannya sangat mudah didapatkan dan sangat murah. Jadi saya bisa menjual gas hidrogen itu lebih murah dari gas elpiji,” ujar Dede.

Melalui perusahaannya, bernama CV Energon Teknologi, Dede menjual gas hidrogen Rp10 ribu per tabung. Untuk pemakain kebutuhan memasak keluarga sehari-hari, gas hidrogen itu biasanya cukup untuk dua pekan.

“Saya juga mendirikan Saung Pengisian Bahan Bakar Hidrogen (SPBH). Sehingga warga di kampung saya tidak sulit untuk melakukan pengisian hidrogen,” jelasnya.

Hasil penemuan itu dilombakan dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2015. Karena kompor berbahan bakar air itu, Dede menjadi juara pertama di ajang Wirausaha Muda Mandiri 2015 untuk bidang usaha teknologi non digital.


Informasi pembanding:

Skema di bawah ini untuk yang dengan proses elektrolisis air + Katalisator (Soda Kue)

LINK info Kompor Elektrolisis Air dengan Katalis:

https://kangmartho.wordpress.com/2010/07/

http://bloghakekatku.blogspot.co.id/2015/01/membuat-kompor-air.html

14100690921415639340

Di Bawah Ini contoh yang melalui reaktor reaksi kimia Air + Almunium + Soda Api (NaOH)

http://bloghakekatku.blogspot.co.id/2015/01/membuat-kompor-air.html

MEMBUAT KOMPOR AIR

Download artikel:
http://www.academia.edu/6536345/Kompor_air

Kompor Ini Berbahan Bakar Air

http://www.tempo.co/read/news/2013/08/26/061507527/Kompor-Ini-Berbahan-Bakar-Air

TEMPO.COTasikmalaya – Murid Madrasah Tsanawiyah (MTs) Persis Cempakawarna, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, menciptakan kompor berbahan bakar air. Siti Khodijah, satu siswi penemu kompor air, mengatakan penelitian dilakukan selama 1,5 bulan dengan pendampingan guru Ilmu Pengetahuan Alam, Heru Pamungkas.

” Penelitian dimulai sebelum puasa, 5 Juni sampai 20 Agustus 2013,” kata Siti ketika ditemui di sekolah, Senin, 26 Agustus 2013. “Selain air, kami menggunakan soda api, limbah kaleng minuman ringan atau limbah aluminium.”

Cara kerja kompor ini, Siti menjelaskan, sampah aluminium dipotong kecil-kecil dan dicampur dengan soda api serta air. Campuran bahan itu kemudian dimasukkan ke dalam wadah tertutup yang telah dimodifikasi. “Diaduk hingga menghasilkan reaksi eksoderm dan muncul gas hidrogen,” kata dia.

Hidrogen yang dihasilkan dialirkan dengan selang, lalu disimpan di tempat yang telah dipasangi keran. Jika ingin dipakai, keran tinggal dibuka, gas pun akan mengalir ke kompor atau smawar. “Cara menyalakan smawar, disulut pakai korek api,” kata Siti. Selama soda api, aluminium, dan air tersedia di dalam wadah, maka selama itu pula hidrogen akan terus dihasilkan dan bisa dipakai memasak.

Api yang dihasilkan dari proses pembakaran kompor air tidak berwana merah maupun biru, namun warnanya putih. Api ini pun tidak menyebabkan bekas gosong di wajan tempat memasak. Sebab, sumber bahan bakarnya air. Siti dan siswa penemu kompor air lainnya berharap hasil temuan itu bisa dipakai masyarakat luas. “Kompor air diharapkan bisa mengatasi persedian bahan bakar minyak yang terus berkurang,” ujar Siti.

Guru pendamping penelitian, Heru Pamungkas, mengatakan kompor air akan didaftarkan sebagai karya ilmiah dalam Lomba Penelitian Ilmiah Remaja Tingkat Nasional. Namun, menurut Heru, masih ada beberapa hal yang perlu disempurnakan dari kompor air itu. “Kompor air sangat bermanfaat sebagai energi alternatif. Jadi, masyarakat tidak akan ketergantungan kepada keterbatasan suplai bahan bakar minyak maupun elpiji,” ujar Heru.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: