Tinggalkan komentar

EPIK GILGAMESH dan NUSANTARA

Dhani Irwanto
EPIK GILGAMESH

Epik Gilgamesh adalah sebuah puisi epik pada masa Mesopotamia kuno. Berasal dari Dinasti Ketiga Ur (ca 2100 SM), epik ini dianggap sebagai karya besar sastera yang paling awal, yang 1500 tahun mendahului tulisan Homer. Gilgamesh dikenal sebagai Gilgamos di Yunani, dan terkait erat dengan tokoh Dumuzi dalam puisi Sumeria “Keturunan Inanna”.

74237-peradabanatlantisnusantaraSejarah sastera Gilgamesh dimulai dengan lima puisi Sumeria tentang raja Uruk “Bilgamesh” (nama Sumeria untuk Gilgamesh). Cerita-cerita yang terpisah kemudian digunakan sebagai sumber bahan untuk membentuk sebuah epik gabungan. Versi epik gabungan pertama yang masih ada, yang dikenal sebagai versi “Babilonia Lama”, dimulai pada abad ke-18 SM dan berjudul sesuai dengan kata-kata pertamanya, Shutur eli sharri (“Melampaui semua raja lainnya”). Hanya beberapa tablet yang dapat ditemukan. Versi “standar” setelahnya pada abad ke-13 sampai ke-10 SM berjudul sesuai dengan kata-kata pertamanya, Sha nagba imuru (“Dia yang melihat dalam”, dalam istilah modern: “Dia yang melihat yang tidak diketahui”). Sekitar dua pertiga dari versi yang panjangnya duabelas tablet ini telah ditemukan. Beberapa salinan yang terbaik telah ditemukan di reruntuhan perpustakaan raja Asyur Ashurbanipal abad ke-7 SM. Lima puisi Sumeria yang sebelumnya telah ditemukan pula, sebagian adalah versi primitif episode tertentu dalam versi Akkadia, yang lainnya adalah cerita yang tidak terkait.

4-rivers-of-paradise_751Babak pertama epik tersebut membahas Gilgamesh, raja Uruk. Raja besar itu dianggap terlalu bangga dan sombong terhadap para dewa sehingga mereka memutuskan untuk memberinya pelajaran dengan mengirimkan seorang manusia biadab, Enkidu, untuk memperkejikannya. Enkidu dan Gilgamesh, setelah bertempur sengit dimana tidak ada yang terkalahkan, kemudian menjadi teman dan memulai petualangan bersama. Mereka berdua melakukan perjalanan ke Hutan Cedar dan mengalahkan Humbaba, penguasa hutan yang mengerikan. Kemudian mereka membunuh Banteng dari Surga, dimana dewi Ishtar mengirimkannya untuk menghukum Gilgamesh karena menolak cumbuannya. Sebagai hukuman atas tindakan ini, para dewa menghukum Enkidu sehingga mati.

Dalam babak kedua epik tersebut, diceritakan bahwa penderitaan tentang kematian Enkidu ini menyebabkan Gilgamesh jatuh kedalam kesedihan yang mendalam dan mengakui kematiannya sendiri melalui kematian temannya, bertanya tentang makna kehidupan dan nilai prestasi manusia dalam menghadapi kepunahan total. Mencampakkan segala kesombongan dan kebanggaan lamanya, Gilgamesh memutuskan untuk mencari dan menemukan makna hidup, dan akhirnya, cara-cara untuk mengalahkan kematian. Ia akhirnya belajar bahwa “Kehidupan, yang anda cari, anda tidak akan pernah menemukan. Pada saat para dewa menciptakan manusia, mereka membiarkan kematian menjadi bagiannya, dan kehidupan adalah ditanggung oleh masing-masing.” Namun, karena rencana-rencana besar yang telah ia bangun, atas nasihat Siduri, dan cerita Utnapishtim tentang Banjir Besar, Gilgamesh selamat dari kematian.

eden-in-the-east_samp (1) (1)Para peneliti telah menemukan pecahan tablet tanah liat baru pada tahun 2015 yang menambahkan 20 baris dalam Epik Gilgamesh yang sebelumnya tidak diketahui. Salah satu peneliti, Andrew George, menyatakan bahwa tablet baru tersebut melanjutkan cerita yang terputus pada sumber-sumber lain, dan menyebutkan bahwa Hutan Cedar bukanlah tempat yang sunyi senyap. Hutan tersebut riuh dengan suara burung dan tonggeret, dan monyet-monyet yang menjerit serta berteriak di pohon-pohon. Humbaba memandang suara hutan itu sebagai bentuk kesenangan, dalam suasana alam yang sangat jelas dan langka. Teriakan monyet, paduan suara tonggeret dan kicauan berbagai jenis burung itu membentuk sebuah simfoni (atau hiruk) yang sehari-hari menghibur penguasa hutan tersebut. Bagian ini juga memberikan konteks tentang kiasan “seperti musisi” dimana konteksnya telah sangat rusak dalam deskripsi versi Het tentang kedatangan Gilgamesh dan Enkidu di Hutan Cedar. Humbaba digambarkan bukan seperti raksasa barbar tetapi sebagai penguasa asing yang dihibur dengan musik didalam acara jamuan dengan raja Babilonia, dari jenis musik yang lebih eksotis, dimainkan dalam sebuah orkestra oleh para musisi yang sama-sama eksotis.

7e991-pktnkri_1500pxKeterangan mengenai keadaan di Hutan Cedar yang antara lain riuh dengan suara burung dan tonggeret, dan monyet-monyet yang menjerit serta berteriak di pohon-pohon menunjukkan bahwa Gilgamesh dan Enkidu bukan melakukan perjalanan ke Timur dekat atau Timur tengah. Monyet dan mungkin tonggeret tidak terdapat di daerah tersebut. Telah ditemukan patung-patung monyet di Mesopotamia yang kemungkinan menggambarkan monyet yang dibawa dari tempat lain dan dipelihara disana, namun tidak dapat berkembang biak karena kurangnya bahan makanan dan tidak adanya lingkungan hutan.

Apabila dihubungkan dengan kisah Taman Eden, gambaran keadaan hutan tersebut sangat sesuai dengan keadaan di Kalimantan bagian selatan dimana daerahnya memiliki hutan yang lebat dan monyet, burung dan tonggeret merupakan binatang-binatang utama yang menghasilkan suara didalam hutan tersebut. Hutan Cedar adalah terjemahan teks pada tablet yang belum tentu terdiri dari pohon-pohon cedar yang sebenarnya. Demikian pula mengenai kisah banjir besar yang sesuai dengan cerita Gilgamesh begitu eratnya sehingga hanya sedikit keraguan bahwa semua cerita banjir di Timur Tengah/Dekat berasal dari Mesopotamia, yang kemudian melahirkan kisah-kisah kepahlawanan seperti Ziusudra di Sumeria, Utnapishtim di Akkadia dan Nuh didalam Alkitab.

Epik Gilgamesh adalah kenangan yang diingat oleh bangsa Mesopotamia tentang tanah asal peradaban pertama mereka, seperti halnya kisah Atlantis yang diingat oleh bangsa Mesir, sebelum penyebaran populasi yang disebabkan oleh bencana dan kenaikan cepat permukaan laut sewaktu Zaman Es masa Pleistosen. Mesopotamia adalah peradaban tertua setelah Zaman Es yang telah memiliki tradisi menulis. Peradaban lain terus mengingat kenangan mereka melalui mitos dan legenda yang secara kolektif mengandung kisah-kisah yang sama walaupun terpisah jauh di seluruh dunia.

‪#‎AtlantisdiLautJawa‬ ‪#‎AtlantisinJavaSea‬

See Translation

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: