Tinggalkan komentar

Eyang Santri (1): “Satukan” Yogyakarta dan Surakarta Melawan Hegemoni Belanda

Eyang Santri (1): “Satukan” Yogyakarta dan Surakarta Melawan Hegemoni Belanda

Eyang Santri (1): “Satukan” Yogyakarta dan Surakarta Melawan Hegemoni Belanda

Posted by :Arjuna RinaldyPosted date : 29 Maret 2016In Bapak Gede, Kebangsaan, Kerajaan0

Di danau itu ia mendapatkan wangsit bahwa ‘Jawa akan masuk ke pinggir jurangnya, tapi kelak Jawa akan bersinar cerah secerah matahari pagi’. Masa suram inilah yang membuat Pangeran Djojokusumo akhirnya sadar bahwa perang akan diiringi dengan kelaparan hebat.“Akan ada banjir darah di Jawa dan ada gelombang kelaparan. Tapi setelah itu Jawa akan berjaya, akan menjadi seperti Majapahit. Aku mendukung Dimas Pangeran Diponegoro sebagai pemimpinku untuk melawan Belanda.”Semoga setelah masyarakat memusatkan perhatian di Cidahu, Sukabumi, mereka juga mengingat perjuangan masa lalu para pendiri bangsa ini untuk membentuk sebuah Indonesia yang merdeka dan menjadi bangsa terhormat, seperti yang diajarkan Eyang Santri Pada Bung Karno.image

akarnews – Eyang Santri yang nama mudanya Pangeran Djojokusumo adalah salah satu kerabat dekat Trah Mangkunegaran. Ia cucu kandung Pangeran Sambernyowo atau Mangkunegoro I dan anak kandung dari putera Sambernyowo, yaitu: Pangeran Prabuamidjojo. Di masa lalu Keraton Mangkunegaran hubungannya amat dekat dengan Trah Bangsawan-Bangsawan Madura terutama Pamekasan karena bantuan mereka pada konflik Mataram sebelum Giyanti 1755.

Pangeran Prabuamidjojo dijodohkan oleh Pangeran Sambernyowo ayahnya, yang juga Mangkunegoro I dengan Puteri Ayu Trikusumo, puteri Pangeran Cakraningrat penguasa Pamekasan, Madura. Dari pernikahan inilah lahir Pangeran Djojokusumo yang memiliki kekuatan daya pikir dan daya batin yang linuwih.

Pangeran Djojokusumo lahir pada tahun 1770. Di masa remajanya ia berguru dengan banyak ulama. Bahkan, ia sampai belajar mengaji dan mendalami ilmu agama di Pasiriyan, Jawa Timur. Semasa muda bersahabat dengan Pangeran Sosroningrat dan Pangeran Jungut Mandurareja yang juga merupakan kakak dari Raden Mas Sugandi yang kelak menjadi Pakubuwono V. Adanya hubungan saudara antara Pangeran Djojokusumo dengan Pangeran-Pangeran dari Kasunanan Solo membuat dia semangkin akrab dan bersama-sama belajar sastra Jawa.

image

Raden Mas Sugandi diangkat menjadi Putera Mahkota Pakubuwono sekitar tahun 1811 dan bergelar Adipati Anom Amangku Negoro III. Di masa inilah Pakubuwono IV memberikan latihan bagi Adipati Anom untuk mempelajari seluruh aspek kehidupan masyarakat, susastra dan segala permasalahan sosial agar kelak menjadi raja ia siap. Adipati Anom dibantu oleh Pangeran Jungut Mandurareja dan Pangeran Sosroningrat menyusun dasar-dasar pemerintahan, selain itu Pangeran Djojokusumo diminta bantuannya dalam nasihat-nasihat kepada Putera Mahkota.

Tahun 1814 Adipati Anom mencetuskan ide agar dibuat sebuah serat yang mempelajari seluk beluk masyarakat Jawa. Serat ini kemudian diperintahkan kepada satu tim yang terdiri dari: Raden Ronggosutresno yang telah berkeliling Jawa bagian Timur, Raden Ngabehi Yosodipuro II yang amat mengerti Jawa Bagian Barat serta Kyai Muhammad Ilhar yang tahu masalah seluk beluk agama.

Untuk kebutuhan semua fasilitas dibantu oleh Pangeran Jungut Mandurareja yang menguasai Perdikan Ngawonggo dan penguasa Klaten saat itu. Di sini juga perlu dicatat tambahan-tambahan pihak yang membantu terselesaikannya serat centhini, termasuk Pangeran Djojokusumo. Masa serat centhini ini semasa dengan terbitnya sastra Serat Suryaraja yang berisi ramalan akan datang masanya Keraton Yogyakarta mengalahkan Keraton Surakarta dan menyatukan kerajaan Mataram ke dalam bentuknya yang semula.

Setelah Serat Centhini selesai, Pangeran Djojokusumo tertarik dengan cerita-cerita yang diuraikan oleh Raden Ronggosutresno dan Kyai Yosodipuro tentang keindahan Pulau Jawa, akhirnya Pangeran Djojokusumo memutuskan untuk berkeliling Jawa.

Dalam keliling Jawa itu ia menikmati keindahan Pulau Jawa yang ia catat ‘Sebuah Pulau yang teramat indah’. Ia kunjungi seluruh makam-makam keramat, ia kunjungi ulama dan ahli kebatinan dan ‘ngangsu ilmu’. Kemampuan ilmunya luar biasa tinggi. Pada tahun 1823 Pakubuwono V, sahabatnya, wafat. Ia dipanggil pulang ke Solo untuk menjadi penasihat Pakubuwono VI. Saat itu Pangeran Djojokusumo sedang berada di Sumedang.

Eyang Santri.

Eyang Santri.

Sesampainya di Solo ia merasakan akan ada perubahan besar di bumi Jawa. Akhirnya ia bertapa sebentar di sebuah danau bernama Cengklik di pinggiran Kota Solo. Di danau itu ia mendapatkan wangsit bahwa ‘Jawa akan masuk ke pinggir jurangnya, tapi kelak Jawa akan bersinar cerah secerah matahari pagi’. Masa suram inilah yang membuat Pangeran Djojokusumo akhirnya sadar bahwa perang akan diiringi dengan kelaparan hebat.

Pangeran Djojokusumo membaca bahwa ‘sebentar lagi ada perang besar’ yang bisa menjadikan kemungkinan Raja Jawa kembali menguasai pelabuhan-pelabuhan penting di Semarang dan Tuban serta menguasai Surabaya. Kelak, jika Surabaya bisa ditaklukkan maka impian dan cita cita sesepuh (Kanjeng Sultan Agung) akan tercapai dan Mataram kembali mewujud. Tapi apakah keadaan itu bisa terwujud.

Tokoh Penting Perang Diponegoro

Pada tahun 1824 Pangeran Diponegoro memukul Patih Danuredjo di Kepatihan karena persoalan patok jalan yang digunakan Belanda untuk membangun jalan dari Semarang-Yogya. Patok jalan itu rencananya akan jadi jalan penghubung ke pusat jalan kota di Banaran. Banaran dijadikan tangsi terakhir Belanda sebelum masuk Yogyakarta. Pangeran Diponegoro menolak tanahnya dicaplok Belanda tanpa ijin. Ia akhirnya berkelahi dengan Pangeran Danuredjo dan konflik ini berkembang menjadi perlawanan massa.

Usai memukul wajah Patih Danurejo, Pangeran Diponegoro langsung menemui pamannya, Pangeran Mangkubumi. Sang paman berkata dengan amat hati-hati: “Emosimu akan menjadikan Jawa sebagai lautan darah.” Lalu Mangkubumi berkata lagi, “Tapi kamu akan jadi pahlawan di hati rakyat, bila kamu memulai perang. Hubungi banyak ulama, karena ulamalah yang akan membelamu.” Dan Pangeran Mangkubumi merekomendasikan agar Pangeran Diponegoro menemui Kyai Abdani dan Kyai Anom, ulama paling berpengaruh di Tembayat, Klaten, juga menemui Kyai Modjo, ulama yang berpengaruh di Modjo, Surakarta.

Mei 1824, Pangeran Diponegoro mulai membangun jaringan ulama dan bangsawan di Banyumas. Ia mendapat dukungan para Kenthol Banyumasan dan Kentol Bagelen dan para Bangsawan ningrat. Di pesisir timur ia mendapat dukungan dari Pangeran Tjondronegoro II yang menguasai Tuban, Sidoardjo dan Mojokerto. Sementara, di Solo ia diminta bertemu Pakubuwono VI.

Pertemuan Pakubuwono VI dan Pangeran Diponegoro adalah titik paling penting Perang Jawa 1825-1830. Karena dari jaminan Pakubuwono VI, Pangeran Diponegoro percaya diri melawan Belanda dan antek-anteknya di Keraton Yogya. Pertemuan ini berawal dari kunjungan diam-diam Pangeran Diponegoro kepada Kyai Modjo, yang kemudian Kyai Modjo mengantarkan Pangeran Diponegoro ke rumah Raden Mas Prawirodigdoyo, penguasa Boyolali dan merupakan bangsawan paling radikal di jamannya. Raden Mas Prawirodigdoyo langsung menjamin akan menyediakan pasukan 6.000 orang yang bisa mendukung Pangeran Diponegoro. Lalu Raden Mas Prawirodigdoyo berkata “Dukungan ini bisa aku lakukan asal ada perintah dari Sinuwun Pakubuwono VI”.

Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro akhirnya disarankan bertemu langsung dengan Sinuwun Pakubuwono VI, yang memfasilitasi pertemuan ini adalah Pangeran Mangkubumi, paman Pangeran Diponegoro yang luas koneksinya. Pangeran Mangkubumi menghubungi sahabat lamanya, Pangeran Djojokusumo dan meminta Sinuwun agar berkehendak menjumpai Pangeran Diponegoro.

Pangeran Mangkubumi lalu datang ke kota Solo dan berkunjung ke rumah Pangeran Djojokusumo. Di sana hadir Pangeran Jungut Mandurareja yang juga paman Pakubuwono VI. Di sini Pangeran Mangkubumi menjelaskan seluruh duduk persoalan, kenapa Pangeran Diponegoro bermusuhan dengan pihak Kepatihan dan Kompeni.

Pangeran Djojokusumo dan Pangeran Jungut memperhatikan dengan seksama cerita Pangeran Mangkubumi. Setelah selesai cerita, Pangeran Jungut berkata, “Akan ada pencaplokan tanah besar-besaran oleh Belanda untuk kepentingan kekayaan mereka. Masalahnya, sekarang berani atau tidak orang Jawa melawan orang Hollanda itu?” kata Pangeran Jungut.

Pangeran Djojokusumo hanya memejamkan matanya dan mengheningkan jiwanya, lalu tak lama ia membuka matanya dan berkata, “Akan ada banjir darah di Jawa dan ada gelombang kelaparan. Tapi setelah itu Jawa akan berjaya, akan menjadi seperti Majapahit. Aku mendukung Dimas Pangeran Diponegoro sebagai pemimpinku untuk melawan Belanda. Tapi kita harus bermain strategis, kalau keponakanku Pakubuwono VI ketahuan mendukung Pangeran Diponegoro, maka Solo akan dihantam habis, dibikin crah, dibuat huru hara, itu malah memperlemah barisan perlawanan. Ada baiknya perjanjian dukungan dengan Pangeran Diponegoro dibuat diam-diam.”

Akhirnya, Pangeran Djojokusumo meminta agar Pangeran Mangkubumi menunggunya di desa Paras Boyolali, karena ia dan Pangeran Jungut akan mengajak Sinuwun Pakubuwono VI bertapa tiga hari di gunung Merbabu.

Lalu Pangeran Djojokusumo dan Pangeran Jungut Mandurorejo bertemu dengan Pakubuwono VI meminta agar Pakubuwono VI mendukung Pangeran Diponegoro. Pertemuan ini juga dilanjutkan dengan perjalanan ke gunung Merbabu untuk mengajak Pakubuwono VI bertapa dan menenangkan diri untuk mengambil keputusan. Setelah bertapa, Pangeran Djojokusumo mengajak Pakubuwono ke desa Paras di Boyolali berjumpa dengan Pangeran Mangkubumi. Di sinilah kemudian terjadi kesepakatan rahasia di mana Pembesar Yogyakarta dan Pembesar Surakarta sepakat melawan Belanda.

Setelah kesepakatan Paras, Boyolali, Mereka: Pakubuwono VI, Pangeran Djojokusumo dan Pangeran Jungut Mandurorejo serta serombongan pengawal menuju Alas Krendowahono di sekitar Karanganyar. Di sini mereka berjumpa dengan Pangeran Diponegoro yang sudah ditemani Kyai Modjo dan Raden Prawirodigdoyo. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan saling tidak mengganggu antara pihak Solo dengan konflik di Yogyakarta dan apabila Solo diminta membantu Belanda dalam perang nanti, maka Solo akan memberi data-data intelijen kepada Pangeran Diponegoro serta melakukan ‘perang sandiwara’.

Seorang sastrawan muda bernama Ronggowarsito hadir dalam pertemuan di Krendowahono. Kelak 20 tahun kemudian Ronggowarsito mencatat peristiwa ini sebagai bentuk rasa kebangkitan harga diri Orang Jawa.

Singkatnya, Perang Diponegoro meletus. Di tengah perang ketika Lasem berhasil direbut Sang Pangeran, ada pertemuan lanjutan yang membahas penghadangan pasukan di Semarang dan sabotase yang membutuhkan bantuan pihak Solo. Suatu malam Pangeran Diponegoro datang ke Keraton Surakarta. Namun rencana ini bocor karena ada pengkhianat yang melaporkan kepada Belanda akan ada tamu dari Yogya tengah malam. Pasukan Belanda datang mengepung Keraton dan mencari tamu itu. Tapi tidak ketemu. Kereta kuda Pangeran Diponegoro rupanya dipendam oleh prajurit Keraton dan Pangeran Diponegoro meloncati tembok alun-alun Utara lalu berlari ke arah Pasar Kliwon dan bersembunyi di sana hingga lima hari.

Perang Diponegoro akhirnya selesai dengan kekalahan banyak pihak. Pakubuwono VI ditangkap karena terbongkar rahasianya oleh Residen Semarang yang menemukan banyak data dukungan Solo kepada Yogya. Pangeran Djojokusumo juga dicurigai terlibat oleh Belanda. Pangeran Djojokusumo melarikan diri ke Bagelen lalu ke Cilacap. Di sinipun ia dikepung banyak pendukung Belanda. Dengan menyamar sebagai petani ia ke Sukabumi, tepatnya ke Desa Cidahu. Di sana ia menyamar sebagai petani cabe dan petani sawah, juga mengajar mengaji penduduk setempat.

Cidahu, Peristirahatan Terakhir

Mata air Cidahu, Gunung Salak, yang tak pernah mati sejak ditemukan Eyang Santri.

Mata air Cidahu, Gunung Salak.

Di Cidahu, Pangeran Djojokusumo dipanggil Eyang Santri. Setelah Perang Diponegoro lama usai, tahun 1850, datanglah beberapa orang santri utusan dari Solo yang mencari Pangeran Djojokusumo. Mereka meminta Sang Pangeran pulang ke Solo. Tapi Pangeran menolak dan memilih menjadi petani saja di Cidahu. Sejak itu Eyang Santri dikunjungi banyak pejuang dan aktivis politik yang menentang Belanda.

Usia Eyang Santri mencapai 159 tahun. Ia menjadi saksi berlangsungnya kekalahan Jawa dan bangkitnya rasa kebangsaan. Ia dikunjungi banyak ahli kebatinan dan para pemimpin politik. Tahun 1880-an ia dikunjungi oWahidin Sudirohusodo yang sedang berkeliling Jawa untuk menyadarkan fungsi pendidikan bagi kaum pribumi dalam menghadapi jaman modern.

Pada suatu pagi, Wahidin naik Gunung Salak dan berupaya menemui Eyang Santri. Setelah di rumah Eyang Santri, Wahidin disuruh mandi di kolam air panas dan bermeditasi. Di sana juga Eyang Santri mengajarkan tentang rasa kebangsaan, harga diri sebagai manusia dan kekuatan batin. Dari dasar-dasar yang ditanamkan Eyang Santrilah maka Wahidin merasa kuat membangun rasa kebangsaan sebuah bangsa yang baru, Bangsa Indonesia! Selain Wahidin yang kerap datang ke rumah Eyang Santri adalah Dirk Van Hinloopen Labberton, ahli teosofi Belanda yang belajar filosofi kebatinan Jawa.

Di awal tahun 1900-an, H.O.S. Tjokroaminoto ditemani Sosrokardono juga kerap mampir ke rumah Eyang Santri. Bahkan, pembentukan afdeeling A Syarekat Islam di Garut mereka minta doa restu kepada Eyang Santri yang menanamkan rasa kebangsaan dan harga diri manusia untuk bebas.

Pangeran ahli sufi dari Yogyakarta, Pangeran Suryomentaram juga pernah datang ke Cidahu. Waktu itu ia masih amat muda. Begitu juga dengan ahli tirakat Ndoro Purbo dan Drs. RMP Sosrokartono, ahli kebatinan Jawa sekaligus kakak Raden Ajeng Kartini, Raden Mas Panji Sosrokartono datang berguru ke Eyang Santri.

Bung Karno sendiri diajak oleh Tjokroaminoto ke Cidahu sebelum Bung Karno masuk ke THS (sekarang ITB) Bandung. Setelah masuk THS, beberapa kali Bung Karno datang menemui Eyang Santri dan digembeleng kekuatan batin untuk melawan Belanda.

Ada beberapa cerita bahwa wajah eyang santri awet muda, ini persis dengan ilmu ciranjiwin-hidup abadi-dalam terminologi India? Yang jelas Eyang Santri wafat tahun 1929 di usianya yang 159 tahun. Semoga setelah masyarakat memusatkan perhatian di Cidahu, Sukabumi, mereka juga mengingat perjuangan masa lalu para pendiri bangsa ini untuk membentuk sebuah Indonesia yang merdeka dan menjadi bangsa terhormat, seperti yang diajarkan Eyang Santri Pada Bung Karno.

Sumber:

http://www.akarnews.com/1682-eyang-santri-1-menyatukan-yogyakarta-dan-surakarta-melawan-belanda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: