Tinggalkan komentar

Menguak Sejarah Nyai Subang Larang

Musthari Ari | Aug 24, 2014

KOTASUBANG.com, Binong – Mei tahun 2011 hutan jati di desa Naggerang, Kecamatan Binong tiba-tiba ramai dikunjungi banyak orang termasuk para sejarawan dan budayawan Jawa Barat. Pasalnya, di daerah ini ditemukan berbagai peninggalan benda bersejarah yang diduga milik Nyai Subang Larang.

Benda-benda bersejarah itu banyak ditemukan di hutan jati yang disebut Muara Jati dan Teluk Agung yang juga dikenal dengan sebutan Astana Panjang. Tak ada warga yang tahu sejarah daerah itu disebut Astana Panjang, yang pasti sejak tahun 80-an warga sekitar sudah sering menemukan benda-benda kuno di sini.

Penetapan lokasi tersebut sebagai situs peninggalan Nyai Subang Larang didasarkan pada hasil penelusuran Abah Dasep Arifin sejarawan dari Bogor yang sudah puluhan tahun mencari jejak makam Nyai Subang Larang. Berbagai peninggalan yang ditemukan dan kesamaan nama-nama tempat dengan latar belakang kehidupan Subang Larang zaman dulu semakin menguatkan tempat ini merupakan saksi sejarah perjalanan hidup Istri Prabu Siliwangi itu. Selain itu di daerah Cipunagara juga terdapat makam eyang Gelok yang diyakini sebagai pengiring Nyai Subang Larang semasa hidupnya.

Hingga kemudian 30/6/2011 Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar, mengukuhkan cagar budaya Teluk Agung sebagai cagar budaya baru. Penetapan langsung dilakukan oleh Kepala Disparbud Jabar, Herdiwan, didampingi Acil Bimbo dan Dasep Arifin, dari Dewan Kasepuhan Padjadjaran. (baca juga Menguak Jejak suku Buni di Situs Subang Larang)

Gerbang Menuju Makam Subang Larang

Siapakah sebenarnya Subang Larang ?

Kisah Nyai Subang Larang tercatat dalam Carita Purwaka Caruban Nagari  (CPCN) karya Pangeran Arya Cerbon yang dibuat pada tahun 1720. Menurut CPCN, Subang Larang bernama asli Kubang Kencana Ningrum, beliau lahir tahun 1404 dari ayah yang bernama Ki Gedeng Tapa yang merupakan syahbandar pelabuhan Muara Jati, sebuah pelabuhan penting di utara Jawa Barat yang termasuk kekuasaan nagari / kerajaan kecil Singapura.

Sedangkan Prabu Siliwangi awalnya bernama Pamanahrasa putra dari Prabu Anggalarang dari kerajaan Galuh. Ketika itu Jawa Barat dikuasai oleh 2 Kerajaan besar yang masih berkerabat yaitu Galuh yang berpusat di Ciamis dan Kerajaan Sunda yang berpusat di Pakuan Pajajaran (Bogor). Kerajaan Sunda dipimpin oleh Raja Susuk Tunggal yang masih bersaudara dengan prabu Anggalarang. Dua kerajaan besar ini menguasai beberapa nagari / kerajaan kecil seperti Singapura, Japura, Wanagiri dan lainnya.

Sekitar tahun 1415  datanglah rombongan armada Cina yang dipimpin Laksamana Zheng He (Cheng Ho) yang beragama Islam di Muara Jati, saat inilah Islam mulai dikenal di sana. Pada tahun 1418 tiba pula seorang ulama Islam bernama Syekh Hasanuddin bin Yusuf Sidik yang menumpang perahu dagang dari Campa (kini termasuk wilayah Vietnam dan sebagian Kamboja). Ada pula yang berpendapat keduanya datang dalam rombongan yang sama. Syekh Hasanuddin kemudian akrab dengan Ki Gedeng Tapa, di saat inilah kemungkinan Ki Gendeng Tapa memeluk agama Islam.

Kemudian Syekh Hasanudin pergi ke Karawang dan mendirikan pasantren di daerah Pura, Desa Talagasari, Karawang, dengan nama Pesantren Quro, maka dari itu kemudian ia lebih dikenal dengan nama Syekh Quro. Ki Gendeng Tapa menitipkan Nyai Subang Larang untuk belajar Islam kepada Syekh Quro di sana. Nyai Subang Larang belajar Islam di sana selama 2 tahun. Di tempat inilah Syeh Quro memberikan gelar Sub Ang larang (Pahlawan berkuda) kepadanya. Sekitar tahun 1420 Subang Larang Kembali ke Muara Jati.

Sekitar tahun 1420-an Ki Gedeng Tapa menyelenggarakan sayembara tarung satria, sebagai pemenangnya  berhak memperistri Nyai Subang Larang, putrinya. Dalam sayembara itu, Pamanah Rasa tampil sebagai pemenang dan berhak memperistri Nyai Subang Larang. Konon lawan terberat Pamanah Rasa adalah Amuk Marugul putra Prabu Susuk Tunggal (Kerajaan Sunda) yang ternyata masih ada hubungan saudara dengannya.

Kemudian menikahlah Pamanah Rasa dengan Subang Larang di pesantren Syekh Quro. Sumber lain menyebutkan, Pamanah Rasa jatuh cinta kepada Subang Larang setelah ia mendengar suara Subang Larang mengaji di pesantren Syekh Quro bukan karena memenangkan sayembara. Di tahun yang sama terjadi peperangan antara nagari Singapura yang dipimpin Pamanah Rasa dan nagari Japura yang dipimpin Amuk Marugul, Pamanah Rasa kembali memenangkan peperangan tersebut.

Pamanah Rasa kemudian pergi ke Pakuan, kerajaan Sunda, di sana ia bertemu dengan Kentring Manik Mayang Sunda adik Amuk Marugul yang juga putri dari prabu Susuk Tunggal yang tak lain adalah ua-nya sendiri. Meskipun sudah menikahi Subang Larang, ia juga kemudian menikahi Kentring Manik Mayang Sunda.

Setelah pernikahannya ini Pamanah Rasa kemudian diangkat menjadi putra mahkota oleh Susuk Tunggal karena dianggap lebih cakap daripada Amuk Marugul. Pamanah Rasa kemudian memboyong Subang Larang untuk  tinggal di keraton Pakuan Pajajaran (Bogor) bersama Istri yang lain. Di kemudian hari Pamanah Rasa diangkat menjadi raja dan bergelar Prabu Siliwangi.

Berdasarkan penelusuran Abah Dasep Arifin, semasa hidupnya Subang Larang dipercaya mendirikan pesantren dengan nama “Kobong Amparan Alit” di Teluk Agung yg kini berada di Desa Nanggerang Kecamatan, Binong. Nama “Kobong Amparan Alit” ini diperkirakan berubah menjadi daerah yang kini disebut “Babakan Alit” yang juga di sekitar kawasan Teluk Agung, desa Nanggerang.

Sekitar tahun 1441 Nyai Subang Larang wafat di keraton Pakuan, kemudian jenazahnya dibawa oleh abdi dalemnya untuk dimakamkan di Muara Jati. Salah satu abdi dalemnya dikenal dengan nama Eyang Gelok yang dimakamkan di kampung Cipicung, desa Kosambi, kecamatan Cipunagara.

Hutan Jati di Muara Jati, tempat ditemukannya makam Subang Larang di desa Nanggerang, Binong

 

Hutan Jati tempat ditemukannya makam Subang Larang di Muara Jati, desa Nanggerang, Binong

Subang Larang memiliki 3 orang anak yaitu Raden Walangsungsang (1423), Nyai Lara Santang (1426), dan Raja Sangara (1428). Sepeninggalnya Subang Larang anak-anaknya keluar dari Keraton Pakuan untuk memperdalam agama Islam. Ketiga anaknya inilah yang kemudian memegang peranan penting mengubah Jawa Bagian Barat menjadi daerah penyebaran Islam.

Pangeran Walangsungsang /Pangeran Cakrabuana kemudian menjadi penguasa Cirebon (Pendiri Kesultanan Cirebon). Larasantang kemudian memiliki anak bernama Syarif Hidayatullah yang kemudian dikenal sebagai Sunan Gunungjati. Rajasangara kemudian dikenal dengan nama Kiansantang. Konon menurut sebuah legenda,  Prabu Siliwangi memilih pergi meninggalkan keraton Pakuan dan menghilang di Hutan Sancang di selatan Garut dari pada masuk Islam dihadapan anaknya sendiri Kian Santang.

Ada beberapa versi berbeda mengenai riwayat perjalanan Nyai Subang Larang ini termasuk tempat-tempat yang pernah ia singgahi semasa hidupnya. Apakah lokasi di Nangerang ini benar-benar jejak hidup Subang Larang?, perlu penelusuran lebih lanjut untuk lebih memastikan tahun kejadian dan nama tempat yang menjadi latar belakang kehidupannya.

Terlepas dari perbedaan tersebut sebagai sosok historis, keberadaan Nyai Subang Larang sangat penting dalam perjalanan sejarah sosial, religi, dan politik di Tatar Sunda di kemudian hari. Kini Islam menjadi agama mayoritas di Jawa Barat dan Banten.

Lalu apakah ada hubungannya asal usul nama wilayah Subang dengan Subang Larang ? Hal ini belum terjawab. (baca juga Asal Usul Nama Subang)

Sumber:

http://www.kotasubang.com/2838/menguak-sejarah-nyai-subang-larang

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: