Tinggalkan komentar

DARI SUNDALAND HINGGA DI NEGERI TOBA: Sebuah Penelusuran Para Ahli Genetika

DARI SUNDALAND HINGGA DI NEGERI TOBA: Sebuah Penelusuran Para Ahli Genetika

23 April 2016 01:51:30 Diperbarui: 25 April 2016 00:21:12 :

Sumber: forgottenmotherland.com

By Edrward Simanungkalit

Sundaland dalam Ilmu Pengetahuan Modern

Setelah Gunung Toba meletus 74.000 tahun lalu yang memusnahkan hampir semua manusia, maka terjadi kembali migrasi manusia dari Afrika ke Sundaland di sekitar 70.000 tahun lalu. Mereka bermigrasi menyusuri pesisir pantai melalui India Selatan sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Stephen Oppenheimer dari Oxford University, Inggris, yang dikenal menulis buku: “Eden in The East: The Drowned Continent of Southeast Asia” (1999).

Kiri ke Kanan: Ibu Winda (Dispabur Propinsi Jawa Barat), Prof.Dr. Stephen Oppenheimer (Penulis Buku “Eden in East”, dari Universitas Oxford, England), Ahmad Yanuana Samantho (Penulis Buku “Peradaban Atlantis Nusantara”& SC International Conference on Ancient Sunda Cilivization), Oman Abdurahman (Badan Geologi Bandung, SC International Conference on Ancient Sunda Civilization), Titi Bactiar (Geographer, Dosden UPI-Bdg).

Dia menulis buku ini setelah memimpin proyek besar yang dipercayakan HUGO (Human Genome Organizatioan) melakukan pemetaan DNA manusia sedunia (Kompas, 20/10-2011). Kemudian 90 orang lebih ilmuwan Asia dari konsorsium Pan-Asian SNP di bawah naungan Human Genome Organization (HUGO) memetakan  jalur migrasi manusia ini sebagai satu-satunya jalur migrasi ke Sundaland secara lebih tegas. Para ilmuwan ini telah melakukan studi terhadap 73 populasi Asia Tenggara dan Asia Timur, yang selain berhasil memetakan jalur migrasi tadi, mereka menyimpulkan bahwa akar genetik manusia berhubungan sangat erat dengan kelompok etnik dan kelompok bahasa (Detik, 11/12-2009; Kompas, 14/12-2009 & 12/12-2011).

Migrasi dari Afrika yang tejadi ini sebagian melewati Sundaland hingga sampai ke Papua dan Australia, yang sekarang disebut Aborigin di Australia dan migrasi Afrika ini sesuai dengan teori “Out of Africa” yang terkenal itu. Sejak 20.000 tahun lalu, menjelang tenggelamnya Sundaland, terjadi banyak letusan gunung berapi, gempa bumi, dan banjir, sehingga membuat para penghuni Sundaland berhamburan ke Asia Daratan, yang disebut sebagai peristiwa “Out of Sundaland”. Dengan demikian, selama 50.000 tahun sudah banyak manusia mendiami Sundaland, sehingga Stephen Oppenheimer tiba pada kesimpulan bahwa Sundaland merupakan induk peradaban dunia (Kompas, 27/10-2010).

Kiri ke kanan: Ahmad Y. Samantho (Indonesia), Fank Joseph Hoff (USA), Hans Berekoven (Australia), Vauntara Subramain Velu (Singapore-Srilangka)

Di sisi lain,  Prof. Arysio Nunes dos Santos, Ph.D. dalam bukunya: “Atlantis The Lost Continent Finally Found” (2005), malah menguraikan sebuah teori yang menempatkan secara definitif bahwa Atlantis berada di wilayah Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Brunei (Wikipedia). Kemudian terkait dengan keterlibatannya dalam penelitian atas situs megalitik Gunung Padang di Cianjur, geolog Dr. Danny Hilman (2013), menulis dan meluncurkan bukunya dalam acara seminar: “PLATO TIDAK BOHONG: Atlantis Ada di Indonesia”.

Dari Kiri ke Kanan: Dhani Irwanto (penulis buku Atlantis in Java Sea), Diana Flengler (Suncana Purbasari, Atlantis Foundation), Ahmad Yanuana Samantho. Penulis buku Peradaban Atlantis Nusantara), 2016.

Lebih jauh lagi, Dhani Irwanto, dalam bukunya: “Atlantis: The Lost City is in Java Sea” (2015), menyampaikan sebuah hipotesis baru bahwa Atlantis ada di Laut Jawa, dekat Pulau Bawean, yaitu di antara pulau Bawean dengan daratan Kalimantan. Semuanya ini menyebabkan Indonesia menjadi perhatian para ilmuwan dunia sekarang ini dengan sebuah pertanyaan: “Apakah yang mereka kerjakan selama 50.000 tahun di Sundaland?”.

Stephen Oppenheimer dan Arysio Nunes dos Santos telah berjasa mempromosikan Indonesia ke seluruh dunia melalui buku yang mereka tulis. Sundaland akhinya tenggelam sekitar 8.000 tahun lalu di mana air laut naik permukaannya hingga memasuki daratan rendah Sundaland tersebut. Sehingga, tinggallah Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, yang merupakan daratan tertinggi dari Sundaland tersebut dan menjadi terpisah dari Semenanjung Malaka. Demikianlah bekas kawasan Sundaland yang sekarang dikenal dengan Semanjung Malaka, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya.

Kiri ke kanan: Hans Berekoven (Australian, Maritim Explorer), Widodo (Peneliti LIPI), Frank Joseph Hoff (Atlantsi Publisher, USA), Ahmad Y. Samantho (penulis buku “Peradaban Atlantis Nusantara”), Stephen Oppenheimer (Oxford University, Penulis buku “Eden in The East”, LIPI Jakarta, November 2010)

Y-DNA Haplogroups dari Populasi Toba Sebagaimana dikemukakan oleh Tatiana M. Karafet (Karafet et al. 2010), dari Universitas Arizona – Amerika Serikat,  bahwa TOBA Y-DNA Haplogroup terdiri dari: K-M526*= 13,51%, O-M95*= 13.51%, O-M201*= 56,76%, O-M110= 10,81%, O-P203= 2,7%, dan R-M214 = 2,7% (http://www.anthrogenica.com/showthread.php?2573-New-DNA-Papers-General-Discussion Thread/page49).

Sumber: forgottenmotherland.com

Populasi Sundaland

Tatiana M. Karafet et al. (2010) menjelaskan sebelumnya bahwa K-M526* ditemukan di Sumatera dan Sulawesi.K-M526* ditemukan pada Toba dan Mandar. Karena ada ditemukan pada etnis Toba, sehingga perlu juga hal ini dibicarakan secara khusus. Phylogeny tree yang disusun berdasarkan penelitian Tatiana M. Karafet et al. (2014), dalam papernya: “Improved phylogenetic resolution and rapid diversification of Y-chromosome haplogroup K-M526 in Southeast Asia”, membantu memberikan penjelasan tentang K-M526* yang  berawal dari K2. Terkait dengan Toba Y-DNA Haplogroups di atas, maka lebih jauh perlu juga melihat Phylogenetic Tree berdasarkan Karafet et al., 2014 sebagai berikut:

Sumber: forgottenmotherland.com

Karafet et al. (2014) menjelaskan bahwa struktur filogenetik dari haplogroup K-M526* sekarang dibagi dalam 4 subclade utama (K2a-d). Adapun yang terbesar ialah K2b, yang dibagi menjadi dua kelompok: K2b1 dan K2b2. K2b1 menggabungkan haplogroup sebelumnya yang dikenal sebagai haplogroup M, S, K-P60 dan K-P79, sedang K2b2 terdiri dari haplogroup P dan sub-haplogroup yang Q dan R, yang  mayoritas membentuk garis keturunan ayah/pria (paternal) di Eropa, Eurasia dan Amerika, dan merupakan satu-satunya subclade K2b yang berada di luar geografi Asia Tenggara (Sundaland) dan Oseania. Itu sebabnya, disimpulkan bahwa haplogroup P, yang merupakan leluhur bangsa Eropa, bermigrasi dari Sundaland seperti dikemukakan sebelumnya oleh Stephen Oppenheimer.  Sementara itu, K2-M526* ditemukan pada populasi Sumatra & Sulawesi, dan jika perpisahan ini terjadi 50.000 tahun yang lalu, maka lokasi paling ideal adalah di antara keduanya, yaitu Sundaland. Berdasarkan mtDNA populasi Etnis Toba dengan macrohaplogroup M yang sebanding dengan frekuensi K-M526*, maka diperkirakan K-M526* berasal dari populasi Sundaland.

Sumber: geneticdisorders.info

Sumber: geneticdisorders.info

 

Y-DNA dari Populasi Toba

Pada Phylogenetic Tree tadi jelas bahwa K-M526* muncul di Sundaland sekitar 50.000 tahun lalu.  Haplogroup K menurunkan K1 dan K2, sedang K2 ini juga dikenal sebagai K-M526*. Adapun K-M526* ini merupakan salah satu Toba Y-DNA Haplogroups seperti telah dikemukakan di atas. K2 memiliki subclade utama: K2a, K2b, K2c, dan K2d. Sedang K2a menurunkan NO dan kemudian NO menurunkan O-M175. Adapun O-M175 menurunkan O-M122, O-M119, dan O-M95*, yang menurut Karafet et al. (2010) berasal dari Asia Daratan pada masa Pleistosen. O-M122 menurunkan O-P201* dan O-M119 menurunkan O-M110 dan O-P203. Selanjutnya, K2b2 menurunkan R2 (termasuk R-M124) dan R1 (R1a dan R1b).

K-M526* ada pada sebagian populasi di Indonesia. Di Indonesia Timur dan Tengah, frekwensi K-M526* ini lebih besar persentasenya. Di Sumatera, frekwensi K-M526* relatif lebih kecil  persentasenya seperti yang ditemukan pada populasi Aceh, Toba, dan Riau. K-M526* ini diperkirakan lebih awal masuk ke Negeri Toba, tetapi belum ada penelitian lebih mendalam lagi soal K-M526* yang ada pada populasi Toba, sehingga masih diberikan tanda (*). Mungkin K-M526* inilah yang ditemukan jejak aktivitasnya pada sekitar 6.500 tahun lalu di Humbang, dari Silaban Rura hingga Siborong-borong, berdasarkan penelitian paleontologi yang dilakukan Bernard K. Maloney (1979). Permasalahan dari penggunaan  data-data fisik seperti ini bisa terjadi bahwa mungkin saja ada di tempat lain seperti di Toba Holbung, Samosir, dan Silindung, tetapi belum ditemukan atau sudah hilang akibat proses alam. K-M526* di Indonesia Barat ini belum dapat dipastikan darimana datangnya. Bisa saja mereka datang dari daerah Timur di seberang garis Wallace, karena situasi dan kondisi yang dinamis menjelang tenggelamnya Sundaland tidak terlalu berpengaruh di daerah tersebut (lihat gambar di atas). Yang jelas, bahwa K-M526* muncul dan berasal dari Sundaland dan K-M526* ini ditemukan dalam Y-DNA Toba di Negeri Toba, yang merupakan kawasan bekas Sundaland dulu.

Pada gambar Toba Y-DNA Haplogroup tampak bahwa O-P201*, O-P203, O-M95*, dan O-M110, kesemuanya sebesar 83,79%. O-P203  diasosiasikan  Austronesia, sedang O-M95 diasosiasikan Austroasiatik, dan O-M110 diasosiasikan Tai Kadai. Khusus O-P201* sering diasosiasikan dengan populasi Sino-Tibetan, Hmong-Mien, atau Han Chinese. Adapun K-M526*: 13,51% ini muncul di Sundaland.  R-M124: 2,7% diasosiakan Dravida dari India Barat, Asia Selatan.

Ekspansi Austronesia, menurut Karafet et al. (2010), antara lain terdiri dari: O-P203, O-M110, dan O-P201*. Karafet et al. (2010) menyebutkan bahwa O-P201* ditemukan berbahasa Austronesia pada Toba dan O-M110 juga berbahasa Austronesia pada Toba. O-M110 ini ada juga pada populasi Nias dan Mentawai yang mana mereka berbahasa Austronesia. Kelihatannya O-M110 bermigrasi dari Asia Daratan ke Taiwan dan dari Taiwanlah kembali bermigrasi ke Indonesia Barat dalam ekspansi Austronesia termasuk ke Nias dan Mentawai. Mengenai O-P203, Karafet et al. (2010) menjelaskan, bahwa O-P203 ini ditemukan pada mayoritas suku Taiwan Asli yang tentunya berbahasa Austronesia. Jadi, ketiganya termasuk dalam ekspansi Austronesia ke Indonesia Barat, yang mana O-P201* dari Asia Daratan sementara O-P203 dan O-M110 keluar dari Taiwan dalam ekspansi Austronesia tersebut. Ekspansi Austronesia ke Indonesia Barat ini berlangsung pada periode 4.000-6.000 tahun lalu (Karafet et al. 2010).

Sebagaimana telah dikemukakan tadi bahwa O-P201* masuk ke dalam ekspansi Austronesia keluar dari Asia Daratan, maka penelitian Jean A. Trejaut et al. (2014) menguatkan bahwa O-P201* memang keluar dari Asia Daratan. O-P201* berasal dari sekitar Yunnan dan Teluk Tonkin. Dengan demikian, teori Out of Taiwan tidak sepenuhnya diterima secara genetik, karena ekspansi Austronesia tidak semuanya keluar dari Taiwan, tetapi ada juga dari Asia Tenggara Daratan (MSEA) ke Indonesia melalui Semenanjung Indocina. Dengan melihat asal dari O-P201* ini, maka terlihat bahwa O-P201* ada kemungkinan bersinggungan dengan budaya Dong Son, yang berkembang pada abad ke-5 hingga abad ke-2 di lembah Song Hong berdekatan dengan Teluk Tonkin, Vietnam.

Jean A. Trejaut et al. (2014) mengemukakan bahwa O-M95* bermigrasi dari Indochina ke Indonesia Barat. O-M95* bermigrasi melalui Semenanjung Malaka terus ke Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. O-M95* ditemukan juga pada Toba Y-DNA Haplogroup. O-M95* ini diperkirakan lebih dulu bermigrasi sebelum ekspansi Austronesia di sekitar 4.000 – 6.000 tahun lalu, tetapi jarak waktunya tidak jauh antara O-M95* dengan ekspansi Austronesia. Sedang R-M124 berasal dari dari India Barat, Asia Selatan yang datang sejak millenum pertama tahun masehi.

Akhirnya, K-M526* setelah berevolusi kemudian muncul di Sundaland. Kemudian turunannya bermigrasi ke luar Sundaland (lihat gambar di atas).yang menurunkan O-M175, R, dan lain-lainnya. O-M175 menurunkan O-M95*, O-M110, O-P201, O-P203, dan lain-lain. R menurunkan R-M124, dan lain-lain. Dengan demikian, maka O-M95*, O-M110, O-P201, O-P203, dan R-M124 memiliki hubungan paternal dengan K-M526* yang kesemuanya ada pada Y-DNA Toba. Keenam populasi ini datang berombongan-rombongan ke Negeri Toba dan semuanya bercampur hingga membentuk populasi Toba seperti sekarang ini sesuai dengan apa yang diperlihatkan pada Y-DNA-nya. (*) Sumber: panatapan.com   L I N K : Tatiana M. Karafet et al. (2010) – klik Tatiana M. Karafet et al. (2014) – klik Jean A. Trejaut et al. (2014) – klik Y-DNA Macro-haplogroup K-M526 originated in Indonesia (2014) – klik Dr. Danny Hilman (2013) – klik Dhani Irwanto (2015) – klik Haplogroup R (Y-DNA) – klik Haplogroup R-M124 – klik

Sumber: http://www.kompasiana.com/edwardsimanungkalit/dari-sundaland-hingga-di-negeri-toba-sebuah-penelusuran-para-ahli-genetika_571a72b2e2afbd330d745fee

Edward Simanungkalit

/edwardsimanungkalit

Selama ini terus belajar menulis yang dimulai sejak tahun 1993 hingga sekarang. Belakangan belajar menulis buku dan telah berhasil menulis buku: “ORANG TOBA: Asal-usul, Jatidiri, dan Mitos Sianjur Mulamula” (2015). Aktivitas menulis ini didasari satu keyakinan bahwa “kebenaran itu memerdekakan”. Ternyata belajar itu tak ada hentinya, karena belajar di Sekolah Kehidupan tak ada habis-habisnya. All Truth is God’s Truth.

 

L I N K :

Tatiana M. Karafet et al. (2010) – klik

Tatiana M. Karafet et al. (2014) – klik Jean A. Trejaut et al. (2014) – klik

Y-DNA Macro-haplogroup K-M526 originated in Indonesia (2014) – klik

Dr. Danny Hilman (2013) – klik

Dhani Irwanto (2015) – klik

Haplogroup R (Y-DNA) – klik

Haplogroup R-M124 – klik

 

Selengkapnya :

http://www.forgottenmotherland.com/

http://www.kompasiana.com/edwardsimanungkalit/dari-sundaland-hingga-di-negeri-toba-sebuah-penelusuran-para-ahli-genetika_571a72b2e2afbd330d745fee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: