Tinggalkan komentar

Wawancara Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi: Kota saya, aturan saya

Dedi Mulyadi melukiskan dirinya sebagai orang yang rasional. Tak peduli dianggap kafir atau raja syirik.

Terakhir kali Dedi Mulyadi muncul di surat kabar adalah ketika ditolak kedatangannya di Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Rabu lalu (13/1/2016). Saat itu ia didemo ratusan orang dari Paguyuban Muslim Sunda (PMS) serta Front Pembela Islam (FPI).

Meski ada demo, acara jalan terus. Ia tetap jadi pembicara di bincang bertema “Inspiring Leaders”, yang digelar Cyrus Network dan Citra Activation. “Saya sudah biasa (didemo),” kata Bupati Purwakarta, Jawa Barat, tersebut.

Hari itu memang bukan penolakan pertama untuk Dedi. Sebab, ia identik dengan demonstrasi. Hampir tiap kehadirannya disambut spanduk: “Menolak Dedi Mulyadi si Raja Syirik dari Purwakarta”. “Padahal saya tak percaya dukun,” tuturnya tersenyum.

Siang itu, ia memakai pangsi (baju adat sunda) putih-putih bertulis Dangiang Ki Sunda, plus ikat kepala ala si Cepot, tokoh wayang golek. Pangsi adalah baju kebesarannya sejak 2003.

“Saya memiliki tujuh setel,” ujarnya kepada Fajar WH, Yandi Mohammad, Heru Triyono dan fotografer Bismo Agung dari Beritagar.id di Jin Xiang Chinese Restaurant, Bellanova Country Mall, Bogor, Jawa Barat, saat wawancara.

Makanan di hadapannya tak disentuh. Ia berulangkali memandang jam, dan telepon selulernya. Matanya sayu, setengah terbuka. Sepertinya ia lelah menempuh perjalanan dari UI ke Bogor –menghindari pendemo yang mulai merangsek masuk ke kampus.

“Saya tidak kabur. Tapi mengejar acara juga di Cirebon,” kata pria berusia 44 tahun ini.

Tidak harmonisnya hubungan Dedi dengan kelompok tertentu, seperti FPI, dimulai ketika ia gencar menghiasi Purwakarta dengan aneka patung seperti Bima dan Gatotkaca pada 2009 –periode pertamanya menjabat.

Patung-patung itu dibakar massa. Alasan ulama setempat, pendirian patung adalah cikal bakal kemusyrikan. Sementara Dedi memandangnya dari aspek budaya dan seni. “Patung macan di halaman kantor polisi kenapa tidak dipermasalahkan?” tanya Dedi.

Kontroversi berlanjut ketika ia mengaku menikahi Nyi Roro Kidul. Ia juga membuat kereta kencana untuk dikendarai sang istrinya itu, dan memajangnya di pendopo kantor. “Menikahi itu artinya menjaga dan merawat isi laut, bukan menikah betulan,” ujarnya.

Belakangan, Dedi bahkan dituding meninggalkan salam syariat Islam: Assalaamu Alaikum, dan menggantinya dengan salam adat Sunda: sampurasun.

Puncak polemik sampurasun terjadi ketika pendiri FPI Rizieq Shihab berceramah di Purwakarta, Senin (15/11/2015). Rizieq mempelesetkan sampurasun menjadi campur racun untuk menyindir. Maksud Rizieq, sampurasun yang disampaikan Dedi sama halnya meracuni akidah umat.

Terlepas dari itu, salam sampurasun dibuat mendunia oleh Dedi ketika memperkenalkannya di Markas PBB di New York, Amerika Serikat, Agustus lalu. Sebelum pidato di acara International Young Leaders Assembly (IYLA) itu, Dedi mengucapkan salam itu di depan 700 peserta dari 90 negara.

“Di sana saya menyampaikan Indonesia itu mempunyai Islam Nusantara yaitu Islam berbasis budaya, dengan kebudayaan pada wilayah masing-masing,” kata Dedi.

Kepada Beritagar.id ia bicara banyak soal tudingan syirik dan visi Purwakarta ke depan. Tapi ia masih mengatakan tidak soal kemungkinannya maju sebagai calon Gubernur Jawa Barat. “Kalau memang maju, kamu yang pertama tahu,” katanya, tertawa. Berikut petikan wawancaranya.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ketika diwawancara Beritagar.id di Jin Xiang Chinese Restaurant, Bellanova Country Mall, Bogor, Rabu lalu (13/1/2016)
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ketika diwawancara Beritagar.id di Jin Xiang Chinese Restaurant, Bellanova Country Mall, Bogor, Rabu lalu (13/1/2016)
© Bismo Agung /Beritagar.id

Mendapatkan begitu banyak penolakan di wilayah Jakarta dan sekitarnya tapi Anda masih berani datang (ke Depok)?
Kasihan panitia. Saya niat baik memenuhi undangan, masa tidak jadi. Beberapa seminar yang saya hadiri terkadang didemo, tapi yang ini (di Universitas Indonesia) memang lebih ramai.

Apakah kedatangan Anda masuk kategori tidak aman, karena tampaknya perlu pengawalan ketat dari pihak kepolisian?
Tidak juga. Tapi pengawalan saya saat ini naik kelas. Harusnya level bupati dikawal polisi berpangkat AKBP (Ajun Komisaris Besar Polisi) saja, tapi sekarang harus pakai Kombes (Komisaris Besar Polisi: tingkat ketiga perwira menengah di polisi) ha-ha.

Anda nyaman dianggap sebagai raja syirik? Tidak takut dengan teror yang terus menghantui…
Biar saja. Kalau soal teror saya sudah biasa. Sejak kecil, ketika menjadi penggembala domba juga ada peristiwa intimidasi atau penghadangan dari penggembala lain. Ya, terkadang hanya karena saling ledek, tapi saya bisa melewatinya.

Sejauh apa teror yang Anda terima belakangan ini?
Saya pernah dicegat di tengah jalan, tapi saya tidak bisa cerita. Tapi yang pasti saya menghadapinya dengan senyuman. Karena merasa dilindungi oleh negara, yang saya rasakan masih hadir.

Yang justru menjadi perhatian saya adalah ada akun yang selalu menyerang lewatpostingannya. Tapi itu hal biasa, kadarnya masih bisa ditoleransi.

Tapi bagaimana sikap Anda terhadap terhadap kaum antitoleransi di kabupaten yang Anda pimpin? Bahkan dulu patung-patung yang Anda dirikan sampai dirobohkan…
Kejadian itu saya pahami sebagai gejolak politik lokal jelang pilkada. Ya, pemahaman masing-masing saja, asalkan satu golongan yang tidak sepakat dengan golongan lainnya tidak saling mengganggu. Jika itu terjadi, tugas negara yang mencegah, saya akan tegas.

Sebenarnya yang tidak menyukai Anda ini kelompok yang mana? Apakah mereka yang dulu merobohkan patung-patung itu?
Beda, tapi masih itu juga lingkarannya. Saya sebenarnya tidak ada masalah, karena hak orang untuk menjadi berbeda, asal tidak melanggar hukum. Tujuan saya mendirikan patung itu pada 2009 adalah bagian dari konsep pembangunan Purwakarta yang berbasis budaya.

Kenapa konsep menghidupkan kearifan lokal itu berkembang jadi tuduhan syirik?
Tuduhan itu penilaian orang, terserah. Sebagai bupati, saya hanya berusaha melaksanakan kewajiban konstitusional saya ke masyarakat. Kami ingin maju tanpa meninggalkan budaya, dan sama sekali tidak bermaksud merusak Islam.

Rizieq Shihab, pendiri Front Pembela Islam (FPI) menuding Anda sebagai bupati yang percaya takhayul, mengarah ke syirik dan bukan memasyarakatkan sampurasun, tapi malah campur racun. Komentar Anda?
Saya ini rasional, bukan irasional. Saya tidak percaya dukun. Segala tindakan saya itu berdasarkan aspek pikiran dan hati. Salam sampurasun adalah budaya leluhur kami, saya menghargainya. Terdiri dari dua kata: Sampuring dan Ingsun. Maknanya mengajak orang berbuat kemuliaan.

Pertanyaannya begini. Kalau saya hormat kepada bendera merah putih apakah juga syirik? Saya rasa tidak, karena itu bentuk penghormatan perjuangan kepada pahlawan bangsa. Sama halnya dengan budaya, saya menghormati dan menghargai budaya saya. Bisa berupa patung, sejarah atau literatur budaya.

Anda dinilai sudah keluar jalur ketika menyatakan telah menikahi Nyi Roro Kidul? Bahkan Anda membuat kereta kencana untuk dikendarai dia dan memajangnya di pendopo kantor…
Kalau itu benar, yang pertama marah adalah istri saya. Coba tunjukkan surat nikah saya dengan Nyi Roro Kidul, ada tidak? Pernyataan itu adalah ungkapan cinta atas kekayaan laut. Nah, Nyi Roro Kidul kan disimbolkan sebagai kekuasaan dan keindahan laut. Menikahinya memiliki maksud kita harus menjaganya.

Kebijakan membuat kereta kencana dan dipertontonkannya ke publik bukankah justru memicu silang pendapat?
Itu adalah persepsi. Menurut saya kereta ini adalah pusaka dan simbol terhadap karakter manusia, yang juga bagian dari budaya. Ada empat karakter manusia yang diwakilinya: ketajaman pendengaran, penglihatan, penciuman, dan pengucapan.

Apakah benar cerita soal kereta itu diberi kemenyan dan mengaraknya setahun sekali untuk acara budaya?
Kereta ini pusaka, sama dengan bendera pusaka, yang dikibarkan pada upacara 17 Agustus, setahun sekali. Untuk menjaga kesakralannya ya diarak. Kalau wewangian yang saya berikan adalah untuk rasa nyaman saja. Coba bayangkan kalau mobil kita bau, bagaimana rasanya? Tidak enak.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ketika diwawancara Beritagar.id di Jin Xiang Chinese Restaurant, Bellanova Country Mall, Bogor, Rabu lalu (13/1/2016)
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ketika diwawancara Beritagar.id di Jin Xiang Chinese Restaurant, Bellanova Country Mall, Bogor, Rabu lalu (13/1/2016)
© Bismo Agung /Beritagar.id

Sebenarnya bagaimana pandangan Anda soal agama dan kearifan lokal?
Saya memandang Islam itu universal, yang menghargai dan bersikap arif terhadap tradisi lokal. Keuniversalan Islam terhadap budaya lokal itu membuat proses transformasi masyarakat tidak tercerabut dari akarnya. Contoh, menutup aurat itu adalah ajaran agama, nah cara berbusana untuk menutup aurat itu adalah budaya. Sudah pasti cara berpakaian masing-masing negara berbeda.

Kearifan lokal dalam hubungannya dengan pakaian itu Anda terapkan juga ke anak buah? Seperti Anda memakai pangsi putih-putih plus ikat kepala ala si Cepot…
Tidak diharuskan, tapi disarankan, asalkan mereka berpakaian yang bernilai kultur dan itu bebas bentuknya, sesuai selera. Kalau saya sejak 2003 sudah mengkampanyekan pakaian itu (pangsi). Dulu saya pakai juga setelan hitam-hitam, karena banyak keliling desa, kalau pakai putih bisa kotor. Sekarang disesuaikan karena banyak keliling kampus.

Kenapa memilih warna putih dan hitam?
Putih itu kan lambang air dan hitam lambang tanah dan besi. Singkatnya, dua perpaduan warna itu mengandung gagasan keselarasan. Saya yang mendesain sendiri baju ini, dan yang menjahit adalah mang Ade, langganan saya.

Nilai nilai budaya kesundaan yang Anda usung ini kabarnya hanya gimik saja, sementara program pembangunan yang Anda lakukan justru tidak berjalan…

Silakan dicek ke Purwarkarta. Tanya pengusaha di sana. Lihat infrastrukturnya, pariwisatanya, serta pelayanan publik dan kesehatannya. Anda tahu berapa gaji Ketua RT (Rukun Tetangga) di wilayah saya?. Gajinya mencapai Rp 700 ribu per bulan, sementara gaji kepala desanya Rp 4 juta. Ini terbesar di Jawa Barat.

Tapi di mana konsep kebudayaan itu masuk di dalam pembangunan yang Anda maksud?
Ya infrastrukur yang berkebudayaan. Maksudnya adalah bangunan sekolah, kantor pelayanan publik seperti puskesmas juga ada nilai budayanya.

Perwujudan kebudayaan ini sebagai alat untuk mencapai pembangunan. Apa tujuannya?
Untuk membangun identitas. Dari identitas itu implikasi ekonominya bisa sangat luas. Lihat Cina yang identik dengan kungfu dan budayanya. Kita jangan labil, berubah-berubah, karena mengikuti budaya orang. Yang ada kita tidak dapat apa-apa kecuali jadi pembeli dan pengikut. Kita harus memulai membangun karakter kebudayaan secara kuat agar bangsa ini produktif.

Apakah konsep itu sudah terasa dampaknya di Purwakarta?
Ada. Misalnya kuliner sate maranggi, sebagai identitas Purwakarta. Per hari, untuk saat ini bisa menghabiskan dua ton daging. Bayangkan. Angka ini signifikan.

Lho, bukannya sate maranggi memang dari dulu ramai?
Lebih ramai sekarang. Tidak hanya satu atau dua tempat saja, tapi banyak pendatang baru. Banyak sekarang ini orang kaya baru, dan setelah saya cek pajaknya sudah tinggi-tinggi karena pengusahanya beli vila di mana-mana. Ada regulasi dari kepala daerah yang berjalan dan itu memberikan efek ekonomi.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ketika diwawancara Beritagar.id di Jin Xiang Chinese Restaurant, Bellanova Country Mall, Bogor, Rabu lalu (13/1/2016)
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ketika diwawancara Beritagar.id di Jin Xiang Chinese Restaurant, Bellanova Country Mall, Bogor, Rabu lalu (13/1/2016)
© Bismo Agung /Beritagar.id

Ada kepala daerah yang sukanya membuat taman, blusukan, ngedalang, menertibkan pedagang atau bahkan marah-marah. Kalau Anda lebih identik dengan yang mana?
Saya semuanya. Dalang iya, bikin taman iya, bangun rumah adat iya, bangun sekolah terintegrasi iya dan juga infrastruktur jalan. Bahkan saya membuat lagu yang dinyanyikan oleh Charly (van Houten). Semua ide-ide ini datang alamiah, dan spontan. Jika ada yang harus dibuat atau dibangun, ya saya lakukan tidak usah lama-lama.

Apakah yang Anda lakukan itu mampu memangkas banyak tahapan birokrasi?
Birokrasi tetap ada, tapi kecepatan bekerjanya yang ditambah. Kalau mengandalkan struktur birokrasi di Purwakarta terlalu berat. Birokrasi kan kuncinya satu, yang penting honornya jangan dipotong.

Dalam bayangan Anda, ingin dibuat seperti apa Purwakarta ke depan?
Kami bertekad membangun branding dengan tetap mempertahankan indentitas sebagai orang desa yang berbudaya. Jadi kota sebagai penyedia jasa dan pelayanan, sementara desa sebagai tempat produksi. Saya sampaikan itu ketika pidato di acara International Young Leaders Assembly (IYLA) di Markas PBB di New York beberapa waktu lalu. Anda lihat Cina. Mereka contoh keberhasilan branding budaya itu.

Sudah dua periode Anda menjadi bupati, menurut Anda branding Purwakarta berhasil?
Yang jelas kini gagasan-gagasan tradisional telah dilirik kota lain. Kalau dulu kan malu bicara soal tradisi.

Beberapa pihak mengatakan kontroversi yang dilakukan Anda untuk mendongkrak nama Anda dan juga Purwakarta?
Begini, sudut pandang negara ini konstitusi. Jadi apa yang dilakukan saya sebagai bupati landasannya adalah undang-undang. Selama saya tidak melanggar undang-undang, saya akan melakukan apa yang jadi tujuan Purwakarta. Kota saya, ya aturan saya.

Tapi misalnya soal kebijakan larangan jam apel di atas jam 21.00 yang merupakan bagian dari program “Desa Berbudaya”. Bukankah itu akan menimbulkan kontroversi lagi?

Kita ini harus bangun bangsa yang produktif. Itu harus dimulai dari pola tidur yang baik. Anak sekolah bagaimana mau produktif kalau tidurnya tengah malam. Padahal paginya harus bangun jam empat atau lima karena jam enam sudah masuk sekolah. Aturan ini mengajak untuk hidup sehat.

Darimana Anda mengadopsi kebijakan ini?
Jujur dari luar negeri. Di sana anak-anak ada di bawah pengawasan orangtuanya. Di Indonesia? Anak anak di bawah 17 tahun begitu bebas pacaran, membeli rokok, minuman, naik mobil dan motor. Sebab itu orangtua di Purwakarta saya kasih buku kendali anak.

Bagaimana sistem pengawasannya?
Ada CCTV (Closed Circuit Television) dan melalui buku kendali anak itu. Di buku itu dicatat sang anak bangun dan tidur jam berapa yang harus ditandatangani. Buku ini di bawah dinas pendidikan. Artinya orangtua punya catatan perjalanan hidup sang anak, termasuk soal makan.

Sampai soal makan diatur, apakah tidak berlebihan?
Gizi harus terkontrol. Buku ini untuk mengecek mulai dari kesehatan dan tingkat kenakalan. Di Purwakarta ada aturan setiap seminggu di malam Jumat si anak harus makan telor dan minum susu satu gelas. Kemudian yang miskin harus makan daging dua kilo gram per bulan. Anggaran yang tersedia lebih dari Rp15 miliar.

Apakah pemerintah daerah harus sedetail itu untuk turun tangan?
Harus sampai teknisnya. Di Australia itu orang bikin dapur saja harus izin wali kota. Dapurnya menghadap mana, jendelanya ada berapa, di mana meletakkan kompornya. Di Indonesia? Kencing saja bisa di mana-mana dan bangun rumah seenaknya.

Masyarakat tidak merasa terintervensi dengan kebijakan Anda ini?
Waktu awalnya iya. Tapi itu kan biasa. Misalnya soal bangun pagi. Beberapa warga mengeluh pemakaian gas jadi banyak karena anak minta air hangat. Tapi cerita saat ini berbeda. Masyarakat merasa anak-anaknya jadi sehat, tidak rewel, karena tidur jam 21.00.

Anda disebut-sebut bakal bertarung untuk calon gubernur Jawa Barat?
Saya tidak bisa mengomentari itu, karena bukan dukun.

Tapi Anda berambisi jadi Gubernur Jawa Barat?
Segala sesuatu itu terukur. Kalau elektabilitas rendah buat apa. Bagi saya kerjakan tugas dengan baik saja sebagai bupati, fokus. Persoalan besok ada rencana A, B atau C, ya itu hasil dari kerja keras yang kita lakukan.

Sampai sekarang partai Anda (Golongan Karya) belum menawarkan untuk maju? Atau mungkin dari partai lain…
Belum ada sampai hari ini.

Bisa diceritakan awal mula kenapa Anda tertarik ke dunia politik?
Sejak SD saya memang suka menjadi ketua murid. Berlanjut kemudian menjadi Ketua Umum HMI Cabang Purwakarta, DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah), lalu bupati.

Ketika kecil, selain menggembala domba, saya suka mendengarkan radio dan kebetulan bapak juga suka dengan politik. Bapak ini tentara susah. Oleh mata-mata Belanda ia diracun. Pulangnya muntah darah, dan sakit. Saya sering dikisahkan sepak terjang politisi dari tentara bernama Jenderal Muhammad Jusuf. Sebab itu saya jadi tertarik politik, dan bercita-cita jadi tentara.

Siapa yang menumbuhkan nilai-nilai kesundaan pada Anda?
Alamiah, malah saya mah baru. Sejak wakil bupati saya mulai concern pada budaya. Tapi waktu kecil latar belakang saya sudah Sunda. Misalnya nonton wayang. Nah pengalaman itu masuk ke dalam alam pikiran saya.

Apa mimpi terbesar Anda?
Mewujudkan ide-ide yang ada di pikiran. Saya punya mimpi membentuk masyarakat yang kuat dan otonom. Kemudian membuat bahasa kita dihormati -dipakai oleh warga dunia, makanan kita digandrungi, berikut fashion, atau keseniannya. Itu lah peradaban. Ini mimpi saya sebagai orang Purwakarta, juga Jawa Barat dan orang Indonesia.

Mimpi yang Anda sampaikan itu seperti tahapan karier politik: dari bupati, gubernur, lalu menjadi presiden…
Ha-ha itu Anda yang berdoa. Bukan saya.

Sumber:

https://beritagar.id/artikel/bincang/wawancara-bupati-purwakarta-dedi-mulyadi-kota-saya-aturan-saya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: